Posts

,

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan tentang memperingati 40 hari kematian:
“عادة فرعونية كانت لدى الفراعنة قبل الإسلام، ثم انتشرت عنهم وسرت في غيرهم، وهي بدعة منكرة لا أصل لها في الإسلام”
“Itu adalah kebiasaan Firaun yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Kemudian dari mereka tersebar dan dilakukan oleh selain mereka, dan itu merupakan bid’ah mungkar yang TIDAK ada asalnya dalam Islam.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 13 hal. 398-399]
Sumber:  @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#peringatan, #perayaan, #40harikematian, #Yasinan, #Tahlilan, #bidah, #bid’ah, #ahlibidah, #ahlulbidah, #ajaranFiraun, #Firaun, #Firaun #tauhid, #tawheed #mati, #meninggal dunia, #wafat, #kematian
, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

DALIL TEGAS YANG MENGHARAMKAN TAHLILAN (PERINGATAN KEMATIAN)

DALIL TEGAS YANG MENGHARAMKAN TAHLILAN (PERINGATAN KEMATIAN)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
DALIL TEGAS YANG MENGHARAMKAN TAHLILAN (PERINGATAN KEMATIAN)
 
 
Dari sahabat Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
 
«كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ»
 
“Kami menilai berkumpulnya banyak orang di rumah keluarga mayit, dan membuatkan makanan (untuk peserta tahlilan) setelah jenazah dimakamkan adalah bagian dari niyahah (meratapi mayit).” [HR. Ahmad 6905 dan Ibn Majah 1612]
 
Pernyataan ini disampaikan oleh sahabat Jarir, menceritakan keadaan di zaman Nabi ﷺ, bahwa mereka (Nabi ﷺ dan para sahabat) sepakat, acara kumpul dan makan-makan di rumah duka setelah pemakanan termasuk meratapi mayat. Artinya, mereka sepakat untuk menyatakan haramnya praktik tersebut. Karena, niyahah (meratap) termasuk hal yang dilarang.
 
Niyahah (meratap) termasuk larangan, bahkan dosa besar, karena diancam dengan hukuman (siksaan) di Akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan:
 
(1) Membangga-banggakan kebesaran leluhur,
(2) Mencela keturunan,
(3) Mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan
(4) Meratapi mayit (niyahah)”.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
“Orang yang melakukan niyahah (meratapi mayit) bila tidak bertobat sebelum matinya, maka ia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan memakai pakaian yang menutupi tubuhnya dari tembaga yang meleleh dan kulit yang berkudis (secara merata).” [HR. Muslim no. 934]
Ulama besar Syafi’i, Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Mengenai orang yang melakukan niyahah lantas tidak bertobat sampai mati, dan disebutkan sampai akhir hadis menunjukkan haramnya perbuatan niyahah dan hal ini telah disepakati. Hadis ini menunjukkan diterimanya tobat jika tobat tersebut dilakukan sebelum mati (nyawa di kerongkongan).” [Syarh Muslim, 6: 235]
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#nayihah, #niyahah, #nahiyah, #ratapan, #meratapimayat, #meratapi, #mayat, #mayit, #mayyit, #orangmati, #meninggaldunia, #wafat. #larangan, #perayaankematian, #tahlilan, #yasinan #meratapimayit #pakaianberlumurancairantembaga, #mantelbercampurdenganpenyakitgatal #kudisan #bajutembagameleleh #kudisanmerata

,

BOLEHKAH MENGHADIRI ACARA YASINAN ATAU TAHLILAN UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG TELAH MATI?

BOLEHKAH MENGHADIRI ACARA YASINAN ATAU TAHLILAN UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG TELAH MATI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#StopBid’ah

BOLEHKAH MENGHADIRI ACARA YASINAN ATAU TAHLILAN UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG TELAH MATI?

Pertanyaan:

Kenapa  banyak orang-orang mengadakan Yasinan, tahlilan dengan alasan mendoaakan orang tua yang sudah meninggal. Mereka juga mengatakan bahwa ini merupakan sebentuk perwujudan anak saleh mendoakan orang tua. Dan kyainya menyebutkan bahwa ini acara tradisi. Bolehkah menghadiri acara tersebut? Kalau tidak, di mana kemungkarannya? Bagaimana cara mendoakan mayyit yang sesuai sunnah?

Jawaban

Tidak boleh menghadirinya, karena hal ini tidak dituntunkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Kecuali jika dia hadir dalam rangka menjelaskan kemungkarannya, lalu meninggalkannya. Anggapan bahwa itu sebagai aktualisasi dari kebaikan anak yang saleh untuk orang tua, tidak lantas bisa dijadikan legitimasi bagi amalan ini. Karena cara mewujudkan bakti kepada orang tua yang sudah meninggal telah dijelaskan caranya-caranya dalam Islam, seperti memohon ampun, atau menyambung tali silaturrahim dengan teman dekatnya. Begitu juga klaim, acara ini sebagai tradisi semata, tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memerbolehkan amalan ini. Karena faktanya, mereka yang melakukan itu berharap pahala dari Allah Azza wa Jalla ketika melaksanakannya. Bahkan di sebagian tempat, orang yang tidak melaksanakannya dianggap tidak mau melaksanakan sunnah. Bukankah ini berarti ibadah? Sementara yang namanya IBADAH HARUS BERLANDASKAN DALIL. Kalau pun dianggap sebagai tradisi, maka dalam Islam, tradisi itu boleh dipertahankan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara Yasinan yang mereka klaim sebagai tradisi ini ternyata menyelisihi agama Islam yang telah sempurna yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ . Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang membuat suatu yang baru dalam ajaran kami yang tidak berasal darinya, maka perkara itu tertolak [HR Bukhari dan Muslim]

Di manakah Letak Kemungkarannya?

Kemungkaran-kemungkaran amalan ini banyak, di antaranya:

·         Yasinan atau tahlilan merupakan bentuk ibadah yang TIDAK dituntunkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

·         Berkumpul di rumah orang yang kena musibah kematian, dan apalagi disertai dengan penghidangan makanan dari tuan rumah setelah penguburan, merupakan bentuk niyahah (meratap) yang dilarang oleh agama.

·         Jamuan yang diberikan tuan rumah kepada tetamu bertentangan dengan Sunnah Nabi ﷺ, yang memerintahkan para tetangga untuk memberi makan kepada keluarga mayit, bukan keluarga mayit yang menghidangkan makanan kepada tetangga.

·         Bertentangan dengan akal. Karena orang yang sedang didera kesusahan dengan sebab kematian anggota keluarganya sepantasnya dihibur. Bukan ditambahi beban dengan menghidangkan jamuan buat para tamu, baik tetangga maupun kerabat, atau dengan membayar orang yang membacakan Alquran, tahlil atau doa.

·         Mengadakan perayaan untuk kematian, seperti perayaan pada hari ketiga, kesembilan dan seterusnya adalah kebiasaan yang berasal dari ajaran agama Hindu. Oleh karena itu, selayaknya umat Islam meninggalkannya.

Dan berbagai kemungkaran lainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini, karena terkadang jenis kemungkaran ini berbeda-beda sesuai dengan daerahnya.

Bagaimana Cara Yang Benar Dalam Mendoakan Mayit?

Sebatas yang kami tahu, cara mendoakan mayit menurut Sunnah adalah sebagai berikut:

·         Mendoakan dan memohonkan ampunan ketika mendengar berita atau mengetahui kematian seorang Muslim.

·         Mendoakan dan memohonkan ampunan saat shalat jenazah.

·         Mendoakan dan memohonkan ampunan ketika ziarah kubur

·         Mendoakan dan memohonkan ampunan di setiap ada waktu dan kesempatan, dengan tanpa menentukan waktu, tempat dan tata-cara khusus yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Inilah jawaban kami secara ringkas. Bagi para pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan secara rinci, bisa meruju’ ke kitab-kita Ulama yang membahas masalah hukum-hukum jenazah, seperti kitab Ahkamul Jana‘iz karya syaikh al-Albani rahimahullah, dan kitab-kitab yang lain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4743-menghadiri-tahlilan-kematian-2.html

, ,

APA HUKUM MAKANAN UNTUK HIDANGAN ACARA BID’AH?

APA HUKUM MAKANAN UNTUK HIDANGAN ACARA BID’AH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

APA HUKUM MAKANAN UNTUK HIDANGAN ACARA BID’AH?

Pertanyaan:

Orang yang menyembelih ayam dengan membaca atas nama Allah untuk dihidangkan pada acara kirim doa untuk orang yang meninggal, bagaimana hukum sembelihan tersebut? Apakah semuanya haram, atau ada perincian? Mohon penjelasan.

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Mendoakan kebaikan untuk orang yang meninggal adalah perbuatan yang disyariatkan. Mereka sangat membutuhkannya, di kala mereka sudah tidak mampu lagi beramal. Namun mengirim doa untuk orang yang meninggal dengan mengadakan acara khusus (tahlilan) untuk itu, maka ini perbuatan bid’ah yang tidak ada landasannya.

Adapun hukum sembelihan yang disembelih hanya sekedar untuk dihidangkan pada acara tersebut (tahlilan), maka selama orang yang menyembelih masih Muslim, dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengeluarkan dia dari Islam (seperti syirik besar), maka halal sembelihannya, jika disembelih dengan cara yang syari.

Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah (Muhaddits kota Medinah dan pengajar di Masjid Nabawy saat ini) pernah ditanya:

هل يجوز أكل الذبيحة التي تقدم بمناسبة بدعية مثل المولد النبوي أو في العزاء؟

“Bolehkah memakan sembelihan yang dihidangkan pada acara bid’ah, seperti Maulud Nabi atau ketika ta’ziyah?”

Beliau menjawab:

يجوز أكل الذبائح التي تقدم في مناسبات بدعية، ومن كانت بدعته مكفرة لا تؤكل ذبيحته.

“Boleh memakan sembelihan yang dihidangkan untuk acara-acara bid’ah. Dan barang siapa yang jenis bid’ahnya adalah jenis yang mengafirkan, maka tidak boleh dimakan.” (Pertanyaan ini diajukan kepada beliau di Masjid Nabawy ketika mensyarh Sunan Abi Dawud, Kitab Adh-Dhahaya, Bab Fi An-Nahy an tushbara Al-Baha’im wa Ar-rifq bi Adz-dzabihah).

 

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc [tanyajawabagamaislam.blogspot.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/927-apa-hukum-makanan-untuk-hidangan-acara-bidah.html

 

, ,

TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

TAHLILAN (SELAMATAN KEMATIAN ) ADALAH BID’AH MUNKAR DENGAN IJMA’ PARA SAHABAT DAN SELURUH ULAMA ISLAM

Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Ada riwayat dari Jarir bin ‘Abdillah Al Bajaliy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

عَنْ جَرِيْربْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ : كُنَّا نَرَى (وفِى رِوَايَةٍ : كُنَا نَعُدُّ) اْلاِجْتِمَاع اِلَى أَهلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ (بَعْدَ دَفْنِهِ) مِنَ الْنِّيَاحَةِ

“Kami (yakni para sahabat semuanya) memandang/menganggap berkumpul-kumpul di kediaman si mayit dan makanan yang dibuat (oleh keluarga mayit) setelah penguburannya, merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (HR. Ahmad 2: 204. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih).

Syarah Hadis

Hadis ini atau atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita, bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ (ini yang biasa terjadi) termasuk bid’ah munkar (haram hukumnya). Dan akan bertambah lagi bid’ahnya, apabila di situ diadakan upacara yang biasa kita kenal di sini dengan nama “Selamatan kematian/tahlilan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, ke-40 dan seterusnya”.

Hukum di atas berdasarkan Ijma’ para sahabat yang telah memasukkan perbuatan tersebut kedalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram (dosa); bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyyah.

Fatwa Para Ulama Islam dan Ijma’ Mereka dalam Masalah Ini

Apabila para sahabat telah Ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in, dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zaman pun mengikuti Ijma’nya para sahabat, yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.

Berikut ini adalah sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “Selamatan kematian”.

  1. Telah berkata Imamnya para ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di kitabnya ‘Al-Um” (I/318):

“Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit, meskipun tidak ada tangisan. Karena sesungguhnya yang demikian itu akan memerbaharui kesedihan”. Ini yang biasa terjadi, dan Imam Syafi’i menerangkan menurut kebiasaan, yaitu akan memerbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak! Perkataan Imam Syafi’i di atas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.

Perkataan imam kita di atas jelas sekali yang tidak bisa ditakwil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain, kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul di rumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan di sini sebagai Tahlilan?”

  1. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki):

“Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak, maka itu satu hal yang dibenci (haram). Karena akan menambah kesusahan di atas musibah mereka, dan menyibukkan mereka di atas kesibukan mereka, dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah. [Perkataan ini seperti ini, yaitu menuruti kebiasaannya selamatan kematian itu menyusahkan dan menyibukkan. Tidak berarti boleh, apabila tidak menyusahkan dan tidak menyibukkan! Ambillah connoth firman Allah di dalam surat An-Nur ayat 33:”Janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi”. Apakah boleh kita menyuruh budak perempuan kita untuk melacur apabila mereka menginginkannya?! Tentu tidak!]

Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya: “Apakah mayit kamu diratapi?” Jawab Jarir: ”Tidak!” Umar bertanya lagi: ”Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan? Jawab Jarir: ”Ya!” Berkata Umar: ”Itulah ratapan!”

  1. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya: Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96):

“Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak, yang mana mereka berkumpul di situ berdalil dengan hadis Jarir bin Abdullah. Dan zahirnya adalah HARAM, karena meratapi mayit hukumnya haram. Sedangkan para Sahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

Dan di antara faidah hadis Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dengan alasan takziyah /melayat, sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

Telah berkata An Nawawi rahimahullah: Adapun duduk-duduk (di rumah ahli mayit ) dengan alasan untuk takziyah, telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

Kemudian Nawawi menjelaskan lagi: ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab: “Dibenci duduk-duduk (di tempat ahli mayit ) dengan alasan untuk takziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadis Jarir menegaskan: “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini, yaitu berkumpul-kumpul (di tempat ahli mayit) dengan alasan takziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini, mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer, supaya orang-orang memujinya, bahwa si Fulan telah mengerjakan ini dan itu, dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapaknya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi ﷺ, dan Salafush shalih dari para sahabat dan tabi’in, dan tidak pernah diucapkan oleh seorang pun juga dari Imam-imam agama (kita).

Kita memohon kepada Allah keselamatan!”

  1. Al Imam An Nawawi, di kitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan di rumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain ulama. Dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadis Jarir radhiyallahu ‘anhu, yang beliau tegaskan sanadnya Shahih. Dan hal ini pun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).
  2. Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, di kitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab: “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (di tempat ahli mayit) dengan alasan untuk Takziyah, karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats, sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

Dan Imam Nawawi menyetujuinya, bahwa perbuatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

  1. Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan, bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadis Jarir radhiyallahu ‘anhu yang beliau katakan Shahih.
  2. Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan, bahwa berkumpul-kumpul (di rumah ahli mayit) dengan alasan untuk takziyah dan membacakan Alquran untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi ﷺ.
  3. Al Imam Asy Syaukani, di kitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan, bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.
  4. Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549): “Adapun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak, maka hal tersebut dibenci, dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka, dan menyibukkan mereka di atas kesibukan mereka, dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.
  5. Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab: ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para pentakziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]
  6. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para pentakziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]
  7. Berkata Al Imam Al Ghazali, di kitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i (I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

Kesimpulan:

  • Pertama: Bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Sahabat dan seluruh imam dan ulama’, termasuk di dalamnya Imam Empat.
  • Kedua: Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para pentakziyah.
  • Ketiga: Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya, apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, ke-40 dan seterusnya”.
  • Keempat: Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI ﷺ adalah kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit, yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukkkan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadis Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]

Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).

Berkata Imam Syafi’iy: “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya, yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka. Karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]

Kemudian beliau membawakan hadis Ja’far di atas.

[Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Alquran Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]

 

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/2272-tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-Ijma-para-sahabat-dan-seluruh-ulama-islam.html