FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMIMPIN (PENGUASA)

/, Manhaj, Nasihat Ulama/FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMIMPIN (PENGUASA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH MENDOAKAN KEBAIKAN UNTUK PEMIMPIN (PENGUASA)
>> Ketaatan pada Pemimpin, Salah Satu Prinsip Penting Akidah Ahlus Sunnah
 
Apabila pemimpin itu zalim dan melampaui batas, misalnya dengan mengambil harta atau membunuh kaum Muslimin, maka Ahlus Sunnah TIDAKLAH berpendapat bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka. Hal ini berdasarkan perintah tegas dari Nabi ﷺ kepada sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu:
 
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
 
“Engkau mendengar dan engkau menaati pemimpinmu, meskipun hartamu diambil dan punggungmu dipukul. Dengarlah dan taatilah (pemimpinmu).” [HR. Muslim no. 1847]
 
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk bersabar, BUKAN memberontak mengangkat senjata atau melakukan demonstrasi. Karena dengan memberontak dan demonstrasi, akan menimbulkan (lebih) banyak kerusakan. Inilah akidah Ahlus Sunnah, yaitu senantiasa menimbang dengan mengambil bahaya yang lebih ringan dibandingkan dua bahaya yang ada.
 
Sudah sepantasnya bagi kaum Muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasihat dan menempuh jalan Salaf, bagi mereka mengkhususkan kepada Waliyul Amr di dalam sebagian dari doa-doa kebaikan mereka. Ditambah lagi bahwa menyibukkan diri dengan pelanggaran-pelanggaran kehormatan tidaklah memeperbaiki, bahkan akan menyesakkan dada dan memperbanyak dosa. Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi’i berkata:
 
ما سب قومٌ أميرهم إِلا حُرموا خيره
 
”Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali diharamkan mereka dari kebaikannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287]
 
Mendoakan kebaikan terhadap Waliyul Amr (Pemimpin) mengandung faidah yang bayak sekali, di antaranya:
 
Pertama: Seorang Muslim beribadah dengan doa ini, karena ketika dia mendengar dan taat kepada Waliyul Amr adalah melaksanakan perintah Allah, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kalian.“ [QS. An-Nisa’: 59]
 
Maka bagi seorang Muslim, mendengar dan menaati Waliyul Amr adalah suatu ibadah. Dan termasuk mendengar dan taat kepada Waliyul Amr adalah mendoakan kebaikan untuk mereka. Al-Imam Nashiruddin Ibnul Munayyir Rahimahullah (wafat tahun 681 H) berkata:
 
الدعاء للسلطان الواجب الطاعة ، مشروع بكل حال
 
”Mendoakan seorang penguasa yang wajib ditaati adalah disyariatkan dalam semua keadaan.” [Al-Intishaf di dalam Hasyiyah Al-Kaasyif 4/105 – 106]
 
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:
 
الدعاء لولي الأمر من أعظم القربات ومن أفضل الطاعات
 
”Mendoakan Waliyul Amr termasuk qurbah yang paling agung dan termasuk ketaatan yang paling utama ” [Risalah Nashihatul Ummah Fi Jawaabi ‘Asyarati As’ilatin Muhimmah dari Mausu’ah Fatawa Lajnah wa Imamain]
 
Kedua: Mendoakan Waliyul Amr adalah melepaskan tanggung jawab menjalankan kewajiban, karena doa termasuk nasihat, dan nasihat wajib atas setiap Muslim. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
 
إِني لأدعو له [أي السلطان ] بالتسديد والتوفيق – في الليل والنهار – والتأييد وأرى ذلك واجبا عليَّ
 
”Sesungguhnya aku mendoakan dia ( yaitu penguasa ) dengan kelurusan dan taufiq, siang dan malam, serta dukungan dari Allah, dan saya memandang hal itu wajib atasku.” [As-Sunnah oleh Al-Khollal hal. 116]
 
Ketiga: Mendoakan Waliyul Amr adalah satu dari tanda-tanda Ahli Sunnah wal Jamaah. Maka orang yang mendoakan Waliyul Amr menyandang salah satu sifat dari sifat-sifat Ahli Sunnah wal Jamaah. Al-Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata:
 
وإِذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى ، وإِذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح ، فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
 
”Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah, bahwa dia adalah Ahli Hawa. Dan jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa maka ketahuilah, bahwa dia adalah ahli Sunnah Insya Allah. ” [Syarhus Sunnah hal. 116]
 
Keempat: Sesungguhnya mendoakan Waliyul Amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri. Karena jika Waliyul Amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim, bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq: ” Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Allah setelah Jahiliyyah?“ Abu Bakar menjawab:
 
بقاؤكم عليه ما استقامت بكم أئمتكم
 
”Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian.” [Shahih Bukhari 3/51]
 
Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
 
لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان
 
“Seandainya aku tahu, bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”
 
Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
 
إذا جعلتُها في نفسي لم تَعْدُني.وإِذا جعلتها في السلطان صَلَح فصَلَح بصلاحه العبادُ والبلاد
 
”Jika saya jadikan doa itu pada diriku, maka tidak akan melampauiku. Sedangkan jika saya jadikan pada penguasa, maka dengan kebaikannya, akan baiklah para hamba dan negeri ” [Diriwayatkan oleh Al Barbahari di dalam Syarhu Sunnah hal. 116-117 dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 8/91-92 dengan sanad yang Shahih]
 
Kelima: Jika Waliyul Amr mendengar bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan padanya, maka dia akan senang sekali dengan hal itu, yang membuatnya mencintai rakyatnya, dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka. Ketika Al-Imam Ahmad menulis surat kepada Khalifah Al-Mutawakkil, maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaaqan, menteri Al-Mutawakkil. Ibnu Khaaqan berkata kepada beliau: ”Seyogyanya surat ini ditambah dengan doa kebaikan untuk Khalifah, karena dia senang dengannya.“ Maka Al-Imam Ahmad menambahnya dengan doa kebaikan kepada Khalifa. [As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal 1/133-134]
 
Janganlah Mendokan Waliyul Amr dengan Kejelekan
 
Akidah Ahlus Sunnah menyatakan, tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin atau pemerintah, tidak boleh menghujatnya, menjelek-jelekkannya di muka umum, dan sebagainya. Karena pada hakikatnya, hal ini sama halnya dengan durhaka dan memberontak secara fisik. Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan:
 
“Tidak boleh mendoakan kejelekan bagi pemimpin, karena ini adalah pemberontakan secara abstrak, semisal dengan memberontak kepada mereka dengan menggunakan senjata (pemberontakan secara fisik, pen.). Yang mendorongnya untuk mendoakan jelek bagi penguasa adalah karena dia tidak mengakui (menerima) kekuasaannya. Maka kewajiban kita (rakyat) adalah mendoakan pemimpin dalam kebaikan, dan agar mereka mendapatkan petunjuk. Bukan mendoakan jelek mereka. Maka ini adalah salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jika engkau melihat seseorang yang mendoakan jelek untuk pemimpin maka ketahuilah, bahwa akidahnya telah rusak, dan dia tidak di atas Manhaj Salaf. Sebagian orang menganggap hal ini sebagai bagian dari rasa marah dan kecemburuan karena Allah taala, akan tetapi hal ini adalah rasa marah dan cemburu yang TIDAK PADA TEMPATNYA. Karena jika mereka lengser, maka akan timbul kerusakan (yang lebih besar, pen.).” [At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 171]
 
Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata:
“Maka orang-orang yang mendoakan jelek pemimpin kaum Muslimin, dia tidaklah berada di atas madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Demikian pula orang-orang yang tidak mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, maka ini adalah tanda bahwa mereka telah menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.” [At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 172]
 
Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah juga berkata:
“Maka kecemburuan bukanlah dengan mendoakan kejelekan atas pemerintah, meskipun engkau menghendaki kebaikan. Maka doakanlah bagi mereka agar mendapatkan kebaikan. Allah taala Maha Kuasa untuk memberikan hidayah kepada mereka, dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. Maka engkau, apakah engkau berputus asa dari (turunnya) hidayah untuk mereka? Ini adalah berputus asa dari rahmat Allah.” [At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah, hal. 173]
 
 
Sumber:
 
#qurbah, #ibadahagung, #doakan, #mendokan, #walliyulamri, #waliyulamri, #pemimpin, #penguasa, #presiden,#ulilamri, #laranganmedokankejelekan, #akidah, #aqidah, #ahlussunnahwaljamaah, #mendoakankebaikan, #mendoakankeburukan, #mendoakankejelekan #aswaja #memberontak, #pemberontakan, #khawarij, #kawarij #demonstrasi, #demostrasi #faidah, #faedah
2017-12-09T07:42:39+00:009 December 2017|Akidah & Tauhid, Manhaj, Nasihat Ulama|0 Comments

Leave A Comment