Posts

,

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL
>> Bolehkah kita sekadar Mengucapkan Selamat Natal saja?
 
Pertanyaan:
Apa hukumnya mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang Nasrani dengan ungkapan “Sepanjang tahun mudah-mudahan kalian dalam keadaan baik.” Atau menyiratkan harapan agar mereka dalam keadaan baik, dan tidak menggangu umat Islam dalam urusan agama. Tujuan ucapan simpatik tersebut bukanlah dimaksudkan untuk mengapresiasi (menghargai) kesyirikan mereka sebagaimana yang disangkakan sebagian ulama.
 
Jawaban:
Alhamdulillah, larangan memberikan apresiasi atau ucapan selamat kepada Nasrani pada hari raya mereka adalah dengan cara turut berbahagia, menampakkan sikap menerima, dan meridai atas apa yang mereka lakukan di hari itu, walaupun dari hati sanubari tidak menyukai perbutan-perbuatan itu.
 
Pengharaman ini tertuju bagi siapa saja yang menampakkan sikap-sikap yang berupa partisipasi dan meridai perayaan hari besar tersebut. Seperti memberi hadiah, melisankan ucapan selamat, membantu kegiatan tersebut dengan tenaga, membuatkan makanan, dan turut serta memeriahkan dengan ikut merayakannya di lokasi-lokasi yang biasa digunakan untuk merayakan hari besar mereka itu. Walaupun niat di dalam hati menyelisihi aktivitas lahiriah, hal ini TIDAK mengubah status hukum perbuatan tersebut dari haram menjadi halal. Amalan lahiriyah ini sudah cukup sebagai parameter haramnya aktivitas partisipasi tersebut.
 
Banyak orang menganggap remeh permaslahan ini. Mereka menyatakan tidak turut serta dalam aktivitas kesyirikan yang dilakukan kaum Nasrani. Hanya saja ini mereka ingin menghargai hari besar agama lain. Menghargai dan memberi apresiasi terhadap ritual yang KELIRU tidaklah diperkenankan. Bahkan semestinya seseorang MENGINGKARI perbutan kemunkaran tersebut dan berusaha mengadakan perbaikan.
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menyerupai mereka (orang-orang kafir) dalam segala hal yang menjadi yang ciri khas perayaan hari-hari besar mereka, tidak membantu mereka dengan makanan, pakaian, menyediakan penerangan, dll. Kita juga tidak diperkenankan mengadakan perayaan, dukungan finansial, atau kegiatan perdagangan yang bertujuan memudahkan terselenggaranya acara tersebut. Demikian juga tidak mengizinkan anak-anak berpartisipasi di tempat-tempat bermain dalam rangka memeriahkan hari raya mereka, serta tidak berpenampilan perlente demi menyambut acara tersebut.
 
Secara umum, kita tidak diperkenankan mengkhususkan hari raya mereka dengan sesuatu yang terkait dengan syiar agama mereka. Umat Islam hendaknya menganggap hari raya tersebut sebagaimana hari-hari biasa saja, tidak ada kekhususan dan tidak ada sesuatu yang istimewa. Para ulama tidak berselisih terkait dengan menyikapi hari-hari tersebut sebagaimana penjelasan di atas. Sebagian di antara mereka bahkan mengatakan kufurnya seseorang yang menyokong dan berpartisipasi dalam perayaan hari raya mereka. Alasannya karena orang-orang tersebut turut mengagungkan syiar-syiar kekufuran.
 
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan:
 
من تأسى ببلاد الأعاجم , وصنع نيروزهم ومهرجانهم , وتشبه بهم حتى يموت , وهو كذلك , حشر معهم يوم القيامة
 
“Barang siapa yang tinggal di negeri ‘Ajam (non-Arab), berperilaku seperti orang-orang di negeri tersebut sampai ia meninggal, maka ia akan dibangkitkan bersama orang-orang negeri tersebut pada Hari Kiamat.”
 
Amirul Mukminin Umar bin Khathab, para sahabat nabi, dan para ulama menyaratkan bagi orang-orang Nasrani (non-Islam) untuk TIDAK menampakkan perayaan hari raya mereka di negeri-negeri Islam, dan mereka diharuskan merayakannya secara sembunyi-sembunyi.
 
Dalam kitab musnad dan sunan diriwayatkan, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
 
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (komunitas), maka dia termasuk bagian dari kaum (komunitas) tersebut.” [HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani]
 
Dalam hadis lain “Bukanlah bagian dari kami, bagi mereka yang menyerupai orang-orang selain kami.” Status hadis ini Jayyid. Apabila menyerupai mereka dalam permasalahan kebiasaan saja terlarang, bagaimana pula hukumnya menyerupai mereka dengan sesuatu yang lebih esensial, yakni menyerupai mereka dengan cara turut memeriahkan hari raya mereka.
 
Sebagian ulama ada yang mengharamkan atau memakruhkan memakan sembelihan mereka yang diperuntukkan untuk perayaan hari raya mereka. Mereka mengategorikan sembelihan tersebut adalah sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah. Mereka para ulama tersebut juga melarang berperan serta dalam hari raya tersebut, baik dalam bentuk memberi hadiah atau menyediakan komoditi dagang untuk memeriahkan hari raya mereka.
 
Mereka mengatakan: “Tidaklah halal bagi seorang Muslim mengadakan transaksi dagang dengan orang Nasrani berkaitan dengan maslahat perayaan hari raya mereka, tidak menjual daging, pakaian, tidak menolong mereka dalam suatu perkara yang menjadi bagian dari agama mereka. Karena yang demikian termasuk mengagungkan kesyirikan mereka, memberi motivasi, dan dorongan moral dan material terhadap kekufuran mereka. Hendaknya pemerintah melarang umat Islam dari perbuatan demikian, karena Allah taala berfirman:
 
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
 
“Tolong-menolonglah kalian dalam perkara kebaikan dan takwa, janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” [QS. Al-Maidah: 2]
 
Coba perhatikan saudaraku, seorang Muslim DILARANG tolong-menolong atau menjadi fasilitator agar seseorang bisa meminum khamr dan perbuatan terlarang lainnya. Tentunya larangan yang lebih lebih tegas layak ditekankan untuk mereka yangberpartisipasi dalam syiar-syiar kekufuran.
 
[Disadur dari: Fatwa Islam no. 106668]
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
hukum,hukum mengucapkan selamat Natal,Natalan,merayakan Natal,perayaan Natal,Merry Christmas,ucapan,ucapkan,mengucapkan,selamat hari Natal,akidah,aqidah
 
, ,

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

 

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat:

 
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
.
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” [QS. An Nur: 61]
 
Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين
.
“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin
 
Artinya:
Salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang saleh. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadis ini Hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17]
 
Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.
 
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata: “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam: “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. [Al Adzkar, hal. 468-469]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ucapan, #ucapkan, #mengucapkan, #doazikir, #doa, #zikir, #dzikir, #rumahkosong, #tidakadapenghunihukum, #tatacara, #cara #masukrumah
,

APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?

APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihHajiUmrah
APAKAH DENGAN MEMBACA TALBIYAH BERARTI KITA BERNIAT MEMASUKI IBADAH HAJI?
 
Pertanyaan:
Apakah niat masuk ibadah haji itu dimulai ketika kita membaca bacaan Talbiyah?
 
Jawaban:
Talbiyah adalah dengan mengatakan “Labbaika umrotan” jika untuk umrah dan “Labbaika hajjan” jika untuk haji. Sedangkan NIAT TIDAK BOLEH DILAFALKAN. Sehingga kita TIDAK BOLEH -misalnya- mengatakan: “Ya Allah, saya berniat umrah atau berniat haji.” Cara semacam ini tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ.
 
[Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Falah, 2007].
(Dengan pengubahan tata bahasa oleh www.konsultasi syariah.com)
 
 
,

ATURAN SYARIAT MENGUCAPKAN “ALLAHU A’LAM” ATAU “SAYA TIDAK TAHU”

ATURAN SYARIAT MENGUCAPKAN “ALLAHU A’LAM” ATAU “SAYA TIDAK TAHU”
Bismillah
 
ATURAN SYARIAT MENGUCAPKAN “ALLAHU A’LAM” ATAU “SAYA TIDAK TAHU”
 
Di antara adab yang diajarkan oleh syariat kepada kita ketika ditanya tentang suatu perkara yang kita tidak mengetahuinya adalah mengucapkan jawaban “Allahu a’lam” (Allah lebih mengetahuinya) ataupun dengan jawaban “Saya tidak tahu”. Janganlah seseorang itu mencoba-coba untuk menjawab dan menjelaskan tentang perkara yang tidak diketahuinya. Janganlah pula dia merasa enggan dan malu untuk mengakui, bahwasanya dia tidak mengetahui jawaban atas perkara yang ditanyakan dengan mengatakan “Saya tidak tahu”.
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
 
“Janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” [QS Al Isra`017:36]
 
Di dalam ayat yang lain:
 
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الفواحش مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ والإثم والبغي بِغَيْرِ الحق وَأَن تُشْرِكُواْ بالله مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى الله مَا لاَ تَعْلَمُونَ
 
“Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan berkata terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” [QS Al A’raf 007:33]
 
Di dalam ayat lain:
 
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
 
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah, untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS Al An’am 006:144]
 
Di dalam ayat yang lain:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
 
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan persangkaan (kecurigaan), karena sebagian dari persangkaan itu dosa.” [QS Al Hujurat 049:12]
 
Di dalam ayat yang lain:
 
وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
 
“Mereka tidaklah mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka itu tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan persangkaan itu sesungguhnya tiada berfaidah sedikit pun terhadap kebenaran.” [QS An Najm 053:28]
 
Penggunaan kalimat “Allahu a’lam” pun adalah merupakan kebiasaan yang diucapkan oleh para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sangatlah banyak disebutkan di dalam kitab-kitab hadit\s yang disusun oleh para ulama ahli hadis.
 
Janganlah dikira, bahwasanya orang yang mengatakan tidak tahu itu adalah suatu kehinaan. Bahkan sebaliknya ia adalah suatu kemuliaan baginya, karena dia telah berkata jujur dan bersikap wara’ (berhati-hati) terutama terhadap yang berkaitan dengan masalah-masalah agama.
 
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang empat puluh masalah agama oleh seseorang yang datang dari daerah yang jauh. Beliau hanya menjawab empat pertanyaan saja, sedangkan sisanya beliau hanya menjawab dengan ucapan “Saya tidak tahu”. Si penanya pun menjadi kesal dan berkata: “Saya telah jauh-jauh datang kepada Anda untuk menanyakan berbagai permasalahan, lalu Anda hanya menjawab dengan “Saya tidak tahu”? Imam Malik berkomentar: “Naikilah kendaraanmu dan kembalilah ke negeri asalmu, lalu sampaikanlah kepada orang-orang, bahwa engkau telah bertanya kepada Malik, namun dia hanya menjawab “Saya tidak tahu”.
 
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah berkata di dalam kitab I’anatul Mustafid (1/44): “Ini adalah permasalahan yang sangat penting dan wajib atas diri kita untuk berhati-hati padanya. Seseorang tidaklah boleh untuk tergesa-gesa menjawab suatu permasalahan, kecuali apabila dia benar-benar mengetahuinya dengan baik. Jika tidak demikian, maka hendaknya dia berhenti pada batas keselamatan, dan tidak masuk kepada gelombang lautan, padahal dia tidak pandai berenang.”
 
Catatan Tambahan
 
Lafal yang masyhur di kalangan para sahabat adalah ucapan “Allahu wa Rasuluhu a’lam” yang artinya adalah “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Namun para ulama mengatakan, bahwa bentuk ucapan yang menyertakan nama Rasul seperti ini hanyalah berlaku khusus pada masa Nabi Muhammad ﷺ masih hidup.
 
Adapun ketika beliau ﷺ telah wafat, maka yang disyariatkan adalah hanya ucapan “Allahu a’lam” tanpa menyertakan lafal “wa Rasuluhu”. Sebabnya adalah karena setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat, dia tidak lagi mengetahui perkara-perkara yang terjadi setelahnya.
,

AL HAMMAADUUN – SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

AL HAMMAADUUN - SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah, #TazkiyatunNufus

AL HAMMAADUUN – SIAPAKAH YANG MENDAPATKAN GELAR TERSEBUT?

Inginkah Anda mendapat julukan AL HAMMAADUUN? Perbanyaklah ucapan ALHAMDULILLAH, baik dalam keadaan senang maupun sedih. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya, hamba Allah yang paling mulia pada Hari Kiamat adalah ‘Al-Hammaaduun’ (Orang yang paling banyak mengucapkan Hamdalah).” [Hadis Shahih riwayat Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir]

Di dalam hadis ini dinyatakan salah satu kriteria bagi seorang hamba untuk meraih kemuliaan di Hari Kiamat, yaitu banyak mengucapkan “Alhamdulillah”, banyak memuji Allah atas segala nikmat dan keagungan-Nya. Karena barang siapa yang banyak memuji-Nya, berarti ia telah mengenal sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, serta mengakui segala karunia dan nikmat-nikmat-Nya.

Hamdalah mencakup memuji Allah dalam segala keadaan, baik pada hal-hal yang menyenangkan, maupun pada musibah atau perkara-perkara yang kurang disukai. Seperti dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam hadis A’isyah, beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, apabila melihat apa yang ia sukai menyatakan, ‘Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat.’ Dan bila melihat (mendapati) sesuatu yang tidak beliau sukai mengucapkan, ‘Alhamdulillah ‘ala kulli haal.” [HR Ibnu Majah dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 4727]

Ketika diberi kenikmatan kemudian mengucapkan Hamdalah, maka itulah bentuk syukur dengan lisan. Adapun ketika ia diberi cobaan, maka hendaklah pula mengucapkan Hamdalah, karena pada hakikatnya, ada banyak pahala yang bisa diraih dengan banyaknya ujian, yaitu dengan bersabar, sebagaimana juga musibah bisa menghapus dosa.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berzikir dan banyak mengucapkan Hamdalah, sehingga kita bisa memeroleh kemuliaan di Hari Kiamat dengan predikat sebagai ‘Hammaaduun’ (Orang-orang yang banyak mengucapkan Hamdalah).

Sumber:

http://bbg-alilmu.com/archives/29218

http://www.programjodoh.com

,

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

TEMPAT NIAT ITU DI HATI

>> Hukum Melafalkan Niat (Usholli, Nawaitu …)

 

 

Sahabat –Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata: ”Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia, atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim). Inilah hadis yang menunjukkan, bahwa amal seseorang akan dibalas atau diterima tergantung dari niatnya.

Setiap Orang Pasti Berniat Tatkala Melakukan Amal

Niat adalah amalan hati dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. NIAT itu TEMPATNYA DI DALAM HATI dan BUKANLAH DI LISAN. Hal ini berdasarkan Ijma’ (kesepakatan) para ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu’ Fatawanya.

Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air, kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut, yaitu berwudhu, tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan: ”Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan.”

Apabila setan membisikkan kepada seseorang yang selalu merasa was-was dalam shalatnya, sehingga dia mengulangi shalatnya beberapa kali, setan mengatakan kepadanya:

”Hai manusia, kamu belum berniat”. Maka ingatlah: ”Tidak mungkin seseorang mengerjakan suatu amalan tanpa niat. Tenangkanlah hatimu, dan tinggalkanlah was-was seperti itu.”(Lihat Syarhul Mumthi, I/128 dan Al Fawa’id Dzahabiyyah, hal.12)

Melafalkan Niat

Masyarakat kita sudah sangat akrab dengan melafalkan niat (maksudnya mengucapkan niat sambil bersuara keras atau lirih) untuk ibadah-ibadah tertentu. Karena demikianlah yang banyak diajarkan oleh ustadz-ustadz kita, bahkan telah diajarkan di sekolah-sekolah sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Contohnya adalah tatkala hendak shalat berniat ’Usholli fardhol Maghribi …’ atau pun tatkala hendak berwudhu berniat ’Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsi …’. Kalau kita melihat dari hadis di atas, memang sangat tepat kalau setiap amalan harus diawali niat terlebih dahulu. Namun apakah niat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau lirih?!

Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan, berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat, mulai dari shalat sunah sebelum Subuh, shalat fardhu Subuh, shalat sunnah Dhuha, shalat sunnah sebelum Zuhur, dst. Sangat banyak niat yang harus kita hapal, karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan, karena tidak mengetahui niatnya, atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Ingatlah, setiap ibadah itu bersifat Tauqifiyyah, sudah paketan dan baku. Artinya, setiap ibadah yang dilakukan harus ada dalil dari Alquran dan Hadis. Termasuk juga dalam masalah niat.

Setelah kita lihat dalam buku tuntunan shalat yang tersebar di masyarakat atau pun di sekolahan yang mencantumkan lafal-lafal niat shalat, wudhu, dan berbagai ibadah lainnya, tidaklah kita dapati mereka mencantumkan ayat atau riwayat hadis tentang niat tersebut. Tidak terdapat dalam buku-buku tersebut yang menyatakan, bahwa lafal niat ini adalah hadis riwayat Imam Bukhari dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad, I/201:

”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadis saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti, kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syariat yaitu Nabi ﷺ.”  Dan sebelumnya beliau mengatakan mengenai petunjuk Nabi dalam shalat: ”Rasulullah ﷺ, apabila hendak mendirikan shalat, maka beliau mengucapkan: ‘Allahu Akbar’. Dan beliau tidak mengatakan satu lafal pun sebelum takbir, dan tidak pula melafalkan niat sama sekali.”

Maka setiap orang yang menganjurkan mengucapkan niat wudhu, shalat, puasa, haji, dsb, maka silakan tunjukkan dalilnya. Jika memang ada dalil tentang niat tersebut, maka kami akan ikuti. Dan janganlah berbuat suatu perkara baru dalam agama ini yang tidak ada dasarnya dari Nabi ﷺ. Karena Nabi kita ﷺ bersabda:

”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim). Dan janganlah selalu beralasan dengan mengatakan: ’Niat kami  kan baik’, karena sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhuma mengatakan:”Betapa banyak orang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi, sanadnya shahih, lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 92)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat wa shallallahu ’ala Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel https://rumaysho.com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/934-hukum-melafalkan-niat-usholli-nawaitu-2.html

,

URGENSI UCAPAN ‘INSYA ALLAH’

URGENSI UCAPAN ‘INSYA ALLAH’

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

URGENSI UCAPAN ‘INSYA ALLAH’

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا ، إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’.” [Al-Kahf: 23-24]

Ayat ini adalah petunjuk Allah kepada Rasul-Nya ﷺ, agar hal yang beliau telah niatkan dengan KESUNGGUHAN, disandarkan kepada kehendak Allah ‘Azza wa Jalla semata. Karena Dia-lah Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, Yang mengetahui segala hal yang telah terjadi, dan apa yang akan terjadi, serta Allah mengetahui apa yang tidak akan terjadi, andaikata terjadi bagaimana terjadinya.

Insya Allah artinya kalau Allah menghendaki. Sebuah etika bagi seorang Muslim untuk meyakini, bahwa apa yang dia lakukan hanya terjadi, bila Allah menghendakinya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah ﷺ menceritakan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang akan mendatangi 70 istrinya dalam satu malam, -dalam sebuah riwayat 90 istri, dan dalam riwayat lain 100 istri-, agar setiap istrinya tersebut melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah. Tapi, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam lupa membaca ‘Insya Allah’. Akhirnya, TIDAK ADA yang melahirkan dari istri-istrinya, kecuali seorang istri saja yang melahirkan anak cacat. Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa andaikata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam membaca ‘Insya Allah’, pasti setiap istrinya akan melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah.

Biasakanlah diri dengan etika yang agung ini, agar Allah memberkahi segala usaha dan amalanmu.

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

Sumber:

, ,

KAPAN DOA BERBUKA PUASA “DZAHABAZH ZHOMA’U…” DIUCAPKAN?

KAPAN DOA BERBUKA PUASA “DZAHABAZH ZHOMA’U…” DIUCAPKAN?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir
#SeriPuasaRamadan

KAPAN DOA BERBUKA PUASA “DZAHABAZH ZHOMA’U…” DIUCAPKAN?

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »

Rasulullah ﷺ, apabila beliau berbuka, beliau membaca:
Dzahaba-zh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah

Artinya:
Telah hilang rasa haus, telah basah kerongkongan, dan telah diraih pahala insya Allah. [HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai Hasan oleh Al-Albani]

Umumnya doa terkait perbuatan tertentu, dibaca sebelum melakukan perbuatan tersebut. Doa makan, dibaca sebelum makan, doa masuk kamar mandi, dibaca sebelum masuk kamar mandi, dst. Nah, apakah ketentuan ini juga berlaku untuk doa di atas?

Dilihat dari arti doa di atas, zahir menunjukkan, bahwa doa ini dibaca SETELAH orang yang berpuasa itu berbuka. Syiakh Ibnu Utsaimin menegaskan:

لكن ورد دعاء عن النبي صلى الله عليه وسلم لو صح فإنه يكون بعد الإفطار وهو : ” ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ”  فهذا لا يكون إلا بعد الفطر

“Hanya saja, terdapat doa dari Nabi ﷺ, jika doa ini Shahih, bahwa doa ini dibaca SETELAH berbuka. Yaitu doa: Dzahaba-zh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah. Doa ini tidak dibaca kecuali SETELAH selesai berbuka.” (Al-Liqa As-Syahri, no. 8, dinukil dari Islamqa.com)

Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7428.

Karena itu, urutan yang tepat untuk doa ketika berbuka adalah:

  • 1. Membaca Basmalah sebelum makan kurma atau minum (berbuka).
  • 2. Mulai berbuka
  • 3. Membaca doa berbuka: Dzahaba-zh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah

Wallahu a’lam.

Sumber: https://konsultasisyariah.com/12680-doa-sahih-berbuka-puasa.html

, ,

HUKUM BERDOA DALAM HATI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

HUKUM BERDOA DALAM HATI
.
Bagaimanakah hukum berdoa dalam hati?
Diperbolehkan atau justru terlarang?
Simak uraiannya dalam video yang singkat ini!
.
==>> Link video di Youtube: https://youtu.be/GQwTS2YkCMI

,

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

 

>> Doa Sebelum Masuk Ramadan

Pertanyaan:

Adakah doa khusus sebelum memasuki Ramadan?

Jawaban:

Tidak diketahui ada doa khusus yang dibaca saat masuk Ramadan. Yang ada hanyalah doa umum ketika melihat hilal (masuknya bulan Hijriyah). Dan doa itu dibaca saat melihat hilal Ramadan maupun bulan lainnya. Lafal doanya ialah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal Islaami. Robbii wa Robbukallah.”

Artinya:

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” [HR. Ahmad III/17, at-Tirmidzi 3451, dan yang lainnya]

Jika dia ingin berdoa agar bisa menjalankan puasa secara sempurna dan agar pahala dari ibadah yang dikerjakannya diterima oleh Allah, maka ini juga tidak masalah.

Demikian kesimpulan dari keterangan asy-Syaikh Shaalih al-Fauzaan hafizhahullah dalam: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/7445

 

>> Hukum Ucapan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’

Asy-Syaikh Shaalih bin Fauzaan bin Abdillah al-Fauzaan hafizhahullah pernah ditanya:

Pertanyaan:

Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya Ramadan?

جـ: التهنئة بدخول شهر رمضان لا بأس بها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبشر أصحابه بقدوم شهر رمضان، ويحثهم على الاجتهاد فيه بالأعمال الصالحة، وقد قال الله تعالى‏:‏

‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏ ‏[‏ يونس ‏:‏ 58‏]‏

فالتهنئة بهذا الشهر والفرح بقدومه يدلان على الرغبة في الخير، وقد كان السلف يبشر بعضهم بعضًا بقدوم شهر رمضان؛ اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم

Jawaban:

“Mengucapkan ucapan selamat atas masuknya Ramadan hukumnya boleh, karena Nabi Muhammad ﷺ juga biasa memberi kabar gembira pada para sahabat atas masuknya Ramadan, serta mendorong mereka untuk sungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh di dalamnya. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” [QS. Yunus: 58]

Sehingga memberi ucapan selamat lantaran berjumpa Ramadan dan bergembira dengan kedatangannya menunjukkan antusiasmenya pada kebaikan. Sebagaimana Salaf (orang-orang saleh terdahulu) juga saling mengabarkan pada sebagian mereka akan tibanya Ramadan, yang itu mereka lakukan dalam rangka meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang juga melakukannya [Lihat: HR. an-Nasaa’i 2106, Ahmad, dll –pent].”

Sumber:  http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7452

 

>> Dosa Juga Akan Berlipat Saat Ramadan?

Pertanyaan:

Apakah dosa pada bulan Ramadan juga dilipatgandakan?

Jawaban:

Dosa ketika Ramadan tidak akan berlipat ganda dalam hal hitungan. Dalam artian, jika dia melakukan satu kejahatan ketika Ramadan, maka dosa yang dia dapatkan ya tetap satu. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ:

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan, melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’aam: 160)

Namun dalam hal ukuran, satu dosa yang dilakukan ketika Ramadan akan lebih berat dalam hal timbangan dan balasannya. Benar dosanya tetap satu dosa, tapi satu dosa itu lebih berat dari satu dosa, pada hari-hari biasa, dengan kemaksiatan yang sama. Allah ﷻ berfirman:

{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Siapa yang bermaksud di dalam Masjidil Haram melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS. al-Haj: 25]

Dalam ayat ini Allah ﷻ memersiapkan siksa yang tidak sebatas siksa, namun disifati dengan siksa yang pedih, bagi orang-orang yang melakukan tindak kezaliman di tempat yang Allah muliakan. Dari ayat ini ulama mengambil petikan hokum, bahwa dosa yang dilakukan pada tempat yang Allah muliakan, atau waktu yang Allah muliakan, akan menjadi berat dalam hal siksa yang didapatnya. Oleh karena Ramadan ialah bulan paling mulia di sisi Allah, maka demikian pula kondisi maksiat yang dilakulan di bulan tersebut.”

Lihat:

  • – Fataawaa Ibn Baaz,  XV/446-448
  • – Asy-Syarh al-Mumti’, V/262

 

Sumber:  Telah Tersebut di Atas

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/282/serba-serbi-sebelum-Ramadan#sthash.CcwuaR6k.dpuf