, ,

STOP MERAYAKAN HARI VALENTINE

STOP MERAYAKAN HARI VALENTINE
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
STOP MERAYAKAN HARI VALENTINE
 
Ini dampak buruk bagi Muslim yang merayakannya:
 
1- Merayakan Valentine itu meniru orang kafir.
2- Merayakan dan menghadirinya bukan ciri orang beriman.
3- Merayakannya berarti mengagungkan tokoh Valentine yang merupakan seorang pendeta Nasrani. Padahal setiap orang akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.
4- Ucapan selamat Valentine bisa terjerumus dalam syirik dan maksiat.
5- Yang ada hanyalah membuktikan cinta dengan zina atau melakukan perantara menuju zina. Jadi sejatinya bukan cinta hakiki.
6- Menghadiahkan coklat sebagai pembuktian cinta. Padahal ini perayaan yang haram dirayakan oleh Muslim.
Stop deh merayakan Valentine …
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[RumayshoCom]

Baca artikel lengkapnya di RumayshoCom:

* Enam Kerusakan Hari Valentine
https://rumaysho.com/772-6-kerusakan-hari-valentine.html

* Valentine Benarkah Hari Kasih Sayang
https://rumaysho.com/10234-valentine-benarkah-hari-kasih-sayang.html

* Memadu Kasih pada Hari Valentine
https://rumaysho.com/843-memadu-kasih-di-hari-valentine.html

* Bolehkah Menerima Hadiah Coklat Valentine
https://rumaysho.com/6425-bolehkah-menerima-hadiah-coklat-valentine.html

* Hukum Menjual Coklat dan Kado Valentine
https://rumaysho.com/6529-hukum-menjual-coklat-dan-kado-valentine.html

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#saynotoValentine #ValentineNo #Pengantinyes #VengantenYes #zina #Valentinezamannow #ValentinesDaydalamIslam #hukum #hukummerayakanValentine #Palentine #perzinahanterselubung #atasnamakasihsayang #harikasihsayang #solusiorangjatuhcintanikah #nikah #menikah #pernikahan #jatuhcinta #kawin #perkawinan #stopmerayakanValentine #dampakburukmerayakanValentine #akibatburukmerayakanValentine

,

VALENTINE NO VENGANTEN YES

VALENTINE NO VENGANTEN YES
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
VALENTINE NO VENGANTEN YES
 
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat. Kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama. Maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktik zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
 
Dalam semangat hari Valentine itu ada semacam kepercayaan, bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.
 
Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah taala berfirman:
 
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
 
“Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [QS. Al Isro’ (17): 32]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#saynotoValentine #ValentineNo #Pengantinyes #VengantenYes #zina #Valentinezamannow #ValentinesDaydalamIslam #hukum #hukummerayakanValentine #Palentine #perzinahanterselubung #atasnamakasihsayang #harikasihsayang #solusiorangjatuhcintanikah #nikah #menikah #pernikahan #jatuhcinta #kawin #perkawinan
, ,

NGEGOMBAL SEBELUM NIKAH DAPAT DOSA, SESUDAH NIKAH DAPAT PAHALA

NGEGOMBAL SEBELUM NIKAH DAPAT DOSA, SESUDAH NIKAH DAPAT PAHALA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
NGEGOMBAL SEBELUM NIKAH DAPAT DOSA, SESUDAH NIKAH DAPAT PAHALA
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
 
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya. Karena sesungguhnya setan adalah orang ketiga di antara mereka berdua, kecuali apabila bersama mahramnya. [HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadis ini Shohih Ligoirihi]
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#ngerayu #ngegombal #gombal #rayuan #berduaan #kholwat #khalwat #lakilaki #wanita #perempuan #muslimah #yangketigaadalahsetan #orangketiga #mahram #mahrom #pacaran #zinah #perzinahan

, ,

SYARAT YANG HARUS DIPENUHI LAKI-LAKI YANG MENZINAI SEORANG WANITA SAMPAI HAMIL DAN HENDAK MENIKAHINYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SYARAT YANG HARUS DIPENUHI LAKI-LAKI YANG MENZINAI SEORANG WANITA SAMPAI HAMIL DAN HENDAK MENIKAHINYA
 
Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan baik dengan laki-laki yang menghamilinya ataupun dengan laki-laki lain, kecuali bila memenuhi dua syarat: [Minhajul Muslim]
 
Pertama:
Dia dan si laki-lakinya tobat dari perbuatan zinanya. [Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/584, Fatawa Islamiyyah 3/247, Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’ah Al Muslimah 2/5584]
 
Ini dikarenakan Allah ﷻ telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina. Dia ﷻ berfirman:
 
اَلزَّانِيْ لاَ يَنْكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلى الْمُؤْمِنِيْنَ
 
Laki-laki yang berzina tidak mengawini, kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang Mukmin. [QS. An Nur: 3]
 
Syeikh Al-Utsaimin rahimahulah berkata:
“Kita dapat mengambil satu hukum dari ayat ini. Yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina, dan haramnya menikahi laki-laki yang berzina. Artinya, seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh (bagi seseorang) menikahkannya kepada putrinya.” [Fatawa Islamiyyah 3/246]
 
• Apabila seseorang telah mengetahui, bahwa pernikahan ini haram dilakukan, namun tetap memaksakannya dan melanggarnya, maka pernikahannya itu TIDAK SAH.
• Dan bila melakukan hubungan, maka hubungan itu adalah PERZINAHAN. [Fatawa Islamiyyah 3/246].
• Dan bila terjadi kehamilan maka anak itu tidak dinasabkan kepada laki-laki itu (dalam kata lain, si anak tidak memiliki bapak). [Fatawa Islamiyyah 33/245]
 
Ini tentunya bila mereka mengetahui, bahwa hal itu tidak boleh. Apabila seseorang menghalalkan pernikahan semacam ini, padahal mengetahui telah diharamkan Allah ﷻ, maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. Karena menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, telah menjadikan dirinya sebagai sekutu bersama Allah ﷻ dalam membuat syariat. Allah ﷻ berfirman:
 
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْا لَهُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ
 
Apakah mereka mempunyai Sembahan-Sembahan (Sekutu) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? [QS Asy-Syuuraa: 21]
 
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menyatakan orang-orang yang membuat syariat bagi hamba-hambanya sebagai sekutu. Berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum bertobat adalah orang musyrik. [Syaikh Al-Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246]. Namun bila sudah bertobat, maka halal menikahinya, bila syarat yang kedua terpenuhi. [Syaikh Al-Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/247]
 
Kedua:
Harus beristibra’ (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haid bila si wanita tidak hamil. Dan bila hamil, maka sampai melahirkan kandungannya. [Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/583, Majmu Al Fatawa 32/110]
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَسْتَبْرِأَ بِحَيْضَةٍ
 
Tidak boleh digauli yang sedang hamil sampai ia melahirkan, dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil sampai dia beristibra’ dengan satu kali haid. [Lihat Mukhtashar Ma’alimis Sunan 3/74, Kitab Nikah, Bab Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak), Al-Mundziriy berkata: “Di dalam isnadnya ada Syuraik Al-Qadliy, dan Al-Arnauth menukil dari Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish, bahwa isnadnya Hasan, dan dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai syarat Muslim. Dan hadis ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalan-jalannya menjadi kuat dan Shahih.”( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851]
 
Dalam hadis di atas Rasulullah ﷺ melarang menggauli budak (hasil pembagian) tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan. Dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haid, padahal budak itu sudah menjadi miliknya.
 
Juga sabdanya ﷺ:
 
لاَ يَحِلُّ ِلامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ يَسْقِيْ مَاءَه ُزَرْعَ غَيْرِهِ
 
Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dia menuangkan air (maninya) pada persemaian orang lain. [Abu Dawud, lihat ,Artinya:’alimus Sunan 3/75-76]
 
Mungkin sebagian orang mengatakan, anak yang dirahim itu terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya dan hendak menikahinya. Maka jawabnya ialah sebagaimana dikatakan Al-Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh rahimahullah:
“TIDAK BOLEH menikahinya hingga dia bertobat dan selesai dari ‘iddahnya dengan melahirkan kandungannya. Karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk, dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.” [Fatawa Wa Rasail Asy-Syeikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128]
 
Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan:
“Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah bertobat) ingin menikahinya, maka wajib baginya MENUNGGU wanita itu beristibra’ dengan satu kali haid sebelum melangsungkan akad nikah. Bila ternyata si wanita dalam keadaan hamil, maka TIDAK BOLEH MELANGSUNGKAN AKAD NIKAH dengannya kecuali SETELAH MELAHIRKAN kandungannya. Sebagai pengamalan hadits Nabi ﷺ yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.” [Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah 9/72]
 
Bila seseorang tetap menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu dengan satu kali haid. Atau sedang hamil tanpa menunggu melahirkan terlebih dahulu, sedangkan dirinya mengetahui, bahwa pernikahan seperti itu tidak diperbolehkha, dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui, bahwa hal itu diharamkan, sehingga pernikahannya tidak diperbolehkan, maka pernikahannya itu TIDAK SAH. Apabila keduanya melakukan hubungan badan, maka itu termasuk zina, dan harus bertobat, kemudian pernikahannya harus DIULANGI bila telah selesai istibra’ dengan satu kali haid, terhitung dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tekdung #hamilsebelummenikah #zinah #perzinahan #berzinah #zinahhukum, #hukummenikahiwanitasedanghamil #wanita #perempuan #muslimah #hamilduluan #melahirkankandungan, #bertobatdulu# istibra #istibro #mengosongkankandungan, #melahirkandulu #harammenikahiwanitayangberzina #syarat, #duasyarat, #2syarat #menikahiwanitahamil #bunting
, ,

PERWALIAN NIKAH UNTUK ANAK PEREMPUAN HASIL ZINA

PERWALIAN NIKAH UNTUK ANAK PEREMPUAN HASIL ZINA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
PERWALIAN NIKAH UNTUK ANAK PEREMPUAN HASIL ZINA
>> Siapakah Wali Nikah dari Anak Hasil Zina?
 
Pertanyaan:
Saya seorang akhwat, ingin menanyakan tentang masalah hak waris dan perwalian saat nikah.
Seorang anak perempuan lahir dari hasil perzinaan. Namun orang tua dari anak ini akhirnya menikah ketika usia kandungan anak 3 bulan. Yang saya tanyakan, kelak ketika sang anak beranjak dewasa apakah dia berhak atas waris dari ayahnya dan apakah sang ayah berhak menjadi wali nikah apabila sang anak perempuan ini menikah? Dalil-dalil apa saja yang menjelaskan tentang kedua hal tersebut? Jazakumullah khoiron katsiron
 
Jawaban:
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ
 
“Anak itu dinasabkan kepada suami yang sah, sedangkan laki-laki yang berzina itu tidak dapat apa-apa” (HR Bukhari no 6760 dan Muslim no 1457 dari Aisyah).
 
Berdasarkan hadis tersebut, maka anak dinasabkan kepada suami yang sah. Jika tidak ada suami yang sah, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya. Oleh karena itu, anak yang lahir dari hasil perzinaan TIDAK DINASABKAN kepada bapak biologisnya namun kepada ibunya.
 
Hal ini disebabkan Nabi ﷺ mengatakan, bahwa laki-laki yang berzina tidak memiliki hak apa-apa pun terhadap hak nasab, perwalian dalam nikah, mewarisi, kemahraman ataupun kewajiban memberikan nafkah kepada anak. Semuanya TIDAKLAH dimiliki oleh laki-laki yang berzina (baca: bapak biologis). Akan tetapi bapak biologis ini TIDAK diperbolehkan menikahi anak hasil zinanya, menurut pendapat mayoritas ulama dan inilah pendapat yang benar.
 
Berdasarkan penjelasan di atas maka, bapak biologis tersebut TIDAK berhak menikahi anak perempuan hasil zinanya. Bahkan anak perempuan tersebut tidaklah memiliki wali untuk pernikahannya, sehingga berlakulah sabda Nabi ﷺ:
 
فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ
 
“Penguasa adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah” [HR Abu Daud no 2083 dan dinilai shahih oleh al Albani]
 
Untuk negeri kita yang dimaksud dengan penguasa dalam hal ini adalah petugas Kantor Urusan Agama.
 
Demikian pula bapak biologis TIDAK memiliki hak waris jika anak hasil zinanya meninggal dunia terlebih dahulu dan meninggalkan warisan. Demikian pula sebaliknya, anak zina tidak berhak mendapatkan harta warisan peninggalan bapak biologisnya.
 
[Konsultasi dari Majalah Swara Qur’an]
 
Sumber:
http://ustadzaris.com/perwalian-untuk-anak-perempuan-hasil-zina
https://konsultasisyariah.com/1093-siapakah-wali-nikah-dari-anak-hasil-zina.html
#perwalian, #walinikah, #anakzina, #anakhasilzina, #bapakbiologis, #bukanbapakbiologis, #KUA, #penguasa, #kantorurusanagama #tidakmewarisi, #tidakdiwarisi #nasabkeibunya, #bukannasabbapaknya
, ,

TAKHBIB – MEREBUT ISTRI ORANG – APAKAH NIKAHNYA BATAL?

TAKHBIB - MEREBUT ISTRI ORANG - APAKAH NIKAHNYA BATAL?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAKHBIB – MEREBUT ISTRI ORANG – APAKAH NIKAHNYA BATAL?
>> Ketika Mencintai Wanita Bersuami
>> Perbuatan Dosa Besar yang Jarang Diketahui
 
Bagi kaum lelaki, hati-hatilah bila bergaul dengan seorang wanita. Apalagi bila wanita tersebut sudah bersuami, dan kebetulan sedang ada masalah dengan keluarganya. Mengapa? Berikut penjelasan tentang Takhbib, perbuatan dosa besar yang jarang diketahui.
 
Dalam Syarah Sunan Abu Daud, Adzim Abadi (w. 1329 H) menjelaskan Takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak, dengan menyebut-nyebut kejelekan suami di hadapan istrinya, atau kebaikan lelaki lain di depan wanita itu. [Aunul Ma’bud, 6/159]
 
Di bagian lain beliau juga menyebutkan:
 
مَنْ خَبَّب زوجة امرئ أي خدعها وأفسدها أو حسن إليها الطلاق ليتزوجها أو يزوجها لغيره أو غير ذلك
 
‘Siapa yang melakukan Takhbib terhadap istri seseorang’ maknanya adalah siapa yang menipu wanita itu, merusak keluarganya, atau memotivasinya agar bercerai dengan suaminya, agar dia bisa menikah dengannya, atau menikah dengan lelaki lain, atau cara yang lainnya. [Aunul Ma’bud, 14/52]
 
Ad-Dzahabi mendefinisikan Takhbib:
 
إفساد قلب المرأة على زوجها
 
”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” [Al-Kabair, hal. 209]
 
Dalam Fatwa Islam dijelaskan, usaha memisahkan wanita dari suaminya tidak hanya dalam bentuk memotivasi si wanita untuk menuntut cerai dari suaminya, tapi memberikan perhatian, empati, menjadi teman curhat juga termasuk Takhbib.
 
وإفساد الزوجة على زوجها ليس فقط بأن تطلب منها الطلاق ، بل إن محاولة ملامسة العواطف والمشاعر ، والتسبب في تعليقها بك أعظم إفساد ، وأشنع مسعى يمكن أن يسعى به بين الناس .
 
”Merusak hubungan istri dengan suaminya tidak hanya dalam bentuk memotivasi dia untuk menggugat cerai. Bahkan semata upaya memberikan empati, belas kasihan, berbagi rasa, dan segala sebab yang membuat si wanita menjadi jatuh cinta kepadamu, merupakan bentuk merusak (keluarga) yang serius, dan usaha paling licik yang mungkin bisa dilakukan seseorang.” [Fatwa Islam, no. 84849]
 
Memahami hal ini, berhati-hatilah dalam bergaul dengan lawan jenis siapapun dia. Bisa jadi pada awalnya seseorang memiliki niat baik, niat saling menolong, niat merasa kasihan, perlu ada teman untuk berbagi rasa. Sepertinya tidak ada masalah kalau hanya jadi teman curhat. Yang penting tidak ada perasaan apa-apa. Kita kan niatnya baik, saling mengingatkan dan menasihati. Saya merasa dekat dengan Allah semenjak kenal dia. Kita saling mengingatkan untuk tahajud, untuk puasa sunah, saya menjadi rajin ibadah karena nasihatnya. Hatiku merasa nyaman dan tentram bersamanya. Semoga dia menjadi pasanganku di Surga…, dan seabreg khayalan kasmaran lainnya.
 
Ibnul Jauzi menukil nasihat dari Al-Hasan bin Sholeh yang mengatakan:
 
إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة وتسعين بابا من الخير يريد به بابا من الشر
 
“Sesungguhnya setan membuka 99 pintu kebaikan untuk menjerumuskan orang ke dalam satu pintu keburukan.” [Talbis Iblis, hlm. 51]
 
Dosa Takhbib
 
Mungkin Takhbib merupakan perbuatan dosa besar yang jarang diketahui oleh kaum Muslimin. Menjadi penyebab percerian dan kerusakan rumah tangga orang lain, karena kehadirannya membuat seorang wanita membenci suaminya dan meminta untuk berpisah dari suaminya.
 
Rasulullah ﷺ dalam banyak hadis memberikan ancaman keras untuk pelanggaran semacam ini, di antaranya:
 
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا
 
”Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan Takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” [HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani]
 
2. Masih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا
 
”Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, maka dia bukan bagian dariku.” [HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam penjelasannya tentang bahaya cinta buta, Ibnul Qoyim menjelaskan tentang dosa Takhbib:
 
وقد لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم من فعل ذلك ، وتبرأ منه ، وهو من أكبر الكبائر ، وإذا كان النبي صلى الله عليه وسلم قد نهى أن يخطب الرجل على خطبة أخيه وأن يستام على سومه: فكيف بمن يسعى بالتفريق بينه وبين امرأته وأمته حتى يتصل بهما
 
Rasulullah ﷺ telah melaknat orang yang melakukan Takhbib dan beliau berlepas diri dari pelakunya. Takhbib termasuk salah satu DOSA BESAR. Karena ketika Nabi ﷺ melarang seseorang untuk meminang wanita yang telah dilamar oleh lelaki lain, dan melarang seseorang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, maka bagaimana lagi dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang suami dengan istrinya atau budaknya, sehingga dia bisa menjalin hubungan dengannya. [Al-Jawab al-Kafi, hlm. 154]
 
Bahkan karena besarnya dosa Takhbib, Syaikhul Islam melarang menjadi makmum di belakang imam yang melakukan Takhbib, sehingga bisa menikahi wanita tersebut. [Majmu’ Fatawa, 23/363]
 
Hukum Pernikahan Hasil Takhbib
 
Kita fokus di hukum pernikahan hasil merusak rumah tangga orang lain. Terdapat kaidah fikih yang menyatakan:
 
من تعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه
 
Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, dia dihukum dengan cara dilarang untuk mendapatkannya.
 
Terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya termasuk pelanggaran dalam agama. Misalnya, seorang baru bisa mendapatkan warisan dari orang tuanya jika orang tuanya telah meninggal. Tapi jika dia buru-buru ingin mendapatkannya dengan cara membunuh orang tuanya, maka tindakannya menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan warisan dari orang tuanya.
 
Dengan demikian, semua pernikahan yang diawali dengan cara yang batil, hasilnya juga kebatilan. Atas dasar ini sebagian ulama memutuskan, bahwa ketika terjadi perpisahan dalam keluarga yang disebabkan istri minta cerai karena kehadiran lelaki lain, maka mereka dipisahkan selamanya. Diberi hukuman dengan keputusan yang berkebalikan dengan harapan dan keinginannya.
 
Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan:
 
وقد صرّح الفقهاء بالتّضييق عليه وزجره ، حتّى قال المالكيّة بتأبيد تحريم المرأة المخبّبة على من أفسدها على زوجها معاملةً له بنقيض قصده، ولئلاّ يتّخذ النّاس ذلك ذريعةً إلى إفساد الزّوجات
 
Sebagian ulama menegaskan dengan memberikan putusan paling susah untuknya dan melarangnya. Sampai Malikiyah mengatakan, bahwa wanita yang berpisah ini diharamkan untuk menikah dengan lelaki yang menjadi penyebab kerusakan rumah tangganya, diharamkan untuk selamanya, sebagai hukuman baginya, dengan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Agar hal semacam ini tidak menjadi celah bagi masyarakat untuk merusak hubungan para wanita (dengan suaminya). [Al-Mausu’ah al-Fikihiyah, 5/251]
 
Dalam pernyataan lain, juga di Ensiklopedi Fikih:
 
قد ذكروا أن النكاح يفسخ قبل الدخول وبعده بلا خلاف عندهم، وإنما الخلاف عندهم في تأبيد تحريمها على ذلك المفسد أو عدم تأبيده
 
Mereka, Ulama Malikiyah, menyebutkan, bahwa nikahnya dibatalkan, baik sebelum berhubungan badan maupun sesudah berhubungan, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan mereka. Namun yang menjadi perbedaan adalah, apakah lelaki pelaku Takhbib itu diharamkan untuk menikahi wanita selamanya, ataukah tidak sampai selamanya.
 
فذكروا فيه قولين:
 
أحدهما وهو المشهور: أنه لا يتأبد، فإذا عادت لزوجها الأول وطلقها، أو مات عنها جاز لذلك المفسد نكاحها.
 
الثاني: أن التحريم يتأبد، وقد ذكر هذا القول يوسف بن عمر كما جاء في شرح الزرقاني، وأفتى به غير واحد من المتأخرين في فاس
 
Mereka menyebutkan adanya dua pendapat:
 
Pertama, dan ini yang lebih terkenal, bahwa mereka dipisahkan tapi tidak selamanya. Jika si wanita kembali kepada suami pertama, kemudian diceraikan oleh suami pertama, atau suami pertama meninggal, maka si lelaki kedua ini boleh menikahi wanita itu.
 
Kedua, mereka diharamkan menikah selamanya. Di antara yang menyatakan pendapat ini adalah Yusuf bin Umar, seperti yang disebutkan dalam Syarh az-Zarqani, dan ini yang difatwakan beberapa ulama kontempporer di daerah Fez – Maroko. [Al-Mausu’ah al-Fikihiyah, 11/20]
 
Dalam kitab Al-Iqna’ dinyatakan:
 
وقال في رجل خبب امرأة على زوجها: يعاقب عقوبة بليغة ، ونكاحه باطل في أحد قولي العلماء في مذهب مالك وأحمد وغيرهما ، ويجب التفريق بينهما
 
Syaikhul Islam mengatakan tentang orang yang mempengaruhi wanita sehingga bercerai dengan suaminya, lelaki ini harus mendapatkan hukuman berat. Nikahnya batal, menurut salah satu pendapat ulama dalam Madzhab Malik dan Ahmad serta yang lainnya. Dan wajib dipisahkan keduanya. [Al-Iqna’, 3/182]
 
Memang lelaki ini menikah dengan si wanita atas dasar saling rida. Tapi perlu diingat, dia membangun keluarga dengan cara bermaksiat kepada Allah, dan menghancurkan keluarga orang lain.
 
Oleh karena itu waspada bagi para lelaki, jangan sampai menerima curhat wanita tentang keluarganya. Bisa jadi ini langkah pembuka Iblis untuk semakin menjerumuskan Anda. Terkecuali jika Anda seorang ulama ataupun tokoh agama yang berhak memberikan fatwa dengan ilmunya, yang bisa menjelaskan halal-haram satu masalah.
 
Semoga Allah menyelamatkan kita dari bahaya besar lingkungan yang kurang memperhatikan adab pergaulan.
 
Allahu a’lam
 
 
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#takhbib, #tahbib, #rebutistriorang, #merebutistrioranglain, #hukum, #curhat, #mengganggurumahtanggaoranglain #mencintaiwanitabersuami #permasalahanrumahtangga #masalahrumahtangga #rumahtanggaIslam #istri, #isteri, #suami, #pasangansuamiistri #merebutistriorang, #rebutistriorang
,

EMPAT TAHAP UNTUK GO NIKAH

EMPAT TAHAP UNTUK GO NIKAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
EMPAT TAHAP UNTUK GO NIKAH
1. Ilmu tentang pernikahan dan untuk mengarungi rumah tangga (termasuk parenting)
2. Ta’aruf Syari
    Misalnya dengan tukar biodata, lewat perantara ikhwan/akhwat yang sudah berkeluarga, atau melalui walinya.
3. Khitbah (Lamaran)
4. Akad Nikah, dilanjutkan Walimah
 
Siap diamalkan???
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#empattahap, #4tahap, #GoNikah, #nikah, #pernikahan, #persiapan, #kawin, #perkawinan, #taaruf, #khitbah, #lamaran, #walimahan, #ilmusyari, #TaarufSyari, #nopacaran, #pacaran
, ,

HUKUM ISTRI MENIKAH LAGI TANPA SEIZIN SUAMI

HUKUM ISTRI MENIKAH LAGI TANPA SEIZIN SUAMI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#MuslimahSholihah, #SyiahBukanIslam
 
HUKUM ISTRI MENIKAH LAGI TANPA SEIZIN SUAMI
 
Pertanyaan:
Apa hukumnya istri menikah tanpa seizin suami?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
 
Meskipun bukan hal yang baru, namun kasus semacam ini merupakan bukti, betapa sadisnya perbuatan maksiat yang tersebar di akhir zaman. Bagaimana seorang wanita yang telah bersuami, menikah lagi dengan lelaki lain TANPA melalui proses perceraian. Manusia yang memiliki tabiat baik akan merasa ‘merinding’ dengan perbuatan semacam ini.
 
Secara hukum, pernikahan semacam ini STATUSNYA BATAL, meskipun ketika menikah semua rukun dan syaratnya lengkap.
 
Aisyah menceritakan bentuk-bentuk PERNIKAHAN TERLARANG yang terjadi di masa jahiliyah, di antaranya:
 
كَانَ الرَّجُلُ يَقُولُ لِامْرَأَتِهِ إِذَا طَهُرَتْ مِنْ طَمْثِهَا: أَرْسِلِي إِلَى فُلاَنٍ فَاسْتَبْضِعِي مِنْهُ، وَيَعْتَزِلُهَا زَوْجُهَا وَلاَ يَمَسُّهَا أَبَدًا، حَتَّى يَتَبَيَّنَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسْتَبْضِعُ مِنْهُ، فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمْلُهَا أَصَابَهَا زَوْجُهَا إِذَا أَحَبَّ، وَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ رَغْبَةً فِي نَجَابَةِ الوَلَدِ، فَكَانَ هَذَا النِّكَاحُ نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ
 
Bentuk pernikahan berikutnya, seorang lelaki mencampuri istrinya. Kemudian setelah suci haid, dia perintahkan istrinya: “Pergilah kepada si A, dan mintalah hubungan badan dengannya.” Setelah selesai, sang istri tidak akan dicampuri suaminya selamanya, sampai sang istri benar-benar hamil dari si A. Setelah benar-benar hamil, suaminya mulai mencampurinya, jika dia mau. Dia lakukan hal ini karena mengharapkan bisa mendapatkan anak yang cerdas. Nikah semacam ini disebut Nikah Istibdha’ (Minta hubungan badan). [HR. Bukhari 5127]
 
Pernikahan semacam ini dilegalkan di zaman jahiliyah. Bahkan dengan persetujuan sang suami.
 
Menikahi Istri Orang Menurut Syiah
 
Salah satu di antara slogan terbesar Syiah adalah Nikah Mutah. Untuk mensukseskan program Mutah ini, mereka menggalang berbagai riwayat dusta yang di-atas-namakan Imam Abu Ja’far (salah satu imam Ahlul Bait) dan imam Ahlul Bait lainnya. Di antara keutamaan Mutah menurut Syiah:
 
وعن أبي عبد الله قال : ما من رجل تمتع ثم اغتسل إلا خلق الله من كل قطرة تقطر منه سبعين ملكا يستغفرون له إلى يوم القيامة!! ويلعنون متجنبها إلى أن تقوم الساعة !! (الوسائل جزء 21 ص 16)
 
Dari Abu Abdillah:
“Jika ada seorang laki-laki yang melakukan Mutah kemudian dia mandi junub, maka Allah akan menciptakan dari setiap tetesan air mandinya sebanyak 70 malaikat, mereka memohonkan ampunan sampai Hari Kiamat. Dan para malaikat itu melaknat orang yang tidak mau menjalankan Mutah sampai Kiamat.” [al-Wasail, volume 21, Hal. 16]
 
Kemudian disebutkan al-Kasyani (tokoh Syiah yang bergelar ‘Fathullaah’), sebuah riwayat yang diklaim sebagai sabda Nabi ﷺ:
 
من تمتع مرة كان درجته كدرجة الحسين عليه السلام، ومن تمتع مرتين فدرجته كدرجة الحسن عليه السلام، ومن تمتع ثلاث مرات كان درجته كدرجة علي ابن أبي طالب عليه السلام، ومن تمتع أربع مرات فدرجته كدرجتي
 
“Siapa yang Nikah Mutah sekali, derajatnya sama dengan Husain ‘alaihis salam. Siapa yang Nikah Mutah dua kali, derajatnya sama dengan Hasan ‘alaihis salam. Siapa yang Nikah Mutah tiga kali, maka derajatnya sama dengan Ali bin Abi Thalib ‘alaihis salam. Dan siapa yang Nikah Mutah empat kali, maka derajatnya sama dengan derajatku (nabi).” [Tafsir Manhaj ash-Shadiqin, 356].
 
Dan masih banyak riwayat lain yang menyebutkan keutamaan Nikah Mutah, yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Karena motivasi inilah, sampai ada sebagian tokoh Syiah yang membolehkan untuk melakukan Nikah Mutah dengan istri orang.
 
Kita bisa perhatikan video berikut: https://youtu.be/mtOBV9AJP48
 
Dalam sebuah acara televisi, Syaikh Adnan al-Ur’ur mendapatkan pertanyaan dari seorang pemirsa di Irak. Penanya menceritakan, bahwa dia pernah mencintai seorang wanita dan ingin menikahinya. Namun ternyata sang wanita sudah bersuami. Dia pun berkonsultasi dengan salah satu tokoh yang menjadi rujukan Syiah di Irak. Dia menceritakan tentang wanita itu. Setelah mempertimbangkan, tokoh Syiah ini menyarankan: “Jika demikian, yang harus kamu lakukan adalah Mutah.” Sang penanya kebingungan: “Wahai syaikh, dia wanita yang sudah menikah. Bagaimana mungkin aku Nikah Mutah dengannya.” Tokoh Syiah selanjutnya memotivasi:
 
“Lakukahlah Nikah Mutah dengannya kemudian mandilah, karena di setiap tetesan air, akan Allah ciptakan 70 malaikat yang memohonkan ampunan untukmu.”
 
Allahu akbar…
 
Demikianlah, bagaimana pengaruh besar akidah yang SESAT terhadap perilaku seseorang. Jika orang yang nuraninya sehat sudah merasa ‘jijik’ dengan Nikah Mutah, apalagi Mutah dengan istri orang lain.
 
Ya Rabb, lindungilah kaum Muslimin dari kesesatan agama Syiah.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/16798-istri-menikah-lagi-tanpa-seizin-suami.htmlApa itu Syariah?
,

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

Oleh: Ustadz Mas’ud Abu Abdillah

(Narasumber Acara Konsultasi Rumah Tangga di Wesal TV)

Belum lama ini kita disuguhi berita heboh tentang tuntutan cerai dari istri seorang ustadz yang cukup sering tampil di layar kaca. Ia digugat cerai oleh sang istri yang sudah belasan tahun dinikahinya. Alasannya Karena ia berpoligami secara diam-diam. Usia pernikahannya dengan istri kedua sudah berjalan sekian tahun, bahkan sudah memiliki keturunan.

Serba salah, karena beliau dikenal sebagai tokoh agama, yang mana kekisruhan rumah tangga menjadi sesuatu yang kurang elok, bahkan bisa berimbas pada nilai yang didakwahkannya selama ini.

Menjalankan kehidupan berumah tangga dengan melakukan poligami yang tanpa izin istri pertama pun sebenarnya sah saja. Tapi bagaimanapun ada hal-hal yang perlu dijadikan renungan bagi pelaku, atau mereka yang hendak berpoligami, agar sunnah ini tidak mencoreng wajah syariat Islam, hanya karena kegagalan dirinya dalam menjalankannya.

1- Poligami itu memang dibolehkan. Tetapi pria yang hendak berpoligami hendaknya mengukur dirinya, kemampuan membimbing, kemampuan menafkahi dan kemampuannya untuk adil. Jika masih satu saja istri dan anak-anak agamanya atau kehidupannya berantakan, maka poligami dalam keadaan ini berpotensi menambah masalah.

2- Izin istri pertama memang bukan syarat sah poligami. Tetapi menikah lagi dengan diam-diam, atau tanpa memberitahukan di awal kepada istri pertama, tentu akan sangat menyakitkan. Apapun yang terjadi, dengan memberitahukan terlebih dahulu, akan jauh lebih selamat untuk jangka panjang. Jika istri pertama menerima alhamdulillah, jika sebaliknya reaksinya diluar dugaan, maka pertanda perlunya dikondisikan terlebih dahulu dengan menunda atau membatalkannya. Poligami diam-diam hampir pasti berdampak pada kebohongan dan ketidakadilan, yang keduanya diharamkan.

3- Syariat poligami dibuat untuk kemaslahatan, bukan untuk menghancurkan. Maka jangan hanya melihat maslahat sendiri, tetapi juga perhatikan kondisi istri dan anak-anak. Pastikan mereka tetap baik-baik saja. Poligami ibarat membangun bangunan yang baik, di samping bangunan yang kokoh dan berkualitas. Bukan malah meruntuhkan dan mengacak-acak bangunan sebelumnya.

4- Sadarilah, bahwa sebelum anak dan istri, maka sesungguhnya suamilah yang pertama merasakan konsekuensi dunia-Akhirat dari poligami. Waktu untuk beribadah mungkin tidak sebanyak jika hanya satu istri (apalagi jika rumah para istri berjauhan, waktu banyak habis di jalan). Perhatian ke anak-anak pun akan berkurang karena terbagi. Tanggungjawab menafkahi semakin bertambah. Tuntutan untuk membina dan mendidik istri semakin bertambah. Pertangungjawaban dan hisab di hadapan Allah semakin banyak, sebanyak anggota keluarga yang ada, dan sebagainya. Dengan begitu, ia akan memiliki kesadaran penuh dan pemahaman yang utuh, untuk melakukan poligami itu atau mengurungkannya, bukan berdasarkan emosi ataupun provokasi.

5- Milikilah motivasi, alasan, dan prinsip yang baik, tulus, sekaligus kokoh, yang lahir dari analisis kemampuan dan kelayakan yang komprehensif. Hindari alibi dan alasan yang dibuat-buat, karena selain menyakitkan, juga jadi lucu. Misalnya alasan menyelamatkan akhwat yang ditinggal mati suaminya. Maka solusinya bisa dengan menikahkannya dengan ikhwan yang masih single dsb.

6- Istrimu adalah anak perempuan dari kedua orang tuanya. Bayangkanlah jika engkau juga memiliki anak perempuan yang sangat kau sayangi. Maka perlakukanlah istrimu sebagaimana engkau ingin anak perempuanmu diperlakukan. Karena engkau pasti sedih dan marah jika putri kesayangnmu yang kau jaga selama dua puluh tahun lebih, kau didik dan kau sayangi sejak kecil, lalu dizalimi dan disakiti perasaanya. Maka begitu pulalah perasaan kedua orang tuanya terhadap putrinya atas sikapmu. Dan jika engkau tetap memutuskan berpoligami, maka ingatlah perasaan para orang tua istri-istrimu, agar kau tahu bagaimana pentingnya bersikap adil, menjaga perasaan, serta menghargai istri-istrimu.

7- Sadarilah, bahwa saat seorang berpoligami, maka secara tidak langsung ia menjadi “Duta” bagi syariat poligami yang dijalaninya. Karena mata msyarakat akan tertuju padanya. Jika gagal berantakan, maka bukan nama kita saja yang rusak, tapi justru syariat poligami yang tertuduh dan menjadi buruk, bahkan diolok-olok musuh Islam. Maka berjalanlah jika merasa bisa menjadi duta yang baik, dan jangan sembrono dan asal-asalan.

Demikian di antara renungan, yang dengannya, minimal seseorang memiliki pandangan yang utuh sebelum berpoligami. Sehingga jika jalan, maka ia berjalan dengan prinsip dan kesadaran serta kemampuan, sehingga tidak merusak citra Islam. Atau jika ia merasa banyak hal yang masih perlu dibenahi, maka dengan sadar pula ia menunda, atau bahkan membatalkannya.

Wallahu a’alam.

,

CARA SYARI WANITA MELAMAR PRIA

CARA SYARI WANITA MELAMAR PRIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MuslimahSholihah

CARA SYARI WANITA MELAMAR PRIA

Pertanyaan:

Bolehkah wanita melamar pria? Bagaimana caranya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak membatasi, yang boleh mengajukan lamaran hanya yang lelaki. Sehingga wanita juga boleh mengajukan diri untuk melamar seorang pria, jika itu dilakukan dalam rangka kebaikan. Misalnya karena ingin mendapatkan suami yang saleh, atau suami yang bisa mengajarkan agama, maka hal ini bukanlah termasuk tindakan tercela. Artinya, bukan semata karena latar belakang dunia. Dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas bin Malik pernah bercerita:

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِى حَاجَةٌ

Ada seorang wanita menghadap Rasulullah ﷺ, menawarkan dirinya untuk Nabi ﷺ. Dia mengatakan: “Ya Rasulullah, apakah Anda ingin menikahiku?”

Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar:

مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَاسَوْأَتَاهْ وَاسَوْأَتَاهْ

“Betapa dia tidak tahu malu… Sungguh memalukan, sungguh memalukan.”

Anas membalas komentarnya:

هِىَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا

“Dia lebih baik dari pada kamu. Dia ingin dinikahi Nabi ﷺ, dan menawarkan dirinya untuk Nabi ﷺ.” (HR. Bukhari 5120)

Bagaimana Caranya?

Mengenai cara, ini kembali kepada kondisi di masing-masing masyarakat, bagaimana cara melamar wanita yang paling wajar. Bisa juga dilakukan dengan cara berikut:

Pertama: Menawarkan diri langsung ke yang bersangkutan

Seperti yang diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada hadis di atas.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat lain dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, ada seorang wanita menghadap Nabi ﷺ dan menawarkan dirinya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لأَهَبَ لَكَ نَفْسِى

“Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar Anda nikahi.”

Setelah Nabi ﷺ memerhatikannya, beliau tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga wanita ini duduk menunggu. Kemudian datang seorang sahabat:

‘Ya Rasulullah, jika Anda tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.’ (HR. Bukhari 5030)

Dan di lanjutan hadis, sahabat ini diminta untuk mencari mahar, sampai pun hanya dalam bentuk cincin besi, dst, yang mungkin sudah sering kita dengar. Hadis ini meunjukkan, bahwa sah saja ketika ada seorang wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi lelaki yang dia harapkan bisa menjadi pendampingnya.

Dalam kitab Fathul Bari, wanita yang minta dinikahi Nabi ﷺ tidak haya satu. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan para wanita lainnya, yang menawarkan dirinya untuk Nabi ﷺ, di antaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits. (Fathul Majid, 8/525).

Kedua: Melalui perantara orang lain yang amanah

Termasuk melalui perantara keluarganya, ayahnya atau ibunya atau temannya.

Ini seperti yang dilakukan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, ketika putrinya Hafshah selesai masa iddah karena ditinggal mati suaminya, Umar menawarkan Hafshah ke Utsman, kemudian ke Abu Bakr radhiyallahu ‘anhum.

Umar mengatakan:

فَلَقِيتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ، فَقُلْتُ: إِنْ شِئْتَ زَوَّجْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمَرَ، فَصَمَتَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا، وَكُنْتُ أَوْجَدَ عَلَيْهِ مِنِّي عَلَى عُثْمَانَ

“Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata: ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman….” (HR. Bukhari 5122 & Nasai 3272)

Semacam ini juga yang pernah dilakukan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Beliau melamar Muhammad sebelum menjadi nabi melalui perantara temannya, Nafisah bintu Maniyah. Kemudian disetujui semua paman-pamannya dan juga paman Khadijah. Ketika akad dihadiri Bani Hasyim dan pembesar Bani Mudhar, dan ini terjadi dua bulan sepulang Nabi ﷺ dari Syam berdagang barangnya Khadijah. (Ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 51)

Dalam salah satu fatwannya, Lajnah Daimah ditanya mengenai hukum wanita yang menawarkan diri agar dinikahi lelaki yang saleh. Jawab Lajnah:

إذا كان الأمر كما ذكر شرع لها أن تعرض نفسها على ذلك الرجل أو نحوه، ولا حرج في ذلك فقد فعلته خديجة رضي الله عنها وفعلته الواهبة المذكورة في سورة الأحزاب، وفعله عمر رضي الله عنه بعرضه ابنته حفصة على أبي بكر ثم على عثمان رضي الله عنهما

Jika dia seorang laki-laki yang saleh sebagaimana disebutkan, maka disyariatkan bagi wanita itu untuk  menawarkan diri kepadanya, atau yang semisalnya untuk dinikahi. Ini dibolehkan, sebagaimana yang telah dilakukan Khadijah radhiyallahu’anha.

Juga dilakukan oleh seorang wanita yang menawarkan dirinya (kepada Nabi ﷺ untuk dinikahi beliau), sebagaimana yang tersebut di surat Al-Ahzab.

Juga pernah dilakukan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu yang menawarkan putrinya Hafshah kepada Abu Bakr, kemudian kepada Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhum. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/48 no. 6400).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28481-cara-syari-wanita-melamar-pria.html