Posts

, , ,

TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID

TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID
Tanggapan untuk saudaraku Ustadz Adi Hidayat, semoga Allah senantiasa menjaganya.
Dalam video ini Ustadz Adi Hidayat mengatakan, bahwa Nabi ﷺ selama hidupnya tidak pernah melakukan Tahiyatul Masjid…”
 
Tanggapan Ustadz Amir As-Soronji hafizahullah:
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya:
“Yang benar adalah Isra Nabi ﷺ terjadi dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan mimpi, dari Mekkah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Tatakala beliau ﷺ sampai di pintu masjid, beliau ﷺ menambatkan kendaraan tersebut di pintu, kemudian beliau ﷺ masuk masjid, lalu shalat di Kiblatnya DUA RAKAAT TAHIYATUL MASJID… [Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/23]
Hal yang sama diriwayatkan juga oleh Ahmad [III/148) dan Muslim (no.259]
Silakan lihat Risalah al-Isra wa al-Miraj karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal, 21, dicetak oleh Makabah al-Ma’arif, Riyadh.
Kesimpulan:
1) Nabi ﷺ pernah melakukan Shalat Tahiyyatil Masjid.
2) Jagan terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa meruju kepada penjelasan para ulama.
3) Perbanyak baca kitab-kitab Tafsir dan Syarah hadis.
 
Lihat tautan videonya: https://www.instagram.com/p/BbtqpSHnUgP/?r=wa1
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tanggapansyubhat, #syubhat, #Adi Hidayat, #ustadzAdiHidayat, #AH, #NabitidakpernahshalatTahiyatulMasjid, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #Tahiyatul, #Tahiyyatul, #Masjid, #Mesjid, #bantahan

HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA-PUASA SUNNAH

HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA-PUASA SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA-PUASA SUNNAH

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

Jika ada seseorang yang menggabungkan antara niat wudhu dengan niat menyegarkan badan dan niat menghilangkan najis serta kotoran (maka hukumnya bagaimana?)

Hal itu dibolehkan, sebagaimana juga pendapat Imam Syafi’i dan pendapat kebanyakan dari sahabat Imam Ahmad. Demikian karena niatan seseorang itu bukan niatan yang haram atau niatan yang makruh. Oleh karenanya, jika seseorang menghilangkan hadats bermaksud bersamaan dengannya  mengajarkan tata cara berwudhu’, maka tidak mengapa. Sebagaimana Nabi ﷺ terkadang berniat shalat, sekaligus memberikan pelajaran kepada orang-orang bagaimana shalat itu. (Jami ‘ Al Ulum Wal Hikam hal 61-62)

Syaikh Mahir bin Dhafir Al Qahtani hafidzahullah ditanya tentang menggabungkan puasa-puasa  sunnah. Dia berkata:

Tidak mengapa menggabungkan niat puasa Ayyamul Bidh (pertengahan bulan) dengan puasa Muharam. Alasan tidak mengapanya  karena maksud dari syariat puasa ini telah tercapai. Para shahabat juga telah berfatwa, dan tanpa ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini. Aku sebutkan contoh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan selainnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَإِذَا جَاءَ وَالْإمَامُ رَاكِعٌ فَلْيُكَبِّرْ تَكْبِيْرَةً وَاحِدَةً وَيَرْكَعُ

“Jika seseorang (yang mau shalat jamaah) baru datang sedang imam sudah rukuk, maka hendaknya dia bertakbir satu kali kemudian melakukan rukuk.”

Rasulullah ﷺ tidak menambah sabda dengan kalimat setelah dia bertakbir dengan sabda: ‘hendaknya kemudian dia bertakbir intiqal (takbir pindah gerakan) untuk rukuk. Artinya satu kali takbir sudah berlaku untuk takbiratul ihram dan takbir intiqal. Ini menunjukkan dibolehkannya menggabungkan niat.

Contoh lain seorang masuk masjid dan menjumpai orang-orang sedang melakukan Shalat Fajar, maka dia ikut shalat dengan niat Shalat Fajar dan Tahiyyatul Masjid. Hal ini boleh, karena Tahiyyatul Masjid bukanlah ibadah tersendiri (Liqa’ Bab Maftuh, Ibnu Utsaimin, hal. 20. Lihat penjelasan tentang kaidah ini dan contoh-contohnya secara panjang dalam Taqrir Qowa’id, Ibnu Rajab, 1/142-158).

Kesimpulannya:

Menggabungkan niat dalam satu amalan itu ada dua:

Satu: Tidak boleh, jika amalan tersebut dzatnya diperintahkan sendiri-sendiri dan ada fadhilah sendiri-sendiri. Contohnya seperti menggabung qadha’ Ramadan dengan puasa sunnah Syawal adalah tidak diperbolehkan. Karena masing-masing terdapat perintah sendiri-sendiri dan ada fadhilah sendiri-sendiri.

Dua: Boleh digabung, jika yang satu diperintah tersendiri secara dzatnya dan memiliki fadhilah tersendiri sedang yang satunya hanya digambarkan secara mutlak atau umum serta tidak ada fadhilah secara khusus.

Contoh: Boleh menggabungkan niat shalat Tahiyatul Masjid dengan niat shalat Rawatib. Shalat Tahiyatul Masjid tidak digambarkan fadhilahnya secara khusus. Rasulullah ﷺ hanya melarang seseorang duduk di masjid sebelum melaksanakan shalat dua rakaat. Maka, segala shalat dua rakaat yang dikerjakan sebelum seseorang duduk sudah disebut shalat Tahiyatul Masjid, baik itu Shalat Rawatib, Shalat Hajat, Sunah Wudhu’, Shalat Taubat dan seterusnya. Maka shalat ini bisa digabungkan dengan shalat sunnah Rawatib yang memilik fadhilah tersendiri.

Contoh lain: Menggabungkan puasa Syawal dengan puasa Daud, puasa Ayyamul Bidh dan Senin Kamis adalah boleh. Pada puasa Ayyamul Bidh, puasa Senin Kamis dan puasa Daud tidak digambarkan fadhilah tertentu. Maka puasa-puasa ini bisa digabungkan niatnya dengan puasa sunnah Syawal yang memiliki perintah tersendiri dan fadhilah tersendiri.

Contoh nyata: 11  Agustus 2014 lalu kita bisa menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin Kamis karena bertepatan dengan hari Senin, dan juga puasa Ayyamul Bidh karena bertepatan dengan tanggal 15 Syawal, dan boleh juga ditambah dengan niat puasa Daud (bagi mereka yang rutin melakukannya –pen). Dengan demikian kita insya Allah mendapatkankan pahala yang banyak dengan satu amalan saja.

Semoga Allah menerima amal saleh kita semua.

 

Gunungsempu, 10 Agustus 2014/14 Syawal 1435

Diposkan 10 August 2014 oleh Rohmanto Abu Sulthon

Sumber: http://rohmanto.blogspot.co.id/2014/08/hukum-menggabungkan-niat-puasa-puasa.html

,

APA ITU SHOLAT SUNNAH MUTLAK?

APA ITU SHOLAT SUNNAH MUTLAK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APA ITU  SHOLAT SUNNAH MUTLAK?

  • Macam-Macam Sholat Sunnah: Mutlak dan Muqayyad

Sholat sunnah itu ada dua macam:

Sholat Sunnah Mutlak (Sunnah Muthlaqah)

  1. Sholat Sunnah Mutlak yaitu semua sholat sunnah yang dilakukan TANPA terikat (terkait) dengan waktu, sebab tertentu, maupun jumlah rakaat tertentu. Sehingga sholat jenis ini boleh dilakukan kapan pun, di mana pun, dengan jumlah rakaat berapa pun, selama tidak dilakukan di waktu atau tempat yang terlarang untuk sholat (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27:154). Sholat ini dilakukan dua rakaat tanpa ada batas maksimal jumlah rakaatnya dan dapat dilakukan di siang maupun malam hari.

Hukum Sholat Sunnah Mutlak adalah dianjurkan untuk banyak dilakukan di setiap waktu, siang maupun malam, selain waktu larangan untuk sholat. Waktu terlarang tersebut adalah:

a. Setelah menunaikan sholat Subuh sampai matahari terlihat naik setinggi satu atau dua tombak (kira-kira satu atau dua meter) dari permukaan tanah. Matahari mulai berposisi demikian kira-kira 15 menit setelah terbitnya.

b. Ketika matahari tepat berada di tengah langit (di atas kepala), sejenak sebelum masuk waktu Zuhur, hingga condong sedikit ke Barat. Posisi matahari tepat di atas kepala ini dapat diketahui dari tidak adanya bayangan dari sebuah benda yang berdiri tegak, bayangan lurus benda tersebut ke arah Utara atau lurus ke arah Selatan.

c. Setelah matahari berwarna kekuningan sampai terbenamnya.

  1. Sholat Sunnah Muqayyad (Sunnah Muqayyadah- Yang Terkait)

Sholat Sunnah Muqayyad adalah sholat sunnah yang dianjurkan, terkait dengan waktu tertentu atau keadaan tertentu, seperti sholat Dhuha (setelah matahari terlihat naik lebih dari dua tombak sampai sebelum posisi matahari tepat di tengah langit) atau sholat Witir (setelah menunaikan sholat ‘Isya’ sampai sebelum masuk waktu Subuh), atau . Termasuk dari jenis Sholat Sunnah Muqayyad ini adalah sholat sunnah yang terkait dengan sebab tertentu, seperti sholat Tahiyyatul Masjid saat masuk masjid –menurut pendapat yang mengatakan sunnah-, sholat dua rakaat setelah wudhu, sholat Gerhana –menurut yang berpendapat sunnah-, dan sholat sunnah Rawatib.

Faidah Menunaikan Sholat Sunnah

Sholat sunnah dan ibadah sunnah lainnya memiliki faidah besar, yaitu menutupi kekurangan yang ada pada sholat atau ibadah wajib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda (artinya): “Sesungguhnya (amalan) yang pertama kali dihitung dari seorang Muslim pada Hari Kiamat adalah sholat Fardhu (Wajib). Apabila nilai sholat Fardhunya sempurna, maka sempurna pula balasannya. Namun apabila tidak sempurna, maka dikatakan: Lihatlah! Apakah orang ini memiliki perhitungan sholat sunnah? Apabila ia memiliki perhitungan sholat sunnah, maka kekurangan pada sholat wajibnya akan disempurnakan oleh sholat sunnahnya. Selanjutnya berlaku demikian pada seluruh amalan wajib lainnya.” [H.R Ibnu Majah. Lihat Abu Dawud, an Nasa’i, dan at-Tirmidzi. Hadis ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Dengan demikian tidak sepantasnya kita meremehkan ibadah-ibadah sunnah, setelah dapat menunaikan ibadah-ibadah wajib. Terlebih, sangat besar kemungkinan – kalau tidak dikatakan mesti – ibadah wajib kita masih jauh dari nilai sempurna, baik secara lahir maupun batin.

Tingkat Keutamaan

Pada penjelasan sebelumnya, telah disebutkan bahwa sholat sunnah ada dua macam: Sholat Sunnah Mutlak dan sholat sunnah Muqayyad. Semua sholat sunnah ini tingkatannya berbeda-beda. Berikut rinciannya:

– Sholat sunnah Muqayyad lebih utama dibandingkan Sholat Sunnah Mutlak, meskipun sholat sunnah Muqayyad ini dilakukan di siang hari.

– Sholat Sunnah Mutlak yang dilakukan di malam hari, lebih utama dibandingkan Sholat Sunnah Mutlak yang dilakukan di siang hari.

Sebagai contoh, orang yang mengerjakan Sholat Sunnah Mutlak antara Maghrib dan Isya, lebih utama dibandingkan orang yang mengerjakan Sholat Sunnah Mutlak Antara Zuhur dan Ashar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ المَكْتُوبَةِ الصَّلاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

“Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat sunnah yang dikerjakan di malam hari.” (HR. Muslim)

– Sholat Sunnah Mutlak yang dikerjakan di sepertiga malam terakhir, lebih utama dibandingkan Sholat Sunnah Mutlak di awal malam, karena sepertiga malam terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Tuhan kita Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, turun setiap malam ke langit dunia, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Kemudian Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan aku ampuni.” (HR. Muslim)

Demikian yang dikabarkan Rasulullah ﷺ yang wajib kita imani, sebagaimana yang beliau ﷺ sampaikan. Allah turun ke langit dunia, dengan cara yang sesuai kebesaran dan keagungannya, dan tidak boleh kita khayalkan.

– Sholat sunnah yang dilakukan di rumah, lebih utama dibandingkan sholat sunnah yang dikerjakan di masjid.

إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ

“Sesungguhnya sholat yang paling utama adalah sholat yang dilakukan seseorang di rumahnya, kecuali sholat wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Sholat Sunnah Mutlak

Sholat Sunnah Mutlak tata caranya sama dengan sholat biasa. Tidak ada bacaan khusus, maupun doa khusus. Sama persis seperti sholat pada umumnya.

Untuk bilangan rakaatnya, bisa dikerjakan dua rakaat salam – dua rakaat salam. Bisa diulang-ulang dengan jumlah yang tidak terbatas. Rasulullah ﷺ bersabda (artinya): “Sholat malam dan siang hari itu (dilakukan) dua rakaat dua rakaat.” [H.R Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Untuk Sholat Sunnah Mutlak yang dikerjakan siang hari, bisa juga dikerjakan empat rakaat dengan salam sekali, tanpa duduk Tasyahud Awal.

Allahu a’lam

 

Sumber:

https://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/06/06/shalat-sunnah-rawatib/

https://konsultasisyariah.com/16566-apa-itu-shalat-sunah-mutlak.html

 

, , ,

DOA DI AKHIR TASYAHHUD

DOA DI AKHIR TASYAHHUD
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#SifatSholatNabi
#FatwaSholat
 
DOA DI AKHIR TASYAHHUD
Pertanyaan:
Apakah doa setelah sholawat Nabi ﷺ pada Tasyahhud Awal, wajib atau sunnah?
 
Jawaban:
TIDAK disyariatkan doa pada Tasyahhud Awal.
Doa ini hanya disyariatkan pada Tasyahhud kedua / akhir, setelah sholawat Nabi ﷺ, seperti yang dijelaskan dalam banyak hadis.
 
_________________________
 
السؤال الأول من الفتوى رقم (٤٩٢٧)
س١: هل الدعاء خلف الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في التشهد الأول واجب أم سنة؟
ج١: لا يشرع له الدعاء في التشهد الأول، وإنما يشرع في التشهد الثاني بعد الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم كما جاء في الأحاديث.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
_________________________
 
Sumber: Fatwa Lajnah Daimah No.4927.
 
Ditulis oleh: Ustadz Abu Khuzaimah Al Fadanji Hafizhahullah
,

ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

#MutiaraSunnah

ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata:

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ “يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا” ثُمَّ قَالَ : “إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا”

“Sulaik Al-Ghothofani datang ke masjid pada Jumat ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah. Ia pun langsung duduk. Maka beliau ﷺ bersabda kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah, lalu sholatlah dua rakaat dan ringankanlah sholatmu. Kemudian beliau ﷺ bersabda: Jika seorang dari kalian datang ke masjid pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia melakukan sholat (Tahiyyatul Masjid) dua rakaat, dan hendaklah ia meringankan sholatnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz milik Muslim]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Dianjurkan untuk menghadiri sholat Jumat dengan bersegera sebelum khatib naik mimbar dan hendaklah melakukan sholat Tahiyyatul Masjid ketika pertama tiba di masjid.

2) Apabila seseorang datang terlambat setelah khatib naik mimbar, tetap disunnahkan baginya untuk sholat Tahiyyatul Masjid, walau khatib sedang khutbah dan dimakruhkan baginya untuk duduk sebelum sholat dua rakaat.

3) Dalam keadaan ini, disunnahkan sholat yang ringan, tidak memerpanjang bacaan, agar dapat segera mendengarkan khutbah.

4) Bolehnya khatib berbicara kepada jamaah apabila ada suatu keperluan, dan jamaah yang diajak berbicara boleh menjawab, karena dalam riwayat yang lain, Sulaik ditanya terlebih dahulu oleh Rasulullah ﷺ:

أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ

“Apakah engkau sudah sholat wahai Fulan? Beliau menjawab: Belum. Nabi ﷺ bersabda: Bangkitlah lalu sholat.”

5) Anjuran untuk selalu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, serta membimbing kepada kemaslahatan dalam setiap keadaan, tempat dan waktu.

6) Sholat Tahiyyatul Masjid dikerjakan dua rakaat.

7) Sholat sunnah di siang hari juga dua rakaat, dua rakaat.

8) Sholat Tahiyyatul Masjid masih bisa dikerjakan, walau seseorang sudah sempat duduk, apabila ia belum mengetahui sebelumnya.

9) Sholat Tahiyyatul Masjid TIDAK BOLEH ditinggalkan, meski di waktu-waktu terlarang untuk sholat, karena pendapat yang kuat insya Allah adalah, SHOLAT-SHOLAT SUNNAH YANG MEMILIKI SEBAB boleh dikerjakan, meski di waktu-waktu terlarang.

10) Sholat sunnah Tahiyyatul Masjid termasuk Sunnah Mu’akkadah. Namun apabila sudah dikumandangkan iqomah, maka hendaklah segera memutuskan sholat sunnah apa pun, dan ikut sholat berjamaah.

[Disarikan dari Syarhu Muslim lin Nawawirahimahullah, 6/164-165]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

🕌 ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAHبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Sahabat yang…

Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam – www.taawundakwah.com 发布于 2016年12月22日

 

,

LALAI DALAM MELAKSANAKAN IBADAH-IBADAH SUNNAH YANG SANGAT DIANJURKAN OLEH ISLAM

LALAI DALAM MELAKSANAKAN IBADAH-IBADAH SUNNAH YANG SANGAT DIANJURKAN OLEH ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Tanda_Kiamat

LALAI DALAM MELAKSANAKAN IBADAH-IBADAH SUNNAH YANG SANGAT DIANJURKAN OLEH ISLAM

Di Antara Tanda-Tanda Kecil Kiamat

Di antaranya adalah lalai dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ، لاَ يُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ.

‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat, adalah seseorang melintas di dalam masjid, dia tidak melakukan shalat dua rakaat di dalamnya.’” [Shahiih Ibni Khuzaimah, bab Karaahiyatul Muruur fil Masaajid min Ghairi an Tushalla fiihaa, wal Bayaan annahu min Asyraatis Saa’ah (II/283-284) tahqiq Dr. Muhammad Mushthafa al-A’zhami, cet. al-Maktab al-Islaami, cet. I, th. 1391 H].

Dan dalam satu riwayat:

أَنْ يَجْتَازَ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ، فَلاَ يُصَلِّي فِيْهِ.

“Seseorang melintas di dalam masjid, lalu dia tidak melakukan shalat di dalamnya.” [HR. Al-Bazzar, dan al-Haitsami menShahihkan riwayat ini dalam Majma’uz Zawaa-id (VII/329)].

Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا.

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah masjid-masjid dijadikan sebagai jalan-jalan.” [Minhatul Ma’buud fi Tartiibi Musnad ath-Thayalisi (II/112), bab Ma Jaa-a fil Fitanillati Takuunu Baini Yadayis Saa’ah (II/212), tartib as-Sa’ati, dan Mustadrak al-Hakim (IV/ 446), beliau berkata: “Hadis ini Shahih sanadnya.” Adz-Dzahabi berkata: “Mauquf.”].

Dan diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau memarfu’kannya kepada Nabi ﷺ, beliau berkata:

إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا.

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah masjid-masjid dijadikan sebagai jalan-jalan.” [Ibid]

Perkara ini tidak boleh dilakukan, karena mengagungkan masjid termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah [(شَعَائِرُ الله) adalah bentuk jamak dari kata (شَعِيْرَةٌ) maknanya adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai tanda dari tanda-tanda ketaatan kepada Allah. Lihat Tafsiir Ghariibil Qur-aan (hal. 32), karya Ibnu Qutaibah, dengan tahqiq as-Sayyid Ahmad Shaqr, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut th. 1398 H].

(شَعَائِرُ الله) adalah bentuk jamak dari kata (شَعِيْرَةٌ) maknanya adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai tanda dari tanda-tanda ketaatan kepada Allah. Lihat Tafsiir Ghariibil Qur-aan (hal. 32), karya Ibnu Qutaibah, dengan tahqiq as-Sayyid Ahmad Shaqr, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut th. 1398 H].

(شَعَائِرُ الله) dan termasuk tanda keimanan juga ketakwaan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“… Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ.

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk hingga melakukan shalat dua rakaat.” [Shahiih Muslim, kitab Shalaatul Musaafiriin wa Qashruha, bab Istihbaabu Tahiyyatil Masjiid bi Rak’ataini, wa Karaahiyatil Juluus Qabla Shalaatihima, wa Annaha Masyruu’atun fi Jamii’il Auqaat (V/225-226, Syarh an-Nawawi)].

Di antara bencana paling besar adalah dijadikannya masjid sebagai tempat wisata bagi kaum kuffar, padahal sebelumnya ia adalah tempat untuk berzikir dan beribadah. Dan hal ini terjadi pada masa sekarang ini, sebagaimana terjadi di sebagian negeri Islam, juga negeri yang berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhim.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

 

Penulis: Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Sumber: https://almanhaj.or.id/980-38-41-banyaknya-karya-tulis-lalai-melaksanakan-ibadah-sunnah-banyaknya-kedustaan.html

 

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

EMPAT PERBEDAAN MASJID DAN MUSHOLLA

Apakah Disunahkan Sholat Tahiyyatul Masjid di Musholla?

 

Pertanyaan:
Jika ada bangunan “langgar” namun belum diwakafkan, terkadang di tempat tersebut digunakan untuk sholat jamaah Maghrib dan Isya, apakah sudah dihukumi sebagai masjid dan padanya hukum-hukum terkait masjid?

Jawaban:
Al-Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah berkata:

“Alhamdulillah, shalawat dan salam tercurah pada Sayyidina Rasulillah.

Setiap tempat di permukaan bumi yang seorang sah sholat di atasnya teranggap sebagai masjid. Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat yang suci” [HR. Al-Bukhari]

Namun masjid yang berlaku di dalamnya hukum-hukum fikih, adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, yaitu tempat yang diwakafkan dan disediakan khusus untuk sholat. Adapun definisi mushalla adalah tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa tanpa disyaratkan wakaf. Setiap tempat yang digunakan untuk sholat dan berdoa, baik statusnya wakaf atau bukan, disebut mushalla. Oleh karena itu, mushalla mencakup masjid dan selainnya. Setiap masjid adalah mushalla dan tidak setiap mushalla adalah masjid.

Terdapat perbedaan hukum fikih di antara keduanya:

[Pertama] Masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk sholat, tidak sah melakukan transaksi jual-beli dan semisalnya di masjid. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه

“Yang nampak bahwa kepemilikan tanah yang diwakafkan berpindah pada Allah ta’ala, maksudnya terlepas dari kepemilikan manusia, bukan lagi menjadi hak milik orang yang mewakafkan, maupun pihak yang menerima wakaf” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/70]

Sedangkan mushalla masih mungkin dimiliki oleh pihak tertentu sehingga diperbolehkan melakukan transaksi jual-beli dan sewa-menyewa di dalamnya, serta boleh pula memindahkan mushalla ke tempat yang lain.

[Kedua] Diharamkan bagi wanita junub dan haid menetap di masjid, dan sebaliknya diperbolehkan bagi mereka menetap di mushalla. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره

“Menetap di masjid diharamkan bagi orang yang junub, namun diperbolehkan bagi orang yang berhadats atau seorang yang hanya sekedar lewat” [Minhaaj Ath-Thalibin, 1/21]

[Ketiga] Tidak sah melakukan I’tikaf dan sholat Tahiyyatul Masjid kecuali di masjid. Al-Khathiib Asy-Syirbiini rahimahullah berkata:

ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف

“Seluruh ibadah tidak disyaratkan dilakukan di masjid, kecuali sholat Tahiyyatul masjid, I’tikaf dan Thawaf” [Mughniy Al-Muhtaaj, 5/329]

[Keempat] Diharamkan membangun lantai atau bangunan khusus di atas masjid. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibni ‘Abidiin:

لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع

“Seandainya pembangunan masjid telah sempurna, kemudian ia ingin menambah bangunan lain –seperti membangun rumah imam di atas masjid- maka hal itu terlarang” [Hasyiyah Ibni ‘Abidin, 3/371]

Sedangkan diperbolehkan melakukan hal itu di mushalla, karena mushalla bukan tempat wakaf, namun dengan tetap menjaga kebersihan dan kesucian tempat dari najis.

Melakukan sholat Jumat di mushalla hukumnya sah, namun yang lebih utama dilakukan di masjid. Pensyarah kitab Al-Minhaj berkata:

لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط

“Karena melakukan sholat Jumat di masjid bukanlah syarat” [Syarh Al-Minhaaj, 2/238]. Wallahu ta’ala a’lam”

Berikut teks fatwanya:

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
كل بقعة من الأرض تصح الصلاة فيها تعد مسجداً؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا) رواه البخاري. لكن المسجد الذي تترتب عليه أحكام فقهية هو المكان الموقوف للصلاة، أي الذي وُقف وحُبس ليكون مخصصاً للصلاة.
وأما المصلى فهو موضع الصلاة والدعاء، ولا يشترط فيه أن يكون موقوفاً، بل يصح أن يكون موقوفاً وغيره، فالمصلى إذن يشمل المسجد وغير المسجد، فكل مسجد مصلى وليس كل مصلى مسجداً.

ويفارق المسجد المصلى في بعض الأحكام منها:

أولاً: المسجد – كما ذكرنا -: المكان الموقوف للصلاة؛ فلا يصح التصرف فيه ببيع ونحوه. قال الإمام النووي: ” الأظهر أن الملك في رقبة الموقوف ينتقل إلى الله تعالى، أي ينفك عن اختصاص لآدمي فلا يكون للواقف ولا للموقوف عليه ” “منهاج الطالبين (1/70)، أما المصلى فيصح كونه مملوكاً لشخص معين، ويصح بيعه أو تحويله إلى مكان آخر، ويصح كونه مستأجراً.

ثانياً: يحرم على الحائض والجنب اللبث في المسجد، بينما يصح لهما المكث في المصلى. قال الإمام النووي: “ويحرم بها – أي بالجنابة – ما حرم بالحدث، والمكث بالمسجد لا عبوره” “منهاج الطالبين” 1/ 12.

ثالثاً: الاعتكاف أو تحية المسجد لا يصحان إلا في المسجد. قال الخطيب الشربيني: “ولا يفتقر شيء من العبادات إلى مسجد إلا التحية والاعتكاف والطواف” “مغني المحتاج” (5/ 329.

رابعاً: يحرم اعتلاء المسجد ببناء أو طوابق. جاء في “حاشية ابن عابدين”: “لو تمت المسجدية ثم أراد البناء – أي بناء بيت للإمام فوق المسجد – مُنع” (3/ 371)، أما المصلى فيصح ذلك لأنه ليس بموقوف، مع مراعاة المحافظة على نظافة المصلى وتنزيهه عن النجاسة.

وتصح صلاة الجمعة في المصلى، والأفضل كونها في المسجد. قال الشيخ الجمل عن صلاة الجمعة: “لأن إقامتها في المسجد ليست بشرط” “حاشية الجمل على شرح المنهج” (2/ 238). والله تعالى أعلم.

Sumber: Fatawaa Lajnah Al-Iftaa’ Al-Urduniyyah no. 2064, tertanggal 12/06/2012

Asy-Syaikh Abdul Aziiz bin Baz rahimahullah berkata:

السنة لمن أتى مصلى العيد لصلاة العيد، أو الاستسقاء أن يجلس ولا يصلي تحية المسجد؛ لأن ذلك لم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم فيما نعلم إلا إذا كانت الصلاة في المسجد فإنه يصلي تحية المسجد؛ لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين)) متفق على صحته.
والمشروع لمن جلس ينتظر صلاة العيد أن يكثر من التهليل والتكبير؛ لأن ذلك هو شعار ذلك اليوم، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فلا بأس، والله ولي التوفيق.

“Bagi seorang yang mendatangi mushalla untuk sholat ‘Ied atau mushalla untuk sholat Istisqaa, tidak disunahkan mengerjakan sholat Tahiyyatul Masjid. Hendaklah ia duduk, karena perbuatan tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, sebatas apa yang kami ketahui. Kecuali jika sholat Ied tersebut dilakukan di masjid, maka hukumnya tetap disunahkan berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ:

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang kalian memasuki masjid, janganlah ia duduk hingga melakukan sholat dua rakaat” -disepakati keshahihannya-

Disunahkan baginya untuk memerbanyak tahlil dan takbir saat menunggu ditegakannya sholat Ied, baik jamaah yang berada di dalam maupun di luar masjid, hingga selesai khutbah, karena itulah yang merupakan syi’ar di hari Ied. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membaca Alquran, ini pun diperbolehkan. Wallahu waliyyut taufiiq”

Sumber: Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 13

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya:

هل هناك ركعتان تحية المسجد في مصلى العيد؟

“Apakah disyariatkan melakukan sholat Tahiyyatul Masjid di mushalla Ied?

Beliau rahimahullah menjawab:

طبعا هذا ليس مسجدا فليس له تحية مسجد

“Ini bukan masjid, sehingga tidak ada sholat Tahiyyatul Masjid di dalamnya”.

 

Diterjemahkan oleh Abul-Harits

http://abul-harits.blogspot.co.id/2014/01/4-perbedaan-masjid-dan-musholla-apakah.html

 

Yang berikut adalah “Tanya Jawab dengan Al Ustadz Abul Harits”

Pertanyaan:

Menurut saya, kalau kalau musholla itu berdiri di tanah wakaf dan dipergunakan setiap hari untuk sholat berjamaah, maka berhak untuk sholat Tahiyyatul Masjid di situ. wallahu a’llam

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda benar. Musholla yang berdiri di atas tanah wakaf dan digunakan untuk shalat berjamaah, disunahkan shalat Tahiyyatul Masjid di dalamnya. Karena musholla tersebut telah berstatus masjid. Jadi perbedaan masjid dan musholla bukan bergantung pada besar kecilnya bangunan.

Seringkali, istilah musholla yang dimaksud oleh masyarakat kita adalah masjid yang berukuran kecil, ini KELIRU. Hal mendasar yang membedakan keduanya adalah TANAH WAKAF. Bangunan tanah wakaf yang didirikan untuk tempat shalat adalah masjid, meskipun berukuran kecil. Bangunan yang didirikan untuk tempat shalat tanpa ada tanah wakaf adalah musholla, meskipun berukuran besar. Contoh bangunan musholla yang sering kita jumpai: musholla di kantor, musholla di mall pusat perbelanjaan, musholla di sekolah, dan lainnya.

Pertanyaan:

Kalau dasar yang membedakan itu tanah wakaf [sebagaimana di kampung kami], tapi niat awal diperuntukan untuk musholla, apakah bisa dialihkan fungsi ke masjid? Atau secara tersirat seperti masjid? Mohon pencerahan. Terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Musholla bisa dialihfungsikan sebagai masjid jika tanahnya diwakafkan. Jika dari awal memang tanahnya merupakan tanah wakaf, maka statusnya sudah masjid, meskipun dinamakan musholla oleh masyarakat. Wabillahittaufiq

Komentar:

Benar, status awal sudah tanah wakaf dan karena statusnya sudah MASJID [walau tanpa merubah kata MUSHOLLA ], artinya sudah bisa dipakai niat sholat Tahyatul Masjid atau kalau memungkinkan sholat Jumat.Terima kasih atas penjelasannya.

Pertanyaan:

Kalau tidak pernah dipakai Jumatan, sholat Lima Waktu jarang, azan tidak setiap waktu, apakah tetap disebut masjid, walaupun tanah wakaf.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Seandainya ada masjid agung yang terletak di komplek alun-alun kota, kemudian jarang didirikan shalat Jamaah 5 waktu dan shalat Jumat, statusnya tetap sebagai masjid, meskipun tidak dimakmurkan (sepi). Jadi alasan tersebut bukan merupakan kriteria masjid.

Masjid yang dipakai shalat Jumat sering diistilahkan dengan masjid Jami’. Namun bukan berarti masjid selain masjid jami’ tidak berstatus sebagai masjid. Mudah-mudahan bisa dipahami, Allahua’lam

Pertanyaan:

Saya tinggal di sebuah Komplek Pertokoan. Di Komplek tersebut ada Mushalla sekira 8 x 8 meter….. tak jauh dari komplek (sekitar 200m) ada sebuah masjid…. ketika shalat Lima waktu tiba….. tempat mana yang harus saya pilih… apakah saya mendirikan shalat berjamaah di Mushalla komplek atau ikut berjamaah di Masjid (dan mengabaikan Mushalla komplek). Mohon pencerahan, terima kasih

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Anda boleh memilih shalat Jamaah di musholla atau di masjid. Namun yang lebih utama (afdhal), Anda shalat di masjid, karena masjid memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh musholla.

Jika ada pertimbangan lain, misalkan absennya Anda dari musholla komplek menimbulkan fitnah atau salah paham, maka lebih baik Anda shalat di musholla. Jika tidak ada kekhawatiran tersebut, Anda tetap shalat di masjid, Allahua’lam

Pertanyaan:

Di dalam cluster ada tanah fasum. Karena belum ada masjid, di perumahan dibangun mushola cukup 50-60 orang. Apakah bisa dibilang masjid tanah fasum?

Beberapa tahun kemudian developer membuat masjid di luar cluster buat Jumatan.

Apakah harus pindah? Apakah masih boleh jamaah di mushola? Adakah hadis yg menyebutkan sholat fardhu di masjid jami lebih utama daripada di masjid dalam cluster?

Mohon jawabannya yang segera, untuk pemahaman ke warga.

Jawaban al Ustadz Abul-Harits:

Kalau tanah fasum itu memang khusus disediakan untuk masjid, bukan hanya untuk sementara saja, maka musholla tersebut berstatus masjid. Namun kalo ke depannya akan dibangun masjid yang tetap, kemudian tanah fasum itu dialihkan untuk fungsi yang lain setelah dibangun masjid, maka bangunan untuk shalat itu hanya berstatus musholla.

Baik masjid maupun musholla, keduanya boleh dipakai untuk shalat jamaah lima waktu. Banyak faktor yang menjadikan shalat di salah satu masjid lebih utama dari masjid yang lain, di antaranya bacaan quran imam, jumlah jamaah shalat, jauh dekatnya, dihidupkannya sunah-sunah nabi di masjid tersebut dan faktor lainnya. Shalat berjamaah di masjid jami’ tidak lebih utama dibandingkan shalat di masjid lain. Namun shalat di masjid (baik masjid jami’ atau bukan) lebih utama dari shalat di muholla. Keutamaan suatu masjid berbeda-beda dilihat dari beberapa faktor yang saya sebutkan tadi.

 

Allahua’lam