Posts

,

AJARAN SYIAH, PINTU KEMUNAFIKAN DAN KEKAFIRAN TERBESAR

AJARAN SYIAH, PINTU KEMUNAFIKAN DAN KEKAFIRAN TERBESAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
AJARAN SYIAH, PINTU KEMUNAFIKAN DAN KEKAFIRAN TERBESAR
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
 
الذي ابتدع الرفض كان يهوديا أظهر الإسلام نفاقا ودسّ إلى الجهال دسائس يقدح بها في أصل الإيمان، ولهذا كان الرفض أعظم أبواب النفاق والزندقة
 
“Orang yang mencentuskan ajaran Syiah pertama kali adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Ia menyusupkan ajaran-ajaran yang merusak keimanan kepada orang-orang bodoh. Oleh karena itu ajaran Syiah adalah pintu kemunafikan dan kekafiran terbesar.” [Majmu’ Al-Fatawa, 4/428]
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Sumber: [sofyanruray.info]
#manhajSalaf #SyiahbukanIslam #Syiah #pintukemunafikandankekafiranterbesar #Yahudi #PencetusnyaYahudi #purapuramasukIslam #zindiq #tauhid
,

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

Jujur, dari dulu saya pun heran, kenapa sebagian dari umat Muslim malah mengadakan acara keislaman seperti zikir bersama atau tabligh akbar saat tahun baru 1 Januari. Wake up dooong ayo sadaaar. Perayaan ini datangnya dari orang kafir.

Dikutip dari tulisan Ustadz Ammi Nur Baits dalam artikelnya, tahun baru merupakan pesta warisan dari orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan perayaan itu untuk Dewa Janus, yakni The God of Gates, Doors, and Beginnings. Dewa Janus memiliki dua wajah, satu menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Lalu apakah dengan melakukan zikir bersama pada malam perayaan tahun baru, untuk Dewa Janus, akan menjadikannya diperbolehkan dalam Islam???

🔽
Perbedaan orang yang zikir bersama dengan orang yang begadang hura-hura saat tahun baru itu hanya pada CARA dia merayakannya. Orang yang satu dengan ibadah, sementara yang satu dengan maksiat. Tapi tetap kedua-duanya SALAH. Sama-sama bertasyabbuh. Karena poinnya di sini BUKAN pada “BAGAIMANA merayakan itu” tapi “APA perayaan itu”. Entah kita berusaha mengislam-islamkan tahun baru dengan zikir pun, itu TIDAK AKAN mengubah kenyataan, bahwa tahun baru adalah perayaan agama lain.

🔽
Saudara Muslim kita merayakan tahun baru mungkin didasari atas ketidakpahaman mereka. Maka tugas kita adalah menasihati mereka agar mereka tidak merayakannya lagi. Bukan lantas mengemas acara tahun baru dengan konsep Islami. Ini justru akan menimbulkan keyakinan pada mereka, bahwa merayakan tahun baru itu boleh, asal dengan ibadah.

Apakah jika orang Nasrani merayakan Natal dengan bernyanyi lalu orang Islam merayakan Natal dengan bershalawat? Itu akan menjadikan perayaan Natal diperbolehkan dalam Islam??? Tidak toh?! Begitu pula dengan tahun baru. Berpikirlah wahai umat Muhammad ﷺ. Jangan kita perlahan menyerupai Yahudi dan Nasrani.

Allah ﷻ berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 42, Janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil.

Barakallahu fiik.

 

 

Silakan simak video berikut ini:

Atau

 

 

 

 

Atau:

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tahunbaru, #NewYear, #merayakantahunbaru #happynewyear #perayaantahunbaru, #mengucapkanselamattahunbaru, #hukum, #tasyabuh, #tasyabbuh #Majusi #Yahudi #Nasrani #Nasharoh #perayaanorangkafir #zikirbersamatahunbaru, #dzikirbersamatahunbaru, #zikirtahunbaru #zikirmalamtahun, #zikirperayaantahunbaruhijriyah #hijriyyah, #masehi, #tahunbarumasehi, #tahunbaruhijriyah #bidah #bukanperayaankesilaman #taonbaru #taunbaru #dzikirakbar, #zikirakbar, #bidah, #doabersamamalamtahunbaru

 

 

 

,

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun, yang mana mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi ﷺ datang ke kota Madinah, beliau ﷺ bersabda:
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadis ini Shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142]
 
Yakin masih ingin merayakan Tahun Baru?
  • Yang menyalakan kembang api seperti kaum Majusi,
  • Meniup terompet seperti kaum Yahudi,
  • Bernyanyi layaknya kaum Nasrani, dst.
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” [HR Abu Dawud]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tahunbaru #bidah #NewYear #perayaantahunbaru, #tahunbarujahiliyah, #jahiliyyah, #jahiliyah, #tahunbarujahiliyah #Yahudi, #Majusi, #Nasrani, #Nashrani, #Nasharoh #duahariIed, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #bersenangsenang #bermainmain
, ,

SANG PENGHIANAT SEJATI, YAHUDI!

SANG PENGHIANAT SEJATI, YAHUDI!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SANG PENGHIANAT SEJATI, YAHUDI!
 
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
إذا كانوا لم يفوا بالعهد لأشرف البشر محمدـ صلى الله عليه وسلم ـ فكيف بمن دونه؟! نفهم أن اليهود أهل غدر وخيانة
 
“Jika dahulu orang-orang Yahudi berani tidak menunaikan janji mereka kepada manusia paling mulia, yaitu Muhammad ﷺ, lalu bagaimana terhadap selain beliau ﷺ (tentu mereka lebih berani melakukannya)?! Sehingga dari sini kita bisa memahami, bahwa orang-orang Yahudi adalah para penipu dan penghianat.” [Silsilah Liqaat al-Bab al-Maftuh]
 
#Yahudi, #pengkhianatsejati, #penipudanpengkhianat #Yahudipengkhianatsejati

SIKAP PERTENGAHAN, MENDEKATI BENAR

SIKAP PERTENGAHAN, MENDEKATI BENAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SIKAP PERTENGAHAN, MENDEKATI BENAR

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Allah berfirman:
 
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
 
Demikianlah Kami telah jadikan kamu (umat Islam), umat yang adil, umat pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia [QS. al-Baqarah: 143]
Allah jadikan umat Islam sebagai umat pertengahan. Karena pertengahan, dia menjadi umat paling adil dan umat pilihan. Tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Karena pertengahan, mereka bisa menilai kesalahan umat-umat lainnya yang ekstrim. Karena pertengahan, mereka menjadi saksi bagi seluruh umat manusia.
 
Dalam Masalah Ilmu dan Amal
  • Orang Yahudi menyimpang karena memahami ilmu, tapi tidak mau mengamalkan.
  • Orang Nasrani menyimpang karena semangat beramal, tapi tanpa landasan ilmu.
  • Umat Islam pertengahan, mereka belajar ilmu (Alquran dan Hadis) dan berusaha mengamalkannya.
 
Dalam Masalah Bermuamalah dengan Para Nabi
  • Orang Yahudi bersikap ekstrim dengan merendahkan para nabi, hingga mereka menuduh para nabi dengan kekejian.
  • Orang Nasrani ekstrim dalam mengagungkan para nabi, hingga memosisikan mereka layaknya Tuhan.
  • Orang Islam bersikap pertengahan. Mereka mengagungkan dan menghormati para nabi sebagai utusan Allah, namun mereka tidak mengultuskan hingga memosisikannya layaknya Tuhan. Para nabi adalah hamba yang tidak memiliki sifat ketuhanan, dan mereka utusan Allah yang wajib ditaati secara mutlak.
 
Dalam Masalah Mengimani Takdir
  • Kelompok Qadariyah bersikap ekstrim dengan menolak takdir. Perbuatan manusia di luar takdir Allah.
  • Kebalikannya kelompok Jabariyah, mereka menganggap manusia sama sekali tidak punya kehendak, layaknya wayang yang dikendalikan dalang. Sehingga apapun yang mereka lakukan tidak akan dihisab. Takdir menjadi alasan untuk bermaksiat.
  • Ahlus Sunnah pertengahan. Mereka meyakini manusia punya kehendak, dan perbuatannya akan dihisab. Namun kehendak manusia di bawah kehendak Allah.
 
Dalam Masalah Kehormatan Ali
  • Orang Khawarij menganggap Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya kafir.
  • Orang Syiah mengultuskan Ali layaknya nabi atau lebih tinggi dari nabi. Meyakini bahwa beliau maksum.
  • Ahlus Sunnah pertengahan. Ali adalah sahabat mulia yang dijamin masuk Surga. Namun beliau bukan nabi dan tidak maksum.
Dalam Berinteraksi dengan Orang Saleh
  • Kaum Liberal merendahkan orang saleh dan tidak menghormati mereka.
  • Orang Sufi mengaggungkan orang saleh dan mengambil berkah dengan ludahnya.
  • Ahlus Sunnah menghormati orang saleh dan tidak mengultuskannya. Mereka menghormati sesuai batasan syariat, dengan mengikuti pendapatnya yang sesuai kebenaran.
 
Dalam Interaksi dengan Pemerintah
  • Satu kelompok bersikap ekstrim, hingga menganggap Thaghut semua jajaran pemerintah.
  • Satu kelompok justru serakah dan berusaha merebutnya dengan segala cara.
  • Ahlus Sunnah pertengahan. Mereka tidak mengafirkan pemerintah tanpa bukti yang jelas, menghormati keputusan pemerintah yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, namun mereka bukan orang yang serakah dengan jabatan.
 
Dalam berinteraksi dengan Nabi ﷺ
  • Orang Liberal menghina dan mencela Nabi ﷺ. Hingga ada yang meragukan kejujuran beliau ﷺ sebagai seorang nabi.
  • Orang Sufi mengagungkan beliau ﷺ hingga membuat pujian untuk beliau layaknya Tuhan, atas nama shalawat.
  • Ahlus Sunnah mengagungkan dan menjunjung tinggi beliau ﷺ, dan berusaha mengikuti semua sunah beliau ﷺ. Namun mereka tidak mengultuskan beliau dengan pujian yang berlebihan.
 
Hindari sikap ekstrim dalam segala urusan. Sikap ekstrim akan menghalangi manusia untuk bersikap adil.
 
 
Allahu a’lam
 
 
#SikapPertengahan #MendekatiBenar #alhaq #kebenaran #agamapertengahan #adil #tidakberlebihan #tengah, #ekstrimkirim, #ekstrimkanan, #Sufi, #Yahudi, #Khawarij, #Khowarij, #Jabariyah, #Qadariyah, #imankepadatakdir #Sufi, #ahlussunnah #Nasrani #AhlusSunnahpertengahan #umatpilihan #umatMuhammad

SANBENITO, TOPI KHAS TANDA MUSLIM TELAH MURTAD, YANG KINI DIJADIKAN SIMBOL PERAYAAN TAHUN BARU

SANBENITO,-TOPI-KHAS-TANDA-MUSLIM-TELAH-MURTAD-YANG-KINI-DIJADIKAN-SIMBOL-PERAYAAN-TAHUN-BARU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SANBENITO, TOPI KHAS TANDA MUSLIM TELAH MURTAD, YANG KINI DIJADIKAN SIMBOL PERAYAAN TAHUN BARU
 
Setiap momen perayaan ulangtahun serta pergantian tahun baru Masehi, kita sudah terbiasa melihat penggunaan topi kerucut dan juga mendengar tiupan terompet yang bersahut-sahutan. Bahkan tak jarang kita belikan anak-anak kita, karena mereka merajuk ingin sama seperti teman-teman yang lain.
 
Akan tetapi pikir sekali lagi untuk membiarkan anak kita menggunakan topi kerucut dan terompet. Selain tidak ada contoh dari Rasulullah ﷺ, sejarah penggunaan topi dan terompet tahun baru ini sangat mencengangkan.
 
Topi Tahun Baru yang Berbentuk Kerucut Ternyata adalah Topi Sanbenito, Tanda Muslim Telah Murtad
 
Sanbenito (dalam bahasa Spanyol disebut Sambenito) adalah pakaian “tobat” untuk kalangan Kristen yang menyimpang dari paham gereja. Jika mereka mau kembali ke paham gereja Katolik Roma dengan memakai Sanbenito yang meliputi jubah dan topi kerucut, mereka diampuni dari inkuisisi.
 
Pada perkembangannya, topi Sanbenito dipaksakan pula kepada kaum Muslimin Andalusia. Ketika kaum Frank menyerang Spanyol Muslim (Andalusia) pada masa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela (keduanya penganut Kristiani) berkuasa di Andalusia, kaum Muslimin dibantai. Keduanya memberi jaminan hidup kepada orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar dari Islam.
 
Maka untuk membedakan mana yang sudah murtad dan mana yang belum adalah ketika seorang Muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut. Jadi Sanbenito adalah sebuah tanda berupa pakaian khusus untuk membedakan, mana yang sudah di-converso (murtad).
 
“Saat itu umat Islam di Andalusia dibantai, kecuali yang memakai Sanbenito. Itu sama artinya bersedia mengikuti agama Ratu Isabela. Topi ala Sanbenito itulah sebagai simbol orang Islam yang sudah murtad. Topi itu digunakan saat keluar rumah, termasuk ketika ke pasar. Dengan menggunakan Sanbenito mereka aman dan tidak dibunuh.
 
Setelah pembantaian selesai, agenda Ratu Isabela selanjutnya adalah mengejar Muslim yang lari dan bersembunyi ke Amerika Selatan. Orang Islam yang tertangkap lalu diseret ke lembaga inkuisi (penyiksaan) yang dilaksanakan oleh orang gereja. Adapun pastur pertama yang ditunjuk Ferdinand dan Isabela untuk melaksanakan inkuisi adalah pastur bernama Torquemada. Ia adalah Jenderal Yahudi yang dikenal sebagai pembantai umat Islam Andalusia.
 
Bukan hanya orang Islam saja yang diseret ke lembaga inkuisisi, tapi juga orang Yahudi yang menolak masuk Kristen. Di tanah lapang, mereka kemudian ada yang dibakar hidup-hidup, ada pula yang disiksa dengan kayu yang diruncingkan sehingga bokongnya akan tertusuk. Penyiksaan lainnya ada yang dipatahkan kakinya. Kekejaman inkuisisi itu memang hendak membuat mati seseorang dengan secara perlahan. Sadis!
 
Jika topi Sanbenito identik dengan “pertobatan” Kristen, maka terompet identik dengan ritual Yahudi. Sejarah mencatat sejak tahun 63 SM, Yahudi sudah akrab dengan penggunaan terompet. Dan hal itu berlangsung hingga zaman Rasulullah Muhammad ﷺ.
 
Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ menolak ketika ada yang mengusulkan memakai terompet untuk memanggil kaum Muslimin menjelang shalat berjamaah. “Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi,” sabda beliau ﷺ seperti diabadikan dalam hadis riwayat Abu Daud.
 
Demikianlah sejarah topi kerucut Sanbenito dan terompet. Semoga kita semua terlindung dari memakai topi kerucut Sanbenito dan juga meniup terompet, kapanpun dan di mana pun.
 
Wallahu a’lam.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#topikerucut, #Sanbenito, #tahunbaru, #newyear #perayaantahunbaru #simbolsimbol, #atribut #terompet #Yahudi #meniupterompetkebiasaanYahudi #tanda muslim telah murtad
,

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
 
Terompet itu budaya Yahudi. Namun itulah yang dilakukan oleh kaum Muslimin di malam tahun baru, hanya mengekor budaya Yahudi.
 
Tak percaya?
 
Silakan renungkan hadis berikut ini. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar:
 
عَنْ أَبِى عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ الأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِلصَّلاَةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلاَةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ – يَعْنِى الشَّبُّورَ – وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورَ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ». قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ». فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ
 
“Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan: ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar, maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju. Lantas beliau bersabda: ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar: ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” [HR. Abu Daud no. 498. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)
 
Dari hadis di atas menunjukkan bahwa terompet itu tradisi Yahudi. Nah itulah yang diikuti oleh orang-orang yang merayakan tahun baru. Budaya Yahudilah yang diikuti.
 
Memanfaatkan uang untuk membeli terompet tahun baru termasuk PEMBOROSAN karena telah menyalurkan harta tidak pada kebaikan. Allah ta’ala berfirman:
 
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
 
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS. Al Isra’: 26-27]
 
Az Zujaj berkata, bahwa yang dimaksud boros adalah:
 
النفقة في غير طاعة الله
 
“Mengeluarkan nafkah pada selain ketaatan pada Allah.” [Disebutkan dalam Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi]
 
Apa seorang Muslim boleh mengikuti budaya Yahudi?
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ».
 
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim no. 2669]
 
Silakan berpikir jika ingin menjadi seorang Muslim sejati.
Hanya Allah yang memberi hidayah.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#terompetitubudayaYahudi, #terompet, #Yahudi, #kebiasaanYahudi, #tiupterompet, #tahunbaru, #bidah, #akidahIslam, #aqidahIslam, #lubangbiawak, #lubangdhob #boros, #pemborosan #malamtahunbaru, #NewYearseve

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

BAGAIMANA CARA MEMAKAN SEMBELIHAN AHLUL KITAB (YAHUDI & NASRANI)?
>> Bagaimana pula cara memakan sembelihan kaum Paganis atau Komunis?

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“TIDAK HARUS BERTANYA, siapa yang menyembelih, (apakah) orang Islam atau Ahli Kitab. Bagaimana cara menyembelihnya? Apakah membaca Bismillah atau tidak? Bahkan tidak layak, karena hal itu termasuk BERLEBIHAN dalam beragama. Sementara Nabi ﷺ makan dari apa yang disembelih Yahudi tanpa menanyakan kepada mereka.

Dalam shahih Bukhari dan lainnya dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa orang-orang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Sesungguhnya kaum non-Muslim mengantarkan daging kepada kami. Kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah atau tidak.” Maka beliau ﷺ bersabda: “Hendaknya kalian baca Bismillah dan makanlah.” (Aisyah) mengatakan: “Mereka baru masuk Islam. Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada mereka memakannya tanpa menanyakannya, padahal orang-orang yang datang itu boleh jadi tidak mengerti hukum-hukum Islam, karena mereka baru masuk Islam.” [Risalah Fi Ahkami Udhiyah Wazakat karangan Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah]

Berdasarkan penjelasan tadi, maka siapa yang bepergian ke negara non-Islam yang mayoritas penyembelihnya adalah orang Nasrani dan Yahudi, maka DIHALALKAN makan dari sembelihan mereka, kecuali kalau diketahui mereka menyembelih dengan memakai listrik atau menyebutkan selain nama Allah seperti tadi. Adapun kalau orang yang menyembelih itu Paganis atau Komunis, maka sembelihannya TIDAK HALAL. Kalau sembelihannya diharamkan, maka tidak diperbolehkan makan darinya, walau dengan alasan terpaksa, selama untuk menjaga kehidupannya dia dapat memakan ikan atau sayuran dan semisalnya.

Syekh Abdurrahman Barrak hafizahullah mengatakan: “Daging yang didatangkan dari negara kafir itu bermacam-macam. Sementara kalau ikan itu halal semuany,a karena kehalalannya tidak tergantung dari penyembelihan, dan juga tidak diharuskan menyebutkan nama Allah.

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

 

#sembelihan, #hukum, #ahlikitab, #ahlulkitab, #Yahudi, #Nasrani, #Nashrani, #Paganis, #Komunis, #Kafir, #cara, #makan,#memakan, #dagingpotong, #negerikafir, #negarakafir #tidakharusbertanya, #tidakharustanya #Bismillah, #cukupmembacaBismillah, #cukupbacaBismillah #potong #memotong #menyembelih

,

CARA-CARA BERPUASA DI HARI ASYURA

CARA-CARA BERPUASA DI HARI ASYURA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
CARA-CARA BERPUASA DI HARI ASYURA
>> Diolah oleh Aris Munandar bin S Ahmadi, dari kitab Rad’ul Anam Min Muhdatsati Asyiril Muharram Al-Haram, karya Abu Thayib Muhammad Athaullah Hanif, tahqiq Abu Saif Ahmad Abu Ali
 
Ada empat cara berpuasa di hari Asyura:
 
1. Berpuasa selama tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafal sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam al-Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2/2:
 
خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ
 
“Selisihilah orang Yahudi, dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”
 
Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang Al-Urf asy-Syadzi:
 
صُومُوهُ وَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا وَ لاَ تُشَبِّهُوَا بِالْيَهُوْدِ
 
“Puasalah pada hari Asyura, dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya, dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.”
 
Namun di dalam sanadnya ada rawi yang diperbincangkan. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al 2/76): ”Ini adalah derajat yang sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan: ”Inilah yang utama.”
 
Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani (Nailul Authar 4/245) dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan 5/434.
 
Namun Mayoritas Ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni 3/174 menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.
 
2. Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram
Mayoritas hadis menunjukkan cara ini:
 
صَامَ رَسُولُ الهِع صَلَّى الهُت عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ الهِس إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
“Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata: ”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau ﷺ bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram -pent).” Tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah ﷺ telah wafat.” [Hadis Shahih Riwayat Muslim 2/796, Abu Daud 2445, Thabary dalam Tahdzibul Atsar 1/24, Baihaqi dalam Al-Kubra 4/287 dan As-Shugra 2/119 serta Syu’abul Iman 3506 dan Thabrabi dalam Al-Kabir 10/391]
 
Dalam riwayat lain:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
 
“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.” [Hadis Shahih Muslim 2/798, Ibnu Majah 736, Ahmad 1/224, 236, 345, Baihaqi 4/287, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanafnya 3/58, Thabrani dalam Al-Kabir 10/401, Thahawi 2/77 dan lain-lain].
 
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata [Fathul Baari 4/245]: ”Keinginan beliau ﷺ untuk berpuasa pada hari kesembilan mengandung kemungkinan, bahwa beliau ﷺ tidak hanya berpuasa pada hari kesembilan saja, namun juga ditambahkan pada hari kesepuluh. Kemungkinan dimaksudkan untuk berhati-hati, dan mungkin juga untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nashara. Kemungkinan kedua inilah yang lebih kuat, yang itu ditunjukkan sebagian riwayat Muslim.”
 
عَنْ عَطَاء أَنَّهُ سَمِعَ ابْنِ عَبَاسٍ يَقُوْلُ: وَخَالِفُوا الْيَهُودَ صُومُوا التَّاسِعَ وَ الْعَاشِرَ
 
“Dari ‘Atha’, dia mendengar Ibnu Abbas berkata: ”Selisihilan Yahudi, berpuasalah pada 9 dan 10 (Muharram -pent)”.
 
3. Berpuasa Dua Hari, yaitu 9 dan 10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram
 
صُومُوا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
 
“Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah orang Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”
 
Hadis Marfu’ ini TIDAK SHAHIH karena ada tiga illat (cacat):
• Ibnu Abi Laila, lemah karena hafalannya buruk.
• Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas, bukan hujjah
• Perawi sanad hadis tersebut secara mauquf lebih tsiqah dan lebih hafal daripada perawi jalan/sanad Marfu’
 
Jadi hadis di atas SHAHIH SECARA MAUQUF, sebagaimana dalam as-Sunan al-Ma’tsurah karya As-Syafi’i no 338 dan Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar 1/218.
 
Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): ”Dalam sebagian riwayat disebutkan atau sesudahnya, maka kata atau di sini mungkin karena keraguan dari perawi, atau memang menunjukkan kebolehan….”
 
Al-Hafidz berkata [Fathul Baari 4/245-246): ”Dan ini adalahl akhir perkara Rasulullah ﷺ. Dahulu beliau ﷺ suka menyocoki Ahli Kitab dalam hal yang tidak ada perintah. Lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau ﷺ suka menyelisihi Ahli Kitab sebagaimana dalam hadis shahih. Maka ini (masalah puasa Asyura) termasuk dalam hal itu. Maka pertama kali beliau ﷺ menyocoki Ahli Kitab dan berkata: ”Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian (Yahudi).” Kemudian beliau ﷺ menyukai menyelisihi Ahli Kitab, maka beliau ﷺ menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi Ahli Kitab.”
 
Ar-Rafi’i berkata (at-Talhish al-Habir 2/213): ”Berdasarkan ini, seandainya tidak berpuasa pada hari kesembilan, maka dianjurkan untuk berpuasa pada hari kesebelas.″
 
4. Berpuasa Pada 10 Muharram Saja
Al-Hafidz berkata [Fathul Baari 4/246): ”Puasa Asyura mempunyai tiga tingkatan:
• Yang terendah berpuasa sehari saja,
• Tingkatan di atasnya ditambah puasa pada hari kesembilan, dan
• Tingkatan di atasnya ditambah puasa pada hari kesembilan dan kesebelas. Wallahu a’lam.”
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
 
 
Catatan Tambahan:
Hadis Mauquf menurut istilah adalah “Sabda/perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang shahabat Nabi ﷺ, baik yang bersambung sanadnya kepada Nabi ﷺ ataupun tidak bersambung.
 
Hadis Marfu’ menurut istilah adalah “Sabda/perkataan, atau perbuatan, atau taqrir (penetapan), atau sifat yang disandarkan kepada Nabi ﷺ, baik yang bersifat jelas ataupun secara hukum (disebut Marfu’ = Marfu’ Hukman), baik yang menyandarkannya itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus).
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

SEJARAH DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURA

SEJARAH DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SEJARAH DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURA

>> Diolah oleh Aris Munandar bin S Ahmadi, dari kitab Rad’ul Anam Min Muhdatsati Asyiril Muharram Al-Haram, karya Abu Thayib Muhammad Athaullah Hanif, tahqiq Abu Saif Ahmad Abu Ali
 
Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram), meski merupkan hari bersejarah dan diagungkan, namun orang TIDAK BOLEH berbuat bid’ah di dalamnya. Adapun yang dituntunkan syariat kepada kita pada hari itu HANYALAH BERPUASA, dengan dijaga agar JANGAN SAMPAI TASYABBUH dengan ORANG YAHUDI.
 
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي الهُِ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ الهِن صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ …
 
“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah ﷺ pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau ﷺ sampai di Madinah, beliau ﷺ berpuasa pada hari itu, dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” [Hadis Shahih Riwayat Bukhari 3/454, 4/102-244, 7/147, 8/177,178, Ahmad 6/29, 30, 50, 162, Muslim 2/792, Tirmidzi 753, Abu Daud 2442, Ibnu Majah 1733, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/319,320, Al-Humaidi 200, Al-Baihaqi 4/288, Abdurrazaq 4/289, Ad-Darimy 1770, Ath-Thohawi 2/74 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya 5/253]
 
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الهُل بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ
 
“Nabi ﷺ tiba di Madinah, kemudian beliau ﷺ melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau ﷺ bertanya: ”Apa ini?” Mereka menjawab: ”Sebuah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah ﷺ menjawab: ”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi). Maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” [Hadis Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286, Al-Humaidi 515, Ath-Thoyalisi 928]
 
Dua hadis ini menunjukkan, bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyah, dan sebelum hijrah pun Nabi ﷺ telah melakukannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau ﷺ temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi ﷺ pun berpuasa, dan mendorong umatnya untuk berpuasa.
 
Diriwayatkan pada hadis lain:
 
وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى
 
“Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi”, lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur” [Hadis Riwayat Ahmad 2/359-360 dengan jalan dari Abdusshomad bin Habib Al-Azdi dari bapaknya dari Syumail dari Abu Hurairah, Abdusshomad dan bapaknya keduanya Dha’if]
 
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِي الهُل عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ الهِ صَلَّى الهُه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ
 
“Abu Musa berkata: “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya. Maka Rasulllah ﷺ bersabda: “Puasalah kalian pada hari itu” [Hadis Shahih Riwayat Bukahri 4/244, 7/274, Muslim 2/796, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/322 dan Al-Baihaqi 4/289]
 
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
 
“Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau ﷺ menjawab: “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin” [Hadis Shahih Riwayat Muslim 2/818-819, Abu Daud 2425, Ahmad 5/297, 308, 311, Baihaqi 4.286, 300 Abdurrazaq 4/284, 285]
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat