Posts

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

CARA-CARA BERPUASA DI HARI ASYURA

CARA-CARA BERPUASA DI HARI ASYURA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
CARA-CARA BERPUASA DI HARI ASYURA
>> Diolah oleh Aris Munandar bin S Ahmadi, dari kitab Rad’ul Anam Min Muhdatsati Asyiril Muharram Al-Haram, karya Abu Thayib Muhammad Athaullah Hanif, tahqiq Abu Saif Ahmad Abu Ali
 
Ada empat cara berpuasa di hari Asyura:
 
1. Berpuasa selama tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafal sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2:
 
خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ
 
“Selisihilah orang Yahudi, dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”
 
Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang Al-Urf asy-Syadzi:
 
صُومُوهُ وَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا وَ لاَ تُشَبِّهُوَا بِالْيَهُوْدِ
 
“Puasalah pada hari Asyura, dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya, dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”
 
Namun di dalam sanadnya ada rawi yang diperbincangkan. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al 2/76): ”Ini adalah derajat yang sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan: ”Inilah yang utama.”
 
Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani (Nailul Authar 4/245) dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan 5/434.
 
Namun Mayoritas Ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni 3/174 menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.
 
2. Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram
Mayoritas hadis menunjukkan cara ini:
 
صَامَ رَسُولُ الهِع صَلَّى الهُت عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ الهِس إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
“Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata: ”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau ﷺ bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram -pent).” Tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah ﷺ telah wafat.” [Hadis Shahih Riwayat Muslim 2/796, Abu Daud 2445, Thabary dalam Tahdzibul Atsar 1/24, Baihaqi dalam Al-Kubra 4/287 dan As-Shugra 2/119 serta Syu’abul Iman 3506 dan Thabrabi dalam Al-Kabir 10/391]
 
Dalam riwayat lain:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
 
“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.” [Hadis Shahih Muslim 2/798, Ibnu Majah 736, Ahmad 1/224, 236, 345, Baihaqi 4/287, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanafnya 3/58, Thabrani dalam Al-Kabir 10/401, Thahawi 2/77 dan lain-lain].
 
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata [Fathul Baari 4/245]: ”Keinginan beliau ﷺ untuk berpuasa pada hari kesembilan mengandung kemungkinan, bahwa beliau ﷺ tidak hanya berpuasa pada hari kesembilan saja, namun juga ditambahkan pada hari kesepuluh. Kemungkinan dimaksudkan untuk berhati-hati, dan mungkin juga untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nashara. Kemungkinan kedua inilah yang lebih kuat, yang itu ditunjukkan sebagian riwayat Muslim.”
 
عَنْ عَطَاء أَنَّهُ سَمِعَ ابْنِ عَبَاسٍ يَقُوْلُ: وَخَالِفُوا الْيَهُودَ صُومُوا التَّاسِعَ وَ الْعَاشِرَ
 
“Dari ‘Atha’, dia mendengar Ibnu Abbas berkata: ”Selisihilan Yahudi, berpuasalah pada 9 dan 10 (Muharram -pent)”.
 
3. Berpuasa Dua Hari, yaitu 9 dan 10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram
 
صُومُوا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
 
“Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah orang Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”
 
Hadis Marfu’ ini TIDAK SHAHIH karena ada tiga illat (cacat):
• Ibnu Abi Laila, lemah karena hafalannya buruk.
• Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas, bukan hujjah
• Perawi sanad hadis tersebut secara mauquf lebih tsiqah dan lebih hafal daripada perawi jalan/sanad Marfu’
 
Jadi hadis di atas SHAHIH SECARA MAUQUF, sebagaimana dalam as-Sunan al-Ma’tsurah karya As-Syafi’i no 338 dan Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar 1/218.
 
Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): ”Dalam sebagian riwayat disebutkan atau sesudahnya, maka kata atau di sini mungkin karena keraguan dari perawi, atau memang menunjukkan kebolehan….”
 
Al-Hafidz berkata [Fathul Baari 4/245-246): ”Dan ini adalahl akhir perkara Rasulullah ﷺ. Dahulu beliau ﷺ suka menyocoki Ahli Kitab dalam hal yang tidak ada perintah. Lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau ﷺ suka menyelisihi Ahli Kitab sebagaimana dalam hadis shahih. Maka ini (masalah puasa Asyura) termasuk dalam hal itu. Maka pertama kali beliau ﷺ menyocoki Ahli Kitab dan berkata: ”Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian (Yahudi).” Kemudian beliau ﷺ menyukai menyelisihi Ahli Kitab, maka beliau ﷺ menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi Ahli Kitab.”
 
Ar-Rafi’i berkata (at-Talhish al-Habir 2/213): ”Berdasarkan ini, seandainya tidak berpuasa pada hari kesembilan, maka dianjurkan untuk berpuasa pada hari kesebelas.″
 
4. Berpuasa Pada 10 Muharram Saja
Al-Hafidz berkata [Fathul Baari 4/246): ”Puasa Asyura mempunyai tiga tingkatan:
• Yang terendah berpuasa sehari saja,
• Tingkatan di atasnya ditambah puasa pada hari kesembilan, dan
• Tingkatan di atasnya ditambah puasa pada hari kesembilan dan kesebelas. Wallahu a’lam.”
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
 
 
Catatan Tambahan:
Hadis Mauquf menurut istilah adalah “Sabda/perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang shahabat Nabi ﷺ, baik yang bersambung sanadnya kepada Nabi ﷺ ataupun tidak bersambung.
 
Hadis Marfu’ menurut istilah adalah “Sabda/perkataan, atau perbuatan, atau taqrir (penetapan), atau sifat yang disandarkan kepada Nabi ﷺ, baik yang bersifat jelas ataupun secara hukum (disebut Marfu’ = Marfu’ Hukman), baik yang menyandarkannya itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus).
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

HUKUM MEMBUNUH BINATANG “SECARA SENGAJA” TERBAGI MENJADI EMPAT MACAM

HUKUM MEMBUNUH BINATANG “SECARA SENGAJA” TERBAGI MENJADI EMPAT MACAM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MEMBUNUH BINATANG “SECARA SENGAJA” TERBAGI MENJADI EMPAT MACAM
>> Bolehkah Membunuh Nyamuk?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa kita tidak boleh membunuh binatang karena sama-sama makhluk Allah, termasuk nyamuk? Benarkah demikian? Apakah menyemprot nyamuk dengan insektisida itu tidak boleh? Saaya khawatir membawa penyakit.
 
Jawaban:
Hukum membunuh binatang “secara sengaja” terbagi menjadi empat macam:
 
Pertama: Binatang yang Boleh Dibunuh dan Tidak Boleh Dimakan
Yaitu setiap hewan yang memiliki tabiat yang membahayakan atau menyakiti manusia, maka BOLEH dibunuh, baik di Tanah Suci maupun di tempat lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهَا فَوَاسِقُ تُقْتَلُ فِى الْحَرَمِ الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَارَةُ
 
“Lima hewan yang semuanya jahat, boleh dibunuh walau di Tanah Suci: burung gagak, burung rajawali, anjing yang suka melukai, kalajengking dan tikus.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]
 
Dalam riwayat yang lain: “juga ular.” Dan dikiaskan semua binatang yang berbahaya seperti harimau, singa dan lain-lain. Termasuk yang ditanyakan yaitu nyamuk, hukumnya boleh dibunuh.
 
Dan DIBOLEHKAN membunuh hewan-hewan tersebut dengan cara apa saja selama tidak mengandung penyiksaan seperti dibakar. Sehingga dibolehkan insya Allah dengan menyemprotkan insektisida.
 
Kedua: Binatang yang Boleh Dibunuh dan Boleh Dimakan
Seperti unta, sapi, kambing, ayam dan lain-lain, hukumnya boleh dibunuh untuk dimakan dengan disembelih, atau dibunuh dengan cara yang sesuai syariat.
 
Ketiga: Binatang yang Tidak Boleh Dibunuh
Yaitu hewan yang tidak memiliki tabiat yang jelek, dan tidak pula dibolehkan memakannya. Di antaranya yang disebutkan dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:
 
إِنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ
 
“Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang dari membunuh empat jenis hewan: semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurod.” [HR. Abu Daud, Al-Irwa’: 2490]
 
Juga dalam hadis Abdur Rahman bin Utsman radhiyallahu’anhu, beliau berkata:
 
أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِهَا
 
“Bahwasannya seorang dokter bertanya kepada Nabi ﷺ tentang katak untuk dijadikan obat, maka Nabi ﷺ melarang dari membunuh katak.” [HR. Abu Daud, Shahihut Targhib: 2991]
 
Keempat: Hewan yang Tidak Boleh Dibunuh Namun Menyakiti
Seperti semut atau lebah yang menyakiti, hendaklah diusir, ditakut-takuti, dijauhkan dan semisalnya. Kalau terpaksa harus membunuh, maka boleh dibunuh tanpa menyiksa.
 
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Penulis: Ustadz Sofyan Chalid Ruray
,

SHALAWAT YANG SINGKAT

SHALAWAT YANG SINGKAT
Bismillah
 
#DoaZikir
 
SHALAWAT YANG SINGKAT
 
Pertanyaan:
Apakah ucapan berikut “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad” sudah termasuk sahlawat?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Ya, lafal tersebut sudah termasuk shalawat. Akan lebih baik jika ditambahi salam, “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
 
,

AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH

AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#AyoBertakbir
 
AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH
>> Sunnah yang Terlupakan, Bertakbir Sejak Awal Dzulhijjah
>> Amalan Ringan Berpahala Besar di Bulan Dzulhijjah
 
Ada satu sunnah yang mungkin sudah banyak dilupakan orang, yaitu memerbanyak takbir di awal Dzulhijjah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
 
“Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI tersebut.” [Al-Hajj: 28]
 
Dan juga firman Allah ta’ala:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
 
“Dan berzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DITENTUKAN.” [Al-Baqoroh: 203]
 
“Dan berkata Ibnu ‘Abbas: “Berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI, maksudnya adalah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang sudah DITENTUKAN adalah hari-hari Tasyriq (Penyembelihan).” [Riwayat Al-Bukhari]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
 
“Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh yang lebih dicintai Allah ta’ala, daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka perbanyaklah ucapan tahlil, takbir dan tahmid.” [HR. Ahmad no. 6154 dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Anauth]
 
Penjelasan di atas menunjukkan, bahwa jumlah hari yang disunnahkan untuk memerbanyak zikir adalah sebanyak 13 hari, yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah dan tiga hari Tasyriq.
 
Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir
 
Terdapat dalil secara khusus untuk memerbanyak takbir dan mengeraskannya (bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, hendaklah dipelankan suaranya), baik di masjid, di rumah maupun di tempat umum.
 
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahih beliau:
 
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ
 
“Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dalam keadaan bertakbir, dan manusia pun ikut bertakbir, dan Muhammad bin Ali bertakbir setelah sholat sunnah.”
 
Takbir Muthlaq dan Muqoyyad
 
Ulama menjelaskan, bahwa takbir di sini ada dua bentuk:
 
1. Takbir Muthlaq, yaitu takbir yang dibaca KAPAN SAJA tanpa terikat waktu, dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq.
 
2. Takbir Muqoyyad, yaitu takbir yang TERKAIT dengan waktu sholat, dibaca setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq.
 
Hal ini disyariatkan berdasarkan Ijma’ dan perbuatan sahabat radhiyallahu’anhum [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/312 no. 10777]
 
Takbir ini disyariatkan bagi selain jamaah haji. Adapun bagi jamaah haji, disunnahkan untuk memerbanyak ucapan Talbiyah sampai melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah. Barulah dibolehkan bertakbir, dan boleh mulai bertakbir sejak lemparan pertama pada Jamrah ‘Aqobah tersebut sampai akhir hari Tasyriq.
 
Dan takbir ini dibaca sendiri-sendiri. Adapun membacanya secara berjamaah dengan satu suara atau dipimpin oleh seseorang, maka termasuk perbuatan bid’ah, mengada-ada dalam agama [Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, 13/19]
 
Apalagi sampai mengadakan konvoi di jalanan yang dapat mengganggu ketertiban umum dan terjadi berbagai macam kemaksiatan seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), meneriakkan takbir diiringi alat-alat musik (padahal musik itu sendiri diharamkan dalam Islam) dan berbagai kemungkaran lainnya yang biasa terjadi pada malam dan siang hari raya.
 
Bagaimana Lafal Takbir yang Sesuai Syariat?
 
Adapun lafal takbir di antaranya adalah seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau membaca takbir pada hari-hari Tasyriq:
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaLlah, waLlahu Akbar, Allahu Akbar, wa liLlahil hamd”
 
Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah).” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya no. 5697, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa no. 654 dan beliau mendha’ifkan hadis Jabir radhiyallahu’anhu dengan lafal yang sama]
 
Dan beberapa lafal lain yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in. Namun tidak ada dalil adanya lafal khusus dari Nabi ﷺ, sehingga dalam perkara ini terdapat keluasan [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, 5/169-171]
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
 
Catatan Tambahan:

Berikut ini beberapa bentuk lafal takbir yang disunnahkan:

1. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran.
2. Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
3. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha illa lahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

,

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

MEMBELA DIRI DARI TUKANG BEGAL HINGGA MATI SYAHID

Ternyata orang yang membela diri dari tukang bekal atau perampok, lantas ia mati, maka ia bisa dicatat syahid. Adapun jika ia membela diri dan ia berhasil membunuh tukang begal tersebut, tukang begal itulah yang masuk Neraka. Karena orang yang masih hidup itu cuma membela diri, sedangkan yang mati punya niatan untuk membunuh.

Di antaranya ada tiga hadis tentang masalah ini yang membahas bolehnya membela diri ketika berhadapan dengan tukang rampas, tukang rampok atau tukang begal yang ingin merampas harta kita.

Hadis Pertama

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah ﷺ. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”

Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”

Beliau ﷺ bersabda: “Jangan kau beri padanya.”
Ia bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi ﷺ.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di Neraka”, jawab Nabi ﷺ. (HR. Muslim no. 140).

Hadis Kedua

عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ وَسَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يَأْتِينِي فَيُرِيدُ الِي قَالَ ذَكِّرْهُ بِاللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَذَّكَّرْ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ مَنْ حَوْلَكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَوْلِي أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ قَالَ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِالسُّلْطَانِ قَالَ فَإِنْ نَأَى السُّلْطَانُ عَنِّي قَالَ قَاتِلْ دُونَ مَالِكَ حَتَّى تَكُونَ مِنْ شُهَدَاءِ الْآخِرَةِ أَوْ تَمْنَعَ مَالَكَ

Dari Qabus bin Mukhariq, dari bapaknya, dari ayahnya, ia berkata bahwa ia mendengar Sufyan Ats Tsauri mengatakan hadis berikut ini:

Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ada seseorang datang kepadaku dan ingin merampas hartaku.”

Beliau ﷺ bersabda: “Nasihatilah dia supaya mengingat Allah.”
Orang itu berkata: “Bagaimana kalau ia tak ingat?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan kepada orang-orang Muslim di sekitarmu.”
Orang itu menjawab: “Bagaimana kalau tak ada orang Muslim di sekitarku yang bisa menolong?”
Beliau ﷺ bersabda: “Mintalah bantuan penguasa (aparat berwajib).”
Orang itu berkata: “Kalau aparat berwajib tersebut jauh dariku?”
Beliau ﷺ bersabda: “Bertarunglah demi hartamu sampai kau tercatat syahid di Akhirat atau berhasil memertahankan hartamu.” (HR. An Nasa’i no. 4086 dan Ahmad 5: 294. Hadis ini Shahih menurut Al Hafizh Abu Thohir)

Hadis Ketiga

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya, maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya, atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih).

Maksud Syahid dan Macamnya

Di antara maksud syahid sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Ambari:

لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى وَمَلَائِكَته عَلَيْهِمْ السَّلَام يَشْهَدُونَ لَهُ بِالْجَنَّةِ . فَمَعْنَى شَهِيد مَشْهُود لَهُ

“Karena Allah ta’ala dan malaikatnya ‘alaihimus salam menyaksikan orang tersebut dengan Surga. Makna syahid di sini adalah disaksikan untuknya.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 142).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa syahid itu ada tiga macam:

  1. Syahid yang mati ketika berperang melawan Kafir Harbi (yang berhak untuk diperangi). Orang ini dihukumi syahid di dunia, dan mendapat pahala di Akhirat. Syahid seperti ini tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.
  2. Syahid dalam hal pahala namun tidak disikapi dengan hukum syahid di dunia. Contoh syahid jenis ini adalah mati karena melahirkan, mati karena wabah penyakit, mati karena reruntuhan, dan mati karena membela hartanya dari rampasan. Begitu pula penyebutan syahid lainnya yang disebutkan dalam hadis Shahih. Mereka tetap dimandikan, dishalatkan, namun di Akhirat mendapatkan pahala syahid. Namun pahalanya tidak harus seperti syahid jenis pertama.
  3. Orang yang khianat dalam harta ghanimah (harta rampasan perang), dalam dalil pun menafikan syahid pada dirinya ketika berperang melawan orang kafir. Namun hukumnya di dunia tetap dihukumi sebagai syahid, yaitu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. Sedangkan di Akhirat, ia tidak mendapatkan pahala syahid yang sempurna. Wallahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim, 2: 142-143).

Kesimpulan

Boleh membela diri ketika berhadapan dengan tukang begal atau tukang rampok, saat tidak ada di sekitar kita yang menolong, dan tidak ada aparat juga yang bisa menyelamatkan. Membela diri dari tukang begal atau tukang rampok saat itu hingga mati dicatat sebagai syahid di Akhirat. Sedangkan untuk hukum di dunia, ia tetap dimandikan dan dishalatkan.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1433 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/10453-membela-diri-dari-tukang-begal-hingga-syahid.html

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

Kita layak terpukau dengan kisah-kisah orang-orang yang mendapatkan hidayah, lalu hidayah itu merubah drastis jalan hidupnya. Tapi kita juga pantas bertanya, mengapa tingkat kebaikan kita tidak setinggi mereka tersebut? Kita sudah lama memeluk agama Islam, tapi mengapa Islam kita masih biasa-biasa saja? Baik dalam hal ilmu, amal, maupun peran yang dapat kita lakukan untuk kemajuan Islam.

Kemampuan seseorang untuk melahirkan amal, bergantung seberapa  besar kadar hidayah yang bersemayam di hatinya. Baik Hidayah Irsyad atau petunjuk yang berupa pengetahuan terhadap kebenaran, juga Hidayah Taufik yang menjadikan kebutuhan manusia untuk mendapatkan hidayah.  Karenanya, manusia memerlukan hidayah untuk memeroleh setiap maslahat, baik Duniawi maupun Ukhrowi.

Inilah jawabannya, meskipun kita telah mendapatkan hidayah Islam, mengapa masih tetap diperintahkan memohon hidayah kepada Allah, paling minim, 17 kali dalam sehari semalam kita membaca di dalam sholat,

“Tunjukkilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 6)

Selain hidayah Islam, kita juga membutuhkan hidayah yang bersifat tafshili. Untuk menjalani Islam dengan benar, kita perlu hidayah ilmu. Kita perlu petunjuk, apa yang harus kita imani, bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, apa saja rincian kebaikan, sehingga kita bisa menjalankan, mana jenis kemaksiatan yang harus kita hindari. Ini semua butuh hidayah irsyad, memerlukan petunjuk ilmu.

Setelah mengetahui ilmunya, kita juga membutuhkan hidayah taufik, agar kita mampu menerapkan ilmu ke dalam amal, juga untuk istiqomah. Karena tidak sedikit orang yang telah mengetahui berbagai jenis amal saleh, namun tidak diberi kekuatan untuk menjalaninya. Meskipun ia orang yang kuat dan berotot, tanpa hidayah, ia tak mampu berbuat apa-apa. Ada pula yang sudah mengerti sederetan kemaksiatan dan segudang perkara yang haram, namun ia tak kuasa untuk melepaskan diri dari belengu syahwatnya. Kita membutuhkan hidayah untuk mengenali kebenaran, butuh pula hidayah untuk mampu berpegang di atasnya.

Mungkin tersisa dibenak kita, mengapa kita masih saja “Biasa”. Tidak tampak efek luar biasa, padahal kita juga berdoa kepada Allah, paling tidak 17 kali dalam sehari semalam. Allah tidak mungkin bakhil, tidak pula menyalahi janji-Nya atas hamba-Nya. Efek yang belum terasa, atau tidak begitu kuat pengaruhnya, boleh jadi karena kurangnya penghayatan kita terhadap doa yang kita panjatkan. Kita memohon kepadanya, namun tidak tau apa yang kita minta, atau tidak menyadari, permohonan apa yang kita panjatkan kepada-Nya. Allah tidak mengabulkan doa yang berangkat dari hati yang lalai.

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR Tirmizi, Al-Albani menyatakan, “hadis Hasan”).

Atau bisa jadi pula, karena ikhtiar kita untuk mendapatkan hidayah belum optimal. Selain doa yang menuntut hadirnya hati, juga terhindarnya kita dari faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, mestinya kita iringi doa dengan ikhtiar. Hidayah irsyad  kita cari dengan banyak belajar, menelaah Alquran dan As-Sunnah, mengaji kitab-kitab yang ditulis para ulama, maupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Adapun hidayah taufik hendaknya kita cari dengan bergaul bersama orang-orang saleh dan bermujahadah untuk menjalankan amal-amal penyubur iman.

Salah jika berpikir, bahwa mendapat hidayah berarti Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan malaikat yang akan menurunkan seseorang sesat, lalu masuk Islam, bertaubat, menuntunnya melakukan amal kebaikan setiap saat sepanjang hidupnya, tanpa ada usaha dari orang tersebut.

Hidayah adalah petunjuk yang secara halus menunjukkan dan mengantarkan kepada sesuatu yang dicari. Dan yang paling dicari manusia semestinya adalah keselamatan di dunia dan Akhirat. Untuk mendapatkannya, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi bekal bagi setiap manusia dengan berbagai arahan, yang akan membawa menuju keselamatan. Namun Allah subhanahu wa ta’ala juga memberinya pilihan, sehingga ada yang mengikuti petunjuk lalu selamat, dan ada yang tidak mengacuhkannya, lalu celaka.

Imam Ibnul Qayyim dan Imam al Fairusz Abadi menjelaskan, Allah telah memberikan petunjuk secara halus kepada setiap manusia agar selamat hingga Hari Kiamat, bahkan sejak hari kelahirannya. Beliau menyebutkan:

Tahapan pertama adalah memberikan Al Hidayah Al Amah, yaitu hidayah yang bersifat umum yang diberikan kepada setiap manusia, bahkan setiap mahluknya. Yaitu petunjuk berupa instink, akal, kecerdasan dan pengetahuan dasar, agar makhluknya bisa mencari dan mendapatkan berbagai hal, yang memberinya maslahat. Hidayah inilah yang dimaksud dalam ayat,

“Musa berkata; ‘Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS.Thaha: 50)

Dengan bekal ini, manusia bisa menyerap, memahami dan melaksanakan berbagai arahan dan bimbingan yang diberikan kepadanya.

Tahapan kedua adalah Hidayatul Dilalah Wal Bayan atau Hidayatul Irsayad, yaitu petunjuk berupa arahan dan penjelasan yang akan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan Akhirat. Semua itu terangkum dalam risalah yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul-Nya.  Allah berfirman:

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami.” (QS.21:73)

Risalah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ adalah Hidayatul Bayan paripurna yang telah Allah berikan kepada manusia. Sifatnya hanya memberi penjelasan dan arahan, agar manusia bisa meraih keselamatan. Mengikuti atau tidak, Allah memberikan pilihan kepada setiap manusia berupa ikhtiar. Sehingga ada di antara mereka yang mengetahui, kemudian mengikuti dan terus melazimi hingga menjadi mukmin yang taat. Namun ada pula yang enggan bahkan menentang. Yang mengetahui, lalu mengikuti dan berusaha tetap berada di atas kebenaran, akan selamat. Sebaliknya, yang mengetahui lalu berpaling, akan binasa.

Kemudia, fase ketiga adalah Hidayatut Taufiq, yaitu petunjuk yang khusus diberikan kepada orang–orang yang dikehendaki Allah. Hidayah yang menuntun hati seseorang untuk beriman dan beramal sesuai dengan tuntunan-Nya. Cahaya yang menerangi hati dari gelapnya kesesatan dan membimbingnya menuju jalan kebaikan. Hidayah yang mutlak hanya dimiliki dan diberikan oleh Allah inilah yang melunakkan hati seseorang, hingga ia mau menjawab seruan dakwah. Dan hidayah ini pulalah yang menuntun mereka agar tetap berada di atas jalan yang lurus.

Hidayah ini adalah buah dari Hidayatul Irsyad. Seseorang tidak mungkin akan mendapat hidayah ini, jika belum mendapatkan Hidayatul Irsyad sebelumnya. Namun tidak semua orang yang sudah mendapat Hidayatul Irsyad pasti mendapatkan Hidayatut Taufiq.

Seperti sudah dipaparkan tadi, bahwa tugas dan kewenangan Nabi ﷺ, juga orang-orang yang menjadi pewaris para Nabi ﷺ hanyalah menjelaskan dan menyampaikan. Mereka tidak akan mampu membuat atau memaksa seseorang mengikuiti apa yang mereka dakwahkan, jika orang tersebut lebih memilih jalan kesesatan dan tidak diberi Hidayatut Taufiq oleh Allah. Allah berfirman:

”Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “ (QS. Al-Qashash:56).

Yang terakhir adalah hidayah di Akhirat. Petunjuk di Akhirat yang menuntun manusia menuju Jannah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu arah menuju rumah-Nya di Jannah, daripada arah menuju rumahnya di dunia.“

Keempat fase ini saling terkait secara berurutan. Tanpa adanya hidayah pertama, seseorang tidak akan bisa mendapatkan hidayah yang kedua berupa Irsyad, arahan dan bimbingan dari Rasulullah ﷺ. Sebab orang yang akalnya tidak sempurna (gila maupun idiot) tidak bisa menyerap dan menalar berbagai ilmu dan bimbingan dari siapapun. Kalaupun bisa, daya serapnya sangat minim, sehingga mereka justru di bebaskan dari semua taklif dan tanggung jawab.

Sedang hidayah yang ketiga, tidak mungkin bisa diraih sebelum seseorang mendapatkan hidayah yang pertama dan kedua. Taufiq dari Allah hanya akan turun kepada orang yang telah mendengar risalah dan kebenaran. Demikian pula hidayah yang keempat. Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar-benar mencari dan berhak mendapatkan hidayah dari-Nya.

Hidayah Al amah kita semua sudah memilikinya. Adapun hidayah di Akhirat, bukan lain adalah buah dari yang kedua dan ketiga. Sehingga yang harus kita cari semasa hidup di dunia adalah Hidayatul Irsyad dan Hidayatut Taufiq. Ibnu Katsier menjelaskan hidayah kita pinta dalam surat Al Fatihah adalah dua hidayah tersebut.

Hidayatul Irsyad adalah ilmu syari yang sahih, di mana kita bisa mengetahui kebenaran (Ma’rifatul Haq). Sedang hidayatut Taufiq adalah kelapangan hati untuk mengamalkan dan selalu berada di atas kebenaran. Dua hal ini tidak akan kita dapatkan, jika Allah tidak menghendaki kita mendapatkannya. Sehingga yang harus kita lakukan adalah mencari dan memohon kepada Pemiliknya. Mencari berbagai hal yang bisa mendatangkan hidayah dan berusaha menghancurkan semua yang menghalangi kita dari hidayah.

Syaikh Abdurahman bin Abdullah as Sahim, dalam risalahnya menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa mendatangkan hidayah:

  • Pertama: Bertauhid dan menjauhi syirik.
  • Kedua: Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  • Ketiga: Inabah, bertaubat dan kembali kepada Allah.
  • Keempat: I’tisham, berpegang teguh kepada Kitabullah.
  • Kelima: Berdoa dan berusaha keras mencarinya.
  • Keenam: Memperbanyak zikir.

Selain sebab-sebab yang bisa mendatangkan hidayah, ada juga beberapa hal yang akan menghalangi masuknya cahaya hidayah ke dalam hati, di antaranya:

  • Pertama: Minimnya pengetahuan dan penghargaan atas nikmat hidayah

Ada sekian banyak manusia yang tergiur dengan dunia dan menjadikannya satu-satunya hal yang paling diharapkannya. Sukses di matanyanya adalah capaian harta dan kedudukan di mata manusia. Kesuksesan yang bersifat Ukhrowi dinomorduakan, dan berpkir, bahwa hal seperti itu bisa dicari lagi di lain kesempatan.

Meski sudah mendapatkan lingkungan yang baik, kesempatan belajar agama yang benar, rezeki yang halal meski sedikit, ia tidak segan meninggalkannya demi meraih dunianya. Itu karena rendahnya penghargaan atas hidayah Allah berupa teman yang saleh, dan ilmu dien yang telah diberikan kepadanya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) Akhirat mereka lalai. (QS. Ar Rum 7)

  • Kedua: Hasad dan kesombongan.
  • Ketiga: Jabatan
  • Keempat: Syahwat dan harta, dan
  • Kelima: Kebencian.

Seseorang yang membenci orang lain, si A misalnya, ketika si A mendapatkan hidayah berupa masuk Islam, taubat dari suatu maksiat, semangat belajar Islam atau yang lain, kebenciannya akan menghalanginya untuk mengikuti jejak orang yang dia benci itu. Kesombongan, gengsi dan kejengkelan tumbuh subur di atas lahan kebenciannya, dan menghalangi cahaya hidayah masuk menerangi hatinya. Allah berfirman, yang artinya:

”Sesungguhnya seorang hamba jika telah beriman kepada Alquran dan mendapat petunjuk darinya secara global, mau menerima perintah dan membenarkan berita dari Alquran, semua itu adalah awal mula dari hidayah-hidayah. Selanjutnya yang akan ia peroleh secara lebih detail. Karena hidayah itu tak memiliki titik akhir, seberapa pun seorang hamba mampu mencapainya. Allah berfirman:

”Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. (QS.Maryam:76).”

Wallahua’lam.

 

(Abu Alfia,Tebar-Sunnah)

 

 

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahTauhid

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

Hidayah secara bahasa berarti ar-Rasyaad (Bimbingan) dan Ad-Dalaalah (Dalil/Petunjuk) [Lihat kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733)]

Adapun secara syari, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah ta’ala menjadi empat macam:

  1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

{قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى}

“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah ta’ala berikan kepada SEMUA MAKHLUK dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.

  1. Hidayah (yang berupa) PENJELASAN dan KETERANGAN tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini TIDAK berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat. Tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

{وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى}

“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran), tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memeringatkan jalan yang salah. Akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah ta’ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia, agar mau mengikuti petunjuk Allah ta’ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah ta’ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

{فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8). `

Dan firman-Nya:

{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

“Jika engkau (wahai Muhammad ﷺ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).

Juga firman-Nya:

{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ﷺ) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).

Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah ﷺ, dan menetapkan bagi beliau ﷺ hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka, ketika penghuninya digiring kepadanya.

 

Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga), kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah ta’ala berfirman:

{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah. Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS ash-Shaaffaat: 22-23)” [Lihat kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/271-273) dengan ringkasan dan tambahan].

Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:

  • Hidayah yang bersifat Mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
  • Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan Islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam” [Lihat kitab “Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam” (hal. 225)].

 

Dinukil dari artikel berjudul: “Makna Dan Hakikat Hidayah Allah” yang ditulis oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

[Artikel Muslim.Or.Id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/19131-makna-dan-hakikat-hidayah-allah.html

DUA MACAM HIDAYAH

DUA MACAM HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

DUA MACAM HIDAYAH

Hidayah itu ada dua macam:

  • Hidayah berupa keterangan (Hidayatul Irsyad Wal Bayan) dan
  • Hidayah berupa pertolongan (Hidayatut Taufiq Wal Ilham).

Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan Hidayatul Bayan saja. Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal Hidayatul Bayan tanpa disertai Hidayatut Taufiq untuk beramal, bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:

“Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh), selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya, maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”

Berjalan Menuju dan Di Atas Jalan yang Lurus

Setelah mengemukakan bahwa hidayah yang dimaksud oleh ayat ‘Ihdinash Shirathal Mustaqim’ ada dua:

  • Ila Shirath (Menuju jalan yang lurus) dan
  • Fi Shirath (Di atas jalan yang lurus), Syaikh As Sa’di mengatakan:

“Hidayah ‘Ila Shirath’ yaitu berpegang teguh dengan agama Islam dan meninggalkan semua agama yang lain. Sedangkan hidayah ‘Fi Shirath’ yaitu mencakup petunjuk untuk menggapai semua rincian ajaran agama dengan cara mengilmui sekaligus mengamalkannya. Maka doa ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk berdoa dengan doa ini di dalam setiap rakaat shalatnya, dikarenakan begitu mendesaknya kebutuhan dirinya terhadap hal itu.”

 

Sumber: https://muslim.or.id/95-menggapai-ketentraman-dan-hidayah.html

, , ,

DISYARIATKAN MEMBACA DOA QUNUT DALAM SHALAT WITIR

DISYARIATKAN MEMBACA DOA QUNUT DALAM SHALAT WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DISYARIATKAN MEMBACA DOA QUNUT DALAM SHALAT WITIR

>> Pendapat yang disebutkan oleh Imam Ahmad dan banyak para ulama adalah bahwa doa Qunut dianjurkan di rakaat terakhir dari shalat Witir, dan ini berlaku sepanjang tahun

Pertanyaan:

Apa hukum doa Qunut Witir dan bagaimana tata caranya? Apakah dianjurkan membaca doa Qunut Witir setiap shalat malam, ataukah hanya sebagiannya saja? Dan apakah doa Qunut itu terbatas pada doa yang terdapat dalam hadis saja? Kemudian bolehkah menggunakan lafal doa dengan shighah jamak (plural), ataukah hanya terbatas pada doa yang terdapat dalam hadis saja? Dan bagaimana menurut Anda mengenai masalah melagukan doa Qunut seperti melagukan Alquran?

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjawab:

Pendapat yang disebutkan oleh Imam Ahmad dan banyak para ulama adalah bahwa doa Qunut dianjurkan di rakaat terakhir dari shalat Witir, dan ini berlaku sepanjang tahun. Disebutkan dalam Al Mughni:

قال أحمد في رواية المروذي: كنت أذهب إلى أنه في النصف من شهر رمضان، ثم إني قلت: هو دعاء وخير، ووجهه ما روي عن أبي: “أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، كان يوتر فيقنت قبل الركوع

“Imam Ahmad dalam riwayat Al Marudzi mengatakan: Dulu aku berpendapat bahwa Qunut Witir itu disunnahkan setelah pertengahan Ramadan. Lalu aku berpendapat, bahwasanya doa Qunut itu adalah doa dan kebaikan (sehingga berlaku sepanjang tahun). Alasannya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab: ‘Sesungguhnya Rasulullah ﷺ biasa membaca Qunut dalam shalat Witir sebelum rukuk’”

Dan dari Ali radhiallahu’anhu:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، كان يقول في آخر وتره: اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك .إلخ

“Rasulullah ﷺ biasa berdoa di rakaat terakhir shalat Witir: Allahumma inni a’udzu biridaka min sakhatik… dst.”

Dan كان (kaana) menunjukkan perbuatan yang dilakukan terus-menerus. Dan juga karena amalan ini disyariatkan di shalat Witir, maka ia disunnahkan di sepanjang tahun. Sebagaimana juga zikir-zikir yang lain.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau punya pendapat tidak dianjurkan membaca Qunut Witir, kecuali pada pertengahan akhir Ramadan. Dan sebagian ulama Hanabilah berpendapat demikian. Ini juga pendapat Madzhab Malik dan Syafi’i. Sebagian ulama juga berpendapat dianjurkan untuk terkadang meninggalkan Qunut Witir, agar orang awam tidak menganggapnya wajib.

Adapun doa yang dibaca ketika Qunut Witir, hendaknya berdoa dengan doa yang diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali, ia berkata: Rasulullah ﷺ mengajarkanku doa yang dibaca ketika Qunut Witir, yaitu:

اللهمَّ اهدِني فيمن هديتَ وعافِني فيمن عافيتَ وتولَّني فيمن تولَّيتَ وبارِكْ لي فيما أعطيتَ وقِني شرَّ ما قضيتَ إنك تَقضي ولا يُقضى عليك وإنه لا يَذِلُّ من واليتَ ولا يعِزُّ من عاديتَ تباركتَ ربَّنا وتعاليتَ

Allahummahdini fiiman hadayta wa ‘aafinii fiiman ‘aafayta wa tawallanii fiiman tawallayta wa baariklii fiiman a’thoyta waqinii syarro maa qodhoyta wallaa yuqdhoo ‘alaika wa innahu laa yadzillu man waalayta walaa ya’izzu man ‘aadayta tabaarakta robbanaa wa ta’aalayta.

Artinya:

“Ya Allah beri aku hidayah, sehingga aku termasuk orang yang mendapat hidayah.

Beri aku keselamatan, sehingga aku termasuk orang yang selamat.

Jadikanlah aku mencintai-Mu, sehingga aku termasuk di antara orang-orang yang mencintai-Mu. Berkahilah apa-apa yang Engkau berikan kepadaku.

Lindungilah aku dari takdir yang buruk.

Sungguh Engkaulah yang menetapkan takdir dan tidak ada selain-Mu yang menetapkan takdir.

Karena orang yang Engkau cintai tak akan terhinakan, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau Rabb kami” (HR. At Tirmidzi no. 464, Abu Daud no. 1425, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Juga doa yang diriwayatkan dari Ali radhiallahu’anhu, yaitu:

اللهم إِنَّي أعوذُ برضاكَ من سخَطِكَ وأعوذُ بمعافاتِكَ من عقوبَتِكَ وأعوذُ بك منكَ لا أُحْصي ثناءً عليكَ أنتَ كما أثنيتَ على نفسِكَ

Allohumma inii a’uudzu biridhooka min sakhotika, wa a’uudzu bimu’aafatika min ‘uquubatika, wa a’uudzu bika minka laa uh-shii tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa atsnayta ‘alaa nafsika.

Artinya:

“Ya Allah, dengan rida-Mu, aku mohon perlindungan dari murka-Mu.

Dengan ampunan-Mu, aku mohon perlindungan dari hukuman-Mu.

Dan dengan hikmah-Mu, aku mohon perlindungan dari takdir yang buruk.

Tidak terhitung pujian untuk-Mu.

Engkau sebagaimana pujian yang Engkau sematkan pada Diri-Mu” (HR. Tirmidzi no. 3566, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Atau dengan doa yang dibaca Ubay, yang pertama:

اللهمَّ إنَّا نستعينك ونستغفرك ، ونُثْنِي عليك ولا نَكفُرُكَ ، ونخلعُ ونتركُ من يفجرك

Allohumma innaa nasta’iinuka wa nastaghfiruka wa nutsnii ‘alaika walaa nakfuruka, wa nakhla’u wa natruku man yafjuruka

Artinya

“Yaa Allah aku memohon pertolongan-Mu dan memohon ampunan-Mu, aku memuji-Mu dan tidak kufur kepada-Mu, dan kami berlepas diri dan meninggalkan orang yang berbuat maksiat kepada-Mu”

Yang kedua:

اللهمَّ إياكَ نعبدُ ، ولك نُصلِّي ونسجدُ ، وإليك نسعى ونحفدُ ، نخشى عذابكَ الجِدَّ ، ونرجو رحمتكَ ، إنَّ عذابكَ بالكفارِ مُلْحِقٌ

Allohumma iyaaka na’budu, walaka nusholli wa nasjudu, wa ilaika nas’a wa nahfadu, nakhsya ‘adzaabakal hidda, wa narjuu rohmataka, innaa ‘adzaabaka bilkuffari mulhiqun.

Artinya:

“Yaa Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu kami memohon dan meminta pertolongan. Kami takut akan azab-Mu yang pedih, dan kami mengharapkan rahmat-Mu. Sungguh azab-Mu kepada orang-orang kafir itu pasti”

Karena Umar bin Khathab radhiallahu’anhu membaca kedua doa tersebut ketika Qunut. Dan ditambahkan juga dengan doa:

اللهمَّ عذِّبْ كَفَرَةَ أهلِ الكتابِ والمشركينَ الذين يَصُدُّونَ عن سبيلِكَ ويجْحَدُونَ آياتِكَ ويكذِّبُونَ رُسُلَكَ ويتَعدَّوْنَ حُدُودَكَ ويَدْعُونَ معَكَ إلهًا آخرَ لا إلهَ إلا أنتَ تبَارَكتَ وتعَالَيتَ عمَّا يقولُ الظالمونَ علوًّا كبيرًا

Allohumma ‘adzib kafarota ahlil kitaabi wal musyrikiinalladziina yashudduna ‘an sabiilika wa yajhaduuna aayaatika wa yukadzibuuna rusulaka wa yata’addauna huduudaka wa yad’uuna ma’aka ilaahan aakhor laa ilaaha illa anta tabaarokta wa ta’aalayta ‘amma yaquuluzh zhoolimuuna ‘uluwwan kabiiron.

Artinya:

“Yaa Allah, azablah orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan musyrikin yang menyimpang dari jalan-Mu dan mendustakan ayat-ayat-Mu dan mendustakan para Rasul-Mu dan melewati batasan-batasan-Mu. Dan menyembah sesembahan yang lain selain diri-Mu. Tidak ada Sesembahan yang haq kecuali Engkau. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi Engkau, terhadap apa yang dikatakan orang-orang zalim itu. Engkau Maha Tinggi dan Maha Besar” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/211, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil [2/170]).

Dari sini juga diketahui, bolehnya menambah doa-doa tersebut dengan doa-doa yang sesuai dengan keadaan. Namun dengan berusaha memilih doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ yang padat kalimatnya. Tapi hendaknya tidak terlalu banyak memberikan tambahan doa-doa, sehingga bisa membuat makmum bosan dan kesusahan.

Jika doa itu diaminkan banyak orang, maka hendaknya menggunakan lafal jamak. Dan terkadang lafal jamak ini lebih afdhal, walaupun ia berdoa sendirian.

Adapun melagukan dan mendayu-dayukan bacaan doa sehingga sampai taraf yang tidak lagi menjadi doa yang khusyuk dan penuh harap, maka ini tidak boleh. Karena yang dituntut dalam berdoa adalah ketundukan hati, tawadhu dan khusyuk. Ini lebih menguatkan untuk dikabulkannya doa.

Wallahu a’lam.

 

[Fatawa Syaikh Abdullah bin Jibrin, 24/42, Asy Syamilah]

 

***

 

Penerjemah: Yulian Purnama

[Artikel Muslim.or.id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/30446-disyariatkan-membaca-Qunut-dalam-shalat-Witir.html