Posts

,

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
 
Terompet itu budaya Yahudi. Namun itulah yang dilakukan oleh kaum Muslimin di malam tahun baru, hanya mengekor budaya Yahudi.
 
Tak percaya?
 
Silakan renungkan hadis berikut ini. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar:
 
عَنْ أَبِى عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ الأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِلصَّلاَةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلاَةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ – يَعْنِى الشَّبُّورَ – وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورَ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ». قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ». فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ
 
“Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan: ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar, maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju. Lantas beliau bersabda: ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar: ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” [HR. Abu Daud no. 498. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)
 
Dari hadis di atas menunjukkan bahwa terompet itu tradisi Yahudi. Nah itulah yang diikuti oleh orang-orang yang merayakan tahun baru. Budaya Yahudilah yang diikuti.
 
Memanfaatkan uang untuk membeli terompet tahun baru termasuk PEMBOROSAN karena telah menyalurkan harta tidak pada kebaikan. Allah ta’ala berfirman:
 
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
 
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS. Al Isra’: 26-27]
 
Az Zujaj berkata, bahwa yang dimaksud boros adalah:
 
النفقة في غير طاعة الله
 
“Mengeluarkan nafkah pada selain ketaatan pada Allah.” [Disebutkan dalam Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi]
 
Apa seorang Muslim boleh mengikuti budaya Yahudi?
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ».
 
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim no. 2669]
 
Silakan berpikir jika ingin menjadi seorang Muslim sejati.
Hanya Allah yang memberi hidayah.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#terompetitubudayaYahudi, #terompet, #Yahudi, #kebiasaanYahudi, #tiupterompet, #tahunbaru, #bidah, #akidahIslam, #aqidahIslam, #lubangbiawak, #lubangdhob #boros, #pemborosan #malamtahunbaru, #NewYearseve
, , ,

CARA BERWUDHU DENGAN SEGAYUNG AIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

 

CARA BERWUDHU DENGAN SEGAYUNG AIR

 

 

,

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

SEGALA SESUATU TIDAK BOLEH DILAKUKAN SECARA BERLEBIHAN

Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwy azh-Zhafiry hafizhahullah berkata:

‏الإسراف في الماء مذموم في الوضوء وهو طاعة؛ فكيف إذا كان في غير ذلك (ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﻴﻦَ) (ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺒَﺬِّﺭِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺇِﺧْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ)

“Berlebihan dalam menggunakan air ketika berwudhu adalah perkara yang tercela. Padahal itu merupakan ketaatan. Lalu bagaimana jika hal terjadi pada selain ketaatan?!”

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺴْﺮِﻓِﻴﻦَ.

“Dan janganlah kalian melakukan segala sesuatu secara berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺒَﺬِّﺭِﻳﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺇِﺧْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang suka menghambur-hamburkan sesuatu dengan sia-sia adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27)

 

, ,

AWAS KAMPANYE ZINA VALENTINE DAY, HARI “KASIH SAYANG” YANG MEMBUAT ALLAH MURKA

AWAS KAMPANYE ZINA VALENTINE DAY, HARI “KASIH SAYANG” YANG MEMBUAT ALLAH MURKA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

AWAS KAMPANYE ZINA VALENTINE DAY, HARI “KASIH SAYANG” YANG MEMBUAT ALLAH MURKA

Dalam Perayaan Valentine Day terkandung sebab-sebab yang membuat Allah ﷻ murka, di antaranya:

1) Tasyabbuh, Menyerupai Orang-Orang Kafir

Telah dimaklumi, bahwa perayaan Valentine Day berasal dari tradisi Paganisme Nasrani. Dan sampai hari ini pun mereka masih merayakannya. Maka ikut-ikutan merayakannya adalah tasyabbuh (penyerupaan) kepada orang-orang kafir yang termasuk dosa besar, bahkan dapat mengantarkan kepada kekafiran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jaami’: 6149]

Disebutkan dalam fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah:

وعيد الحب هو من جنس ما ذكر؛ لأنه من الأعياد الوثنية النصرانية ، فلا يحل لمسلم يؤمن بالله واليوم الآخر أن يفعله أو أن يقره أو أن يهنئ به ، بل الواجب تركه واجتنابه استجابة لله ولرسوله وبعدا عن أسباب سخط الله وعقوبته

“Dan perayaan Valentine Day termasuk bentuk tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, sebab ia berasal dari Paganisme Kristen. Maka tidak halal bagi seorang Muslim yang beriman kepada Allah ta’ala dan Hari Akhir untuk merayakannya, menyetujuinya, atupun sekedar mengucapkan selamat kepada yang merayakannya. Bahkan wajib untuk MENINGGALKANNYA dan MENJAUHINYA, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ, dan dalam rangka menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan kepada kemurkaan Allah ﷻ dan azab-Nya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/263 no. 21203]

2) Wala’ Lil Kuffar, Bersikap Loyal Kepada Orang-Orang Kafir

Mengikuti tradisi-tradisi orang kafir juga termasuk bentuk sikap loyal kepada mereka, dan keridhoaan terhadap kemungkaran mereka. Padahal Allah ta’ala telah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali (orang-orang yang kamu bersikap loyal kepada mereka). Sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]

Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan makna ayat ini:

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله، قاتلهم الله، ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك فقال: {وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

“Allah ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bersikap loyal kepada Yahudi dan Nasrani, karena mereka itu adalah musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin. Kemudian Allah ta’ala mengabarkan, bahwa sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Kemudian Allah ta’ala mengingatkan dengan keras, dan mengancam siapa saja yang loyal kepada mereka dengan firman-Nya, ‘Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim’.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/132]

Disebutkan dalam fatwa ulama-ulama besar yang tergabung dalam Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa:

وإذا انضاف إلى العيد المخترع كونه من أعياد الكفار فهذا إثم إلى إثم ؛ لأن في ذلك تشبها بهم ونوع موالاة لهم ، وقد نهى الله سبحانه المؤمنين عن التشبه بهم وعن موالاتهم في كتابه العزيز

“Dan apabila tenyata hari perayaan yang diada-adakan tersebut asalnya dari orang-orang kafir. Maka bertambahlah dosanya, sebab dalam hal itu terdapat tasyabbuh (penyerupaan) dan merupakan satu bentuk sikap loyal kepada orang-orang kafir. Dan sungguh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia telah melarang kaum mukminin untuk tasyabbuh dan loyal kepada orang-orang kafir.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/263 no. 21203]

3) Bid’ah, Menambah-Nambah Hari Perayaan Selain Yang Ditetapkan Agama

Setiap umat memiliki hari raya, dan bagi umat Islam, telah ditetapkan hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. Tidak boleh mengada-adakan hari perayaan apa pun selain yang telah ditetapkan syariat. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]

 

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ melarang hari perayaan apa pun selain yang telah ditetapkan syariat.

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata:

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Ketika Rasulullah ﷺ mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya, yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau ﷺ bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1039]

Maka ditegaskan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

دلت الأدلة الصريحة من الكتاب والسنة ، وعلى ذلك أجمع سلف الأمة أن الأعياد في الإسلام اثنان فقط ، هما : عيد الفطر وعيد الأضحى ، وما عداهما من الأعياد ، سواء كانت متعلقة بشخص أو جماعة أو حدث أو أي معنى من المعاني فهي أعياد مبتدعة لا يجوز لأهل الإسلام فعلها ولا إقرارها ولا إظهار الفرح بها ولا الإعانة عليها بشيء ؛ لأن ذلك من تعدي حدود الله ، ومن يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه

“Dalil-dalil yang tegas dari Alquran dan As-Sunnah serta Ijma’ (kesepakatan) ulama Salaf (terdahulu) menunjukkan, bahwa hari-hari perayaan dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun hari-hari perayaan selain itu, apakah berkaitan dengan perayaan seseorang, kelompok, kejadian atau berkaitan dengan apa saja, maka itu TERMASUK KATEGORI BID’AH. Tidak boleh bagi kaum Muslimin untuk melakukannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan ataupun membantunya sedikit pun, sebab hal itu termasuk pelanggaran terhadap ketentuan Allah ta’ala. Dan barang siapa yang melanggar ketentuan Allah, maka sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/263 no. 21203]

Dan bid’ah dalam agama tercela, apabila yang mengada-adakannya adalah kaum Muslimin. Maka tentu lebih tercela lagi, apabila yang mengada-adakannya pertama kali adalah orang-orang kafir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فإنه لو أحدثه المسلمون لقد كان يكون قبيحًا فكيف إذا كان مما لم يشرعه نبي قط، بل أحدثه الكافرون، فالموافقة فيه ظاهرة القبح

“Sesungguhnya bid’ah itu sudah jelek, apabila yang mengada-adakannya adalah kaum Muslimin. Maka bagaimana lagi jika bid’ah itu tidak pernah diajarkan oleh seorang nabi pun, melainkan bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang kafir. Maka menyerupai mereka dalam bid’ah itu jelas kejelekannya.” [Al-Iqtidho, 1/423]

4) Maksiat, Zina Mata, Telinga, Lisan, Tangan, Kaki Dan Hati, Hingga Kemaluan

Sebagian anak muda yang kurang ilmu dan iman menjadikan momen Valentine Day sebagai ajang zina, mulai dari zina mata hingga kemaluan. Dan semua itu dibungkus dalam satu tipuan setan yang disebut Hari “Kasih Sayang”, yang pada hakikatnya hanya mendatangkan murka Allah ﷻ. Mereka mencurahkan cinta kepada makhluk, dan mengharapkan kasih sayang dari makhluk. Dan mereka lupa dengan cinta dan kasih sayang Allah tabaraka wa ta’ala, yang seharusnya diutamakan.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُه

“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina. Akan mengenainya tidak mungkin tidak. Maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah meraba, kaki zinanya adalah melangkah, hati bernafsu dan berkeinginan. Dan yang membenarkan serta mendustakan semua itu adalah kemaluan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Oleh karena itu Allah ta’ala telah melarang semua jalan yang dapat mengentarkan kepada zina, bukan hanya zinanya saja, sebagaimana firman-Nya:

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Isra: 32]

Lebih parah lagi, ajakan-ajakan kepada zina di Hari Valentine telah dilakukan terang-terangan, dan kadang dilakukan demi meraup keuntungan duniawi, seperti yang dilakukan oleh sebagian perusahaan asing yang menjual atau memromosikan produk-produk coklatnya. Sehingga wajar kalau kita bertanya-tanya, apakah keberadaan sebagian perusahaan asing tersebut di negeri ini untuk misi dagang atau sekaligus menghancurkan generasi…?!

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersebar di kalangan orang-orang yang beriman. Bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di Akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [An-Nur: 19]

Apa yang akan terjadi apabila zina tersebar?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan azab Allah bagi diri-diri mereka.” [HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 2401]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجَ عَنْهُ؟ فَلا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ إِلا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ إِلا زَانِيَةٌ تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارٌ

“Pintu-pintu langit dibuka pada pertengahan malam, lalu menyerulah seorang penyeru: Apakah ada yang mau berdoa, sehingga dikabulkan doanya? Apakah ada yang mau meminta, sehingga diberikan permintaannya? Apakah ada orang yang tertimpa musibah (yang memohon pertolongan Allah), sehingga dihilangkan kesusahannya? Maka tidaklah seorang Muslim pun yang berdoa dengan satu doa (di waktu tersebut), kecuali Allah akan mengabulkannya, kecuali seorang wanita pezina yang menjajakan kemaluannya dan seorang pemungut pajak.” [HR. Ath-Thabrani dari ‘Utsman bin ‘Abil ‘Ash Ats-Tsaqofi radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1073]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا ، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ ، وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ ، إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ ، إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai kaum Muhajirin, waspadailah lima perkara apabila menimpa kalian. Dan aku berlindung kepada Allah, semoga kalian tidak menemuinya:

(1) Tidaklah perzinahan nampak (terang-terangan) pada suatu kaum pun, hingga mereka selalu menampakkannya, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya.

(2) Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan diazab dengan kelaparan, kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

(3) Dan tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, kecuali akan dihalangi hujan dari langit. Andaikan bukan karena hewan-hewan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan selamanya.

(4) Dan tidaklah mereka memutuskan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari kalangan selain mereka, yang merampas sebagian milik mereka.

(5) Dan tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan hanya memilih-milih dari hukum yang Allah turunkan, kecuali Allah akan menjadikan kebinasaan mereka berada di antara mereka.”

[HR. Ibnu Hibban, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 106]

5) Mubazir, Membelanjakan Harta Untuk Kesia-Siaan Bahkan Kemaksiatan

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

“Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabb-nya.” [Al-Isra: 26-27]

Sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

التَّبْذِيرُ: الْإِنْفَاقُ فِي غَيْرِ حَقٍّ.

“Pemborosan adalah membelanjakan harta pada jalan yang tidak benar.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/69]

Al-Imam Qotadah rahimahullah berkata:

التَّبْذِيرُ: النَّفَقَةُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَفِي غَيْرِ الْحَقِّ وَفِي الْفَسَادِ.

“Pemborosan adalah pengeluaran harta dalam bermaksiat kepada Allah ta’ala, pada jalan yang tidak benar dan pada kerusakan.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/69]

Oleh karena itu, walau tidak ikut merayakannya, tidak boleh turut membantu orang-orang yang merayakannya dengan menyediakan atau menjual pernak perniknya, pakaiannya, makanannya seperti coklat yang dihiasi logo-logonya, menerima hadiah yang terkait dengannya, dan semua bentuk bantuan apa pun, sebagaimana telah diperingatkan para ulama besar yang tergabung dalam Lembaga Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

يحرم على المسلم الإعانة على هذا العيد أو غيره من الأعياد المحرمة بأي شيء من أكل أو شرب أو بيع أو شراء أو صناعة أو هدية أو مراسلة أو إعلان أو غير ذلك ؛ لأن ذلك كله من التعاون على الإثم والعدوان ومعصية الله ورسوله ، والله جل وعلا يقول: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Diharamkan atas seorang Muslim untuk membantu perayaan Valentine Day dan perayaan-perayaan lainnya yang diharamkan, apakah membantunya dalam bentuk makanan, minuman, penjualan, pembelian, pembuatan, hadiah, pengiriman, pengumuman, atau bantuan apapun juga diharamkan, sebab hal itu termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, serta maksiat kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. Allah jalla wa ‘ala telah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2).” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/263 no. 21203]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

⛔ AWAS KAMPANYE ZINA VALENTINE DAY, HARI “KASIH SAYANG” YANG MEMBUAT ALLAH MURKAبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年2月11日

 

 

 

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

JIKA TIDAK SENGAJA MENYEBARKAN BERITA HOAX

Pertanyaan:

Bagaimana jika sudah terlanjur menyebarkan berita dusta? Setelah disebarkan baru tahu, bahwa itu hoax.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

 Sesungguhnya Allah membenci tiga hal untuk kalian:

[1] Menyebarkan berita burung (katanya-katanya);

[2] Menyia-nyiakan harta; dan

[3] Banyak bertanya. (HR. Bukhari 1477 & Muslim 4582).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam Alquran, Allah menyebut mereka dengan Al-Murjifuun (Manusia pembuat onar).

Ketika Nabi ﷺ di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat, terutama berita yang terkait keluarga Nabi ﷺ. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah. Allah berfirman:

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah), melainkan dalam waktu yang sebentar. (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita Anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi… prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana ketika tidak sengaja menyebarkan berita dusta? Setelah disebarkan, baru diingatkan bahwa ternyata itu hoax.

Pertama, orang yang melakukan kesalahan tanpa disengaja, maka tidak ada dosa baginya, antara dia dengan Allah. Allah berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Tidak ada dosa bagimu terhadap kesalahan yang kalian lakukan tanpa sengaja, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. al-Ahzab: 5).

Namun jika itu merugikan hak orang lain, maka dia bertanggung jawab atas kerugian itu.

Ketika Nabi Daud menjadi penguasa, ada kasus, hewan ternak milik si A masuk ke lahan pertanian milik si B, dan merusak tanamannya. Akhirnya mereka meminta keputusan Nabi Daud. Beliau memutuskan, hewan si A harus diserahkan ke si B, sebagai ganti dari tanaman yang dirusak.

Sementara Sulaiman memiliki pemahaman berbeda. Beliau memutuskan, hewan si A diserahkan ke si B untuk diperah susunya sampai menutupi nilai kerugian tanaman yang dirusak. Dan Allah memuji keputusan Sulaiman. Allah menceritakan:

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ . فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ

(Ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). (QS. al-Anbiya: 78 – 79)

Kedua, ketika sudah tersebar di forum, berikan penjelasan di forum yang sama, bahwa berita itu dusta, agar Anda bisa lepas dari tanggung jawab.

Bagi mereka yang pernah menyebarkan kesesatan, kemudian bertaubat, dia berkewajiban untuk menjelaskan kepada masyarakatnya, tentang kesesatan yang pernah dia ajarkan.

Beberapa ulama yang bertaubat dari kesesatan, mereka mengarang buku  yang membantah pendapat lamanya. Di antaranya Abul Hasan al-Asy’ari. Setelah beliau taubat dari akidah Kullabiyah, beliau menulis beberapa buku sebagai bantahan untuk akidah beliau yang lama. Seperti al-Ibanah ‘An Ushul Diyanah, dan Maqalat Islamiyin.

 

Allah menjelaskan:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 160).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/27977-jika-tidak-sengaja-menyebarkan-berita-hoax.html

 

,

DHARURIYYATUL-KHAMS (LIMA KEBUTUHAN PENTING YANG HARUS DIJAGA OLEH KAUM MUSLIMIN)

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

DHARURIYYATUL-KHAMS (LIMA KEBUTUHAN PENTING YANG HARUS DIJAGA OLEH KAUM MUSLIMIN)

Apa Yang Dimaksud Dengan Dharuriyyatul-Khams?

Yang dimaksud dengan Dharuriyyatul-Khams adalah menyangkut lima kebutuhan penting yang semestinya dijaga oleh kaum Muslimin. Dan dalam masalah ini, Alquran dan as-Sunnah telah memberikan perhatian yang besar. Dharuriyyatul-Khams yang dimaksudkan, yaitu meliputi penjagaan terhadap:

  1. Din (agama),
  2. Jiwa
  3. Keturunan
  4. Akal, dan
  5. Harta.

1. Menjaga Din (Agama)

Ini merupakan Dharuriyyat yang terpenting dan berada pada urutan tertinggi, sebagaimana firman Allah ﷻ:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [Adz-Dzariyat/51: 56]

Demikian tujuan hakiki dari penciptaan makhluk. Untuk mencapai tujuan inilah, maka para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Sebagaimana firman-Nya:

 رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah, sesudah diutusnya rasul-rasul itu”. [An-Nisa/4: 165].

Begitu juga firman Allah ﷻ:

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiaptiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. [An-Nahl/16: 36]

Agar Allah ﷻ menjaga din (agama) dari kerusakan, karena din merupakan Dharuriyyat yang paling besar dan terpenting, maka syariat juga mengharamkan riddah (murtad), memberi sanksi kepada orang yang murtad dan dibunuh. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia” [HR Bukhari]

Juga sebagaimana sabda beliau ﷺ yang lain:

 لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَ الْمُفَارِقُ لِدِينِهِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang Muslim (tidak boleh dibunuh, Red.), kecuali dengan salah satu di antara tiga sebab, yaitu jiwa dengan jiwa, orang tua yang berzina (dibunuh dengan dirajam, Red.), orang yang murtad meninggalkan agamanya dan jamaahnya” [HR Bukhari]

Ini semua untuk menjaga din. Realisasinya dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya dengan:

(a). Beriman kepada Allah Azza wa Jalla, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, mengetahui Asma dan Sifat Allah.

(b). Berpegang teguh dengan agama, memelajarinya, lalu mendakwahkannya.

(c). Menjauhi dan memeringatkan dari perbuatan syirik dan riya’.

(d). Memerangi orang-orang yang murtad.

(e). Mengingatkan dari perbuatan bid’ah dan melawan Ahlul Bid’ah [Maqashidusy-Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 448-458]

2. Menjaga Jiwa (Hifzhun-Nafsi)

Menjaga jiwa juga termasuk Dharuriyyatul-Khams. Dan din tidak akan bisa tegak, jika tidak ada jiwa-jiwa yang menegakkannya. Kalau kita ingin menegakkan din, artinya, kita harus menjaga jiwa-jiwa yang akan menegakkan din ini. Untuk menjaga dan memuliakan jiwa-jiwa ini, Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa” [Al-Baqarah/2:179]

Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menjadikan qishash sebagai salah satu sebab kelestarian kehidupan, padahal qishash itu merupakan kematian. Mengapa? Karena, dengan keberadaan hukum qishash, maka para pelaku kriminal menjadi jera, kehidupan pun menjadi aman. Jadi, qishash merupakan salah satu sebab terwujudnya kehidupan yang damai, tenang, dan dalam naungan hidayah.

 وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ

“(Di antara sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang yaitu) tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina”. [Al-Furqan/25: 68]

 Yang disebut dengan al-haq (kebenaran), yaitu harus dengan dalil dan bukti. Jika tidak, berarti melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar. Dan berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar, hukumnya terlarang.

Nabi ﷺ telah bersabda tentang penjagaan terhadap jiwa:

 مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung, lalu dia membunuh dirinya (mati), maka dia akan berada dalam Neraka Jahannam dalam keadaan melemparkan diri selama-lamanya”. [HR Imam Bukhari]

Dalam hadis ini terdapat bantahan terhadap seseorang yang berpendapat “Saya bebas melakukan apa saja atas diri saya”. Perkataan seperti ini merupakan perkataan keliru, karena di dalam Alquranul-Karim disebutkan tentang ucapan yang benar, sebagai petunjuk bagi kaum Mukminin, jika tertimpa musibah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“ (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” [Al-Baqarah/2: 156]

Inna lillahi (Sesungguhnya kita milik Allah) dengan demikian, kita ini milik Allah Azza wa Jalla. Tidak boleh berbuat sewenang-wenang atas diri kita. Tidak boleh menyengaja melukai tangan sendiri lalu berkata: “Ini tangan saya, saya bebas melakukan apa saja terhadapnya”. Apalagi sampai mengatakan “Ini adalah jiwaku, saya ingin membunuh diri atau menjatuhkan diri dari gunung, atau menenggak racun”, maka semua ini tidak boleh, karena termasuk berbuat sewenangwenang pada sesuatu yang bukan miliknya.

Wahai Hamba Allah! Jiwa yang pada dirimu itu adalah milik Pencipta dan Rabb-mu, Dzat yang engkau ibadahi, yaitu Allah Azza wa Jalla . Engkau tidak boleh berbuat sewenang-wenang padanya.

Dalam hadis “Barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung, lalu dia membunuh dirinya (mati), maka dia akan berada dalam Neraka Jahannam, dalam keadaan melemparkan diri selama-lamanya” terdapat pelajaran yang bisa kita ambil. Bahwa orang tersebut kekal selamanya dalam Neraka Jahannam. Sedangkan di dalam Ahlu Sunnah wal-Jama’ah –di antaranya terdapat kaidah- , perbuatan dosa-dosa besar termasuk dalam kategori dosa-dosa yang bisa diampuni Allah Azza wa Jalla, jika Allah berkehendak. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” [An-Nisa/4: 48]

Bunuh diri, termasuk dalam bagian pertama ayat ini, ataukah bagian yang kedua? Apakah bunuh diri termasuk syirik, ataukah berada di bawah syirik? Jawabnya, bunuh diri termasuk dalam dosa di bawah dosa syirik. Namun dalam hadis itu dijelaskan, dia kekal selamanya di Neraka. Lantas bagaimana jawabnya?

Para ulama mengatakan, pengertian hadis ini dibawa kepada orang yang membunuh diri, karena ia menganggapnya halal, atau karena meremehkan hukum syariat, bukan karena maksiat semata, baik yang kecil maupun yang besar. Akan tetapi ini merupakan pelanggaran terhadap dasar hukum syariat. Dia menentangnya dan menghalalkannya. Dalam kondisi seperti itu, maka dosa maksiat ini menjadi dosa kekufuran.

Oleh karena itu, Abu Ja’far ath-Thahawi, di dalam kitab ‘Aqidah beliau yang masyhur, beliau mengatakan: “Kami tidak mengafirkan Ahlul-Qiblah (kaum Muslimin) dengan sebab dosa, selama dia tidak menganggapnya halal.”

Pelaku perbuatan dosa ini, jika menganggapnya halal, maka dia menjadi kafir, meskipun perbuatan dosa tersebut lebih kecil atau lebih sedikit dari bunuh diri.

Secara ringkas, Hifzhun-Nafs dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:

(a). Pada saat darurat (sangat terpaksa), wajib memakan apa saja demi menyambung hidup, meskipun yang ada saat itu sesuatu yang haram pada asalnya.

(b). Memenuhi kebutuhan diri, berupa makanan, minuman dan pakaian.

(c). Mewajibkan pelaksanaan Qishash (hukum bunuh bagi yang membunuh, jika sudah terpenuhi syarat-syaratnya, Red.) dan mengharamkan menyakiti atau menyiksa diri [Maqashidusy-Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 462-465].

3. Menjaga Akal (Hifzhul-Aqli)

Sarana untuk menjaga akal ialah ilmu. Kalimat wahyu pertama kali yang sampai kepada Rasulullah ﷺ dan menyentuh telinga beliau ﷺ ialah kalimat Iqra’ (Bacalah!), setelah itu kalimat:

 عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“(Dia mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak diketahuinya”. [Al-Alaq/96: 5]

Karena membaca merupakan jalan mendapatkan ilmu, meskipun bukan jalan satu-satunya, akan tetapi dia merupakan jalan terpenting.

Dalam nash Alquran yang lain, Allah berfirman:

 وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“(Dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” [Thaha/20: 114]

Akan tetapi ilmu ini wajib diiringi dengan amal perbuatan. Ilmu bukan sekedar untuk diketahui. Namun dengan ilmu agar bertakwa, beramal saleh, serta menjauhan diri dari perbuatan maksiat dengan landasan takwa kepada Allah Azza wa Jalla . Karenanya dalam firman Allah surat Al-Maidah ayat 91 disebutkan:

 إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ  فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan berjudi itu menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.

Khamr dan perjudian telah menyebabkan manusia terhalang dari jalan Allah k dan bisa menghilangkan akal (kesadaran), sedangkan akal sangat dibutuhkan manusia untuk memahami perintah dan hukum-hukum syariah.

Dalam ayat ini, setelah Allah Azza wa jalla menjelaskan hukum syari dan menjelaskan kewajiban, kemudian seolah-olah Allah Azza wa Jalla hendak menggugah perhatian manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman: yang artinya: (Maka berhentilah kamu [dari mengerjakan pekerjaan itu]). Mengapa kalian tidak berhenti dari hal-hal yang kalian dilarang darinya, berupa kebiasaan orang-orang Jahiliyah, yaitu khamr dan perjudian? Sedangkan Nabi ﷺ telah bersabda:

 كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan semua khamr itu haram”.

Meskipun banyak pabrik membuat produk, lalu setan membuat istilah-istilah untuk produk tersebut, namun kita memiliki kaidah yang mencakup semua nama, meskipun nama tersebut baru dan diubah-ubah. Tetapi, setiap yang memabukkan adalah khamr, dan semua khamr itu haram.

Dan bahwasanya, untuk menjaga kebaikan akal, maka syariat mengharamkan semua yang bisa merusaknya, baik yang maknawi (abstrak) seperti perjudian, nyanyian, memandang sesuatu yang diharamkan, maupun yang bersifat fisik seperti khamr, narkoba serta memberikan sanksi kepada yang melakukannya [Maqashidusy-Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 467-468].

4. Menjaga Keturunan (Hifzhun-Nasli)

Di antara Dharuriyyatul-Khams yang dipelihara dan dijaga dalam syariat, yaitu menjaga keturunan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

 وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا  إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

 “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. [Al-Isra/17: 32]

Bentuk penjagaan agar manusia menjauhkan manusia dari perbuatan zina, maka syariat membolehkan dan menganjurkan pernikahan poligami, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla menyebutkan:

 فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Maka kawinilah wanita wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat”[An-Nisa/4: 3]

Nabi ﷺ juga bersabda:

 يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaklah dia menikah. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia melakukan puasa (sunah). Karena sesungguhnya puasa itu menjadi obat bagi dia”.

Nabi ﷺ juga bersabda:

 لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Seorang pezina tidak akan melakukan perbuatan zina, sedangkan dia dalam keadaan beriman”.

Dalam sebagian riwayat dijelaskan, iman tercerabut darinya. Jika ia berhenti dari berzina, maka keimanannya kembali kepadanya. Semua nash-nash ini untuk menjaga keturunan.

Pemeliharaan keturunan ini, bisa dilihat dari beberapa hal berikut:

(a). Anjuran untuk melakukan pernikahan.

(b). Persaksian dalam pernikahan.

(c). Kewajiban memelihara dan memberikan nafkah kepada anak, termasuk kewajiban memerhatikan pendidikan anak.

(d). Mengharamkan nikah dengan pezina.

(e). Melarang memutuskan untuk thalaq jika tidak karena terpaksa.

(f). Mengharamkan ikhtilath [Maqashidusy-Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 473-478].

5. Menjaga Harta (Hifzhul-Mali)

Bagian terakhir dari Dharuriyyatul-Khams yang dijaga oleh syariat, yakni sesuatu yang menjadi penopang hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan, yaitu menjaga harta. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

 وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” [An-Nisa‘/4: 5]

Maksudnya, kemapanan keberadaan manusia ialah dengan harta. Oleh karenanya terdapat perintah mengeluarkan zakat, sedekah. Dan zakat merupakan hak Allah ﷻ, sehingga orang yang berhak menerimanya terjaga dan harta yang mengeluarkannya juga menjadi bersih dan suci.

Nabi ﷺ bersabda:

 لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ

“Allah Azza wa Jalla melaknat pencuri yang mencuri telur, lalu tangannya dipotong”.

Dalam syariat Allah yang bijak ini, juga terdapat larangan melakukan perbuatan tabdzir (pemborosan). Allah ﷻ berfirman:

 وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ  وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabb-nya”. [Al-Isra: 26-27]

Begitu juga Allah ﷻ melarang israf (berlebih-lebihan), sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

 وَلَا تُسْرِفُوا  إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al-An’am/6:141]

Di antara cara dalam pemeliharaan harta ialah:

(a). Islam mewajibkan beramal dan berusaha.

(b). Memelihara harta manusia dalam kekuasaan mereka.

(c). Islam menganjurkan bersedekah, membolehkan jual beli dan utang-piutang.

(d). Islam mengharamkan perbuatan zalim terhadap harta orang lain dan wajib menggantinya.

(e). Kewajiban menjaga harta dan tidak menyia-nyiakannya [Maqashidusy-Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 481-487]

 Demikian beberapa nash dari Alquran dan as- Sunnah, yang berkaitan dengan Dharuiyyatul-Khams.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kemudahan kepada kaum Muslimin lainnya untuk memahaminya, sehingga semakin menambah dan mengokohkan keyakinan terhadap kebenaran din, agama yang haq ini.

Wallahu a’lam bish-Shawab

 

Penulis: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 Sumber: https://almanhaj.or.id/3373-dharuriyyatul-khams-lima-kebutuhan-penting-yang-harus-dijaga-oleh-kaum-Muslimin.html

 Ulasan di atas diangkat berdasarkan ceramah Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari pada Daurah Syar’iyyah I yang diselenggarakan oleh Yayasan Imam Bukhari, Jakarta, di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, pada pertengahan Februari 2007, dan mengacu dengan kitab Maqashidusy- Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, karya Dr. Yusuf bin Muhammad Al-Badawi yang menjadi pegangan Syaikh dalam daurah tersebut.

 

DILARANG MEMBUANG MAKANAN DI TEMPAT SAMPAH

DILARANG MEMBUANG MAKANAN DI TEMPAT SAMPAH

DILARANG MEMBUANG MAKANAN DI TEMPAT SAMPAH

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu pemandangan yang menyedihkan adalah sikap sebagian orang yang suka membuang-buang makanan. Bahkan kadang membuang makanan yang masih sangat layak untuk dikonsumsi.

Salah satu perbuatan yang dibenci Allah adalah membuang-buang harta. Termasuk di antaranya membuang-buang makanan. Dari Mughirah bin Syu’bah  radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membeci kalian karena tiga hal: “Katanya-katanya” (berita dusta), menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta. (HR. Bukhari 1477 & Muslim 4578).

Dalil lain yang menunjukkan wajibnya memuliakan makanan, adalah hadis tentang larangan menjadikan tulang untuk istinjak. Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلاَ بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ

Janganlah kalian beristinjak dengan kotoran atau dengan tulang, karena tulang adalah bahan makanan saudara kalian dari golongan jin. (HR. Turmudzi 18 dan dishahihkan al-Albani).

Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk menghormati makanan jin Muslim. Dengan cara tidak menggunakan tulang untuk istinjak, karena tulang akan terkena najis. Sehingga, makanan manusia, seharusnya lebih dimuliakan. Ulama menyebutnya dengan Qiyas Aula (Analogi superlatif).

Di samping itu, di antara bukti rasa syukur seseorang adalah dia hormati nikmat itu, dan bukan dihinakan.

Atas pertimbangan ini, para ulama MELARANG KERAS menghina makanan atau memosisikannya di tempat yang tidak terhormat.

Kita akan lihat beberapa keterangan ulama dalam masalah ini:

Pertama, keterangan dari Sufyan at-Tsauri – ulama tabi’ tabi’in –:

Yahya bin Said menceritakan:

كَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِىُّ يَكْرَهُ أَنْ يُوضَعَ الرَّغِيفُ تَحْتَ الْقَصْعَةِ

Sufyan at-Tsauri membenci orang meletakkan roti di bawah piring. (HR. Turmudzi – keterangan hadis no. 1965).

 

Kedua, keterangan Hasan al-Bashri:

Beliau menceritakan hukuman yang pernah Allah berikan kepada masyarakat yang tidak memuliakan makanan:

كَانَ أَهْلُ قَرْيَةٍ أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ حَتَّى إِنَّهُمْ كَانُوا يَسْتَنْجُونَ بِالْخُبْزِ ، فَبَعَثَ اللَّهُ عَلَيْهِمَ الْجُوعَ حَتَّى أَنَّهُمْ كَانُوا يَأْكُلُونَ مَا يَقْعُدُونَ بِهِ

Ada sebuah penduduk desa yang Allah beri kelapangan dalam masalah rezeki, sampai mereka melakukan istinjak dengan roti. Akhirnya Allah kirimkan penyakit lapar, hingga mereka makan makanan yang mereka duduki.  (Ibnu Abi Syaibah no. 36788)

Ketiga, keterangan Muhammad al-Baqir:

Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya Islahul Mal, menyebutkan riwayat dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, Muhammad al-Baqir (Abu Ja’far), beliau mengatakan:

كَانَ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَسْتَنْجُونَ بِالْخُبْزِ , فَسَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجُوعَ , فَجَعَلُوا يَتْبَعُونَ حُشُوشَهُمْ فَيَأْكُلُونَهَا

Dulu, Bani Israil pernah beristinjak dengan roti, hingga Allah kirimkan rasa lapar kepada mereka. Hingga mereka mencari-cari di toilet mereka untuk dimakan. (Ibnu Abid Dunya – Islah Mal – no. 344)

Keempat, keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani:

Dikutib dalam risalah Masail Ajaba ‘anha al-Hafidz (permasalahan yang dijawab al-Hafidz Ibnu Hajar)

Beliau pernah ditanya tentang hukum menghinakan roti: Apakah boleh membuangnya di tanah? Dan apakah kita harus mengagungkannya?

Jawaban al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani:

لا أعلم أحدًا من العلماء قال بجواز إهانة الخبز، كإلقائه تحت الأرجل، وطرح ما تناثر منه في المزبلة مثلاً أو نحو ذلك، ولا نصّ أحد من العلماء على المبالغة في إكرامه، كتقبيله مثلاً، بل نصّ أحمد رضي الله عنه على كراهة تقبيله ،

Saya tidak mengetahui ada seorang pun ulama yang mengatakan: “Boleh menghinakan roti.” Seperti diinjak, atau membuang roti sisa di tempat sampah atau semacamnya. Dan tidak ada satu pun ulama yang menyarankan untuk berlebihan dalam memuliakan roti, seperti mencium roti. Bahkan Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu menegaskan dibencinnya mencium roti (dalam rangka memuliakan).

ومع عدم القائل بجواز الإهانة فيضاف إلى من أهانه استلزام ارتكاب عموم النهي عن إضاعة المال، فيمنع من طرحه تحت الأرجل، لأنّ الغير قد يتقذّر بعد ذلك، فيمتنع من أكله، مع الاحتياج إليه

Disamping tidak ada ulama yang membolehkan menghinakan roti, perbuatan semacam ini berarti melanggar larangan tentang menyia-nyiakan harta. Sehingga terlarang menginjaknya di kaki, karena orang lain bisa merasa jijik setelah itu. Sehingga tidak mau memakannya, padahal dia sangat membutuhkannya.

Selanjutnya al-Hafidz menyebutkan bahwa hadis yang memerintahkan memuliakan roti adalah hadis  yang Dhaif dan Maudhu’, sehingga tidak bisa jadi dalil. Seperti hadis yang diriwayatkan Thabrani:

“Muliakanlah roti, karena Allah memuliakannya. Siapa yang memuliakan roti, maka Allah akan memuliakannya.” Hadis ini sanadnya Dhaif (Masail Ajaba ‘anha al-Hafidz, hlm. 20).

Sekalipun keterangan di atas berbicara tentang roti, namun ini berlaku untuk SEMUA MAKANAN, karena roti adalah bahan makanan pokok bagi mereka. Dan tentu saja ini berlaku untuk semua makanan.

 

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/26468-hukum-membuang-makanan-di-sampah.html