بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
#SifatSholatNabi
INI DALILNYA: SUDAH SHALAT LAIL, WALAUPUN WAKTU ISYA BELUM MASUK
Awal waktu shalat lail adalah setelah shalat Isya, dan akhir waktunya adalah setelah terbit fajar kedua. Ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu’anha, dia berkata:
“Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan shalat sebelas rakaat pada waktu antara selesai shalat Isya sampai Subuh.” [HR. Muslim no. 736].
Juga berdasarkan hadis Ibnu Umar radhiallahu anhuma, dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang shalat malam, maka Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai Witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” [HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749]
Karenanya Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119: “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat Isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua), adalah waktu untuk mengerjakan Witir.”
Karenanya, jika ada orang yang shalat Maghrib-Isya dengan Jama’ Taqdim, maka dia SUDAH BOLEH mengerjakan shalat lail, walaupun waktu Isya BELUM MASUK. Sebaliknya, walaupun sudah jam 10 malam, tapi jika dia belum shalat Isya, maka dia BELUM diperbolehkan Shalat Lail.
Hanya saja waktu yang paling ideal adalah dikerjakan selepas pertengahan malam, sebagaimana dalam hadis Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud ‘alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” [HR. Al-Bukhari no. 1131]
Wallahu a’lam.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ CAHAYA SEMPURNA DI HARI KIAMAT عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ DENGAN DALIH TOLERANSI, JANGAN SAMPAI KITA KEBABLASAN Dengan dalih toleransi, jangan sampai kita kebablasan.…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ BOLEH TOLERANSI, TAPI JANGAN KEBABLASAN Boleh toleransi, tapi jangan kebablasan. Tidak sedikit orang…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ BOLEH DAN TIDAK BOLEH TERHADAP NON-MUSLIM (TAUTAN e-BOOK) Agar toleransi tidak kebablasan, cobalah…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ LIMA PRINSIP RUMAH TANGGA ISLAMI (E-BOOK) Islam agama yang sempurna. Maka pasti ada…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ KABAR GEMBIRA BAGI YANG TELAH MENYESALI DOSANYA (e-BOOK) Oleh: Ustadz: Dr. Abu Hafizhah…