Posts

,

KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?

KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KAPAN TANGGAL KELAHIRAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
 
Tanggal Kelahiran Nabi ﷺ DIPERSELISIHKAN secara tajam. Ada yang mengatakan tanggal 2 , 8 , 10 , 12 bahkan 17 Rabiul Awal [Lihat al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir: 2/260 dan Latho’iful Ma’arif karya Ibnu Rojab hlm. 184-185]
Semua pendapat ini TIDAK BERDASARKAN hadis yang shahih. Adapun hadis Jabir dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menerangkan, bahwa tanggal kelahiran Nabi ﷺ adalah 12 Rabiul Awal TIDAK SHAHIH. Kalaulah shahih, tentu akan menjadi hakim (pemutus perkara) dalam masalah ini. Akan tetapi Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hadis tersebut, “Sanadnya (jalur periwayatannya) TERPUTUS.” [Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Rajab hlm. 184-185]
 
Karena tidak ada yang shahih, tidak mengapa kalau kita menukil pendapat ahli falak. Banyak ahli falak berpendapat, bahwa hari kelahiran beliau ﷺ adalah pada 9 Rabiul Awal, dan al-Ustadz Abdullah bin Ibrahim bin muhammad as-Sulaim mengatakan:
“Dalam kitab-kitab sejarah dan siroh dikatakan, bahwa Nabi ﷺ lahir pada Senin 10, atau 8, atau 12 dan ini yang dipilih oleh Mayoritas Ulama. Telah tetap tanpa keraguan, bahwa kelahiran beliau ﷺ adalah pada 20 April 571 M (tahun Gajah), sebagaimana telah tetap juga, bahwa beliau ﷺ wafat pada 13 Rabiul Awal 11 H yang bertepatan dengan 6 Juni 632 M. Selagi tanggal-tanggal ini telah diketahui, maka dengan mudah dapat diketahui hari kelahiran dan hari wafatnya dengan jitu, demikian juga usia Nabi ﷺ. Dengan mengubah tahun-tahun ini pada hitungan hari akan ketemu 22.330 hari dan bila diubah ke tahun Qamariyyah akan ketemulah, bahwa umur beliau ﷺ 63 tahun lebih tiga hari. Dengan demikian, hari kelahiran beliau adalah Senin 9 Rabiul Awal tahun 53 sebelum Hijriah, bertepatan dengan 20 April 571 M. [Taqwimul Azman hlm. 143, cet pertama 1404 H]
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata:
“Sebagian ahli falak belakangan telah meneliti tentang tanggal kelahiran Nabi ﷺ ternyata jatuh pada 9 Rabiul Awal, BUKAN 12 Rabiul Awal.” [Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab Tauhid: 1/491. Dinukil dari Ma Sya’a wa Lam Yatsbut fis Sirah Nabawiyyah hlm. 7-8 oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan]
Dengan demikian, apa yang dirayakan oleh sebagian kaum Muslimin pada 12 Rabiul Awal setiap tahunnya? Dan apa perlu juga merayakannya, sedangkan Nabi ﷺ sendiri pun TIDAK PERNAH merayakannya seumur hidupnya?
Wallahu a‘lam.
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi
[Dikutip oleh muslim.or.id dari artikel 8 Faidah Seputar Tarikh Majalah Al-Furqon Edisi 08 th. ke-8 1430 H/2009 M]
kuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#maulidnabi, #tanggallahir, #tanggalkelahiran, #birthday, #ulangtahun, #12RabiulAwal, #9RabiulAwal, #bidah #maulidan
,

BENARKAH YANG MERAYAKAN ‘MAULID NABI’ PERTAMA KALI ADALAH RAJA AL-MUZHAFFAR, PENGUASA KOTA IRBIL?

BENARKAH YANG MERAYAKAN 'MAULID NABI' PERTAMA KALI ADALAH RAJA AL-MUZHAFFAR, PENGUASA KOTA IRBIL?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BENARKAH YANG MERAYAKAN ‘MAULID NABI’ PERTAMA KALI ADALAH RAJA AL-MUZHAFFAR, PENGUASA KOTA IRBIL?
 
Diedarkan sebuah tulisan, bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid Nabi adalah Raja Abu Sa’id al-Muzhaffar Penguasa Irbil, wafat tahun 184 H!!
 
Propaganda dengan mengatasnamakan sejarah ini perlu dijawab:
 
> Bahwa tidak benar Raja al-Muzhaffar tersebut wafat pada tahun 184 H. Namun yang benar adalah dia lahir tahun 549, wafat tahun 630 H!! Yakni wafat pada abad ke-7 hijriah.
 
> Bahwa yang pertama kali MEMBUAT perayaan ‘Maulid Nabi’ adalah kerajaan Bani Ubaidiyyah (yang menamakan dirinya Bani Fathimiyyah) di Mesir, yang berkuasa pada 362 – 567 H.
 
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh para pakar sejarah, di antaranya oleh Taqiyyuddin al-Miqrizi, dalam kitabnya yang berjudul “al-Mawa’izh wa al-i’tibar bi Dzikri al-Khuthath wa al-Aatsaar”. Pada 1/490, al-Miqrizi mengatakan:
 
“Para Khalifah Dinasti Fathimiyyah memiliki banyak hari raya dan peringatan sepanjang tahun, yaitu:
• Peringatan Awal Tahun,
• Hari Asyura
• Maulid Nabi ﷺ
• Maulid Ali bin Abi Thalib
• Maulid al-Hasan
• Maulid al-Husein
• Maulid Fathimah az-Zahra
• Maulid Khalifah yang sedang berkuasa
• Malam awal Rajab
• Malam Nishfu Rajab
• Malam awal Sya’ban
• Malam Nishfu Sya’ban
.. dst.” demikian keterangan dari al-Miqrizi
 
Jadi, Perayaan Maulid Nabi yang pertama kali mengadakan adalah Dinasti Ubaidiyyah.
 
Tahukah Anda siapakah Bani/Dinasti Ubaidiyyah (yang menamakan diri sebagai Dinasti Fathimiyyah) ini? Mereka berpaham Syiah Rafidhah dan mereka telah:
• Mencela para nabi
• Mencela dan benci terhadap para sahabat
• Mencela para salaf.
 
Seorang ulama ahli sejarah, al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah telah menegaskan tentang Daulah Ubaidiyyah:
“Mereka (Daulah Ubaidiyyah) membalik Islam, menampakkan (Manhaj) Rafidhah, dan menyembunyikan Madzhab Ismailiyyah (salah satu sekte ekstrim dalam Syiah, pen).”
 
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata tentang Daulah Ubaidiyyah:
“Para ulama di negeri Qairawan telah sepakat, bahwa kondisi Bani ‘Ubaid (penguasa di Daulah Ubaidiyyah) adalah kondisi ORANG-ORANG MURTAD DAN PARA ZINDIQ.”
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus #DaulahUbaidiyyah #syiah #Yahudi #BaniUbaidiyyah #Ubaidiyyah
,

BERBAGAI KONDISI PERAYAAN MAULID NABI

BERBAGAI KONDISI PERAYAAN MAULID NABI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BERBAGAI KONDISI PERAYAAN MAULID NABI
 
Fadhilah Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata:
“Di antara hal-hal yang diada-adakan oleh umat manusia dari PERBUATAN-PERBUATAN BIDAH MUNKARAH adalah “Perayaan Peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal.”
 
Mereka dalam perayaan tersebut ada bermacam-macam:

Di antara mereka ada yang menjadikan perayaan itu dalam bentuk berkumpul, dibacakan padanya kisah Maulid, atau disajikan padanya khutbah-khutbah atau kasidah-kasidah pada kesempatan tersebut.

• Di antara mereka ada yang membuat makanan, manisan, dll disuguhkan kepada siapa yang hadir.
 
• Di antara mereka ada yang mengadakan perayaan Maulid di masjid-masjid.
 
• Di antara mereka ada yang mengadakan perayaan Maulid di rumah-rumah.
 
• Di antara mereka yang tidak sebatas pada apa yang telah disebut di atas, namun ada di antara mereka yang menjadikan acara perayaan ini dipenuhi dengan berbagai keharaman dan kemungkaran berupa ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, raqsh (tarian), dan nyanyian. Atau bahkan amalan-amalan syirkiyyah, seperti beristighosah kepada Rasulullah ﷺ, memanggil-manggil dan memohon agar mendapat pertolongan dari musuh, dll.
Maka itu, dengan segala macam dan perbedaan bentuk, serta perbedaan dalam hal niat para pelakunya, semua itu adalah BIDAH, HARAM, dan PERKARA BARU YANG DIBUAT-BUAT, (yang muncul) pada masa yang sangat jauh berlalu setelah Kurun Yang Mulia (yaitu masa para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in, pen)
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus #DaulahUbaidiyyah #syiah #Yahudi
#kondisi, #keadaan
, ,

KEPADA PARA PEMBELA MAULID NABI, RENUNGKANLAH INI

KEPADA PARA PEMBELA MAULID NABI, RENUNGKANLAH INI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEPADA PARA PEMBELA MAULID NABI, RENUNGKANLAH INI
 
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah berkata:
 
Perayaan Maulid adalah bidah yang dibuat oleh Bani Ubaidiyyun yang kala itu berkuasa di Maroko, lalu meluas kerajaannya ke Mesir, pada abad kelima Hijriyah.
 
Perayaan Maulid TIDAK PERNAH dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin yang empat, tidak pula dilakukan oleh para sahabat lainnya, bahkan tidak pula dilakukan oleh seorang pun dari kalangan umat yang hidup pada tiga abad yang utama.
 
Apakah mereka tahu keutamaan Maulid namun meninggalkannya? Ataukah memang mereka tidak tahu?
 
> Jika Anda mengatakan: “Mereka tahu keutamaan Maulid namun meninggalkannya”, maka Anda telah BERDUSTA terhadap mereka.
> Jika Anda mengatakan: “Memang mereka tidak tahu” sementara Anda mengetahui keutamaannya, maka sebenarnya Anda lebih pantas untuk tidak tahu dibandingkan mereka.” [al-Maurid al-Adzbu az-Zullal, hal 171]
 
 
.الاحتفال بالمولد بدعة أحدثها العبيديون الذين ملكوا المغرب ثم امتد ملكهم إلی مصر في القرن الخامس الهجري ، ولم يفعله أحد من الخلفاء الأربعة ولا سائر الصحابة ولا علمه أحد من أهل القرون المفضلة.
فهل علموا فضله وتركوه ؟ أم جهلوه ؟.
.فإن قلتم: علموا فضله وتركوه فقد كذبتم عليهم ، وإن قلتم جهلوه وعلمتموه أنتم فأنتم أحق بالجهل منهم .
 
 
 المورد العذب الزلال فيما انتقد على بعض المناهج الدعوية من العقائد والأعمال للعلامة أحمد بن يحيى النجمي – رحمه الله – صفحة١٧١..
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus #DaulahUbaidiyyah #syiah #Yahudi
,

SIAPA PEMBUAT TRADISI PERINGATAN MAULID NABI PERTAMA KALI?

SIAPA PEMBUAT TRADISI PERINGATAN MAULID NABI PERTAMA KALI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SIAPA PEMBUAT TRADISI PERINGATAN MAULID NABI PERTAMA KALI?
 
Lihatlah, siapa yang membuat tradisi Peringatan Maulid Nabi pertama kali:
> Apakah orang-orang saleh?
> Apakah generasi Salaf yang diridai??
 
Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Junaid berkata:
 
قال التزمنتي الشافعي عن المولد: هذا الفعل لم يقع في الصدر الأول من السلف الصالح مع تعظيمهم وحبهم له إعظاما ومحبة لا يبلغ جمعنا الواحد منهم.
 
At-Tazmanti asy-Syafi’i rahimahullah berkata tentang Maulid Nabi ﷺ:
“Perbuatan ini TIDAK PERNAH dilakukan oleh generasi pertama as-Salafush Shalih. Padahal pengagungan dan kecintaan mereka terhadap beliau (Rasulullah ﷺ) merupakan pengagungan dan kecintaan yang sangat besar. Kita semua tidak bisa mencapai seperti pengagungan dan kecintaan salah seorang di antara mereka (terhadap Rasulullah ﷺ).”
 
قال المؤرخون: أول من أحدث الاحتفال بالمولد الدولة العبيدية. وقد قال عنهم المؤرخ الذهبي: قلبوا الإسلام،وأعلنوا الرفض،وأبطنوا مذهب الإسماعيلية
 
Para ulama ahli sejarah mengatakan:
“Yang pertama kali mengadakan perkara baru perayaan Maulid adalah Daulah Ubaidiyyah.”
 
Seorang ulama ahli sejarah, al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah telah menegaskan tentang mereka:
“Mereka (Daulah Ubaidiyyah) membalik Islam, menampakkan (manhaj) Rafidhah, dan menyembunyikan madzhab Isma’iliyyah (salah satu sekte ekstrim dalam Syi’ah, pen).”
 
قال المؤرخون:أول من أحدث الاحتفال بالمولد الدولة العبيدية وقال عنهم القاضي عياض: أجمع العلماء بالقيروان أن حال بني عبيد حال المرتدين والزنادقة
 
Para ulama ahli sejarah mengatakan:
“Yang pertama kali mengadakan perkara baru perayaan Maulid adalah Daulah Ubaidiyyah.”
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata tentang mereka:
“Para ulama di negeri Qairawan telah sepakat, bahwa kondisi Bani ‘Ubaid (penguasa di Daulah Ubaidiyyah) adalah kondisi ORANG-ORANG MURTAD DAN PARA ZINDIQ.”
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan #sejarah, #pertamakali, #pencetus # Daulah Ubaidiyyah #Syiah #zindiq
,

BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI

BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI
>> Fadhilatu Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah
 
Syubhat Pertama: Pernyataan mereka, bahwa di dalam perayaan Maulid Nabi tersebut terkandung nilai pengagungan terhadap Nabi ﷺ.
 
Jawaban terhadap hal ini (syubhat ini, pen) kita katakan:
Sikap pengagungan terhadap Nabi ﷺ adalah dengan:
▪️ Menaati beliau ﷺ,
▪️ Menjalankan perintah beliau ﷺ,
▪️ Menjauhi larangan beliau ﷺ, dan
▪️ Mencintai beliau ﷺ.
 
Pengagungan terhadap beliau ﷺ bukanlah dengan amalan-amalan bidah, khurafat, dan kemaksiatan.
Dan perayaan Maulid (hari kelahiran, pen) masuk ke dalam bagian yang tercela ini, karena termasuk kemaksiatan.
 
Manusia yang paling kuat sikap pengagungannya kepada Nabi ﷺ adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy:
“Wahai sekalian kaum! Demi Allah, aku pernah berjumpa dengan kisra, kaisar, dan juga raja-raja yang lainnya, akan tetapi aku tidak pernah melihat seorang raja diagungkan oleh para pengikutnya sebagaimana Muhammad ﷺ diagungkan oleh para sahabatnya. Demi Allah, mereka tidak berani mengangkat pandangan mereka ke arahnya, sebagai bentuk pengagungan terhadap dirinya.”
 
Bersamaan dengan kuatnya sikap pengagungan para sahabat yang seperti ini, mereka tidak pernah menjadikan hari kelahiran beliau ﷺ sebagai hari ‘id dan perayaan. Kalau seandainya hal itu disyariatkan, tentu mereka tidak akan meninggalkannya.
 
Syubhat Kedua: Mereka berdalih, bahwasanya perayaan Maulid Nabi ini diamalkan oleh kebanyakan manusia di berbagai negeri.
 
Jawaban dari syubhat ini kita katakan:
Hujjah (yang bisa diterima, pen) adalah keterangan yang telah pasti datangnya dari Rasulullah ﷺ.
 
Keterangan yang telah pasti dari Rasul ﷺ adalah LARANGAN terhadap amalan-amalan bidah secara umum, dan (amalan Maulid ini) termasuk salah satunya.
 
Amalan manusia, jika menyelisihi dalil, maka BUKANLAH hujjah, walaupun banyak yang mengamalkannya.
 
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [QS al-An’am: 116]
 
Senantiasa ada, segala puji hanya bagi Allah, pada setiap masa, orang-orang yang mengingkari amalan bidah ini, dan menjelaskan kebatilannya. Maka tidak ada lagi hujjah yang tersisa bagi mereka-mereka yang masih terus melakukan bidah ini, setelah jelas kebenaran bagi mereka.
 
Di antara para ulama yang mengingkari perayaan bidah ini:
• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab “Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim”,
• Al-Imam asy-Syathiby di kitab “al-I’thisham”, Ibnu al-Hajj di “al-Madkhal”,
• Asy-Syaikh Tajuddin ‘Ali bin ‘Umar al-Lakhmy menulis pengingkaran beliau pada satu kitab tersendiri,
• Asy-Syaikh Muhammad Basyir as-Sahsuwany al-Hindy di kitab beliau “Shiyanat al-Insan”,
• Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh menulis sebuah risalah tersendiri pula,
• Samahatu Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz,
 
Dan yang selain mereka dari para ulama yang tak henti-hentinya menulis pengingkaran terhadap bidah ini setiap tahunnya di berbagai surat kabar dan majalah pada waktu dilakukannya perayaan bidah ini.
 
Syubhat Ketiga: Mereka berkata, “Sesungguhnya dengan mengadakan perayaan Maulid Nabi itu, kita menghidupkan upaya mengingat/menyebut nama Nabi ﷺ”.
 
Jawaban dari syubhat ini kita katakan:
Menghidupkan upaya untuk mengingat/menyebut (nama) Nabi ﷺ haruslah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan, seperti:
Menyebut nama (mengingat nama beliau ﷺ) dalam azan, iqamah, khutbah-khutbah, dalam shalat-shalat, ketika Tasyahhud, ketika bershalawat atas beliau ﷺ, membaca sunnah (hadis-hadis) beliau ﷺ, dan dengan mengikuti ajaran yang beliau ﷺ diutus dengannya.
 
Amalan-amalan tersebut terus-menerus terulang siang dan malam, bukan hanya sekali dalam setahun.
Syubhat Keempat: Mungkin mereka mengatakan: “Perayaan Maulid Nabi ini pertama kali yang mengadakannya adalah seorang raja yang adil dan berilmu dalam rangka untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah!
 
Jawaban dari syubhat ini, kita katakan:
• Amalan bidah tidak akan diterima dari siapapun yang mengamalkannya.
• Niat yang baik tidak bisa menjadi dalih untuk membolehkan amalan yang jelek.
• Kondisi orang yang mengamalkannya itu berilmu dan adil bukanlah jaminan, bahwa dia terjaga dari kesalahan.
 
Syubhat Kelima: Mereka mengatakan: “Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi itu termasuk jenis ‘bidah hasanah’. Karena dengan perayaan tersebut kita bisa mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat berupa diutusnya Nabi yang mulia ini!
 
Syubhat ini dijawab:
TIDAK ADA KEBAIKAN sedikit pun dalam amalan-amalan bidah. Nabi ﷺ telah bersabda:
“Barang siapa membuat-buat amalan baru di dalam agama ini yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.”
 
Kita katakan juga:
Mengapa perayaan yang terkandung padanya ungkapan rasa syukur ini, menurut persangkaan kalian, baru diadakan di akhir-akhir abad ke-6 Hijriyah?!
Dan tidak pernah diadakan oleh generasi utama umat Islam dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ at-tabi’in. Padahal mereka itu lebih kuat kecintaannya kepada Nabi ﷺ, dan lebih semangat di dalam mengamalkan kebaikan dan merealisasikan rasa syukur.
 
Apakah mungkin orang-orang yang membuat-buat bidah perayaan Maulid itu lebih terbimbing dan lebih bisa bersyukur kepada Allah daripada mereka (sahabat, tabi’in, dan atba’ at-tabi’in, pen)?!
Hal ini tidaklah mungkin, dan sekali-kali tidak!
 
Syubhat Keenam: Mereka mengatakan: “Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi ﷺ ini adalah salah satu cara untuk mengungkapkan/menampakkan rasa cinta kepada beliau ﷺ. Dan menampakkan kecintaan kepada beliau ﷺ adalah sesuatu yang disyariatkan!
 
Jawabannya, kita katakan:
Tidaklah diragukan, bahwasanya kecintaan kepada beliau ﷺ wajib atas setiap muslim, dengan kecintaan yang lebih besar daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua, dan manusia seluruhnya.
 
Namun, hal itu bukan berarti kita boleh membuat-buat amalan bidah yang tidak pernah beliau ﷺ syariatkan untuk kita.
 
Bahkan kecintaan kepada beliau ﷺ memberikan konsekuensi bagi kita untuk MENAATI dan MENGIKUTI beliau ﷺ. Karena sesungguhnya hal itulah di antara bukti terbesar kecintaan kepada beliau ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair:
 
Kalau seandainya kecintaanmu jujur, niscaya engkau akan mengikutinya.
Sesungguhnya orang yang mencintai itu kepada orang yang dicintai patuh.
 
Maka kecintaan kepada beliau ﷺ berkonsekuensi untuk:
▪️ Menghidupkan sunnah beliau ﷺ,
▪️ Menggigit sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham, dan
▪️ Menjauhi segala sesuatu yang menyelisihinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
 
Tidak diragukan lagi, bahwasanya segala sesuatu yang menyelisihi sunnah beliau ﷺ, maka itu adalah BIDAH yang TERCELA dan KEMAKSIATAN yang sangat tampak. Dan diantaranya adalah perayaan Maulid Nabi ini dan yang selainnya dari perkara-perkara bidah.
Niat yang baik bukanlah dalih untuk membolehkan al-ibtida’ (membuat-buat bidah, pen) di dalam agama, karena agama Islam dibangun di atas dua prinsip utama:
• Ikhlas, dan
• Mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi ﷺ, pen).
 
Allah ta’ala berfirman:
 
(بلى من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون) البقرة:١١٢
 
“Bahkan barang siapa yang menghadapkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedia hati.” [QS al-Baqarah: 112]
 
 
> Islamu al-wajh (Menghadapkan wajah, pen) adalah ikhlas kepada Allah, dan
> Al-ihsan adalah al- mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah ﷺ dan mencocoki as-sunnah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi #bantahan, #syubhat, #kerancuan, #hukum #rayakan

BIDAHNYA PERAYAAN MAULID NABI

BIDAHNYA PERAYAAN MAULID NABI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BIDAHNYA PERAYAAN MAULID NABI

 
Al-Imam Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdil Halim Ibnu Taimiyyah berkata tentang perayaan Maulid:
 
“Perayaan tersebut TIDAK dilakukan oleh Salaf, padahal (pada waktu itu, pen) ada faktor-faktor pendorongnya, dan tidak ada penghalang (yang menghalangi untuk bisa melakukan itu), kalau seandainya (Maulid) itu baik.
 
Kalau seandainya perayaan itu merupakan kebaikan murni, atau kebaikan yang rajih (lebih banyak manfaatnya) niscaya Salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak atasnya daripada kita. Karena mereka (para Salaf tersebut) memiliki kecintaan dan pengagungan terhadap Rasulullah ﷺ yang jauh lebih besar daripada kita. Mereka lebih bersemangat terhadap kebaikan. Terbukti kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadapnya (Nabi ﷺ) terwujud dalam:
• Sikap MUTABA’AH (mengikuti sunnah-sunnah) terhadap beliau ﷺ,
• Ketaatan kepada beliau ﷺ,
• Mengikuti perintah-perintah beliau ﷺ, dan
• Menghidupkan sunnah-sunnah beliau ﷺ, baik yang zhahir (tampak) maupun batin (tidak tampak),
• Juga menyebarkan (mendakwahkan) ajaran yang beliau ﷺ diutus dengannya, serta berjihad (demi menegakkan) itu semua dengan hati, tangan, dan lisan.
 
Sesungguhnya ini adalah jalan As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta para ulama yang mengikuti mereka dengan baik setelahnya.”
 
 
“فإن هذا لم يفعله السَّلَفُ، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرًا. ولو كان هذا خيرًا محضا، أو راجحًا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمًا له منا، وهم على الخير أحرص. وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطنًا وظاهرًا، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان. فإن هذه طريقة السابقين الأولين، من المهاجرين والأنصار، والذين اتبعوهم بإحسان”
 
 
Sumber: [Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim 2/123-124]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bidah, #maulidnabi, #perayaanmaulidnabi, #RabiulAwal #fatwaulama #mawlid #mawleed #ulangtahunnabi

HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH

HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah
 
HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH
 
Terdapat sejumlah pertanyaan seputar makanan-makanan yang berasal dari acara-acara bid’ah atau yang tidak disyariatkan. Berikut beberapa fatwa ulama tentang hal tersebut:
 
Guru kami, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, pernah ditanya:
“Apakah boleh memakan makanan Ahlul Bid’ah? Perlu diketahui bahwa mereka membuat makanan ini untuk bid’ah tersebut, seperti makanan untuk Maulid Nabi.
 
Beliau menjawab:
“Yang wajib adalah mengingatkan mereka untuk menjauhi bid’ah-bid’ah dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Terhadap seorang manusia, (kita mengingatkan) agar tidak memakan makanan yang dibuat untuk perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.” [Pelajaran Sunan Abu Dawud, kaset no. 137]
 
Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah 22/270-271 yang ditandatangani oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan Syaikh Bakr Abu Zaid, disebutkan tanya-jawab sebagai berikut:
 
“Apa hukum memakan makanan yang dipersiapkan untuk acara-acara tertentu atau suatu kebiasaan, seperti memakan makanan musim semi yang siapkan dengan tepung putih dan tanaman ketika musim semi telah tiba?”
 
Jawaban:
Apabila makanan-makanan ini tidak berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir, tetapi hanya kebiasaan-kebiasaan untuk menganekaragamkan makanan seiring pergantian musim, tidak masalah dalam memakannya, karena asal dalam kebiasaan adalah pembolehan.”
 
Dari jawaban di atas tampak, bahwa pensyaratan pembolehan adalah bila TIDAK berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir.
 
Risalah Ilmiyah An-Nashihah, vol. 09 Th. 1/1426 H/2005 M, hal. 2-3, memuat tanya-jawab berikut:
 
Pertanyaan:
Di negeri kami sebagian orang mengadakan perayaan Maulid dan perayaan-perayaan bid’ah lainnya. Kemudian mereka mengirim sebagian makanan dari perayaan-perayaan tersebut ke rumah kami. Apakah kami boleh memakannya?
 
Jawaban:
Mufti Umum Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu Asy-Syaikh, pada malam Jum’at, 8 Sya’ban 1425 H, bertepatan dengan 29 September 2004, menjawab sebagai berikut:
“Wallahu a’lam. Tentang acara-acara yang diselenggarakan untuk perkara-perkara bid’ah, TIDAKLAH BOLEH memakan (makanan) pada (acara) tersebut, karena makanan tersebut diletakkan di atas hal yang tidak disyariatkan.”
 
Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhary, pada sore 5 Syawal 1425 H, bertepatan dengan 17 November 2004, menjawab sebagai berikut:
“Makanan perayaan-perayaan Maulid adalah bid’ah dalam agama, menurut (pendapat) yang benar, dan menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ dan para shahabat beliau. Nabi ﷺ bersabda sebagaimana dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim):
 
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 
“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami, yang tidak termasuk dari (agama) tersebut, (perkara) itu tertolak.”
 
Tentunya manusia tidak hanya terbatas dengan mengadakan Maulid-Maulid, bid’ah-bid’ah seperti perayaan Maulid ini, perayaan-perayaan lain yang berkaitan dengan hal seperti ini, bahkan mereka juga menambahnya dengan sembelihan-sembelihan dan berbagai jenis makanan. Oleh karena itu, kiriman makanan tersebut kepada manusia, menurutku, TIDAKLAH pantas untuk diambil dan dimakan, karena ada bentuk menolong Ahlil Bid’ah ‘pelaku bid’ah’. Jika seseorang melihat seorang Sunni (pengikut sunnah), atau selainnya mengambil atau memakan makanan seperti itu dan membolehkan hal seperti ini untuk dirinya, manusia akan menjadi bingung, sehingga mereka tidak mengetahui yang haq dari yang batil. Maka manusia seharusnya diberitahu, bahwa hal seperti ini TIDAKLAH BOLEH, dan makanan-makanan seperti itu TIDAKLAH BOLEH. Juga bahwa TIDAKLAH pantas menghidupkan bentuk (perayaan) seperti ini. Jelaskanlah kepada mereka, ingatkanlah mereka, dan buatlah mereka takut terhadap Allah Jalla wa ‘Azza.
 
Sesungguhnya, makanan seperti ini seharusnya ditinggalkan berdasarkan atsar Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang maulanya (budaknya) menghadiahkan makanan kepadanya kemudian berkata: ‘Makanan ini berasal dari perdukunan yang saya lakukan pada masa jahiliyah.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya, lalu mengeluarkan makanan tersebut dari perutnya, seraya berkata: ‘Demi Allah, andaikata saya tahu bahwa ruhku akan keluar bersama makanan tersebut, niscaya saya akan mengeluarkan (ruhku).’ [1]
 
Hal ini menunjukkan kesempurnaan wara’ beliau radhiyallahu ‘anhu. Maka, dibangun di atas dasar nash ini dan selainnya, seseorang TIDAKLAH pantas membantu orang-orang tersebut, serta tidak boleh memakan makanannya. Tetapi meninggalkan (makanan) itu. Itulah yang terbaik.”
 
Demikian fatwa-fatwa ulama kita yang TIDAK memperbolehkan.
 
Dalam catatan kaki Hasyiyah Fathul Majid, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz meluruskan pendapat Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqiy. Di antara penjelasan beliau adalah:
“… akan tetapi, bila makanan tersebut berasal dari daging sembelihan kaum musyrikin, lemak, atau kuah (daging) itu, hal tersebut adalah HARAM, karena sembelihan (kaum musyrikin) berada pada hukum bangkai, sehingga menjadi haram dan menajisi makanan yang bercampur dengannya. Berbeda dengan roti dan yang semisalnya berupa hal-hal yang tidak bercampur dengan suatu sembelihan kaum musyrikin apapun, hal tersebut adalah halal bagi siapa saja yang mengambilnya ….”
 
 
Catatan Kaki:
[1] Dalam konteks riwayat Al-Bukhary no. 3842 dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, Aisyah bertutur:
 
كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخَرِّجُ لَهُ الخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الكِهَانَةَ، إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ، فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ
 
“Adalah Abu Bakr memiliki seorang budak yang memberi setoran kepadanya, dan Abu Bakr makan dari setoran tersebut. Pada suatu hari budak itu datang membawa sesuatu, dan Abu Bakr memakan (sesuatu) itu. Budak tersebut berkata kepadanya: ‘Tahukah engkau, apa ini?’ Abu Bakr balik bertanya: ‘Apa ini?’ (Budak) itu menjawab: ‘Dahulu saya melakukan perdukunan pada seseorang di masa jahiliyah. Saya sebenarnya tidak pandai melakukan perdukunan tersebut, tetapi saya menipunya. Lalu, ia memberi (makanan) tersebut kepadaku, dan inilah makanan yang telah engkau makan.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.”
 
 
 
 
Catatan Tambahan:
Jadi barang siapa yang diundang untuk acara perayaan bid’ah tersebut dan mengetahui, atau besar perkiraannya, bahwa undangan tersebut adalah dalam rangka perayaan kebid’ahan, maka TIDAK disyariatkan untuk menghadirinya, karena kehadirannya termasuk mengakui kemungkaran dan mendukungnya. Allah ta’ala berfirman:
 
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ) المائدة/2
 
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al Maidah: 2]

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

SEKILAS TENTANG KITAB BARZANJI DAN KEBERADAANNYA DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

SEKILAS TENTANG KITAB BARZANJI DAN KEBERADAANNYA DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah
 

SEKILAS TENTANG KITAB BARZANJI DAN KEBERADAANNYA DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

Keberadaan Kitab Barzanji di Kalangan Kaum Muslimin
 
Kitab ‘Iqdul Jauhar Fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar’ atau yang terkenal dengan nama Maulid Barzanji, adalah sebuah kitab yang sangat populer di kalangan dunia Islam, demikian juga di negara kita Indonesia, terutama di kalangan para santri dan pondok-pondok pesantren.
 
Maka tidak mengherankan jika di setiap rumah mereka terdapat kitab Barzanji ini. Bahkan sebagian di antara mereka sudah menghafalnya. Sudah menjadi ritual di antara mereka untuk membacanya setiap malam Senin, karena meyakini adanya keutamaan dalam membacanya pada malam hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Ada juga yang membacanya setiap malam Jumat karena mengharap keberkahan malam hari tersebut. Ada juga yang membacanya setiap bulan sekali, dan ada juga pembacaan Maulid Barzanji ini pada hari menjelang kelahiran sang bayi, atau pada hari dicukur rambutnya. Sudah kita ketahui, bahwa mereka beramai-ramai membacanya dengan berjamaah, kemudian berdiri ketika dibacakan detik-detik kelahiran beliau ﷺ. Hal ini mereka lakukan pada perayaan Maulid beliau ﷺ pada 12 Rabi’ul Awwal. Mereka meyakini, bahwa dengan membaca Barzanji ini mereka telah mengenang dan memuliakan Nabi Muhammad ﷺ, sehingga mereka akan memperoleh ketentraman, kedamaian dan keberkahan yang melimpah. Demikianlah cara mereka untuk mewujudkan cinta sejati mereka kepada Rasulullah ﷺ.
 
Kandungan Kitab Barzanji
 
Kitab ini mengandung sejarah dan perjalanan hidup Rasulullah ﷺ secara singkat, mulai sejak beliau ﷺ lahir, diangkat menjadi rasul, peristiwa hijrah dan pada peperangan, hingga wafat beliau ﷺ. Namun dalam penyajiannya dipenuhi dengan lafal-lafal ghuluw dan pujian-pujian yang melampaui batas kepada beliau ﷺ, terlebih ketika dibacakan masa-masa menjelang kelahiran beliau ﷺ. Disebutkan, bahwasanya binatang melata milik orang Quraisy sibuk memperbincangkan kelahiran beliau ﷺ dengan bahasa Arab yang fasih’, bahwa Asiah, Maryam binti Imran dan bidadari-bidadari dari Surga mendatangi ibu Nabi ﷺ yakni Aminah menjelang kelahiran beliau. Tanaman yang dulu kering menjadi tumbuh dan bersemi kembali setelah beliau ﷺ lahir, dan masih banyak lagi kemungkaran dalan Barzanji ini. Bahkan Rasulullah ﷺ diberikan sebagian hak Rububiyah yang tidak layak diberikan kecuali hanya kepada Allah ﷻ semata. Semua ini muncul karena sikap ghuluw atau ifrath dari kelompok yang mengaku cinta kepada Rasulullah ﷺ. Padahal, sikap ghuluw adalah sikap yang tercela dalam agama Islam dan merupakan sebab penyimpangan dan jauhnya kaum Muslimin dari kebenaran yang sebelumnya telah menghancurkan umat pendahulu kita. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ
 
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”. [An-Nisa/4 : 171]
 
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِيَّاكُمْ وَاْلغُلُوُّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اْلغُلُوُّ
 
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan, karena orang-orang sebelum kalian hancur binasa karena sikap berlebihan”. [HR Muslim]
 
Kitab Barzanji ini serta kitab-kitab yang semisalnya seperti Maulid Diba’i dan al Burdah, dijadikan pegangan oleh para Penyembah Kubur dan pemuja para wali dan Habib dalam rangka mengenang dan membela pribadi Rasulullah ﷺ yang mulia. Hal ini telah dikatakan oleh pendahulu mereka, seorang tokoh Quburi (Pengagum Kubur) yang hidup semasa dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu Nuruddin Ali bin Ya’kub yang terkenal dengan nama al Bakri (673-724 H). Dia berkata: “Aku sungguh khawatir atas mayoritas penduduk negeri ini (keburukan akan menimpa mereka), dengan sebab mereka enggan untuk membela Rasulullah ﷺ“. Inilah dalih yang menjadi sandaran untuk membenarkan kebid’ahan mereka.
 
Sedangkan pernyataan ini telah dikupas dan dibantah oleh Syaikhul Islam dalam kitabnya Al Istighatsah Fi Ar-Radi ‘Alal Bakri. Begitulah dalih mereka sejak dahulu hingga sekarang dalam mengadakan acara Maulid dan membaca Barzanji atau semisalnya. Mereka membela pribadi Rasulullah ﷺ dengan menganggap, bahwa kaum Wahabi tidak cinta kepada Rasulullah ﷺ. Jelas hal ini merupakan KEDUSTAAN YANG BESAR atas Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, karena Ahlus sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah ﷺ, namun kecintaan mereka berada di antara ifrath (ghuluw) dan tafrith (meremehkan).
 
Dalam buku Maulid Barzanji ini tidak dijumpai satu ayat pun dari Alquran dan juga tidak terdapat satu kalimat pun dari sabda Rasulullah ﷺ. Yang ada hanyalah sirah atau sejarah perjalanan hidup beliau ﷺ yang tersaji dalam untaian-untaian puisi sebagai sanjungan kepada Rasulullah ﷺ.
 
Kalau kita renungkan mengapa kaum Muslimin negeri kita sangat cinta membaca kitab Barzanji ini, mungkin di antara jawabannya adalah, bahwa mereka hanya mengikuti tradisi dari pendahulu-pendahulu mereka, sehingga mereka taklid buta dalam hal ini.
 
Padahal mencintai Rasulullah ﷺ BUKAN dengan membaca kitab Barzanji, tetapi dengan mewujudkan Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah” dengan konsekuensi membenarkan beritanya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah Azza wa Jalla melainkan dengan yang disyariatkan beliau ﷺ. Inilah cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ, yakni dengan merealisasikan mutaba’ah (keteladanan) kepada beliau ﷺ yang mulia, dan menerapkankan Sunnah beliau ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
 
Kitab Maulid Barzanji ternyata dipenuhi dengan kemungkaran akidah di dalamnya. Dan tidak selayaknya kaum Muslimin asyik membacanya dalam keadaan apapun, apalagi sebagian besar di antara mereka tidak memahami apa yang mereka baca.
 
Perayaan Maulid Nabi ﷺ tidak disyariatkan dalam agama kita, bahkan termasuk perbuatan bid’ah. Maka ajakan kami hendaknya kaum Muslimin semuanya kembali kepada ajaran Islam yang murni dengan berpegang kepada Alquran dan Sunnah di atas pemahaman Salaful Ummah dan istiqamah hingga wafat menjemput kita.
 
Semoga Allah Azza wa Jalla rida terhadap kita.
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat