بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
GHOSOB (MERAMPAS HARTA ORANG LAIN)
 
Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
 
Definisi Ghosob
 
Ghosob yaitu merampas hak orang dengan cara yang tidak dibenarkan.
 
Hukum Ghosob
 
Ghosob adalah perbuatan zalim dan kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat. Allah ﷻ berfirman:
 
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ ۖ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ
 
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari, yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip, dan hati mereka kosong.” [QS. Ibrahim/14: 42-43]
 
Dan juga firman-Nya ﷻ:
 
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
 
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu, dengan jalan yang batil.” [QS. Al-Baqarah/14: 188]
 
Nabi ﷺ bersabda dalam khutbatul Wada:
 
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هذَا فِي شَهْرِكُمْ هذَا فِي بَلَدِكُمْ هذَا.
 
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini.” [Sahih: Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2068)]
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Nabi ﷺ bersabda:
 
لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
 
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Dan tidaklah beriman seorang peminum khamr ketika ia meminum khamr. Dan tidaklah beriman ketika seorang pencuri mencuri. Dan tidaklah beriman seseorang yang merampas/merampok harta orang kaya yang dihormati oleh manusia.” [Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7707)]
 
Haram Memanfaatkan Barang Yang Dirampas
 
Haram bagi orang yang merampas (ghoshib) memanfaatkan barang rampasannya (maghshub), dan ia wajib untuk mengembalikannya. Dari ‘Abdullah bin as-Sa-ib bin Zaid, dari ayahnya, dari kakeknya radhiyallahu anhum, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ يَأْخُذََ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا.
 
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, tidak dengan main-main tidak pula sungguhan. Barang siapa mengambil tongkat saudaranya, hendaklah ia mengembalikannya.” [Hasan: Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7578)], Sunan Abi Dawud (XIII/346, no. 4982) dan ini adalah lafalnya Sunan at-Tirmidzi (III/313, no. 2249) dan lafalnya:
 
لاَ يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيْهِ.
 
“Janganlah salah seorang dari kalian mengambil tongkat saudaranya.”]
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْئٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ دِيْتَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ.
 
“Barang siapa berbuat zalim kepada saudaranya dalam kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta kehalalannya pada hari ini (di dunia), sebelum (datang hari) yang tidak ada Dinar, tidak pula Dirham. Apabila ia mempunyai amalan saleh, maka akan diambil darinya sekadar kezalimannya. Dan apabila ia tidak mempunyai kebaikan, maka akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi, kemudian ditimpakan kepadanya.’” [Sahih: Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6511), Shahiih al-Bukhari (V/101, no. 2449), Sunan at-Tirmidzi (IV/36, no. 2534), dengan maknanya]
 
Orang Yang Terbunuh Karena Memertahankan Hartanya Adalah Syahid
 
Seseorang dibolehkan untuk membela dirinya dan hartanya jika ada orang yang ingin membunuh atau mengambil hartanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: “Seseorang datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata:
 
يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي؟ قَالَ: فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: قَاتِلْهُ، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي؟ قَالَ: فَأَنْتَ شَهِيدٌ، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ؟ قَالَ: هُوَ فِي النَّارِ.
 
“Wahai Rasulullah, apakah pendapatmu jika seseorang datang ingin mengambil hartaku?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Jangan engkau berikan.’
Ia berkata: ‘Apa pendapatmu jika ia memerangiku?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Perangilah ia.’
Ia berkata: ‘Apa pendapatmu jika ia membunuhku?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Maka engkau syahid.’
Ia berkata: ‘Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Dia di Neraka.’” [Sahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 1086), Shahiih Muslim (I/124, no. 140), Sunan an-Nasa-i (VII/114)]
 
Merampas Tanah
 
Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ ظَلَمَ مِنَ اْلأَرْضِ شَيْئًا طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ.
 
“Barang siapa mengambil sedikit tanah dengan cara yang zalim, maka (Allah) akan mengalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.’” [Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (V/103, no. 2452), Shahiih Muslim (III/ 1230, no. 1610)]
 
Dari Salim dari ayahnya radhiyallahu anhuma ia berkata, “Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ أَخَذَ مِنَ اْلأَرْضِ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِيْنَ.
 
“Barang siapa yang mengambil tanah sedikit saja dengan cara yang tidak dibenarkan, maka ia dibenamkan ke dalam tanah tersebut pada hari Kiamat hingga tujuh lapis bumi.’” [Sahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6385)], Shahiih al-Bukhari (V/103, no. 2454)]
 
Barang siapa Merampas Tanah Lalu Ia Menanaminya Atau Membangun Di Atasnya, Maka Ia Diharuskan Mencabut Tanamannya Dan Menghancurkan Bangunannya
 
Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
َلَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ.
 
“Tidak ada hak bagi keringat orang yang zalim.” [Sahih: Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 1113)], Sunan at-Tirmidzi (II/419, no. 1394), al-Baihaqi (VI/142)]
 
Apabila ia mengolahnya, maka ia mengambil nafkahnya, dan tanamannya bagi orang yang memiliki (tanah)
 
Dari Rafi’ bin Khudaij, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ زَرَعَ فِي أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَلَيْسَ لَهُ مِنَ الزَّرْعِ شَيْءٌ وَلَهُ نَفَقَتُهُ.
“Barang siapa menanam di atas tanah suatu kaum tanpa seizin mereka, maka ia tidak memiliki apa pun dari tanaman itu, namun ia mendapatkan nafkahnya.” [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 6272)], Sunan at-Tirmidzi (II/410, no. 1378), Sunan Ibni Majah (II/824, no. 2466]
 
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Twitter: @NasihatSalaf
Facebook:
https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
Baca juga:
GHOSOB (MERAMPAS HARTA ORANG LAIN)