Posts

LARANGAN MENEMPATKAN GAMBAR DAN PATUNG DI DALAM RUMAH

LARANGAN MENEMPATKAN GAMBAR DAN PATUNG DI DALAM RUMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

LARANGAN MENEMPATKAN GAMBAR DAN PATUNG DI DALAM RUMAH

Di antara hal yang dapat dilakukan untuk membentengi rumah dari setan, yaitu: “Tidak menempatkan gambar dan patung di dalam rumah”.

Gambar dan patung yang dimaksudkan di sini adalah yang berupa/ berbentuk makhluk bernyawa (hewan dan manusia). Gambar dan patung seperti ini harus disingkirkan dari rumah, terkecuali boneka untuk mainan anak perempuan, demikian kata Al-Qadhi rahimahullah. (Al-Minhaj, 14/308)

Namun boneka ini tidak boleh dalam bentuk yang detail, sebagaimana jawaban Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang masalah ini. (lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh, no. 329, 2/227-278)

Makhluk Allah ta’ala yang mulia, para malaikat, tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung. Sementara seperti yang telah kita katakan, bila para malaikat keluar dari rumah, niscaya yang bersarang di dalam rumah tersebut adalah para setan, karena rumah itu adalah rumah yang buruk.

Aisyah radhiyallahu’anha pernah membeli namruqah yang bergambar (makhluk hidup). Namruqah adalah bantal-bantal yang dijejer berdekatan satu dengan lainnya, atau bantal yang digunakan untuk duduk. (Fathul Bari, 10/478). Ketika Rasulullah ﷺ melihat namruqah tersebut, beliau ﷺ hanya berdiri di depan pintu, enggan untuk masuk ke dalam rumah. Aisyah radhiyallahu’anha pun mengetahui ketidaksukaan tampak pada wajah beliau ﷺ. Aisyah radhiyallahu’anha berucap:

أَتُوبُ إِلَى اللهِ، مَاذَا أَذنَبْتُ؟ قَالَ: مَا هَذِهِ النَّمْرُقَةُ؟ قُلتُ: لِتَجْلِسَ عَلَيْهَا وَتَوَسَدَّهَا. قَالَ: إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَومَ الْقِيَامَةِ، يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوا مَا خَلَقتُمْ؛ وَإِنَّ الْمَلاَئِكِةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ الصُّوَرةُ

“Aku bertaubat kepada Allah. Apa gerangan dosa yang kuperbuat?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Untuk apa namruqah ini?” “Aku membelinya agar engkau bisa duduk di atasnya serta menjadikannya sebagai sandaran.” jawab Aisyah. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan penjelasan: “Sungguh pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada Hari Kiamat, dan dikatakan kepada mereka: ’Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan’. Dan sesungguhnya, rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar (bernyawa), tidak akan dimasuki para malaikat.” (HR. Al-Bukhari no. 5957 dan Muslim no. 5499)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata dari Rasulullah ﷺ:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ أَوْ تَصَاوِيرُ

“Para malaikat tidak akan masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya ada patung-patung atau gambar-gambar.” (HR. Muslim no. 5511)

 

Sumber: http://asysyariah.com/membentengi-rumah-dari-setan-2/

,

KALIMAT YANG LEBIH MANIS DARIPADA MADU

KALIMAT YANG LEBIH MANIS DARIPADA MADU
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#NasihatUlama
Bismillaah… Alloohummaa sholli wa sallim ‘alaa nabiyyinaa Muhmmadin.
KALIMAT YANG LEBIH MANIS DARIPADA MADU
 
Al-Imam Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan:
 
“Malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena meridai penuntut ilmu (syariat). Para malaikat tidaklah meletakkan sayap mereka bagi para raja, tidak bagi para pedagang, tidak bagi para pemburu dunia, tidak pula selain mereka. Tidak bahkan bagi para ahli ibadah, tidak bagi orang-orang saleh, sampai para mujahid sekali pun, para malaikat tidak meletakkan sayap untuk mereka. Namun para malaikat meletakkan sayap bagi penuntut ilmu.
 
Ini adalah pemuliaan dari Allah tabaraka wa taala, bagi para penuntut ilmu, dan dorongan bagi mereka. Jangan kita menganggap mustahil hal itu, karena dengan perintah Allah, para malaikat memberikan perlindungan kepada orang-orang yang beriman.”
 
Marhaban Ya Thalibal Ilm hal 117
 
 
كلام أحلى من العسل
 
❍ قال الشيخ الإمام ربيع بن هادي المدخلي – حفظه اللّه تعالى-:
 
【 *و الملائكة تضع أجنحتها رضًا لطالب العلم،* الملائكة ما تضع أجنحتها لا للملوك و لا للتجار ، و لا لطلاب الدنيا ، و لا لغيرهم ، و لا حتى للعُبَّاد ، و لا للصالحين ، حتى للمجاهدين ما تضع أجنحتها ، بل تضع أجنحتها لطالب العلم ، *هذا تكريم من اللّه – تبارك و تعالى – لطلاب العلم، و تشجيع لهم، و لا نستبعد ذلك، فإن للملائكة بأمر اللّه عناية للمؤمنين 】
 
 مرحبا يا طالب العلم صـ (117)
,

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

ABU LAHAB PUNYA SEGALANYA, TAPI ITU TAK BERMANFAAT UNTUKNYA

Paman Nabi  ﷺ yang hidup di masa kerasulan ada empat orang. Dua orang beriman kepada risalah Islam dan dua lainnya kufur, bahkan menentang. Dua orang yang beriman adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhuma.

Satu orang menolong dan menjaganya, tidak menentang dakwahnya, namun ia tidak menerima agama Islam yang beliau ﷺ bawa, dia adalah Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Dan yang keempat adalah Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Ia menentang dan memusuhui keponakannya, bahkan menjadi tokoh orang-orang musyrik yang memerangi beliau ﷺ.

Nama terakhir ini kita kenal dengan Abu Lahab. Dan Alquran mengabadikannya dengan nama itu.

Sifat Fisiknya

Lewat film dan gambar-gambar, Abu Lahab dikenalkan dengan perawakan jelek (tidak tampan) dan hitam. Sehingga kesan garang seorang penjahat begitu cocok dengan penampilannya. Namun sejarawan meriwayatkan, bahwa Abu Lahab adalah sosok yang sangat putih kulitnya. Seorang laki-laki tampan dan sangat cerah wajahnya. Demikianlah orang-orang jahiliyah mengenalnya.

Pelajaran bagi kita. Abu Lahab memiliki nasab yang mulia. Seorang Quraisy, paman dari manusia terbaik dan rasul yang paling utama, Muhammad ﷺ. Memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Memiliki paras yang rupawan. Namun semuanya tidak ada artinya tanpa keimanan. Allah hinakan dia dengan mencatatnya sebagai seorang yang celaka. Dan dibaca oleh manusia hingga Hari Kiamat dalam surat al-Masad.

Sementara Bilal bin Rabah, seorang budak, hitam, tidak pula tampan, dan jauh dari kedudukan serta kemapanan, namun Allah ﷻ muliakan dengan keimanan. Oleh karena itu, janganlah tertipu dengan keadaan. Rasulullah  ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Mengapa Ia Disebut Abu Lahab?

Kun-yah dari Abdul Uzza bin Abdul Muthalib adalah Abu Lahab. Lahab artinya api. Karena Abdul Uzza ketika marah, rona wajahnya berubah menjadi merah layaknya api. Dengan kun-yahnya inilah Alquran menyebutnya, bukan dengan nama aslinya. Alasannya:

Pertama: Karena Alquran tidak menyebutkan nama dengan unsur penghambaan kepada selain Allah. Namanya adalah Abdul Uzza, yang berarti hambanya Uzza. Uzza adalah berhala Musyrikin Mekah.

Kedua: Orang-orang lebih mengenalnya dengan kun-yahnya dibanding namanya.

Ketiga: Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, bahwa nama asli itu lebih mulia dari kun-yah. Oleh karena itu, Allah menyebut para nabi-Nya dengan nama-nama mereka sebagai pemuliaan. Dan menyebut Abu Lahab dengan kun-yahnya. Karena kun-yah kedudukannya di bawah nama. Ini menurut al-Qurthubi rahimahullah.

Orang-orang di masanya juga mengenal Abu Lahab dengan Abu Utbah (ayahnya Utbah). Namun karena kekafiran, Allah ﷻ kekalkan nama Abu Lahab untuknya. Sebenarnya ia adalah tokoh Mekah yang cerdas. Sayang kecerdasan dan kepandaiannya tidak bermanfaat sama sekali di sisi Allah, karena tidak ia gunakan untuk merenungkan kebenaran syariat Islam yang lurus.

Anak-anaknya

Abu Lahab memiliki tiga anak laki-laki. Mereka adalah Utbah, Mut’ib, dan Utaibah. Dua nama pertama memeluk Islam saat Fathu Mekah. Sedangkan Utaibah tetap dalam kekufuran.

Di antara kebiasaan bangsa Arab adalah menikahkan orang-orang dalam lingkar keluarga dekat. Sebelum menjadi rasul, Rasulullah ﷺ menikahkan anaknya Ummu Kultsum dengan Utaibah dan Ruqayyah dengan Utbah.

Ketika surat Al-Masad turun, Abu Lahab mengultimatum kedua putranya:

“Kepalaku dari kepala kalian haram, sebelum kalian ceraikan anak-anak perempuan Muhammad!!”, kata Abu Lahab. Ia mengancam kedua putranya tidak akan bertemu dan berbicara kepada mereka, sebelum menceraikan putri Rasulullah ﷺ.

Ketika Utaibah hendak bersafar bersama ayahnya menuju Syam, ia berkata:

“Akan aku temui Muhammad. Akan kusakiti dia dan kuganggu agamanya. Saat di hadapannya kukatakan padanya:

“Wahai Muhammad, aku kufur dengan bintang apabila ia terbenam, dan apabila ia dekat dan bertambah dekat lagi…’ Lalu Utaibah meludahi wajah nabi, kemudian menceraikan anak beliau, Ummu Kultsum.

Nabi ﷺ mendoakan keburukan untuknya:

“Ya Allah, binasakan dia dengan anjing dari anjing-anjingmu.” (Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 4/39). Utaibah pun tewas diterkam singa.

Sementara Abu Lahab mati tujuh hari setelah Perang Badr. Ia menderita bisul-bisul di sekujur tubuh. Tiga hari mayatnya terlantar. Tak seorang pun yang mau mendekati bangkai si kafir itu.

Karena malu, keluarganya menggali lubang, kemudian mendorong tubuh Abu Lahab dengan kayu panjang, hingga masuk ke lubang itu. Kemudian mereka lempari makamnya dengan batu, hingga jasadnya tertimbun. Tidak ada seorang pun yang mau membopong mayitnya, karena takut tertular penyakit. Ia mati dengan seburuk-buruk kematian.

Pasangan Dalam Keburukan

Istri Abu Lahab adalah Ummu Jamil Aura’. Nama yang tak seindah karakter aslinya. Ia diabadikan dalam surat al-Masad sebagai wanita pembawa kayu bakar. Perlakuannya amat buruk terhadap Rasulullah ﷺ. Ia taruh kayu dan tumbuhan berduri di jalan yang biasa dilewati Rasulullah ﷺ di malam hari, agar Nabi tersakiti. Ia tak kalah buruk dengan suaminya.

Ummu Jamil adalah wanita yang suka mengadu domba dan menyulut api permusuhan di tengah masyarakat. Ia memiliki kalung mahal dari permata: “Demi al-Lat dan al-Uzza, akan kuinfakkan kalung ini untuk memusuhi Muhammad”, katanya. Allah ﷻ gantikan kalung indah itu dengan tali dari api Jahannam untuk mengikat lehernya di Neraka.

Ketika Allah ﷻ menurunkan surat al-Masad yang mencelanya dan sang suami, wanita celaka ini langsung mencari Rasulullah ﷺ. Sambil membawa potongan batu tajam, ia masuk ke Masjid al-Haram. Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar berada di sana.

Saat telah dekat, Allah ﷻ butakan pandangannya dari melihat Rasulullah ﷺ. Ia hanya melihat Abu Bakar. Tak ada Muhammad ﷺ di sampingnya.

“Wahai Abu Bakar, aku mendengar temanmu itu mengejekku dan suamiku! Demi Allah, kalau aku menjumpainya akan aku pukul wajahnya dengan batu ini!!” Cercanya penuh emosi.

Kemudian ia bersyair:

مُذمماً عصينا ، وأمره أبينا ، ودينه قلينا

Orang tercela kami tentang

Urusan kami mengabaikannya

Dan agamanya kami tidak suka

Ia ganti nama Muhammad (yang terpuji) dengan Mudzammam (yang tercela). Kemudian ia pergi.

Abu Bakar bertanya heran:

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengira dia melihatmu?”

“Dia tidak melihatku. Allah telah menutupi pandangannya dariku”, jawab Rasulullah ﷺ.

Pelajaran:

Pertama: Abu Lahab memiliki segalanya. Ia menyandang nasab mulia, bangsawan dari kalangan Bani Hasyim. Terpandang dan memiliki kedudukan di tengah kaumnya. Paman manusia terbaik sepanjang masa. Berwajah tampan. Seorang yang cerdas dan pandai memutuskan masalah. Profesinya pebisnis, mengambil barang dari Syam untuk dipasok ke Mekah atau sebaliknya. Tapi itu semua sama sekali tidak bermanfaat untuknya. Karena itu, seseorang jangan tertipu dengan dunia yang ia miliki. Apalagi yang tidak memiliki dunia.

Kedua: Penampilan fisik, kedudukan, kekayaan, BUKANLAH acuan seseorang itu layak diikuti dan didengarkan ucapannya. Karena sering kita saksikan di zaman sekarang, orang kaya lebih didengar dan diikuti daripada para ulama. Ketika motivator bisnis, mereka yang menyandang gelar akademik tinggi, berbicara tentang agama, masyarakat awam langsung menilainya sebuah kebenaran.

Ketiga: Pasangan seseorang itu tergantung kualitas dirinya. Ia bagaikan cermin kepribadian.

Keempat: Hidayah Islam dan iman itu mahal dan berharga. Sebuah kenikmatan yang tidak Allah berikan kepada keluarga para nabi. Anak Nabi Nuh, istri Nabi Luth, ayah Nabi Ibrahim, dan paman Rasulullah Muhammad ﷺ, Abu Thalib dan Abu Lahab, tidak mendapatkan kenikmatan ini. Oleh karena itu kita layak bersyukur. Allah memilih kita menjadi seorang Muslim, sementara sebagian keluarga para nabi tidak. Pantas kita syukuri nikmat ini dengan memelajari Islam, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

 

Sumber:

– Hisyam, Ibnu. 2009. Sirah Ibnu Hisyam. Beirut: Dar Ibn Hazm.

– Tafsir al-Qurthubi surat al-Masad ayat 1-5: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura111-aya1.html

– Tafsir Ibnu Katsir surat al-Masad ayat 1-5: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura111-aya1.html#katheer

 

Oleh Nufitri Hadi (@nfhadi07)

[KisahMuslim.com]

 

Sumber:

https://kisahmuslim.com/5398-abu-lahab-ia-punya-segalanya-tapi-tak-bermanfaat-untuknya.html

https://aslibumiayu.net/13379-abu-lahab-nasabnya-mulia-parasnya-menawanharta-melimpah-tapi-ketika-tidak-ikut-ajaran-nabi-maka-jadi-orang-yang-rugi.html

 

,

LARANGAN MENGIKAT RAMBUT DALAM SHOLAT

LARANGAN MENGIKAT RAMBUT DALAM SHOLAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

LARANGAN MENGIKAT RAMBUT DALAM SHOLAT

Oleh: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, bahwasanya ia melihat ‘Abdullah bin al-Harits sedang mengerjakan sholat, sementara rambutnya terikat ke belakang. Segera saja Ibnu ‘Abbas bangkit untuk mengurai ikatannya. Selesai sholat ia mendatangi Ibnu ‘Abbas dan berkata: “Ada apa gerangan dengan rambutku?” Ibnu ‘Abbas berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti orang yang sholat dengan tangan terikat’,” (HR Muslim [492]).

Diriwayatkan dari Abu Sa’ad –seorang lelaki penduduk Madinah- ia berkata: “Aku melihat Abu Rafi’, Maula Rasulullah ﷺ, menyaksikan al-Hasan sedang sholat dengan rambut terikat. Lalu ia melepaskan ikatannya atau ia melarangnya. Lalu ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang seseorang mengerjakan sholat dengan rambut terikat,” (Shahih lighairihi, HR Ibnu Majah [1042], Ahmad [VI/8 dan 391], ‘Abdurrazaq [2990])

Rasulullah ﷺ bersabda: “Itu (ikatan rambut) adalah tempat setan” (Hasan, HR Abu Dawud [646], at-Tirmidzi [384], Ibnu Khuzaimah [991], ‘Abdurrazaq [4991], al-Baihaqi [II/109] dan Ibnu Hibban [2779]).

Kandungan Bab:

Kaum lelaki dilarang mengerjakan sholat dengan rambut terikat. Imam Tirmidzi berkata (II/224): “Inilah yang berlaku di kalangan ahli ilmu. Mereka membenci kaum lelaki sholat dengan rambut terikat.”

Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Authaar (II/287): “Zahir larangan yang tersebut dalam hadis di atas adalah haram, tidak boleh dipalingkan kepada hukum lain, kecuali bila ada indikasi yang mendukungnya”.

Siapa yang mengerjakan sholat dengan rambut terurai, rambutnya pasti tergerai ke lantai ketika sujud (bila rambutnya panjang). Ia akan mendapat pahala sujud dengan rambut tergerai ke lantai, karena hal itu menunjukkan, bahwa ia merendahkan kedudukan rambutnya dalam beribadah kepada Allah. Dasar-dasarnya adalah sebagai berikut:

Rambut yang terikat diserupakan oleh Rasulullah ﷺ dengan tangan yang terputus, karena kedua tangan yang terputus itu tidak sampai menyentuh lantai saat sujud. Demikian pula rambut yang terikat, ia tidak sujud bersama dengan rambutnya.

Sejumlah atsar yang diriwayatkan dari Salaf, di antaranya adalah, diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu, bahwa ia lewat di hadapan seorang lelaki yang sedang sujud dengan rambut terikat. Beliau mengurainya. Selesai sholat ‘Abdullah bin Mas’ud berkata kepadanya: “Janganlah engkau ikat rambutmu, karena rambutmu juga hendak sujud. Dan sesungguhnya setiap helai rambut yang sujud ada pahalanya.” Lelaki itu berkata: “Sesungguhnya aku mengikatnya agar tidak tergerai.” “Tergerai lebih baik bagimu!” sahut Ibnu Mas’ud, (Shahih, HR ‘Abdurrazaq dalam al-Mushannaf [II/185/4996] dan asy-Syaukani dalam Nailul Authaar [II/387]).

Dianjurkan agar tidak mengikat sorban lalu meletakkan ekor sorbannya di punggung. Akan tetapi hendaklah ia meletakkannya di atas dada (di depan). Cara seperti inilah yang dipilih oleh guru kami, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Wallaahu a’lam.

Larangan Dalam Hadis Diatas Khusus Bagi Kaum Pria, Bukan Untuk Wanita

Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullahu berkata:

“Tampaknya hukum ini KHUSUS BAGI LAKI-LAKI, TIDAK BERLAKU BAGI WANITA , sebagaimana dinukilkan oleh Asy-Syaukani rahimahullahu dari Al-’Iraqi rahimahullahu.” (Ashlu Shifati Sholatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 2/743).

Al-’Iraqi rahimahullahu berkata: “Hukum ini khusus bagi laki-laki, tidak bagi wanita. Karena rambut mereka (para wanita) adalah aurat, wajib ditutup di dalam sholat. Bila ia melepaskan ikatan rambutnya, bisa jadi rambutnya tergerai dan sulit untuk menutupinya, hingga membatalkan sholatnya. Dan juga, akan menyulitkannya bila harus melepaskan rambutnya tatkala hendak sholat. Nabi ﷺ sendiri telah memberikan keringanan kepada kaum WANITA untuk TIDAK MELEPASKAN ikatan rambut mereka ketika mandi wajib, padahal (hal ini) sangat perlu untuk membasahi seluruh rambut mereka di saat mandi tersebut.” (Nailul Authar 2/440)

Wallahu a’lam.

[Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali]

Sumber:

http://qodarullahi.multiply.com/reviews/item/141

http://abuayaz.blogspot.co.id/2011/03/larangan-mengikat-rambut-dalam-shalat.html

,

BERGERAK LEBIH TIGA KALI, MEMBATALKAN SHOLAT?

BERGERAK LEBIH TIGA KALI, MEMBATALKAN SHOLAT?

BERGERAK LEBIH TIGA KALI, MEMBATALKAN SHOLAT?

Hukum Bergerak Lebih Tiga Kali Ketika Sholat

Pertanyaan:

Saya sering mendengar, orang yang bergerak lebih tiga kali dalam sholat, bisa membatalkan sholatnya. Apa ini benar? Apa dalilnya?

Jawaban:

Bismillah was sholatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita perlu memertegas, bahwa yang dimaksud gerakan dalam pembahasan ini adalah gerakan yang BUKAN termasuk gerakan sholat.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ melakukan gerakan yang bukan termasuk gerakan sholat, seperti menggendong cucu beliau, memindahkan orang, melepas sandal, membukakan pintu, bergerak maju, dan yang lainnya. Berikut beberapa riwayat tersebut:

Pertama, Nabi ﷺ menggendong cucunya, bernama Umamah bintu Abil Ash. Ibunya Umamah bernama Zainab putri sulung Nabi ﷺ. Dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Bahwa Rasulullah ﷺ sholat sambil menggendong Umamah, putri Zainab bintu Rasulullah ﷺ. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya. (HR. Bukhari 516, Muslim 543, dan yang lainnya).

Kedua, Nabi ﷺ memindahkan orang yang sholat bersama beliau.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

“Nabi ﷺ melakukan sholat malam, kemudian aku ikut sholat bersama beliau. Aku berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan beliau.” (HR. Bukhari 699, Muslim 763 dan yang lainnya).

Ketiga, beliau ﷺ bergerak maju. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

صَبَبْتُ لرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا، فَتَوَضَّأَ فَالْتَحَفَ بِإِزَارِهِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، وَأَتَى آخَرُ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي

“Saya menyediakan air untuk Rasulullah ﷺ, kemudian beliau berwudhu dan memakai sarung. Kemudian aku berdiri (jadi makmum) di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu datang orang lain, dan dia berdiri di sebelah kiri beliau, ternyata beliau malah maju dan melanjutkan sholat.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1536)

Keempat, beliau melepas sandal dan meletakkannya di sebelah kiri. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ

Ketika Rasulullah ﷺ sedang mengimami para sahabat, tiba-tiba beliau melepas sandalnya dan meletakkannya di sebelah kiri. Para sahabat yang melihat beliau, langsung melepas sandal mereka… (HR. Ahmad 11877, Abu Daud 650 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Kelima, beliau membuka pintu. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ، فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ

“Saya minta dibukakan pintu, sementara Rasulullah ﷺ sedang sholat sunah, dan pintu ada di arah Kiblat. Kemudian beliau berjalanan serong kanan atau serong kiri, lalu membuka pintu dan kembali ke tempat sholatnya.” (HR. Nasai 1206, Abu Daud 922 dan dihasankan al-Albani)

Dan masih banyak beberapa riwayat lainnya yang menunjukkan gerakan beliau ﷺ ketika sholat.

Bisa dipastikan, gerakan yang beliau ﷺ lakukan lebih dari tiga kali. Sementara beliau ﷺ sama sekali tidak membatalkan sholat yang sedang beliau ﷺ kerjakan. Semua ini dalil, bahwa gerakan di luar sholat yang lebih dari tiga kali, TIDAK MEMBATALKAN SHOLAT.

Kapan gerakan itu bisa membatalkan sholat?

Imam Ibnu Al-Utsaimin menjelaskan, bahwa gerakan selain bagian dari sholat, yang dilakukan ketika sholat, TIDAK secara mutlak bisa membatalkan sholat. Gerakan itu terhitung membatalkan sholat, jika terpenuhi beberapa syarat. Beliau menyebutkan:

الشُّروط لإِبطال الصَّلاة بالعمل الذي مِن غير جنسها أربعة:

1 ـ أنه كثير.

2 ـ من غير جنس الصَّلاة.

3 ـ لغير ضرورة.

4 ـ متوالٍ، أي: غير متفرِّق

Syarat batalnya sholat karena melakukan gerakan selain bagian dari sholat ada empat:

  1. Sering
  2. Bukan bagian dari gerakan sholat
  3. Tidak ada kebutuhan mendesak
  4. Berturut-turut, artinya tidak terpisah.

(As-Syarh al-Mumthi’, 3/354)

Beliau juga menjelaskan:

Jika gerakan yang banyak tersebut dilakukan secara terpisah-pisah, maka TIDAK MEMBATALKAN SHOLAT. Jika ia bergerak tiga kali pada raka’at yang pertama, kemudian bergerak lagi tiga kali di rakaat kedua, kemudian bergerak tiga kali juga di rakaat ketiga, dan bergerak juga tiga kali di rakaat keempat, maka jika seandainya gerakan-gerakan ini digabung tentunya banyak gerakannya. Akan tetapi tatkala gerakan-gerakan tersebut terpisah-pisah, maka jadi sedikit, jika ditinjau pada setiap rakaat masing-masing, dan hal ini tidak membatalkan sholat. (Syarhul Mumti’ 3/351).

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/21787-bergerak-lebih-3-kali-membatalkan-sholat.html

 

LARANGAN MENARUH APAPUN DI ATAS ALQURAN DAN KITAB-KITAB ISLAM

LARANGAN MENARUH APAPUN DI ATAS ALQURAN DAN KITAB-KITAB ISLAM

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

LARANGAN MENARUH APAPUN DI ATAS ALQURAN DAN KITAB-KITAB ISLAM

Etika Indah terhadap Kitab Suci Alquran

Sering, tanpa disadari, kita telah melanggar larangan yang satu ini. Kadang karena terburu-terburu, atau karena ketidaktahuan kita, kita meletakkan pensil atau handphone yang tengah kita gunakan, di atas Mushaf. Perhatikan nasihat indah yang satu ini, agar kita terhindar dari melanggar ketentuan Allah ta’ala.

Imam Al-Baihaqiy rahimahullah berkata:

” وَمِنْهَا : أَنْ لَا يُحْمَلَ عَلَى الْمُصْحَفِ كِتَابٌ آخَرُ ، وَلَا ثَوْبٌ ، وَلَا شَيْءٌ ؛ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُصْحَفَانِ ، فَيُوضَعَ أَحَدُهُمَا فَوْقَ الْآخَرِ : فَيَجُوزُ “

“Dan di antaranya (yakni etika-etika terhadap Alquran; -penj.), adalah:

Tidak meletakkan di atas Alquran, buku yang lainnya, atau kain/pakaian atau apapun, kecuali ada dua Mushaf yang diletakkan di atas yang lainnya”.

Artinya, kita tidak boleh meletakkan sesuatu apapun di atas Mushaf. Tidak boleh menaruh buku yang lainnya, atau peci, handphone, jam tangan, pensil dan lain-lain. Tidak boleh juga menaruh apapun di atas kitab-kitab agama Islam lainnya. Adalah dibolehkan bagi kita menumpuk satu Mushaf di atas Mushaf lainnya. Seandainya kita akan menumpuk Alquran dengan kitab-kitab Islam lainnya, maka letakkan Alquran di tumpukan paling atas.

Wallahu ta’ala a’lam.