WAHAI PENCARI KEBAIKAN SAMBUTLAH, WAHAI PENCARI KEJELEKAN BERHENTILAH

/, Hadis, Sifat Puasa Nabi/WAHAI PENCARI KEBAIKAN SAMBUTLAH, WAHAI PENCARI KEJELEKAN BERHENTILAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

WAHAI PENCARI KEBAIKAN SAMBUTLAH, WAHAI PENCARI KEJELEKAN BERHENTILAH

Alhamdulillaah, Ramadan, bulan yang penuh berkah telah berada di ambang pintu. Sudah sepatutnya setiap hamba memersiapkan diri untuk menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Allah ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [Yunus: 58]

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah berkata:

فقال: {قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ} الذي هو القرآن، الذي هو أعظم نعمة ومنة، وفضل تفضل الله به على عباده {وَبِرَحْمَتِهِ} الدين والإيمان، وعبادة الله ومحبته ومعرفته. {فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} من متاع الدنيا ولذاتها

“Firman Allah ta’ala, ‘Katakanlah: Dengan karunia Allah’, yaitu (karunia) Alquran yang merupakan nikmat dan anugerah terbesar, serta keutamaan yang Allah karuniakan atas hamba-hamba-Nya. ‘Dan rahmat-Nya’, yaitu agama (Islam), iman, ibadah kepada Allah, kecintaan kepada-Nya dan pengenalan terhadap-Nya. ‘Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’, yaitu yang mereka kumpulkan berupa kesenangan dunia dan semua kelezatannya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 366]

Ketika masuk Ramadan, Rasulullah ﷺ mengabarkan berita gembira kepada kaum Muslimin tentang keutamaan Ramadan, sebagaimana dalam sabda beliau ﷺ:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan puasanya atas kalian, padanya pintu-pintu langit di buka, pintu-pintu Neraka ditutup, setan-setan yang paling durhaka dibelenggu, dan Allah memiliki satu malam padanya, yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang terhalangi kebaikannya, maka sungguh ia telah benar-benar terhalangi.” [HR. Ahmad dan An-Nasaai dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 55]

Inilah saatnya untuk memerbanyak kebaikan dan bertobat dari kemaksiatan, serta banyak berdoa dan memohon ampun dosa, karena bisa jadi inilah Ramadan terakhir kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍيَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Apabila masuk hari pertama Ramadan, setan-setan dan para jin yang paling durhaka itu dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu-pintu Surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup, dan berserulah seorang penyeru: ‘Wahai Pencari kebaikan, sambutlah. Wahai Pencari kejelekan, berhentilah’. Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka, yang demikian itu pada setiap malam Ramadan.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 759]

Al-‘Allamah As-Sindi rahimahullah berkata:

قَوْلُهُ (يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ) مَعْنَاهُ يَا طَالِبَ الْخَيْرِ (أَقْبِلْ) عَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ فَهَذَا شَأْنُكَ تُعْطَى جَزِيلًا بِعَمَلٍ قَلِيلٍ (وَيَا طَالِبَ الشَّرِّ) أَمْسِكْ وَتُبْ فَإِنَّهُ أَوَانُ قَبُولِ التَّوْبَةِ

“Sabda Nabi ﷺ: ‘Wahai Pencari kebaikan, sambutlah’, maknanya adalah: Wahai Pencari kebaikan, bersegeralah melakukan kebaikan. Inilah urusanmu. Engkau akan diberikan pahala besar walau dengan amalan kecil. Dan sabda beliau ﷺ: ‘Wahai Pencari kejelekan, berhentilah’. Maknanya adalah: Berhentilah berbuat dosa dan bertobatlah, karena sungguh Ramadan adalah waktu diterimanya tobat.” [Haasyiyatus Sindi ‘ala Sunan Ibni Maajah, 1/503-504]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَلِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka di setiap siang dan malam Ramadan, dan bagi setiap Muslim di setiap malam dan siangnya ada doa yang pasti dikabulkan.” [HR. Ath-Thobrani dalam Al-Mu’jam Al-Aushat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1002]

Ringkasan Keutamaan Ramadan yang Terkandung dalam Hadis-hadis yang Mulia di Atas:

  • Ramadan adalah bulan yang diberkahi, artinya yang memiliki banyak kebaikan.
  • Bulan amalan wajib yang sangat agung, yaitu berpuasa.
  • Bulan pendidikan ibadah, latihan kesabaran dan menguatkan persaudaraan antara kaum Muslimin.
  • Setan-setan dibelenggu, sehingga faktor terjerumus dalam dosa berkurang.
  • Pintu-pintu langit dan Surga dibuka, dalam riwayat lain: Pintu-pintu rahmat dibuka.
  • Pintu-pintu Neraka ditutup, maka Ramadan adalah bulan yang lebih ditekankan untuk memerbanyak kebaikan dan bertobat dari kemaksiatan.
  • Adanya Penyeru yang berseru setiap malam: Wahai Pencari kebaikan, sambutlah. Wahai Pencari kejelekan,
  • Adanya hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka di setiap siang dan malamnya. Maka hendaklah siang hari diisi dengan puasa serta ibadah-ibadah lainnya, dan malam hari diisi dengan shalat Tarawih dan ibadah-ibadah lainnya, karena itulah sebab-sebab meraih rahmat Allah dan terbebas dari api Neraka.
  • Lailatul Qadar terdapat pada waktu Ramadan, yaitu malam yang ibadah padanya lebih baik dari ibadah selama seribu bulan.
  • Doa-doa kaum Muslimin dikabulkan pada waktu Ramadan di setiap siang dan malamnya.

Sungguh sebaik-baik persiapan untuk menyambut tamu yang agung ini adalah menuntut ilmu agama, khususnya ilmu tentang ibadah-ibadah yang disyariatkan di bulan yang mulia ini. Karena ibadah seseorang tidak mungkin diterima tanpa berdasar ilmu, yaitu tanpa mengikuti petunjuk-petunjuk Rasulullah ﷺ, maka wajib bagi setiap hamba untuk berilmu sebelum beramal. Tidak boleh hanya bermodal semangat belaka, kemudian ikut-ikutan dalam beribadah. Allah ta’ala telah mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” [Al-Isra’: 36]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang tidak berasal darinya, maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (ﷺ) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama). Dan semua bid’ah (perkara baru dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara), meski pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah. Karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama). Maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah Sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama), karena setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

Sahabat yang mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةُ وَإِنْ رَآهَا النَّاس حَسَنَة

“Setiap bid’ah itu sesat, meski manusia menganggapnya hasanah (baik).” [Dzammul Kalaam: 276]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Sumber: http://sofyanruray.info/wahai-pencari-kebaikan-sambutlah-wahai-pencari-kejelekan-berhentilah/

 

 

2017-05-30T08:34:34+00:00 30 May 2017|Fikih dan Muamalah, Hadis, Sifat Puasa Nabi|0 Comments

Leave A Comment