Posts

,

DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI

DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
DIMINTAKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI
Di Antara Keutamaan Ilmu Agama
 
Jika kita mengetahui keutamaan ilmu ini, pasti akan semakin semangat untuk belajar Islam. Jika keutamaannya semakin membuat seseorang dekat dengan Allah, diridai malaikat dan membuat penduduk langit, juga bumi tunduk, maka itu sudah jadi keutamaan yang luar biasa.
 
Dari Katsir bin Qois, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus. Lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul ﷺ (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadis yang telah sampai padauk, di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadis tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi ﷺbersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju Surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda rida pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan Dinar dan tidak pula Dirham. Barang siapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” [HR. Abu Daud no. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih).
 
Dan sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim:
“Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Rabb semesta alam), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan Akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu, dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya.” [Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104]
 
Dari Mu’awiyah, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
 
“Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” [HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).
 
Yang dimaksud fakih dalam hadis bukanlah hanya mengetahui hukum syari, tetapi lebih dari itu. Dikatakan fakih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syariat Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi, hal. 21.
 
Semoga yang share juga mendapat keutamaan yang disebut hadis di atas. Aamiin.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#dimintakanampunolehpenduduklangitdanbumi #penduduklangitdanbumimintakanampun #diantarakeutamaanilmuagama #keutamaanilmuagama #fadhilahilmuagama #ilmuagamasyari #artifakih #artifaqih #fakih #faqih #artinya #maksudnya #maknanya

, ,

LARANGAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH TAALA

LARANGAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH TAALA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LARANGAN BERPUTUS ASA ATAS RAHMAT ALLAH TAALA
 
Bismillah. Washsholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.
 
Sebagai seorang Muslim kita tentu memahami, bahwa berputus asa merupakan hal yang tercela dalam agama Islam yang mulia ini. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah Ar Rahman merupakan salah satu tanda kebinasaan. Sebagaimana Allah subhanahu wa taala berfirman dalam Alquran, mengisahkan perkataan Nabi Yaqub ‘alaihissalam kepada putra-putranya:
 
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
 
Artinya: “Wahai anak-anakku, pergilah kalian dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” [QS. Yusuf: 87]
 
Putus asa dari rahmat Allah taala termasuk dosa besar. Allah taala berfirman:
 
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
 
“Ibrahim berkata : ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.’”[QS. Al Hijr: 56]
 
Dan firman-Nya:
 
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
 
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [QS. Yusuf : 87]
 
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu memasukkan berputus asa dari rahmat Allah sebagai salah satu dosa besar yang letaknya di hati. Setelah membawakan ayat di atas sebagai dalil, beliau menambahkan dengan riwayat dari Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (yang artinya), Nabi ﷺ ditanya: “’Apa sajakah yang termasuk dosa-dosa besar?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Mempersekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah.’” [l Kaba’ir. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Muhaqqiq: Isma’il Al Anshory. (e-book version via www.waqfeya.net)]
 
Maka berputus asa dari rahmat Allah dan merasa jauh dari rahmat-Nya merupakan dosa besar. Kewajiban seorang manusia adalah selalu berbaik sangka terhadap Rabb-nya:
  • Jika dia meminta kepada Allah, maka dia selalu berprasangka baik, bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya.
  • Jika dia beribadah sesuai dengan syariat dia selalu optimis, bahwa amalannya akan diterima,dan
  • Jika dia ditimpa suatu kesusahan dia tetap berprasangka baik, bahwa Allah akan menghilangkan kesusahan tersebut.
Islam senantiasa mengajarkan optimisme dalam segala hal yang bermanfaat, baik bagi dunia maupun Akhirat bagi pemeluknya. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi ﷺ:
 
احْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ
 
Artinya: “Bersemangatlah dalam apa yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah.” [HR. Muslim]
 
Setelah kita mengetahui hal ini, maka JANGANLAH kita berputus asa ketika ditimpa sakit atau bencana. Apalagi jika kita mencari solusi yang sebenarnya polusi, seperti mendatangi dukun (untuk menyembuhkan penyakit), atau melakukan ritual-ritual kufur atau syirik lain!
 
Maka ketika DIRI KITA terjatuh kedalam maksiat, JANGANLAH KITA BERPUTUS ASA dari rahmat Allah. Bertobatlah kepada-Nya dengan BENAR, karena Allah ﷻ PASTI mengampuni orang-orang yang bertobat (namun apakah tobat yang kita lakukan sudah benar?!)
 
Di antara orang yang PUTUS ASA terhadap rahmat-Nya adalah ia merasa, bahwa dosa-dosa (yang sangat banyak, dan sangat besar). “Sepertinya” sulit baginya untuk mendapatkan pengampunan Allah. Ini keliru. Padahal Allah Maha Pengampun lagi Penerima Tobatnya orang-orang yang bertobat.
 
Demikian pula terhadap orang lain yang jatuh kepada maksiat. Janganlah menjadikannya putus asa dari rahmat Allah (meskipun kita pun tetap selalu mengingatkannya dari azab-Nya). Kita pun ingatkan dirinya (sebagaimana kita mengingatkan diri kita sendiri) tentang Hari Akhir, dsb. Yang semoga dengan hal itu, ia meninggalkan perbuatan jeleknya, dan bertobat kepada-Nya.
 
Janganlah kita sampai PUTUS ASA dari rahmat Allah kepadanya, dengan berkata: “Segala usaha sudah aku kerahkan. Sepertinya ia tidak mungkin untuk bertobat.” Ini adalah KEPUTUS-ASAAN. Jika BENAR bahwa kita mencintainya, maka kita akan berusaha dengan keras agar ia dapat bertobat, tidak gampang menyerah. Ini membuktikan KEPUTUSASAAN kita akan rahmat Allah terhadap dirinya.
 
Jangan pula kita SAMPAI berkata: “Temanku (–yang masih Muslim–) ini sepertinya AHLI NERAKA dan Allah tidak akan mengampuninya.”
 
Ini perkataan yang berbahaya.
Dari mana kita tahu, bahwa dia Ahli Neraka?
Dari mana kita tahu, bahwa Allah tidak mengampuninya?
Apakah kita mendapatkan WAHYU dari ALLAH yang mengabarkan demikian?!
Benar, PERBUATANnya tersebut diancam Neraka.
Benar, bahwa Allah akan mengazab orang YANG BERBUAT demikian.
Tapi apakah hal ini PASTI berlaku pada SETIAP ORANG?
Tidak demikian……
 
– Bisa jadi Allah memberikan hidayah kepada-Nya sebelum ia wafat, sehingga ia bertobat dan ia mati dalam keadaan SELURUH DOSANYA ALLAH AMPUNI. (inilah yang seharusnya senantiasa tertanam dalam diri kita terhadap saudara kita, sehingga kita terus berusaha mengingatkannya dan menasihatinya DAN TIDAK BERPUTUS ASA)
 
– KALAUPUN dia wafat dalam keadaan tidak bertobat, bukankah Allah berfirman:
 
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia MENGAMPUNI SEGALA DOSA SELAIN dari (syirik) itu, BAGI SIAPA YANG DIKEHENDAKI-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [QS. An-Nisaa: 48]
 
>> Bukankah SECARA ZHAHIR dia mati tanpa membawa dosa kesyirikan?!
>> Bukankah BISA JADI, bahwa dia termasuk dalam ayat di atas “Bagi siapa yang dikehendaki-Nya”?!
>> Maka jangan sampai lisan kita berkata perkataan yang demikian ini tentang teman kita.
 
Ketahuilah, DAHULU ada dua orang dari Bani Israil. Yang satunya orang saleh dan yang satunya lagi suka maksiat. Si orang saleh ini senantiasa menasihati si tukang maksiat. Terus ia lakukan demikian, tapi ia tidak melihat adanya perubahan pada diri temannya yang suka maksiat ini. Kemudian dengan marah ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu…”
Maka ketika di Hari Kiamat Allah mengumpulkan mereka berdua, dan berfirman:
 
مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
“Siapakah yang bersumpah atas (nama)Ku agar Aku tidak mengampuni si Fulan ? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapus semua pahala amalmu.” [HR al-Bukhari]
 
Maka BERHATI-HATILAH.
  • Jangan sampai BANYAKNYA MAKSIAT YANG KITA PERBUAT juga menjadikan kita PUTUS ASA dari rahmat-Nya.
  • Jangan sampai pula RASA TAKUT kita terhadap azab-Nya menjadikan kita PUTUS ASA akan rahmat-Nya.
  • Jangan sampai pula RASA HARAP kita terhadap rahmat-Nya, menjadikan kita malah MERASA AMAN dari azab-Nya.
  • Akan tetapi, takutlah akan azab-Nya, dan jangan putus asa dari rahmat-Nya.
 
Allah taala berfirman:
 
فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
 
Katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”. [QS. Al-An’aam: 147]
 
 
Sumber:
100 Pelajaran dari Kitab Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#laranganberputusasaatasrahmatAllah #dilarangberputusasaatasrahmatAllah #putusasadarirahmatAllah #janganputusasadarirahmatAllah #arti #makna #maksudnya #apamaksudnya

, ,

JANGAN HERAN, SETAN MEMANG TIDAK MAU DENGAR AZAN

JANGAN HERAN, SETAN MEMANG TIDAK MAU DENGAR AZAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#Mutiara_Sunnah

JANGAN HERAN, SETAN MEMANG TIDAK MAU DENGAR AZAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ ، وَلَهُ ضُرَاطٌ ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila azan sholat dikumandangkan, maka setan akan lari, sambil terkentut-kentut, agar dia tidak mendengar azan…” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Apa yang Dimaksud Setan Kentut?

Para ulama menyebutkan kemungkinan dua makna:

1. Makna secara hakiki, yaitu setan benar-benar kentut.

  1. Makna kiasan, yaitu setan sangat takut mendengar azan, lalu dia menyibukkan dirinya dengan suara lain, agar tidak mendengar azan. [Lihat Fathul Bari, 2/406]

Apabila mendengar azan saja setan sangat benci, apalagi melakukan sholat. Sudah tentu setan tidak sholat, dan akan selalu mengajak para pengikutnya untuk tidak sholat. Dan yang sholat akan diganggu, agar sholatnya buruk. Jangan jadi setan atau pun pengikutnya…!

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/796264163856401:0

, ,

LARANGAN MENIRU ORANG KAFIR DALAM PERKARA YANG TIDAK BERMANFAAT

LARANGAN MENIRU ORANG KAFIR DALAM PERKARA YANG TIDAK BERMANFAAT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DakwahSunnah
 
LARANGAN MENIRU ORANG KAFIR DALAM PERKARA YANG TIDAK BERMANFAAT
>> Biarkan kaum kafir dan munafik mengirim bunga, karena memang itu adalah tradisi mereka.
>> Yang terbaik bagi kaum Mukmin adalah mengirimkan doa kebaikan untuk pemimpin dan juga saudara-saudara Muslim kita.
 
Tahukah Anda???
Bahwa saling menghadiahkan bunga pada hari-hari perayaan atau kesempatan istimewa lainnya adalah tradisi orang kafir? Tradisi ini kemudian diserap dan dipraktikkan oleh sebagian kaum Muslimin yang memiliki hubungan erat dengan orang-orang kafir, karena memandang perbuatan ini merupakan salah satu bentuk kebaikan. Perbuatan ini digalakkan oleh kebanyakan orang, padahal hal tersebut tidak memiliki sandaran dalam agama. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap berlebih-lebihan dan sikap mengekor kaum kafir.
 
Tradisi yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin ini tercakup dalam larangan Nabi ﷺ agar tidak mengekor kebudayaan khas kaum kafir, sebagaimana yang termaktub dalam sabda beliau ﷺ:
 
ومن تشبه بقوم فهو منهم
 
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” [HR. Ahmad nomor 5114, 5115 dan 5667; Sa’id bin Manshur dalam Sunannya nomor 2370; Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya: 19401, 19437 dan 33010. Al ‘Allamah Al Albani menghasankan hadits ini dalam Al Irwa’ 5/109].
 
Ibnu ‘Abdil Barr Al Maliki rahimahullah mengatakan: “(Maksudnya orang yang menyerupai suatu kaum) akan dikumpulkan bersama mereka di Hari Kiamat kelak. Dan bentuk penyerupaan bisa dengan meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum tersebut, atau dengan meniru rupa mereka.” [At Tamhid lima fil Muwaththa minal Ma’ani wal Asaanid 6/80].
 
 
Sumber: [Konsultasisyariah.com] dan [Bimbingan Islam]
,

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraSunnah

DIGIGIT ULAR DI LUBANG YANG SAMA DUA KALI

Seorang Mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” [HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998]

Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “Yuldagu” ada dua cara:

Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang Mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat, bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (Akhirat).

Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. [Syarh Shahih Muslim, 12: 104]

Ibnu Hajar berkata: “Seorang Muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” [Fath Al-Bari, 10: 530]

Kesimpulannya, Muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
  • Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12197-digigit-ular-di-lubang-yang-sama-dua-kali.html

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

MELAGUKAN ALQURAN, BOLEHKAH?

Bolehkah melagukan bacaan Alquran? Bagaimana keutamaannya?

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan judul bab “Sunnahnya Memerindah Suara Ketika Membaca Alquran Dan Meminta Orang Lain Membacanya Karena Suaranya Yang Indah Dan Mendengarkannya.”

Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ

“Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu, seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya, melantunkan Alquran dan mengeraskannya.” [HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792]

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).

Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Abu Musa:

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya engkau melihatku, ketika aku mendengarkan bacaan Alquranmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud” (HR. Muslim no. 793).

Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (Wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau, atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.” [HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464]

Beberapa faidah yang diambil dari beberapa hadis di atas:

1- Dibolehkan memerindah suara bacaan Alquran, dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memerindah suara bacaan Alquran itu disunnahkan.

2- Memerbagus bacaan Alquran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak. Beda bila yang dibacakan yang lain.

Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.

3- Diharamkan Alquran itu dilagukan, sehingga keluar dari kaidah dan aturan Tajwid, atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Alquran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Bentuk seperti itu diharamkan.

4- Termasuk bid’ah kala membaca Alquran, adalah membacanya dengan nada musik.

5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Alquran yang sedang dibaca dan diam kala itu.

6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat Qishorul mufashol seperti surat At Tiin.

Apa yang Dimaksud “Yataghonna bil Quran”?

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga kebanyakan ulama memaknakan dengan:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Namun bisa pula makna ‘Yataghonna bil Quran’ adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Makna lain pula adalah menjaherkan Alquran. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6: 71.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.
  • Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10681-melagukan-Alquran-bolehkah.html

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

ADAKAH ANJURAN MELAGUKAN BACAAN ALQURAN?

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud melagukan bacaan Alquran? Katanya ada hadis yang menganjurkan melagukan Alquran.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Yang dimaksud melagukan bacaan Alquran adalah tahsin al-qiraah, memerindah bacaan Alquran. Bukan membaca dengan meniru lagu. (Baca: Membaca Alquran dengan Langgam Jawa: https://konsultasisyariah.com/24837-membaca-Alquran-dengan-langgam-jawa.html)

Ada beberapa hadis yang menganjurkan untuk memerindah bacaan Alquran. Di antaranya:

Hadis dari al-Barra bin Azib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berpesan:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

Hiasilah Alquran dengan suara kalian. [HR. Ahmad 18994, Nasai 1024, dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

Kemudian hadis dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud 1469, Ahmad 1512 dan diShahihkan Syuaib al-Arnauth].

Ada beberapa keterangan yang disampaikan para ulama tentang makna ‘Yataghanna bil Qur’an’. Di antaranya adalah memerindah bacaan Alquran. Karena itu, hadis di atas dijadikan dalil anjuran memerbagus suara ketika membaca Alquran.

Imam an-Nawawi mengatakan:

أجمع العلماء رضي الله عنهم من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن

“Para ulama Salaf maupun generasi setelahnya di kalangan para sahabat maupun tabiin, dan para ulama dari berbagai negeri mereka sepakat, dianjurkannya memerindah bacaan Alquran.” [Aat-Tibyan, hlm. 109]

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan makna hadis kedua:

قال جمهور العلماء معنى لم يتغن لم يحسن صوته،… قال العلماء رحمهم الله فيستحب تحسين الصوت بالقراءة ترتيبها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفاه فهو حرام

Mayoritas ulama mengatakan: Makna ‘Siapa yang tidak Yataghanna bil Quran’ adalah siapa yang tidak memerindah suaranya dalam membaca Alquran. Para ulama juga mengatakan: Dianjurkan memerindah bacaan Alquran dan membacanya dengan urut, selama tidak sampai keluar dari batasan cara baca yang benar. Jika berlebihan sampai menambahi huruf atau menyembunyikan sebagian huruf, hukumnya haram. [At-Tibyan, hlm. 110]

Konsekuensi melagukan Alquran dengan dalam arti mengikuti irama lagu, bisa dipastikan dia akan memanjangkan bacaan atau menambahkan huruf, atau membuat samar sebagian huruf, karena tempo nada yang mengharuskan demikian. Dan ini semua termasuk perbuatan haram, sebagaimana keterangan an-Nawawi.

Makna yang benar untuk melagukan Alquran adalah melantunkannya dengan suara indah, membuat orang bisa lebih khusyu. Diistilahkan Imam as-Syafii dengan at-Tahazun (membuat sedih hati). [Sebagaimana dinyatakan al-Hafidz dalam Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari (9/70)].

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24847-adakah-anjuran-melagukan-bacaan-Alquran.html

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Yang Tidak Melagukan Alquran, Tercelakah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BacaanAlquran

YANG TIDAK MELAGUKAN ALQURAN, TERCELAKAH?

Kalau tidak membaguskan bacaan Alquran atau tidak melagukannya, apakah tercela? Apa syaratnya jika boleh melagukan Alquran?

Hadis berikut barangkali bisa jadi renungan. Dari Abu Lubababh Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” [HR. Abu Daud no. 1469 dan Ahmad 1: 175. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Kata Imam Nawawi, bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan ‘Yataghonna bil Qur’an’ adalah:

يُحَسِّن صَوْته بِهِ

“Memerindah suara ketika membaca Alquran.”

Sedangkan menurut Sufyan bin ‘Uyainah, yang dimaksud adalah mencukupkan diri dengan Alquran. Ada yang katakan pula, yang dimaksud adalah mencukupkan Alquran dari manusia. Ada pendapat lain pula yang menyatakan, mencukupkan diri dengan Alquran dari hadis dan berbagai kitab lainnya.

Al Qadhi ‘Iyadh menyatakan, bahwa sebenarnya ada dua pendapat yang dinukil dari Ibnu ‘Uyainah.

Adapun ulama Syafi’i dan yang sependapat dengannya menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah memerindah dan memerbagus bacaan Alquran. Ulama Syafi’iyah berdalil dengan hadis lainnya:

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Baguskanlah suara bacaan Alquran kalian.” [HR. Abu Daud no. 1468 dan An Nasai no. 1016. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih].

Al Harawi menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Yataghonna bil Quran” adalah menjaherkan (mengeraskan) bacaannya.

Abu Ja’far Ath Thobari sendiri mengingkari pendapat yang menyatakan, bahwa yang dimaksud Yataghonna bil Quran adalah mencukupkan diri. Ath Thobari tidak menyetujuinya, karena bertentangan dengan makna bahasa dan maknanya itu sendiri.

Ada perbedaan pula dalam pemaknaan hadis lainnya: “Barang siapa yang tidak memerindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari golongan kami.” Pendapat yang lebih kuat, yang dimaksud “Yataghonna bil Qur’an” adalah membaguskan suara bacaan Alquran. Riwayat lain menguatkan maksud tersebut, “Yataghonna bil qur’an adalah mengeraskannya.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 71).

Adapun yang dimaksud dengan tidak termasuk golongan kami ,orang yang tidak memerindah bacaan Alquran adalah ditafsirkan dengan dua makna:

  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran
  • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak mencukupkan dengan Alquran dari selainnya. [‘Aunul Ma’bud, 4: 271].

Kalau kita lihat dari pendapat yang dikuatkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, yang dimaksud adalah tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak membaguskan bacaan Alquran.

Namun aturan dalam melagukan Alquran harus memenuhi syarat berikut:

  • Tidak dilagukan dengan keluar dari kaidah dan aturan Tajwid.
  • Huruf yang dibaca tetap harus jelas sesuai yang diperintahkan.
  • Tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. [Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 472]

Wallahu a’lam. Wabillahit taufiq was sadaad.

 

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
  • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Abu ‘Abdirrahman Saroful Haqq Muhammad Asyrof Ash Shidiqi Al ‘Azhim Abadi, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

 

Sumber: https://rumaysho.com/10711-yang-tidak-melagukan-Alquran-tercelakah.html

,

SIAPAKAH WALI ALLAH?

SIAPAKAH WALI ALLAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AkidahManhaj

SIAPAKAH WALI ALLAH?

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Rasulullah ﷺ menyebutkan, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَنْ آ ذَى لي وَليِّاًفَقَدْ اسْتَحَقَّ مُحَا رَبَتِي

“Barang siapa yang menyakiti wali-Ku, ia berhak mendapatkan permusuhan-Ku.” [HR Abu Ya’la Al-Musili, 14:372]

Para wali Allah subhanahu wa ta’ala adalah kaum Mukminin yang selalu taat kepada perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala, dan memiliki komitmen dengan sunah-sunah Rasulullah ﷺ.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud dengan wali Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang yang berilmu tentang Allah subhanahu wa ta’ala, selalu menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.”

 

Sumber: http://kisahmuslim.com/1379-masuk-surga-karena-membuang-duri.html

 

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama
#DakwahTauhid

MENGAPA SURAT AL-IKHLAS SENILAI SEPERTIGA ALQURAN, DAN APA MAKSUDNYA?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Keterangan bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga Alquran, bersumber dari hadis Nabi ﷺ. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

Di suatu malam, ada seorang sahabat yang mendengar temannya membaca surat al-Ikhlas dan diulang-ulang. Pagi harinya, sahabat ini melaporkan kepada Rasulullah ﷺ, dengan nada sedikit meremehkan amalnya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga Alquran.” [HR. Bukhari 5013 dan Ahmad 11612].

Dalam hadis lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Sanggupkah kalian membaca sepertiga Alquran dalam semalam?”

Mereka bertanya: ‘Bagaimana caranya kita membaca sepertiga Alquran?’

Lalu Nabi ﷺ menjelaskan:

(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Qul huwallahu ahad senilai sepertiga Alquran.” [HR. Muslim 1922)]

Makna al-Ikhlas sepertiga Alquran

Dalam Alquran, ada tiga pembahasan pokok:

[1] Hukum, seperti ayat perintah, larangan, halal, haram, dst.

[2] Janji dan ancaman, seperti ayat yang mengupas tentang Surga, Neraka, balasan, termasuk kisah orang saleh dan kebahagiaan yang mereka dapatkan, dan kisah orang jahat, berikut kesengsaraan yang mereka dapatkan.

[3] Berita tentang Allah, yaitu semua penjelasan mengenai nama dan sifat Allah.

Karena surat al-Ikhlas murni membahas masalah tauhid, bercerita tentang siapakah Allah ta’ala, maka kandungan makna surat ini menyapu sepertiga bagian dari Alquran.

Kita simak keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar:

قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار

Sabda Nabi ﷺ: “Senilai sepertiga Alquran” dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna Alquran. Karena isi Alquran adalah hukum, berita, dan tauhid, sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini.  [Fathul Bari, 9/61]

Penjelasan kedua:

Bahwa isi quran secara umum bisa kita bagi menjadi dua:

[1] Kalimat Insya’ (non-berita): Berisi perintah, larangan, halal-haram, janji dan ancaman, dst.

[2] Kalimat Khabar (berita): Dan berita dalam Alquran ada dua:

[2a] Berita tentang makhluk: Kisah orang masa silam, baik orang saleh maupun orang jahat.

[2b] Berita tentang khaliq: Penjelasan tentang siapakah Allah, berikut semua nama dan sifat-Nya.

Mengingat surat al-Ikhlas hanya berisi berita tentang Allah, maka surat ini menyapu sepertiga makna Alquran.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan:

ولذلك عادلت ثلث القرآن لأن القرآن خبر وإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عن الله

Surat al-Ikhlas senilai sepertiga Alquran, karena isi Alquran ada dua: Khabar dan Insya’. Untuk Insya’ mencakup perintah, larangan, dan perkaran mubah. Sementara khabar, di sana ada khabar tentang khaliq dan khabar tentang ciptaan-Nya. Dan surat al-Ikhlas hanya murni membahas khabar tentang Allah. [Fathul Bari, 9/61]

Pahalanya Senilai Membaca sepertiga Alquran

Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya memberikan pahala ibadah kepada hamba-Nya dengan nilai yang beraneka ragam. Ada ibadah yang diberi nilai besar dan ada yang dinilai kecil, sesuai dengan hikmah Allah. Sehingga umat Nabi Muhammad ﷺ yang usianya relatif pendek, bisa mendapatkan pahala besar, tanpa harus melakukan amal yang sangat banyak.

Umat Muhammad ﷺ diberi oleh Allah Lailatul Qadar, yang nilainya lebih baik daripada 1000 bulan. Ada juga Masjidil Haram, yang barang siapa shalat di sana, dinilai 100.000 kali shalat. Kemudian surat al-Ikhlas, siapa membacanya sekali, dinilai mendapatkan pahala membaca sepertiga Alquran.

Dan Allah Maha Kaya untuk memberikan balasan apapun kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Senilai dalam Pahala BUKAN Senilai dalam Amal

Kami ingatkan, agar kita membedakan antara al-Jaza’ dengan al-ijza’.

  • Al-jaza’ (الجزاء) artinya senilai dalam pahala yang dijanjikan
  • Al-Ijza’ (الإجزاء) artinya senilai dalam amal yang digantikan.

Membaca surat al-Ikhlas mendapat NILAI seperti membaca sepertiga Alquran, maknanya adalah senilai dalam PAHALA (al-Jaza’). BUKAN senilai dalam AMAL (al-Ijza’).

Sehingga misalnya ada orang yang bernadzar untuk membaca satu Alquran, maka dia tidak boleh hanya membaca surat al-Ikhlas 3 kali, karena keyakinan senilai dengan satu Alquran. Semacam ini tidak boleh. Karena dia belum dianggap membaca seluruh Alquran, meskipun dia mendapat pahala membaca satu Alquran.

Sebagaimana ketika ada orang yang shalat dua rakaat shalat wajib di Masjidil Haram. Bukan berarti setelah itu dia boleh tidak shalat selama 50 puluh tahun, karena sudah memiliki pahala 100.000 kali shalat wajib.

Benar dia mendapatkan pahala senilai 100.000 kali shalat, tapi dia belum disebut telah melaksanakan shalat wajib selama puluhan tahun itu.

Berbeda dengan amal yang memenuhi al-Ijza’, seperti Jumatan, yang dia menggantikan shalat Zuhur. Sehingga orang yang shalat Jumatan tidak perlu shalat Zuhur. Atau orang yang tayammum karena udzur, dia tidak perlu untuk wudhu, karena tayammum senilai dengan amalan wudhu, bagi orang yang punya udzur.

Syaikhul Islam mengatakan:

فالقرآن يحتاج الناس إلى ما فيه من الأمر والنهي والقصص ، وإن كان التوحيد أعظم من ذلك، وإذا احتاج الإنسان إلى معرفة ما أُمر به وما نهي عنه من الأفعال أو احتاج إلى ما يؤمر به ويعتبر به من القصص والوعد والوعيد : لم يسدَّ غيرُه مسدَّه ، فلا يسدُّ التوحيدُ مسدَّ هذا ، ولا تسدُّ القصص مسدَّ الأمر والنهي ولا الأمر والنهي مسدَّ القصص ، بل كل ما أنزل الله ينتفع به الناس ويحتاجون إليه

Alquran dibutuhkan manusia untuk mengetahui keterangan mengenai perintah, larangan, dan semua kisah yang ada, meskipun tauhid menjadi kajian paling penting dari semua itu. Ketika seseorang butuh untuk mengetahui perintah dan larangan dalam masalah perbuatan, dan butuh untuk merenungi setiap kisah, janji dan ancaman, maka kajian lainnya tidak bisa menutupi  kebutuhan dia pada itu semua. Kajian tauhid tidak bisa menggantikan kajian perintah dan larangan, demikian pula masalah kisah, tidak bisa menggantika perintah dan larangan atau sebaliknya. Namun semua yang Allah turunkan bermanfaat bagi manusia dan dibutuhkan mereka semua.

Lalu beliau mengatakan:

فإذا قرأ الإنسان { قل هو الله أحد } : حصل له ثوابٌ بقدر ثواب ثلث القرآن لكن لا يجب أن يكون الثواب من جنس الثواب الحاصل ببقية القرآن ، بل قد يحتاج إلى جنس الثواب الحاصل بالأمر والنهي والقصص ، فلا تسد { قل هو الله أحد } مسد ذلك ولا تقوم مقامه

Jika seseorang membaca surat al-Ikhlas, dia mendapat pahala senilai pahala sepertiga Alquran. Namun bukan berarti pahala yang dia dapatkan sepadan dengan bentuk pahala untuk ayat-ayat Alquran yang lainnya. Bahkan bisa jadi dia butuh bentuk pahala dari memahami perintah, larangan, dan kisah Alquran. Sehingga surat al-Ikhlas tidak bisa menggantikan semua itu. [Majmu’ al-Fatawa, 17/138].

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25969-mengapa-surat-al-ikhlas-senilai-sepertiga-Alquran.html