Posts

LIMA HIKMAH TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN

LIMA HIKMAH TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LIMA HIKMAH TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN
 
Pertama:
Sebagai bantahan bagi Yahudi yang mengklaim, bahwa mereka telah membunuh Isa bin Marya. Sungguh Allah akan mengungkap kedustaan mereka. Isa nantinya yang akan membunuh mereka dan membunuh pemimpin mereka, yaitu Dajjal.
 
Kedua:
Isa bin Maryam telah menemukan dalam Injil mengenai keutamaan umat Muhammad ﷺ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
 
وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ
 
“Dan sifat-sifat mereka (para sahabat Nabi ﷺ) dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman kuat, lalu menjadi besarlah dia, dan tegak lurus di atas pokoknya” [QS. Al Fath: 29]. Dari sini, Nabi Isa memohon kepada Allah agar menjadi bagian dari mereka (para sahabat). Allah pun mengabulkan doanya. Allah membiarkan Nabi Isa hidup hingga akhir zaman. Nabi Isa pun akan menjadi pengikut Muhammad ﷺ. Ketika Dajjal muncul, Nabi Isa pun yang menumpasnya.
 
Ketiga:
Turunnya Isa dari langit semakin dekat dengan ajal beliau. Nabi Isa pun akan dimakamkan di muka bumi. Oleh karena itu ini menunjukkan, bahwa tidak ada makhluk yang terbuat dari tanah yang mati di tempat lain selain bumi.
 
Keempat:
Turunnya Nabi Isa juga adalah untuk membungkam kaum Nasrani. Sungguh Allah akan membinasakan berbagai agama di masa Isa turun kecuali satu agama saja yang tersisa, yaitu Islam. Isa pun akan menghancurkan salib-salib, membunuh babi dan menghapuskan jizyah (artinya tidak ada pilihan jizyah, yang ada hanyalah pilihan untuk masuk Islam).
 
Kelima:
Nabi ﷺ pernah bersabda:
 
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
 
“Aku orang yang paling dekat dengan ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam di dunia dan Akhirat, dan para Nabi adalah bersaudara (dari keturunan) satu ayah dengan ibu yang berbeda, sedangkan agama mereka satu.” [HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365, dari Abu Hurairah]. Rasulullah ﷺ adalah yang terspesial dan yang paling dekat dengan beliau. Isa bin Maryam sendiri telah memberi kabar gembira, bahwa Rasulullah ﷺ akan datang setelah beliau. Nabi Isa pun mengajak umatnya untuk membenarkan dan beriman terhadap hal itu, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
 
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
 
“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” [QS. Ash Shaff: 6]. [Lihat Asyrotus Saa’ah, 161-162]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#limahikmahturunnyanabiIsadiakhirzaman #5hikmah #turunnyanabiIsadiakhirzaman #Yesus, #Jesus #masihhidup #faidah #faedah #hikmahturunnyanabiIsa #tauhid #akidah #aqidah #membunuhDajjal #menghancurkansalib #membunuhbabi #umatNabiMuhammad #menghapusupeti #menghapusjizyah #pengikutNabiMuhammad #NabiIsabukanTuhan
,

AKIDAH TRINITAS, HAKIKAT DAN BUKTI KEKELIRUANNYA

AKIDAH TRINITAS, HAKIKAT DAN BUKTI KEKELIRUANNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
AKIDAH TRINITAS, HAKIKATNYA DAN BUKTI KEKELIRUANNYA
Penulis: Syaikh Dr. Khalid bin Abdillah bin Abdil Aziz Al Qasim
 
 
الحمد لله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله
Amma ba’du,
 
 
Yang pertama kali mesti kita lakukan adalah mendefinisikan Trinitas yang diimani oleh kaum Nasrani, karena mereka pun berselisih dalam banyak pendapat mengenai definisi Trinitas itu sendiri. Yang akan kami paparkan adalah definisi yang disepakati oleh mayoritas Nasrani. Bahkan ini adalah akidah yang mereka sepakati dalam Konsili Nicea pertama tahun 325 Masehi. Dan ini adalah teks yang paling tegas yang mereka tetapkan, serta menjadi rujukan utama mereka dalam menjelaskan kitab-kitab suci mereka, dan perkataan-perkataan Nabi mereka.
 
Berikut ini adalah pernyataan dalam Konsili Nicea:
“Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, semua kelihatan dan yang tak kelihatan.
 
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah Yang Tunggal, lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, Terang dari Terang. Allah Yang Sejati dari Allah Yang Sejati, diperanakkan, bukan dibuat; sehakikat dengan Sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat.
 
Ia telah turun dari Surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia.
 
Ia disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus; menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi kitab-kitab, dan naik ke Surga.
 
Ia duduk di sebelah kanan Sang Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir.
 
Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan yang menguasai dan menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak, yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan; yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi”.
 
Maka Timur dari sini kita lihat, bahwa mayoritas Nasrani, dari Katolik, Ortodoks dan Protestan, dan mayoritas gereja di Timur dan di Barat beriman, bahwa Tuhan itu satu, namun terdiri dari tiga pribadi (Hipostasis). Sebagaimana akidah kaum Nasrani terdahulu, Sesembahan mereka memiliki tiga bagian, yaitu tiga dzat yang terpisah, namun hakikatnya satu menurut mereka. Yaitu: Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruh Kudus.
 
Dari sini maka kita katakan:
 
Pertama:
Akidah ini merupakan bid’ah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama) yang besar, yang dibuat oleh mereka. Akidah ini tidak dikenal dalam agama Samawi manapun. Juga tidak dikenal oleh para Nabi Allah terdahulu, padahal nabi-nabi ini dikenal oleh Yahudi dan Nasrani, seperti: Nuh, Ibrahim, Luth, Ishaq, Yaqub ‘alahissalam. Bahkan juga tidak dikenal oleh para Nabi Bani Israil yang telah sampai kabarnya kepada kaum Nasrani. Seperti Yaqub, Yusuf, Musa, Harun, Daud dan Sulaiman ‘alaihissalam.
 
Keyakinan ini juga tidak terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang diimani oleh kaum Nasrani, yang juga memuat kabar-kabar tentang para Nabi dan dakwah mereka. Tidak terdapat di sana, bahwa mereka mendakwahkan akidah Trinitas, atau mengucapkan kata-kata Trinitas atau yang semakna dengannya. Bahkan Mutawatir (sangat banyak kabarnya), bahwa mereka mendakwahkan akidah yang didakwahkan oleh para Nabi sejak Nuh sampai Muhammad ﷺ. Yaitu mendakwahkan untuk menyembah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya. Ini pun terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama milik Yahudi dan Nasrani.
 
Di antaranya:
 
• Firman Allah kepada Ibrahim ‘alahissalam dalam Perjanjian Lama, Kitab Kejadian (17:7): “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allah-mu dan Allah keturunanmu.”
 
• Firman Allah kepada Nabi Musa ‘alaihissalam di bukit Thursina, sebagaimana dalam Perjanjian Lama, Kitab Keluaran (3:15): “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kau katakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.”
 
• Dalam Kitab Keluaran (4:5), firman Allah kepada Musa: “Supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.”
 
• Dalam Kitab Yesaya (44:6): “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku”
 
• Salah satu Nabi mereka, Hezekiah juga berkata sebagaimana dalam Kitab Yesaya (37:16): “Hanya Engkau sendirilah Allah”
Maka meyakini akidah Trinitas berkonsekuensi meyakini, bahwa para Nabi dan Rasul ini sesat dan menyesatkan pemahamannya terhadap ilah mereka, terhadap Rabb mereka dan Pencipta mereka. Dan kaum Nasrani yang didakwahkan para Nabi tersebut baru tercerahkan pada abad ke 4 Masehi!
 
Kedua
Akidah Trinitas bertentangan dengan agama Isa Al Masih ‘alaihissalam. Beliau tidak pernah menyatakan mengenai penyembahan kepada Tuhan yang terdiri dari tiga Hipostasis. Bahkan Isa mengingkari Trinitas sebagaimana terdapat dalam Injil, dan Injil adalah sumber akidah kaum Nasrani.
 
Dalam Encyclopedia of European Social History dalam bahasa Perancis disebutkan tentang akidah Trinitas:
“Akidah ini tidak ada dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, juga tidak ada dalam amalan para Bapa Rasuli dan juga para murid dekat mereka. Namun gereja Katolik dan satu sekte dalam aliran Protestan mereka menyatakan, bahwa akidah Trinitas itu diterima oleh semua kaum Nasrani di setiap zaman.”
 
Juga terdapat dalam Bustani’s Encyclopedia (19/28): “Kata-kata ‘Tiga yang satu‘ tidak ada dalam kitab-kitab suci. Adapun yang menjadi dalil bagi kaum Nasrani dari Injil adalah perkataan Isa Al Masih ‘alaihissalam: “Manusia berpegang pada nama Bapa, nama Anak, dan Ruh Kudus” (Matius, 28:19).
 
Maka di sini perlu diperhatikan dua hal:
 
1. Perlu dibuktikan validitas perkataan Isa Al Masih tersebut. Dan perkataan ini tidak terdapat dalam semua Injil. Telah kita ketahui bersama, bahwa Injil mengalami banyak perbedaan dan pengubahan, bahkan kehilangan banyak teks aslinya. Karena Injil ditulis dengan bahasa Aramaic, dan injil ini sudah hilang. Injil yang ada adalah dengan bahasa Yunani menurut pengakuan kaum Nasrani.
 
2. Kita wajib menafsirkan perkataan Isa Al Masih (jika valid), atau perkataan-perkataan lain yang samar, dengan membawanya kepada ayat-ayat yang tegas. Yaitu ayat-ayat yang mengajak untuk menyembah Allah semata, dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Sebagaimana yang ada dalam Yohannes (17:3) mengenai perkataan Isa ‘alaihissalam ketika berbicara kepada Allah dalam keadaan kepalanya melihat ke langit. Isa Al Masih mengatakan: “Inilah hidup yang kekal sehingga mereka mengenal Anda, satu-satunya Allah yang benar dan Al Masih yang telah Engkau utus.“
 
Ketiga:
Kata-kata “Hipostasis”, yang merupakan inti dari akidah Trinitas juga tidak terdapat dalam Injil. Bahkan juga tidak terdapat dalam kitab-kitab para Nabi mereka. Juga tidak ada dalam perkataan para Hawariyyin (Bapa Rasuli) mereka. Bahkan juga tidak terdapat dalam pernyataan-pernyataan akidah mereka yang mereka ada-adakan dahulu. Kata-kata “Hipostasis” baru muncul setelah masa-masa itu.
 
 
Keempat:
Lafal “Anak Allah” yang ada dalam sebagian ayat Injil semestinya dikembalikan kepada perkataan Isa Al Masih ‘alaihissalam. Dan juga dikembalikan kepada kitab-kitab Samawi yang lain, yang disana “Anak Allah” dimaknai sebagai perlindungan dan kecintaan. Dan “Perlindungan dan kecintaan” ini tidak khusus terdapat dalam diri Isa Al Masih saja. Bahkan di Perjanjian Lama yang diimani oleh kaum Nasrani, Allah berfirman kepada Daud ‘alaihissalam: “Engkau adalah anak-Ku. Hari ini Aku telah memperanakkanmu. Mintalah kepada-Ku, dan Aku akan memberikan bangsa-bangsa kepadamu sebagai warisanmu” (Mazmur, 2:7-8). Bahkan Al Masih mengatakan: “Diberkatilah mereka yang membawa damai, sebab mereka akan disebut anak-Anak Allah” (Matius, 5:9). Beliau juga mengatakan: “Anak-Anak Allah adalah orang-orang yang beriman dengan nama-Nya” (Yohannes, 1:38).
 
Kelima:
Konteks dari pernyataan Isa Al Masih ‘Manusia berpegang pada nama Bapa, nama Anak, dan Ruh Kudus‘ maksudnya adalah pembaptisan, bukan maknanya penyembahan namun tabarruk dan bersumpah dengan nama mereka.
 
Sebagaimana makna “Bapa” maknanya adalah dzat yang mencintai dan memelihara. Terdapat dalam kitab Yohannes (20:17): “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakan kepada mereka, ‘Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu“.
 
Bahkan sifat “Anak Tuhan” ini dalam Pernjanjian Lama disematkan kepada semua anak Adam. Sebagaimana dalam kitab Kejadian Bab ke 6, di bagian awalnya. Ketika berbicara tentang manusia setelah Adam: “(1) Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, (2) Maka anak-Anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.“
 
Juga dalam kitab Yesaya (64:8), perkataan Yesaya: “Ya Tuhan, engkau adalah Bapa kami“.
 
Dan Injil juga dipenuhi dengan berbagai pernyataan, bahwa Isa ‘alaihissalam adalah anak manusia. Ini ada di puluhan tempat, di antaranya: Lukas (17:22), Lukas (18:8), Markus (2: 28), Matius (12:33), Matius (18:21), Yohanes (19:27).
 
Sebagaimana perkataan Isa Al Masih kepada orang-orang yang ingin membunuhnya: “Kamu berusaha membunuh aku. Aku, seorang manusia yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang kudengar dari Allah” (Yohanes, 8:40). Kemudian beliau berkata: “Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yohanes, 8:41). Bahkan ketika ada yang mengatakan kepada Isa, bahwa ia adalah Anak Allah, maka di akhir jawabannya Isa ia mengatakan, bahwa ia anak manusia semata (Yohanes, 1:49-50). Dan makna perkataan “Rabbi” jika disematkan kepada Isa Al Masih, maka maknanya adalah “wahai guru”. Sebagaimana terdapat dalam Yohannes (1:38). Demikianlah, ayat yang muhkam (tegas) menafsirkan yang mutasyabih (samar).
 
Allah subhanahu wa taala telah mengingkari, bahwa Allah memiliki anak, dalam firman-Nya:
 
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا * لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا * تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا * أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا * وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا
 
“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” [QS. Maryam: 88-92]
 
Klaim adanya anak bagi Allah adalah bentuk tahrif (penyelewengan perkataan) dari para Nabi. Karena Allah taala telah mengingkari, bahwa para Nabi berkata demikian:
 
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاء اللّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاء وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاء وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
 
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:”Kami ini adalah anak-Anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-Anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)” [QS. Al Maidah: 18]
 
Adapun bahwasanya terdapat ruh Allah dalam diri Isa Al Masih, maka terdapat ayat juga dalam Injil, bahwa dalam diri Yusuf terdapat ruh Allah, sebagaimana terdapat dalam Perjanjian Lama kitab Kejadian (41:38).
 
Keenam:
Akidah Trinitas bertentangan dengan akal, dan bertentangan dengan kesempurnaan Allah subhanahu wa taala.
 
Kalau ditanyakan kepada mereka: “Apakah Tuhan kalian itu diri dari tiga bagian?”.
 
Kalau mereka menjawab: “Ya benar, Tuhan kami menyatakan dirinya terdiri dari beberapa bagian dan masing-masing bagiannya saling membutuhkan kepada yang lainnya”. Maka ini jelas bertentangan dengan akal dan bertentangan dengan kesempurnaan Tuhan.
 
Kalau mereka menjawab: “Allah itu satu tapi tiga”, sebagaimana keyakinan kebanyakan mereka dan keyakinan mereka ini juga disebutkan oleh Allah dalam Alquran, maka kita jawab: “Berarti kalian menyatakan, bahwa Tuhan kalian itu bukan Allah semata, namun ada Tuhan yang lain. Dan inilah inti kesyirikan yang bertentangan dengan pernyataan kalian sendiri, bahwa kalian menyembah Tuhan yang Esa”.
 
Kalau mereka menjawab: “Tuhan kami terdiri dari tiga pribadi (Hipostasis) yang menyatu menjadi satu”. Maka kita jawab: “Bagaimana keadaan Tuhan sebelum adanya penyatuan ini? Apakah Ia dalam keadaan kekurangan dan butuh pada penyatuan? Ataukah Ia sudah sempurna andaikan tidak terjadi penyatuan?”
 
Ketujuh:
Dalam akidah Trinitas terdapat kontradiksi dan pertentangan. Karena mereka berkeyakinan, bahwa Tuhan itu satu, namun mereka juga mengatakan: “Kami beriman kepada Tuhan yang Esa, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruh Kudus”.
 
Jika mereka mengatakan: “Tiga hal ini adalah sifat bagi Tuhan yang Esa”, sebagaimana perkataan sebagian mereka dalam perdebatan, maka kita katakan: “Tiga hal ini adalah dzat yang terpisah sebagaimana telah jelas dalam teks-teks akidah mereka, dan ini juga sudah menjadi pengetahuan semua orang”.
 
Demikian juga sifat Allah itu tidak terbatas pada tiga saja, bahwa Allah subhanahu wa taala itu Maha Sempurna, memiliki sifat-sifat yang lebih tinggi dari tiga sifat tersebut (andaikan dianggap sebagai sifat), seperti sifat Al Ilmu (Maha Mengetahui), Ar Rahmah (Maha Penyayang), dan sifat-sifat yang lainnya.
 
Kedelapan:
Mengenai Akidah Al Hulul. Yaitu keyakinan menitisnya Tuhan kepada makhluk-Nya. Mereka mengatakan inilah yang terjadi pada Isa Al Masih. Karena ia terdiri dari Lahut (Sisi Ketuhanan) dan Nasut (Sisi Manusiawi). Keyakinan al Hulul ini merupakan sesuatu yang mereka sepakati, dan merupakan bagian dari iman mereka. Padahal keyakinan ini memiliki landasan akal maupul naql (dalil). Yang Maha Pencipta tidak mungkin bercampur dengan makhluk. Dan tidak mungkin bersatu, sebagaimana ini mudah dipahami oleh akal yang jernih. Oleh karena itu tidak ada Nabi yang mengatakan, bahwa Allah bersatu dengan salah satu makhluk-Nya. Dengan demikian, tidaklah shahih apa yang ada dalam Injil perkataan sebagai berikut: “Tidak percayakah engkau, bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam aku? Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diri-ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam aku. Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” (Yohanes, 14:10). Juga tidak shahih perkataan Al Masih: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes, 10:30).
 
Karena jika demikian, berarti Isa menitis juga pada diri murid-muridnya. Sebab dikatakan dalam Injil di bab yang sama: “Aku dalam diri Bapaku, dan kalian dalam diriku, dan aku dalam diri kalian.“
 
Oleh karena itu wajib untuk menafsirkan perkataan “Dalam diriku” dan perkataan “Bersamaku” dalam Injil, dan yang paling layak menafsirkannya adalah Al Masih sendiri. Dan mereka (kaum Nasrani) pun tidak pernah mengatakan, bahwa Al Masih menitis pada diri murid-muridnya, sebagaimana yang bisa dipahami dalam ayat di atas. Maka tafsir perkataan “Dalam diriku” ini dikembalikan kepada ayat-ayat yang muhkam, dan puluhan ayat telah menegaskan, bahwa Al Masih adalah manusia biasa.
 
Di antaranya dalam Injil Lukas (24:9) dengan teks yang sangat tegas: “Jesus dari Nazareth, adalah seorang manusia yang merupakan Nabi”. Dan makna dari “Aku dan Bapa adalah satu” adalah sebagaimana dari Alquran:
 
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
 
“Barang siapa yang menaati Rasul itu sesungguhnya ia telah menaati Allah” [QS. An Nisa: 80).
 
Dan firman-Nya:
 
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّه
 
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah” [QS. Al Fath: 10]
 
Dan semisal dengan yang terdapat dalam Hadis Qudsi:
 
فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به
 
“Jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku adalah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Dan Aku adalah penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat.” [HR. Bukhari no. 6502]
 
Maksudnya dengan cahaya dan petunjuk dari Allah.
 
Kesembilan:
Kaum Nasrani itu berselisih pendapat dan saling kontradiktif tentang hakikat Rabb mereka yang mereka jadikan tiga bagian tersebut. Kita dapati sekte Nestorian mengatakan: “Tuhan itu tidak dilahirkan, tidak disalib, dan Maryam tidak melahirkan Tuhan, melainkan hanya manusia biasa. Tidak ada Lahut dalam dirinya”. Walaupun sekte-sekte Nasrani yang lain mengafirkan sekte ini dan melaknatnya dalam Konsili Ephesus tahun 431M.
 
Kita juga mendapati sekte Gereja Timur Mesir mengatakan: “Al Masih memiliki satu sifat saja (manusia), namun daging dan darahnya adalah Tuhan”. Karena sebab inilah diadakan konsili Khalkedon tahun 451M, untuk menetapkan, bahwa Al Masih memiliki dua sifat (Lahut dan Nasut). Maka sekte Gereja Timur Mesir memisahkan diri dari hal ini.
 
Adapun sekte Maronit di Libanon mereka mengatakan: “Al Masih memiliki dua sifat, namun kehendaknya hanya satu”. Sehingga diadakanlah Konsili Konstantinopel pada 680M untuk mengafirkan mereka (Maronit).
 
Sektre Ya’kubiyah di Irak mengatakan: “Al Masih memiliki satu sifat yang menggabungkan antara Lahut dan Nasut”. Ini menyelisihi sekte-sekte lainnya. Dan di abad ke-9 Masehi terdapat perselisihan antara kaum Nasrani mengenai Ruh Kudus, yang merupakan pribadi yang ketiga dari Trinitas. Sekte Gereja Timur mengatakan Ruh Kudus ini muncul dari Tuhan Bapa. Sedangkan sekte Gereja Barat mengatakan Ruh Kudus itu muncul dari Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Kemudian mereka memisahkan diri, dan ini dalam Konsili Konstantinopel tahun 879M.
 
Sekte Gereja Ortodoks Timur mengatakan: “Tiga pribadi (Hepostasis) adalah tahapan ketika Tuhan berpaling kepada manusia”. Sedangkan Sekte Gereja Ortodoks Barat mengatakan: “Tiga pribadi (Hepostasis) adalah tiga dzat yang berbeda”.
 
Allah subhanahu wa taala membantah semua pendapat ini dengan bantahan yang telak:
 
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
 
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”” [QS. Al Maidah: 72]
 
Dan bantahan yang kedua:
 
لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ
 
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”” [QS. Al Maidah: 73]
 
Kita juga dapati sekte Remtain yang menyembah Al Masih dan ibunya. Maka Allah taala membantahnya dengan firman-Nya:
 
مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَة
 
“Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar” [QS. Al Maidah: 75]
 
Demikian jelaslah, bahwa akidah Trinitas itu secara gamblang telah MENYIMPANG dari ajarannya para Nabi, BERTENTANGAN dengan fitrah, BERTENTANGAN dengan kesempurnaan Rabb, dan BERTENTANGAN dengan akal. Bahkan Al Masih tidak pernah menegaskan akidah ini, bahkan yang ia tegaskan adalah sebaliknya.
 
Sebagaimana juga kaum Nasrani saling kontradiksi dan berselisihi dalam hal ini, sampai-sampai dikatakan: “Kaum Nasrani sebenarnya tidak tahu apa makna dari Trinitas itu sendiri”. Ini karena Trinitas itu hakikatnya tidak ada, hanya sekedar istilah yang mereka buat-buat, yang tidak pernah Allah turunkan dalil tentangnya.
 
 
وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
 
 
Rujukan:
 
1. Alquranul Karim
2. Kitab-kitab tafsir Alquran
3. Injil Perjanjian Lama
4. Injil Perjanjian Baru
5. Al Milal wan Nihal, karya Asy Syahrastani
6. Ar Radd Al Jamil ‘ala Ilahiyati Isa bi Sharihil Injil, karya Al Ghazali
7. Al Fashl fil Ahwa wal Milal wan Nihal, karya Ibnu Hazm Al Andalusi
8. Al Jawabus Shahih liman Baddala Dinal Masih, karya Ibnu Taimiyah
9. Hidayatul Hayari fi Ajwibatil Yahudi wan Nasrani, karya Ibnul Qayyim
10. Da’iratul Ma’arif (Ensiklopedia Al Bustani), karya Butrus Al Bustani
11. Da’iratul Ma’arif Al Qarnil Isyrin (Ensiklopedia Abad 20), karya Farid Wajdi
12. Izharul Haq, karya Rahmatullah Al Hindi
13. Al Mausu’ah Al Muyassarah lil Adyan wal Madzahib Al Mu’asharah, karya An Nadwah Al Alamiyah lisy Syabab Al Islami
 
 
 
Penerjemah: Yulian Purnama
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#akidah, #aqidah, #akidahTrinitas, #Trinitas, #Yesus, #Jesus, #TuhanAllah, #AnakTuhan, #Konsep, #Syirik, #Kafir, #tauhid#buktikekeliruan, #hakikat, #hakekat #IsaAlMasih, #PutraMaryam, #AllahyangTiga #Lahut, #SisiKetuhanan, #Nasut, #sisiManusiawi #Hipostasis, #anakAllah #SatudariTuhanyangTiga
,

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB

SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT NATAL ARTINYA SELAMAT ATAS SUJUDNYA KEPADA SALIB
>> Patutkah seorang Muslim mengucapkannya?
 
Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
 
وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ
 
“Mengucapkan Selamat Natal kepada orang Nasrani sama saja dengan mengucapkan “Selamat atas sujudnya kepada Salib.”. Maka itu lebih besar dosanya dan kemurkaannya di sisi Allah, daripada mengucapkan:
• Selamat minum khamar,
• Selamat membunuh jiwa,
• Selamat berzina dan yang semisalnya.
Dan banyak orang yang tidak memiliki pemuliaan terhadap agama (Islam) melakukan hal tersebut, sedang ia tidak mengetahui kejelekan perbuatannya itu. Padahal siapa yang mengucapkan Selamat terhadap seseorang karena satu kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran, maka sungguh ia telah mengantarkan dirinya kepada kemurkaan dan kemarahan Allah.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/441]
 
Di Antara Dalil Kufurnya dan Haramnya Mengucapkan Selamat Natal Adalah Kesepakatan (Ijma’) Ulama
 
Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah juga berkata:
 
وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ
 
“Adapun mengucapkan Selamat terhadap simbol-simbol kekafiran yang merupakan ciri khususnya, maka hukumnya HARAM berdasarkan kesepakatan ulama, seperti seseorang mengucapkan Selamat terhadap hari raya orang-orang kafir dan puasa mereka. Contohnya ia mengatakan: Semoga Hari Raya ini menjadi berkah bagimu. Atau mengatakan: “Semoga engkau bahagia dengan Hari Raya ini,” dan yang semisalnya. Maka dengan sebab ucapannya ini, andai ia selamat dari kekafiran, maka ia tidak akan lepas dari perbuatan yang haram.” [Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441]
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahulla

#selamatnatal #selamatatassujudnyakepadasalib #hukum #ucapan #mengucapkan #selamatnatal #Natalan #Christmas #MerryChristmas #25Desember #Trinitas #syirik #haram #selamatberibadahkepadasalib #Yesus #Jesus #fatwaulama #simbol #atribut #Kristen #Kristiani

,

EMPAT KAIDAH PENTING DALAM MEMAHAMI SYIRIK DAN TAUHID

EMPAT KAIDAH PENTING DALAM MEMAHAMI SYIRIK DAN TAUHID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

EMPAT KAIDAH PENTING DALAM MEMAHAMI SYIRIK DAN TAUHID

[Terjemah Al Qawaai’dul Arba’]

Aku memohon kepada Allah yang Mulia, Rabb pemilik ‘Arsy yang agung. Semoga Allah menjadikanmu wali di dunia dan Akhirat, dan menjadikan engkau orang yang mendapatkan berkah di mana pun engkau berada. Dan menjadikan engkau orang yang bila mendapatkan nikmat selalu bersyukur, jika mendapatkan musibah senantiasa bersabar, jika berbuat dosa segera beristighfar. Maka sesungguhnya ini adalah tiga sumber kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah senantiasa menunjuki Anda dalam ketaatan kepada-Nya, bahwasanya milah Ibrahim yang lurus adalah engkau menyembah Allah semata dengan ikhlas. Itulah perintah Alllah kepada seluruh manusia, dan itu pula tujuan makhluk diciptakan. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz Dzariyat:56].

Dan jika Engkau telah mengetahui, bahwasannya Allah menciptakanmu untuk menyembah kepada-Nya, maka ketahuilah, bahwasannya ibadah itu tidaklah dinamakan ibadah, kecuali disertai tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah dinamakan shalat, kecuali disertai dengan thaharah. Jika syirik bercampur dalam ibadah, ia akan merusaknya. Sebagaimana hadats membatalkan thaharah.

Maka apabila engkau telah mengetahui, bahwasanya syirik bila bercampur di dalam ibadah, ia dapat merusak ibadah itu, membatalkan amalan, dan menjadikan pelakunya kekal di dalam Neraka, engkau akan mengetahui pentingnya atas kalian untuk mengenal dan mengilmui perkara ini. Semoga Allah senantiasa melepaskan engkau dari jeratan itu, yaitu syirik kepada Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya, bagi siapa yang Dia kehendaki.” [QS. An-Nisaa ayat 48].

Dan memahami perkara ini (syirik), yaitu dengan mengetahui empat kaidah, sesuai dengan yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya:

Kaidah Pertama

Hendaknya engkau mengetahui, bahwasanya orang-orang kafir yang memerangi Rasulullah ﷺ. Mereka meyakini, bahwasanya Allah ta’ala-lah Pencipta dan Pengatur alam semesta. Akan tetapi itu tidaklah menjadikan mereka Muslim. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab “Allah”, maka katakanlah mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).” [QS. Yunus ayat 31]

Kaidah Kedua

Sesungguhnya mereka berkata: “Kami menyembah mereka (tandingan-tandingan selain Allah), dan bersimpuh kepada mereka, adalah hanya untuk Qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) dan meminta syafaat”.

Dalil tentang Qurbah, firman Allah ta’ala:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidaklah menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [QS. Az Zumar ayat 3].

Dalil tentang syafaat, firman Allah ta’ala:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka, dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” [QS. Yunus ayat 18]

Syafaat itu dibagi dua macam, yaitu Syafaat Manfiyah dan Syafaat Mutsbatah:

Syafaat Manfiyah (yang tertolak), yaitu engkau meminta kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya Allah yang mampu melakukannya. Dalilnya firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah), sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari itu tidak ada lagi jual-beli, dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafaat. Mereka itulah orang-orang yang zalim.” [QS. Al Baqarah ayat 254].

Syafaat Mutsbatah (syafaat yang ditetapkan), adalah syafaat yang diminta dari Allah dengan izin dari-Nya. Pemberi syafaat adalah pihak yang dimuliakan dengan syafaat, dan yang diberi syafaat adalah pihak yang Allah ridai perkataannya dan perbuatannya, setelah adanya izin Allah. Dalilnya firman Allah ta’ala:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Siapakah yang dapat memberi syafaat, kecuali dengan izin-Nya.?” [QS. Al Baqarah ayat 255]

Kaidah Ketiga

Bahwasanya Nabi ﷺ hidup di tengah berbagai macam manusia dalam peribadatan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, ada yang menyembah pohon-pohon dan batu-batu, dan ada yang menyembah matahari dan bulan. Namun Rasulullah ﷺ memerangi mereka semua dan tidak membeda-bedakannya. Dalilnya firman Allah ta’ala:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada lagi fitnah, dan (sehingga) ketaatan itu semata-mata untuk Allah.” [QS. Al Anfal: 39].

Dalil tentang penyembahan matahari dan bulan, firman Allah ta’ala:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah, yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” [QS. Al Fushilat ayat 37]

Dalil tentang penyembahan malaikat, firman Allah ta’ala:

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan” [QS. Ali Imran ayat 80].

Dalil tentang penyembahan para Nabi, firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku, dua orang Tuhan selain Allah?” Isa menjawab “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau mengetahui perkara-perkara yang gaib.” [QS. Al Maiadah ayat 116]

Dalil tentang penyembahan orang-orang saleh, firman Allah ta’ala:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

“Orang-orang (saleh) yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mengharapkan rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” [QS. Al Isra: 57]

Dalil tentang penyembahan pohon dan batu, firman Allah ta’ala:

أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik), menganggap Al Latta dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah.” [QS. An Najm ayat 19-20].

Dan hadis Abi Waaqid Al Laitsy:

خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط

“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju ke Hunain. Ketika itu kami baru saja terbebas dari kekafiran. Kaum musyrikin memiliki pohon bidara yang mereka jadikan tempat i’tikaf, dan menggantungkan senjata mereka padanya. Pohon tersebut dinamakan “Dzatu Anwath”. Kemudian kami melalui sebatang pohon bidara, dan kami berkata “Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami “Dzatu Anwath” sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”

Kaidah keempat

Bahwasanya orang-orang musyrik di zaman sekarang lebih parah perbuatan syiriknya dari kaum Musyrikin terdahulu. Dikarenakan mereka (kaum Musyrikin terdahulu) menyekutukan Allah dalam keadaan lapang, tetapi ikhlas kepada Allah dalam keadaan sempit. Sedangkan orang-orang musyrik di zaman sekarang menyekutukan Allah terus-menerus dalam keadaan lapang maupun sempit. Dalilnya firman Allah ta’ala:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan ikhlas kepada-Nya, tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) memersekutukan (Allah).“ [QS. Al Ankabuut ayat 65].

Selesai.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam

 

Penerjemah: Ummu Nadhifah Endang Sutanti

Sumber: https://Muslimah.or.id/6921-empat-kaidah-penting-dalam-memahami-syirik-dan-tauhid-terjemah-al-qawaaidul-arbaah.html

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

SYUBHAT & BANTAHANNYA UNTUK MEREKA YANG MENUHANKAN NABI ISA

Dikatakan oleh mereka yang menuhankan Yesus:

  • Nabi Isa mengetahui kapan Hari Kiamat, bisa menciptakan burung, menghidupkan orang mati.
  • Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad ﷺ berkata, bahwa nyawanya berada di tangan Yesus Kristus.
  • Apakah Allah pernah bicara dan memberikan wahyu langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ?

Syubhat:

Hanya pada Allah pengetahuan Hari Kiamat [Surat Luqman ayat 43]  > Isa mengetahui Hari Kiamat [Surat Az- Zukhruf  ayat 61] > Siapakah Isa?? Muhammad saja tidak tahu kapan Hari Kiamat.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda mengutip [Surat Az- Zukhruf ayat 61] untuk dijadikan dalil Isa alaihi salam sebagai Tuhan?? Tidakkah Anda baca secara utuh, sejak ayat sebelumnya yaitu [Surat Az- Zukhruf  ayat 59]:

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba, yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian), dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel.”

Begitu jelas pada ayat tersebut, Allah menyebut Isa alaihi salam sebagai hamba-Nya dan nabi-Nya.

Di antara akidah keyakinan Islam adalah DIANGKATNYA Isa alaihi salam ke langit, dan dia akan TURUN ke bumi pada akhir zaman, menjelang Hari Kiamat. Dia akan menjadi imam dan hakim yang adil, serta MEMBUNUH BABI dan MENGHANCURKAN SALIB.

Mujahid yang hidup di generasi sesudah sahabat Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan [Surat Az- Zukhruf  ayat 61]:

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat.” Bahwa TANDA Kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum terjadinya Kiamat,yakni turunnya Isa alaihi salam ke bumi, merupakan PERTANDA telah dekatnya Hari Kiamat.

Sebagai tambahan, bahwa seluruh nabi dan rasul sudah memeringatkan umatnya akan datangnya Hari Kiamat. Bahkan Rasulullah Muhammad ﷺ telah menyebutkan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat, dan apa saja yang akan terjadi pada saat itu. Namun tidak seorang nabi pun yang tahu, kapan hari terjadinya Kiamat, TIDAK JUGA Nabi Isa alaihi salam.

Syubhat:

> Isa bisa menciptakan burung [Surat Ali Imran ayat 49]

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Lagi-lagi Anda gegabah dalam membaca ayat. Baiklah saya tampilkan [Surat Ali Imran ayat 49] tersebut:

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel ( yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung DENGAN SEIZIN ALLAH. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya, dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…”

Perhatikan bahwa semua itu ATAS SEIZIN ALLAH.

Setiap Rasul diberi oleh Allah mukjizat, sebagai tanda dan bukti kebenaran bagi umatnya, atas apa yang mereka bawa dari Allah. Di antara mukjizat para Rasul adalah membelah laut dan tongkat menjadi ular seperti Nabi Musa, membelah bulan dan keluar air dari jari jemari seperti Nabi Muhammad ﷺ, tidak terbakar saat dibakar kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, dan menghidupkan orang mati dengan seizin Allah seperti Nabi Isa alaihimus salam.

Tidakkah Anda tahu, bahwa Nabi Isa bukan satu-satunya yang Allah izinkan menghidupkan orang mati? Pada [Surat al-Baqarah ayat 267-273] diceritakan kisah menghidupkan orang mati pada kaumnya Nabi Musa, yaitu pada kisah sapi betina. Juga Dajjal bisa menghidupkan orang mati untuk menipu orang-orang yang lemah imannya, agar mengakui dia sebagai Tuhan. Mengapa Anda tidak menuhankan Dajjal??

Syubhat:

Hadis Mutiara III No. 425 berbunyi “Muhammad bersabda: Nyawaku di tangan Dia anak putra Maryam. > Muhammad yang di agung-agungkan saja menyerahkan nyawanya ke tangan ISA-Yesus Kristus.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda ini mengarang hadis palsu?? Bisa sebutkan teks aslinya dan terdapat di kitab hadis mana? Atau barangkali Anda membeo kata pendeta-pendeta Anda, tanpa recek kebenarannya? Hmm … Barangkali tidak mengherankan, semacam ini sudah disinyalir dalam Alquran: “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kalian menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: “Ia dari sisi Allah,” padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui.” [Surat Ali Imran ayat 78].

Al-Kitab saja berani mereka ubah-ubah, apalagi hadis Nabi …

Syubhat:

> Boleh dibuka Alquran, dan cari, apakah ada pernah Allah berbicara dan memberikan wahyu langsung kepada Muhammad ﷺ??? Jawabannya tidak ada, boleh dicek. Yang ada semua itu dari malaikat Jjibril… Pertanyaannya, siapa itu malaikat Jibril????

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Apa yang musti dipermasalahkan dengan ini? Rasulullah Muhammad ﷺ memang Nabi dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan berbicara langsung, pernahkah Anda mendengar peristiwa Isra Mi’raj? Yaitu ketika Rasulullah ﷺ diangkat ke langit untuk menghadap Allah dan Allah berbicara langsung mengenai perintah melaksanakan shalat lima waktu? Namun kami kaum Muslimin tidak lantas mengagungkan Rasulullah ﷺ secara berlebihan, melebihi kedudukan beliau sebagai hamba dan rasul-Ny,a seperti halnya kaum Nasrani sekarang yang menuhankan Isa alaihi salam. Allah juga berkata secara langsung kepada Nabi Musa. Apakah karena alasan ini Anda juga akan menuhankan Musa??

Siapakah malaikat Jibril?

Dia adalah Ruhul Qudus. “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Alquran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [QS 16: 102]

Dia adalah Ruhul Amin (Yang terpercaya karena membawa tugas menyampaikan wahyu Allah kepada para rasul-Nya. Dia tidak akan khianat akan tugasnya). “ Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril)” [QS 26: 193]

Dia yang diutus kepada Maryam. “Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” [QS 19: 19] “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia, (yang semasa dengan kamu).” [QS 3: 42]

Dia yang diutus kepada Nabi Zakaria. “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di Mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” [QS 3: 39]

Apakah Anda benci kepada malaikat Jibril seperti kaum Yahudi dahulu? Ini diberitakan Alquran [Surat Al Baqarah ayat 97]:  “Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Syubhat:

> Isa berasal dari Kalimatulah Allah… Kalimatulah artinya Firman = mulut Allah… Adakah di Alquran Allah berkata Muhammad bersal dari Kalimatulah Allah??? Jawabannya NO.

Bantahan Syubhat dari Al-Ustadz Abu Harits:

Anda ini asal komen. Sudah Anda baca artikel di atas?

Syubhat-syubhat dari orang-orang seperti Anda banyak menggunakan ayat Alquran sepotong-sepotong atau menggunakan ayat-ayat mutasyabihat yang kurang tegas maknanya, lalu ditafsiri sesuka hati. Semacam ini sudah Allah peringatkan dalam Ali Imran ayat 7: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Alquran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang Muhkamaat itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang Mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya), melainkan orang-orang yang berakal.”

Mengapa Anda tidak mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang begitu jelas dan tegas seperti [QS 4: 171]: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari memunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang memersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS 5: 72]

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://alhilyahblog.wordpress.com/2012/04/20/ayat-al-quran-menjadi-dalil-bagi-ketuhanan-nabi-isa-alaihis-salam/

 

NABI ISA ADALAH TUHAN KARENA TERCIPTA DARI RUH KUDUS ALLAH TA’ALA?

NABI ISA ADALAH TUHAN KARENA TERCIPTA DARI RUH KUDUS ALLAH TA'ALA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#BeSmartOpenYourEyes

NABI ISA ADALAH TUHAN KARENA TERCIPTA DARI RUH KUDUS ALLAH TA’ALA?

Pertanyaaan:

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

“Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.” (QS an-Nisa: 171)

Sebagian orang Nasrani mengatakan: “Ayat ini menguatkan apa yang kami yakini, bahwa Nabi Isa adalah salah satu dari yang tiga (Bapak, Anak dan Ruhul Qudus).” Lalu apa jawaban syari terhadap kedustaan ini?

Jawaban:

Ini adalah pendapat BATIL. Pendapat tersebut TIDAK SESUAI dengan ayat tersebut, dan zahir ayat TIDAK mengisyaratkannya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkannya dalam ayat ini, kemudian Dia mengganti dari nama ini kepada nama aslinya, yaitu Isa, kemudian Dia menisbatkannya kepada ibunya, Maryam, sebagaimana selainnya dinisbatkan kepada bapaknya. Kemudian Allah menyebutkan, bahwa beliau (Isa –pen) adalah utusan-Nya. Artinya orang yang diutus dari Rabb-nya kepada Bani Israil. Kemudian disambungkan kepadanya sebuah sifat, yaitu bahwa beliau (Isa –pen) adalah Kalimatullah. Maksudnya Allah menciptakannya dengan kalimat kun ‘Jadilah’, sebagaimana dengan kalimat ini Allah telah menjadikan Adam, tanpa bapak dan ibu. Kemudian Allah juga menyifatinya, bahwa beliau adalah ruh dari ruh-ruh yang telah Allah ciptakan.

Pada ayat terdapat tiga nama dan tiga sifat yang dimiliki oleh Nabi Isa ‘alaihis salam:

  • Penamaan Isa sebagai putra Maryam membatalkan pendapat, bahwa beliau adalah anak Allah. Karena Nabi Isa telah dinisbatkan kepada ibunya, yaitu Maryam.
  • Kemudian Nabi Isa disifatkan sebagai utusan Allah. Artinya orang yang diutus oleh Allah, seperti para utusan lain yang telah Allah amanatkan berupa syariat-Nya. Dan Dia mengutusnya kepada makhluk-Nya untuk beribadah kepada Allah.
  • Lalu disebutkan Nabi Isa adalah Kalimatullah, yang dengannya Alah mengutus seorang malaikat, lalu malaikat tersebut meniupkan pada saku baju Maryam, lalu tiupan tersebut sampai ke rahimnya, sehingga Maryam pun mengandung beliau (Isa –pen). Lalu disebutkan, bahwa Nabi Isa adalah ruh dari Allah. Ini adalah Idhafah Tasrif (Penyandaran Kemuliaan) seperti halnya terdapat pada kata Baitullah (Rumah Allah) dan Naqatullah (Unta Allah).* Jadi beliau (Isa -pen) adalah ruh yang Allah ciptakan.

Adapun Ruhul Qudus yang mengenainya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

“Dan Kami memerkuatnya dengan Ruhul Qudus.” (QS al-Baqarah: 87)

Maka yang dimaksud dengannya adalah Jibril, yaitu malaikat penyampai wahyu yang turun kepada para nabi, dan dia (Jibril – pen) adalah makhluk Allah seperti malaikat-malaikat yang lain. Wallahu a’lam. (Syaikh Abdullah bin Jibrin)

 

***

[*]Lihat QS asy-Syam: 13 “lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.”

 

Disadur dari Menjawab Ayat dan Hadits Kontroversi, Pustaka at-Tazkia 2010.

https://alhilyahblog.wordpress.com/2012/04/20/ayat-al-quran-menjadi-dalil-bagi-ketuhanan-nabi-isa-alaihis-salam/

 

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

CATAT: NABI ISA BIN MARYAM HANYA DIUTUS KEPADA BANI ISRAEL SAJA

Di zaman ini banyak orang Kristen menyebarkan agama mereka ke berbagai pelosok dunia. Mereka menisbatkan agama mereka kepada Nabi Isa bin Maryam , yang mereka menyebutnya dengan Yesus. Padahal Nabi Isa bin Maryam HANYA DIUTUS kepada Bani Israel saja. Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَاءِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. [QS. Ash-Shoff (61): 6]

Kesaksian Ayat Bibel

Dan ternyata kita masih mendapatkan di antara ayat-ayat Bibel (Kitab yang dianggap suci oleh orang-orang Nasrani) menjelaskan dengan tegas, bahwa Nabi Isa (yang mereka sebut Yesus) hanya diutus kepada Bani Israel saja. Marilah kita perhatikan ayat-ayat di dalam kitab mereka:

1- Disebutkan di dalam Bibel: “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 15: 24)

2- Disebutkan di dalam Bibel: “Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain, atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. (Matius 10: 6)

Walaupun ayat-ayat Bibel di atas begitu jelas menyatakan, bahwa ajaran Kristen hanya untuk Bani Israel, namun pengikut-pengikut Kristen begitu giat menyebarkan agamanya kepada semua bangsa, termasuk di Indonesia. Bahkan sampai ke berbagai pelosok yang tidak ada orang Bani Israel di sana! Maka apakah manfaat bangsa selain Bani Israel yang mengikuti agama Kristen, yang pembawa agama itu telah menegaskan, bahwa agamanya hanya untuk umat Israel?!

Atau mungkin mereka berpegang ayat lain pada kitab mereka yang memerintahkan untuk menyebarkan agama Kristen kepada seluruh bangsa. Ayat itu berbunyi: “Karena itu pergilah. Jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptiskan mereka dalam nama Bapa dan anak dan Roh Kudus”. (Matius 28:19)

Ini berarti ayat ini bertentangan dengan ayat-ayat di atasnya! Maka manakah yang benar? Yang pasti, bahwa tidak ada jaminan kebenaran terhadap semua isi kitab Bibel. Bahkan bukti-bukti menunjukkan banyak ayat yang dipalsukan. Maha Benar Allah ta’ala yang telah berfirman di dalam Kitab Suci Alquran:

أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka (Ahli Kitab) mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? [QS. Al-Baqoroh (2): 75]

Dan Allah mengancam dengan keras terhadap orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, dengan firman-Nya:

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلُُلَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memeroleh keuntungan yang sedikit (yakni kesenangan duniawi-pen) dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang telah mereka tulis dengan tangan-tangan mereka, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqoroh (2): 79]

 

– Semoga Allah selalu menetapkan kita di atas jalan yang lurus. –

 

Penulis: Ustadz Muslim Atsari

[Muslim.or.id]

,

HUKUM MENGAFIRKAN KAUM YAHUDI DAN NASRANI

HUKUM MENGAFIRKAN KAUM YAHUDI DAN NASRANI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FatwaUlama

HUKUM MENGAFIRKAN KAUM YAHUDI DAN NASRANI

Pertanyaan:

Seorang penceramah agama di salah satu mesjid di Eropa beranggapan, bahwa tidak boleh menyatakan kaum Yahudi dan Nasrani itu kafir. Bagaimana pendapat Syekh yang mulia tentang hal ini?

Jawaban:

Pernyataan penceramah ini SESAT dan boleh jadi suatu PERNYATAAN KEKAFIRAN, karena kaum Yahudi dan Nasrani telah ALLAH NYATAKAN SEBAGAI GOLONGAN KAFIR. Allah berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ. اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah.’ Itulah pernyataan mereka dengan lisan mereka, yang menyerupai perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Allah melaknat mereka. Oleh karena itu, ke mana mereka itu dipalingkan? Mereka telah menjadikan pendeta dan ulama mereka sebagai Sesembahan selain Allah, begitu pula terhadap Isa bin Maryam. Padahal mereka tidaklah diperintah kecuali suapaya hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan kecuali Dia, Tuhan Yang Maha Suci dari perbuatan syirik mereka.” (QS. At-Taubah: 30-31)

Dengan demikian, ayat tersebut menyatakan, bahwa mereka itu adalah golongan musyrik. Pada beberapa ayat lain Allah menyatakan dengan tegas, bahwa mereka itu kafir, sebagaimana ayat-ayat berikut:

َّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَآلُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Isa bin Maryam itu adalah Allah.” (QS. Al-Maidah: 17)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ

“Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga Tuhan.” (Al-Ma’idah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Orang-orang kafir dari golongan Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa bin Maryam.” (QS. Al-Ma’idah: 78)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Sungguh orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan musyrik berada dalam Neraka Jahanam.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Ayat-ayat tentang hal ini banyak sekali, begitu juga hadis-hadis. Orang yang mengingkari kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani, berarti tidak beriman dan mendustakan Nabi Muhammad ﷺ. Ia juga mendustakan Allah, sedang mendustakan Allah itu kafir. Seseorang yang meragukan kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani, tidak diragukan lagi bahwa ia telah kafir.

Demi Allah, bagaimana penceramah agama seperti itu rela berkata, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak boleh dinyatakan sebagai golongan kafir, padahal mereka sendiri mengatakan Allah itu adalah salah satu dari tiga Tuhan? ALLAH SENDIRI TELAH MENYATAKAN MEREKA ITU KAFIR. Mengapa ia tidak ridha menyatakan golongan Yahudi dan Nasrani itu kafir, padahal mereka telah mengatakan: “Isa bin Maryam adalah putra Allah. Tangan Allah terbelenggu, Allah itu miskin dan kami adalah orang-orang kaya”?

Bagaimana penceramah itu tidak rela menyatakan golongan Yahudi dan Nasrani adalah kafir, padahal mereka telah menyebutkan Tuhan mereka dengan sifat-sifat yang buruk, yang semua sifat tersebut merupakan aib, cacat, dan kalimat celaan?

Saya menyeru penceramah ini supaya bertobat kepada Allah dan membaca firman Allah:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Mereka berkeinginan agar engkau bersikap lunak, sehingga mereka bersikap lunak pula.” (QS. Al-Qalam: 9)

Hendaklah penceramah ini tidak bersikap lunak terhadap kekafiran mereka. Ia harus menerangkan kepada semua orang, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah golongan kafir, dan termasuk penghuni Neraka. Nabi ﷺ bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Tuhan yang menggenggam diri Muhammad, tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni Neraka.”

Kaum Yahudi dan Nasrani akan mendapatkan dua pahala bila mereka masuk Islam, seperti disabdakan Rasulullah ﷺ:

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ  الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali:

(1) Seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) ﷺ lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala;

(2) Budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah ta’ala dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan

(3) Seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam “Kitabul Iman”, dan hadis ini lafal Muslim)

Selanjutnya, saya membaca pernyataan pengarang Kitabul Iqna’ dalam bab “Hukum Orang Murtad”. Dalam kitab ini beliau berkata: “Orang yang tidak mengafirkan seseorang yang beragama selain Islam seperti Nasrani, atau meragukan kekafiran mereka, atau menganggap madzhab mereka benar, maka ia adalah orang KAFIR.”

Sebuah pernyataan dikutip dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Barang siapa beranggapan, bahwa gereja adalah rumah Allah dan di tempat itu Allah disembah, dan beranggapan, bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani adalah suatu ibadah kepada Allah, ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Atau ia membantu kaum Yahudi dan Nasrani untuk memenangkan dan menegakkan agama mereka, serta beranggapan bahwa perbuatan mereka itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah, maka orang ini telah KAFIR.”

Di tempat lain, beliau berkata: “Barang siapa beranggapan, bahwa kunjungan golongan dzimmi (penganut agama non-Islam) ke gereja-gerejanya adalah sebagai ibadah kepada Allah, maka ia telah MURTAD.”

Kepada penceramah ini, aku serukan agar dia bertobat kepada Tuhannya dari perkataannya yang sangat menyimpang itu. Hendaklah ia mengumumkan dengan terbuka, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah kafir, mereka termasuk golongan penghuni Neraka. Mereka harus mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena nama beliau ﷺ telah termaktub di dalam kitab Taurat mereka. Allah berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi, yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157)

Hal itu merupakan kabar gembira Isa bin Maryam. Isa bin Maryam berkata sebagaimana Allah kisahkan pada firman-Nya:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

“‘Wahai Bani Israil, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian yang membenarkan kitab Taurat yang ada pada kalian, dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul sesudahku yang namanya Ahmad.’ Tatkala Rasul ini datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti kebenaran, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (QS. Ash-Shaf: 6)

Siapakah gerangan yang dimaksud dengan ‘Tatkala ia telah datang kepada mereka’? Ia tidak lain adalah orang yang kabarnya telah disampaikan oleh Isa, yaitu Ahmad. Tatkala ia datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti kebenaran kerasulan, maka mereka menyambutnya dengan perkataan: “Ini adalah sihir yang nyata.” Kami katakan tentang firman Allah: “Tatkala ia datang kepada mereka dengan membawa bukti kebenaran”, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang rasul yang datang sesudah Isa selain dari Ahmad, yang merupakan lafal tafdhil dari kata “Muhammad”. Akan tetapi Allah telah memberikan ilham kepada Isa untuk menyebut Muhammad dengan Ahmad, sebab kata “Ahmad” adalah isim tafdhil dari kata-kata “alhamdu“, artinya orang yang paling banyak memuji Allah dan makhluk yang paling terpuji, karena sifat-sifatnya yang sempurna.

Jadi beliau adalah orang yang paling banyak memuji Allah, sehingga digunakanlah lafal tafdhil untuk menyebut sifat orang yang paling banyak memuji dan memiliki sifat terpuji. Beliau adalah seorang manusia yang paling berhak diberi pujian karena kata “Ahmad” merupakan isim tafdhil dari kata “Hamid” ataupun “Mahmud“, artinya orang yang banyak memuji Alah dan banyak dipuji manusia.

Saya katakan, bahwa setiap orang yang beranggapan, bahwa di dunia ini ada agama yang diterima oleh Allah di luar dari agama Islam, maka ia telah kafir dan tidak perlu diragukan kekafirannya itu, karena Allah telah menyatakan dalam firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Firman-Nya pula:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Oleh karena itu, di sini saya ulangi untuk ketiga kalinya, bahwa penceramah seperti itu wajib bertobat kepada Allah, dan menerangkan kepada semua manusia, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah kaum kafir. Hal ini karena penjelasan telah sampai kepada mereka, dan risalah kenabian Muhammad ﷺ telah sampai kepada mereka pula, namun mereka kafir dan menolaknya.

Kaum Yahudi telah dinyatakan sifatnya sebagai kaum yang dimurkai Allah, karena mereka telah mengetahui kebenaran kerasulan Muhammad ﷺ dan Alquran, tetapi mereka menentangnya. Kaum Nasrani disebutkan sifatnya sebagai kaum yang sesat, karena mereka menginginkan kebenaran, tetapi ternyata menyimpang dari kebenaran itu. Adapun sekarang, kedua kaum ini telah mengetahui kebenaran Muhammad ﷺ sebagai rasul dan mengenalnya, tetapi mereka tetap menentangnya.

Oleh sebab itu, kedua kaum ini berhak menjadi kaum yang dimurkai Allah. Saya berseru kepada kaum Yahudi dan Nasrani untuk beriman kepada Allah, semua rasul-Nya, dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena hal inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana firman Allah:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَـا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di Akhirat. Sungguh kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman: ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ Katakanlah, ‘Wahai manusia, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 156–158)

Inilah yang menguatkan keterangan kami pada awal jawaban di atas. Masalah ini sedikit pun tidak sulit dipahami. Wallahu al-Musta’an (hanya Allah Tuhan tempat kita meminta pertolongan). (Majmu’ Fatawa wa Rasail, juz 3, hlm. 18–23, Syekh Ibnu Utsaimin)

 

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, cetakan 1, Tahun 2003.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber:

KENAPA ALLAH MURKA KEPADA YAHUDI DAN NASRANI?

KENAPA ALLAH MURKA KEPADA YAHUDI DAN NASRANI?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DakwahTauhid
 
KENAPA ALLAH MURKA KEPADA YAHUDI DAN NASRANI?
 
Kaum Yahudi telah dinyatakan sifatnya sebagai kaum yang dimurkai Allah, karena mereka telah mengetahui kebenaran kerasulan Muhammad ﷺ dan Alquran, tetapi mereka menentangnya. Kaum Nasrani disebutkan sifatnya sebagai kaum yang sesat, karena mereka menginginkan kebenaran, tetapi ternyata menyimpang dari kebenaran itu. Adapun sekarang, kedua kaum ini telah mengetahui kebenaran Muhammad ﷺ sebagai rasul dan mengenalnya, tetapi mereka tetap menentangnya.
 
Oleh sebab itu, kedua kaum ini berhak menjadi kaum yang dimurkai Allah. Wahai kaum Yahudi dan Nasrani, berimanlah kepada Allah ta’ala, semua rasul-Nya, dan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena hal inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana firman Allah:
 
وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَـذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَـا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
 
“Tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di Akhirat. Sungguh kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.’ Katakanlah, ‘Wahai manusia, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian, yaitu Allah Yang memunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 156–158)
 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3528-hukum-mengafirkan-kaum-yahudi-dan-nasrani-murtad.html

 
,

DALIL KAFIRNYA ORANG YANG MENGANGGAP, ADA AGAMA SELAIN ISLAM YANG DITERIMA ALLAH

DALIL KAFIRNYA ORANG YANG MENGANGGAP ADA AGAMA SELAIN ISLAM YANG DITERIMA ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah Tauhid

DALIL KAFIRNYA ORANG YANG MENGANGGAP, ADA AGAMA SELAIN ISLAM YANG DITERIMA ALLAH

  • Anggapan Salah, bahwa Semua Agama itu Sama

Setiap orang yang beranggapan, bahwa di dunia ini ada agama yang diterima oleh Allah di luar dari agama Islam, maka ia telah kafir dan tidak perlu diragukan kekafirannya itu, karena Allah telah menyatakan dalam firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Firman-Nya pula:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3528-hukum-mengafirkan-kaum-yahudi-dan-nasrani-murtad.html