,

SEPULUH ALASAN KENAPA LAKI-LAKI HARUS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

SEPULUH ALASAN KENAPA LAKI-LAKI HARUS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

SEPULUH ALASAN KENAPA LAKI-LAKI HARUS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Memang ada ikhtilaf ulama apakah Wajib Ain bagi laki-laki hukumnya shalat  berjamaah di masjid, atau hukumnya sunnah saja. Akan tetapi pendapat terkuat hukumnya WAJIB. Dengan beberapa alasan berikut:

  1. Allah yang langsung memerintahkan dalam Alquran agar shalat berjamaah. Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku.” [Al-Baqarah: 43]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك

“Makna firman Allah “rukulah beserta orang-orang yang ruku, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.” [Ash-Shalatu wa hukmu tarikiha hal. 139-141]

  1. Saat-saat perang berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka [sahabatmu] lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri [shalat] besertamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka [yang shalat bersamamu] sujud [telah menyempurnakan  satu rakaat], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu [untuk menghadapi musuh], dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.” [An-Nisa’ 102]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata:

ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب .

 “Pada perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut [perang] adalah dalil, bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.” [Al- Ausath 4/135]

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan:

وفي هذا دليل على أن الجماعة فرض على الأعيان إذ لم يسقطها سبحانه عن الطائفة الثانية بفعل الأولى، ولو كانت الجماعة سنة لكان أولى الأعذار بسقوطها عذر الخوف، ولو كانت فرض كفاية لسقطت بفعل الطائفة الأولى …وأنه لم يرخص لهم في تركها حال الخوف

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas, bahwa shalat berjamaah hukumnya Fardhu Ain, dan bukan hanya Sunnah atau Fardhu Kifayah.  Seandainya hukumnya sunnah, tentu keadaan takut dari musuh adalah uzur yang utama. Juga bukan Fardhu Kifayah, karena Allah menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua, dengan telah berjamaahnya rombongan pertama. Dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan [perang].“ [Kitab Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim]

  1. Orang buta yang tidak ada penuntun ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar azan. Maka bagaimana yang matanya sehat?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

“Seorang buta pernah menemui Nabi ﷺ dan berujar: “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah ﷺ untuk shalat di rumah. Maka beliau ﷺ pun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya: “Apakah engkau mendengar panggilan shalat [azan]?” Laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau ﷺ bersabda: “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” [HR. Muslim no. 653]

Dalam hadis yang lain yaitu, Ibnu Ummi Maktum [ia buta matanya]. Dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi ﷺ bersabda: “Apakah kamu mendengar seruan azan “Hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah?” Jika iya, penuhilah seruan azan tersebut”.” [HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

  1. Wajib shalat berjamaah di masjid jika mendengar azan

Sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barang siapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551]

  1. Rasulullah ﷺ memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat berjamaah di masjid dengan membakar rumah mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata:

وفي اهتمامه بأن يحرق على قوم تخلفوا عن الصلاة بيوتهم أبين البيان على وجوب فرض الجماعة

“Keinginan beliau [membakar rumah] orang yang tidak ikut shalat berjamaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid” [Al-Ausath 4/134]

  1. Tidak shalat berjamaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Menurut pendapat kami [para sahabat], tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang, hingga diberdirikan di shaff [barisan] shalat yang ada.” [HR. Muslim no. 654]

  1. Shalat berjamaah mendapat pahala lebih banyak

Dalam satu riwayat 27 kali lebih banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian, dengan 27 derajat.” [HR. Bukhari]

Diriwayat yang lain 25 kali lebih banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian, dengan 25 derajat.” [HR. Muslim]

Banyak kompromi hadis mengenai perbedaan jumlah bilangan ini. Salah satunya adalah “Mafhum Adad” yaitu penyebutan bilangan tidak membatasi.

  1. Keutamaan shalat berjamaah yang banyak

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

“Barang siapa shalat Isya dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat Isya dan Subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.” [Fathul Bari 2/154—157]

9. Tidak shalat berjamaah akan dikuasai oleh setan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian [shalat] berjamaah. Karena sesungguhnya serigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian [jauh dari kawan-kawannya].” [HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi]

  1. Amal yang pertama kali dihisab adalah shalat. Jika baik, maka seluruh amal baik, dan sebaliknya. Apakah kita pilih shalat yang sekedarnya saja, atau meraih pahala tinggi dengan shalat berjamaah?

Nabi  ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya, padahal Dia lebih mengetahui: “Periksalah shalat hamba-Ku. Sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman: “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman: “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” [HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571]

Khusus bagi yang mengaku Mazhab Syafi’i [mayoritas di Indonesia], maka Imam Syafi’i mewajibkan shalat berjamaah dan tidak memberi keringanan [rukshah]. Imam Asy Syafi’i  rahimahullah berkata:

وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر

“Adapun shalat jamaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya, kecuali bila ada uzur.” [Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107]

Berikut ini beberapa keutamaan shalat berjamaah di masjid:

  1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
  2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
  3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang [tidak tergesa-gesa].
  4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
  5. Shalat Tahiyyatul Masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
  6. Menunggu jamaah [yang lain].
  7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
  8. Persaksian malaikat untuknya.
  9. Memenuhi panggilan iqamat.
  10. Terjaga dari gangguan setan, karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
  11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
  12. Mendapati Takbiratul Ihram.
  13. Merapikan shaf dan menutup celah [bagi setan].
  14. Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
  15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
  16. Akan memeroleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
  17. Memosisikan keadaan yang bagus.
  18. Mendapatkan naungan malaikat.
  19. Melatih untuk memerbaiki bacaan Alquran.
  20. Menampakkan syiar Islam.
  21. Membuat marah [merendahkan] setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orang-orang yang malas.
  22. Terjaga dari sifat munafik.
  23. Menjawab salam imam.
  24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir, serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
  25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antar tetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
  26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat. [Syarh al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/62, Fathul Bari, 2/154—157, dinukil dari situs]

Masih banyak dalil lainnya mengenai wajib dan keutamaan shalat berjamaah di masjid.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslimafiyah.com/10-alasan-kenapa-laki-laki-harus-shalat-berjamaah-di-masjid.html

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *