Posts

,

AKHLAK MULIA DAN TUTUR KATA YANG BAIK MEMBERATKAN TIMBANGAN

AKHLAK MULIA DAN TUTUR KATA YANG BAIK MEMBERATKAN TIMBANGAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
AKHLAK MULIA DAN TUTUR KATA YANG BAIK MEMBERATKAN TIMBANGAN
 
Ada lagi satu amalan yang berpahala besar dan berat dalam timbangan. Apa itu? Yaitu akhlak mulia dan berkata yang baik.
 
Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
‎مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ
 
“Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan, lebih berat dari akhlak yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” [HR. Tirmidzi no. 2134. Syaikh Al Abani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726]
 
Dalam riwayat Tirmidzi, hadisnya dinyatakan Hasan Shahih, disebutkan pula hadis dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
‎ما من شيءٍ أثقلُ في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلقِ، وإن الله يبغضُ الفاحش البذي
 
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”
 
# Faidah Hadis:
 
1- Contoh Husnul Khuluq atau berakhlak yang baik sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak adalah:
* Senyum manis
* Melakukan yang makruf (kebajikan)
* Menghilangkan gangguan
 
2- Yang dimaksudkan dengan hadis di atas adalah yang berat pahalanya dalam Mizan (timbangan)
 
3- Allah mencintai dan meridai orang yang berakhlak mulia.
 
4- Al-Fahisy yang dimaksud dalam hadis adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-Badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya.
 
5- Mizan (timbangan) amalan itu ada dan wajib diimani.
 
Referensi:
Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 76.
 
Penulis: Ustadz M. Abduh Tuasikal
Sumber: [Rumaysho.Com]

Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#akhlakmulia #akhlaqmulia #tuturkatayangbaik #jagalisan #sopansantun #adabakhlak #beratkantimbangan #mizan #pahala #HusnulKhuluq #sifatsifat #tandatanda #ciriciri #karakteristik

,

PAHALA MEMBACA APLIKASI ALQURAN DI SMARTPHONE

PAHALA MEMBACA APLIKASI ALQURAN DI SMARTPHONE
>> Syaikh Abu Abdil Mu’iz Muhammad Ali Farkus hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Saat ini banyak beredar ponsel pintar (smartphone) di kalangan masyarakat Islam. Ponsel ini bisa di-install dengan beragam aplikasi syari, di antaranya aplikasi yang bisa untuk membaca Alquran secara sempurna, seperti halnya dalam Mushaf.
 
Jika seorang qari hendak membuka aplikasi Alquran, apakah harus mengikuti aturan seperti halnya membuka Mushaf biasa?
Jika iya, apakah membacanya mendapatkan pahala seperti halnya membaca dengan melihat cetakan Mushaf?
Apakah boleh masuk kamar mandi dengan membawa ponsel ini?
Apakah orang yang berhadats boleh menyentuhnya?
 
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
 
Jawaban:
 
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد
 
Mungkin perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian kata Mushaf menurut istilah zaman sekarang ini.
 
Mushaf adalah materi yang digunakan untuk mengumpulkan Alquran yang sesuai dengan urutan ayat dan suratnya, dengan bentuk tulisan seperti pada Mushaf yang disepakati umat Islam di zaman khalifah Utsman bin Affan radhiallahu’anhu.
 
Definisi di atas mencakup semua jenis Mushaf, baik Mushaf kuno, seperti Mushaf yang terbuat dari kertas yang merupakan kumpulan lembaran, tertulis huruf-huruf Alquran, yang ditutup dua sampul, atau Mushaf model baru seperti Mushaf yang termuat dalam chip atau yang tersimpan di CD, termasuk (huruf) timbul yang digunakan dengan jarum Braille untuk menulis di kertas-kertas khusus penyandang tunanetra. Mushaf ini khusus untuk para tunanetra.
 
Kemudian, apabila Mushaf elektronik memiliki bentuk yang berbeda dengan Mushaf lembaran kertas, baik susunannya dan penampilan hurufnya – dan seperti ini keadaan aslinya – maka yang semacam ini tidak dihukumi sebagaimana Mushaf kertas, kecuali setelah aplikasi Alquran di alat ini dihidupkan, sehingga tampak ayat Alqurannya, yang tersimpan di dalam memori Mushaf elektronik itu.
 
Jika teks Mushaf dalam alat telah nampak dengan tulisan yang bisa dibaca, maka membaca Mushaf ini seperti membaca Mushaf di kertas. Akan mendapatkan pahala, sebagaimana yang dijanjikan dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ ﴿الم﴾ حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
 
“Barang siapa yangmembaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan 10 kali lipat. Tidak kukatakan aliflammim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” [Dikeluarkan At Tirmidzi Dalam Fadhailul Qur’an No 2910. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No 6469]
 
Dan hadis dari Abdullahbin Mas’ud secara marfu’:
 
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَف
 
“Barang siapa yang ingin bahagia karena dirinya yakin telah mencitai Allah dan Rasul-Nya, maka hendaknya ia membaca dengan Mushaf Alquran.” [Dikeluarkan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No 2027. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Assilsilah Ash Shahihah No. 2342]
 
Serta hadis-hadis shahih lainnya yang menunjukkan keutamaan membaca Alquran dan memperbanyak bacaan Alquran.
 
Adapun larangan membawa Mushaf elektronik ke dalam kamar mandi tanpa kebutuhanatau kondisi darurat dipahami, apabila aplikasi dalam alat itu atau dalam HP dalam keadaan hidup, dan menampilkan ayat-ayat Alquran, termasuk juga dalam larangan menyentuhkan benda najis atau meletakkan najis di atasnya, atau mengotorinya dengan najis. Hal ini karena status kemuliaan Alquran berlaku untuk alat tersebut, selama aplikasi dihidupkan dan tampak ayat-ayat dan surat-sutatnya.
 
Hanya saja, status larangan di atas menjadi hilang dari Mushaf Alquran ini, ketika aplikasi Alquran dimatikan, dan tidak lagi nampak ayat-ayatnya dengan matinya tampilan di layar. Dan kondisi tidak diaktifkan, tidak terhitung Mushaf, sehingga tidak dihukumi sebagaimana Mushaf kertas.
 
Di sisi lain, BOLEH bagi orang yang sedang hadas kecil atau besar menyentuh bagian HP atau peralatan lainnya, yang berisi aplikasi Alquran, baik ketika sedang dimatikan atau diaktifkan. Karena teks Alquran yang ada di Mushaf elektronik yang tampil di layar HP hanya vibrasi huruf yang diproses secara harmonik. Di mana dia tidak bisa tampil di layar, kecuali melalui aplikasi elektronik.
 
Oleh karena itu, menyentuh kaca layar tidak dianggap menyentuh Mushaf yang asli. Karena tidak bisa dibayangkan, bagaimana cara menyentuhnya, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Berbeda dengan Mushaf kertas, menyentuh kertasnya atau hurufnya, termasuk menyentuh secara langsung. Untuk itu, tidak diperintah bagi orang yang mengalami hadas untuk bersuci ketika hendak menyentuh Mushaf elektronik, selain sebatas kehati-hatian.
 
Dan segala ilmu hanya di sisi Allah.
Dan akhir doa kami segala puji hanyalah bagi Allah.
Semoga Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga beliau serta para sahabat hingga Hari Kiamat.
 
Al Jazair, 11 Rajab 1435H bertepatan 10 Mei 2014
 
 
***
 
 
Sumber:http://ferkous.com/site/rep/Bq151.php
Penerjemah: Tim Penerjemah Wanita Salihah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
 
 
Artikel WanitaSalihah.Com
 
 
من أحكام المصحف الإلكتروني
 
 
السؤال:
 
 
انتشرت في المجتمعات الإسلامية الهواتفُ الذكيَّة، وتتضمَّن بعضَ التطبيقاتِ الشرعية، ومنها إمكانية القراءة مِن مصحفٍ كاملٍ، فهل إذا فتح القارئُ المصحفَ مِن الهاتف الذكيِّ يأخذ حُكْمَ المصحف المتعارَفِ عليه؟ فإذا كان كذلك فهل يؤجَر الناظرُ فيه كما يؤجَر الناظر في المصحف المطبوع؟ وهل يجوز الدخولُ به إلى بيت الخلاء؟ وهل يصحُّ للمُحْدِث مَسُّه؟ وجزاكم الله خيرًا.
 
 
الجواب:
 
 
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
 
 
فيمكن تعريفُ المصحف بالاصطلاح الحديث بأنه الوسائلُ المادِّية الجامعةُ للقرآن الكريم المطابِقِ في ترتيب آياته وسُوَره للهيئة أو الرسم اللَّذَين أجمعت عليهما الأمَّةُ في خلافة عثمانَ بنِ عفَّانَ رضي الله عنه.
 
 
ويظهر التعريف السابق شمولُه لكلِّ أنواع المصاحف: قديمةً كانت كالمصحف الورقيِّ المعهود الذي هو الأوراق والحروف الجامعة للقرآن المكتوبةُ بين دفَّتين حافظتَيْن، أو حديثةً كالمصحف المحمَّل على الشرائح الإلكترونية والأقراص المُدْمَجة، ويدخل في ذلك ـأيضًاـ النتوءاتُ المستعمَلةُ بإبرة برايل في الكتابة على الأوراق الخاصَّة بها، وهو المصحف الخاصُّ بالمكفوفين.
 
 
هذا، وإذا كان المصحف الإلكترونيُّ يتَّصف ببعض المواصفات المغايِرة للمصحف الورقيِّ في تركيبه وحروفه؛ فإنه ـوالحالُ هذهـ لا يأخذ حُكْمَ المصحف الورقيِّ إلَّا بعد تشغيل الجهاز وظهورِ الآيات القرآنية المخزَّنة في ذاكرة المصحف الإلكترونيِّ، فإن ظهر المصحفُ الإلكترونيُّ معروضًا بهيئته المقروءة فإنَّ القراءة فيه كالقراءة في المصحف الورقيِّ يُنال بها الأجرُ المذكور في حديث ابن مسعودٍ رضي الله عنه مرفوعًا: «مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ ﴿الم﴾ حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»(١)، وحديث عبد الله بن مسعودٍ رضي الله عنه مرفوعًا: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَقْرَأْ فِي الْمُصْحَفِ»(٢)، وغيرِها مِن الأحاديث الصحيحةِ الدالَّةِ على فضل تلاوة القرآن والإكثارِ منها.
 
 
ومِن جهة الحَظْر مِن الدخول بالمصحف الإلكترونيِّ إلى الخلاء مِن غير حاجةٍ أو ضرورةٍ فإنه يصدق عليه حكمُ المنع ما دام الجهازُ أو الهاتف النقَّال في حال التشغيل وعرضِ الآيات القرآنية، ويدخل في الحظر ـأيضًاـ مسُّه بنجاسةٍ أو وضعُه عليها أو تلطيخُه بها، ذلك لأنَّ حرمة القرآن قائمةٌ فيه مع تشغيله وظهور آياته وسُوَره.
 
 
غير أنَّ أحكام الحَظْرِ السابقةَ تنتفي عن المصحف الإلكترونيِّ في حالِ غَلْقِ الجهاز وانتهاءِ ظهور الآيات بانتهاء انعكاسها على الشاشة، وهو في تلك الحال مِن عدم التشغيل لا يُعَدُّ مصحفًا ولا تترتَّب عليه أحكامُ المصحف الورقيِّ.
 
 
ومِن جهةٍ أخرى يجوز للمُحْدِث حدثًا أصغرَ أو أكبرَ أن يَمَسَّ أجزاءَ الهاتف النقَّال أو غيرِه مِن الأجهزة المشتمِلة على البرنامج الإلكترونيِّ للمصحف، ويستوي في ذلك حالُ الإغلاق وحالُ التشغيل، ذلك ڨ القرآنية للمصحف الإلكترونيِّ الظاهرةَ على شاشته ما هي إلَّا ذبذباتٌ إلكترونيةٌ مشفَّرةٌ، معالَجةٌ على وجهٍ متناسقٍ، بحيث يَمتنِع ظهورُها وانعكاسُها على الشاشة إلَّا بواسطة برنامجٍ إلكترونيٍّ.
 
 
وعليه فمَسُّ زجاجة الشاشة لا يُعَدُّ مسًّا حقيقيًّا للمصحف الإلكترونيِّ، إذ لا يُتصوَّر مباشرةُ مَسِّه بما تقدَّم بيانُه، بخلاف المصحف الورقيِّ، فإنَّ مَسَّ أوراقه وحروفِه يُعَدُّ مسًّا مباشِرًا وحقيقيًّا له، لذلك لا يُؤْمَر المُحْدِثُ بالطهارة لِمَسِّ المصحف الإلكترونيِّ إلَّا على وجه الاحتياط والتورُّع.
 
 
والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين وسلَّم تسليمًا.
 
 
الجزائر في: ١١ رجب ١٤٣٥ﻫ
 
 
الموافق ﻟ: ١٠ مـاي ٢٠١٤م
 
 
٠٠٠
 
 
(١) أخرجه الترمذي في «فضائل القرآن» بابُ ما جاء فيمن قرأ حرفًا مِن القرآن ما له مِن الأجر (٢٩١٠)، من حديث ابن مسعودٍ رضي الله عنه، وصححه الألباني في «صحيح الجامع» (٦٤٦٩)، وانظر «السلسلة الصحيحة» (٣٣٢٧).
 
 
(٢) أخرجه البيهقي في «شعب الإيمان» (٢٠٢٧)، من حديث عبد الله بن مسعودٍ رضي الله عنه، وهو في «السلسلة الصحيحة» للألباني (٢٣٤٢).
 
 
 
 
Sumber: http://wanitasalihah.com/pahala-membaca-aplikasi-al-quran-di-smartphone/
 
 
 pahala,pahala membaca Alquran,smartphone,HP,Hape,handphone,Mushaf,elektronik,hadats besar,hadats kecil

PAHALA MEREALISASIKAN TAUHID, MASUK SURGA TANPA HISAB DAN AZAB

PAHALA MEREALISASIKAN TAUHID, MASUK SURGA TANPA HISAB DAN AZAB

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

PAHALA MEREALISASIKAN TAUHID, MASUK SURGA TANPA HISAB DAN AZAB

Mari kita belajar tauhid dengan benar, merealisasikannya TANPA mencampurinya dengan noda syirik sedikit pun.

 

Sumber: indonesiabertauhidofficial

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pahala, #realisasikantauhid, #merealisasikantauhid, #masukSurgatanpahisabdanazab, #syirik, #bidah, #maksiat, #maksiyat
,

MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK? INI CARANYA!

MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK INI CARANYA!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAU PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK? INI CARANYA!
 
Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” [HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini Hasan Shahih. HR. Tirmidzi, no. 221]
 
Faidah Hadis:
 
1. Dianjurkan menjaga shalat Subuh dan Isya secara berjamaah. Karena kalau dua shalat ini dijaga, tentu shalat lainnya dijaga pula.
2. Menjaga shalat Subuh dan Isya merupakan tanda iman. Karena ketika itu keadaan gelap dan sedang menikmati makan malam.
3. Yang meninggalkan shalat Subuh dan Isya hanyalah munafik dan orang yang punya uzur.
4. Keutamaan shalat Subuh berjamaah seperti melaksanakan shalat semalam penuh (semalam suntuk).
5. Keutamaan shalat Isya berjamaah seperti melaksanakan shalat separuh malam.
 
Semoga semakin manambah semangat kita untuk terus beramal saleh
 
Sumber: Rumaysho.Com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

BOLEHKAH QADHA RAMADAN PADA 9 DZULHIJJAH SAMBIL MENGHARAPKAN PAHALA PUASA ARAFAH?

BOLEHKAH QADHA RAMADAN PADA 9 DZULHIJJAH SAMBIL MENGHARAPKAN PAHALA PUASA ARAFAH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatPuasaNabi
 
BOLEHKAH QADHA RAMADAN PADA 9 DZULHIJJAH SAMBIL MENGHARAPKAN PAHALA PUASA ARAFAH?
 
Pertanyaan:
Bolehkah membayar qadha Ramadan pada 9 Dzulhijjah dan di saat yang sama BERHARAP mendapatkan keutamaan puasa Arafah (ampunan dosa setahun lalu + setahun akan datang)?
 
Jawaban:
Boleh, wallahu a’lam.
Qadha di hari-hari ini (9 hari awal Dzhulhijjah -adm ) juga bagus, karena amal-amal baik di hari ini paling dicintai oleh Allah daripada amal-amal di hari lain.
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
,

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
 
Pertanyaan:
Ketika kita shalat terhadap banyak jenazah dalam satu waktu, apakah pahalanya bertambah sesuai dengan banyaknya jenazah?
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Ya, pahala berlipat sesuatu dengan banyaknya jenazah. Telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, 945, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak turut mengantarkannya, maka dia dapat (pahala) satu Qirath. Kalau dia ikut mengiringinya, maka dia dapatkan dua Qirath. Dikatakan, “Apa itu dua qirth?” Beliau ﷺ menjawab: “Yang paling kecil di antara kedunya seperti (gunung) Uhud.”
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, bahwa bagi orang yang shalat, pada setiap jenazah mendapatkan satu Qirath, dan pahalanya dilipatgandakan dengan bertambahnya jumlah jenazah, keutamaan Allah itu luas sekali. Nafrawi rahimahullah mengatakan: “Jika mayat berjumlah banyak, maka akan bertambah Qirath dalam shalat dan menguburkannya berkali-kali.” Al-Faqih Abu Imron dan Sayyid Yusuf bin Umar: “Dia akan mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath. Karena setiap mayat mendapatkan manfaat dari doa dan kehadiranya.” [Al-Fawakih Ad-Dawani ‘Ala Risalah Abi Zaid Al-Qirwani, 1/295]
 
Al-Khatib As-Syirbini rahimahullah mengatakan: “Kalau jenazahnya banyak dan dilakukan sekali shalat saja, apakah akan mendapatkan Qirath sesuai dengan banyaknya (jenazah) atau tidak, karena hanya satu shalat? Al-Adzro’i mengatakan: “Yang tampak (dia mendapatkan Qirath) sebanyak (jenazah). Dan ini termasuk jawaban Qodhi Humah Al-Barizi. Ini yang kuat.” [Mughni Al-Muhtaj, 2/54]
 
Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: “Seseorang menyolati lima jenazah dengan sekali shalat. Apakah dia mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath, ataukah (untuk mendapatkan) Qirath sesuai dengan bilangan shalat?”
 
Beliau menjawab: “Kami harap dia mendapatkan banyak Qirath sebanyak bilangan jenazah. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
من صلى على جنازة فيه قيراط ، ومن تبعها حتى تدفن فله قيراطان (رواه مسلم)
 
“Barang siapa menyalati jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Dan barang siapa yang mengiringi sampai dikuburkan, maka dia mendapatkan dua Qirath.” [HR. Muslim]
 
Dan hadis-hadis yang semakna dengan itu, semuanya menunjukkan, bahwa Qirath bertambah sesuai dengan bilangan jenazah. Barang siapa yang shalat terhadap satu jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Barang siapa yang mengikuti sampai dikuburkannya, maka dia mendapatkan dua Qirath. Barang siapa yang shalat terhadapnya dan mengikuti sampai selesai penguburan, maka dia mendapatkan dua Qirath. Ini termasuk keutamaan, kemurahan dan kedermawanan Allah subahanhu wa ta’ala terhadap hamba-Nya. Hanya kepada-Nya segala pujian dan rasa syukur, tiada Tuhan melainkan Dia. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.” [Majmu Al-Fatawa, 13/137]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Di dalam Masjidil Haram banyak jenazah. Apakah pahala juga bertambah sebagaimana yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ?”
 
Beliau menjawab: “Kalau jenazah banyak dan dilakukan sekali shalat, apakah seseorang mendapatkan pahala sebanyak bilangan jenazah ini? Yang kuat, ya. Karena dia benar telah melakukan shalat terhadap dua, tiga atau empat (jenazah), sehingga dia mendapatkan pahala. Akan tetapi bagaimana dia cara berniatnya? Apakah berniat shalat sekali atau untuk semuanya? Hendaknya dia berniat shalat untuk semuanya.” [Liqa Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 149]
 
Wallahu a’lam.
,

KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH

KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH
 
Hukum Shalat Jenazah
 
Hukum shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah. Jika sebagian kaum Muslimin telah melakukannya, maka gugur dari lainnya.
 
( عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ –رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ– قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم– إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )), قَالُوا: لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ )), قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ )) قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ )) قَالُوا : لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ: (( صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ))، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.)
 
Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah ﷺ, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Ya.’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Ada tiga Dinar.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’  Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Ada tiga Dinar.’ Beliau ﷺ pun berkata: ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata: ‘Shalatilah dia, ya Rasulullah! Utangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya.” [HR Al-Bukhaari no. 2289]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa hukumm shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah, karena ketika itu Nabi ﷺ, jika tahu si mayit tidak melunasi utangnya, maka beliau ﷺ enggan menyalatinya.
 
Keutamaan Shalat Jenazah
 
Pertama: Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
“Barang siapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyalatkannya, maka baginya satu Qirath. Lalu barang siapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua Qirath.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud dua Qirath?” Rasulullah ﷺ lantas menjawab: “Dua Qirath itu semisal dua gunung yang besar.” [HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945]
 
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
« مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ». قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ ».
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu Qirath. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua Qirath.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud dua Qirath?” “Ukuran paling kecil dari dua Qirath adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau ﷺ. [HR. Muslim no. 945]
 
Kedua: Dari Kuraib, ia berkata:
 
أَنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ فَقَالَ يَا كُرَيْبُ انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ النَّاسِ. قَالَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدِ اجْتَمَعُوا لَهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ تَقُولُ هُمْ أَرْبَعُونَ قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَخْرِجُوهُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ »
 
“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata: “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyalati jenazahnya.” Kuraib berkata: “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul, dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab: “Ada 40 orang.” Kuraib berkata: “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata: “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, melainkan Allah akan memprkenankan syafaat (doa) mereka untuknya.” [HR. Muslim no. 948]
 
Ketiga: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
 
مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ
 
“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum Muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafaat (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafaat (doa mereka) akan diperkenankan.” [HR. Muslim no. 947]
 
Keempat: Dari Malik bin Hubairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ
“Tidaklah seorang Muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum Muslimin, melainkan doa mereka akan dikabulkan.” [HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ 5/212 bahwa hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini Hasan jika sahabat yang mengatakan]
 
Itulah beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan shalat jenazah.
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
[www.rumaysho.com]
 
,

BOLEHKAH URUNAN KURBAN KAMBING SATU SEKOLAH BERAMAI-RAMAI?

BOLEHKAH URUNAN KURBAN KAMBING SATU SEKOLAH BERAMAI-RAMAI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#FikihKurban

BOLEHKAH URUNAN KURBAN KAMBING SATU SEKOLAH BERAMAI-RAMAI?

>> Hukum Patungan Hewan Kurban

Pertanyaan:

Teman-teman saya di kampus ingin berlatih berkurban. Rata-rata kami belum mampu membeli hewan kurban individual, jadi kami berniat ‘patungan‘ untuk membeli hewan kurban. Apakah bisa berkurban diniatkan beramai-ramai seperti itu? Atau jadinya berniat sedekah saja?

Jawaban:

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Dalam Ahkamul Udhiyah wa Dzakah (hlm. 26) dinyatakan, bahwa kongsi atau gabungan beberapa orang dalam kegiatan berkurban itu ada dua:

Pertama: Kongsi dalam Pahala

Yang dimaksud kongsi pahala, seorang Shahibul Qurban (pemilik hewan kurban) menyembelih hewan kurbannya dengan menyertakan beberapa orang untuk turut mendapatkan pahalanya. Kongsi semacam ini dibolehkan, sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa dalil berikut:

a) Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan: “Rasulullah ﷺ berkurban dengan kambing bertanduk, berdiri dengan kaki belang hitam, duduk di atas perut belang hitam, melihat dengan mata belang hitam. Kemudian beliau menyuruh Aisyah untuk mengambilkan pisau dan mengasahnya. Setelah kambingnya beliau ﷺ baringkan, beliau ﷺ membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Bismillah, Ya Allah, terimalah kurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam . [HR. Muslim no. 1967]

b) Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengikuti shalat Idul Adha bersama Nabi ﷺ di lapangan. Setelah selesai berkhutbah, beliau ﷺ turun dari mimbar dan mendatangi kambing kurban beliau ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Bismillah, wallahu akbar, ini kurban dariku dan dari umatku yang tidak berkurban. [HR. Ahmad 14837, Abu Daud 2810 dan dishahihkan Al-Albani].

Pada pernyataan di atas, Nabi ﷺ menyertakan keluarga beliau ﷺ dan umat beliau ﷺ dalam pahala kurban yang beliau ﷺ sembelih. Padahal saat itu beliau ﷺ hanya menyembelih kambing. Sehingga seluruh umat beliau ﷺ yang tidak mampu berkurban, mendapatkan pahala dari kurban beliau ﷺ. [Simak Ahkam Al-Idain fi As-Sunnah Al-Muthahharah, Ali bin Hasan Al-Halabi, hlm. 79].

Kedua: Kongsi dalam Kepemilikan

Dalam arti, beberapa orang urunan untuk membeli seekor hewan kurban.

Untuk kongsi jenis ini hukumnya TIDAK dibolehkan, kecuali untuk sapi dan unta, dengan jumlah peserta kongsi maksimal tujuh orang. Sedangkan kambing, hanya boleh menjadi milik satu orang.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: “Kami pernah keluar bersama Nabi ﷺ untuk melaksanakan haji.

فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر، كل سبعة منا في بدنة

Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan kami urunan untuk berkurban unta atau sapi. Setiap tujuh orang di antara kami, berkurban seekor sapi atau unta. [HR. Muslim no. 1318].

Ketentuan Bolehnya Urunan dalam Kurban, Hanya Boleh untuk Sapi Atau Unta

Oleh karena itu, praktik di beberapa sekolah, kampus, atau perusahaan, dengan mengadakan urunan untuk membeli seekor kambing, tidak bisa dinilai sebagai kurban. Karena kambing hasil urunan ini menjadi milik semua peserta urunan, sehingga tidak memenuhi syarat jumlah kepemilikan.

Ketika kegiatan kurban tidak memenuhi persyaratan untuk bisa disebut kurban, maka hewan yang disembelih hanya bisa disebut kambing untuk mendapatkan daging. Sebagaimana dulu pernah ada sahabat yang menyembelih kambing untuk kurban sebelum shalat ‘Ied, kemudian Nabi ﷺ menyebutnya:

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanya kambing daging.” [HR. Bukhari 955, Abu Daud 280].

Artinya, penyembelihan kambing ini tidak bernilai sebagai ibadah kurban, karena dilakukan sebelum waktunya, sehingga tidak mendapatkan pahala kurban.

Solusi:

Kambing ini bisa menjadi hewan kurban, jika dihadiahkan ke seseorang, baik anggota yang ikut urunan, atau orang lain. Misal dihadiahkan ke gurunya, dosennya, atau salah satu peserta urunan yang disepakati bersama, sehingga kambing ini menjadi milik satu orang. Selanjutnya dia bisa berkurban dengan kambing itu, dan boleh menyertakan orang lain untuk turut mendapatkan pahalanya.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: [KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/14519-boleh-urunan-kurban-kambing.html

LEBIH BESAR PAHALA BACA ALQURAN LEWAT MUSHAF DIBANDING HANDPHONE

LEBIH BESAR PAHALA BACA ALQURAN LEWAT MUSHAF DIBANDING HANDPHONE

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama

LEBIH BESAR PAHALA BACA ALQURAN LEWAT MUSHAF DIBANDING HANDPHONE

Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr hafizahullah menjelaskan, bahwa kalau ada MushafAlquran, tetap lebih utama membaca Alquran lewat Mushafdibanding lewat aplikasi dalam handphone.

Beliau membawakan dalil berikut:

من سره أن يحب الله و رسوله ، فليقرأ في المصحف

“Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah Mushaf.” [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2342. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]

Jadi silakan pertimbangkan membaca Alquran lewat mushaf ataukah lewat handphone. Pahalanya bisa jadi sama, namun lebih utama menggunakan Mushaf, sebagaimana diperintahkan dalam hadis di atas.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/16127-lebih-besar-pahala-baca-al-quran-lewat-mushaf-dibanding-handphone.html

SERATUS AYAT SATU MALAM

SERATUS AYAT SATU MALAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

SERATUS AYAT SATU MALAM

 

عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»

“Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang membaca seratus ayat pada suatu malam, dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” [HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468]

 

Sumber: https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html