Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?

MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf
MANA LEBIH TINGGI KEDUDUKANNYA, ALQURAN ATAU AS SUNNAH (HADIS)?
 
Allah telah menjelaskan, apa yang Dia turunkan bukan hanya al-Kitab (Alquran). Bahkan yang Allah turunkan ialah berupa al-Kitab (Alquran) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah ﷻ berfirman:
 
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
 
“Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah, serta ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. [QS. Al-Baqarah/2:231]
 
Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:
 
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
 
“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [QS an-Nisa`/4:113].
 
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan al-Kitab, yaitu Alquran, dan menyebutkan al-Hikmah. Aku telah mendengar orang yang aku ridai, yaitu seseorang yang ahli ilmu Alquran berkata: ’Al-Hikmah ialah Sunnah Rasulullah ﷺ.” [Adwin as-Sunnah an-Nabawiyyah, karya Dr. Muhammad bin Mathar Az-Zahrani, Penerbit Darul- Khudhairi, Cetakan Kedua, Tahun 1419 H / 1998 M]
 
Bukti nyata bahwa maksud dari al-Hikmah yang diturunkan Allah kepada Nabi ﷺ ialah as-Sunnah, yaitu yang dibacakan di rumah-rumah istri Nabi ﷺ hanyalah Alquran dan as-Sunnah. Sementara Allah ta’ala berfirman:
 
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
 
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. [QS Al-Ahzab/33:34].
 
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi), apa yang diturunkan Allah tabaraka wa ta’ala kepada Rasul-Nya ﷺ di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”. [Tafsir Alquran `anil ‘Azhim, Surat al-Ahzaab/33 ayat 34]
 
Oleh karena itu Nabi ﷺ memberitakan, bahwa beliau ﷺ diberi al-Kitab dan yang semisalnya, yaitu as-Sunnah. Keduanya memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA, sama-sama wajib diikuti.
 
Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata:
“As-Sunnah dengan al-Kitab berada pada SATU DERAJAT. Dari kedua sumber ini diambillah sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) dalam menentuankan hukum-hukum syariat. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: ‘Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan, bahwa al-Kitab (Alquran) MEMILIKI KEISTIMEWAAN DAN KELEBIHAN di atas As-Sunnah, dengan lafalnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mukjizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah, dilihat pada sisi ini, KEUTAMAANNYA berada di bawah Alquran.
 
Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata:
“As-Sunnah dengan Al-Kitab berada pada SATU DERAJAT, dari sisi keduanya digunakan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) terhadap hukum-hukum syariat. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa Al-Kitab (Alquran) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah, dengan lafalnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mukjizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah DI BAWAH Alquran, di dalam KEUTAMAAN pada sisi-sisi ini.
 
Akan tetapi hal itu TIDAK menyebabkan keduanya berbeda keutamaannya dalam masalah penggunaan sebagai HUJJAH. Yaitu menganggap kedudukan as-Sunnah di bawah Alquran dalam penggunaan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen), sehingga seandainya terjadi pertentangan, maka As-Sunnah disia-siakan, dan hanya Alquran yang diamalkan.
 
Sesungguhnya kedudukan Sunnah itu SEDERAJAT dengan al-Kitab (Alquran) dalam pengambilannya sebagai HUJJAH. Dijadikannya al-Kitab sebagai hujjah, karena ia merupakan wahyu dari Allah…, dan dalam masalah ini, as-Sunnah sama dengan Alquran, karena as-Sunnah juga merupakan wahyu seperti halnya Alquran. Sehingga wajib menyatakan, dalam hal i’tibar, as-Sunnah TIDAK berada di belakang Alquran” [Sebuah pembahasan dalam kitab Hujjiyyatus-Sunnah, hlm. 485-494. Dinukil dari Dharuuraat Ihtimaam bis-Sunnah Nabawwiyah, hlm. 24]
 
Oleh karena itu, Alquran dan as-Sunnah merupakan DUA PERKARA YANG SALING MENYATU, TIDAK TERPISAH, DUA YANG SALING MENCOCOKI, TIDAK BERTENTANGAN. Nabi ﷺ bersabda:
 
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
 
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” [Hadis Shahiih Li Ghairihi. HR Maalik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam at-Ta’zhim wal-Minnah Fil-Intisharis-Sunnah, hlm. 12-13].
 
Kesimpulan:
Dari uraian di atas maka jelaslah, bahwa as-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana Alquran. Oleh karena itu, keduanya memiliki KEDUDUKAN YANG SAMA sebagai hujjah (argumen), sumber akidah, dan hukum dalam agama, dan wajib diikuti. Baik Alquran maupun As-Sunnah mempunyai KESETARAAN TINGKAT. Kedudukan keduanya ini SATU DERAJAT, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah ta’ala. Yang demikian ini merupakan prinsip Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah.
 
Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?
 
Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita ketahui bersama, bahwa ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
 
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” [HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat. Tujuannya adalah agar memerbanyak doa ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan:
 
كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
 
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” [HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak doa dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Memerpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu HAMPIR SAMA LAMANYA. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadis Baro’ bin ‘Azib, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).” Inilah yang afdhal.
 
Akan tetapi ada TEMPAT DOA SELAIN SUJud yaitu SETELAH TASYAHUD (SEBELUM SALAM). Nabi ﷺ ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda: “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
 
Maka berdoalah ketika itu, sedikit atau pun lama, setelah tasyahud akhir sebelum salam. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B]
 
Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadis, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”
 
Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum, bahwa ketika itu adalah rakaat terakhir, atau ketika itu adalah amalan terakhir dalam shalat.
 
Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jamaah tahu, bahwa setelah itu adalah duduk terakhir, yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”
[Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau]
 
Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa TIDAK ADA ANJURAN untuk memerlama sujud terakhir ketika shalat, agar bisa memerbanyak doa ketika itu.
 
Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya.”
 
Silakan membaca doa ketika sujud terakhir, namun hendaknya LAMANYA HAMPIR SAMA dengan sujud sebelumnya, atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
 
“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” [HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )
 
~ Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
(Artikel www.rumaysho.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SIAPA ABU LAHAB DAN ABU JAHAL?

>> Apakah mereka orang yang sama atau berbeda?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dua nama ini adalah dua orang yang berbeda.

Abu Lahab nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Urutan nasabnya: Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Lebih dikenal dengan nama Kun-yah: Abu Lahab dibandingkan nama aslinya. Lahab artinya menyala-nyala. Ada yang mengatakan: bahwa yang menggelari Abu Lahab adalah ayahnya, Abdul Muthalib, karena Abu Lahab wajahnya sangat cerah.

Abu Lahab termasuk salah satu paman Nabi ﷺ, sekaligus penentang dakwah beliau ﷺ.

Sabab Nuzul Surat Al-Lahab

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun ayat:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu.”

Rasulullah ﷺ naik Bukit Shafa, beliau memanggil-manggil:

يا بني فهر!. يا بني عدي! لبطون قريش

“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi! Beliau ﷺ panggil beberapa suku Quraisy…”

Hingga mereka semua berkumpul. Jika ada yang tidak bisa datang, mereka mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan beberapa suku Quraisy. Lalu Nabi ﷺ memulai nasihatnya:

أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلا بالوادي تريد أن تغير عليكم، أكنتم مصدقي؟

Bagaimana menurut kalian, jika saya kabarkan kepada kalian, bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian. Apakah kalian akan memercayaiku?

Mereka serentak mengatakan: “Ya, kami memercayainya. Kami tidak pernah menilai kamu, kecuali orang yang benar.”

Lalu Nabi ﷺ mengatakan:

فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan (utusan) sebelum adanya azab (Kiamat).”

Mendengar ceramah ini, Abu Lahab marah besar dan langsung mengatakan:

تبا لك سائر اليوم. ألهذا جمعتنا؟

“Celaka kamu sepanjang hidupmu… Apakah hanya untuk tujuan ini kau kumpulkan kami?”

Kemudian Allah turunkan surat al-Lahab yang berisi ancaman keras untuk Abu Lahab.

Para ulama memahami, bahwa turunnya surat al-Lahab merupakan salah satu mukjizat. Karena surat ini berisi ancaman untuk Abu Lahab dan istrinya dalam bentuk azab di Neraka, kekal selamanya. Dan Abu Lahab beserta istrinya keduanya mati kafir, selalu menentang Islam. Padahal surat ini turun sepuluh tahun sebelum meninggalnya Abu lahab.

Pada saat Perang Badar, Abu Lahab tidak ikut perang. Tapi dia meminta al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikannya dengan membayar 4000 Dirham.

Abu Lahab meninggal tujuh hari pasca Perang Badar karena sakit parah, seperti Tha’un, yang mereka sebut dengan al-Adasah. Setelah mati, jasadnya tidak diurusi selama tiga hari, hingga berbau. Ketika mereka merasa khawatir bisa membahayakan, mereka menggali tanah, lalu mayat Abu Lahab dimasukkan lubang dengan kayu. Setelah masuk, mereka mengubur dengan melempari kerikil dan tanah dari kejauhan ke dalam kuburan sampai semua terkubur, karena mereka tidak kuat dengan baunya.

Abu Jahal

Abu Jahal nama aslinya Amr bin Hisyam bin Mughirah dari Suku Makhzum.

Dia termasuk pemuka suku Quraisy dari Kabilah Kinanah. Sebelumnya dia digelari masyarakatnya dengan Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan) karena dianggap cerdas. Dia diizinkan untuk mengikuti Darun Nadwah – forum orang Quraisy yang hanya dihadiri oleh para pembesar Quraisy. Namun oleh Nabi ﷺ digelari dengan Abu Jahal (Bapak Kebodohan), karena dia membunuh Sumaiyah bintu Khayyath dengan tombak yang dimasukkan ke kemaluannya sampai mati.

Dialah yang mengusulkan untuk membantai Nabi ﷺ bareng-bareng dari banyak suku. Ketika mereka berkumpul di Dar an-Nadwah membahas bagaimana cara paling tepat untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ, ada banyak usulan, tapi semuanya mentok, karena mereka khawatir Bani Abdi Manaf akan menggugat dan menunntut qishas.

Kemudian Abu Jahal usul:

Setiap kabilah harus mengutus satu pemuda yang paling kuat, paling gagah, paling bagus. Masing-masing kita beri pedang terhunus, kemudian bersama-sama menyerang Muhammad dengan satu komando, dan dibunuh bareng-bareng. Jika Bani Abdi Manaf menuntut, mereka tidak akan mampu melawan banyak suku. Sehingga Bani Abdu Manaf hanya akan meminta ganti Diyat 100 ekor unta.

Dan rencana inilah yang dijalankan… Permusuhannnya yang luar biasa kepada Nabi ﷺ dan kaum Muslimin, hingga dia digelari dengan Fir’aun umat ini.

Abu Jahal mati ketika Perang Badar. Pada saat barisan kaum Muslimin berhadapan dengan barisan musyrikin, tiba-tiba ada dua pemuda berusia 16an tahun berposisi tepat di samping kanan dan kiri Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah Muawidz dan Muadz bin Afra. Masing-masing bertanya kepada Abdurrahman bin Auf: ‘Wahai paman, mana Abu Jahal yang paling keras memusuhi Nabi ﷺ?’. Setelah ditunjukkan, kedua pemuda ini berlomba menyerang hingga Abu Jahal tersungkur…

Setelah perang usai, Ibnu Mas’ud menyisir lapangan perang, hingga bertemu Abu Jahal yang sudah tidak berdaya.

“Siapa hari ini yang menang?” tanya Abu Jahal.

“Allah dan Rasul-Nya yang menang, wahai musuh Allah.” jawab Ibnu Mas’ud.

“Sungguh kamu telah berhasil naik ke puncak yang sulit, wahai penggembala kambing.” Kata Abu Jahal.

Kemudian Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal yang sudah terpotong telinganya. Dan dibawanya menghadap Nabi ﷺ. Beliau berkomentar:

“Telinga balas telinga dan ditambah kepala.” Karena Abu Jahal pernah memotong telinga Ibnu Mas’ud.

Allahu a’lam

 

Referensi:

  • Ar-Rahiq al-Makhtum
  • Sirah Ibnu Hisyam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29308-siapa-abu-lahab-dan-abu-jahal.html

,

YANG TERCELA

YANG TERCELA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

YANG TERCELA
Jatuh dalam kesalahan bukanlah sebuah cela. Tiap insan pasti terjatuh ke dalamnya.
Yang tercela adalah mengulang terus kesalahan.

[Dr. Muhammad Ibrahim Al Hamd, Dosen Aqidah dan Mazhab Kontemporer di Universitas Al Qashim, Saudi Arabia]

Twitter @IslamDiaries

,

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

Seorang Mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” [HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998]

Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “Yuldagu” ada dua cara:

Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang Mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat, bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (Akhirat).

Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. [Syarh Shahih Muslim, 12: 104]

Ibnu Hajar berkata: “Seorang Muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” [Fath Al-Bari, 10: 530]

Kesimpulannya, Muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12197-digigit-ular-di-lubang-yang-sama-dua-kali.html

,

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

Pertanyaan:

Bagaimana tuntunan Nabi ﷺ tentang tata cara penguburan plasenta bayi yang baru lahir (ari-ari: bahasa Jawa)? Karena di daerah saya, plasenta dikubur, kemudian di atasnya dinyalakan lampu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau mengatakan:

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia: Rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.” [Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi), bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya, sebagaimana kebiasaan Ahli Hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi beliau hanya mengatakan: “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silakan dirujuk. [Faidhul Qadir, 5:198]

Karena itu para ulama menilai, hadis ini sebagai hadis DHAIF, sehingga TIDAK bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” [Syu’abul Iman, no. 6488].

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini DHAIF. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan SEMUANYA DHAIF.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan: “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat tidak mengapa.” [Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19]

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan, agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Di samping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan: “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan, sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali BUKANLAH menganjurkan kita untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali TIDAK menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat DILARANG syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, dikubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab, agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan SYIRIK KECIL.

Selanjutnya, berikut ini adalah hal penting yang perlu kita perhatikan, terkait masalah semacam ini:

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan: “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:

Sebab syari, yaitu ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran), bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (Sunnatullah), adalah ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiaah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syari maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk SYIRIK KECIL.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin, TIDAK ADA hubungan sama sekali, antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari, dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin, tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi, bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang TIDAK berdasar dan TIDAK selayaknya dilakukan oleh seorang Mukmin yang berakal.

Allahu a’lam’

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/11727-ritual-mengubur-ari-ari-bayi.html

, ,

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#ManhajAkidah
#StopBidah

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

>> Perbedaan dan Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

Penulis: Muhammad bin Husain Al-Jizani

A. Persamaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[A1]. Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syariat, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

[A2]. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena, menurut kesepakatan ulama, maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya Kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150]. Begitu juga bid’ah terbagi menjadi:

  • -Bid’ah yang membuat pelakunya kafir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Kaba’ir;
  • -Bid’ah yang sifatnya Shaga’ir

Pembagian dan penglasifikasian ini bisa benar, jika sebagian bid’ah dinisbatkan pada sebagian yang lain. Maka jika seperti ini, dimungkinkan keadaannya beritngkat-tingkat, karena kecil dan besar berada dalam penyandaran dan penisbatan. Terkadang sesuatu dianggap besar dengan sendirinya, tapi bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar darinya. Oleh sebab itu, sesungguhnya Shigharul Bida (Bid’ah-bid’ah kecil) pada hakikatnya dianggap sebagai bagian dari al-Kaba’ir dan bukan ash-Shaga’ir (dosa-dosa kecil), ini jika dibandingkan dengan dosa-dosa lain selain syirik. Lihat Al-I’tisham 2/57-62. Lebh jelasnya akan ada dalam point berikutnya.

[A3]. Keduanya memberikan indikasi akan lenyapnya syariat dan hilangnya sunnah. Semakin banyak maksiat dan bid’ah, maka semakin lemahlah sunnah. Semakin kuat dan tersebarnya sunnah, maka semakin lemahlah maksiat dan bid’ah. Maksiat dan bid’ah, ditinjau dari ini, sama-sama menghempaskan Al-Hudaa (Ajaran yang benar) dan memadamkan cahaya kebenaran. Keduanya berjalan beriringan. Hal itu akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

[A4]. Keduanya bertentangan dan bersebarangan dengan Maqaashidusysyarii’ah (Tujuan-tujuan syariat) yang berakibat fatal yaitu, menghancurkan syariat.

B. Perbedaan antara Bid’ah dengan Maksiat

[B1]. Dasar larangan maksiat biasanya dalil-dalil yang khusus, baik teks wahyu (Alquran , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan bid’ah, bahwa dasar larangannya, biasanya dalil-dalil yang umum dan Maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ﷺ: ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (Setiap bida’ah itu sesat).

[B2]. Bid’ah itu menyamai hal-hal yang disyariatkan, karena bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kepada agama. Berbeda dengan maksiat, ia bertentangan dengan hal yang disyariatkan, karena maksiat itu berada di luar agama, serta tidak dinisbatkan padanya. Kecuali jika maksiat ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yang sama.

[B3]. Bid’ah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui batasan-batasan hukum Allah dalam membuat syariat. Karena sangatlah jelas, bahwa hal ini MENYALAHI DALAM MEYAKINI KESEMPURNAAN SYARIAT. Menuduh bahwa syariat ini masih kurang, dan membutuhkan tambahan, serta belum sempurna. Sedangkan maksiat, padanya tidak ada keyakinan bahwa syariat itu belum sempurna. Bahkan pelaku maksiat meyakini dan mengakui, bahwa ia melanggar dan menyalahi syariat.

[B4]. Maksiat merupakan pelanggaran yang sangat besar ditinjau dai sisi melanggar batas-batas hukum Allah, karena pada dasarnya dalam jiwa pelaku maksiat tidak ada penghormatan terhadap Allah, terbukti dengan tidak tunduknya dia pada syariat agamanya. Sebagaimana dikatakan: “Janganlah engkau melihat kecilnya kesalahan, tapi lihatlah siapa yang engkau bangkang” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62].

Berbeda dengan bid’ah, sesungguhnya pelaku bid’ah memandang bahwa dia memuliakan Allah, mengagungkan syariat dan agamanya. Ia meyakini bahwa ia dekat dengan Tuhannya dan melaksanakan perintah-Nya. Oleh sebab itu, ulama Salaf masih menerima riwayat Ahli Bid’ah, dengan syarat ia TIDAK mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah tersebut, dan tidak menghalalkan berbohong. Sedangkan pelaku maksiat adalah fasiq, gugur keadilannya, ditolak riwayatnya dengan kesepakatan ulama.

[B5]. Maka sesungguhnya, pelaku maksiat terkadang ingin taubat dan kembali. Berbeda dengan ahli bid’ah, sesungguhnya dia meyakini bahwa amalanya itu adalah qurbah (ibadah yang mendekatkan kepada Allah, -pent), terutama Ahli Bid’ah Kubra (Pelaku bid’ah besar), sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Artinya: Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaan yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik…” [Faathir: 8]

Sufyan At-Tsauri berkata: “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati, dan bid’ah tidak (idharapkan) taubat darinya.

Dalam sebuah atsar (perkataan salaf) diceritakan, bahwa Iblis berkata: “Kubinasakan anak keturunan Adam dengan dosa, namun mereka membalas membinasakanku dengan istighfar dan ucapan la ilaha illallah.

Setelah kuketahui hal tersebut, maka kusebarkan di tengah-tengah mereka hawa nafsu (baca: bid’ah). Akhirnya mereka berbuat dosa, namun tidak mau bertaubat, karena mereka merasa sedang berbuat baik.” [Lihat Ajwaabul Kaafi: 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62]

[B6]. Jenis bid’ah lebih besar dari maksiat, karena fitnah Ahli Bid’ah (Mubtadi) terdapat dalam dasar agama, sedangkan fitnah pelaku dosa terdapat dalam syahwat. [Lihat Al-Jawwabul Kaafi: 58, dan Majmu Fatawa 20/103]. Dan ini bisa dijadikan sebuah kaidah, bahwa jika salah satu dari bid’ah atau maksiat itu tidak dibarengi qarinah-qarinah (bukti atau tanda) dan keadaan yang bisa memindahkan hal itu dari kedudukan asalnya.

Di antara contoh bukti-bukti dan keadaan tersebut adalah:

  • Pelanggaran, baik maksiat atau bid’ah, bisa membesar jika diiringi praktik terus menerus, meremehkannya, terang-terangan, menghalkan atau mengajak orang lain untuk melakukannya. Ia juga bisa mengecil bahayanya, jika dibarengi dengan pelaksanaan yang sembunyi-sembunyi, terselubung tidak terus menerus, menyesal (setelahnya, -pen) dan berusaha untuk taubat.

Contoh lain:

  • Pelanggaran itu dengan sendirinya bisa membesar dengan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Jika bahayanya kembali kepada dasar-dasar pokok agama, maka hal ini lebih besar, daripada penyimpangan yang bahayanya hanya kembali kepada hal-hal parsial dalam agama. Begitu pula pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan agama, lebih besar daripada pelanggaran yang bahayanya berhubungan dengan jiwa.

Jadi sebenarnya untuk mengomparasikan antara bid’ah dengan maksiat, kita harus memerhatikan situasi dan kondisi, maslahat dan bahayanya, serta akibat yang dtimbulkan sesudahnya. Karena memeringatkan bahaya bid’ah atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya menimbulkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan maksiat itu sendiri. Sebagaimana ketika kita memeringatkan, bahwa maksiat atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tidak seyogianya mengakibatkan, sekarang atau sesudahnya, sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan bid’ah itu sendiri.

 

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]

Sumber:

 

,

SETIAP BID’AH ADALAH MAKSIAT, TAPI TIDAK SETIAP MAKSIAT ADALAH BID’AH

SETIAP BID’AH ADALAH MAKSIAT, TAPI TIDAK SETIAP MAKSIAT ADALAH BID’AH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah
#StopBidah

SETIAP BID’AH ADALAH MAKSIAT, TAPI TIDAK SETIAP MAKSIAT ADALAH BID’AH

Di antara kesamaan antara bid’ah dan maksiat adalah, bawah keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syariat, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60].

Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1202-hubungan-antara-bidah-dengan-maksiat.html

,

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan Salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian orang agak sedikit rancu dengan jual beli Salam dan jual beli barang yang belum dimiliki. Ada yang masih bingung, sehingga ia anggap, bahwa jual beli Salam semacam di internet, yang hanya dengan memajang katalog barang yang akan dijual, itu tidak dibolehkan, karena dianggap termasuk larangan Nabi ﷺ menjual barang yang tidak dimiliki ketika akad. Inilah bahasan yang ingin kami angkat pada kesempatan kali ini. Semoga pembahasan singkat ini bisa menjawab kerancuan yang ada.

Pengertian Transaksi Salam

Jual beli Salam (biasa pula disebut “Salaf”) adalah jual beli dengan uang di muka secara kontan, sedangkan barang dijamin diserahkan tertunda. Istilahnya adalah, pembeli itu pesan dengan menyerahkan uang terlebih dahulu, sedangkan penjual mencarikan barangnya, walaupun saat itu barang tersebut belum ada di tangan penjual.

Jual beli Salam DIBOLEHKAN, berdasarkan dalil Alquran, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan ulama).

Bolehnya Transaksi Salam

Ayat yang menyebutkan bolehnya hal ini adalah firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أَشْهَدُ أَنَّ السَّلَفَ الْمَضْمُونَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَحَلَّهُ وَأَذِنَ فِيهِ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى)

“Aku bersaksi bahwa Salaf (transaksi Salam) yang dijamin hingga waktu yang ditentukan, telah dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah telah mengizinkannya”. Setelah itu Ibnu ‘Abbas menyebutkan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282) [HR. Al Baihaqi 6/18, Al Hakim 2/286 dan Asy Syafi’i dalam Musnadnya no. 597. Al Hakim mengatakan bahwa hadis ini Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya]

Ibnu’ Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan:

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ ، فَقَالَ « مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ »

“Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) memraktikan jual beli buah-buahan dengan sistem Salaf (Salam), yaitu membayar di muka, dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lantas Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang memraktikkan Salam dalam jual beli buah-buahan, hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari no. 2240 dan Muslim no. 1604)

Adapun dalil ijma’ (kesepakatan para ulama) sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir, beliau rahimahullah mengatakan:

أجمع كلّ من نحفظ عنه من أهل العلم على أنّ السّلم جائز.

“Setiap ulama yang kami mengetahui perkataannya telah bersepakat (berijma’) tentang bolehnya jual beli Salam.” [Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/122, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, Lebanon]

Sayyid Sabiq rahimahullah menjelaskan:

“Jual beli Salam dibolehkan berdasarkan kaidah syariat yang telah disepakati. Jual beli semacam ini tidaklah menyelisihi qiyas. Sebagaimana dibolehkan bagi kita untuk melakukan pembayaran tertunda, begitu pula dibolehkan barangnya yang diserahkan tertunda seperti yang ditemukan dalam akad Salam, dengan syarat tanpa ada perselisihan antara penjual dan pembeli. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS. Al Baqarah: 282).

Utang termasuk pembayaran tertunda, dari harta yang dijaminkan. Maka selama barang yang dijual disebutkan ciri-cirinya yang jelas dan dijaminkan oleh penjual, begitu pula pembeli sudah percaya, sehingga ia pun rela menyerahkan uang sepenuhnya kepada penjual, namun barangnya tertunda, maka ketika itu barang tersebut boleh diserahkan tertunda. Inilah yang dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 282, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.” [Fiqh Sunnah, 3/123]

Apakah Akad Salam Sama Dengan Jual Beli Barang yang Bukan Milikmu?

Mengenai larangan menjual barang yang tidak dimiliki, telah disebutkan dalam hadis Hakim bin Hizam. Ia berkata pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ « لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».

“Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku, lantas ia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar?” Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, At Tirmidzi)

Perlu diketahui, bahwa maksud larangan hadis di atas adalah jual beli sesuatu yang sudah tertentu yang bukan miliknya, ketika akad itu berlangsung. Sebagaimana diterangkan dalam Syarhus Sunnah:

“Yang dimaksud dalam hadis di atas adalah jual beli barang yang sudah tertentu (namun belum dimiliki ketika akad berlangsung). Dan ini bukanlah dimaksudkan larangan jual beli dengan menyebutkan ciri-ciri barang (sebagaimana terdapat dalam akad Salam). Oleh karena itu, transaksi Salam itu dibolehkan dengan menyebutkan ciri-ciri barang yang akan dijual, asalkan terpenuhi syarat-syaratnya, walaupun belum dimiliki ketika akad berlangsung. Sedangkan contoh jual beli barang yang tidak dimiliki yang terlarang, seperti jual beli budak yang kabur, jual beli barang sebelum diserahterimakan, dan yang semakna dengannya, adalah jual beli barang orang lain tanpa seizinnya, karena pada saat ini tidak diketahui, bahwa yang memiliki barang tersebut mengizinkan ataukah tidak.” [‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi, 9/291, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah-Beirut, 1415]

Sayyid Sabiq, rahimahullah, menjelaskan: “Jual beli Salam tidaklah masuk dalam larangan Rasulullah ﷺ mengenai jual beli yang bukan miliknya. Larangan tersebut terdapat dalam hadis Hakim bin Hizam: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.”

Yang dimaksud larangan yang disebutkan dalam hadis ini adalah larangan menjual harta yang mampu diserahterimakan ketika akad. Karena barang yang mampu diserahterimakan ketika akad, dan ia tidak memilikinya saat itu, maka jika ia jual, berarti hakikatnya barang tersebut tidak ada. Sehingga jual beli semacam ini menjadi jual beli ghoror (ada unsur ketidakjelasan).

Sedangkan jual beli barang yang disebutkan ciri-cirinya dan sudah dijaminkan oleh penjual, serta penjual mampu menyerahkan barang yang sudah dipesan sesuai waktu yang ditentukan, maka jual beli semacam ini tidaklah masalah.” [Fiqh Sunnah, 3/123-124]

Contoh riil jual beli Salam adalah seperti kita lihat pada jual beli di internet, baik dengan brosur, katalog atau toko online. Jual beli semacam ini menganut jual beli sistem Salam. Penjual hanya memajang kriteria atau ciri-ciri barang yang akan dijual, sedangkan pembeli diharuskan untuk menyerahkan uang pembayaran lebih dahulu, dan barangnya akan dikirim setelah itu. Jual beli semacam ini tidaklah masalah selama syarat-syarat transaksi Salam dipenuhi.

Sedangkan jual beli barang yang tidak dimiliki ketika akad berlangsung, seperti ketika seseorang meminjam HP milik si A, lalu ia katakan pada si B (tanpa izin si A): “Saya jual HP ini untukmu”. Ini tidak dibolehkan karena si pemilik HP (si A) belum tentu mengizinkan HP tersebut dijual kepada yang lain (si B). Ini sama saja orang tersebut menjual HP yang bukan miliknya, karena tidak adanya izin dari si pemilik barang. Namun jika dengan izin si pemilik, beda lagi statusnya. Semoga contoh yang sederhana ini dapat memberikan kepahaman.

Jadi jual beli Salam dimaksudkan, yang dijual adalah ciri-ciri atau sifat barang, sedangkan larangan jual beli barang yang belum dimiliki yang dimaksud adalah, barang tersebut sudah ditentukan, namun belum jadi milik si penjual. Semoga Allah beri kepahaman.

Syarat Transaksi Salam

Setelah kita mengetahui bolehnya transaksi Salam, transaksi dibolehkan tentu saja dengan memenuhi syarat-syarat. Syarat yang dipenuhi adalah berkenaan dengan upah yang diserahkan pembeli dan berkaitan dengan akad Salam.

Syarat yang berkaitan dengan upah yang diserahkan pembeli adalah:

[1] Jelas jenisnya;
[2] Jelas jumlahnya,
[3] Diserahkan secara tunai ketika akad berlangsung (tidak boleh dengan pembayaran tertunda) [Syarat ketiga ini wajib dipenuhi, karena inilah syarat yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dikatakan oleh Asy Syaukani dan muridnya, Shidiq Hasan Khon. (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1422)].

Syarat yang berkaitan dengan akad Salam adalah:

[1] Sudah dijamin oleh penjual;
[2] Barang yang dijual diketahui ciri-cirinya dan jumlahnya, sehingga bisa dibedakan dengan yang lain;
[3] Kapan barang tersebut sampai ke pembeli harus jelas waktunya. [Lihat Fiqh Sunnah, 3/124]

Demikian sedikit penjelasan kami mengenai akad Salam dan sedikit kerancuan mengenai jual beli barang yang tidak dimiliki. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1069-bolehkah-jual-beli-dengan-sekedar-memajang-katalog-di-internet.html