Posts

AYO BELAJAR BAHASA ARAB DARI NOL BERSAMA YAYASAN BISA 100% GRATIS TANPA SYARAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
AYO BELAJAR BAHASA ARAB DARI NOL BERSAMA YAYASAN BISA 100% GRATIS TANPA SYARAT
 
Apa Anda masih berfikir kalau bahasa Arab itu sulit? Masih beralasan sibuk atau tempat belajar bahasa Arabnya kejauhan? Di BISA, insya Allah Anda bisa belajar bahasa Arab seru dan menyenangkan dalam genggaman HP Anda! Anda akan diajarkan cara seru belajar bahasa Arab dengan rumus sakti yang lucu nan menggemaskan seperti:
🔑“Aku Yakin Hanya Dia Untukku Kini”
🔑“Ujub diri Bisa Hina Diri”
🔑“Aku Makin Sayang Sama Mami”
 
Rumus-rumus sakti ini dijamin akan mengubah pandangan kamu tentang pelajaran bahasa Arab insya Allah!
 
Mari bergabung dengan komunitas pembelajar bahasa Arab terbesar di Indonesia dengan lebih dari 40.000 peserta dari berbagai negara telah bergabung! Dua bulan melek bahasa Arab, insya Allah!
 
Yayasan BISA telah meluluskan lebih dari 15.000 peserta dalam dan luar negeri, dari aceh hingga papua, dari australia hingga finlandia. Dari remaja berusia 18 tahun hingga kakek nenek berusia 77 tahun. Dari petani dan pedagang hingga dokter, doktor, dan Profesor.
 
Insya Allah angkatan 32 akan belajar dari:
 
28 Januari 2018 sampai 25 Maret 2018
 
Pembelajaran akan dilakukan selama 8 pekan (2 bulan) di mana tiap hari Minggu pukul 16.00-17.30 WIB akan diselenggarakan muhadharah (pelajaran) via Whatsapp yang wajib dihadiri oleh seluruh peserta (kecuali ada uzur). Ada kuis dua kali per pekan dan Pemanasan Materi tiap Sabtu.
 
Baca silabus di sini: https://goo.gl/nqdZSP
 
📚Tujuan Program 📚
1. Peserta mampu memahami dasar-dasar bahasa Arab (Ilmu Sharaf)
2. Peserta mampu memahami perubahan kata (Kata Kerja, Kata Benda)
3. Peserta mampu memahami perubahan kata dalam Alquran
4. Peserta mampu mencari arti kata di Kamus bahasa Arab
5. Peserta mampu menghafal puluhan kata yang sering digunakan dalam Alquran
6. Peserta mampu menerapkan kaidah ilmu Sharaf dalam memahami ayat Alquran
 
📝Persyaratan Peserta📝
1. Telah lancar membaca Alquran
2. Usia 16 tahun ke atas
3. Memiliki hafalan surat-surat pendek dan ayat-ayat populer dalam Alquran
 
📝 Persyaratan Teknis 📝
1. Memiliki smartphone yang bisa menjalankan Whatsapp
2. Memiliki koneksi internet yang memadai
3. Memiliki akun email dan terbiasa mengirim email dengan lampiran
 
📝 Peraturan Belajar📝
 
1. Wajib menghadiri muhadharah online rutin tiap pekan (Minggu Sore pukul 16.00-17.30 WIB) di Whatsapp (boleh tidak hadir bila ada uzur)
 
2. Wajib mengerjakan PR. Setiap minggu akan ada 1 PR hafalan dan 1 PR tulisan. PR tulisan dikumpulkan melalui email. PR hafalan disetor ke grup Whatsapp.
 
💰💰 BIAYA 100% GRATIS TANPA SYARAT 💰💰
 
 
Pendaftaran dibuka sampai Rabu, 24 Januari 2018 pukul 23.59 WIB
 
 
CATATAN:
 
1. Karena program ini gratis, bagi yang ingin ikut program ini, mohon berkomitmen untuk belajar sampai tuntas (dua bulan). Kami tekankan untuk tidak mendaftar bila hanya ingin coba-coba tanpa kesungguhan, karena program ini sangat selektif dan ketat dalam menegakkan aturan drop out. Lebih dari 14.000 peserta telah kami keluarkan karena tidak komitmen. Tegas!
 
2. Tidak mengerjakan dua tugas di pekan yang sama atau paling banyak tiga tugas di pekan yang berbeda-beda akan DIKELUARKAN atau DROP OUT dari kelas Whatsapp
 
3. Untuk peserta akhawat yang bersuami, mohon ijin terlebih dahulu dengan suaminya.
 
📚CARA MENDAFTAR📚
 
1. Berikan “Like” Fanpage Program BISA di www.facebook.com/programbisa
2. Unduh diktat dalam bentuk pdf (GRATIS):
📗 Alternatif 1: https://goo.gl/MdNGKB
📗 Alternatif 2: https://goo.gl/mPsxNL
 
3. Kirimkan bukti unduh diktat dalam bentuk screenshot atau foto dan format pendaftaran berikut:
 
Nama – Usia – Pekerjaan – Tempat Tinggal – Pengalaman Belajar Bahasa Arab – siap berkomitmen untuk menyelesaikan belajar di program BISA selama 8 pekan hingga tuntas.
 
Silakan kirim data di atas ke via Whatsapp (tidak melayani telpon atau SMS):
 
+62 895363559180 (KHUSUS LAKI-LAKI)
 
+62 8122815152 (KHUSUS PEREMPUAN)
 
 
TIDAK MELAMPIRKAN BUKTI UNDUH DIKTAT BERUPA SCREENSHOT ATAU FOTO MAKA PENDAFTARAN DITOLAK.
 
Info pendaftaran dan persyaratan selengkapnya klik: http://www.bisa.id/pendaftaran
 
Tidak mau yang online? BISA juga punya kelas tatap muka di BISA Learning Center. Sementara ada di 13 cabang. Kamu bisa tanya-tanya dulu atau datang langsung ke:
 
 
🏫 BLC Pos Pengumben
Ruko Permata Boulevard Blok BL
Jl. Raya Pos Pengumben No. 1, Srengseng, Jakarta Barat
📞Telp/WA: 0818-16-8154
📱 BBM: 5D21CD0A
 
 
🏫 BLC Cabang Depok
Jl. Kartini Raya, Pancoran Mas, Depok (Seberang gerbang perumahan GDC)
📞 Telp/WA: 0817-82-8154
📱 BBM: 5FF9274C
 
 
🏫 BLC Cabang Jakarta Selatan
Jl Cikajang No. 34 Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
📞Telp/WA: 0819-80-8154
📱 BBM: D2A432BA
 
 
🏫 BLC Cabang Bekasi
Ruko Niaga Kalimas 1 Blok A No. 2
Jl. Inspeksi Kalimalang, Bekasi Timur
📞 0819-82-8154
📲 Pin BB: D0217537
 
 
🏫 BLC Cabang Bandung
Jl. Jurang No. 51, Sukajadi, Pasteur Bandung
📞 0818-80-8154
📲 Pin BB: D0376E77
 
 
🏫 BLC Cabang Makassar
Jl Perintis Kemerdekaan KM 15, Daya, Makassar (Berhadapan Wisma KOOPSAU AURI)
📞0817858154
📱D2DBE642
 
 
🏫 BLC Cabang BATAM
Ruko Citra Fortuna Tembesi Blok B No. 11, Batu Aji, Batam
📞 0819-85-8154
📲 Pin BB: D2782C0C
 
 
🏫 BLC Cabang Surabaya
Jalan Ngagel Jaya Tengah No 104-106, Gubeng, Surabaya
📞 0817168154
📲 Pin BB: D291D7D2
 
 
🏫 BLC Cabang Bogor
Jalan Pandawa Raya Blok A1 No. 7 Indraprasta, Warung Jambu, Bogor
📞 0818-86-8154
📱BBM: D30F65EE
 
 
🏫 BLC Cabang Karawang
Jalan Kertabumi 99 Komplek Pengairan no 10 Karawang
📞 0817-86-8154
📱BBM: D3485014
 
 
🏡 BLC Cabang Solo
Jl. Raya Gembongan RT 02/2 No 8 B Ngadirejo, Kartosuro
0819898154
www.blc.bisa.id
 
 
🏡BLC Cabang Jogja
Jl. Rejowinangun No. 7 Kotagede Yogyakarta
0818-89-8154
 
 
🏡BLC Cabang Cilegon
Grand Cilegon Residence
Jl. Boulevard Raya no 56
Cibeber Cilegon Banten
Telp/WA: 081290008154
 
 
🏡BLC Cabang Bintaro
Ruko Win Niaga Centre No. 6
Jalan Ceger Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Samping Mitra 10 & Ramayana)
Telp/WA: 0817898154
 
 
🏡 BLC Cabang Cibubur
Cibubur Time Square Blok B1 No. 19
Jl Alternatif Cibubur KM 3
📱082244448154
 
 
Selain bahasa Arab, kita juga ada kelas pra tahsin, tahsin, dan tahfidz serta tarbiyatul aulad (pendidikan anak usia 4-8 tahun). Insya Allah 2017 kita akan buka banyak cabang di seluruh Indonesia. Mohon doanya. Selengkapnya klik www.blc.bisa.id
 
 
🏡 Yayasan BISA
Jl. Rawa Pule Buntu RT 05/02 No. 9 E Kukusan Beji Depok 16425
www.bisa.id
BISA,Bimbingan Islam,belajar bahasa Arab
, , ,

SOLUSI AGAR WANITA HAID BISA BACA ALQURAN

SOLUSI AGAR WANITA HAID BISA BACA ALQURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#AdabMembacaAlquran

SOLUSI AGAR WANITA HAID BISA BACA ALQURAN

Ramadan adalah kesempatan yang baik untuk membaca Alquran. Namun setiap wanita pasti tidak penuh menjalankan puasa. Ada satu waktu ia mengalami haid. Ketika mengalami haid tersebut, ia tentu terhalang untuk membaca Alquran, sehingga waktunya berkurang untuk mengkhatamkan Alquran selama Ramadan.

Berikut ada solusi yang baik untuk para wanita ketika menghadapi masalah ini.

1- Membaca Mushaf saat haid, namun tidak menyentuhnya secara langsung

Membaca masih dibolehkan bagi wanita yang berhadats. Yang tidak dibolehkan adalah menyentuh langsung saat berhadats. Dalil yang menunjukkan larangan untuk menyentuhnya adalah ayat:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” [QS. Al Waqi’ah: 79]

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Alquran, kecuali engkau dalam keadaan suci.” [HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]. Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haid dan nifas termasuk dalam hadats besar.

Jika dilarang menyentuh Alquran dalam keadaan haid, lalu bagaimana dengan membaca?

Solusinya dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di mana beliau berkata:

“Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Alquran menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun seharusnya membaca Alquran tersebut tidak sampai menyentuh Mushaf Alquran. Kalau memang mau menyentuh Alquran, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Alquran di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan, dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210]

Adapun hadis yang menyebutkan:

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن

“Tidak boleh membaca Alquran sedikit pun juga bagi wanita haid dan orang yang junub.” Imam Ahmad telah membicarakan hadis ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau, lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadis ini BATIL. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama, sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadis ini adalah hadis dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadis.”

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Hadis di atas tidak diketahui sanadnya sampai Nabi ﷺ. Hadis ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadis dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi ﷺ juga sudah seringkali mengalami haid. Seandainya terlarangnya membaca Alquran bagi wanita haid atau nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi ﷺ akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi ﷺ mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi ﷺ, maka tentu saja membaca Alquran bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau ﷺ tidak melarang hal ini. Jika Nabi ﷺ sendiri tidak melarangnya, padahal begitu sering ada kasus haid di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.” [Majmu’ Al Fatawa, 26: 191]

2- Membaca Alquran terjemahan

Kalau di atas disebut Mushaf, berarti seluruhnya berisi ayat Alquran tanpa ada terjemahan. Namun kalau yang dibaca adalah Alquran terjemahan, itu tidak termasuk Mushaf.

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ mengatakan: “Jika kitab tafsir tersebut lebih banyak kajian tafsirnya daripada ayat Alqura,n sebagaimana umumnya kitab tafsir semacam itu, maka di sini ada beberapa pendapat ulama. Namun yang lebih tepat, kitab tafsir semacam itu TIDAK MENGAPA disentuh, karena tidak disebut Mushaf.”

Jika yang disentuh adalah Alquran terjemahan dalam bahasa non-Arab, maka itu tidak disebut Mushaf yang disyaratkan dalam hadis, mesti menyentuhnya dalam keadaan suci. Namun kitab atau buku seperti itu disebut tafsir, sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Oleh karena itu, tidak mengapa menyentuh Alquran terjemahan seperti itu, karena hukumnya sama dengan menyentuh kitab tafsir. Akan tetapi, jika isi Alqurannya lebih banyak atau sama banyaknya dari kajian terjemahan, maka seharusnya tidak disentuh dalam keadaan berhadats.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Muslimah.Or.Id]

Sumber: https://muslimah.or.id/6153-solusi-bagi-wanita-haid-supaya-bisa-membaca-al-quran.html

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SEBELAS AMALAN DAPAT JAMINAN RUMAH DI SURGA

Berikut ini adalah beberapa amalan sederhana yang bila diamalkan, akan dibangunkan rumah atau istana di Surga. Amalan-amalan tersebut adalah:

Pertama: Membangun Masjid dengan Ikhlas karena Allah

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di Surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih)

Mafhash qathaah dalam hadis artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.

Hadis tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadis ‘Utsman bin ‘Affan. Di masa Utsman, yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul ﷺ. Utsman katakan pada mereka yang membangun, sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi ﷺ:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di Surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).

Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di Surga ada dua tafsiran:

1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di Surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya.

2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di Surga dibanding dengan rumah di Surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)

Kedua: Membaca Surat Al-Ikhlas Sepuluh Kali

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca Qul huwallahu ahad sampai ia merampungkannya (Surat Al-Ikhlas, pen.) sebanyak sepuluh kali, maka akan dibangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Ahmad, 3: 437. Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah mengatakan bahwa hadis ini Hasan dengan berbagai penguat)

Ketiga: Mengerjakan Sholat Dhuha Empat Rakaat dan Sholat Sebelum Zuhur Empat Rakaat

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang sholat Dhuha empat rakaat dan sholat sebelum Zuhur empat rakaat, maka dibangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath. Dalam Ash-Shahihah no. 2349 disebutkan oleh Syaikh Al-Albani bahwa hadis ini Hasan)

Keempat: Mengerjakan 12 Rakaat Sholat Rawatib dalam Sehari

Dari Ummu Habibah –istri Nabi ﷺ-, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa mengerjakan sholat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim, no. 728)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barang siapa merutinkan sholat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di Surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum  Dzuhur, dua rakaat sesudah Dzuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Tirmidzi, no. 414; Ibnu Majah, no. 1140; An-Nasa’i, no. 1795. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini Hasan)

Kelima: Meninggalkan Perdebatan

Keenam: Meninggalkan Dusta

Ketujuh: Berakhlak Mulia

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran Surga, bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan, walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di Surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan)

Kedelapan: Mengucapkan Alhamdulillah dan Istirja’ (Inna ilaihi wa innaa ilaihi raaji’’un) ketika anak kita wafat

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ. فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya: “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata: “Benar.” Allah berfirman: “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab: “Benar.” Allah berfirman: “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata: “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman: “Bangunkan untuk hamba-Ku di Surga, dan namai ia dengan nama Baitul Hamdi (Rumah Pujian).” (HR. Tirmidzi, no. 1021; Ahmad, 4: 415. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan).

Kesembilan: Membaca Doa Masuk Pasar

Dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari bapaknya Ibnu ‘Umar, dari kakeknya (‘Umar bin Al-Khattab), ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكُ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

“Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan: “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiit wa huwa hayyun laa yamuut biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syain qodiir

Artinya:

Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah yang memiliki kekuasaan dan segala pujian untuk-Nya.” Allah akan menuliskan untuknya sejuta kebaikan, menghapus darinya sejuta kejelekan, mengangkat untuknya sejuta derajat, dan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3428. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Dha’if).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوْقَ فَبَاعَ فِيْهَا وَاشْتَرَى ، فَقَالَ : لاَ إِلَه َإِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الملْكُ ، وَلَهُ الحَمْدُ ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر ، كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ، وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ

“Siapa yang memasuki pasar lalu ia melakukan jual beli di dalamnya, lantas mengucapkan: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumiit wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir; maka Allah akan mencatat baginya sejuta kebaikan, akan menghapus darinya sejuta kejelekan dan akan membangunkan baginya rumah di Surga.” (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak, 1: 722)

Meskipun riwayatnya Dha’if atau Lemah, namun karena kita diperintahkan berzikir ketika orang itu lalai seperti kala di pasar, maka zikir di atas masih boleh diamalkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“إذا تضمنت أحاديث الفضائل الضعيفة تقديراً وتحديداً ؛ مثل صلاة في وقت معين ، بقراءة معينة ، أو على صفة معينة ؛ لم يجز ذلك – أي العمل بها – لأن استحباب هذا الوصف المعين لم يثبت بدليل شرعي ، بخلاف ما لو روي فيه : (مَن دخل السوق فقال : لا إله إلا الله كان له كذا وكذا) فإن ذكر الله في السوق مستحب ، لما فيه من ذكر الله بين الغافلين ، فأما تقدير الثواب المروي فيه فلا يضر ثبوته ولا عدم ثبوته

“Jika suatu hadis yang menerangkan fadhilah atau keutamaan suatu amalan dari sisi jumlah atau pembatasan tertentu seperti sholat di waktu tertentu, membaca bacaan tertentu, atau ada tata cara tertentu, tidak boleh diamalkan jika hadisnya berasal dari hadis Dha’if. Karena menetapkan tata cara yang khusus dalam ibadah haruslah ditetapkan dengan dalil.

Adapun mengenai doa masuk pasar yaitu hadisnya berbunyi, siapa yang masuk pasar lantas membaca laa ilaha illallah dan seterusnya, maka perlu dipahami bahwa secara umum, berzikir ketika masuk pasar itu disunnahkan. Karena kita diperintahkan berzikir saat orang-orang itu lalai. Besarnya pahala yang disebutkan dalam hadis tersebut (hingga disebutkan sejuta, pen.) tidaklah menimbulkan problema ketika bacaan tersebut diamalkan, baik nantinya hadis tersebut dihukumi Shahih ataukah tidak. ” (Majmu’ Al-Fatawa, 18: 67)

Dalil umum yang memerintahkan kita banyak zikir termasuk di pasar adalah hadis berikut. Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata:

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada dua orang Arab (Badui) mendatangi Rasulullah ﷺ. Lantas salah satu dari mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau ﷺ. Salah satunya lagi bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berzikir pada Allah,” jawab beliau ﷺ. (HR. Ahmad 4: 188, sanad Shahih kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth). Hadis ini menunjukkan, bahwa zikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari zikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berzikir.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Ketika hati seseorang terus berzikir pada Allah, maka ia seperti berada dalam sholat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 524)

Kesepuluh: Menutup Celah dalam Shaf Sholat

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam Shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karena hal tersebut, dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam Surga.” (HR. Al-Muhamili dalam Al-Amali, 2: 36. Disebutkan dalam Ash-Shahihah, no. 1892)

Kesebelas: Beriman pada Nabi ﷺ

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berhijrah, dengan sebuah rumah di pinggir Surga, di tengah Surga, dan Surga yang paling tingggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad, dengan rumah di pinggir Surga, di tengah Surga dan di Surga yang paling tinggi. Barang siapa yang melakukan itu, maka ia tidak membiarkan satu pun kebaikan, dan ia lari dari setiap keburukan. Ia pun akan meninggal, di mana saja Allah kehendaki untuk meninggal.” (HR. An-Nasa’i, no. 3135. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan)

Semoga kita dimudahkan mendapatkan kaveling rumah atau istana di Surga. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

https://saaid.net/rasael/441.htm

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/13072-11-amalan-dapat-jaminan-rumah-di-Surga.html

, ,

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

Jihad ternyata bukan hanya dengan berperang mengangkat senjata. Menuntut ilmu agama bisa pula disebut jihad. Bahkan sebagian ulama berkata: bahwa jihad dengan ilmu ini lebih utama daripada dengan senjata. Karena setiap jihad mesti pula didahului dengan ilmu.

Perkataan Ulama: Menuntut Ilmu Bagian dari Jihad

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah, karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal, yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.

Sampai-sampai sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”

Karena menjaga syariat adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang), menawan tahanan, melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar segalanya”. [Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108]

Di halaman yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, bahwa ilmu yang dipuji di sini adalah ilmu agama yang memelajari Alqurandan As Sunnah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya: “Apakah afdhol saat ini untuk berjihad di jalan Allah, ataukah menuntut ilmu (agama), sehingga dapat bermanfaat pada orang banyak, dan dapat menghilangkan kebodohan mereka? Apa hukum jihad bagi orang yang tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya, namun ia masih tetap pergi berjihad?”

Jawab beliau:

“Perlu diketahui, bahwa menunut ilmu adalah bagian dari jihad. Menuntut ilmu dan memelajari Islam dihukumi wajib. Jika ada perintah untuk berjihad di jalan Allah dan jihad tersebut merupakan semulia-mulianya amalan, namun tetap menuntut ilmu harus ada. Bahkan menuntut ilmu lebih didahulukan daripada jihad. Karena menuntut ilmu itu wajib. Sedangkan jihad bisa jadi dianjurkan, bisa pula fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian sudah melaksanakannya, maka yang lain gugur kewajibannya. Akan tetapi menuntut ilmu adalah suatu keharusan. Jika Allah mudahkan bagi dia untuk berjihad, maka tidaklah masalah. Boleh ia ikut serta, asal dengan izin kedua orang tuanya. Adapun jihad yang wajib saat kaum Muslimin diserang oleh musuh, maka wajib setiap Muslim di negeri tersebut untuk berjihad. Mereka hendaknya menghalangi serangan musuh tersebut. Termasuk pula kaum wanita hendaklah menghalanginya sesuai kemampuan mereka. Adapun jihad untuk menyerang musuh di negeri mereka, jihad seperti ini dihukumi fardhu kifayah bagi setiap pria.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 24: 74)

Dalil Pendukung

Adapun dalil yang mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah ta’ala:

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52)

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri, seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar” [QS. Al Furqon: 51-52].

Ibnul Qayyim berkata dalam Zaadul Ma’ad:

“Surat ini adalah Makkiyyah (turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah, -pen). Di dalam ayat ini berisi perintah berjihad melawan orang kafir dengan hujjah dan bayan (dengan memberi penjelasan atau ilmu, karena saat itu kaum Muslimin belum punya kekuatan berjihad dengan senjata, -pen). … Bahkan berjihad melawan orang munafik itu lebih berat dibanding berjihad melawan orang kafir. Jihad dengan ilmu inilah jihadnya orang-orang yang khusus dari umat ini, yang menjadi pewaris para Rasul.”

Dalam hadis juga menyebutkan, bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Siapa yang mendatangi masjidku (Masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik, yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang menilik-nilik barang lainnya.” [HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, Shahih kata Syaikh Al Albani]

Semoga kita terus semangat berjihad dengan ilmu. Moga Allah beri petunjuk.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/3383-menuntut-ilmu-bagian-dari-jihad.html

,

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus
#DakwahTauhid

KEUTAMAAN LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

Kalimat ini adalah kalimat yang ringkas namun sarat makna, dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Kata Nabi ﷺ pada ‘Abdullah bin Qois:

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di Surga.” [HR. Bukhari no. 7386]
Kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah ta’ala. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa, dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu, selain kehendak Allah.

Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut: “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan, dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan, selain dengan kuasa Allah.”

Ulama lain menafsirkan: “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”

Ibnu Mas’ud berkata:

لا حول عن معصية الله إلا بعصمته، ولا قوة على طاعته إلا بمعونته

“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat, selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, selain dengan pertolongan Allah.”

Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan: “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.” [Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27]

Semoga lisan ini selalu diberi taufik oleh Allah untuk selalu basah dengan zikir kepada Allah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/2530-keutamaan-laa-hawla-wa-laa-quwwata-illa-billah.html

,

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

MASIH SUKA SIBUK WAKTU "BANDING-BANDINGKAN" DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

MASIH SUKA SIBUK WAKTU “BANDING-BANDINGKAN” DENGAN ORANG LAIN DAN MERASA LEBIH BAIK?

Kita lihat disekitar kita,

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang masih suka “ngurusin+banding-bandingin” orang lain. Setiap bertemu temannya, dia membicarakan temannya yang lain. Setiap bertemu saudaranya, dia membicarakan saudara yang lain. Dimulai dari cerita ini itu, berdalih dengan alasan ini itu, hingga sering tanpa sadar dia jatuh dan larut, bagai garam di dalam air, ke dalam hal-hal yang diharamkan Allah, seperti hasutan, ghibah dan namimah. Bahkan terlampau sering tazkiyah terucap bagi diri sendiri. Subhanallah..

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:

“Berbangga diri, sampai-sampai dikhayalkan, “Bahwa engkau lebih baik dari pada saudaramu”. Padahal bisa jadi engkau tidak mampu mengamalkan sebuah amalan, yang mana dia mampu melakukannya. Padahal bisa jadi dia lebih berhati-hati dari perkara-perkara haram dibandingkan engkau, dan dia lebih suci amalannya dibandingkan engkau.” (Hilyatu al-Auliya’ juz 6, 391)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat 11)

Ingatlah wahai saudaraku,

Sesungguhnya Allah mengetahui semuanya. Dan tidak ada yang lepas dari perhitungan Allah, meskipun sebesar zarrah. Semua dicatat, meskipun dalam bisikan-bisikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf 16-18)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat ini:

“Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara, kecuali dalam hal yang bermanfaat”. Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291)

Oleh karenanya, benarlah sabda Rasulullah ﷺ saat menjelaskan salah satu tanda baiknya keislaman kita:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi 2317, Ibnu Majah 3976) Shahih oleh Syaikh Al Albani.

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

“Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan kejelekan amal perbuatan kami.” (HR. Nasa’i III/104, Ibnu Majah I/352/1110. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145)

Nasihat bagi saya pribadi khususnya dan semoga bermanfaat bagi saudara sekalian.

 

Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

#TazkiyatunNufus

RENUNGAN SAAT AKAN BEPERGIAN

Saudaraku, sebelum engkau melangkahkan kakimu, renungilah hadis ini:

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أراد الله قبض عبد بأرض جعل له إليها حاجة

“Sesungguhnya, jika Allah menghendaki untuk mencabut nyawa seorang hamba di suatu tempat, maka Allah jadikan hamba itu memiliki keperluan di tempat tersebut.” [HR. Al-Hakim dan Bukhori dalam adab al mufrad, shahih oleh Al-Albani]

Subhanallah. Kita tidak tahu, bisa jadi Allah ta’ala berkehendak mencabut nyawa kita di tempat yang kita tuju. Bisa jadi perginya kita kesuatu tempat adalah tempat dicabutnya nyawa kita.

  • Apa jadinya jika tempat yang kita tuju adalah tempat yang sarat akan maksiat?
  • Maka perbaiki hatimu, perbaiki tujuan-tujuanmu dalam melangkah. Perbanyaklah menuju tempat-tempat yang Allah berkahi, yang Allah cintai: masjid, mushola, majelis ilmu, dan lain sebagainya.
  • Bagimu wahai saudaraku yang masih gemar plesiran, mengeluarkan uang hanya untuk sekedar senang-senang ke negeri-negeri non-Islam (kafir), maka perbaikilah tujuanmu. Carilah tempat-tempat tujuan yang Allah berkahi, seperti melakukan perjalanan umroh ke Tanah Suci, Mekkah dan Madinah.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan akhir penutup husnul khatimah di tempat-tempat yang Allah ta’ala cintai.

 

Penyusun: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir #UtangPiutang #PinjamMeminjam #FikihMuamalah

KARENA DOA, UTANG JADI KEKAYAAN

Penulis: Ustadz Sufyan Baswedan

Pertanyaan:

Saya punya utang yang cukup banyak, salah satunya karena usaha yang gagal. Saya tidak berniat sedikit pun untuk lari dari utang. Saya takut kalau suatu saat saya meninggal, namun utang saya belum dilunasi.
Satu-satunya usaha yang sekarang sedang saya jalani ikut bisnis online. Pertimbangannya: sudah ada internet dan komputer.
Usia saya 45 tahun. Tentunya tidak memungkinkan melamar kerja, karena kerja di mana pun pasti usianya dibatasi, maksimal 30 tahunan.
Mau usaha dagang ini butuh modal yang tidak sedikit, dan butuh tempat. Ini juga tidak memungkinkan. Di samping itu tenaga saya juga lemah.
Kira-kira bagaimana solusinya ya Ustadz? Mohon doanya juga agar masalah saya cepat selesai.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Zubeir radhiyallahu anhu, katanya:

“Di hari Perang Jamal, Zubeir sempat memanggilku. Setelah aku berdiri di sampingnya, ia berkata kepadaku: “Hai putraku, yang akan terbunuh hari ini hanyalah orang zalim atau yang terzalimi. Dan kurasa aku akan terbunuh hari ini sebagai pihak yang terzalimi. Akan tetapi beban pikiran terberatku di dunia ini ialah utangku. Apakah menurutmu, utang kita akan menyisakan harta kita walau sedikit?”

“Wahai putraku, jual-lah aset yang kita miliki untuk menutup utang-utangku,” kata Zubeir kepada Abdullah. Zubeir lalu berwasiat kepada anaknya agar sepersembilan hartanya yang tersisa diperuntukkan bagi anak-anak Abdullah, atau cucu-cucunya. Waktu itu ada dua anak Abdullah seusia dengan anak-anak Zubeir. Yakni Khubaib dan Abbad. Zubeir sendiri waktu itu meninggalkan sembilan anak laki-laki dan sembilan anak perempuan.

 

Kata Abdaullah, Zubeir berpesan kepadanya: “Hai putraku, jika engkau tak sanggup melakukan sesuatu demi melunasi utang ini, minta tolonglah kepada tuanku,” kata Zubeir.
“Demi Allah, aku tidak paham apa maksudnya. Maka aku bertanya kepadanya:” kata Abdullah bin Zubeir. “Wahai Ayah, siapakah tuanmu itu?”
“Allah,” jawab Zubeir.
“Sungguh demi Allah, setiap kali aku terhimpit musibah dalam melunasi utang tersebut, aku selalu berkata: “Wahai tuannya Zubeir, lunasilah utang-utangnya”… dan Allah pun melunasinya, kata Abdullah.
Tak lama berselang, Zubeir radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Ia tak meninggalkan sekeping Dinar maupun Dirham. Peninggalannya hanyalah dua petak tanah, yang salah satunya ada di Ghabah (Madinah), 11 unit rumah di Madinah, dua unit rumah di Basrah, satu unit di Kufah, dan satu lagi di Mesir. Sedangkan utang-utangnya timbul karena Zubeir sering dititipi uang oleh orang-orang.
“Anggap saja ini sebagai utang, karena aku takut uang ini hilang,” kata Zubeir.
Zubeir tidak pernah menjabat sebagai gubernur maupun pengumpul zakat, atau yang lainnya. Ia hanya mendapat bagian dari perangnya bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan radhiyallaahu ‘anhum.
“Maka kuhitung total utang yang ditanggungnya, dan jumlahnya mencapai 2,2 juta Dirham!” Hakim bin Hizam pernah menemui Abdullah bin Zubeir dan bertanya: “Wahai putra saudaraku, berapa utang yang ditanggung saudaraku?”
Ibnu Zubeir merahasiakannya, dan hanya mengatakan “Seratus ribu.”
Hakim berkomentar: “Demi Allah, harta kalian takkan cukup untuk melunasinya menuruntuku.”
“Lantas bagaimana menurutmu jika utang tadi berjumlah 2,2 juta?!” tanya Ibnu Zubeir.
“Kalian takkan sanggup melunasinya. Dan jika kalian memang tidak sanggup, maka minta tolonglah kepadaku,” jawab Hakim.
Abdullah lantas mengumumkan: “Siapa yang pernah mengutangi Zubeir, silakan menemui kami di Ghabah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far yang dahulu pernah mengutangi Zubeir sebesar 400 ribu Dirham.
Ibnu Ja’far berkata kepada Ibnu Zubeir, “Kalau kau setuju, utang itu untuk kalian saja.”
“Tidak”, jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, biarlah ia utang yang paling akhir dilunasi,” kata Ibnu Ja’far.
“Jangan begitu,” jawab Ibnu Zubeir.
“Kalau begitu, berikan aku sekapling tanah dari yang kalian miliki,” pinta Ibnu Ja’far.
“Baiklah. Kau boleh mengambil kapling dari sini hingga sana,” kata Ibnu Zubeir.
Ibnu Ja’far lantas menjual bagiannya dan mendapat pelunasan atas utangnya. Sedangkan tanah tersebut masih tersisa 4,5 kapling. Ibnu Zubeir lantas menghadap Mu’awiyah yang kala itu sedang bermajelis dengan ‘Amru bin Utsman, Mundzir bin Zubeir, dan Ibnu Zam’ah.
Mu’awiyah bertanya: “Berapa harga yang kau berikan untuk tanah Ghabah?”
“Seratus ribu per kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
“Berapa kapling yang tersisa?” tanya Mu’awiyah.
“Empat setengah kapling,” jawab Ibnu Zubeir.
‘Amru bin Utsman berkata: “Aku membeli satu kapling seharga seratus ribu.” Sedangkan Mundzir bin Zubeir dan Ibnu Zam’ah juga mengatakan yang sama. Mu’awiyah bertanya: “Berapa kapling yang tersisa?”
“Satu setengah kapling” jawab Ibnu Zubeir.
“Kubeli seharga 150 ribu,” kata Mu’awiyah.

Sebelumnya, Abdullah bin Ja’far menjual kaplingnya kepada Mu’awiyah seharga 600 ribu Dirham. Dan setelah Ibnu Zubeir selesai melunasi utang ayahnya. Datanglah anak-anak Zubeir kepadanya untuk minta jatah warisan. Tapi kata Ibnu Zubeir, “Tidak, demi Allah. Aku takkan membaginya kepada kalian, sampai kuumumkan selama empat tahun di musim haji, bahwa siapa saja yang pernah mengutangi Zubeir, hendaklah mendatangi kami agar kami lunasi.” Maka Ibnu Zubeir pun mengumumkannya selama empat tahun.

Setelah berlalu empat tahun, barulah Ibnu Zubeir membagi sisa warisannya. Ketika itu, Zubeir meninggalkan empat istri, dan setelah dikurangi sepertiganya, masing-masing istrinya mendapatkan 1,2 juta. Dan setelah ditotal, nilai total harta peninggalannya mencapai 50,2 juta! [HR. Bukhari No. 3129]

Sungguh luar biasa memang pengaruh doa. Tak hanya menolak musibah dan meringankan bencana. Namun doa membalik itu semua menjadi karunia yang tak terhingga. Walau secara matematis jumlah hartanya takkan cukup untuk melunasi 10% dari utangnya, tapi lewat doa, itu semua teratasi. Kalaulah Zubeir mengajarkan doa tersebut kepada putranya, doa apa kiranya yang harus kita baca agar bebas dari lilitan utang?

Dalam Sahih Muslim disebutkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita membaca doa berikut setiap hendak tidur:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ مُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الْأَوَّلُ لَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ لَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ لَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ لَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Alquran). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelah-Mu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami, dan berilah kami kekayaan (kecukupan), hingga terlepas dari kefakiran.” [HR. Muslim no. 2713]

Tulisan di atas merupakan artikel yang ditulis oleh Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. yang diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim edisi 33. Secara khusus, Ustadz Sufyan Fuad Baswedan, M.A. merupakan kolumnis Majalah Pengusaha Muslim untuk rubrik adab dan doa. Ada banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dari tulisan beliau. Sederhana, namun sarat makna.

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/15787-karena-doa-utang-jadi-kekayaan.html

, ,

DOA MINTA KAYA DAN LEPAS DARI UTANG

DOA MINTA KAYA DAN LEPAS DARI UTANG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA MINTA KAYA DAN LEPAS DARI UTANG

Beberapa doa berikut bisa diamalkan dan sangat manfaat, berisi permintaan kaya dan lepas dari utang. Namun tentu saja kaya yang penuh berkah, bukan sekedar perbanyak harta. Apalagi hakikat kaya adalah diri yang selalu merasa cukup.

[1] Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii

Artinya:

Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu, dan baguskanlah amalku, serta ampunilah dosa-dosaku. [HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480]

[2] Doa Memohon Kemudahan

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

Artinya:

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, pasti akan menjadi mudah. [HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3: 255]

[3] Doa Agar Terlepas dari Sulitnya Utang

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom

Artinya:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan sulitnya utang. [HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 5]

[4] Doa Agar Lepas dari Utang Sepenuh Gunung

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak

Artinya:

Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal, dan jauhkanlah aku dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu, dari bergantung pada selain-Mu. [HR. Tirmidzi no. 3563, Hasan kata Syaikh Al Albani]

[5] Doa Dipermudah Urusan Dunia dan Akhirat

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin

Artinya:

Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku. Perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah bagiku Akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah -ya Allah- kehidupan ini memunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. [HR. Muslim no. 2720]

Artikel di atas adalah salah satu bagian dari buku terbaru: Pesugihan, Biar Kaya Mendadak.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10221-doa-minta-kaya-dan-lepas-dari-utang.html