Posts

, ,

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

 

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat:

 
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
.
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” [QS. An Nur: 61]
 
Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين
.
“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin
 
Artinya:
Salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang saleh. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadis ini Hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17]
 
Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.
 
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata: “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam: “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. [Al Adzkar, hal. 468-469]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ucapan, #ucapkan, #mengucapkan, #doazikir, #doa, #zikir, #dzikir, #rumahkosong, #tidakadapenghunihukum, #tatacara, #cara #masukrumah
, ,

SELAIN BERDOA, APALAGI YANG HARUS KITA LAKUKAN (SEBAGAI RAKYAT)?

SELAIN BERDOA, APALAGI YANG HARUS KITA LAKUKAN (SEBAGAI RAKYAT)?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
Bismillah
 
SELAIN BERDOA, APALAGI YANG HARUS KITA LAKUKAN (SEBAGAI RAKYAT)?
 
Bersabarlah terhadap pemimpin yang zalim. Ibnu Abil ‘Izz mengatakan:
“Hukum menaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zalim (kepada kita). Jika kita keluar dari menaati mereka, maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah taala tidak menjadikan mereka berbuat zalim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita.
 
Perhatikanlah firman Allah taala berikut:
 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. Asy Syura (42) : 30]
 
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
 
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”.” [QS. Ali Imran (3) : 165]
 
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
 
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah. Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [QS. An Nisa’ (4) : 79]
 
Allah taala juga berfirman:
 
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
 
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” [QS. Al An’am (6) : 129]
 
 
Apabila rakyat menginginkan terbebas dari kezaliman seorang pemimpin, maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman. [Inilah nasihat yang sangat bagus dari seorang ulama Robbani. Lihat Syarh Akidah Ath Thohawiyah, hal. 381, Darul ‘Akidah]
 
Ingatlah: Semakin Baik Rakyat, Semakin Baik Pula Pemimpinnya
 
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan:
“Sesungguhnya di antara hikmah Allah taala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya. Bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya, serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah, maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.
 
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah taala.” ([Lhat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178]
 
Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau: “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi ﷺ tidak?
‘Ali menjawab:
“Karena pada zaman Nabi ﷺ yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”
 
Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum Muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang MENGOREKSI DAN MENGUBAH DIRINYA SENDIRI, BUKAN MENGUBAH PENGUASA YANG ADA. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah akidah, ibadah, akhlak dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah taala:
 
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar Ra’du (13) : 11] [Dinukil dari buku Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawas, Nasihat Perpisahan, hadis Al ‘Irbadh]
 
Menegakkan Negara Islam
Ada seorang dai saat ini berkata:
 
أَقِيْمُوْا دَوْلَةَ الإِسْلاَمِ فِي قُلُوْبِكُمْ، تَقُمْ لَكُمْ عَلَى أَرْضِكُمْ
 
“Tegakkanlah Negara Islam di dalam hati kalian, niscaya Negara Islam akan tegak di bumi kalian.”
 
Bukanlah jalan melepaskan diri dari kezaliman penguasa adalah dengan mengangkat senjata melalui kudeta yang termasuk bid’ah pada saat ini. Pemberontakan semacam ini telah menyelisihi nash-nash yang memerintahkan untuk mengubah diri sendiri terlebih dahulu dan membangun bangunan dari pondasi (dasar). Allah taala berfirman:
 
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
 
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. Al Hajj (22) : 40]
 
Jalan keluar dari kezaliman penguasa, di mana kulit mereka sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita, adalah dengan:
1. Bertobat kepada Allah taala
2. Memperbaiki akidah
3. Mendidik diri dan keluarga dengan ajaran Islam yang benar
[At Ta’liqot Al Atsariyah ‘alal Akidah Ath Thohawiyah li Aimmati Da’wah Salafiyah, 1/42, Maktabah Syamilah]
 
Oleh karena itu, setiap dai yang ingin mendakwahkan Islam hendaklah memulai dakwahnya dengan dakwah tauhid. Inilah dakwah para Nabi dan dakwah pertama yang Nabi perintahkan kepada dai dari kalangan sahabat untuk menyampaikannya kepada umat. Para sahabat tidaklah diperintahkan untuk menegakkan khilafah Islamiyah terlebih dahulu, atau menguasai pemerintahan melalui politik. Namun dakwah yang beliau ﷺ perintah untuk disampaikan pertama kali adalah dakwah tauhid.
Lihatlah nasihat beliau ﷺ ketika beliau mengutus seorang sahabat ke Yaman, negeri Ahli Kitab:
 
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ ، فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ
 
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab. Jadikanlah dakwah pertamamu kepada mereka adalah untuk beribadah kepada Allah (menauhidkannya). Apabila mereka sudah menauhidkan Allah, beritahukanlah mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam kepada mereka.” [R. Bukhari dan Muslim]
 
Jauhilah Pertumpahan Darah
 
Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum Muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum Muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
 
“Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang Muslim.” [HR. Tirmidzi]
 
Allah taala berfirman:
 
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
 
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” [QS. Al Ma’idah (5) : 32]
 
Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum Muslimin yang tidak bersalah menjadi korban.
Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati para pemimpin. Namun bukan berarti tidak ada amar ma’ruf nahi mungkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syariat yang mulia ini.
 
Ingatlah nasihat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah:
 
وفي هذا بيان لطريق الخلاص من ظلم الحكام الذين هم ” من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا ” وهو أن يتوب المسلمون إلى ربهم ويصححوا عقيدتهم ويربوا أنفسهم وأهليهم على الإسلام الصحيح تحقيقا لقوله تعالى: (إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم) [الرعد: 11] وإلى ذلك أشار أحد الدعاة المعاصرين (اا) بقوله: ” أقيموا دولة الإسلام في قلوبكم تقم لكم على أرضكم “. وليس طريق الخلاص ما يتوهم بعض الناس وهو الثورة بالسلاح على الحكام. بواسطة الانقلابات العسكرية فإنها مع كونها من بدع العصر الحاضر فهي مخالفة لنصوص الشريعة التي منها الأمر بتغيير ما بالأنفس وكذلك فلا بد من إصلاح القاعدة لتأسيس البناء عليها (ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز) [الحج: 40]
 
“Maka poin ini merupakan penjelasan (tentang) jalan keluar dari kezaliman penguasa, yang mereka itu pada hakikatnya adalah berasal dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (maksudnya, pemimpin itu pada hakikatnya berasal dari rakyat, pen.), yaitu hendaknya kaum Muslimin bertobat kepada Allah dan memperbaiki akidahnya, dan mendidik dirinya sendiri dan keluarganya di atas agama Islam yang shahih. Hal ini untuk mewujudkan firman Allah taala yang artinya:”Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah suatu kaum, sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’du (13): 11]
 
BUKANLAH jalan untuk keluar dari kezaliamn penguasa adalah memberontak kepada penguasa, dengan jalan kudeta (militer). Maka hal ini di samping bid’ah pada zaman ini, juga merupakan tindakan yang menyelisihi dalil-dalil syariat, yang di antaranya memerintahkan untuk memperbaiki (mengubah) diri sendiri (terlebih dahulu). Demikian pula wajib untuk memperbaiki pondasi kaidah agar kuatlah bangunan di atasnya. (Allah taala berfirman yang artinya): ”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. Al-Hajj (22): 40]” [Takhrij Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 69]
 
Semoga Allah taala senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada pemimpin dan pemerintah kaum Muslimin.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#selainberdoa, #doa, #berdoa, #apalagiyangbisadilakukan, #sebagairakyat, #pemimpin, #penguasa, #ulilamri, #waliyulamri, #waliyyulamri, #zhalim, #zalimzholim, #zolim, #pemberotakan, #memberontak, #khawarij, #medoakan  #penguasa #kudetamiliter, #manhajsalaf. #demonstrasi, #demostrasi #sabar, #bersabar, #jalankeluardarikezalimanpenguasa
, ,

CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED

CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED
 
 
Allah taala berfirman:
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
 
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” [QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60]
 
Allah taala juga berfirman:
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
 
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]
 
Jadi curahkanlah segala keluh kesahmu kepada-Nya.
Karena Dia pasti akan mengabulkan do’mu dan akan menolongmu, lebih dari siapapun yang kamu tunggu.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
  #sosmed, #medsos, #sosialmedia, #curhat #mengadu, #hanyakepadaAllah #mengadu #memohon #mohon #adabberdoa
, ,

JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH

JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH
>> Hindari berdoa: “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau kehendaki”
>> Memintalah sesering mungkin di dalam doa
 
Sobat, pernahkan kita dengar doa seperti ini:
“Ya Allah,
Tak layak bagiku menghuni Surga Firdaus-Mu,
Namun aku tak kuat bila menempati Neraka Jahim-Mu”
“Ya Allah, ampuni aku jika Engkau kehendaki”
 
Sejenis dengan doa ini dan TIDAK BOLEH misalnya: “Ya Allah jika Surga layak bagiku, maka masukkan aku ke Surga-Mu”
 
Doa semacam ini dibahas dalam pelajaran TAUHID dan harus dihindari.
 
Doa “Menggantung” seperti ini ada laranganny, sebagaimana dalam hadis:
 
ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “.
 
“JANGANLAH seseorang di antara kalian berdoa dengan ucapan: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki.”
 
Atau berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.
 
Tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP, karena sesungguhnya Allah, tidak ada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” [HR. Bukhari & Muslim]
 
Dalam riwayat lainnya:
 
ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ
 
“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah, tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Ia berikan.”
 
Mengapa dilarang? Karena:
 
1. Ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dalam mengabulkan permintaan hamba-Nya, atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya.
 
Sama seperti seorang berkata:
“Kalau engkau berkehendak, pinjamkan saya uang.”
 
Kalimat ini muncul karena dia butuh uang dan dia tahu bahwa yang diminta pinjam bisa jadi meminjamkan atau tidak meminjamkan (karena bisa jadi dia juga sedang butuh uang atau lainnya)
 
Sedangkan meminta ampun bagi hamba yang butuh ampunan, maka Allah Maha Kaya dan Tidak butuh dengan ampunan hamba-Nya. Akan tetapi Allah Maha Pengampun yang mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki.
 
2. Kita diperintahkan berkeinginan kuat dalam berdoa, bahwa kita sangat butuh, memelas pada Allah, dan yakin akan dikabulkan, baik di dunia, maupun berupa simpanan kebaikan di Akhirat.
 
Yang BOLEH adalah “menggantungkan” doa dan menyandarkannya dengan ilmu gaib Allah mengenai masa depan, karena ia tidak tahu masa depan dan hanya Allah yang tahu. Misalnya:
 
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺣْﻴِﻨِﻰ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻰ، ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨِﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﻮَﻓَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻰ
 
“Ya Allah, hidupkanlah aku (panjangkan usiaku), jika hidup itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.’ “ [HR. Bukhari]
 
Sebagian ulama menjelaskan doa ini boleh jika seseorang mengkhawatirkan agamanya.
 
Contoh lainnya:
“Ya Allah, jika ia memang dia jodoh yang bisa selalu mengingatkan aku pada-Mu, maka jodohkanlah aku dengannya.”
 
Seseorang yang TAUHID dan IMANnya baik akan selalu yakin dan percaya kepada Allah dengan hati yang teguh dan mantab, sebagaimana tercermin dalam doanya.
 
 
Penyusun: Raehanul Bahraen
 
#adabakhlak, #adab, #adabberdoa,#tatacara, #cara, #berdoa, #doa, #janganragu, #yakin, #mantab, #jikaEngkaukehendaki
,

DOA RUQYAH MENGOBATI ANGGOTA TUBUH YANG SAKIT

DOA RUQYAH MENGOBATI ANGGOTA TUBUH YANG SAKIT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
DOA RUQYAH MENGOBATI ANGGOTA TUBUH YANG SAKIT
 
Ini adalah salah satu doa yang dapat diamalkan ketika anggota tubuh ada yang sakit. Ini termasuk bacaan ruqyah sederhana, bisa diamalkan oleh penderita sakit itu sendiri. Misalnya sakit gigi, tangan atau kaki yang keseleo dan sebagainya. Pegang bagian tubuh yang sakit lalu membaca ….
بِاسْمِ اللَّهِ 
(3×)
أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
(7×)
“Bismillah (dibaca tiga kali)
A’udzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir.” (dibaca tujuh kali)
 
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah.
Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari kejelekan yang aku dapatkan dan aku waspadai. [HR. Muslim no. 2202]
 
Cerita hadis di atas, pernah ‘Utsman bin Abu Al-Asy’ash Ats-Tsaqafi mengadukan kepada Rasulullah ﷺ ada sesuatu yang sakit di tubuhnya sejak dahulu ia masuk Islam. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa di atas, sambil memerintah dengan meletakkan tangan di bagian yang sakit pada badannya.
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, bahwa disunnahkan meletakkan tangan di bagian yang sakit lalu membaca doa sebagaimana yang disebutkan. [Syarh Shahih Muslim, 14: 169]
Semoga mudah mengamalkannya. Wallahu waliyyut taufiq.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#doazikir, #doa, #dzikir, #zikir, #obati, #pengobatan, #mengobati, #ruqyah, #rukyah, #anggotabadansakit, #tubuhsakit #doawaktusakit,#ruqyahdirisendiri,
,

LEBIH DICINTAI RASULULLAH DARIPADA SEGALA SESUATU YANG TERKENA SINAR MATAHARI

LEBIH DICINTAI RASULULLAH DARIPADA SEGALA SESUATU YANG TERKENA SINAR MATAHARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

LEBIH DICINTAI RASULULLAH DARIPADA SEGALA SESUATU YANG TERKENA SINAR MATAHARI
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».
 
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah ﷺ telah bersabda:
‘Sesungguhnya membaca “Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” [HR. Muslim no. 2695]
 
Al Munawi rahimahullah mengatakan:
“Segala sesuatu yang dikatakan antara langit dan bumi, atau dikatakan lebih baik dari sesuatu yang terkena sinar matahari atau tenggelamnya, ini adalah ungkapan yang menggambarkan dunia dan seisinya.” [Faidul Qodir, Al Munawi, Masqi’ Ya’sub, 5/360]
Dari sini menunjukkan bahwa keempat kalimat tersebut lebih baik daripada dunia seisinya.
 
Yang dimaksud bacaan Tasbih (Subhanallah = Maha Suci Allah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.
 
Yang dimaksud bacaan Tahmid (Alhamdulillah = Segala puji bagi Allah) adalah menetapkan kesempurnaan pada Allah dalam nama, sifat dan perbuatan-Nya yang mulia.
 
Yang dimaksud bacaan Tahlil (Laa ilaha illallah = Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah) adalah berbuat ikhlas dan menauhidkan Allah serta berlepas diri dari kesyirikan.
 
Yang dimaksud bacaan Takbir (Allahu akbar = Allah Maha Besar) adalah menetapkan keagungan atau kebesaran pada Allah taala dan tidak ada yang melebihi kebesaran-Nya.
 
Empat kalimat mulia tersebut bisa berfaidah jika bukan hanya di lisan, namun direnungkan maknanya di dalam kalbu, di dalam hati yang paling dalam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#lebihdicintaiRasulullah, #segalasesuatuyangterkenasinarmatahari, #terkenamatahari, #kalimatmulia, #empatkalimatmulia, #doa, #doa, #dzikir, #zikir, #doa zikir, #tahmid, #tahlil, #takbir, #tasbih #lebihbaik #dariduniadanseisinya #duniaseisinya #4kalimatmulia
, ,

MILIKILAH SIFAT TAKWA DISERTAI AKHLAK MULIA

MILIKILAH SIFAT TAKWA DISERTAI AKHLAK MULIA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
MILIKILAH SIFAT TAKWA DISERTAI AKHLAK MULIA
 
Dalam sebuah nasihat berharga Nabi ﷺ kepada Abu Dzar disebutkan:
 
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
 
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut. Dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Shahih]
 
Di antara faidah hadis ini disebutkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam Al Fawaid:
“Nabi ﷺ menggabungkan antara takwa dan berakhlak yang mulia. Karena takwa akan memperbaiki hubungan antara hamba dan Allah, sedangkan berakhlak yang mulia memperbaiki hubungan antar sesama. Takwa pada Allah mendatangkan cinta Allah, sedangkan akhlak yang baik mendatangkan kecintaan manusia.” [Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah]
 
Milikilah selalu sifat takwa dan akhlak yang mulia. Mohonlah selalu pada Allah sifat yang demikian.
 
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
 
Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.
 
Artinya:
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina. (HR. Muslim no. 2721)
 
An Nawawi rahimahullah mengatakan: “’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” [Syarh Muslim, 17/41]
 
Sifat al ghina yaitu dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qonaah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #adabakhlak, #adabIslami,  #akhlak,  #akhlaq,  #takwa,  #taqwa,  #ikutikejelekandengankebaikan  #menghapuskankejelekan,  #berakhlaklahdenganmanusiadenganakhlakyangbaik #doazikir, #dzikir, #zikir, #doa, #mohon, #memohon #akhlakmulia, #akhlaqmulia
,

DOA MEMOHON PANJANG UMUR DAN BANYAK HARTA

DOA MEMOHON PANJANG UMUR DAN BANYAK HARTA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
DOA MEMOHON PANJANG UMUR DAN BANYAK HARTA
 
Di antara doa Nabi ﷺ pada Anas radhiyallaahu ‘anhu adalah:
 
اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالًا، وَوَلَدًا، وَبَارِكْ لَهُ
 
“Ya Allah, tambahkanlah rezeki padanya berupa harta dan anak, serta berkahilah dia dengan nikmat tersebut.” [HR. Bukhari no. 1982 dan Muslim no. 660]
 
Dalam riwayat lainnya disebutkan, bahwa Nabi ﷺ mendoakan Anas radhiyallaahu ‘anhu dengan doa:
 
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
 
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan padanya.” [HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480]
 
Dalam doa di atas terdapat dalil bolehnya meminta pada Allah banyak harta dan banyak, anak serta keberkahan dalam harta dan anak. Dan di sini terdapat anjuran untuk mendoakan hal dunia, namun disertai dengan mendoakan keberkahan di dalamnya. Yang namanya berkah adalah bertambahnya kebaikan dan kebaikan tersebut tetap terus ada. Harta dan anak bisa jadi berfaidah, jika dimanfaatkan dalam kebaikan.
 
Dalam buku Ad Du’a minal Kitab was Sunnah, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah menyusun doa yang amat bagus sebagai berikut:
 
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي
 
ALLOHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOITANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LII
 
Artinya:
Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu, dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku.” [Doa ini adalah intisari dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas. [Sebagian bahasan ini diolah dari Syarh Ad Du’a minal Kitab was Sunnah (Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc)]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #doa,  #do’a,  #dzikir,  #zikir,  #mohon,  #memohon,  #panjangumur,  #harta,  #banyakharta,  #kayaraya #doamintakaya #doamintapanjangumur
,

DOA MEMINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, KETERJAGAAN DAN KEKAYAAN

DOA MEMINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, KETERJAGAAN DAN KEKAYAAN
DOA MEMINTA PETUNJUK, KETAKWAAN, KETERJAGAAN DAN KEKAYAAN
 
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى» )
 
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, dari Nabi ﷺ, beliau biasa berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Allaahumma innii as-alukal hudaa wat tuqaa wal ‘afaafa wal ghinaa.
 
Artinya:
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, keterjagaan, dan kekayaan.”
[HR. Muslim no. 2721, At Tirmidzi no. 3489, Ibnu Majah no. 3105, Ibnu Hibban no. 900 dan yang lainnya]
Sumber: [Muslim.Or.Id]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Doa, #meminta, #petunjuk, #ketakwaan, #keterjagaan, #kekayaan, #doazikir, #dzikir, #minta, #mohon, #memohon, #takwa, #taqwa, #ketakwaan, #ketaqwaan, #petunjuk, #hidayah, #kekayaan, #kaya
, ,

DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA

DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA
 
Hadis Pertama
Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: 
“إن دعوة الأخ في الله تستجاب”
 
“Sesungguhnya doa seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah doa yang mustajab (terkabulkan).“ (Shahih secara sanad)
 
Hadis Kedua
Dari Shofwan bin ‘Abdillah bin Shofwan, istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’, beliau mengatakan:
 
قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول
 
“Saya tiba di negeri Syam, kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shofwan, pen) di rumah. Namun saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shofwan, pen). Ummu Darda’ berkata: “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shofwan) berkata: “Iya.”
Ummu Darda’ pun mengatakan: “Kalau begitu doakanlah kebaikan padaku karena Nabi ﷺ pernah bersabda:
 
: “إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.
 
“Sesungguhnya doa seorang Muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”
 
Shofwan pun mengatakan: “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan, bahwa dia menukilnya dari Nabi ﷺ.” [(Shahih) Lihat Ash Shahihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88]
 
Hadis Ketiga
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan:
 
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا
 
“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”
Rasulullah ﷺ lantas bersabda:
 
لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ
 
“Sungguh engkau telah menyempitkan doamu tadi dari doa kepada orang banyak.” (Shahih) Lihat Al Irwa’ (171): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 27-Bab: Kasih Sayang Terhadap Sesama Manusia dan Terhadap Hewan Ternak, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Pelajaran yang dapat dipetik dari hadis-hadis di atas:
 
Pertama: Islam sangat mendorong umatnya agar dapat mengikat hubungan antara saudaranya sesama Muslim dalam berbagai keadaan dan di setiap saat.
 
Kedua: Doa seorang Muslim kepada saudaranya karena Allah di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang sangat utama dan doa yang akan segera terijabahi (mustajab). Orang yang mendoakan saudaranya tersebut akan mendapatkan semisal yang didapatkan oleh saudaranya.
 
Ketiga: Ada malaikat yang bertugas mengaminkan doa seorang Muslim kepada suadaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya.
 
Keempat: Malaikat tidaklah mengaaminkan doa selain doa dalam kebaikan.
 
Kelima: Sebagaimana terdapat dalam hadis ketiga di atas, Nabi ﷺ mengingkari Arab Badui, di mana dia membatasi rahmat Allah yang luas meliputi segala makhluk-Nya, lalu dibatasi hanya pada dirinya dan Nabi Muhammad ﷺ saja.
 
Inilah beberapa pelajaran berharga dari hadis di atas. Janganlah lupakan saudaramu di setiap engkau bermunajat dan memanjatkan doa kepada Allah, apalagi orang-orang yang telah memberikan kebaikan padamu, terutama dalam masalah agama dan Akhiratmu. Ingatlah ini!
 
Semoga Allah selalu menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#doazikir, #do’a, #doa, #zikir, #diamdiam, #sembunyisembuyi, #adamaiaikatdiataskepala, #adamalaikatdi ampingnya, #doakansaudaramu, #doakankawanmu, #sahabat, #doaseorangMuslimkepadasaudaranyakarena Allah, #doa eorangMuslimkepada saudaranya tanpadiketahi, #doaseorangMuslimkepadasaudaranyasecaradiamdiam, #doaseorangMuslimkepadasaudaranyatanpadiketahui #kawan #saudara #sodara #shahabat #malaikatmengaminkandoa #doakepadasaudara, #doakepadasodara, #doakepadateman, #doakepadakawan #tanpadiketahui #tidakdiketahui #adamalaikatdisisinya