TATA CARA SUJUD SAHWI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

TATA CARA SUJUD SAHWI

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sebelum dan Sesudah Salam

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadis, bahwa Sujud Sahwi dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat, sebelum atau sesudah salam. Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”, begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sebelum Salam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Abdullah bin Buhainah:

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan Sujud Sahwi ini sebelum salam.” [HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570]

Contoh Cara Melakukan Sujud Sahwi Sesudah Salam

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ

“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” [HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573]

Sujud Sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis ‘Imron bin Hushain;

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

“Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah rakaat yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan Sujud Sahwi dengan dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” [HR. Muslim no. 574]

Apakah Ada Takbiratul Ihram Sebelum Sujud Sahwi?

Sujud Sahwi sesudah salam TIDAK PERLU diawali dengan Takbiratul Ihram. Cukup dengan takbir untuk sujud saja. Pendapat ini adalah pendapat Mayoritas Ulama. Landasan mengenai hal ini adalah hadis-hadis mengenai Sujud Sahwi yang telah lewat.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata: “Para ulama berselisih pendapat mengenai Sujud Sahwi sesudah salam, apakah disyaratkan Takbiratul Ihram, ataukah cukup dengan takbir untuk sujud? Mayoritas ulama mengatakan cukup dengan takbir untuk sujud. Inilah pendapat yang nampak kuat dari berbagai dalil.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 3/99, Darul Ma’rifah, 1379]

Apakah Perlu Tasyahud Setelah Sujud Kedua dari Sujud Sahwi?

Pendapat yang terkuat di antara pendapat ulama yang ada, TIDAK PERLU untuk Tasyahud lagi setelah sujud kedua dari Sujud Sahwi, karena tidak ada dalil dari Nabi ﷺ yang menerangkan hal ini. Adapun dalil yang biasa jadi pegangan bagi yang berpendapat adanya, dalilnya adalah dalil-dalil yang lemah.

Jadi cukup ketika melakukan Sujud Sahwi, bertakbir untuk sujud pertama, lalu sujud. Kemudian bertakbir lagi untuk bangkit dari sujud pertama dan duduk sebagaimana duduk antara dua sujud (duduk Iftirosy). Setelah itu bertakbir dan sujud kembali. Lalu bertakbir kembali, kemudian duduk Tawaruk. Setelah itu salam, tanpa Tasyahud lagi sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “TIDAK ADA dalil sama sekali yang mendukung pendapat ulama yang memerintahkan untuk Tasyahud setelah sujud kedua dari Sujud Sahwi. Tidak ada satu pun hadis Shahih yang membicarakan hal ini. Jika memang hal ini disyariatkan, maka tentu saja hal ini akan dihafal dan dikuasai oleh para sahabat yang membicarakan tentang Sujud Sahwi. Karena kadar lamanya Tasyahud itu hampir sama lamanya dua sujud, bahkan bisa lebih. Jika memang Nabi ﷺ melakukan Tasyahud ketika itu, maka tentu para sahabat akan lebih mengetahuinya daripada mengetahui perkara salam, takbir ketika akan sujud dan ketika akan bangkit dalam Sujud Sahwi. Semua-semua ini perkara ringan dibanding Tasyahud.” [Dialihbahasakan secara bebas dari Majmu’ Al Fatawa, 23/49]

Doa Ketika Sujud Sahwi

Sebagian ulama menganjurkan doa ini ketika Sujud Sahwi:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa). [Bacaan Sujud Sahwi semacam ini di antaranya disebutkan oleh An Nawawi rahimahullah dalam Roudhotuth Tholibiin, 1/116, Mawqi’ Al Waroq]

Namun zikir Sujud Sahwi di atas cuma anjuran saja dari sebagian ulama dan tanpa didukung oleh dalil. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا .

“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika Sujud Sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.” (At Talkhis Al Habiir, 2/6)

Sehingga yang tepat mengenai bacaan ketika Sujud Sahwi adalah seperti bacaan sujud biasa ketika shalat. Bacaannya yang bisa dipraktikkan seperti:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] [HR. Muslim no. 772]

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku ] [HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484]

Dalam Mughnil Muhtaj –salah satu kitab fikih Syafi’iyah- disebutkan, “Tata cara Sujud Sahwi sama seperti sujud ketika shalat dalam perbuatann wajib dan sunnahnya, seperti meletakkan dahi, thuma’ninah (bersikap tenang), menahan sujud, menundukkan kepala, melakukan duduk iftirosy [Duduk iftirosy adalah keadaan duduk seperti ketika Tasyahud awwal, yaitu kaki kanan ditegakkan, sedangkan kaki kiri diduduki pantat] ketika duduk antara dua Sujud Sahwi, duduk tawarruk [Duduk Tawaruk adalah duduk seperti Tasyahud akhir, yaitu kaki kanan ditegakkan sedangkan kaki kiri berada di bawah kaki kanan] ketika selesai dari melakukan Sujud Sahwi, dan zikir yang dibaca pada kedua sujud tersebut adalah seperti zikir sujud dalam shalat.”

Sebagaimana pula diterangkan dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) ketika ditanya, “Bagaimanakah kami melakukan Sujud Sahwi?”

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah menjawab:

“Sujud Sahwi dilakukan dengan dua kali sujud setelah Tasyahud akhir sebelum salam, dilakukan sebagaimana sujud dalam shalat. Zikir dan doa yang dibaca ketika itu adalah seperti ketika dalam shalat. Kecuali jika Sujud Sahwinya terdapat kekurangan satu rakaat atau lebih, maka ketika itu, Sujud Sahwinya sesudah salam. Demikian pula jika orang yang shalat memilih keraguan yang ia yakin lebih kuat, maka yang afdhol baginya adalah Sujud Sahwi sesudah salam. Hal ini berlandaskan berbagai hadis Shahih yang membicarakan Sujud Sahwi. Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.” [Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua; Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua; dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud sebagai anggota. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ soal ketujuh, Fatwa no. 8540, 7/129]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
2017-09-07T05:38:43+00:00 7 September 2017|Fikih dan Muamalah, Sifat Sholat Nabi|0 Comments

Leave A Comment