Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

HUKUM MENABUH BEDUG DAN REBANA

HUKUM MENABUH BEDUG DAN REBANA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
HUKUM MENABUH BEDUG DAN REBANA
 
Pertanyaan:
• Apa hukum mendengarkan tabuhan Duff (rebana) dan Thabl (bedug, drum, genderang) dalam beberapa acara?
• Apa perbedaan antara keduanya?
• Apakah ada perbedaan hukum antara menabuh dan mendengarkan rebana?
• Apakah ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini?
• Lalu apa hukumnya jika mendengarkan dari kaset?
 
Kami mohon jawaban terperinci mengenai hal ini, karena banyaknya pembicaraan dalam hal ini, dan banyak opini yang berbeda-beda.
 
Jawaban:
Syaikh Alwi bin Abdul Qadir As Segaf hafizhahullah menjawab:
Alhamdulillah,
 
Hukum asal bagi seluruh jenis alat musik adalah HARAM, baik mendengarkan atau memainkannya, baik laki-laki maupun wanita. Berdasarkan hadis Marfu, dari Abu Malik Al Asy’ari radhiallahu’anhu:
 
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ والحريرَ والخَمْرَ والمَعَازِفَ
 
“Akan datang kaum dari umatku kelak yang menghalalkan zina, sutra, khamr, dan ma’azif (alat musik)” [HR. Bukhari secara Mu’allaq dengan shighah jazm]
 
Juga hadis Amir bin Sa’ad Al Bajali, ia berkata:
 
دَخَلْتُ عَلَى قُرَظَةَ بْنِ كَعْبٍ، وَأَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، فِي عُرْسٍ، وَإِذَا جَوَارٍ يُغَنِّينَ، فَقُلْتُ: أَنْتُمَا صَاحِبَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ أَهْلِ بَدْرٍ، يُفْعَلُ هَذَا عِنْدَكُمْ؟ فَقَالَ: اجْلِسْ إِنْ شِئْتَ فَاسْمَعْ مَعَنَا، وَإِنْ شِئْتَ اذْهَبْ، قَدْ رُخِّصَ لَنَا فِي اللَّهْوِ عِنْدَ الْعُرْسِ
 
“Aku datang ke sebuah acara pernikahan bersama Qurazah bin Ka’ab dan Abu Mas’ud Al Anshari. Di sana para budak wanita bernyanyi. Aku pun berkata: ‘Kalian berdua adalah sahabat Rasulullah ﷺ dan juga Ahlul Badr. Engkau membiarkan ini semua terjadi di hadapan kalian?’ Mereka berkata: ‘Duduklah jika engkau mau dan dengarlah nyanyian bersama kami. Kalau engkau tidak mau, maka pergilah. Sesungguhnya kita diberi rukhshah untuk mendengarkan Al Lahwu dalam pesta pernikahan’” [HR. Ibnu Maajah 3383, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah]
 
Yang namanya rukhshah (keringanan), tidak akan ada, jika tidak ada larangan atau pengharaman.
 
Duff dan Thabl tanpa diragukan lagi termasuk alat musik. Ibnu Atsir dalam kitab Nihayah Fii Gharibil Hadis Wal Atsar berkata:
 
العزف: اللعب بالمعازف وهي الدفوف وغيرها مما يضرب به
 
“Al ‘Azaf adalah memainkan alat musik semisal Duff dan semacamnya yang ditabuh.”
 
Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (1/484) berkata:
 
وآلات المعازف: من اليراع والدف والأوتار والعيدان
 
“Alat musik berupa Yaraa’, Duff, Sitar, ‘Idaan”
.
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (10/46) berkata:
 
وفي حواشي الدمياطي، المعازف: الدفوف وغيرها مما يضرب به
 
“Dalam kitab Al Hawasyi karya Ad Dimyathi, Al Ma’azif maknanya Duff dan sejenisnya yang ditabuh.”
 
Oleh karena itu, Duff dan Thabl baik secara bahasa maupun secara syari termasuk ma’azif yang dilarang dalam hadis.
 
Perbedaan antara Duff dan Thabl, yang rajih, Duff biasanya terbuka satu sisinya dan tidak memiliki jalajil. Sedangkan Thabl biasanya tertutup kedua sisinya. Ibnu Hajar berkata:
 
الدف الذي لا جلاجل فيه فإن كانت فيه جلاجل فهو المزهر
 
“Duff itu yang tidak memiliki jalajil. Jika ada jalajil-nya, maka itu mizhar” [Fathul Baari, 2/440]
 
Jika kita sudah memahami hukum asal dalam hal ini, ketahuilah, bahwa ada beberapa riwayat yang mengecualikannya, yaitu membolehkan memainkan Duff hanya bagi wanita dan anak kecil saja. Sedangkan bagi laki-laki, tetap pada hukum asalnya, yaitu haram. Tidak ada hadis dari Nabi ﷺ ataupun atsar dari sahabat Nabi atau tabi’in, bahwa mereka menabuh rebana atau memainkan rebana di depan orang lain.
 
Selain itu, yang lebih menguatkan, bahwa hukum asal memainkan Duff haram adalah persetujuan Nabi ﷺ terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq ketika ia menyifati Duff sebagai seruling setan, yaitu ketika ia mendengar permainan Duff tersebut dari anak-anak perempuan. Penyifatan tersebut tidak mungkin terjadi, kecuali dihasilkan dari pengetahuan Abu Bakar, bahwa alat musik secara umum itu haram, termasuk Duff. Hanya saja ketika itu Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Duff itu dibolehkan khusus bagi anak-anak perempuan di hari Id. Bahkan, Nabi ﷺ sendiri menisbatkan Duff kepada setan. Beliau ﷺ bersabda:
 
إن الشيطان ليخاف منك يا عمر
 
“Sungguh setan itu akan takut kepadamu, wahai Umar.”
 
Ini ketika ada budak wanita menabuh rebana, lalu datang Umar bin Khattab radhiallahu’anhu. Andai hukumnya mubah, tentu beliau tidak akan menisbatkan hal itu dengan setan. Adapun hadis-hadis yang diriwayatkan dalam bentuk lafal jama’, semisal hadis ‘Aisyah Radhiallahu’anha, yang terdapat lafal:
 
واضربوا عليه بالدف
 
“Mainkanlah Duff untuknya (Rasulullah)”
 
Juga hadis Mu’adz Radhiallahu’anhu, yang terdapat lafal:
 
دففوا على رأس صاحبكم
 
“Mainkanlah Duff di atas kepada sahabatmu”
 
Atau hadis Anas Radhiallahu’anhu, yang terdapat lafal:
 
اضربوا على رأس صاحبكم
 
“Mainkanlah Duff di atas kepada sahabatmu”
 
Ini semua hadis-hadis yang Dhaif, tidak bisa menjadi hujjah.
 
Menabuh Rebana Yang Dibolehkan
 
Jika demikian jelaslah, bahwa memainkan Duff dibolehkan hanya untuk wanita dan anak kecil saja. Dan setelah menelusuri hadis-hadis yang membolehkan permainan Duff bagi wanita dan anak kecil, semuanya tidak lepas dari dua keadaan, pesta pernikahan dan hari raya. Ada satu keadaan lagi yang diperselisihkan para ulama, dan akan kami bahas secara rinci, yaitu ketika menyambut kedatangan seseorang.
 
Di antara hadis yang membolehkan permainan Duff di saat pesta pernikahan adalah hadis Ar Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiallahu’anha, ia berkata:
 
دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم غداة بُنِيَ عَلَيَّ فجلس على فراشي كمجلسك مني وجويريات يضربن بالدف
 
“Nabi ﷺ datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwaan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan/ memukul Duff” [HR. Bukhari 4001]
 
Sedangkan hadis yang menunjukkan kebolehan ketika hari raya adalah hadis ‘Aisyah:
 
أن أبا بكر رضي الله عنهما دخل عليها وعندها جاريتان في أيام منى تدففان وتضربان والنبي صلى الله عليه وسلم متغش بثوبه فانتهرهما أبو بكر فكشف النبي صلى الله عليه وسلم عن وجهه فقال دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد وتلك الأيام أيام منى
 
“Abu Bakar radhiallaahu’anhuma masuk menemui ’Aisyah. Di sampingnya terdapat dua anak perempuan, di hari Mina, yang menabuh Duff. Nabi ﷺ ketika itu menutup wajahnya dengan bajunya. Ketika melihat hal tersebut, Abu Bakar membentak kedua anak perempuan tadi. Nabi ﷺ kemudian membuka bajunya yang menutup wajahnya dan berkata: ”Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya”. Pada waktu itu adalah hari-hari Mina” [HR. Bukhari 987]
 
Bahkan seluruh hadis Shahih yang sharih yang membolehkan permainan Duff menunjukkan, bahwa Duff dimainkan oleh anak kecil perempuan, kecuali hadis Buraidah yang nanti akan kami sebutkan.
 
Hadis ‘Aisyah Radhiallahu’anha tentang pesta pernikahan:
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا فَعَلَتْ فُلَانَةُ؟» ، لِيَتِيمَةٍ كَانَتْ عِنْدَهَا، فَقُلْتُ: أَهْدَيْنَاهَا إِلَى زَوْجِهَا قَالَ: «فَهَلْ بَعَثْتُمْ مَعَهَا بِجَارِيَةٍ تَضْرِبُ بِالدُّفِّ، وَتُغَنِّي؟
 
“Nabi ﷺ berkata: ‘Apa yang dilakukan Fulanah?’ (terhadap anak yatim yang tinggal bersama ‘Aisyah). Aisyah berkata: ‘Aku hadiahkan kepada suaminya’. Nabi ﷺ berkata: ‘Mengapa engkau mengutus dia bersama anak-anak perempuan yang menabuh Duff?’” [HR Thabrani 3/315]
 
Hadis Ar Rubayyi’ bintu Mu’awwidz Radhiallahu’anha:
جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ حِينَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي، فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا، يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ
 
“Nabi ﷺ datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwaan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan Duff sambil menyebut kebaikan-kebaikan orang-orang yang terbunuh dari nenek-moyangku pada waktu Perang Badr” [HR. Bukhari 5147]
 
Hadis ‘Aisyah Radhiallahu’anha tentang hari raya:
 
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِدُفَّيْنِ، فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْهُنَّ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا
 
“Nabi ﷺ masuk ke rumah Aisyah. Di dalamnya terdapat dua anak perempuan memainkan Duff. Abu Bakar lalu membentak mereka. Nabi ﷺ lalu berkata: ‘Biarkan mereka, karena setiap kaum itu memiliki hari raya’” [HR. Ahmad dan An Nasa-i]
 
Menabuh Rebana Ketika Menyambut Kedatangan Orang
 
Namun terdapat perbedaan hukum bagi laki-laki, antara memainkan dan mendengarkan permainan Duff. Karena mendengarkan permainan Duff yang dimainkan anak kecil dalam acara pernikahan atau hari raya hukumnya boleh, sebagaimana telah terdapat dalam riwayat yang sudah disebutkan.
 
Adapun memainkan Duff dalam rangka menyambut kedatangan seseorang, terdapat dua hadis yang membicarakan hal ini:
 
Pertama, hadis Anas bin Malik radhiallahu’anhu, di dalamnya terdapat lafal:
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِبَعْضِ الْمَدِينَةِ، فَإِذَا هُوَ بِجَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِدُفِّهِنَّ، وَيَتَغَنَّيْنَ
 
“Nabi ﷺ melewati sebagian kota Madinah. Ada budak-budak yang memainkan Duff ketika itu, sambil bernyanyi” [HR. Ibnu Maajah]
 
Hadis ini tidak menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ baru datang ke Madinah, sehingga tidak bisa menjadi dalil. Selain itu, yang memainkan Duff adalah anak-anak perempuan. Ini diisyaratkan oleh komentar Nabi ﷺ terhadap mereka. Beliau ﷺ berkata:
 
يعلم الله أني لأحبكن
 
“Allah tahu bahwa aku mencintai mereka.”
 
Kedua, hadis Buraidah radhiallahu’anhu, ia berkata:
 
خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم في بعض مغازيه فلما انصرف جاءت جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني كنت نذرت إن ردك الله صالحاً –وفي رواية: سالماً- أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى فقال لها رسول الله صلى الله عليه و سلم إن كنت نذرت فاضربي وإلا فلا فجعلت تضرب فدخل أبو بكر وهي تضرب ثم دخل علي وهي تضرب ثم دخل عثمان وهي تضرب ثم دخل عمر فألقت الدف تحت استها ثم قعدت عليه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الشيطان ليخاف منك يا عمر
 
“Rasulullah ﷺ pergi untuk berperang. Ketika beliau ﷺ pulang, ada seorang budak perempuan berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, aku bernadzar, jika engkau pulang dalam keadaan sehat (dalam riwayat lain: selamat), aku akan menabuh Duff untukmu sambil bernyanyi’. Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: ‘Kalau engkau memang sudah bernadzar, lakukanlah. Jika tidak, maka jangan lakukan’. Akhirnya ia pun memainkan Duff. Lalu Abu Bakar datang dan ia masih memainkannya. Ali datang, dan ia masih memainkannya. Utsman datang, ia masih memainkannya. Namun ketika Umar datang, rebana itu dilempar ke bawah dan sang budak wanita pun duduk. Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sungguh setan itu akan takut kepadamu wahai Umar’” [HR. Tirmidzi]
 
Yang nampak bagiku ini adalah kejadian waqi’atul ‘ain, hanya terjadi sekali, dan tidak bisa diambil hukum umum, serta tidak bisa dipertentangkan dengan nash yang lain. Waqi’atul ‘ain adalah suatu kejadian yang zhanniyah, yang bertentangan dengan hukum asal atau kaidah-kaidah syariah yang umum, sehingga menimbulkan banyaknya kemungkinan dan ta’wil. Konsekuensi dari keadaan ini adalah kaidah Idza Tatruq Ilaihal Ihtimal, Saqatal Istidlal (dengan adanya banyak kemungkinan maka tidak bisa menjadi dalil). Dan contoh lain dari kasus ini adalah kasus persusuan Salim pembantu Abu Hudzaifah terhadap Sahlah bintu Suhail radhiallahu’anhum, dan dikenal dikalangan ulama sebagai kasus Radha’ul Kabiir.
 
Oleh karena itu, kejadian Waqi’atul ‘Ain ini tidak bisa ditarik hukum umum. Kejadian-kejadian yang Waqi’atul ‘Ain tidak bisa dijadikan dalil untuk hukum umum. Sang budak perempuan bernadzar untuk menabuh Duff di hadapan Nabi ﷺ karena gembira beliau ﷺ pulang dengan selamat. Ini tidak dapat diqiyaskan. Orang-orang yang membolehkan memainkan Duff secara mutlak dalam setiap acara senang-senang atau dalam setiap penyambutan orang yang baru datang, mereka lupa bahwa Nabi ﷺ jelas-jelas melarang sang budak untuk menabuh Duff bila tidak bernadzar. Larangannya terdapat di hadis itu sendiri, beliau ﷺ berkata: “Jika tidak bernadzar, maka jangan”, dalam riwayat lain: “Jika tidak bernadzar, maka jangan kau lakukan”. Ini adalah larangan tegas terhadap permainan Duff dalam rangka gembira menyambut kepulangannya. Hukum asal larangan adalah pengharaman, dan yang menjadi pengecualian di sini adalah sang budak telah bernadzar untuk menabuh Duff di hadapan Nabi ﷺ. Jadi jelas, yang menjadi pengecualian adalah nadzar sang budak untuk menabuh Duff karena gembira beliau ﷺ pulang dengan selamat. Maka, khususiyyah (hal yang khusus terjadi bagi Rasulullah ﷺ saja) di sini jelas, walhamdulillah.
 
Taruhlah kejadian ini bukan khususiyyah beliau ﷺ dan bukan Waqi’atul ‘Ain, tetap saja tidak bisa menjadi dalil bolehnya menabuh Duff bagi penyambutan setiap orang yang datang. Karena betapa sering para sahabat bersafar lalu mereka pulang, dan tidak ada satu pun riwayat yang menerangkan ada wanita atau anak-anak perempuan menabuh Duff untuk mereka, apalagi permainan Duff yang dilakukan oleh laki-laki.
 
Pendapat Para Ulama
Berikut ini perkataan-perkataan para ulama yang bisa membuat kita lebih jelas lagi, setelah kita mengetahui dalil-dalilnya.
 
1. Imam Ahmad berkata: “Simak perkataan Ibrahim: ‘Pernah suatu ketika murid-murid Abdullah bin Mas’ud di sambut oleh anak-anak perempuan dengan rebana. Lalu mereka merusak rebana tersebut’” [Al Amr bil Ma’ruf karya Al Khallal, 1/172]
 
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Wanita diberi keringanan untuk memainkan Duff dalam pesta pernikahan dan acara gembira. Adapun laki-laki, tidak seorang pun di masa Nabi ﷺ yang memainkan Duff ataupun bertepuk tangan” [Majmu’ Fatawa, 11/565]
 
3. Al Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Klaim Ijma dinukil lebih dari seorang ulama, tentang larangan berkumpulnya para pemuda dan pemudi lalu didendangkan Duff di situ. Sebagian ulama memang ada yang menukil khilaf yang syadz tentang hal ini. Adapun memainkan Duff dan qashbah sendirian, ini diperselisihkan hukumnya dalam Madzhab Syafi’i. Yang dipegang oleh para imam dari Iraq, hukumnya haram, dan mereka itu lebih kuat pemahamannya terhadap Madzhab Syafi’i dari para orang Khurasan. Pendapat ini juga dikuatkan dengan hadis yang telah disebutkan. Hukum haram tersebut hanya dikecualikan dengan permainan Duff oleh anak perempuan pada hari raya atau ketika menyambut kedatangan orang yang dihormati atau dalam pesta pernikahan. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh hadis-hadis yang menjadi pegangan dalam bahasan ini. Kebolehan menabuh Duff dalam kesempatan-kesempatan tersebut tidak melazimkan kebolehan menabuh Duff dalam semua kesempatan” [Al Kalaam ‘Ala Mas-alatis Sima’, Ibnul Qayyim, 1/473]
 
4. Ibnul Qayyim berkata: “Setiap perkataan yang tidak mengindahkan ketaatan kepada Allah, dan tiap suara yaraa’, mizmar dan Duff hukumnya haram” [Ighatsatul Lahfaan, 1/256]
 
5. Ibnu Rajab berkata: “Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat, bahwa memainkan Duff sambil bernyanyi bagi laki-laki hukumnya haram. Karena hal tersebut serupa dengan perbuatan wanita yang dilarang oleh agama. Ini pendapat Al Auzai’, Imam Ahmad, dan juga pendapat Al Halimi dan selainnya dari Syafi’iyyah. Adapun bernyanyi tanpa menabuh Duff, dalam rangka membangkitkan semangat, hukumnya boleh. Telah diriwayatkan dari para sahabat tentang adanya rukhshah dalam hal ini” [Fathul Baari, 6/82]
 
6. Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Mereka berdalil dengan lafal hadis واضربوا untuk mengatakan bahwa bolehnya bermain Duff tidak khusus bagi wanita. Namun hadis-hadis tersebut Dhaif semua. Hadis yang kuat menunjukkan hal ini khusus bagi wanita, sehingga lelaki tidak boleh menyerupai mereka berdasarkan keumuman larangan menyerupai wanita” [Fathul Baari, 9/185]
 
7. Ahli fiqih Madzhab Syafi’i, Ibnu Hajar Al Haitami berkata: “Imam Al Baihaqi menukil perkataan gurunya, Imam Al Halimi, dan ia menyetujuinya, yaitu bahwa jika kita membolehkan permainan Duff, itu hanya untuk wanita”. Beliau juga mengatakan: “Menabuh Duff itu hanya khusus bagi wanita, karena pada asalnya itu adalah perbuatan wanita. Dan Nabi ﷺ melaknat lelaki yang menyerupai wanita” [Kaffur Ri’aa, 2/292].
 
Beliau juga berkata: “Mayoritas ulama madzhab kami berpendapat haramnya menabuh Duff pada selain pesta pernikahan dan walimah khitan. Tidak sebagaimana yang dirajihkan oleh Syaikhain yang membolehkan di luar kedua acara itu. Karena telah ada nash (pendapat) dari Imam Asy Syafi’i dan mayoritas ulama Madzhab Syafi’I, bahwa hukumnya haram diluar kedua acara tersebut. Adapun pembolehan secara mutlak, tidak ada dalil yang mendasarinya. Jika berdalil dengan hadis tentang anak-anak perempuan yang memainkan Duff, ini pendalilan yang lemah. Karena bagi mereka dimaafkan sesuatu yang tidak dimaafkan bagi orang yang mukallaf” [Kaffur Ri’aa, 2/291]
Berkaitan dengan walimah khitan yang beliau sebutkan, saya tidak mengetahui adanya hadis Shahih dari Nabi ﷺ maupun atsar dari sahabat.
 
Kesimpulan
Thabl (bedug, drum, genderang) itu hukumnya haram dimainkan dalam keadaan dan kesempatan apa pun dan bagi siapapun, karena ia termasuk alat musik yang tidak ada pengecualiannya dari hukum asal. Sedangkan Duff (rebana), ia alat musik yang diharamkan memainkannya bagi laki-laki dalam keadaan dan kesempatan apapun. Namun diberi keringanan khusus bagi wanita dan anak-anak perempuan untuk memainkannya. Adapun laki-laki mendengarkan permainan Duff dari anak-anak perempuan hukumnya mubah, sebatas dalam pesta pernikahan atau hari raya saja. Lalu mendengarkan permainan Duff melalui kaset, baik bagi wanita maupun laki-laki, diluar pesta pernikahan atau hari raya, hukumnya haram.
Wallahu’alam.
 
 
 
Penerjemah: Yulian Purnama
,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
, ,

TIGA DOA YANG JANGAN ENGKAU LUPAKAN DALAM SUJUDMU

TIGA DOA YANG JANGAN ENGKAU LUPAKAN DALAM SUJUDMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TIGA DOA YANG JANGAN ENGKAU LUPAKAN DALAM SUJUDMU

Syeikh Abdul Aziz Bin Baaz, semoga Allah merahmatinya, berkata:

Merupakan tiga doa yang janganlah engkau lupakan dalam sujudmu:

1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah:

١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة

Allahumma inni as’aluka husnal khotimah.

Artinya:

”Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah”

2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan tobat sebelum wafat

٢. اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut.

Artinya:

”Ya Allah aku berilah aku rezeki tobat nasuha (atau sebenar-benarnya tobat) sebelum wafat.”

3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas agama-Nya.

٣. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinik.

Artinya:

”Ya Allah, wahai Sang Pembolak Balik Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU”.

Kemudian saya sampaikan, jika kau sebarkan perkataan ini, dan kau berniat baik denganya, maka semoga menjadikan mudah urusan urusanmu di dunia dan Akhirat.

Peringatan:

Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah engkau ketahui, amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke Surga Allah.

Dan berkata Syeikh Khalid: Ulangilah.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الذي لا إله الا هو الحيى القيوم و وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِه

Astaghfirullahal-ladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaih, ‘adada kholqih, wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘Arsyih, wa midaada kalimaatih.

Artinya:

Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada Sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya, sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.

  • Maka dengan izin Allah, kau akan lihat keajaiban dari diredakannya kekhawatiranmu dan dimudahkanya urusanmu,
  • Janganlah kau sembunyikan keutamaan (zikir)
  • Setiap nafas pada menit kehidupan kita, tidaklah akan kembali.
  • Maka jadikanlah dirimu merasakan manisnya beristighfar.
  • Yaa Allah Jadikanlah nasihatku ini sedekah jariyah bagiku dan kedua orang tuaku dan untuk seluruh umat Muslimin.

Silakan simak videonya dengan durasi 53 detik: Syaikh Bin Baz rahimahullah: “Tiga Doa Yang Jangan Kalian Lupakan Ketika Sujud”: https://youtu.be/zeEAKWqCtMM

 

,

DOA UNTUK PENGANTIN

DOA UNTUK PENGANTIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

DOA UNTUK PENGANTIN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Adalah Nabi ﷺ bila memberi ucapan kegembiraan terhadap seorang yang menikah, beliau ﷺ mendoakan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

 Barokallahu laka, wa baroka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khoyr.

Artinya:

“Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

@dzulqarnainms

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MutiaraSunnah

TUJUH KRITERIA MANUSIA YANG DIBENCI ALLAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ جِيفَةُ اللَّيْلِ ، حِمَارُ النَّهَارِ ، عَالِمٌ بِالدُّنْيَا ، جَاهِلٌ بِالْآخِرَةِ

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang:

  • Ja’dzari,
  • Jawwadz,
  • Sakhab di pasar,
  • Bangkai di malam hari,
  • Himar di siang hari,
  • Pintar masalah dunia, dan
  • Bodoh masalah Akhirat. [HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro no. 20593 dan dishahihkan dalam shahih al-Jami’]

Keterangan:

Ada tujuh kriteria manusia yang Allah benci,

Pertama: Ja’dzari. Ada beberapa keterangan tentang maknanya:

a. Orang yang sombong, keras, tidak mau menerima nasehat

b. Orang yang keras kepala, alot, suka menguasai milik orang lain.

Dan kita bisa simak, kedua makna ini berdekatan.

Kedua: Jawwadz. Di antara maknanya:

a. Orang yang banyak makan, banyak minum, suka menolak kebenaran

b. Sombong ketika berjalan, dan keras kepala

Ketiga: Sakhab di pasar

Suka teriak di pasar, dan selalu memaksa ketika bersengketa dengan orang lain. Suka membuat masalah, maunya menang sendiri dan galak.

Keempat: Bangkai di malam hari

Ungkapan untuk menunjukkan karakternya yang banyak tidur, pemalas, dan tidak pernah shalat malam.

Kelima: Himar di siang hari

Himar adalah lambang kebodohan. Dia bodoh pemahamannya, sekalipun pintar cari dunia. Sangat rakus terhadap dunia, hingga tidak pernah perhatian dengan aturan dan ibadah.

Keenam: Pintar masalah dunia

Bicara masalah dunia, dia ahlinya. Bicara masalah harta, dia juga ahlinya.

Ketujuh: Bodoh masalah Akhirat

Tidak pernah perhatian dengan agama, tidak pernah belajar maupun bertanya tentang sesuatu yang tidak dia pahami.

Kita berlindung kepada Allah dari semu karakter di atas.

 

Sumber: https://nasehat.net/453-kriteria-manusia-yang-dibenci-allah.html

,

BERAWAL DARI ISTRI SALEHAH

BERAWAL DARI ISTRI SALEHAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

BERAWAL DARI ISTRI SALEHAH

Bagaimanakah seseorang bisa mendapatkan anak yang saleh?

Faktor utama adalah pada istri yang salehah. Karena istri adalah madrasah awal di rumah.

Kalau suami SALAH memilih atau membina istri menjadi baik, maka keadaan anakmu ikut serba SALAH. Kalau suami menyerahkan pada istri yang salehah, anaknya jelas ikut saleh.

Karena yang sehari-hari bertemu dengan anak di rumah adalah ibunya. Makanya orang Arab mengatakan:

الأُمُّ هِيَ المدْرَسَةُ الأُوْلَى فِي حَيَاةِ كُلِّ إِنْسَان

“Ibu adalah sekolah pertama bagi kehidupan setiap insan.”

Kalau istri salehah yang dipilih, pasti akan mendapatkan keberuntungan. Karena:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاك

َ“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor, yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. [HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1446; dari Abu Hurairah].

Jadi awalnya dari orang tua, anak itu menjadi baik.

Bagi yang sudah terlanjur, tinggal memerbaiki diri. Semoga dengan istri menjadi baik, keadaan anak pun menjadi baik.

Namun sebenarnya bukan hanya dari istri. Suami juga memegang peranan. Suami hendaklah yang baik. Sehingga keduanya akan mendapatkan anak yang saleh/salehah.

Semoga Allah memberkahi keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sumber: RumayshoCom
Sumber: Twitter @IslamDiaries
,

ANTA MA’A MAN AHBABTA

ANTA MA'A MAN AHBABTA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ANTA MA’A MAN AHBABTA

Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).
Inilah di antara faidah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah, atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul ﷺ.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, bahwa seseorang bertanya pada Nabi ﷺ: “Kapan terjadi Hari Kiamat, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ berkata: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut menjawab: “Aku tidaklah memersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliauﷺ berkata:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْت
َ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” [HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639]

Dalam riwayat lain, Anas mengatakan: “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi ﷺ: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan: “Kalau begitu aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”  [HR. Bukhari no. 3688]

Sumber: Rumaysho.Com
Twitter @IslamDiaries

 

, ,

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraAyat
#DakwahSunnah

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

Bisa dijadikan pelajaran lagi dari Surat Yasin. Ingat, Alquran itu untuk yang hidup. Apa maksudnya?

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ (69) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ (70)

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Alquran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya), dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” [QS. Yasin: 69-70]

Kesimpulan Mutiara Ayat

  • Orang Arab Jahiliyyah menyifati Alquran dengan syair. Padahal Alquran bukan syair.
  • Orang Arab Jahiliyyah menuduh Rasulullah ﷺ sebagai penyair, padahal derajat kenabian sangat jauh dari penyair.
  • Maksud Alquran adalah zikir ada tiga makna:
(a) Alquran adalah peringatan dan berisi nasihat;
(b) Alquran adalah bentuk zikir yang paling utama;
(c) Alquran adalah kemuliaan, sehingga yang berpegang teguh dengan Alquran menjadi orang-orang mulia.
  • Alquran itu disifati dengan Mubin, yaitu penerangan. Maksudnya, Alquran itu menjelaskan segala sesuatu. Sehingga apa saja yang dibutuhkan manusia dijelaskan dalam Alquran, baik dengan penjelasan yang tegas (sharih), yang tampak jelas, isyarat, atau penjelasan yang sifatnya umum.
  • Alquran itu sebagai peringatan untuk hati yang hidup. Bisa juga maksudnya, Alquran sebagai peringatan untuk setiap orang yang hidup di muka bumi. Dua makna ini disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.
  • Orang kafir tidak mungkin mengambil manfaat dari Alquran. Begitu pula siapa saja yang tidak mau mengambil manfaat dari Alquran (sama sekali), maka ia kafir. Jika ada yang hanya mengambil sebagian Alquran, dan menolak sebagian yang lain, berarti ada bagian kekafiran dalam dirinya.
  • Adh-Dhahaak rahimahullah menyatakan: bahwa Alquran itu rahmat bagi orang Mukmin dan perkataan yang menghujam bagi orang kafir.
  • Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, Alquran pada hati ibarat hujan untuk tanah yang subur.

Referensi:

Tafsir Alquran Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 6: 357. Tafsir As-Sa’di, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hlm. 740. Tafsir Alquran Al-Karim Surat Yasin, Syaikh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin, hlm. 242-256.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15714-faidah-surat-yasin-Alquran-untuk-yang-hidup.html

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#MuslimahSholihah

BOLEHKAH WANITA SHALAT MENGENAKAN MUKENA TIPIS DAN TRANSPARAN?

>> Ketika dia shalat sendirian di dalam kamar tidurnya dan lampu dipadamkan

Di masa jahiliah, kata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita biasa thawaf di Kakbah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:

  • Pada hari ini tampak tubuhku, sebagiannya ataupun seluruhnya
  • Maka apa yang tampak darinya, tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah zinah (hiasan/pakaian) kalian setiap kali menuju masjid.” (al-A’raf: 31) [Shahih, HR. Muslim no. 3028]

Zinah (hiasan) adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memerindah diri. [Mukhtarush Shihah, hlm. 139], seperti pakaian.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dahulu orang-orang jahiliah thawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka, dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga kedatangan Islam, dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:

بَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ

“Wahai anak Adam, kenakanlah hiasan kalian setiap kali shalat di masjid.” (al-A’raf: 31)

Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ

“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Kakbah.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 1622 dan Muslim no. 1347) [Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, 18/162—163]

Hadis di atas selain disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah pada nomor di atas, pada Kitab al-Haj, Bab “Tidak Boleh Orang Yang Telanjang Thawaf Di Baitullah dan Tidak Boleh Orang Musyrik Melaksanakan Haji”, disinggung pula oleh beliau dalam Kitab ash-Shalah, Bab “Wajibnya Shalat dengan Mengenakan Pakaian.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam syarahnya (penjelasan) terhadap hadis di atas dalam Kitab ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadis ini terhadap judul bab yang diberikan al-Imam al-Bukhari rahimahullah adalah, apabila dalam thawaf dilarang telanjang, pelarangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Sebab apa yang disyaratkan di dalam shalat, sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.” [Fathul Bari, 1/582]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Mereka diperintah untuk mengenakan zinah (hiasan) ketika datang ke masjid,untuk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat hukumnya wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis-hadis yang Shahih.” [Fathul Qadir, 2/200]

Ada perbedaan antara batasan aurat yang harus ditutup di dalam shalat, dan aurat yang harus ditutup di hadapan seseorang yang tidak halal untuk melihatnya, sebagaimana ada perbedaan yang jelas antara aurat laki-laki di dalam shalat, dan aurat wanita.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, seseorang tidak boleh shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun sendirian di malam hari. Dengan demikian diketahuilah, bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukanlah karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia. Sebab, ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia, dan pakaian yang dikenakan ketika shalat.” [Majmu’ Fatawa, 22/113—114]

Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya. Yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu terkena najis, bau, dan kotor misalnya. Namun perlu diperhatikan pula sisi keindahan dan kebersihannya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana ayat di atas. Jadi, seorang hamba sepantasnya shalat mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan bermunajat dengan Rabb semesta alam, dan berdiri di hadapan-Nya.

Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Ikhtiyarat (hlm. 43), sebagaimana dinukil dalam asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (2/145).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah membawakan beberapa syarat pakaian yang dikenakan dalam shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

  • Tidak menampakkan kulit tubuh yang ada di balik pakaian
  • Bersih dari najis
  • Bukan pakaian yang haram untuk dikenakan, seperti sutra bagi laki-laki, atau pakaian yang melampaui/melebihi mata kaki bagi laki-laki (isbal)
  • Pakaian tersebut tidak menimbulkan mudarat/bahaya bagi pemakainya. [Lihat pembahasan dan dalil-dalil masalah ini dalam asy-Syarhul Mumti’, 2/148—151]

Bagian Tubuh yang Harus Ditutup

Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yang harus ditutup oleh wanita merdeka (bukan budak) dalam shalatnya.

Al-Imam asy-Syafi’i dan al-Auza’i rahimahumallah berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ [Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ‘Atha rahimahullah].

Lain lagi yang dikatakan oleh Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat, sampai pun kukunya.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah sejalan dengan pendapat ini, beliau berkata: ‘Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan shalat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuhnya, tidak terkecuali kukunya’.” (Ma’alimus Sunan, 2/343)[ Sebagaimana dinukil dalam Jami’ Ahkamin Nisa’ (1/321)]

Sebenarnya dalam permasalahan ini TIDAK ADA DALIL YANG JELAS yang bisa menjadi pegangan, kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (asy-Syarhul Mumti’, 2/156)

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya), kecuali bagian tubuh yang biasa tampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan, dan telapak kaki. [Majmu’ Fatawa, 22/109—120]

Dengan demikian, ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita, atau di hadapan mahramnya, dibolehkan baginya untuk membuka wajah, dua telapak tangan, dan dua telapak kakinya. [Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/333—334]

Walaupun yang lebih utama ialah ia menutup dua telapak kakinya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Apabila ada laki-laki yang bukan mahramnya, ia menutup seluruh tubuhnya termasuk wajah. [Bagi yang berpendapat wajibnya menutup wajah. (-red)] (asy-Syarhul Mumti’, 2/157)

Pakaian Wanita Di Dalam Shalat

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas TIDAK BISA dikatakan menutup aurat.

Bila ada yang berdalih: “Saya mengenakan pakaian shalat yang seperti itu hanya di dalam rumah, sendirian di dalam kamar, dan lampu saya padamkan!”, kita katakan, bahwa pakaian shalat seperti itu (mukena ditambah pakaian minim di baliknya) tidak boleh dikenakan, walaupun ketika shalat sendirian, tanpa ada seorang pun yang melihat. Sebab, pakaian itu tidak cukup untuk menutup aurat. Padahal ketika shalat, wanita tidak boleh terlihat bagian tubuhnya kecuali wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. [Lihat ucapan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa sebagaimana dinukilkan di atas]

Terlebih lagi pelarangan, bahkan pengharamannya, ketika pakaian seperti ini dipakai keluar rumah untuk shalat di masjid, atau di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Jika demikian, bagaimana sebenarnya pakaian yang boleh dikenakan oleh wanita di dalam shalatnya?

Masalah pakaian wanita di dalam shalat ini disebutkan dalam beberapa hadis yang marfu’. Namun, kedudukan hadis-hadis tersebut diperbincangkan oleh ulama.

Di antaranya, hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (baligh), kecuali apabila ia mengenakan kerudung (dalam shalatnya).” [HR. Abu Dawud no. 641 dan selainnya]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam at-Talkhisul Habir (2/460), hadis ini dianggap cacat oleh ad-Daraquthni karena Mauquf-nya (hadis yang berhenti hanya sampai sahabat).

Adapun al-Hakim menganggapnya mursal (hadis yang terputus antara tabi’in dan Rasulullah ﷺ).

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung tanpa izar?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh), apabila dira’nya itu luas/lapang, hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.” [HR. Abu Dawud no. 640]

Dira’ adalah pakaian lebar/lapang yang menutupi sampai kedua telapak kaki, kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/164]

Sedangkan izar adalah milhafah (al-Qamushul Muhith, hlm. 309). Makna milhafah sendiri diterangkan dalam al-Qamush (hlm. 767) adalah pakaian yang dikenakan di atas seluruh pakaian (sehingga menutup/menyelubungi seluruh tubuh seperti abaya dan jilbab. [Lihat asy-Syarhul Mumti’, 2/164—165]

Hadis Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini tidak Shahih sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf, karena hadis ini berporos pada Ummu Muhammad bin Zaid. Padahal dia adalah rawi yang majhul (tidak dikenal). [Demikian diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 161)].

Meski demikian, ada riwayat-riwayat yang Shahih dari para sahabat dalam pemasalahan ini sebagaimana akan kita baca berikut ini:

Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata: “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi ﷺ, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128) [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Ubaidullah al-Khaulani, anak asuh Maimunah radhiyallahu ‘anha mengabarkan, bahwa Maimunah shalat dengan memakai dira’ dan kerudung tanpa izar. [Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf] [Isnadnya Shahih, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah (hlm. 162)]

Masih ada atsar lain dalam masalah ini, yang semuanya menunjukkan, bahwa shalat wanita dengan mengenakan dira’ dan kerudung adalah perkara yang biasa, serta dikenal di kalangan para sahabat. Dan ini merupakan pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk menutupi auratnya di dalam shalat.

Apabila wanita itu ingin lebih sempurna dalam berpakaian ketika shalat, ia bisa menambahkan izar atau jilbab pada dira’ dan kerudungnya. Ini yang lebih sempurna dan lebih utama, kata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah. Dalilnya ialah riwayat dari Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Wanita shalat dengan mengenakan tiga pakaian yaitu dira‘, kerudung, dan izar.” [Riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang Shahih, lihat Tamamul Minnah, hlm. 162]

Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. [Bidayatul Mujtahid, hlm. 100]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan: “Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira’ – pakaian yang sama dengan gamis, namun lebar dan panjang sampai menutupi kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira’. Demikian yang diriwayatkan dari ‘Umar, putra beliau (Ibnu ‘Umar), ‘Aisyah, Abidah as-Salmani, dan ‘Atha. Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata: ‘Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira’ dan kerudung, apabila ditambahkan pakaian lain, itu lebih baik dan lebih menutup’.” [Al-Mughni, 1/351]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab, yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izarnya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata: ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian, apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’. [Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322]

Bolehkah Shalat dengan Satu Pakaian?

Di dalam shalat, wanita dituntunkan untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali bagian yang boleh terlihat, walaupun ia hanya mengenakan satu pakaian yang menutupi kepala, dua telapak tangan, dua telapak kaki, dan seluruh tubuhnya kecuali wajah.

Seandainya ia berselimut dengan satu kain sehingga seluruh tubuhnya tertutupi kecuali muka, dua telapak tangan, dan telapak kakinya, maka ini mencukupi baginya, menurut pendapat yang mengatakan, dua telapak tangan dan telapak kaki tidak termasuk bagian tubuh yang wajib ditutup. [Asy-Syarhul Mumti’, 2/165]

Ikrimah rahimahullah berkata: “Seandainya seorang wanita shalat dengan menutupi tubuhnya dengan satu pakaian/kain, maka hal itu dibolehkan.” [Shahih al-Bukhari, “Kitab ash-Shalah bab Berapa Pakaian yang Boleh Dikenakan Wanita Ketika Shalat”]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Setelah menghikayatkan pendapat jumhur, bahwa wajib bagi wanita untuk shalat memakai dira’ dan kerudung, Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: ‘Yang diinginkan dengan pendapat tersebut adalah, ketika shalat seorang wanita harus menutupi tubuh dan kepalanya. Seandainya pakaian yang dikenakan itu lapang/lebar, lalu ia menutupi kepalanya dengan sisa/kelebihan pakaiannya, maka hal itu dibolehkan.’

Ibnul Mundzir juga berkata: ‘Apa yang kami riwayatkan dari Atha’ rahimahullah bahwasanya ia berkata: [Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan izar], demikian pula riwayat yang semisalnya dari Ibnu Sirin rahimahullah dengan tambahan milhafah, maka aku menyangka hal ini dibawa pemahamannya kepada istihbab.” [Fathul Bari, 1/602—603]. Yakni satu pakaian yang menutupi seluruh tubuh sebenarnya sudah mencukupi, namun disenangi apabila ditambah dengan pakaian-pakaian yang disebutkan.

Mujahid dan ‘Atha rahimahumallah pernah ditanya tentang wanita yang memasuki waktu shalat, sementara ia tidak memiliki kecuali satu baju, apa yang harus dilakukannya?

Mereka menjawab: “Ia berselimut dengannya.”

Demikian pula yang dikatakan Muhammad bin Sirin rahimahullah. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/226]

Demikian apa yang dapat kami nukilkan dalam permasalahan ini untuk pembaca. Semoga memberi manfaat!

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah