, ,

HUKUM WANITA MENGANTARKAN JENAZAH HINGGA KE KUBURAN

HUKUM WANITA MENGANTARKAN JENAZAH HINGGA KE KUBURAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
HUKUM WANITA MENGANTARKAN JENAZAH HINGGA KE KUBURAN
 
Seringkali kita melihat para wanita pun ikut serta mengiringi jenazah hingga kuburan. Padahal sifat wanita biasanya tidak tabah. Sehingga Mayoritas Ulama memakruhkan wanita mengiringi jenazah hingga pemakaman.
 
Mayoritas Ulama berpandangan, bahwa wanita dimakruhkan keluar mengiringi jenazah. Demikian dinukil oleh Imam Nawawi dari pendapat Mayoritas Ulama dan mayoritas sahabat seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Abu Umamah, dan ‘Aisyah. [Lihat Al Majmu’, 5: 278]
 
Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat, bahwa keluarnya wanita untuk maksud tersebut dihukumi Makruh Tahrim (artinya: haram).
 
Mengenai dalil tentang masalah ini:
 
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ نُهِينَا عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ ، وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا
 
Dari Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Kami (para wanita) dilarang mengiringi jenazah. Namun larangannya tidak terlalu keras bagi kami.” [HR. Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 938]
 
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud hadis di atas:
“Tidak ditegaskan jika hal tersebut terlarang keras sebagaimana dalam larangan-larangan lainnya. Seakan-akan Ummu ‘Athiyah berkata: Kami dilarang mengiringi jenazah, dan bukan larangan haram (tetapi makruh).”
 
Al Qurthubi menjelaskan:
“Secara tekstual, hadis Ummu ‘Athiyah menunjukkan, bahwa larangan yang dimaksud adalah larangan Makruh Tanzih. Demikian pendapat Mayoritas Ulama. Imam Malik berpendapat bolehnya. Demikian pula pendapat ulama Madinah.”
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Makna hadis adalah Rasulullah ﷺ melarang para wanita untuk mengiringi jenazah dan larangannya adalah Makruh Tanzih, bukan makruh yang menunjukkan keharaman. Madzhab kami -Syafi’iyah- berpendapat hal itu makruh dan bukanlah haram berdasarkan pemahaman dari hadis ini. Al Qodhi ‘Iyadh berkata, bahwa Mayoritas Ulama melarang para wanita mengiringi jenazah. Sedangkan ulama Madinah membolehkannya. Begitu pula dengan Imam Malik, namun beliau memakruhkan untuk para gadis.” [Syarh Muslim, 1: 46]
 
Semoga semakin menambah ilmu kita dan semoga semakin berbuah amal. Wallahu waliyyut taufiq.
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
 
Catatan Tambahan:
 
Bolehkah mengiringi jenazah dalam keadaan haid?
 
Seandainya seseorang mengambil pendapat yang membolehkan mengiringi jenazah hingga ke kuburan, maka dia tidak terhalangi untuk melakukannya ketika dalam keadaan haid, karena dalam mengiringi jenazah, seseorang tidak disyariatkan berada dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar.
 
Wallahu a’lam.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#hukumwanitamengantarkanjenazahhinggakekuburan #hukumperempuanmengantarjenazahkekuburan #hukumperempuanikutkepemakaman #hukumwanitaikutmenguburkanjenazah #hukummengantarjenazahbagiwanita #hukummelayatbagiwanitahaid #haid #mens #datangbulan #perempuan #wanita #muslimah #ziarahkubur
, ,

HUKUM MENYALATKAN ORANG YANG MATI BUNUH DIRI

HUKUM MENYALATKAN ORANG YANG MATI BUNUH DIRI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENYALATKAN ORANG YANG MATI BUNUH DIRI
 
Bolehkah menyalatkan orang yang mati bunuh diri? Misalnya ia sengaja menggantung dirinya, menusuk diri dengan sebilah pisau, membakar diri, mengonsumsi racun atau menenggelamkan dirinya di tepi pantai. Sebagian Muslim menganggap ia tidak boleh dishalatkan. Namun bagaimana pandangan Islam itu sendiri?
 
Ada yang pernah bertanya pada Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang pernah menjabat sebagai Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam:
“Kami pernah dapati orang yang mati tergantung di atas pohon dan di lehernya terdapat tali. Kami tidak mengetahui apakah orang tersebut mati tercekik (karena bunuh diri) atau ada yang membunuhnya lalu menggantungnya di atas pohon. Jika dia membunuh dirinya sendiri dengan menggantung dirinya di atas pohon, apakah ia dishalatkan oleh kaum Muslimin?”
 
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjawab:
“Jika ia seorang Muslim, maka ia TETAP DISHALATKAN, baik ia mati bunuh diri atau dibunuh oleh orang lain. Jika ia sampai membunuh dirinya sendiri, itu termasuk dosa besar, karena seorang Muslim tidak boleh membunuh dirinya sendiri. Allah mengharamkan seseorang membunuh dirinya sendiri. Allah taala berfirman:
 
وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
 
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. An Nisa’: 29]
 
Dan Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada Hari Kiamat ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Jika ia jelas bunuh diri, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar, namun ia tetap dishalatkan. Walau ada yang berbeda penilaian, namun yang tepat ia tetap dishalatkan. Sebagian Muslim tetap menyalatkan, memandikan, mengafani dan menguburkannya.
 
Begitu pula ketika diketahui ia dibunuh oleh orang lain secara zalim, ia tetap dimandikan dan dishalatkan. Ia dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin. Wallahul musta’an. Laa hawla wa laa quwwata illa billah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.
 
Demikian fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.
 
Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan:
“Umat Islam bersepakat, bahwa orang yang melakukan dosa meskipun melakukan dosa besar tetap dishalatkan. Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:
 
صلوا على كل من قال لا إله إلا الله محمد رسول الله
 
“Shalatkanlah setiap orang yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallahu Muhammad Rasulullah (Tiada Sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad itu utusan Allah)”, meskipun dalam sanadnya ada kelemahan. Apa yang kami sebutkan dari ijma (konsensus) dapat menguatkan dan menshahihkannya.” [Al Istidzkar, 3: 29]
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Al Qadhi mengatakan, menurut pendapat para ulama, setiap jenazah Muslim, baik meninggal karena suatu hukuman, dirajam, bunuh diri dan anak zina tetap dishalatkan. Imam Malik dan lainnya berpendapat, bahwa pemimpin umat sebaiknya tidak menyalati orang seperti itu ketika ia dihukum mati karena suatu hukuman. Dari Az Zuhri ia berkata, bahwa orang yang terkena hukuman rajam dan yang diqishash tetap dishalatkan. Adapun Abu Hanifah berpendapat, bahwa orang yang berbuat keonaran dan orang yang terbunuh dari kalangan kelompok pembangkang tidak dishalatkan.” [Lihat Syarh Muslim karangan Nawawi]
 
Dalil yang menunjukkan akan kewajiban shalat kepada pelaku kemaksiatan adalah apa yang diriwayatkan oleh Samurah radhiyallahu anhu:
 
أَنَّ رَجُلا قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَمَّا أَنَا فَلا أُصَلِّي عَلَيْه
 
“Ada orang yang bunuh diri dengan pisau, maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalau saya, maka saya tidak shalatkan dia.” [HR. An Nasa’i no. 1964 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani]
 
Nampaknya Rasulullah ﷺ menyetujui para sahabat yang menyalatinya. Rasulullah ﷺ enggan menyalatinya sebagai hukuman terhadap kemaksiatannya, dan sebagai pelajaran bagi orang lain atas perbuatannya.
 
Ini menunjukkan dianjurkannya menyalatkan pelaku maksiat, kecuali pemimpin umat. Seyogyanya dia tidak menyalatkan pelaku dosa besar yang terus menerus, dan mati dalam kondisi seperti itu. Hal ini dilakukan karena mencontoh Nabi ﷺ, supaya yang lain jera dan tidak melakukan semacam itu.
 
Ibnu Abdul Barr rahimahullah mengatakan:
“Hadis ini merupakan dalil, bahwa imam dan para pemimpin agama tidak menyalati pelaku dosa besar. Akan tetapi tidak boleh melarang orang lain menyalatkannya. Bahkan ia harus memberikan arahan pada orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ mengarahkan: ‘Shalatkanlah sahabat kalian’.” [Al Istidzkar, 5: 85]
 
Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin. Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#hukum, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #jenazah, #mati, #meninggal dunia, #wafat, #menyalatkan, #menshalatkan, #mensholatkan, #menyolatkan, #bunuh diri, #suicide #menshalatkan
,

RUMAH YANG SEPERTI KUBURAN

RUMAH YANG SEPERTI KUBURAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
RUMAH YANG SEPERTI KUBURAN
 
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata:
“Para ulama menjelaskan, bahwa maksudnya adalah janganlah meninggalkan shalat di rumah. Artinya, rumah yang tidak ada shalat di dalamnya disebut kuburan. Karena shalat tidaklah sah dilakukan di kuburan sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Seluruh permukaan bumi adalah masjid kecuali kuburan dan tempat pemandian.“ [HR. Tirmidzi no. 317]
 
Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya.” [HR. Muslim no. 972]
 
Shalat sunnah maupun shalat wajib tidak sah dilakukan di kuburan, begitu pula untuk Sujud Tilawah dan Sujud Syukur. Tidak boleh ada shalat yang dilakukan di kuburan kecuali satu shalat saja, yaitu shalat jenazah. Jika shalat jenazah dilakukan di area pekuburan, maka tidaklah masalah, baik setelah penguburan maupun setelahnya. Namun untuk setelah penguburan, tidak boleh dilakukan pada waktu terlarang (untuk shalat). Misalnya ada orang yang baru datang menghadiri jenazah, namun ternyata telah dikubur, dan waktu saat itu adalah setelah ‘Ashar. Maka shalat tidak boleh dilakukan saat itu. Hendaklah dipilih waktu lain untuk dilaksanakan shalat jenazah seperti waktu Dhuha. Adapun jika seseorang datang, sedangkan jenazah belum dikuburkan namun baru diletakkan di area pekuburan, maka tidak mengapa melakukan setelah Ashar saat itu, karena saat itu dilakukan punya sebab. Shalat yang punya sebab tidak mengenal waktu terlarang. [Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 683-684]
 
Semoga bermanfaat
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#rumahsepertikuburan, #kuburan, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #jenazah, #pekuburan, #pemakaman, #makam, #laranganshalatdikuburan #janganshalatmenghadapkuburan, #shalatjenazah, #sholatjenazah,s #salatjenazah
, ,

DALIL TEGAS YANG MENGHARAMKAN TAHLILAN (PERINGATAN KEMATIAN)

DALIL TEGAS YANG MENGHARAMKAN TAHLILAN (PERINGATAN KEMATIAN)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
DALIL TEGAS YANG MENGHARAMKAN TAHLILAN (PERINGATAN KEMATIAN)
 
 
Dari sahabat Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
 
«كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ»
 
“Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, dan membuatkan makanan (untuk peserta tahlilan) setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari niyahah (meratapi mayit).” [HR. Ahmad 6905 dan Ibn Majah 1612]
 
Pernyataan ini disampaikan oleh sahabat Jarir, menceritakan keadaan di zaman Nabi ﷺ, bahwa mereka (Nabi ﷺ dan para sahabat) sepakat, acara kumpul dan makan-makan di rumah duka setelah pemakanan termasuk meratapi mayat. Artinya, mereka sepakat untuk menyatakan haramnya praktik tersebut. Karena, niyahah (meratap) termasuk hal yang dilarang.
 
Niyahah (meratap) termasuk larangan, bahkan dosa besar, karena diancam dengan hukuman (siksaan) di Akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan:
 
(1) Membangga-banggakan kebesaran leluhur,
(2) Mencela keturunan,
(3) Mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan
(4) Meratapi mayit (niyahah)”.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
“Orang yang melakukan niyahah (meratapi mayit) bila tidak bertobat sebelum matinya, maka ia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan memakai pakaian yang menutupi tubuhnya dari tembaga yang meleleh dan kulit yang berkudis (secara merata).” [HR. Muslim no. 934]
Ulama besar Syafi’i, Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Mengenai orang yang melakukan niyahah lantas tidak bertobat sampai mati, dan disebutkan sampai akhir hadis menunjukkan haramnya perbuatan niyahah dan hal ini telah disepakati. Hadis ini menunjukkan diterimanya tobat jika tobat tersebut dilakukan sebelum mati (nyawa di kerongkongan).” [Syarh Muslim, 6: 235]
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#nayihah, #niyahah, #nahiyah, #ratapan, #meratapimayat, #meratapi, #mayat, #mayit, #mayyit, #orangmati, #meninggaldunia, #wafat. #larangan, #perayaankematian, #tahlilan, #yasinan #meratapimayit #pakaianberlumurancairantembaga, #mantelbercampurdenganpenyakitgatal #kudisan #bajutembagameleleh #kudisanmerata

,

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?

APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
APAKAH PAHALA DILIPATGANDAKAN DENGAN SEKALI SHALAT BEBERAPA JENAZAH?
 
Pertanyaan:
Ketika kita shalat terhadap banyak jenazah dalam satu waktu, apakah pahalanya bertambah sesuai dengan banyaknya jenazah?
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Ya, pahala berlipat sesuatu dengan banyaknya jenazah. Telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, 945, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak turut mengantarkannya, maka dia dapat (pahala) satu Qirath. Kalau dia ikut mengiringinya, maka dia dapatkan dua Qirath. Dikatakan, “Apa itu dua qirth?” Beliau ﷺ menjawab: “Yang paling kecil di antara kedunya seperti (gunung) Uhud.”
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, bahwa bagi orang yang shalat, pada setiap jenazah mendapatkan satu Qirath, dan pahalanya dilipatgandakan dengan bertambahnya jumlah jenazah, keutamaan Allah itu luas sekali. Nafrawi rahimahullah mengatakan: “Jika mayat berjumlah banyak, maka akan bertambah Qirath dalam shalat dan menguburkannya berkali-kali.” Al-Faqih Abu Imron dan Sayyid Yusuf bin Umar: “Dia akan mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath. Karena setiap mayat mendapatkan manfaat dari doa dan kehadiranya.” [Al-Fawakih Ad-Dawani ‘Ala Risalah Abi Zaid Al-Qirwani, 1/295]
 
Al-Khatib As-Syirbini rahimahullah mengatakan: “Kalau jenazahnya banyak dan dilakukan sekali shalat saja, apakah akan mendapatkan Qirath sesuai dengan banyaknya (jenazah) atau tidak, karena hanya satu shalat? Al-Adzro’i mengatakan: “Yang tampak (dia mendapatkan Qirath) sebanyak (jenazah). Dan ini termasuk jawaban Qodhi Humah Al-Barizi. Ini yang kuat.” [Mughni Al-Muhtaj, 2/54]
 
Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: “Seseorang menyolati lima jenazah dengan sekali shalat. Apakah dia mendapatkan pada setiap jenazah satu Qirath, ataukah (untuk mendapatkan) Qirath sesuai dengan bilangan shalat?”
 
Beliau menjawab: “Kami harap dia mendapatkan banyak Qirath sebanyak bilangan jenazah. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
من صلى على جنازة فيه قيراط ، ومن تبعها حتى تدفن فله قيراطان (رواه مسلم)
 
“Barang siapa menyalati jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Dan barang siapa yang mengiringi sampai dikuburkan, maka dia mendapatkan dua Qirath.” [HR. Muslim]
 
Dan hadis-hadis yang semakna dengan itu, semuanya menunjukkan, bahwa Qirath bertambah sesuai dengan bilangan jenazah. Barang siapa yang shalat terhadap satu jenazah, maka dia mendapatkan satu Qirath. Barang siapa yang mengikuti sampai dikuburkannya, maka dia mendapatkan dua Qirath. Barang siapa yang shalat terhadapnya dan mengikuti sampai selesai penguburan, maka dia mendapatkan dua Qirath. Ini termasuk keutamaan, kemurahan dan kedermawanan Allah subahanhu wa ta’ala terhadap hamba-Nya. Hanya kepada-Nya segala pujian dan rasa syukur, tiada Tuhan melainkan Dia. Tidak ada Tuhan selain-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.” [Majmu Al-Fatawa, 13/137]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Di dalam Masjidil Haram banyak jenazah. Apakah pahala juga bertambah sebagaimana yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ?”
 
Beliau menjawab: “Kalau jenazah banyak dan dilakukan sekali shalat, apakah seseorang mendapatkan pahala sebanyak bilangan jenazah ini? Yang kuat, ya. Karena dia benar telah melakukan shalat terhadap dua, tiga atau empat (jenazah), sehingga dia mendapatkan pahala. Akan tetapi bagaimana dia cara berniatnya? Apakah berniat shalat sekali atau untuk semuanya? Hendaknya dia berniat shalat untuk semuanya.” [Liqa Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 149]
 
Wallahu a’lam.
,

KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH

KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihJenazah
 
KEUTAMAAN DAN HUKUM SHALAT JENAZAH
 
Hukum Shalat Jenazah
 
Hukum shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah. Jika sebagian kaum Muslimin telah melakukannya, maka gugur dari lainnya.
 
( عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ –رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ– قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم– إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )), قَالُوا: لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ )), قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ )) قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ )) قَالُوا : لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ: (( صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ))، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.)
 
Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah ﷺ, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Ya.’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Ada tiga Dinar.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata: ‘Shalatilah dia!’ Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab: ‘Tidak.’  Beliau ﷺ pun bertanya: ‘Apakah dia punya utang?’ Mereka pun menjawab: ‘Ada tiga Dinar.’ Beliau ﷺ pun berkata: ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata: ‘Shalatilah dia, ya Rasulullah! Utangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau ﷺ pun menyalatinya.” [HR Al-Bukhaari no. 2289]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa hukumm shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah, karena ketika itu Nabi ﷺ, jika tahu si mayit tidak melunasi utangnya, maka beliau ﷺ enggan menyalatinya.
 
Keutamaan Shalat Jenazah
 
Pertama: Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
“Barang siapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyalatkannya, maka baginya satu Qirath. Lalu barang siapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua Qirath.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud dua Qirath?” Rasulullah ﷺ lantas menjawab: “Dua Qirath itu semisal dua gunung yang besar.” [HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945]
 
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
« مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ». قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ ».
 
“Barang siapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu Qirath. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua Qirath.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud dua Qirath?” “Ukuran paling kecil dari dua Qirath adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau ﷺ. [HR. Muslim no. 945]
 
Kedua: Dari Kuraib, ia berkata:
 
أَنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ فَقَالَ يَا كُرَيْبُ انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ النَّاسِ. قَالَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدِ اجْتَمَعُوا لَهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ تَقُولُ هُمْ أَرْبَعُونَ قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَخْرِجُوهُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ »
 
“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata: “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyalati jenazahnya.” Kuraib berkata: “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul, dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab: “Ada 40 orang.” Kuraib berkata: “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata: “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, melainkan Allah akan memprkenankan syafaat (doa) mereka untuknya.” [HR. Muslim no. 948]
 
Ketiga: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
 
مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ
 
“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum Muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafaat (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafaat (doa mereka) akan diperkenankan.” [HR. Muslim no. 947]
 
Keempat: Dari Malik bin Hubairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ
“Tidaklah seorang Muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum Muslimin, melainkan doa mereka akan dikabulkan.” [HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ 5/212 bahwa hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini Hasan jika sahabat yang mengatakan]
 
Itulah beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan shalat jenazah.
 
Wallahu waliyyut taufiq.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
[www.rumaysho.com]
 
, ,

BOLEHKAH WANITA HAID MEMANDIKAN JENAZAH DAN MENGAFANINYA?

BOLEHKAH WANITA HAID MEMANDIKAN JENAZAH DAN MENGAFANINYA?

سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MuslimahSholihah, #FikihJenazah

BOLEHKAH WANITA HAID MEMANDIKAN JENAZAH DAN MENGAFANINYA?

Pertanyaan:

Bolehkah wanita yang dalam keadaan haid (menstruasi) memandikan jenazah dan mengafaninya?

Jawaban:

BOLEH bagi wanita yang dalam keadaan haid (menstruasi) memandikan jenazah wanita dan mengafaninya, dan boleh pula bagi wanita memandikan jenazah dari kalangan laki-laki hanya suaminya saja (Adapun selain suaminya dari kalangan laki-laki, TIDAK BOLEH bagi wanita memandikannya). Jadi haid BUKAN penghalang untuk memandikan jenazah sesama wanita atau suaminya.  [Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah no. 6193]

 

Sumber:

, ,

YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN WANITA YANG BARU DITINGGAL MATI SUAMINYA

YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN WANITA YANG BARU DITINGGAL MATI SUAMINYA

#MuslimahSholihah

YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN WANITA YANG BARU DITINGGAL MATI SUAMINYA

Pertanyaan:

Kalau wanita yang baru ditinggal wafat suaminya, yang tidak boleh dilakukan apa saja?

Jawaban:

Wanita yang berada dalam masa iddah karena suaminya meninggal ada beberapa ketentuan, yaitu:

  1. Tetap tinggal di rumah suami yang dia tinggal bersamanya selagi memungkinkan, kecuali jika ada udzur yang syari.
  2. Tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang darurat atau sangat mendesak.
  3. Hindari mengenakan pakaian yang indah.
  4. Tidak boleh menggunakan parfum.
  5. Hindari mengenakan perhiasan emas atau yang lainnya.
  6. Hindari dari memakai celak. [Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Da`imah no. 19756]

 

Sumber: http://buletin-alilmu.net/2013/01/16/shalat-jenazah-1/

, ,

BENARKAH SIKSA KUBUR DIHENTIKAN PADA WAKTU RAMADAN?

BENARKAH SIKSA KUBUR DIHENTIKAN PADA WAKTU RAMADAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#AkidahTauhid
#SeriPuasaRamadan

BENARKAH SIKSA KUBUR DIHENTIKAN PADA WAKTU RAMADAN?

Pertanyaan:

Apa benar kalo siksa kubur dihentikan pada waktu Ramadan?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, bahwa adanya azab kubur merupakan bagian dari akidah kaum Muslimin Ahlus Sunah. Allah berfirman menceritakan azab yang diberikan kepada Fir’aun di Alam Kubur:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka (Fir’aun dan bala tentaranya) dinampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras“. [QS. Ghafir: 46]

Dinampakkan Neraka kepada Fir’aun dan pengkikutnya termasuk azab di Alam Kubur bagi mereka, dan itu terjadi sebelum Kiamat.

Di samping itu, terdapat banyak hadis Shahih yang menyatakan adanya azab kubur. Hingga sebagian ulama menegaskan, bahwa hadis tentang azab kubur termasuk Mutawatir Ma’nawi.

Kedua, apakah azab kubur diberika terus-menerus, ataukah ada jeda?

Dalam kitab Syarh Aqidah Thahawiyah, Ibnu Abil Iz menjelaskan:

وهل يدوم عذاب القبر أو ينقطع ؟ جوابه أنه نوعان:

منه ما هو دائم، كما قال تعالى: {النار يعرضون عليها غدوا وعشيا ويوم تقوم الساعة أدخلوا آل فرعون أشد العذاب}. وكذا في حديث البراء بن عازب في قصة الكافر: «ثم يفتح له باب إلى النار فينظر إلى مقعده فيها حتى تقوم الساعة»، رواه الإمام أحمد في بعض طرقه.

والنوع الثاني: أنه مدة ثم ينقطع، وهو عذاب بعض العصاة الذين خفت جرائمهم، فيعذب بحسب جرمه، ثم يخفف عنه

Apakah azab kubur ditimpakan terus-menerus, ataukah bisa terputus?

Jawabannya, bahwa azab kubur ada dua macam:

  1. Azab kubur yang diberikan terus-menerus, sebagaimana firman Allah, yang artinya:

” Kepada mereka (Fir’aun dan bala tentaranya) dinampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” [QS. Ghafir: 46]

Demikian pula hadis Barra bin Azib tentang kisah mayit orang kafir, dinyatakan dalam hadis: ”Kemudian dibukakan untuk orang kafir pintu Neraka, sehingga dia melihat tempatnya di Neraka, sampai terbit matahari.” [HR. Imam Ahmad]

  1. Azab kubur ditimpakan selama rentang waktu tertentu, kemudian terputus. Ini adalah azab yang diberikan kepada sebagian tukang maksiat yang banyak dosanya. Dia dihukum sesuai tingkat dosanya, kemudian diringankan. [Syarh Aqidah Thahawiyah, 1/269]

Kemudian, bisa juga azab kubur diringankan oleh Allah karena doa orang lain, atau amal jariyah yang dimilikinya, atau karena Allah mengampuninya langsung.

Ketiga, apakah ada keringanan azab kubur kerika Ramadan?

Azab kubur termasuk perkara gaib. Dan masalah ghaib hanya diketahui oleh Allah dan makhluk yang bersangkutan. Yang bisa kita lakukan hanyalah meyakini apa yang disebutkan dalam dalil Alquran dan hadis Shahih. Dan kita tidak boleh berkomentar tanpa sumber yang benar. Allah mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [QS. Al-Isra: 36]

Apakah azab kubur dihentikan selama Ramadan?

Sebagian lembaga fatwa menegaskan, bahwa mereka tidak pernah menjumpai adanya dalil mengenai hal ini. Di antaranya lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah:

فإن عذاب القبر ونعيمه من الأمور التي اتفق أهل السنة على إثباتها لقيام الدليل عليها من الكتاب والسنة الصحيحة، ولم نطلع على ما يدل على أنه يرفع في رمضان

Sesungguhnya azab kubur dan kenikmatan keberadaannya disepakati Ahlus Sunah. Berdasarkan dalil dari Alquran dan Sunnah yang Shahih. Dan kami tidak menjumpai adanya dalil yang menunjukkan, bahwa azab kubur dihentikan selama Ramadan. [Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 152793]

Kemudian al-Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan, bahwa bisa jadi azab kubur dihentikan di bulan-bulan mulia. Hanya saja, beliau menegaskan, bahwa hadis yang menyebutkan hal ini statusnya lemah. Dalam bukunya ahwal al-Qubur, beliau mengatakan:

وقد يرفع عذاب القبر في بعض الأشهر الشريفة فقد روي بإسناد ضعيف عن أنس بن مالك أن عذاب القبر يرفع عن الموتى في شهر رمضان

Azab kubur bisa saja dihentikan pada bulan-bulan mulia. Diriwayatkan dengan sanad lemah dari Anas bin Malik, bahwa azab kubur untuk orang mati dihentikan pada waktu Ramadan. [Ahwal al-Qubur, hlm. 105]

Hanya saja, ada beberapa kitab fikih yang menyebutkan tentang penundaan azab kubur pada waktu Ramadan, hanya saja tidak disebutkan dalilnya.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23019-siksa-kubur-dihentikan-di-bulan-Ramadhan.html

,

BATASAN AURAT MAYIT/JENAZAH

BATASAN AURAT MAYIT/JENAZAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#AhkamulJanaiz
#FatwaUlama
BATASAN AURAT MAYIT/JENAZAH

Terkadang tenaga medis harus mengurus mayit/jenazah, atau pasien yang baru meninggal. Maka selayaknya mereka memerhatikan dan berusaha untuk menutupi aurat mayit, serta menjaga kehormatannya. Bagaimana batasan aurat mayit/jenazah? Berikut sedikit pembahasannya.

Aurat mayit sama dengan aurat orang hidup. Dalilnya adalah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

لا تنظر إلى فخذ حي ولا ميت

“Janganlah engkau melihat ke paha orang hidup maupun orang mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Berikut fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah:

س 2: هل عورة الميت – أقصد الجثة المعدة للتشريح – محرم كما هي محرمة علينا على قيد الحياة، وما العمل إذا؟

ج 2: النظر إلى عورته ميتا كالنظر في عورته حيا، فلا يجوز إلا في الصورة التي رخص فيها في تشريحه؛ للضرورة إلى ذلك.

Pertanyaan:

Aurat mayit, maksud saya kadaver/jenazah yang disiapkan untuk dipotong-potong untuk belajar, apakah  (melihat) auratnya haram, sebagaimana haram ketika hidup. Apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Memandang pada aurat mayit, sebagaimana memandang pada aurat orang hidup. Tidak boleh melihatnya, kecuali pada hal yang diberi keringanan untuk memotong-motongnya. Karena kebutuhan darurat pada hal itu. [Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 9421, Syamilah]

Orang Yang Memandikan Mayit Harus Memakai Pelapis

Pertanyaan:

س: هل يجوز لمن يغسل الميت أن يكشف عورته أم أنه يجب أن تكون مستورة؟

Apakah boleh bagi yang memandikan mayit menyingkap auratnya, atau wajibkah memandikan dalam keadaan tertutup?

1) لا يجوز لمس عورة الميت، ولا النظر إليها، ولا كشفها لا للمغسل، ولا لغيره.

2) من يتولى غسل الميت عليه أن يعمل في يده خرقه حائلة بين اليد والعورة.

Jawaban (ringkasan):

  1. Tidak boleh menyentuh aurat mayit, tidak boleh juga melihatnya, tidak boleh menyingkapnya, baik bagi yang memandikan atau yang lain.
  2. Bagi yang memandikan mayit, wajib baginya memakai pelapis antara tangan dan aurat mayit (misalnya pakai sarung tangan). [Fatwa ulama yaman, syaikh Muhammad bin Ismail Al-Umrani, sumber: http://olamaa-yemen.net/main/articles.aspx?article_no=11367

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://Muslimafiyah.com/batasan-aurat-mayitjenazah.html