Posts

JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FaidahTafsir

JANGAN NODAI IBADAH KITA DENGAN NIAT DUNIAWI

Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka, balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) tidak akan memeroleh (balasan), kecuali Neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

Ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa amal saleh yang dilakukan dengan niat duniawi, adalah termasuk perbuatan syirik, yang bisa merusak kesempurnaan tauhid, yang semestinya dijaga. Dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya’ (memerlihatkan amal saleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan). Karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal saleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal saleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].

Faidah Tafsir

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhu berkata tentang makna ayat di atas:

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia”, artinya balasan duniawi, “dan perhiasannya”, artinya harta. “Niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna”. Artinya: Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan amal perbuatan mereka (di dunia), berupa kesehatan dan kegembiraan dengan harta, keluarga dan keturunan” [Dinukil oleh Syaikh ‘Abdur Rahman bin Hasan Alu asy-Syaikh dalam kitab “Fathul Majiid” (hal. 451)].

Semakna dengan ucapan di atas, Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata:

“Barang siapa yang menjadikan dunia (sebagai) target (utama) niat dan ambisinya, maka Allah akan membalas kebaikan-kebaikannya (dengan balasan) di dunia. Kemudian di Akhirat (kelak) dia tidak memiliki kebaikan untuk diberikan balasan. Adapun orang yang beriman, maka kebaikan-kebaikannya akan mendapat balasan di dunia, dan memeroleh pahala di Akhirat (kelak)” [Dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau (15/264)].

Syaikh Muhammad bin Saleh al-‘Utsaimin mengisyaratkan makna lain dari perbuatan ini, yaitu seorang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah ta’ala bukan karena riya’ atau pujian, niatnya ikhlas kerena Allah ta’ala, akan tetapi dia menginginkan suatu balasan duniawi, misalnya harta, kedudukan duniawi, kesehatan pada dirinya, keluarganya atau keturunannya, dan yang semacamnya. Maka dengan amal kebaikannya, dia menginginkan manfaat duniawi dan melalaikan/melupakan balasan Akhirat [Kitab “al-Qaulul mufiid ‘ala kitaabit tauhiid” (2/242)].

Keinginan hawa nafsu yang paling penting dan paling sulit untuk ditundukkan, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah ta’ala, adalah kecintaan dan ambisi mengejar dunia yang berlebihan, serta keinginan untuk selalu mendapatkan pujian dan sanjungan. Inilah dua penyakit hati terbesar yang merupakan penghalang utama untuk meraih keikhlasan dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

“Tidak akan berkumpul (bertemu) keikhlasan dalam hati, dengan keinginan (untuk mendapat) pujian dan sanjungan, serta kerakuasan terhadap (harta benda duniawi) yang ada di tangan manusia, kecuali seperti berkumpulnya air dan api (tidak mungkin berkumpul selamanya). Maka jika terbersit dalam dirimu (keinginan) untuk meraih keikhlasan, yang pertama kali hadapilah (sifat) rakus terhadap dunia, dan penggallah sifat buruk ini dengan pisau ‘putus asa’ (dengan balasan duniawi yang ada di tangan manusia). Lalu hadapilah (keinginan untuk mendapat) pujian dan sanjungan, bersikap zuhudlah (tidak butuh) terhadap semua itu. Kalau kamu sudah bisa melawan sifat rakus terhadap dunia, dan bersikap zuhud terhadap pujian dan sanjungan manusia, maka (meraih) ikhlas akan menjadi mudah bagimu” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

Lebih lanjut, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan cara untuk menghilangkan dua pernyakit buruk penghalang keikhlasan tersebut, beliau berkata:

“Adapun (cara untuk) membunuh (sifat) rakus (terhadap balasan duniawi yang ada di tangan manusia, itu akan dimudahkan bagimu, dengan kamu memahami secara yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun yang diinginkan oleh (manusia), kecuali di tangan Allah semata perbendaharaannya. Tidak ada yang memiliki/menguasainya, selan Dia subhanahu wa ta’ala, dan tidak ada yang dapat memberikannya kepada hamba, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala semata. Adapun (berskap) zuhud terhadap pujian dan sanjungan, itu akan dimudahkan bagimu, dengan kamu memahami (secara yakin), bahwa tidak ada satu pun yang pujiannya bermanfaat, serta mendatangkan kebaikan, dan celaannya mencelakakan dan mendatangkan keburukan, kecuali Allah satu-satunya” [Kitab “al-Fawa-id” (hal. 150)].

 

Dinukil dari tulisan berjudul “Jangan Nodai Ibadah Anda dengan Niat Duniawi” oleh Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA

Sumber: http://muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html

 

,

MAKNA “SETAN TIDAK AKAN BISA MENCELAKAKAN ANAK TERSEBUT SELAMANYA”

MAKNA “SETAN TIDAK AKAN BISA MENCELAKAKAN ANAK TERSEBUT SELAMANYA”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraHadis

#DoaZikir

MAKNA “SETAN TIDAK AKAN BISA MENCELAKAKAN ANAK TERSEBUT SELAMANYA”

Nabi ﷺ bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا » متفق عليه

“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa:

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIBNAS-SYAITHAAN WA JANNIBIS-SYAITHAANA MAA ROZAQ-TANAA

Artinya:

Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.

Kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HR. Bukhari no.141 dan Muslim no.1434)

Hadis ini menunjukkan, bahwa iblis dan bala tentaranya telah memancangkan permusuhan dengan manusia, bahkan sejak dia sedang dalam proses awal penciptaannya. Termasuk ketika manusia pertama kali dilahirkan, meskipun dia belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya. Nabi ﷺ bersabda:

صياح المولود حين يقع، نزغة من الشيطان

“Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.” (HR. Muslim no.2367)

Makna “Setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”, ulama menegaskan, bahwa hadis ini TIDAKLAH menunjukkan, bahwa anak terlahir tersebut akan menjadi ma’shum, yakni terbebas dari dosa dan semua godaan setan. Karena segala kejadian ada sebab dan ada penghalang. Usaha orang tua, yang berdoa ketika hendak berhubungan badan, merupakan sebab agar anak tersebut selamat dari godaan setan. Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, terdapat banyak penghalang, yang membuat anak ini tidak bisa bersih dari godaan setan, sehingga dia melakukan kemaksiatan. (Taisirul Alam Syarah Umdatul Ahkam, 1:588)

Allahu a’lam

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/doa-hubungan-intim/

,

KENAPA BAYI MENANGIS WAKTU BARU PERTAMA DILAHIRKAN?

KENAPA BAYI MENANGIS WAKTU BARU PERTAMA DILAHIRKAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KENAPA BAYI MENANGIS WAKTU BARU PERTAMA DILAHIRKAN?

Iblis dan bala tentaranya telah memancangkan permusuhan dengan manusia, bahkan sejak dia sedang dalam proses awal penciptaannya. Termasuk ketika manusia pertama kali dilahirkan, meskipun dia belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya. Nabi ﷺ bersabda:

صياح المولود حين يقع، نزغة من الشيطان

“Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.” [HR. Muslim no.2367]

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/doa-hubungan-intim/

,

DOA SHAHIH HUBUNGAN INTIM

DOA SHAHIH HUBUNGAN INTIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

#Khususuntukpasutri

DOA SHAHIH HUBUNGAN INTIM

Nabi ﷺ mengajarkan satu doa khusus, ketika seseorang hendak melakukan hubungan badan:

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIBNAS-SYAITHAAN WA JANNIBIS-SYAITHAANA MAA ROZAQ-TANAA

Artinya:

Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.

Keutamaan:

Doa ini memiliki keutamaan khusus, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ: “بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا“، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا » متفق عليه

“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa: ‘Dengan (menyebut) nama Allah, …dst’, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HR. Bukhari no.141 dan Muslim no.1434)

Keterangan:

  1. Yang dimaksud rezeki (رزق) pada hadis di atas adalah anak dan yang lainnya.
  1. Amalan doa di atas menunjukkan besarnya keutamaan membaca doa ini sebelum melakukan hubungan suami istri. Karena disamping mendapat pahala, membaca doa ini merupakan sebab selamatnya seorang bayi dari bahaya dan keburukan setan. An-Nawawi mengatakan:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ الْحَثُّ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى فِي هَذِهِ الْمَوَاضِعِ وَيَلْحَقُ بِهَا مَا فِي مَعْنَاهَا قَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ أَنْ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ

“Dalam hadis ini terdapat dorongan untuk melakukan zikir kepada Allah di kesempatan ini, dan kesempatan yang semisal. Ulama madzhab kami (Syafi’iyah) mengatakan: ‘Dianjurkan untuk menyebut nama Allah dalam setiap perkara yang penting’.” (Syarh Shahih Muslim, 13:185)

 

  1. Hadis ini menunjukkan, bahwa iblis dan bala tentaranya telah memancangkan permusuhan dengan manusia, bahkan sejak dia sedang dalam proses awal penciptaannya. Termasuk ketika manusia pertama kali dilahirkan, meskipun dia belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya. Nabi ﷺ bersabda:

صياح المولود حين يقع، نزغة من الشيطان

“Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.” (HR. Muslim no.2367)

  1. Makna “Setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”, ulama menegaskan, bahwa hadis ini tidaklah menunjukkan, bahwa anak terlahir tersebut akan menjadi ma’shum, yakni terbebas dari dosa dan semua godaan setan. Karena segala kejadian ada sebab dan ada penghalang. Usaha orang tua, yang berdoa ketika hendak berhubungan badan, merupakan sebab agar anak tersebut selamat dari godaan setan. Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, terdapat banyak penghalang, yang membuat anak ini tidak bisa bersih dari godaan setan, sehingga dia melakukan kemaksiatan. (Taisirul Alam Syarah Umdatul Ahkam, 1:588)

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: http://www.konsultasisyariah.com/doa-hubungan-intim/

AKHIRAT ADALAH KEKAL

AKHIRAT ADALAH KEKAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

AKHIRAT ADALAH KEKAL

Semua kenikmatan di dunia ini pasti akan sirna, sedangkan yang ada di sisi Allah, itulah yang akan kekal. Namun sayangnya, betapa banyak yang terlena dengan dunianya yang nanti akan sirna, dan melupakan kehidupan kekal yang ada di Akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96).

Segala sesuatu yang kita miliki pasti akan sirna, baik diri kita sendiri, keluarga dekat kita, dan harta kita. Ibnu Katsir berkata:

“Apa yang ada di sisi kalian akan berakhir pada waktu tertentu yang telah ditetapkan.” Lalu apa yang akan kekal? Ibnu Katsir melanjutkan tafsiran ayat di atas:

“Pahala di sisi Allah untuk kalian di Surga yang akan kekal, tidak terputus, tidak akan lenyap, dan tidak akan hilang.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 710).

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, bahwa semua yang ada di dunia ini pasti akan sirna, dan yang di sisi Allah itulah yang kekal.

Demikianlah, manusia tahu bahwa di sisi Allah yang kekal abadi, namun mereka malah mengganti sesuatu yang kekal dengan sesuatu yang pasti akan sirna.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan Akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17).

Malik bin Dinar berkata:

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan Akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sebenarnya Akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7: 473, Mawqi’ At Tafasir)

Semoga kita termasuk hamba yang menjadi Akhirat sebagai tujuan mulia kita.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah

[SalamDakwah.Com]

JIKA ADA DUA SRIGALA

JIKA ADA DUA SRIGALA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JIKA ADA DUA SRIGALA

Abu Fairuz Ahmad Ridwan

Bagaikan kanker stadium empat yang menggerogoti tubuh pasien dan membinasakannya, demikian pulalah dengan ambisi mengejar dunia dan jabatan, akan segera menggerongoti agama seseorang dan kemudian membinasakannya.

Nabi ﷺ mengumpamakan cepatnya binasa agama seseorang disebabkan ambisi terhadap harta dan jabatan, bagaikan sekawanan domba di tengah padang, yang porak poranda tercabik-cabik, hanya disebabkan masuknya dua ekor srigala. Beliau ﷺ bersabda dari jalur Ka’ab bin Malik:

 ((ما ذئبان جائعان أُرسِلا في غنَمٍ، بأفسَدَ لها من حِرص المرء على المالِ والشرف لدينه)).

Tidaklah kerusakan yang ditimbulkan dua srigala terhadap kawanan domba itu lebih dahsyat dibandingkan kerusakan agama seseorang, disebabkan oleh ambisinya terhadap harta dan jabatan (Hr. Tirmidzi,Ibnu Hibban, Ahmad dll dan disahihkan Al Albani).

Semakin kuat ambisinya untuk meraih dunia dan jabatan, maka semakin cepat pula binasa agamanya. Naudzubillah min dzalik.

Penulis: Al-Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan hafizhahullah

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/655999327914162/?type=3&theater

,

DUNIA YANG RENDAH TIDAK PANTAS MENJADI SEBAB PERMUSUHAN

DUNIA YANG RENDAH TIDAK PANTAS MENJADI SEBAB PERMUSUHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

DUNIA YANG RENDAH TIDAK PANTAS MENJADI SEBAB PERMUSUHAN

Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata:

والسلفي لا يهاجم إخوانه أهل السنة ولا يشق عصاهم من أجل دريهمات.

“Seorang Salafy tidak akan menyerang saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah, dan tidak pula merusak tongkat persatuan mereka, hanya gara-gara uang beberapa Dirham yang tidak berharga.”

[Tuhfatul Mujib, hlm. 186]

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/664771947036900/?type=3&theater

LALAI AKAN AKHIRAT

LALAI AKAN AKHIRAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

LALAI AKAN AKHIRAT

“Mereka mereka lalai.”

[QS. Ar-Rum : 7]

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662642350583193/?type=3&theater

SERING MENGAKHIRKAN SHOLAT (SENGAJA MENUNDA), MAKA AMAL SALEH LAIN JUGA AKAN DIAKHIRKAN

SERING MENGAKHIRKAN SHOLAT (SENGAJA MENUNDA), MAKA AMAL SALEH LAIN JUGA AKAN DIAKHIRKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

SERING MENGAKHIRKAN SHOLAT (SENGAJA MENUNDA), MAKA AMAL SALEH LAIN JUGA AKAN DIAKHIRKAN

“Ketika bos/atasan memanggil, langsung secepat mungkin direspon, apapun keadaannya.

Tetapi ketika Allah -yang menguasai semua bos dan raja- memanggil melalui azan, sengaja datang terlambat atau pura-pura tidak dengar”

“Biar saja seumur hidup tidak pernah memenuhi panggilan Allah melalui azan, tetapi suatu saat, panggilan Allah akan ia penuhi melalui malaikat maut”. Ini bagai manampar ke diri saya sendiri.

Seringnya kita mengakhirkan sholat, baik sengaja atau memang pura-pura lupa, tersibukkan dengan kehidupan dunia yang melalaikan. Jika saja untuk hal-hal lain kita meluangkan waktu dan ada waktu khusus, maka seharusnya demikianlah untuk waktu sholat.

Apalagi di zaman media sosial saat ini dan keasyikan dengan gadget/HP bisa jadi “Masbuk Sibuk Facebook”.

Jika memang kita terlambat sholat tidak sesuai waktunya (apalagi bagi laki-laki sholat berjamaah di masjid), maka JANGAN TENANG-TENANG SAJA. Harus ada perasaan bersalah kepada Allah dan istighfar, kemudian berusaha memerbaiki ke depannya dan mengiringi kesalahan tadi dengan melakukan kebaikan setelahnya, seperti bersedekah (ringan), menelpon membahagiakan orang tua, sholat sunnah dan lain-lain.

Salah satu yang kita khawatirkan adalah dengan sengaja terlambat sholat, maka akan terlambat pula amal saleh dan kebaikan yang lainnya. Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

إن الإنسان كلما تأخر عن الصف الأول والثاني أو الثالث (أي في الصلاة)

ألقى الله في قلبه محبة التأخر في كل عمل صالح والعياذ بالله.

“Tatkala manusia terlambat mendatangi sholat dari menempati shaf pertama, kemudian (sholat berikutnya) terlambat lagi shaf kedua, kemudian shaf ketiga (apalagi sengaja terlambat/ketinggalan sholat berjamaah), maka Allah buat hatinya suka mengakhirkan semua amal saleh.” (Syarah Riyadhus Salehin 5/111)

Semoga kita selalu bisa sholat tepat waktu dan bagi laki-laki sholat berjamaah di masjid memenuhi panggilan Allah

Berikut beberapa motivasi agar kita (terutama saya pribadi), bisa sholat tepat waktu:

  1. Salah satu amal yang paling dicintai Allah  adalah sholat pada waktunya. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu , bahwa beliau bertanya kepada Nabi ﷺ :

“Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi ﷺ menjawab dengan sabdanya:

ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﺘﻬﺎ

“Sholat pada waktunya .”

Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau ﷺ ulangi dua kali, dan Nabi ﷺ

menjawab dengan urutan:

“Berbakti kepada orang tua, kemudia berjihad fi sabilillah .” (HR. Bukhari Muslim)

  1. Sholat adalah yang pertama kali dihisab dan gambaran umum amal. Jika sholatnya baik, maka akah baiklah seluruh amal. Jika jelek, maka akanjelek jugalah amal yang lainnya. Ingat, amal yang utama adalah kualitasnya, bukan banyaknya. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﻳﺤﺎﺳﺐ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺈﻥ ﺻﻠﺤﺖ ﺻﻠﺢ ﻟﻪ ﺳﺎﺋﺮ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻓﺴﺪﺕ ﻓﺴﺪ ﺳﺎﺋﺮ ﻋﻤﻠﻪ

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah sholat. Apabila sholatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila sholatnya buruk, maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (HR. Ath-Thabrani, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah , III:343, no. 1358)

  1. Waktu doa yang mustajab (tidak tertolak) adalah antara azan dan iqamah. Ini bisa didapatkan bagi merela yang sholat tepat waktu. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻻَ ﻳُﺮَﺩُّ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻹِﻗَﺎﻣَﺔِ

“Doa tidak akan ditolak di antara azan dan iqamah.” (HR Ahmad, disahihkan Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no.244)

  1. Keutamaan shaf pertama. Karena seandainya mereka tahu besarnya pahala shaf pertama, mereka akan berebut dan mengundi siapa yang berhak. Nabi ﷺ bersabda:

ﻟَﻮْ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨِّﺪَﺍﺀِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻒِّ ﺍﻷَﻭَّﻝِ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪُﻭﺍ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺘَﻬِﻤُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻻﺳْﺘَﻬَﻤُﻮﺍ

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan mengundinya ” (HR. Bukhari  Muslim)

  1. Keutamaan sholat Subuh berjamaah. Seandainya tahu keutamaannya, mereka akan memenuhi panggilan azan walaupun pergi dengan merangkak ke masjid. Nabi ﷺ bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺃَﺛْﻘَﻞَ ﺻَﻠَﺎﺓٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻭَﻟَﻮْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻟَﺄَﺗَﻮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺒْﻮًﺍ

“Sesungguhnya sholat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim

 

Demikian semoga bermanfaat.

Penyusun: Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

https://muslimafiyah.com/sering-mengakhirkan-sholat-sengaja-menunda-maka-amal-saleh-lain-juga-akan-diakhirkan.html

, ,

KLARIFIKASI TENTANG PERKATAAN PERSATUAN KEBUN BINATANG

KLARIFIKASI TENTANG PERKATAAN PERSATUAN KEBUN BINATANG

بسم الله الرحمن الرحيم

KLARIFIKASI TENTANG PERKATAAN PERSATUAN KEBUN BINATANG

Kebiasaan Para Pembenci Dakwah Salafi, Mereka Memotong Video Dan Memelintir Agar Orang Lain Membenci

Guru kami Ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawas hafizahullah berkata:

Persatuan nisbi bukan untuk sesuatu yang kekal (yakni Akhirat), Inilah persatuan kebon binatang….

1) Maksudnya persatuan yang dipaksakan, karena adanya tembok dan jeruji besi. Karena seandainya tembok dan jeruji besi itu tidak ada, niscaya akan saling menerkam. Jadi kalimat tersebut hanyalah PERUMPAMAAN atas persatuan semu lagi nisbi.

Persatuan seperti ini bukanlah persatuan yang diinginkan oleh Islam. Islam menginginkan persatuan yang kuat, yang dibangun di atas Tauhid, Sunnah dan Manhaj yang benar.

Persatuan yang TIDAK dibangun di atas Manhaj yang benar, tetap saja nisbi. Karena jika persatuan tersebut benar-benar bersifat Ukhrawi (baca: yang kekal), niscaya akan dibangun di atas dasar Alquran, as-Sunnah dengan manhaj yang benar. Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Ali Imran [3]: 103).

Para ulama tafsir menafsirkan kata Hablullah (tali Allah) dengan beberapa makna. Ada yang mengatakan Alquran, adapula yang mengatakan agama Allah, dan yang lainnya. Ibnul Arabi dan Ibnu Katsir menguatkan, bahwa makna Hablullah adalah Alquran, walaupun semua makna tersebut tidak bertentangan.

Dan jika kita diperintahkan untuk memegang teguh Alquran, maka itu pun berarti memegang teguh Sunnah Nabi ﷺ, karena tidak mungkin kita mengamalkan Alquran tanpa mengamalkan hadis.

Setelah Allah memerintahkan untuk memegang teguh tali Allah, lalu Allah melarang perpecahan. Ini menunjukkan bahwa, dengan memegang teguh Alquran dan as-Sunnah, maka kita bisa bersatu. Sebaliknya dengan meninggalkan Alquran dan as-Sunnah, maka kita bercerai berai. Dalam hal ini Abdullah bin Abbas berkata:

حِينَ تَبْيَضُّ وُجُوهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوهُ أَهْلِ البِدْعَة وَالْفُرْقَةِ

“Yakni hari ketika putih wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan hitam wajah ahli bid’ah dan perpecahan”. (Tafsir Ibnu Katsir II/92.)

Lihat bagaimana Abdullah Ibnu Abbas menyandingkan kata bid’ah dengan perpecahan. Ini menunjukkan, bahwa memegang teguh Alquran dan Sunnah adalah pokok persatuan, dan meninggalkannya adalah pokok perpecahan.

2) Kemudian, sangat buruk ‘Persatuan’ yang tidak dibangun di atas landasan Alquran dan as-Sunnah. Sangat buruk ‘persatuan’ yang hanya dibangun di atas perasaan, apalagi dengan tujuan duniawi yang fana. Itulah ‘persatuan’ yang sebenarnya tidak menyatukan, tidak saling menyayangi, juga tidak akan pernah saling membantu untuk mewujudkan tujuan hidup, yakni Ubudiyah. Bagaimana bisa, sementara mereka sendiri berbeda dalam makna dan perincian ubudiyah. Ada yang gemar melakukan kesyirikan adapula yang suka melakukan perkara bid’ah.

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata:

لا يمكن الاجتماع مع اختلاف المنهج والعقيدة

“Tidak mungkin bersatu, sementara manhaj dan akidahnya berbeda”. (al-Al-Ajwibah al-Mufidah: 223).

Persatuan yang tidak dibangun di atas landasan Alquran dan as-Sunnah, sejatinya adalah perpecahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَهَذَا التَّفْرِيقُ الَّذِي حَصَلَ مِنْ الْأُمَّةِ عُلَمَائِهَا وَمَشَايِخِهَا ؛ وَأُمَرَائِهَا وَكُبَرَائِهَا هُوَ الَّذِي أَوْجَبَ تَسَلُّطَ الْأَعْدَاءِ عَلَيْهَا . وَذَلِكَ بِتَرْكِهِمْ الْعَمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Perpecahan ini, yakni yang terjadi antara umat, ulama dan para masayikhnya, demikian pula para penguasanya, ialah perpecahan yang menjadikan musuh-musuh Islam menguasai mereka. Itu semua disebabkan karena mereka tidak menaati Allah dan Rasul-Nya”. (Al-Washiyatul Kubra: 28).

3) Lalu, persatuan yang memang memunyai banyak kepentingan. Apakah bentuknya uang, atau proyek, atau jabatan, atau kedudukan dan semua persatuan yang tujuannya duniawi. Yang pada akhirnya nanti mereka akan saling berebut (ini maksud dari perumpamaan dengan cakar-cakaran). Allah Ta’ala berfirman:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُم شَتَّى

“Kamu kira hati mereka itu bersatu, padahal hati mereka itu terpecah belah. ” (QS. Al Hasyr: 14)

Yang perumpamaan ini TIDAK ADA kaitannya dengan aksi demo sama sekali.

Kesimpulan penting:

Guru kami ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawas mengungkapkan kata-kata di atas, setelah menjelaskan bagaimana memegang teguh Alquran dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, yang merupakan inti agar kaum muslimin bisa bersatu secara hakiki.

Kemudian ceramah tersebut sama sekali TIDAK ADA hubungannya dengan aksi demo yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin. Maka sangat disayangkan bagi seseorang yang telah memelintirnya dan mengaitkan potongan ceramah dengan aksi tersebut.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika ceramah tersebut didengarkan secara lengkap dan utuh. Dan itulah kewajiban kita dalam hal seperti ini. Bukankah Allah memerintahkan kita untuk Tabayyun? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat [49]: 6)

Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang mampu memberikan hidayah kepadanya.

Ditulis oleh: Ustadz Beni Sarbeni Abu Sumayyah, Lc

https://www.facebook.com/MocHaMmAd.HILMAN.aLfiQhY/posts/10208052763180353

Simak Video Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas yang tidak dipotong: https://youtu.be/5oQu5geHfBA

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/17533-kebiasaan-para-pembenci-dakwah-salafi-mereka-memotong-video-dan-memelintir-agar-orang-lain-membenci.html