بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

 
ABDURRAHMAN BIN AUF (SAHABAT YANG SANGAT DERMAWAN)
 
Salah seorang Sahabat Nabi ﷺ yang mendapat rekomendasi masuk Surga adalah Abdurrahman bin `Auf bin `Abdi `Auf bin `Abdil Harits Bin Zahrah bin Kilab bin al-Qurasyi az-Zuhri Abu Muhammad. Dia juga salah seorang dari enam orang Sahabat Radhiyallahu anhum yang Ahli Syura. Dia dilahirkan kira-kira sepuluh tahun setelah tahun Gajah dan termasuk orang yang terdahulu masuk Islam. Dia berhijrah sebanyak dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya. Saat masih jahilillah, ia bernama `Abdul Ka`bah atau `Abdu `Amr; kemudian diberi nama Abdurrahman oleh Rasulullah ﷺ. [Fadhailus Shahabah, Imam Ahmad hlm 908] Ibunya bernama Shafiyah. Sedangkan ayahnya bernama `Auf bin `Abdu `Auf bin `Abdul Harits bin Zahrah. [Ash-Shahihul Musnad Min Fadhailis Shahabah hlm 173]
 
Abdurrahman bin `Auf adalah seorang Sahabat Nabi ﷺ yang sangat dermawan dan yang sangat memperhatikan dakwah Islam, berikut ini adalah sebagian kisahnya:
 
Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu Dinar, kemudian membagi-bagikan uang tersebut kepada para fakir miskin bani Zuhrah, orang-orang yang membutuhkan dan kepada Ummahatul Mukminin (para istri Nabi ﷺ). Al-Miswar berkata: “Aku mengantarkan sebagian dari Dinar-Dinar itu kepada Aisyah radhiyallahu anha. Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Siapa yang telah mengirim ini?” Aku menjawab: “Abdurrahman bin Auf”. Aisyah radhiyallahu anha berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Tidak ada yang menaruh simpati kepada kalian kecuali dia termasuk orang-orang yang sabar. Semoga Allah ﷻ memberi minum kepada Abdurrahman bin Auf dengan minuman Surga.” [Fadhailus Shahabah, Imam Ahmad, hlm 909]
 
Dalam hadis lain disebutkan, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ memberikan (sesuatu) kepada sekelompok sahabat radhiyallahu anhum, yang di sana terdapat Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu. Namun beliau ﷺ tidak memberikan apa pun kepadanya. Kemudian Abdurrahman Radhiyallahu anhu keluar dengan menangis dan bertemu Umar Radhiyallahu anhu . Umar Radhiyallahu anhu bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Rasulullah ﷺ memberikan sesuatu kepada sekelompok sahabat, tetapi tidak memberiku apa-apa. Aku khawatir hal itu akibat ada suatu keburukan padaku”. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan keluhan Abdurrahman Radhiyallahu anhu itu. Rasulullah ﷺ pun menjawab: ‘Aku tidak marah kepadanya, tetapi cukup bagiku untuk mempercayai imannya.” [Fadhailus Shahabah, Imam Ahmad, hlm 908]
 
Keutamaan-Keutamaan Abdurrahman bin Auf di antaranya:
Abdurrahman bin `Auf walaupun memiliki harta yang banyak dan menginfakkanya di jalan Allah ﷻ, namun dia selalu mengintrospeksi dirinya. Abdurrahman Radhiyallahu anhu pernah mengatakan: “Kami bersama Rasulullah ﷺ diuji dengan kesempitan, namun kami pun bisa bersabar. Kemudian kami juga diuji dengan kelapangan setelah Rasulullah ﷺ, dan kami pun tidak bisa sabar.” [ash-Shahabah, hlm 252]
 
Suatu hari Abdurrahman Radhiyallahu anhu diberi makanan, padahal dia sedang berpuasa. Ia mengatakan: “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat). Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.” [ash-Shahabah, hlm 253]
 
Senada dengan kisah di atas, Naufal bin al-Hudzali berkata:
“Dahulu Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar. Ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis. Kami bertanya: “ Wahai Abu Muhammad (panggilan Abdurrahman), apa yang menyebabkan kamu menangis?” Ia menjawab: “Dahulu Rasulullah ﷺ meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan. [al-Ishabah 2/1183]
 
`Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Umar bin Kaththab Radhiyallahu anhu pergi ke Syam. Ketika sampai Sarghin (nama sebuah desa di batas Syam setelah Hijaz), ia berjumpa dengan penduduk al-Ajnad yaitu Abu Ubadah dan para sahabatnya. Mereka memberitahu bahwa wabah penyakit telah berjangkit di Syam. Umar Radhiyallahu anhu berkata: ‘Panggilkan aku para Muhajirin yang awal (berhijrah)!’ Aku (`Abdullah bin Abbas-red) pun memanggil mereka. Umar Radhiyallahu anhu memberitahu dan meminta pendapat mereka tentang wabah tersebut. Kemudian mereka berselisih, sebagian mengatakan: “Engkau telah keluar untuk suatu tujuan. Menurut pendapat kami, engkau jangan mundur.” Sedangkan sebagian lain mengatakan: “Engkau bersama banyak orang dan bersama para sahabat Rasulullah ﷺ. Maka kami berpendapat agar tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Umar Radhiyallahu anhu berkata lagi: “Panggilkan para Anshar untukku”. Akupun memanggil mereka. Kemudian Umar Radhiyallahu anhu meminta pendapat kepada mereka, dan mereka sama dengan pendapat para kaum Muhajirin, yaitu mereka juga berbeda pendapat. Lalu Umar Radhiyallahu anhu berkata: “Panggilkan orang-orang tua Quraisy dari orang yang hijrah ketika fathu Mekah, yang berada di sini.” Aku pun memanggil mereka dan tidak ada seorang pun yang berselisih. Mereka mengatakan: “Pendapat kami, sebaiknya kamu membawa kembali orang-orang dan tidak membiarkan mereka terkena wabah.” Kemudian Umar Radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang, “Sebaiknya kita kembali.” Dan mereka pun setuju dengannya. Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahu anhu mengatakan: “Apa kita berusaha berlari dari takdir Allah ﷻ?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab: “Seandainya selainmu mengucapkan hal itu, wahai Abu Ubaidah. Ya, kami berlari dari takdir Allah ﷻ menuju takdir Allah ﷻ yang lain. Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu dan mengatakan: “Dalam hal ini, aku memiliki ilmunya. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ
 
Jika kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan apabila wabah terjadi di suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar/lari darinya. [HR. Bukhari no. 5398] [ash-Shahabah, hlm 251]
 
Pada zaman Nabi ﷺ, Abdurrahman bin `Auf Radhiyallahu anhu pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 Dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan [al-Ishabah, hlm 1182].
 
Ja`far bin Burqan mengatakan: “ Telah sampai kabar kepadaku bahwa Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu telah memerdekakan 3000 orang. [al-Ishabah, hlm 1183]
 
Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab tarikhnya, bahwa Abdurrahman pernah memberikan wasiat kepada semua sahabat yang mengikuti perang badar dengan 400 Dinar. Dan jumlah mereka ketika itu 100 orang.[ al-Ishabah, hlm 1184]
 
Dia meninggal dunia pada tahun 32 H. Dia berumur 72 tahun dan dia dikubur di Pemakaman Baqi` dan `Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu ikut menyalatkannya. [al-Ishabah, hlm 1184]
 
Demikian selintas kisah tentang seorang Sahabat Nabi ﷺ yang sangat kaya, seorang konglomerat pada jamannya, namun amat sangat dermawan. Semoga menjadi tauladan bagi kita semua.
 
Wallahu a`lam
 
Referensi:
1. Ash-Shahabah, Syaikh Shalih bin Thaha `Abdul Wahid, Maktabah al-Ghuraba`, Dar al-Atsariyah, cet. Ke-1 tahun 1427H
2. Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Ibnu Hajar al-Asqalani, tahqiq: Khalil Makmûn Syiha, Darul Makrifah, Beirut
3. Fadhailush Shahabah Lil Imam Ahmad, Dar Ibnul Jauzi cet. ke-2 tahun 1420 M
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: nasihatsahabatcom@gmail.com
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#BiografiAbdurrahmanBinAuf #CeritaAbdurahmanBinAuf #SiapakahAbdurrahmanBinAuf #SifatAbdurrahmanBinAuf #KisahDermawanSahabatNabi #kisahsahabatNabi #belikurmabusuk #kisahsahabatkayatapidermawan #sahabatdijaminmasukSurga