Posts

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#BirrulWalidain

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

As Syaikh Muhammad bin Solih Al Utsaimin menjelaskan:

“Jika kita perhatikan keadaan manusia pada saat ini, maka kita akan mendapatkan kebanyakan dari mereka tidak berbuat baik kepada orang tua. Bahkan mereka durhaka terhadap keduanya.

Engkau dapati mereka berbuat baik kepada teman-temannya, dan tidak bosan untuk duduk-duduk bersama mereka.

Namun jika mereka duduk dengan ayahnya atau ibunya satu jam saja dari satu hari yang ada, niscaya engkau akan dapati mereka duduk meliuk-liuk, seakan-akan dia duduk di atas bara.

>> INI BUKAN ANAK YANG BERBAKTI.

Hanya saja anak yang berbakti adalah:

1) Orang yang dadanya lapang untuk ibu dan ayahnya.
2) Melayani keduanya.
3) Semangat dan memerhatikan dengan sangat terhadap apa yang menjadi keridaan mereka berdua.

نسأل الله السلامة والعافية

[Syarah Al Aqidah Al Washitiyah; (3/121)]

(Fawwaz bin Ali Al-Madkhalî)

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

SABARKANLAH DIRIMU DI ATAS SUNNAH

SABARKANLAH DIRIMU DI ATAS SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NasihatUlama

SABARKANLAH DIRIMU DI ATAS SUNNAH

Imam Al Auza’i rahimahullah mengatakan:

” اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم قل بما قالوا وكف عما كفوا واسلك سبيل سلفك الصالح فإنه يسعك ما وسعهم “.

“Sabarkanlah dirimu di atas sunnah.

Berhentilah di mana kaum itu (para shahabat) berhenti.

Ucapkan apa yang mereka katakan.

Titilah jalan para pendahulu yang saleh.

Karena sungguh, yang boleh bagimu adalah yang boleh bagi mereka.” [Diriwayatkan oleh Al Lalakai dalam I’taqad Ahlis Sunnah no. 315].

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

,

BAHAYA DUSTA ATAS NAMA NABI

BAHAYA DUSTA ATAS NAMA NABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BAHAYA DUSTA ATAS NAMA NABI

Pembahasan ini bermaksud menunjukkan bahayanya menyampaikan hadis-hadis palsu, yang tidak ada asal usulnya sama sekali dari Nabi ﷺ.  Berdusta atas nama seseorang, walaupun bukan orang yang mulia, merupakan dosa besar. Lalu bagaimana jika berdusta atas nama Nabi ﷺ, yang perkataan dan perbuatannya merupakan syariat?

Mari kita simak hadis-hadis berikut ini yang berisi ancaman yang sangat berat dan mengerikan terhadap para pemalsu dan pendusta besar atas nama Rasulullah ﷺ. Dan untuk mereka, Allah jalla wa’ala telah menyediakan tempat tinggal berupa satu rumah di Neraka, yang di situ mereka akan diazab dengan azab yang besar. Hal ini disebabkan, karena berdusta atas nama Rasullah ﷺ adalah sebesar-besar dusta yang dilakukan oleh seorang manusia, sesudah dia berdusta atas nama Allah jalla wa’ala. Bahkan berdusta atas nama Rasulullah ﷺ terancap kafir, dan bisa mengeluarkan seorang Muslim dari ke-Islamannya.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab beliau Al Kabair (mengenai dosa-dosa besar) berkata: “Berdusta atas nama Nabi ﷺ adalah suatu bentuk kekufuran yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Tidak ragu lagi, bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah ﷺ dalam menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal, berarti ia melakukan kekufuran. Adapun perkara yang dibahas kali ini adalah untuk bentuk dusta selain itu.”

Beberapa dalil yang dibawakan oleh Imam Adz Dzahabi adalah sebagai berikut:

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4]

Dalam hadis yang Shahih, Nabi ﷺ bersabda:

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ  بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barang siapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (Neraka) Jahannam.” [HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir]

Imam Dzahabi juga membawakan hadis, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang berkata atas namaku, padahal aku sendiri tidak mengatakannya, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka.”

Dalam hadis lainnya disebutkan pula:

يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلاَلِ كُلِّهَا إِلاَّ الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ

“Seorang Mukmin memiliki tabiat yang baik, kecuali khianat dan dusta.” [HR. Ahmad 5: 252. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Dhoif]

Dari ‘Ali, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadis yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” [HR. Muslim dalam muqoddimah kitab Shahihnya pada Bab “Wajibnya meriwayatkan dari orang yang tsiqoh -terpercaya-, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 39. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Setelah membawakan hadis-hadis di atas, Imam Adz Dzahabi berkata:

“Dengan ini menjadi jelas dan teranglah, bahwa meriwayatkan hadis Maudhu’ dari perowi pendusta, (hadis palsu) TIDAKLAH dibolehkan.” [Lihat kitab Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H, hal. 28-29]

Contoh Berdusta Atas Nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Bentuk-bentuk berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya ﷺ secara sengaja ada banyak, di antaranya:

  1. Berkomentar atau menjawab dalam masalah agama tanpa ilmu yang benar, baik komentarnya (kebetulan) benar, apalagi jika salah.

Allah ta’ala berfirman menyebutkan empat jenis dosa yang menjadi penyebab timbulnya semua dosa (yang artinya): “Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah, apa yang tidak kalian ketahui.” [QS. Al-A’raf: 33]

Termasuk di dalamnya mengatakan mubah terhadap sesuatu yang dilarang dan sebaliknya. Atau mengatakan sunnah sesuatu yang wajib dan sebaliknya. Atau mengatakan haram sesuatu yang halal dan sebaliknya.

  1. Mengklaim bahwa dirinya didatangi oleh malaikat Jibril. Ini jelas kedustaan atas nama Allah ta’ala, karena Jibril itu hanya turun mendatangi manusia atas perintah Allah ta’ala.
  2. Mengklaim bahwa dia melihat Nabi ﷺ dalam mimpinya, padahal dia sendiri tidak mengetahui, bagaimana ciri-ciri fisik Rasulullah ﷺ.
  3. Mengklaim bahwa dia menerima suatu ajaran baru dari Allah atau Rasul-Nya ﷺ dalam mimpi.
  4. Meyakini atau berbuat bid’ah dalam agama, baik bid’ah berupa keyakinan, ucapan, maupun amalan. Baik dia yang menjadi pencetus bid’ah tersebut, maupun dia hanya sekadar ikut-ikutan.
  5. Menceritakan atau membenarkan hadis yang lemah sekali atau yang palsu, dengan meyakini bahwa Nabi ﷺ pernah mengucapkannya.
  6. Menceritakan atau menisbatkan suatu hadis dari Nabi ﷺ, padahal dia belum mengetahui keadaan sebenarnya dari hadis tersebut, apakah Shahih atau lemah.
  7. Beramal dengan hadis yang lemah apalagi yang palsu, baik dalam fadhail al-a’mal apalagi dalam masalah hukum-hukum.
  8. Menyebarkan pemikiran yang menyimpang lantas mengatasnamakan Islam, semisal mengatakan bom bunuh diri sebagai jihad dan semacamnya.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Sumber:

 

Catatan Tambahan:

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ menegaskan:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

“Janganlah kamu berdusta atasku. Karena sesungguhnya, barang siapa berdusta atasku, maka silakan dia masuk ke Neraka.” [HR. Al-Bukhari, no. 106 dan Muslim, no. 1]

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Barang siapa yang membuat-buat perkataan atas (nama) ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di Neraka”. [H.R. Ibnu Majah (No. 34) dan Imam Ahmad bin Hambal (2/321)]

 

#StopBidah
#HaditsPalsuMaudhuHadist
#HadistLemahDhaifDhoifHadits
#JanganSebarkanHadisPalsu

 

,

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

APA YANG ENGKAU TANAM, ITULAH YANG ENGKAU PANEN

Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

‏غداً توفى النفوس ما كسبت ويحصد الزارعون ما زرعوا، إن أحسنوا أحسنوا لأنفسهم، وإن أساؤوا فبئس ما صنعوا

“Esok hari (Kiamat), jiwa-jiwa akan disempurnakan, balasan atas perbuatan mereka. Orang-orang yang menanam, akan memanen apa yang mereka tanam. Jika mereka berbuat baik, maka mereka telah berbuat baik untuk diri mereka sendiri. Namun jika mereka berbuat buruk, maka alangkah buruknya apa yang mereka perbuatkan.” [Lathaiful Ma’arif, jilid 1, hlm 232]

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah
#TazkiyatunNufus

TAHUKAH ENGKAU MADU APA YANG TERBAIK? INGINKAH ENGKAU MENDAPATKANNYA?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا أحبَّ اللّه عبداً عسّلَه .قالوا : ما عسّلَه ؟ . قال : يفتح اللّه – عز وجل – له عملاً صالحاً قبل موته ثمّ يقبضه عليه

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberinya madu”. Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya memberinya madu?” Beliau ﷺ menjawab: “Allah akan membukakan baginya amal saleh sebelum kematiannya, kemudian Allah mewafatkannya di atas amal saleh tersebut (Husnul Khatimah).” [HR. Ahmad 17819. Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 1114]

 

Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

, ,

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#TazkiyatunNufus

SEBAIK-BAIK BENTUK ISTIGHFAR
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

وأفضل أنواع الإستغفار : أن يبدأ العبد بالثناء على ربه. , ثم يثنى بالإعتراف بذنبه, ثم يسأل الله المغفرة.

“Sebaik-baik bentuk istighfar adalah seorang hamba memulainya dengan sanjungan terhadap Rabb-nya, kemudian dilanjutkan dengan pengakuan atas dosa-dosanya, kemudian meminta kepada Allah maghfirah (ampunan).” [Asbab al-Maghfirah, hal. 5]
Sumber: Instagram.com/ShahihFiqih

,

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

 

>> Doa Sebelum Masuk Ramadan

Pertanyaan:

Adakah doa khusus sebelum memasuki Ramadan?

Jawaban:

Tidak diketahui ada doa khusus yang dibaca saat masuk Ramadan. Yang ada hanyalah doa umum ketika melihat hilal (masuknya bulan Hijriyah). Dan doa itu dibaca saat melihat hilal Ramadan maupun bulan lainnya. Lafal doanya ialah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal Islaami. Robbii wa Robbukallah.”

Artinya:

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” [HR. Ahmad III/17, at-Tirmidzi 3451, dan yang lainnya]

Jika dia ingin berdoa agar bisa menjalankan puasa secara sempurna dan agar pahala dari ibadah yang dikerjakannya diterima oleh Allah, maka ini juga tidak masalah.

Demikian kesimpulan dari keterangan asy-Syaikh Shaalih al-Fauzaan hafizhahullah dalam: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/7445

 

>> Hukum Ucapan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’

Asy-Syaikh Shaalih bin Fauzaan bin Abdillah al-Fauzaan hafizhahullah pernah ditanya:

Pertanyaan:

Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya Ramadan?

جـ: التهنئة بدخول شهر رمضان لا بأس بها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبشر أصحابه بقدوم شهر رمضان، ويحثهم على الاجتهاد فيه بالأعمال الصالحة، وقد قال الله تعالى‏:‏

‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏ ‏[‏ يونس ‏:‏ 58‏]‏

فالتهنئة بهذا الشهر والفرح بقدومه يدلان على الرغبة في الخير، وقد كان السلف يبشر بعضهم بعضًا بقدوم شهر رمضان؛ اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم

Jawaban:

“Mengucapkan ucapan selamat atas masuknya Ramadan hukumnya boleh, karena Nabi Muhammad ﷺ juga biasa memberi kabar gembira pada para sahabat atas masuknya Ramadan, serta mendorong mereka untuk sungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh di dalamnya. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” [QS. Yunus: 58]

Sehingga memberi ucapan selamat lantaran berjumpa Ramadan dan bergembira dengan kedatangannya menunjukkan antusiasmenya pada kebaikan. Sebagaimana Salaf (orang-orang saleh terdahulu) juga saling mengabarkan pada sebagian mereka akan tibanya Ramadan, yang itu mereka lakukan dalam rangka meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang juga melakukannya [Lihat: HR. an-Nasaa’i 2106, Ahmad, dll –pent].”

Sumber:  http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7452

 

>> Dosa Juga Akan Berlipat Saat Ramadan?

Pertanyaan:

Apakah dosa pada bulan Ramadan juga dilipatgandakan?

Jawaban:

Dosa ketika Ramadan tidak akan berlipat ganda dalam hal hitungan. Dalam artian, jika dia melakukan satu kejahatan ketika Ramadan, maka dosa yang dia dapatkan ya tetap satu. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ:

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan, melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’aam: 160)

Namun dalam hal ukuran, satu dosa yang dilakukan ketika Ramadan akan lebih berat dalam hal timbangan dan balasannya. Benar dosanya tetap satu dosa, tapi satu dosa itu lebih berat dari satu dosa, pada hari-hari biasa, dengan kemaksiatan yang sama. Allah ﷻ berfirman:

{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Siapa yang bermaksud di dalam Masjidil Haram melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS. al-Haj: 25]

Dalam ayat ini Allah ﷻ memersiapkan siksa yang tidak sebatas siksa, namun disifati dengan siksa yang pedih, bagi orang-orang yang melakukan tindak kezaliman di tempat yang Allah muliakan. Dari ayat ini ulama mengambil petikan hokum, bahwa dosa yang dilakukan pada tempat yang Allah muliakan, atau waktu yang Allah muliakan, akan menjadi berat dalam hal siksa yang didapatnya. Oleh karena Ramadan ialah bulan paling mulia di sisi Allah, maka demikian pula kondisi maksiat yang dilakulan di bulan tersebut.”

Lihat:

  • – Fataawaa Ibn Baaz,  XV/446-448
  • – Asy-Syarh al-Mumti’, V/262

 

Sumber:  Telah Tersebut di Atas

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/282/serba-serbi-sebelum-Ramadan#sthash.CcwuaR6k.dpuf

, ,

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

Pertanyaan:

Mumpung Ramadan, rasanya sayang untuk tidak puasa, meski sedang sakit. Bolehkah perbuatan semacam ini?

Jawaban:

Apabila puasa akan semakin memberatkan diri dan kesehatannya, maka yang paling bagus dia tidak berpuasa. Tidak puasa saat sakit merupakan salah satu keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Kesimpulan masalah diterangkan oleh Pakar Fikih abad ini, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

إذا كان يشق عليه الصوم ولا يضره، فهذا يكره له أن يصوم، ويسن له أن يفطر . . . وإذا كان يشق عليه الصوم ويضره، كرجل مصاب بمرض الكلى أو مرض السكر، وما أشبه ذلك، فالصوم عليه حرام

“Jika dia merasa berat puasa lantaran sakit, namun tidak sampai membahayakan, maka makruh jika dia puasa dan sunnah hukumnya dia berbuka. Sedang jika dia berat untuk puasa dan bahkan bisa membahayakan dirinya andaikata puasa, seperti halnya orang yang terkena penyakit liver atau diabetes, maka hukum puasanya haram.” [Asy-Syarh al-Mumti’: VI/341]

Sehingga BUKAN perkara terpuji, bilamana dia sakit berat, namun tetap memaksa berpuasa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan:

وبهذا نعرف خطأ بعض المجتهدين من المرضى الذين يشق عليهم الصوم وربما يضرهم، ولكنهم يأبون أن يفطروا فنقول: إن هؤلاء قد أخطأوا حيث لم يقبلوا كرم الله ـ عزّ وجل ـ، ولم يقبلوا رخصته، وأضروا بأنفسهم، والله ـ عزّ وجل ـ يقول: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: ٢٩

“Dengan penjelasan ini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang sakit yang semangat untuk puasa, padahal puasa itu memberatkan, dan bahkan bisa menimbulkan bahaya atas dirinya, yaitu mereka enggan untuk tidak puasa. Kami katakan: ‘Sesungguhnya orang-orang semacam itu telah keliru, saat mereka tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti mereka telah menimpakan mudarat pada diri mereka sendiri! Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

 

, ,

ADAB DAN CARA BERDOA

ADAB DAN CARA BERDOA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak
#DoaZikir

ADAB DAN CARA BERDOA

>> Petunjuk Rahasia Agar Doa Kita Dikabulkan

  1. Memanfaatkan Waktu dan Tempat Yang Mustajab

Di antaranya: Sepertiga malam terakhir, di antara azan dan iqamah, di saat sujud akhir shalat fardhu, saat azan, setelah Ashar di hari Jumat, saat turun hujan, saat safar, saat mau berbuka puasa, bulan Ramadan, malam Lailatul Qadr, di hari Arafah, di Hijr Ismail, di bukit Shafa dan Marwah, saat minum Zamzam, saat terjadi perang, dll.

  1. Menghadap Kiblat

“Ketika berada di Padang Arafah, beliau ﷺ menghadap Kiblat, dan beliau ﷺ terus berdoa sampai matahari terbenam” (HR. Muslim)

  1. Mengangkat Tangan

“Sesungguhnya Tuhan kalian itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada hamba-Nya ketika mereka mengangkat tangan kepada-Nya, kemudian hambanya kembali dengan tangan kosong (tidak dikabulkan)” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, beliau Hasankan)

  1. Suara Lirih dan Tidak Dikeraskan

“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (HR. Bukhari)

  1. Tidak Dibuat Bersajak

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf: 55)

  1. Penuh Harap dan Cemas

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al-Anbiya’: 90)

  1. Khusyu’ dan Yakin Akan Dikabulkan

“Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya)” (HR. Tirmidzi)

  1. Mengulang-Ulang Doa

“… Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali” (HR. Muslim)

  1. Tidak Tergesa-Gesa Agar Segera Dikabulkan

“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?” Beliau ﷺ bersabda: “Orang yang berdoa ini berkata: ‘Saya telah berdoa, saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan’. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa” (HR. Muslim, Abu Daud)

  1. Diawali Memuji Allah dan Bershalawat Atas Nabi ﷺ

“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya” (HR. Ahmad, Abu Daud)

  1. Dimulai Doa Bagi Diri Sendiri Sebelum Untuk Orang Lain

“Apabila Rasulullah ﷺ ingat kepada seseorang, maka beliau mendoakannya. Dan sebelumnya, beliau ﷺ mendahulukan berdoa untuk dirinya sendiri” (HR. Tirmidzi)

  1. Memerbanyak Taubat

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya, tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengetahui, bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum’” (HR. Al-Hakim)

  1. Mendoakan Saudara Sesama Muslim

“Tidak ada seorang Muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama Muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata: “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim)

  1. Hindari Mendoakan Keburukan

“Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim” (HR. Muslim, Abu Daud)

  1. Hindari Makanan dan Harta Haram

“… Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya?” (HR. Muslim)

 

Diambil dari berbagai sumber: konsultasisyariah.com, almanhaj.or.id, yufidia.com, FB Doa dan Dzikir Shahih Harian

,

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FikihJualBeli

BOLEHKAH JUAL BELI DENGAN SEKADAR MEMAJANG KATALOG DI INTERNET?

Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan Salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian orang agak sedikit rancu dengan jual beli Salam dan jual beli barang yang belum dimiliki. Ada yang masih bingung, sehingga ia anggap, bahwa jual beli Salam semacam di internet, yang hanya dengan memajang katalog barang yang akan dijual, itu tidak dibolehkan, karena dianggap termasuk larangan Nabi ﷺ menjual barang yang tidak dimiliki ketika akad. Inilah bahasan yang ingin kami angkat pada kesempatan kali ini. Semoga pembahasan singkat ini bisa menjawab kerancuan yang ada.

Pengertian Transaksi Salam

Jual beli Salam (biasa pula disebut “Salaf”) adalah jual beli dengan uang di muka secara kontan, sedangkan barang dijamin diserahkan tertunda. Istilahnya adalah, pembeli itu pesan dengan menyerahkan uang terlebih dahulu, sedangkan penjual mencarikan barangnya, walaupun saat itu barang tersebut belum ada di tangan penjual.

Jual beli Salam DIBOLEHKAN, berdasarkan dalil Alquran, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan ulama).

Bolehnya Transaksi Salam

Ayat yang menyebutkan bolehnya hal ini adalah firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أَشْهَدُ أَنَّ السَّلَفَ الْمَضْمُونَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَحَلَّهُ وَأَذِنَ فِيهِ وَقَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى)

“Aku bersaksi bahwa Salaf (transaksi Salam) yang dijamin hingga waktu yang ditentukan, telah dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah telah mengizinkannya”. Setelah itu Ibnu ‘Abbas menyebutkan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282) [HR. Al Baihaqi 6/18, Al Hakim 2/286 dan Asy Syafi’i dalam Musnadnya no. 597. Al Hakim mengatakan bahwa hadis ini Shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya]

Ibnu’ Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan:

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ ، فَقَالَ « مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ »

“Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) memraktikan jual beli buah-buahan dengan sistem Salaf (Salam), yaitu membayar di muka, dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lantas Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang memraktikkan Salam dalam jual beli buah-buahan, hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari no. 2240 dan Muslim no. 1604)

Adapun dalil ijma’ (kesepakatan para ulama) sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir, beliau rahimahullah mengatakan:

أجمع كلّ من نحفظ عنه من أهل العلم على أنّ السّلم جائز.

“Setiap ulama yang kami mengetahui perkataannya telah bersepakat (berijma’) tentang bolehnya jual beli Salam.” [Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/122, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, Lebanon]

Sayyid Sabiq rahimahullah menjelaskan:

“Jual beli Salam dibolehkan berdasarkan kaidah syariat yang telah disepakati. Jual beli semacam ini tidaklah menyelisihi qiyas. Sebagaimana dibolehkan bagi kita untuk melakukan pembayaran tertunda, begitu pula dibolehkan barangnya yang diserahkan tertunda seperti yang ditemukan dalam akad Salam, dengan syarat tanpa ada perselisihan antara penjual dan pembeli. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS. Al Baqarah: 282).

Utang termasuk pembayaran tertunda, dari harta yang dijaminkan. Maka selama barang yang dijual disebutkan ciri-cirinya yang jelas dan dijaminkan oleh penjual, begitu pula pembeli sudah percaya, sehingga ia pun rela menyerahkan uang sepenuhnya kepada penjual, namun barangnya tertunda, maka ketika itu barang tersebut boleh diserahkan tertunda. Inilah yang dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 282, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.” [Fiqh Sunnah, 3/123]

Apakah Akad Salam Sama Dengan Jual Beli Barang yang Bukan Milikmu?

Mengenai larangan menjual barang yang tidak dimiliki, telah disebutkan dalam hadis Hakim bin Hizam. Ia berkata pada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ « لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ ».

“Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku, lantas ia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar?” Nabi ﷺ bersabda: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud no. 3503, An Nasai no. 4613, At Tirmidzi)

Perlu diketahui, bahwa maksud larangan hadis di atas adalah jual beli sesuatu yang sudah tertentu yang bukan miliknya, ketika akad itu berlangsung. Sebagaimana diterangkan dalam Syarhus Sunnah:

“Yang dimaksud dalam hadis di atas adalah jual beli barang yang sudah tertentu (namun belum dimiliki ketika akad berlangsung). Dan ini bukanlah dimaksudkan larangan jual beli dengan menyebutkan ciri-ciri barang (sebagaimana terdapat dalam akad Salam). Oleh karena itu, transaksi Salam itu dibolehkan dengan menyebutkan ciri-ciri barang yang akan dijual, asalkan terpenuhi syarat-syaratnya, walaupun belum dimiliki ketika akad berlangsung. Sedangkan contoh jual beli barang yang tidak dimiliki yang terlarang, seperti jual beli budak yang kabur, jual beli barang sebelum diserahterimakan, dan yang semakna dengannya, adalah jual beli barang orang lain tanpa seizinnya, karena pada saat ini tidak diketahui, bahwa yang memiliki barang tersebut mengizinkan ataukah tidak.” [‘Aunul Ma’bud, Al ‘Azhim Abadi, 9/291, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah-Beirut, 1415]

Sayyid Sabiq, rahimahullah, menjelaskan: “Jual beli Salam tidaklah masuk dalam larangan Rasulullah ﷺ mengenai jual beli yang bukan miliknya. Larangan tersebut terdapat dalam hadis Hakim bin Hizam: “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.”

Yang dimaksud larangan yang disebutkan dalam hadis ini adalah larangan menjual harta yang mampu diserahterimakan ketika akad. Karena barang yang mampu diserahterimakan ketika akad, dan ia tidak memilikinya saat itu, maka jika ia jual, berarti hakikatnya barang tersebut tidak ada. Sehingga jual beli semacam ini menjadi jual beli ghoror (ada unsur ketidakjelasan).

Sedangkan jual beli barang yang disebutkan ciri-cirinya dan sudah dijaminkan oleh penjual, serta penjual mampu menyerahkan barang yang sudah dipesan sesuai waktu yang ditentukan, maka jual beli semacam ini tidaklah masalah.” [Fiqh Sunnah, 3/123-124]

Contoh riil jual beli Salam adalah seperti kita lihat pada jual beli di internet, baik dengan brosur, katalog atau toko online. Jual beli semacam ini menganut jual beli sistem Salam. Penjual hanya memajang kriteria atau ciri-ciri barang yang akan dijual, sedangkan pembeli diharuskan untuk menyerahkan uang pembayaran lebih dahulu, dan barangnya akan dikirim setelah itu. Jual beli semacam ini tidaklah masalah selama syarat-syarat transaksi Salam dipenuhi.

Sedangkan jual beli barang yang tidak dimiliki ketika akad berlangsung, seperti ketika seseorang meminjam HP milik si A, lalu ia katakan pada si B (tanpa izin si A): “Saya jual HP ini untukmu”. Ini tidak dibolehkan karena si pemilik HP (si A) belum tentu mengizinkan HP tersebut dijual kepada yang lain (si B). Ini sama saja orang tersebut menjual HP yang bukan miliknya, karena tidak adanya izin dari si pemilik barang. Namun jika dengan izin si pemilik, beda lagi statusnya. Semoga contoh yang sederhana ini dapat memberikan kepahaman.

Jadi jual beli Salam dimaksudkan, yang dijual adalah ciri-ciri atau sifat barang, sedangkan larangan jual beli barang yang belum dimiliki yang dimaksud adalah, barang tersebut sudah ditentukan, namun belum jadi milik si penjual. Semoga Allah beri kepahaman.

Syarat Transaksi Salam

Setelah kita mengetahui bolehnya transaksi Salam, transaksi dibolehkan tentu saja dengan memenuhi syarat-syarat. Syarat yang dipenuhi adalah berkenaan dengan upah yang diserahkan pembeli dan berkaitan dengan akad Salam.

Syarat yang berkaitan dengan upah yang diserahkan pembeli adalah:

[1] Jelas jenisnya;
[2] Jelas jumlahnya,
[3] Diserahkan secara tunai ketika akad berlangsung (tidak boleh dengan pembayaran tertunda) [Syarat ketiga ini wajib dipenuhi, karena inilah syarat yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dikatakan oleh Asy Syaukani dan muridnya, Shidiq Hasan Khon. (Lihat Ar Roudhotun Nadiyah, 182, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1422)].

Syarat yang berkaitan dengan akad Salam adalah:

[1] Sudah dijamin oleh penjual;
[2] Barang yang dijual diketahui ciri-cirinya dan jumlahnya, sehingga bisa dibedakan dengan yang lain;
[3] Kapan barang tersebut sampai ke pembeli harus jelas waktunya. [Lihat Fiqh Sunnah, 3/124]

Demikian sedikit penjelasan kami mengenai akad Salam dan sedikit kerancuan mengenai jual beli barang yang tidak dimiliki. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/1069-bolehkah-jual-beli-dengan-sekedar-memajang-katalog-di-internet.html