Posts

,

WAKTU SHALAT DHUHA MULAI JAM BERAPA DAN SAMPAI JAM BERAPA?

WAKTU SHALAT DHUHA MULAI JAM BERAPA DAN SAMPAI JAM BERAPA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi

WAKTU SHALAT DHUHA MULAI JAM BERAPA DAN SAMPAI JAM BERAPA?

Waktu Dimulainya Shalat Dhuha

Shalat Dhuha dimulai sejak setelah matahari terbit, kemudian matahari tersebut meninggi hingga setinggi tombak (sekitar 2 meter). Lebih kurang 15 menit SETELAH matahari terbit.

Dalil tentang kapan dimulainya waktu shalat Dhuha ini adalah hadis dari ‘Amr bin ‘Abasah, Nabi ﷺ bersabda, yang terjemahnya:

“Kerjakan shalat Subuh kemudian tinggalkan shalat hingga matahari terbit, sampai matahari meninggi. Ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” [HR. Muslim no. 832]. [Lihat Minhatul ‘Allam, 3: 347].

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “Awal waktu shalat Dhuha adalah ketika matahari meninggi setinggi tombak ketika dilihat, yaitu 15 menit SETELAH matahari terbit.” [Syarah Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 289]

Mengapa kita dianjurkan menunggu hingga lebih kurang 15 menit setelah matahari terbit? hal ini dikarenakan agar TIDAK bertepatan dengan waktu-waktu yang DILARANG melaksanakan shalat. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah ﷺ:

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ada tiga waktu di mana Nabi ﷺ melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami:

  • (a) Ketika matahari terbit sampai tinggi,
  • (b) Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir, dan
  • (c) Ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” [HR. Muslim no. 1926]

Oleh karena itu sebaiknya tunggu lebih kurang 15 menit SETELAH matahari terbit, sampai matahari tersebut meninggi hingga setinggi tombak (kira-kira 2 meter), untuk kemudian melaksanakan shalat Dhuha. Agar lebih aman, sebaiknya kita melakukan Shalat Dhuha SETELAH 20 menit dari waktu terbitnya matahari. Bagaimana cara mengetahui kapan matahari sudah terbit atau belum? Cara praktisnya dengan menggunakan jadwal shalat.

Waktu Terbaik Mengerjakan Shalat Dhuha

Waktu yang paling baik untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah pada AKHIR dari waktu Dhuha, yaitu ketika matahari sudah mulai terik, saat-saat mendekati waktu Zuhur.

Dalilnya adalah hadis, yang terjemahnya:

“Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” [HR. Muslim]

Shalat yang dimaksud pada hadis di atas adalah shalat Dhuha, sebagaimana keterangan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Bin Baz pada penjelasan kitab Hadis Riyadhus Shalihin.

Dalil yang kedua adalah Hadis riwayat dari Al Qosim As Syaibani, bahwa Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu melihat sekelompok orang melakukan shalat Dhuha, kemudian Zaid mengatakan: “Andaikan mereka tahu, bahwa shalat setelah waktu ini lebih utama. Sungguh Nabi ﷺ pernah bersabda:

 صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Shalatnya para Awwabin adalah ketika anak onta mulai kepanasan.” [HR. Muslim 748]

Shalatnya para Awwabin yang dimaksud pada hadis di atas adalah Shalat Dhuha. Sedangkan Awwabin artinya orang yang suka kembali pada aturan Allah.

Cara praktis menentukan waktu shalat Dhuha yang terbaik ini adalah waktu shalat Zuhur dikurangi kira-kira 15 menit. Dan ini batas waktu mendekati BERAKHIRNYA Shalat Dhuha. Oleh karena itu, sebaiknya kerjakan Shalat Dhuha sedikit sebelum waktu itu.

Ingat! Sekali lagi, bahwa ini adalah kira-kira batas waktu berakhirnya Shalat Dhuhanya.

Waktu Terlarang Shalat

Waspadalah terhadap waktu terlarang shalat berikut ini:

  1. Waktu Terlarang Shalat yang Pertama: Dari setelah Shalat Subuh hingga matahari terbit.
  2. Waktu Terlarang Shalat yang Kedua: Setelah Shalat Subuh sampai matahari menyising setingga tombak; atau hingga 15 menit atau 20 menit setelah matahari terbit.
  3. Waktu Terlarang Shalat yang Ketiga: Ketika matahari di atas kepala tidak condong ke Timur atau ke Barat hingga matahari tergelincir ke Barat . Yaitu sekitar 10 menit sebelum masuk waktu Zuhur.
  4. Waktu Terlarang Shalat yang Keempat: Dari setelah selesai Shalat Ashar hingga matahari mulai tenggelam.
  5. Waktu Terlarang Shalat yang Kelima: Dari matahari mulai tenggelam hingga tenggelam sempurna. (Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 2: 205 via tulisan Muhammad Abduh Tuasikal: https://rumaysho.com/15797-lima-waktu-terlarang-shalat.html)

 

Sumber: http://banghen.com/waktu-shalat-dhuha-mulai-jam-berapa/

,

ADA SAATNYA

ADA SAATNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#SelfReminder, #MuslimahSholihah
ADA SAATNYA …..
 
Manusia tidak selamanya bisa menghadirkan hati, untuk selalu mengingat Akhirat. Dalam hidup berumah tangga, ada saat-saat bagi kita untuk bercanda dengan anak-anak, bermesraan dengan suami atau istri, dan kesenangan-kesenagan dunia lainnya.
,

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

Shalat Jama’ maksudnya melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Seperti melakukan shalat Zuhur dan shalat Ashar di waktu Zuhur dan itu dinamakan Jama’ Taqdim, atau melakukannya di waktu Ashar dan dinamakan Jama’ Takhir. Dan melaksanakan shalat Magrib dan shalat Isya’ bersamaan di waktu Magrib atau melaksanakannya di waktu Isya’.

Jadi shalat yang boleh dijama’ adalah semua shalat fardhu, kecuali shalat Subuh. Shalat Subuh harus dilakukan pada waktunya, tidak boleh dijama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Zuhur.

Sedangkan shalat Qashar maksudnya meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat Zuhur, Ashar dan Isya’. Sedangkan shalat Magrib dan shalat Subuh tidak bisa diqashar.

Shalat Jama’ dan Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu” (QS. Annisa: 101).

Dan itu merupakan sedekah (pemberian) dari Allah subhanahu wata’ala  yang disuruh oleh Rasulullah ﷺ untuk menerimanya. [HR.Muslim]

Shalat Jama’ lebih umum daripada shalat Qashar, karena mengqashar shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang bepergian (musafir). Sedangkan menjama’ shalat bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir, yang menyulitkan seorang Muslim untuk bolak- balik ke masjid. Dalam keadaan demikian, kita dibolehkan menjama’ shalat.

Ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasulullah ﷺ menjama’ shalat Zuhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan: “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.

Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat Jama’ dan Qashar, apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan: “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir, kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan: “Saya shalat Zuhur bersama Rasulullah ﷺ di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah (sekarang Bir Ali berada di luar Madinah) dua rakaat. [HR. Bukhari Muslim]

Seorang yang menjama’ shalatnya karena musafir, tidak mesti harus mengqashar shalatnya; begitu juga sebaliknya. Karena boleh saja ia mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya. Seperti melakukan shalat Zuhur dua rakaat di waktunya dan shalat Ashar dua rakaat di waktu Ashar.

Dan seperti ini lebih afdhal bagi mereka yang musafir, namun bukan dalam perjalanan. Seperti seorang yang berasal dari Surabaya bepergian ke Sulawesi. Selama ia di sana ia boleh mengqashar shalatnya dengan tidak menjama’nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Mina. Walaupun demikian, boleh-boleh saja dia menjama’ dan mengqashar shalatnya ketika ia musafir, seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di Tabuk. Tetapi ketika dalam perjalanan, lebih afdhal menjama’ dan mengqashar shalat, karena yang demikian lebih ringan dan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama’, seorang musafir yang SUDAH MENENTUKAN LAMA MUSAFIRNYA LEBIH DARI EMPAT HARI, maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang, maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah  ﷺ ketika haji Wada’. Beliau ﷺ tinggal selama 4 hari di Mekkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya.

Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya, maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh Mayoritas Ulama, berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Ketika penaklukkan kota Mekkah, beliau ﷺ tinggal sampai sembilan belas hari, atau ketika Perang Tabuk sampai dua puluh hari, beliau ﷺ mengqashar shalatnya [HR. Abu Daud. Ini disebabkan karena ketidaktahuan kapan musafirnya berakhir. Sehingga seorang yang mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir, boleh saja menjama’ dan mengqashar shalatnya [Fiqhussunah I/241].

Bagi orang yang melaksanakan Jama’ Taqdim, diharuskan untuk melaksanakan langsung shalat kedua, setelah selesai dari shalat pertama. Berbeda dengan Jama’ Ta’khir, tidak mesti Muwalah ( langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Zuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Zuhur, boleh saja dia istirahat dulu, kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian, melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal, karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang mukim (tidak musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang mukim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang mukim, maka ia harus mengikuti imam, dengan melakukan shalat Itmam (tidak mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam, maka boleh saja mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat shalatnya setelah imammya salam.

Dan sunah bagi musafir untuk TIDAK MELAKUKAN Shalat Sunah Rawatib (shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), kecuali Qobliyah Subuh, dan juga Shalat Witir dan Tahajjud, karena Rasulullah ﷺ  selalu melakukannya, baik dalam keadaan musafir atau mukim. Begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya, seperti shalat Tahiyatul Masjid, Shalat Gerhana, dan Shalat Janazah (maka boleh dilakukan – penj).

Wallahu a’lam bis Shawaab.

Referensi:
Fatawa As-Sholat, Syeikh Abd. Aziz bin Baz
Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abd. Adhim bin Badawi Al-Khalafi
http://abusalma.wordpress.com/2006/12/04/shalat-jama%E2%80%99-dan-qashar/

Untuk lengkapnya, silakan klik link berikut ini:

http://pepisusanti.blogspot.co.id/2013/02/panduan-shalat-jama-dan-qashar.html

, , ,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA ESOK HARINYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT WITIR DI WAKTU DHUHA  ESOK HARINYA?

Pertanyaan:

إذا نمت عن صلاة الوتر ولم أؤدها في الليل فهل أقضيها وفي أي وقت؟

Jika saya ketiduran (kelewatan)  shalat Witir, dan saya tidak menunaikannya di malam itu, kapan boleh saya meng-qadhanya?

السنة قضاؤها ضحى بعد ارتفاع الشمس وقبل وقوفها، شفعاً لا وتراً، فإذا كانت عادتك الإيتار بثلاث ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصليها نهاراً أربع ركعات في تسليمتين، وإذا كان عادتك الإيتار بخمس ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصلي ست ركعات في النهار في ثلاث تسليمات، وهكذا الحكم فيما هو أكثر من ذلك، لما ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان رسول الله، صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة) رواه مسلم في صحيحه.

وكان وتره صلى الله عليه وسلم، في الغالب إحدى عشرة ركعة، والسنة أن يصلي القضاء شفعاً ركعتين ركعتين لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) أخرجه أحمد وأهل السنن بإسنادٍ صحيح وأصله في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنهما لكن بدون ذكر النهار وهذه الزيادة ثابتة عند من ذكرنا آنفاً وهم أحمد وأهل السنن. والله ولي التوفيق.

Jawaban:

Yang sunnah diqadha (esok harinya) waktu Dhuha, ketika matahari telah meninggi, dan sebelum berhenti ( menjelang masuk waktu Zuhur) dengan jumlah rakaat genap, bukan ganjil.

  • Jika kebiasaan engkau shalat Witir ganjil tiga rakaat pada malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari, empat rakaat dalam dua kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
  • Jika kebiasaan engkau shalat ganjil lima rakaat malam hari, kemudian engkau tertidur atau terlupa, maka disyariatkan bagimu (qadha) shalat siang hari enam rakaat, dalam tiga kali salam (dua rakaat-dua rakaat).

Demikianlah hukumnya dan umumnya seperti itu, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

“Dahulu jika Rasulullah ﷺ terluput dari shalat malam (termasuk Witir) karena ketiduran atau sakit, maka ia shalat (qadha) pada (besok) siang (Dhuha) 12 rakaat” [HR. Muslim]

Kebanyakan jumlah shalat Witir Rasulullah ﷺ adalah 11 rakaat, dan termasuk sunnah meng-qadhanya dengan rakaat yang genap, dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), sebagaimana dalam hadis yang mulia, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat” [HR. Ahmad]

Dan hadis Shahih dari Ibnu Umar, akan tetapi tanpa penyebutan kata “siang”. Ini adalah tambahan dari apa yang kami baru saja sebutkan.

Wallahu waliyyut taufiq

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4532

 

Penulis: dr Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

Sumber: https://muslimafiyah.com/mengqadha-shalat-witir-besok-di-waktu-dhuha.html

,

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA QADHA SHALAT TAHAJUD?

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara mengqadha shalat Tahajud di waktu Dhuha? Bagaimana niatnya dan berapa rakaat?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bagi orang yang memiliki kebiasaan Tahajud, kemudian tidak sempat mengerjakannya karena sebab tertentu, dianjurkan untuk menqadhanya. Waktunya adalah antara Subuh sampai menjelang Zuhur. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل

“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia baca (mengerjakannya) di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat Tahajud di malam hari.” [HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Penulis kitab Aunul Ma’bud mengatakan: “Hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan amal saleh di malam hari. Dan menunjukkan disyariatkannya mengqadha amalan tersebut jika tidak sempat melaksanakannya, karena ketiduran atau uzur lainnya. Siapa saja yang melaksanakan qadha amal ini di antara shalat Subuh dan shalat Zuhur, maka dia seperti melaksanakannya di malam hari.” (Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4:139)

Jumlah Rakaat Shalat Tahajud

Jumlah rakaatnya sama dengan jumlah rakaat shalat Tahajud, ditambah satu (digenapkan). Misalnya seseorang memiliki kebiasaan Tahajud 11 rakaat, maka nanti diganti di waktu Dhuha sebanyak 12 rakaat. Barang siapa yang memiliki kebiasaan Tahajud 3 rakaat, maka diganti di waktu Dhuha sebanyak 4 rakaat, dan seterusnya. Berdasarkan hadis riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan:

كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة

“Apabila Rasulullah ﷺ melakukan satu amalan, beliau melakukannya dengan istiqamah. Dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit, maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (Hr. Muslim dan Ibnu Hibban)

Nabi ﷺ melaksanakan shalat qadha 12 rakaat, karena beliau ﷺ memiliki kebiasaan shalat malam sebanyak 11 rakaat. Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7581-qadhashalat-Tahajud.html

,

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

Shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua rakaat sebelum pelaksanaan shalat Subuh, adalah di antara shalat Rawatib. Yang dimaksud shalat Rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.

Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadis. Juga dijelaskan anjuran menjaganya. Begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi ﷺ dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Rakaat Ringan

Dalil yang menunjukkan, bahwa shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan rakaat yang ringan, adalah hadis dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الأَذَانِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

“Rasulullah ﷺ dahulu diam antara azannya muadzin hingga shalat Subuh. Sebelum shalat Subuh dimulai, beliau dahului dengan dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafal lain juga menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan rakaat yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Ketika terbit fajar Subuh, Rasulullah ﷺ tidaklah shalat, kecuali dengan dua rakaat yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

“Rasulullah ﷺ setelah mendengar azan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat ringan” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lainnya disebutkan, bahwa ‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَيُخَفِّفُ حَتَّى إِنِّى أَقُولُ هَلْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Rasulullah ﷺ dahulu shalat sunnah Fajar (Qobliyah Subuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan, apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Al Fatihah?” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan, bahwa hadis di atas hanya kalimat hiperbolis, yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi ﷺ, dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 4].

Dan sekali lagi, namanya ringan, juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sebagian ulama Salaf mengatakan, tidak mengapa jika shalat sunnah Fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memeringan shalat sunnah Fajar. Namun sebagian orang mengatakan, bahwa itu berarti Nabi ﷺ tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadis Shahih telah disebutkan, bahwa ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, Rasulullah ﷺ membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas, setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadis Shahih menyebutkan, bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Alquran, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Subuh

Dan shalat sunnah Fajar inilah yang paling Nabi ﷺ jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَكُنْ عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ

“Nabi ﷺ tidaklah menjaga shalat sunnah, yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”  (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat, dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh dijelaskan dalam hadis berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaca ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” [HR. Muslim no. 726].

Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qobliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qobliyah Subuh), lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah Fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri.

Dalam lafal lain: ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725].

Hadis terakhir di atas juga menunjukkan, bahwa shalat sunnah Fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar Subuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah Fajar, dengan mereka maksudkan untuk dua rakaat ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah Fajar dan shalat sunnah Qobliyah Subuh. Ini jelas KELIRU. Imam Nawawi mengatakan:

أَنَّ سُنَّة الصُّبْح لَا يَدْخُل وَقْتهَا إِلَّا بِطُلُوعِ الْفَجْر ، وَاسْتِحْبَاب تَقْدِيمهَا فِي أَوَّل طُلُوع الْفَجْر وَتَخْفِيفهَا ، وَهُوَ مَذْهَب مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور

“Shalat sunnah Subuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Subuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya, dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i  dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-Subuh.html

 

,

RINCIAN HUKUM WANITA MENGONSUMSI OBAT PENCEGAH HAID

RINCIAN HUKUM WANITA MENGONSUMSI OBAT PENCEGAH HAID

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

RINCIAN HUKUM WANITA MENGONSUMSI OBAT PENCEGAH HAID

Fatwa Asy Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Fadhilatusy Syaikh, terkadang seorang wanita membawa obat-obatan untuk kebaikan dirinya. Dia mengonsumsi obat pencegah haid, agar bisa menjalankan ibadah umrah, puasa dan shalat di bulan Ramadan. Apa hukum perbuatan ini?

Jawaban:

Jika wanita tersebut mengonsumsi obat pencegah haid agar bisa shalat, puasa di bulan Ramadan, maka sebaiknya tidak mengonsumsinya. Karena ada kelongaran dalam perkara ini, walhamdulillah. Haid adalah suatu ketetapan yang Allah berikan kepada anak perempuan Adam, sebagaimana yang disabdakan Nabi ﷺ. Saya mendapat informasi dari dokter terpercaya dan jujur, bahwasanya obat-obatan seperti ini bisa menimbulkan efek samping yang membahayakan.

Adapun jika tujuan penggunaan obat pencegah haid agar bisa menjalankan ibadah umrah, maka ada keringanan di sana. Karena ibadah umrah bisa terlewatkan waktunya jika keluar haid tatkala ihram sebelum thawaf, dan mereka pulang sebelum thawaf. Maka dalam ibadah umrah terkadang diberi keringanan. Adapun dalam ibadah shalat, puasa, tilawah Alquran, maka tidak perlu mengonsumsinya. (Silsilah Al Liqa Asy Syahri 71)

Marja’: Tathbiiq Fatawa Ibn Utsaimin Lianduruwid

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

 

التفصيل في حكم استعمال المرأة لحبوب منع الدورة الشهرية

[السؤال : ]

يقول: فضيلة الشيخ، قد يحمل المرأة حبها للخير أن تستعمل بعض الموانع لمنع الدورة الشهرية لأجل العمرة أو لأجل صيام وصلاة رمضان فما حكم ذلك؟

الجواب :

أما من أجل صلاة رمضان أو صيام رمضان فلا تستعملها؛ لأن الأمر واسع والحمد لله، وهذا شيء كتبه الله على بنات آدم كما قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم، وهذه الحبوب بلغني من أطباء مخلصين صادقين أن فيها أضراراً عظيمة، وأما العمرة فهذه ربما يرخص فيها؛ لأن العمرة قد تفوت لو جاء الحيض من حين الإحرام قبل الطواف ورجعوا قبل أن تطوف، فالعمرة ربما يرخص فيها وأما من أجل الصيام والقيام وقراءة القرآن فلا .

المصدر: سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [71 ]

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/rincian-hukum-wanita-mengkonsumsi-obat-pencegah-haid/

 

KEUTAMAAN BERAMAL SALEH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN BERAMAL SHALIH DAN MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Sholat yang lima waktu, sholat Jumat sampai Jumat berikutnya, dan puasa Ramadan sampai Ramadan berikutnya, adalah penghapus-penghapus dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa besar tidak dilakukan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Hadis yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal saleh dan menjauhi dosa-dosa besar, yaitu mendapatkan ampunan atas dosa-dosa kecil.

Dan sungguh seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah ‘azza wa jalla dari dosa-dosa besar maupun kecil. Karena dosa-dosa kecil sekali pun, jika terus dilakukan, maka akan menjadi besar dan membinasakan pelakunya.

Namun untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besar harus dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata:

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Jumhur ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan taubat yang benar adalah dengan memenuhi enam syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla.
2. Menyesali dosanya.
3. Meninggalkannya.
4. Bertekad tidak akan melakukannya lagi di masa yang akan datang.
5. Sebelum habis waktunya, yaitu sebelum datangnya kematian atau sebelum terbitnya matahari dari arah Barat.
6. Jika dosa itu adalah kesalahan kepada orang lain, maka harus meminta maaf atau mengembalikan haknya.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/taawundakwah/posts/1919002844999184:0

,

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa Rasul ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat  dua rakaat Qabliyah Subuh. Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga muazin mengumandangkan Iqamat?!

Jawaban:

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunat 2 rakaat sebelum Subuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat sebelum (sholat) fajar (Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan Iqamat sedang dikumandangkan, maka kita harus langsung sholat Subuh bersama imam, dan TIDAK BOLEH menjalankan sholat Qabliyah, saat Iqamat sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada sholat, kecuali sholat yang diwajibkan” (HR. Muslim: 1160).

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk sholat Subuh, lalu Rasulullah ﷺ melihat seseorang sholat, padahal muadzin sedang mengumandangkan Iqamat, maka beliau ﷺ mengatakan: “Apakah kamu sholat Subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seseorang sedang sholat, padahal Iqamat sholat Subuh telah dikumandangkan, maka beliau ﷺ pun mengatakan kepadanya, sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu? Dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian sholat Subuh empat rakaat” (HR. Muslim: 1162).

Kedua: Sebaiknya kita meng-qodho’ sholat Qabliyah Subuhnya setelah itu, sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah Iqamat sholat, maka aku pun sholat Subuh bersamanya. Kemudian beliau ﷺ beranjak pergi dan mendapatiku akan sholat, beliau ﷺ mengatakan: “Sebentar wahai Qois, apakah dua sholat bersamaan?!” Aku pun mengatakan: Ya Rasulullah, sebenarnya aku belum sholat dua rakaat Qabliyah Fajar, maka beliau ﷺ mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).

Ketiga: Meng-qodho sholat sunnah yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya sholat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodho adalah keringanan bagi mereka yang punya uzur. Dan orang yang meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki uzur. Wallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barang siapa ketiduran atau lupa sehingga tidak sholat Witir, maka hendaklah ia sholat Witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: Adanya taqyid dalam perintah qodho’ itu (yakni); “Bagi orang yang tidur atau lupa” menunjukkan, bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain. Dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan) itu tidak menyukai sholat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidur atau lupa (Fathul Bari 9/160).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… Walhamdulillah.

 

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28877-Qabliyah-Subuh-saat-Iqamat-sholatnya-batal.html

 

,

AKIBAT SUKA MEMBICARAKAN AIB ORANG LAIN

AKIBAT SUKA MEMBICARAKAN AIB ORANG LAIN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

AKIBAT SUKA MEMBICARAKAN AIB ORANG LAIN

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

ومن تفرغ لعيوب الناس تفرغ الناس لعيوبه.

“Siapa yang menyibukkan diri atau meluangkan waktunya untuk membicarakan aib-aib orang lain, maka orang lain pun akan menyibukkan diri untuk membicarakan aib-aibnya.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 224]

Instagram, Twitter & Telegram Channel : @JakartaMengaji

https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/662710877243007/?type=3&theater