بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
INILAH HUJJAH (DALIL) AKAN BIDAHNYA MAULID NABI
 
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu memerintah selama 2 tahun, dan tidak pernah beliau merayakan Maulid. Sedangkan beliau adalah Ash-Shiddiq umat ini, dan yang menemani Rasulullah ﷺ di Gua Tsur.
Umar radhiallahu ‘anhu memerintah selama 10 tahun, dan beliau tidak juga beliau merayakan Maulid. Sedangkan beliau adalah al-Faruq dan panduan umat ini.
 
Utsman radhiallahu ‘anhu memerintah selama 13 tahun, dan tidak juga beliau merayakan Maulid. Sedangkan beliau adalah suami dua putri Rasulullah ﷺ. Beliau adalah orang yang melakukan hijrah sebanyak dua kali, dan yang paling tinggi sifat malunya di kalangan umat ini.
 
Ali radhiallahu ‘anhu telah memerintah selama 4 tahun, dan tidak juga beliau merayakan Maulid. Sedangkan beliau adalah sepupu Rasulullah ﷺ, dan suami dari penghulu wanita Surga (putri Rasulullah ﷺ).
 
Al-Hasan radhiallahu ‘anhu telah memerintah selama 6 bulan, dan tidak juga merayakan Maulid. Sedangkan beliau adalah cucu Rasulullah ﷺ, dan penghulu pemuda Ahli Surga.
 
Selama pemerintahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu, beliau juga tidak pernah merayakan Maulid. Sedangkan beliau adalah “raja” yang terbaik dari kalangan “raja-raja Islam”.
 
Kemudian datanglah Kerajaan Umayyah, yang di dalamnya terdapat Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, serta Kerajaan Abbasiyyah, yang di dalamnya terdapat Harun al-Rashid rahimahullah. Dan mereka semua turut tidak merayakan Maulid.
 
MEREKA SEMUA ADALAH ULAMA ISLAM,
PARA PENCINTA RASULULLAH ﷺ YANG SEBENARNYA.
Dan tidak pernah merayakan Maulid Rasulullah sepanjang tiga kurun terbaik umat ini. Sedangkan merekalah golongan yang paling berilmu dan memahami agama dan Kitab Allah. Bagaimana tidak?
Merekalah golongan Hamalatul Quran (para pembawa Alquran) dan perawi hadis-hadis Nabi ﷺ.
 
Kami berkata:
“Sekiranya (amalan tersebut itu adalah) baik, maka niscaya mereka (generasi sahabat dan tabiin) telah mendahului kami (dalam melakukannya).”
 
Dan kami ingin mengungkapkan juga kata-kata Imam Malik:
“Sesuatu yang tidak menjadi amalan agama pada zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat, maka hari ini ia juga bukan merupakan amalan agama.”
 
Telah diketahui juga, bahwa tidaklah Rasulullah ﷺ itu berpindah ke alam Akhirat (kematian), melainkan Allah telah menyempurnakan agama ini untuknya, dan nikmat-nikmat Allah baginya.
 
Rasulullah ﷺ telah memeringatkan kepada kita dalam Sunnahnya, agar menjauhi segala perkara baru dalam agama. Atau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh beliau ﷺ maupun para sahabatnya.
 
Ketahuilah olehmu, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya sepanjang tiga kurun waktu terbaik umat ini, mereka sama sekali tidak mengenal apa itu perayaan Maulid. Dan dengan itu ketahuilah, bahwa ia adalah suatu perbuatan bidah. Ia direkayasa dan dibuat pada masa Kerajaan Fathimiyyah (di Mesir) semasa dipimpin oleh orang yang bergelar al-Mu’iz li dinillah (Penolong Agama Allah). Sedangkan sebenarnya dia adalah al-Mudzill li dinillah (Penghina Agama Allah).
 
Semasa dia memimpin, dia memimpin dengan menampakkan segala ciri kekufuran (yang mengeluarkan pelakunya daripada agama Islam), dan kefasikan yang jelas. Dia menghalalkan arak dan menanggalkan segala rasa malu (melalui nikah pelacuran – mutah). Sebagaimana pula ia telah mengumumkan, bahwa ia berlepas diri dan keluar dari mengikut golongan Salaf, mencaci dan mengafirkan sahabat, serta seluruh tokoh-tokoh Islam. Si celaka inilah yang juga merupakan orang pertama yang membuat perayaan Maulid. Dia telah menciptakan Enam Maulid:
1) Maulid Nabi ﷺ,
2) Maulid Fathimah,
3) Maulid Ali,
4) Maulid Hasan,
5) Maulid Husain, dan
6) Maulid untuk dirinya sendiri.
 
Kemudian datanglah golongan jahil (orang-orang bodoh) dari kalangan umat Islam yang meneruskan tradisi rekaan golongan Fathimiyyah ini secara buta dan tuli.
Ketahuilah, tidak terdapat satu dalil agama pun yang mendukung golongan penyambut Maulid ini. Apa yang ada hanyalah nash-nash yang mereka salah fahami, atau atsar yang tidak sahih. Jika ada yang sahih, maka di situ sebenarnya tidaklah ada yang mendukung mereka.
Ini adalah kesalahan besar sebagian orang Islam, yang bertentangan dengan fatwa ulama-ulama besar yang telah memastikan, bahwa merayakan Maulid ini adalah bidah.
 
Pertanyaan yang tidak Membutuhkan Jawaban
 
Kami ingin bertanya kepada golongan penyambut Maulid ini dengan tiga pertanyaan, dan kami benar-benar berharap agar mereka menjawabnya:
 
Apakah merayakan Maulid ini adalah satu ketaatan kepada Allah, atau maksiat kepada-Nya?
 
Sudah tentu mereka akan berkata “Ketaatan”. Jika mereka mengatakan ia adalah maksiat, maka dengan mudah semuanya selesai.
 
Baik. Jika kamu mengatakan “Ia adalah ketaatan dan kamu akan mendapat pahala dengannya”, maka adakah Rasulullah ﷺ sendiri mengetahuinya atau tidak?
 
Jika kamu berkata “Tidak”, maka sungguh kamu adalah golongan celaka, karena kalian telah menuduh, bahwa guru teragung (Nabi ﷺ) sebagai jahil. Dan ini adalah kesesatan yang nyata.
 
Jika kamu berkata “Beliau ﷺ mengetahuinya”, maka ketika itu kami ingin berpindah ke pertanyaan yang ketiga yaitu:
 
Jika kamu mengatakan “Ia adalah amalan ketaatan yang diketahui oleh Rasulullah ﷺ”, maka adakah beliau pernah menyampaikannya kepada umatnya?
 
Jika kamu mengatakan “Beliau tidak menyampaikannya”, maka ini adalah puncak keburukan, karena hal itu berarti menuduh “Rasulullah ﷺ menyembunyikan sesuatu daripada risalah Allah.” Sedangkan Allah ﷻ telah berfirman:
 
“Wahai Rasul (Muhammad ﷺ), sampaikan segala yang Allah turunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika kamu tidak menyampaikannya, siapa lagi yang akan menyampaikan risalah-Nya?”
 
Jika kamu mengatakan “Beliau telah menyampaikannya”, maka kami katakan, “Datangkanlah dalilnya.”
 
Di mana contoh dari para Salaf yang mereka melakukannya?
Adakah semua dalil-dalil telah hilang dan tersembunyi dari para sahabat, tabiin, dan pengikut tabiin sepanjang kurun waktu yang mulia ini?
 
Dan tidaklah ada orang yang meneruskan tradisi ini, kecuali mereka para najis Fathimiyyah!
 
Jika hal itu sedemikian rupa, maka kami dengan yakin mengatakan, bahwa hal itu (perayaan Maulid) adalah merupakan bidah yang direkayasa. Ini bahkan disertai pula dengan berbagai kemungkaran besar dan kecil yang dilakukan di dalamnya, dengan anggapan untuk merayakan Maulid.
 
Semoga Allah ﷻ memberikan pertolongan-Nya kepada umat ini.
 
Manhaj Salaf Ash-Shalih adalah manhaj pertengahan antara al-ghuluw (berlebihan) dan al-jaafy (menyepelekan).
 
Silakan bagikan kepada saudara-saudara kita kaum Muslimin agar mengetahui tentang hakikat bidahnya Maulid Nabi.
 
“Dan orang yang menunjukkan kebaikan, akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.”
 
Kita memohon kepada Allah agar memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua untuk mengetahui kebenaran, kemudian mengikuti dan mengamalkannya..
 
Ditulis oleh: @abinyasalma (Al-Wasathiyah Wal-I’tidal)
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
Baca juga:
INILAH HUJJAH (DALIL) AKAN BIDAHNYA MAULID