Posts

, ,

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

 

Bagi para jamaah haji/umrah wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi, bahwa ia telah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.”
Nabi ﷺ berkata: “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.”
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. [HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar]

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka TETAP LEBIH BAIK bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi ﷺ dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi, tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/10435-menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#SifatShalatNabi,#SifatSholatNabi, #sifatsholatNabi, #sifatshalatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #caranya, #perempuan, #wanita, #muslimah, #lebihbaik, #dirumahnya, #masjidNabawi, #mesjidNabawi, #umrah, #umroh, #haji, #fadhilah

,

BERLEMAH LEMBUTLAH TERHADAP HEWAN KURBANMU

BERLEMAH LEMBUTLAH TERHADAP HEWAN KURBANMU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#FikihKurban
 
BERLEMAH LEMBUTLAH TERHADAP HEWAN KURBANMU
>> Jangan Matikan Hewan Kurbanmu Dua Kali
 
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:
 
مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ، وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ، وَهِيَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصرِها، قَالَ:أَفَلا قَبْلَ هَذَا، أَوَ تُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَتَينِ
 
“Rasulullah ﷺ melewati seseorang yang meletakkan kakinya di atas badan samping seekor kambing sambil menajamkan pisaunya, sedang kambing itu melihat ke arah pisau. Maka beliau ﷺ bersabda: Mengapakah engkau tidak menajamkan pisau sebelum melakukan ini? Apakah engkau ingin mematikannya dua kali?!” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath, Ash-Shahihah: 24, Shahihut Targhib: 1090]
 
An-Nawawi rahimahullah berkata:
 
ويستحب أن لا يحد السكين بحضرة الذبيحة وأن لا يذبح واحدة بحضرة أخرى ولا يجرها إلى مذبحها
 
“Dan dianjurkan untuk TIDAK menajamkan pisau di hadapan hewan sembelihan. TIDAK boleh pula menyembelih seekor hewan di depan yang lainnya, dan tidak boleh menyeretnya ke tempat pemyembelihannya di depan yang lainnya.” [Syarhu Muslim 13/113]
 
Beberapa Pelajaran:
 
1) Kewajiban berbuat baik kepada hewan sembelihan dan membuatnya nyaman sebelum disembelih.
 
2) Tidak boleh menajamkan pisau di hadapan hewan sembelihan.
 
3) Tidak boleh menyembelih atau menyeret seekor hewan ke tempat penyembelihan dan disaksikan oleh hewan yang lain.
 
4) Sifat kasih sayang Rasulullah ﷺ yang sangat besar. Demikianlah yang harus diteladani oleh umat beliau ﷺ
 
5) Keistimewaan dan kesempurnaan ajaran Islam, serta ketinggian dan keluhuran akhlak yang dianjurkan dalam Islam.
 
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Sumber: [fb.com/sofyanruray.info]
,

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihWarisan

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM
>> Di Antara Contoh Kasus Wasiat yang Tidak Dibenarkan oleh Syariat

Setiap Muslim sudah seharusnya memahami apa itu wasiat. Salah memahami wasiat, bisa berdampak fatal. Salah berwasiat, bisa bernilai kezaliman. Sebagai Muslim yang baik, bagian ini wajib kita pahami, karena kita pasti akan mati.

Beberapa hari yang lewat, saya bincang-bincang dengan seseorang yang berasal dari keluarga poligami. Artinya, ayahnya memiliki dua istri, dan dia anak dari ibu kedua. Dari ibu pertama sang ayah mendapatkan sembilan anak, sedangkan dari ibu kedua dia mendapatkan lima anak. Sebelum sang ayah meninggal dunia, dia menuliskan wasiat berisi tata cara pembagian waris dari harta sang ayah. Anak-anak dari ibu kedua diberi warisan berupa dua lokasi, sedangkan anak-anak dari ibu pertama diberi warisan dari satu lokasi, yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan nilai dua lokasi di atas.

Inilah contoh kasus wasiat yang TIDAK DIBENARKAN OLEH SYARIAT. Mengapa wasiat di atas tergolong wasiat yang terlarang? Jawabannya bisa disimak di bawah ini:

Pengertian Wasiat

Kata Wasiat termasuk kosa kata bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa aslinya bahasa Arab, wasiat itu bermakna perintah yang ditekankan.

Wasiat dalam makna yang luas adalah nasihat yang diberikan kepada seorang yang dekat di hati semisal anak, saudara, maupun teman dekat, untuk melaksanakan suatu hal yang baik, atau menjauhi suatu hal yang buruk. Wasiat dengan pengertian memberikan pesan yang penting ketika hendak berpisah dengan penerima pesan ini, biasanya diberikan saat merasa kematian sudah dekat, hendak bepergian jauh, atau berpisah karena sebab lainnya.

Sedangkan wasiat yang kita bahas kali ini adalah khusus terkait pesan yang disampaikan oleh orang yang hendak meninggal dunia.

Wasiat jenis ini bisa bagi menjadi dua kategori:

Pertama: Wasiat kepada orang yang hendak untuk melakukan suatu hal, semisal membayarkan utang, memulangkan pinjaman dan titipan, merawat anak yang ditinggalkan, dst.

Kedua: Wasiatkan dalam bentuk harta, agar diberikan kepada pihak tertentu, dan pemberian ini dilakukan setelah pemberi wasiat meninggal dunia.

Hukum Wasiat

Hukum wasiat tergantung pada kondisi orang yang menyampaikan wasiat. Berikut rinciannya:

  1. Menyampaikan wasiat hukumnya wajib untuk orang yang punya utang atau menyimpan barang titipan atau menanggung hak orang lain, yang dikhawatirkan manakala seorang itu tidak berwasiat maka hak tersebut tidak ditunaikan kepada yang bersangkutan.
  2. Berwasiat hukumnya dianjurkan untuk orang yang memiliki harta berlimpah dan Ahli Warisnya berkecukupan. Dia dianjurkan untuk wasiat agar menyedekahkan sebagian hartanya, baik sepertiga dari total harta atau kurang dari itu, kepada kerabat yang tidak mendapatkan warisan atau untuk berbagai kegiatan sosial.
  3. Berwasiat dengan harta hukumnya makruh jika harta milik seorang itu sedikit dan Ahli Warisnya tergolong orang yang hartanya pas-pasan. oleh karena itu banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang meninggal dunia dalam keadaan tidak berwasiat dengan hartanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian hendak meninggal dunia, sebagai tambahan kebaikan bagi kalian.” [HR. Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani].

Dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, ada dua hal yang keduanya bukanlah hasil jerih payahmu. Pertama, kutetapkan sebagian hartamu untukmu ketika engkau hendak meninggal dunia untuk membersihkan dan menyucikanmu. Kedua, doa hamba-hambaku setelah engkau meninggal dunia.” [HR. Ibnu Majah, dhaif].

Demikian pula hadis yang yang mengisahkan Nabi mengizinkan Saad bin Abi Waqash untuk wasiat sedekah sebesar sepertiga total kekayaannya [HR Bukhari dan Muslim].

Syarat Sah Wasiat

Pertama: Terkait wasiat dalam bentuk meminta orang lain untuk mengurusi suatu hal semisal membayarkan utang, merawat anak yang ditinggalkan, maka disyaratkan bahwa orang yang diberi wasiat tersebut adalah seorang Muslim dan berakal. Karena jika tidak, dikhawatirkan amanah dalam wasiat tidak bisa terlaksana dengan baik.

Kedua: Orang yang berwasiat adalah orang yang berakal sehat dan memiliki harta yang akan diwasiatkan.

Ketiga: Isi wasiat yang disampaikan hukumnya mubah. Tidak sah wasiat dalam hal yang haram, semisal wasiat agar diratapi setelah meninggal dunia, atau berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada gereja, atau untuk membiayai acara bid’ah, acara hura hura, atau acara maksiat lainnya.

Keempat: Orang yang diberi wasiat bersedia menerima wasiat. Jika dia menolak, maka wasiat batal, dan setelah penolakan, orang tersebut tidak berhak atas apa yang diwasiatkan.

Di antara Ketentuan Wasiat

Pertama: Orang yang berwasiat boleh meralat atau mengubah-ubah isi wasiat. Berdasarkan perkataan Umar: “Seseorang boleh mengubah isi wasiat sebagaimana yang dia inginkan.” [Diriwayatkan oleh Baihaqi].

Kedua: Tidak boleh wasiat harta melebihi sepertiga dari total kekayaan. Mengingat sabda Nabi ﷺ kepada Saad bin Abi Waqash yang melarangnya untuk berwasiat dengan dua pertiga atau setengah dari total kekayaannya. Ketika Saad bertanya kepada Nabi ﷺ, bagaimana kalau sepertiga, maka jawaban Nabi ﷺ: “Sepertiga, namun sepertiga itu sudah terhitung banyak. Jika kau tinggalkan Ahli Warismu dalam kondisi berkecukupan, itu lebih baik dari pada kau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin, lantas mereka mengemis-ngemis kepada banyak orang.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Ketiga: Dianjurkan agar kurang dari sepertiga, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas: “Andai manusia mau menurunkan kadar harta yang diwasiatkan dari sepertiga menjadi seperempat mengingat sabda Nabi ﷺ ‘Sepertiga, akan tetapi sepertiga itu banyak’.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Keempat: Yang terbaik adalah mencukupkan diri dengan berwasiat seperlima dari total kekayaannya, mengingat perkataan Abu Bakar, “Aku rida dengan dengan apa yang Allah ridai untuk dirinya,” yaitu seperlima.” [Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 1/44].

Kelima: Larangan untuk berwasiat dengan lebih dari sepertiga itu hanya berlaku orang yang memiliki Ahli Waris. Sedangkan orang yang sama sekali tidak memiliki Ahli Waris, dia diperbolehkan untuk berwasiat dengan seluruh hartanya.

Keenam: Wasiat dengan lebih dari sepertiga boleh dilaksanakan, manakala SELURUH Ahli Waris MENYETUJUINYA, dan tidak memermasalahkannya.

Ketujuh: Tidak diperbolehkan [baca: Haram] dan tidak sah, wasiat harta yang diberikan kepada Ahli Waris yang mendapatkan warisan, meski dengan nominal yang kecil, kecuali jika seluruh Ahli Waris sepakat membolehkannya, setelah pemberi wasiat meninggal. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada semua yang memiliki hak apa yang menjadi haknya. Oleh karena itu tidak ada wasiat harta bagi orang yang mendapatkan warisan.” [HR Abu Daud, dinilai Shahih oleh al Albani].

Kedelapan: Jika wasiat harta untuk orang yang mendapatkan warisan itu ternyata hanya disetujui oleh sebagian Ahli Waris karena sebagian yang lain menyatakan ketidaksetujuannya, maka isi wasiat dalam kondisi ini hanya bisa dilaksanakan pada bagian yang menyetujui isi wasiat, namun tidak bisa diberlakukan pada bagian warisan yang tidak menyetujuinya.

Penutup

Pada kasus wasiat di bagian prolog tulisan, wasiat tersebut termasuk wasiat terlarang, karena wasiat tersebut menyebabkan aturan Islam dalam pembagian harta warisan tidak bisa dilaksanakan. Dalam aturan Islam, semua anak, baik dari ibu pertama maupun dari ibu yang kedua, memiliki hak yang sama atas harta peninggalan ayahnya. Sehingga seharusnya seluruh harta milik ayah diinventaris dengan baik, kemudian dibagikan kepada seluruh anak yang ada, baik dari ibu pertama maupun ibu kedua. Kemudian dibagi dengan aturan Islam, yaitu anak laki laki mendapatkan dua kali lipat bagian anak perempuan.

Allahu a’lam.

 

Ditulis oleh: Ustad Aris Munandar, M.P.I.

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17822-serba-serbi-wasiat-dalam-islam.html

,

KONSEKUENSI MELAKSANAKAN WASIAT WARIS YANG ZALIM

KONSEKUENSI MELAKSANAKAN WASIAT WARIS YANG ZALIM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihWarisan
 
KONSEKUENSI MELAKSANAKAN WASIAT WARIS YANG ZALIM
 
Pertanyaan:
Kedua orang tua saya meninggal dunia dan meninggalkan tiga anak, yaitu dua laki-laki dan satu perempuan. Tapi sebelum meninggal, orang tua saya hanya mengatasnamakan saya saja sebagai ahli waris. Sedangkan kedua saudara saya tidak ada. Apakah dia berhak?
 
Jawaban:
Bahkan semua berhak. Jika Anda ambil sendiri dengan berpegang wasiat ayah, maka:
 
1. Anda melaksanakan wasiat yang isinya dosa, dan ini akan menambah siksaan bagi ayah Anda.
2. Anda merampas hak orang lain, yaitu saudara Anda, dan itu perbuatan kezaliman.
 
Cara Pembagian Waris:
 
Jika Anda tidak memiliki ibu, maka harta warisan ayah hanya jatuh ke tangan anak-anaknya.
 
Semua harta orang tua dibagi lima bagian:
 
– Masing-masing anak laki-laki mendapatkan jatah dua bagian.
– Untuk anak perempuan mendapat satu bagian.
 
Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
 
, ,

HUKUM WASIAT PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN CARA TERTENTU

HUKUM WASIAT PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN CARA TERTENTU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihWarisan, #FatwaUlama
 
HUKUM WASIAT PEMBAGIAN HARTA WARISAN DENGAN CARA TERTENTU
>> Kedua orang tuanya sebelum meninggal berwasiat tentang pembagian harta warisan dengan cara tertentu, apakah harus diikuti?
 
Pertanyaan:
Ibuku meninggal dunia pada tahun lalu. Kami tidak dapat membagi harta warisan, karena semuanya di bawah kendali ayahku. Akan tetapi ayahku juga meninggal dunia pada 6 Dzulhijjah.
 
Kami tiga saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Dahulu ibuku memerintahkan, agar kami para wanita diberi semua perhiasan peninggalan beliau, sementara saudara laki-lakinya mengambil rumah. Sehingga semua harta warisan telah terbagikan dengan sama (menurut pendapat ibu). Kami tidak mengetahui apa yang seharusnya kami lakukan. Apakah harta warisan dibagi sesuai dengan agama, atau sesuai dengan keinginan orang tuaku?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
 
Jika ayah dan ibu belum membagikan harta warisannya waktu masih hidup, di mana setiap orang telah mengambil semua bagiannya dan dapat memergunakan seperti orang yang telah memilikinya, maka apa yang dikatakannya termasuk wasiat. Sementara WASIAT KEPADA AHLI WARIS ITU TIDAK DAPAT DILAKSAKANAN, kecuali dizinkan oleh ahli waris lainnya. Kalau semua ahli waris yang telah baligh dan bijak itu merelakan dengan wasiat, maka hal itu tidak mengapa. Kalau sekiranya Anda semua ingin dibagi sesuai dengan pembagian agama, maka terserah Anda. Tidak harus melaksanakan wasiat, karena WASIAT UNTUK AHLI WARIS, ASALNYA TIDAK DIPERBOLEHKAN. Kalau hal itu terjadi, tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan KERELAAN SEMUA AHLI WARIS.
 
Diriwayatkan oleh Abu Daud, 2870. Tirmizi, 2120. Nasa’i, 4641. Ibnu Majah, 2713 dari Abu Umamah berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ (والحديث صححه الألباني في صحيح أبي داود)
 
“Sesungguhnya Allah telah memberikan haknya (masing-masing) kepada semua pemilik hak. Maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (Hadis dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)
 
Diriwayatkan oleh Ad-Daruqutny dari hadis Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dengan teks ‘Tidak diperkenankan wasiat untuk ahli waris, kecuali ahli waris menghendakinya (merelakannya).’ (Dihasankan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulugul Maram)
 
Wallahu’alam.
 
, ,

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
>> Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
 
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kalian, semoga Allah memberikan ganjaran kepada kalian, tentang seorang makmum yang hendak shalat Maghrib bersama imam, ia telah tertinggal satu rakaat. Apakah jika imam duduk Tawaruk pada Tasyahud akhir, makmum mengikuti duduk sang imam dalam keadaan Tawaruk, ataukah Iftirasy? Karena duduk Tasyahud akhirnya imam adalah Tasyahud awal bagi si makmum.
 
Jawaban:
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita, jika seorang makmum shalat bersama imam yang jumlah rakaatnya empat atau tiga, imam telah mendahuluinya dalam sebagian rakaat, maka makmum duduk Tasyahud akhir bersama imam dalam keadaan Tawaruk, bukan Iftirasy. Alasan mengikuti imam dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perselisihan, berdasarkan hadis:
 
إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه
 
“Imam itu diangkat untuk ditaati. Maka janganlah kalian menyelisihinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”]
 
Dikatakan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’ [(1/248)]:
“Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam ketika imam Tawaruk. Karena bagi imam, itu merupakan akhir dari shalat, walaupun bagi si makmum, itu bukan akhir shalat. Dalam kondisi ini, si masbuk duduk Tawaruknya sebagaimana ketika ia sedang Tasyahud kedua. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya 4 rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan Syarahnya: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam pada saat Tasyahud akhir dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat dan shalat Maghrib”.
 
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam dalam duduk Tasyahud yang ia dapatkan bersama imam, disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si makum. Sebagaimana ia juga duduk Tawaruk pada Tasyahud kedua, yang setelah ia menyelesaikan rakaat sisanya. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi, setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Wallahu A’lam.
 
 
 
Penerjemah: Wiwit Hardi Priyanto
[Artikel Muslim.Or.Id]

 

, ,

HUKUM SHALAWAT DIIRINGI REBANA

HUKUM SHALAWAT DIIRINGI REBANA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#AdabBerdoa, #DoaZikir
HUKUM SHALAWAT DIIRINGI REBANA
 
Pertanyaan:
Saya ingin menanyakan masalah amaliah yang membingungkan, yaitu masalah shalawat kepada Rasulullah ﷺ:
  1. Apakah shalawat ini banyak macamnya?
  2. Bagaimana cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah ﷺ? Apakah dilakukan sendiri atau berjamaah, dengan suara keras atau sirr (pelan)?
  3. Bolehkah sambil diiringi rebana (alat musik)?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Sbelum menjawab pertanyaan saudara, kami ingin menyampaikan, bahwa amal ibadah akan diterima oleh Allah, jika memenuhi syarat-syarat diterimanya ibadah. Yaitu ibadah itu dilakukan oleh orang yang beriman dengan ikhlas, dan sesuai Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad ﷺ.
 
Akan tetapi pada zaman ini, alangkah banyaknya orang yang tidak memedulikan syarat-syarat di atas. Maka, pertanyaan yang saudara ajukan ini merupakan suatu langkah kepedulian terhadap Sunnah Rasulullah ﷺ. Semoga Allah selalu memberi taufik kepada kita, di atas jalan yang lurus.
 
Perlu kami sampaikan, bahwasanya shalawat kepada Nabi ﷺ merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Tetapi, banyak sekali penyimpangan dan bid’ah yang dilakukan banyak orang seputar shalawat Nabi ﷺ. Berikut ini jawaban kami terhadap pertanyaan saudara.
 
1. Shalawat Nabi memang banyak macamnya. Namun secara global dapat dibagi menjadi dua:
 
Pertama: Shalawat yang Disyariatkan. Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabatnya.
 
Bentuk shalawat ini ada beberapa macam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shifat Shalat Nabi ﷺ menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafizhahullah di dalam kitab beliau ‘Sifat Shalawat dan Salam’, membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi ﷺ.
 
Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ ialah:
 
اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَـةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
 
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, inna-Ka Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama brakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, inna-Ka Hamiidum Majid.
 
Artinya:
 
“Ya Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” [HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hal. 165-166, karya Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif].
 
Dan termasuk shalawat yang disayariatkan, yaitu shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh Salafush Shalih.
 
Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah berkata: Salafush Shalih, termasuk para ahli hadis, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi ﷺ ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:
 
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
 
(Shallallahu ‘alaihi wa sallam)
 
dan
عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
 
(‘alaihish shalaatu was salaam).
 
Alhamdulillah, kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadis. Bahkan, mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi ﷺ” [Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi ﷺ, hal. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad].
 
Kedua: Shalawat yang Tidak Disyariatkan
 
Yaitu shalawat yang datang dari hadis-hadis Dha’if (lemah), sangat Dha’if, Maudhu’ (palsu), atau tidak ada asalnya. Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahli Bid’ah), kemudian mereka tetapkan dengan nama shalawat ini atau shalawat itu. Shalawat seperti ini banyak sekali jumlahnya, bahkan sampai ratusan. Contohnya, berbagai shalawat yang ada dalam kitab Dalailul Khairat Wa Syawariqul Anwar Fi Dzikrish Shalah ‘Ala Nabiyil Mukhtar, karya Al-Jazuli (wafat th. 854 H). Di antara shalawat bid’ah ini ialah shalawat Basyisyiyah, shalawat Nariyah, shalawat Fatih, dan lain-lain. Termasuk musibah, bahwa sebagian shalawat bid’ah itu mengandung kesyirikan [Lihat Mu’jamul Bida’, hal. 345-346, karya Syaikh Raid bin Shabri bin Abi ‘Ulfah; Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi ﷺ, hal. 20-24, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad; Minhaj Al-Firqah An-Najiyah, hal. 116-122, karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu; Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi ﷺ, hal. 72-73, karya Ustadz Abdul hakim bin Amir Abdat].
 
2. Cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah ﷺ adalah sebagai berikut:
 
a). Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyariatkan, karena shalawat termasuk zikir, dan zikir termasuk ibadah. Bukan shalawat bid’ah, karena seluruh bid’ah adalah kesesatan.
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Zikir-zikir dan doa-doa termasuk ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah dibangun di atas ittiba’ (mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ). Tidak seorang pun berhak menyunnahkan dari zikir-zikir dan doa-doa yang tidak disunnahkan (oleh Nabi ﷺ). Lalu menjadikannya sebagai kebiasaan yang rutin, dan orang-orang selalu melaksanakan. Semacam itu termasuk membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan Allah. Berbeda dengan doa, yang kadang-kadang seseorang berdoa dengannya dan tidak menjadikannya sebagai sunnah (kebiasaan).” [Dinukil dari Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, 2/49, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al-Badr].
 
b). Memerbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat, terlebih-lebih pada waktu Jumat, atau pada saat disebut nama Nabi Muhammad ﷺ, dan lain-lain tempat yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang shahih.
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
 
“Barang siapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” [HR. Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah].
 
c). Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara, yang tidak ditentukan oleh syariat. Seperti menentukan waktu sebelum berazan, saat khatib Jumat duduk antara dua khutbah, dan lain-lain.
 
d). Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjamaah.
 
Karena membaca shalawat termasuk zikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi ﷺ. Dan sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil yang membenarkan bershalawat dengan berjamaah. Karena jika dilakukan berjamaah, tentu dibaca dengan keras, dan ini bertentangan dengan adab zikir yang diperintahkan Allah, yaitu dengan pelan.
 
e). Dengan suara sirr (pelan), tidak keras.
 
Karena membaca shalawat termasuk zikir. Sedangkan di antara adab berzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras.
 
Allah berfirman:
 
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
 
“Dan zikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [QS. Al-A’raf: 205].
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Oleh karena itulah, Allah berfirman:
 
وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ
 
(dan dengan tidak mengeraskan suara), demikianlah, zikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras berlebihan.” [Tafsir Ibnu Katsir].
 
Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan, bahwa meninggikan suara dalam berzikir (adalah) terlarang.” [Tafsir Al-Qurthubi, 7/355].
 
Muhammad Ahmad Lauh berkata: “Di antara sifat-sifat zikir dan shalawat yang disyariatkan, yaitu tidak dengan keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berzikir dengan zikirnya (berada di tempat) jauh, sehingga untuk sampainya membutuhkan dengan mengeraskan suara.” [Taqdisul Asykhas Fi Fikrish Shufi, 1/276, karya Muhammad Ahmad Lauh].
 
Abu Musa Al-Asy’ari berkata:
 
لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسَ عَلَى وَادَ فَرَفَعُوا اَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيْرِ اللهُ أَكْبْرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ لاَ تَدْعُونَ اَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُوا سَـمِيْعًا قَرِيْيًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَّا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَقَالَ لِي يَـا عَبْدَاللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ فَدَاكَ أَبَـِي وَأُمِّي قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَ بِالله
 
“Ketika Rasulullah ﷺ memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada Yang Tuli dan Yang Tidak Ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kamu (dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan pengawasan-Nya -pen.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ mendengar aku mengatakan: ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’ Kemudian beliau ﷺ bersabda kepadaku: ‘Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa).’ Aku berkata: ‘Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah,’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan Surga?’ Aku menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’” [HR. Bukhari no. 4205; Muslim, no. 2704].
 
3. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi rebana (alat musik), karena hal ini termasuk bid’ah. Perbuatan ini mirip dengan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang Sufi. Mereka membaca qasidah-qasidah atau syair-syair yang dinyanyikan dan diiringi dengan pukulan stik, rebana, atau semacamnya. Mereka menyebutnya dengan istilah sama’ atau Taghbiir.
 
Berikut ini di antara perkataan ulama Ahlus Sunnah yang mengingkari hal tersebut.
 
Imam asy-Syafi’i berkata: “Di Iraq, aku meninggalkan sesuatu yang dinamakan Taghbiir (sejenis syair berisi anjuran untuk zuhud di dunia, yang dinyanyikan oleh orang-orang Sufi dan sebagian hadirin memukul-mukulkan kayu pada bantal atau kulit, sesuai dengan irama lagunya). (Yaitu) perkara baru yang diada-adakan oleh Zanadiqah (orang-orang zindiq; menyimpang). Mereka menghalangi manusia dari Alquran.” [Riwayat Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis; Al-Khalal dalam Amar Ma’ruf, hal. 36; dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/146. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 163].
 
Imam Ahmad ditanya tentang Taghbiir, beliau menjawab: “Bid’ah.” [Riwayat Al-Khallal. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 163].
 
Imam ath-Thurthusi tokoh ulama Malikiyah dari kota Qurthubah (wafat 520 H); beliau ditanya tentang sekelompok orang (yaitu orang-orang Sufi) di suatu tempat yang membaca Alquran, lalu seseorang di antara mereka menyanyikan syair, kemudian mereka menari dan beroyang. Mereka memukul rebana dan memainkan seruling. Apakah menghadiri mereka itu halal atau tidak? (Ditanya seperti itu), beliau menjawab: “Jalan orang-orang Sufi adalah batil dan sesat. Islam itu hanyalah kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun menari dan pura-pura menampakkan cinta (kepada Allah), maka yang pertama kali mengada-adakan adalah kawan-kawan Samiri (pada zaman Nabi Musa). Yaitu ketika Samiri membuatkan patung anak sapi yang bisa bersuara untuk mereka, lalu mereka datang menari di sekitarnya dan berpura-pura menampakkan cinta (kepada Allah). Tarian itu adalah agama orang-orang kafir dan para penyembah anak sapi. Adapun majelis Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya penuh ketenangan, seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung. Maka, seharusnya penguasa dan wakil-wakilnya melarang mereka menghadiri masjid-masjid dan lainnya (untuk menyanyi dan menari -pen.) Dan bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tidaklah halal menghadiri mereka. Tidak halal membantu mereka melakukan kebatilan. Demikian ini jalan yang ditempuh (Imam) Malik, asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad dan lainnya dari kalangan imam-imam kaum Muslimin.” (Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hlm. 168-169).
 
Imam Al-Hafizh Ibnu Ash-Shalaah, imam terkenal penulis kitab Muqaddimah ‘Ulumil Hadis (wafat tahun 643 H); beliau ditanya tentang orang-orang yang menghalalkan nyanyian dengan rebana dan seruling, dengan tarian dan tepuk-tangan. Dan mereka menganggapnya sebagai perkara halal dan qurbah (perkara yang mendekatkan diri kepada Allah), bahkan (katanya sebagai) ibadah yang paling utama. Maka beliau menjawab: “Mereka telah berdusta atas nama Allah ta’ala. Dengan pendapat tersebut, mereka telah mengiringi orang-orang kebatinan yang menyimpang. Mereka juga menyelisihi ijma’. Barang siapa yang menyelisihi ijma’, (ia) terkena ancaman firman Allah:
 
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
 
“Dan barang siapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia keadalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. An-Nisa: 115). (Fatawa Ibnu ash-Shalah, 300-301. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 169].
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dan telah diketahui secara pasti dari agama Islam, bahwa Nabi ﷺ tidak mensyariatkan kepada orang-orang saleh dan para ahli ibadah dari umat beliau ﷺ, agar mereka berkumpul dan mendengarkan bait-bait yang dilagukan dengan tepuk-tangan, atau pukulan dengan kayu (stik), atau rebana. Sebagaimana beliau ﷺ tidak membolehkan bagi seorang pun untuk tidak mengikuti beliau ﷺ, atau tidak mengikuti apa yang ada pada Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Beliau ﷺ tidak membolehkan, baik dalam perkara batin, perkara lahir, untuk orang awam, atau untuk orang tertentu.” [Mahmu’ Fatawa, 11/565. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 165].
 
Demikianlah penjelasan kami, semoga menghilangkan kebingungan saudara.
Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, washalatu wassalaamu ‘ala Muhammad wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in.
 
Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 12 Tahun VII, 1424 H – 2003 M
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya.
 
,

AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH

AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#AyoBertakbir
 
AYO KITA PERBANYAK TAKBIR DI AWAL DZULHIJJAH
>> Sunnah yang Terlupakan, Bertakbir Sejak Awal Dzulhijjah
>> Amalan Ringan Berpahala Besar di Bulan Dzulhijjah
 
Ada satu sunnah yang mungkin sudah banyak dilupakan orang, yaitu memerbanyak takbir di awal Dzulhijjah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ
 
“Dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI tersebut.” [Al-Hajj: 28]
 
Dan juga firman Allah ta’ala:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
 
“Dan berzikirlah dengan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah DITENTUKAN.” [Al-Baqoroh: 203]
 
“Dan berkata Ibnu ‘Abbas: “Berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah DIMAKLUMI, maksudnya adalah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang sudah DITENTUKAN adalah hari-hari Tasyriq (Penyembelihan).” [Riwayat Al-Bukhari]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
 
“Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh yang lebih dicintai Allah ta’ala, daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka perbanyaklah ucapan tahlil, takbir dan tahmid.” [HR. Ahmad no. 6154 dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Anauth]
 
Penjelasan di atas menunjukkan, bahwa jumlah hari yang disunnahkan untuk memerbanyak zikir adalah sebanyak 13 hari, yaitu sepuluh hari awal Dzulhijjah dan tiga hari Tasyriq.
 
Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir
 
Terdapat dalil secara khusus untuk memerbanyak takbir dan mengeraskannya (bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, hendaklah dipelankan suaranya), baik di masjid, di rumah maupun di tempat umum.
 
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan dalam Shahih beliau:
 
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ
 
“Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dalam keadaan bertakbir, dan manusia pun ikut bertakbir, dan Muhammad bin Ali bertakbir setelah sholat sunnah.”
 
Takbir Muthlaq dan Muqoyyad
 
Ulama menjelaskan, bahwa takbir di sini ada dua bentuk:
 
1. Takbir Muthlaq, yaitu takbir yang dibaca KAPAN SAJA tanpa terikat waktu, dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq.
 
2. Takbir Muqoyyad, yaitu takbir yang TERKAIT dengan waktu sholat, dibaca setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq.
 
Hal ini disyariatkan berdasarkan Ijma’ dan perbuatan sahabat radhiyallahu’anhum [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/312 no. 10777]
 
Takbir ini disyariatkan bagi selain jamaah haji. Adapun bagi jamaah haji, disunnahkan untuk memerbanyak ucapan Talbiyah sampai melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah. Barulah dibolehkan bertakbir, dan boleh mulai bertakbir sejak lemparan pertama pada Jamrah ‘Aqobah tersebut sampai akhir hari Tasyriq.
 
Dan takbir ini dibaca sendiri-sendiri. Adapun membacanya secara berjamaah dengan satu suara atau dipimpin oleh seseorang, maka termasuk perbuatan bid’ah, mengada-ada dalam agama [Lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, 13/19]
 
Apalagi sampai mengadakan konvoi di jalanan yang dapat mengganggu ketertiban umum dan terjadi berbagai macam kemaksiatan seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), meneriakkan takbir diiringi alat-alat musik (padahal musik itu sendiri diharamkan dalam Islam) dan berbagai kemungkaran lainnya yang biasa terjadi pada malam dan siang hari raya.
 
Bagaimana Lafal Takbir yang Sesuai Syariat?
 
Adapun lafal takbir di antaranya adalah seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau membaca takbir pada hari-hari Tasyriq:
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaLlah, waLlahu Akbar, Allahu Akbar, wa liLlahil hamd”
 
Artinya:
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah).” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya no. 5697, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa no. 654 dan beliau mendha’ifkan hadis Jabir radhiyallahu’anhu dengan lafal yang sama]
 
Dan beberapa lafal lain yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in. Namun tidak ada dalil adanya lafal khusus dari Nabi ﷺ, sehingga dalam perkara ini terdapat keluasan [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, 5/169-171]
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
 
Catatan Tambahan:

Berikut ini beberapa bentuk lafal takbir yang disunnahkan:

1. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran.
2. Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
3. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha illa lahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

, ,

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
 
Pertanyaan:
Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dilihat dari latar belakang disyariatkannya ibadah, para ulama membagi ibadah menjadi dua:
 
Pertama, ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut, sehingga ibadah ini harus ada secara khusus. Semua ibadah wajib, shalat wajib, puasa wajib, dst, masuk jenis pertama ini.
 
Termasuk juga ibadah yang disyariatkan secara khusus, seperti shalat Witir, shalat Dhuha, dst.
 
Termasuk jenis ibadah ini adalah ibadah yang menjadi Tabi’ (Pengiring) ibadah yang lain, seperti shalat Rawatib. Dan sebagian ulama memasukkan puasa Enam Hari Syawal termasuk dalam kategori ini.
 
Kedua, kebalikan dari yang pertama, ibadah yang Laisa Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah itu BUKAN merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Tujuan utamanya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya.
 
Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui apakah ibadah ini termasuk Maqsudah Li Dzatiha ataukah Laisa Maqsudah Li Dzatiha, adalah dengan memahami latar belakang dari dalil masing-masing ibadah. [Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, volume 19, no. 51]
 
Kita akan lihat contoh yang diberikan ulama, untuk lebih mudah memahaminya.
 
Contoh Pertama: Shalat Tahiyatul Masjid
 
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
 
Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk sampai shalat dua rakaat. [HR. Bukhari 1163]
 
Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ menyarankan agar kita shalat dua rakaat setiap kali masuk masjid sebelum duduk. Artinya, yang penting jangan langsung duduk, tapi shalat dulu. Tidak harus shalat khusus Tahyatul Masjid. Bisa juga shalat Qabliyah atau shalat sunah lainnya. Meskipun boleh saja jika kita shalat khusus Tahiyatul Masjid.
 
Dari sini, shalat keberadaan ibadah shalat Tahiyatul Masjid itu bukan merupakan tujuan utama. Tapi yang penting ada amal, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid, apapun bentuk shalat itu.
 
Contoh Kedua: Puasa Senin-Kamis
 
Ketika Nabi ﷺ ditanya mengapa beliau rajin puasa Senin Kamis, beliau ﷺ mengatakan:
 
ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
 
Di dua hari ini (Senin Kamis), amalan dilaporkan kepada Allah, Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya dilaporkan, saya dalam kondisi puasa. [HR. Ahmad 21753, Nasai 2358, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam hadis ini, siapapun yang melakukan puasa di hari Senin atau Kamis, apapun bentuk puasanya, dia mendapatkan keutamaan sebagaimana hadis di atas. Amalnya dilaporkan kepada Allah, dalam kondisi dia berpuasa, baik ketika itu dia sedang puasa wajib, atau puasa sunah lainnya. Meskipun boleh saja ketika dia melakukan puasa khusus pada waktu Senin atau Kamis.
 
Menggabungkan Niat Dua Ibadah
 
Para ulama menyebutnya ”at-Tasyrik fin Niyah” atau ”Tadakhul an-Niyah” (Menggabungkan niat).
 
Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:
 
إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان
 
Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu Maqsudah Li Dzatiha dan satunya Laisa Maqsudah Li Dzatiha, maka dua ibadah ini MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. [’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17]
 
Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi dua syarat:
  • Pertama: Amal itu jenisnya sama, misalnya shalat dengan shalat, atau puasa dengan puasa.
  • Kedua: Ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha TIDAK boleh lebih dari satu. Karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama Maqsudah Li Dzatiha.
Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Senin Kamis
 
Dari keterangan di atas, puasa Syawal termasuk ibadah Maqsudah Li Dzatiha, sementara Senin Kamis Laisa Maqsudah Li Dzatiha, sehingga niat keduanya MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. Dan insyaaAllah mendapatkan pahala puasa Syawal dan puasa Senin Kamis.
 
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
 
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaq ’alaih]
 
Karena dia menggabungkan kedua niat ibadah itu, mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 
Artikel www.KonsultasiSyariahcom
 
,

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

Oleh: Ustadz Mas’ud Abu Abdillah

(Narasumber Acara Konsultasi Rumah Tangga di Wesal TV)

Belum lama ini kita disuguhi berita heboh tentang tuntutan cerai dari istri seorang ustadz yang cukup sering tampil di layar kaca. Ia digugat cerai oleh sang istri yang sudah belasan tahun dinikahinya. Alasannya Karena ia berpoligami secara diam-diam. Usia pernikahannya dengan istri kedua sudah berjalan sekian tahun, bahkan sudah memiliki keturunan.

Serba salah, karena beliau dikenal sebagai tokoh agama, yang mana kekisruhan rumah tangga menjadi sesuatu yang kurang elok, bahkan bisa berimbas pada nilai yang didakwahkannya selama ini.

Menjalankan kehidupan berumah tangga dengan melakukan poligami yang tanpa izin istri pertama pun sebenarnya sah saja. Tapi bagaimanapun ada hal-hal yang perlu dijadikan renungan bagi pelaku, atau mereka yang hendak berpoligami, agar sunnah ini tidak mencoreng wajah syariat Islam, hanya karena kegagalan dirinya dalam menjalankannya.

1- Poligami itu memang dibolehkan. Tetapi pria yang hendak berpoligami hendaknya mengukur dirinya, kemampuan membimbing, kemampuan menafkahi dan kemampuannya untuk adil. Jika masih satu saja istri dan anak-anak agamanya atau kehidupannya berantakan, maka poligami dalam keadaan ini berpotensi menambah masalah.

2- Izin istri pertama memang bukan syarat sah poligami. Tetapi menikah lagi dengan diam-diam, atau tanpa memberitahukan di awal kepada istri pertama, tentu akan sangat menyakitkan. Apapun yang terjadi, dengan memberitahukan terlebih dahulu, akan jauh lebih selamat untuk jangka panjang. Jika istri pertama menerima alhamdulillah, jika sebaliknya reaksinya diluar dugaan, maka pertanda perlunya dikondisikan terlebih dahulu dengan menunda atau membatalkannya. Poligami diam-diam hampir pasti berdampak pada kebohongan dan ketidakadilan, yang keduanya diharamkan.

3- Syariat poligami dibuat untuk kemaslahatan, bukan untuk menghancurkan. Maka jangan hanya melihat maslahat sendiri, tetapi juga perhatikan kondisi istri dan anak-anak. Pastikan mereka tetap baik-baik saja. Poligami ibarat membangun bangunan yang baik, di samping bangunan yang kokoh dan berkualitas. Bukan malah meruntuhkan dan mengacak-acak bangunan sebelumnya.

4- Sadarilah, bahwa sebelum anak dan istri, maka sesungguhnya suamilah yang pertama merasakan konsekuensi dunia-Akhirat dari poligami. Waktu untuk beribadah mungkin tidak sebanyak jika hanya satu istri (apalagi jika rumah para istri berjauhan, waktu banyak habis di jalan). Perhatian ke anak-anak pun akan berkurang karena terbagi. Tanggungjawab menafkahi semakin bertambah. Tuntutan untuk membina dan mendidik istri semakin bertambah. Pertangungjawaban dan hisab di hadapan Allah semakin banyak, sebanyak anggota keluarga yang ada, dan sebagainya. Dengan begitu, ia akan memiliki kesadaran penuh dan pemahaman yang utuh, untuk melakukan poligami itu atau mengurungkannya, bukan berdasarkan emosi ataupun provokasi.

5- Milikilah motivasi, alasan, dan prinsip yang baik, tulus, sekaligus kokoh, yang lahir dari analisis kemampuan dan kelayakan yang komprehensif. Hindari alibi dan alasan yang dibuat-buat, karena selain menyakitkan, juga jadi lucu. Misalnya alasan menyelamatkan akhwat yang ditinggal mati suaminya. Maka solusinya bisa dengan menikahkannya dengan ikhwan yang masih single dsb.

6- Istrimu adalah anak perempuan dari kedua orang tuanya. Bayangkanlah jika engkau juga memiliki anak perempuan yang sangat kau sayangi. Maka perlakukanlah istrimu sebagaimana engkau ingin anak perempuanmu diperlakukan. Karena engkau pasti sedih dan marah jika putri kesayangnmu yang kau jaga selama dua puluh tahun lebih, kau didik dan kau sayangi sejak kecil, lalu dizalimi dan disakiti perasaanya. Maka begitu pulalah perasaan kedua orang tuanya terhadap putrinya atas sikapmu. Dan jika engkau tetap memutuskan berpoligami, maka ingatlah perasaan para orang tua istri-istrimu, agar kau tahu bagaimana pentingnya bersikap adil, menjaga perasaan, serta menghargai istri-istrimu.

7- Sadarilah, bahwa saat seorang berpoligami, maka secara tidak langsung ia menjadi “Duta” bagi syariat poligami yang dijalaninya. Karena mata msyarakat akan tertuju padanya. Jika gagal berantakan, maka bukan nama kita saja yang rusak, tapi justru syariat poligami yang tertuduh dan menjadi buruk, bahkan diolok-olok musuh Islam. Maka berjalanlah jika merasa bisa menjadi duta yang baik, dan jangan sembrono dan asal-asalan.

Demikian di antara renungan, yang dengannya, minimal seseorang memiliki pandangan yang utuh sebelum berpoligami. Sehingga jika jalan, maka ia berjalan dengan prinsip dan kesadaran serta kemampuan, sehingga tidak merusak citra Islam. Atau jika ia merasa banyak hal yang masih perlu dibenahi, maka dengan sadar pula ia menunda, atau bahkan membatalkannya.

Wallahu a’alam.