Posts

SETIAP MUSLIM WAJIB MENGIKUTI DALIL

SETIAP MUSLIM WAJIB MENGIKUTI DALIL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#MutiaraSunnah
 
SETIAP MUSLIM WAJIB MENGIKUTI DALIL
 
Sudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba dalam agamanya untuk mengikuti firman Allah ta’ala dan sabda Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, dan mengiktuti para Khulafa Ar Rasyidin, yaitu para sahabat sepeninggal beliau ﷺ, dan juga mengikuti para tabi’in yang mengikuti mereka dengan ihsan .
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
 
“Wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin sepeninggalku. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan” [HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadis ini Hasan Shahih”]
 
Maka wajib bagi setiap hamba untuk taat dan patuh kepada Sunnah Rasulullah ﷺ yang shahihah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sunnah ini, jika shahih, maka semua kaum Muslimin bersepakat bahwa WAJIB untuk mengikutinya” [Majmu’ Al Fatawa, 19/85, dinukil dari Ushul Fiqh inda Ahlisunnah 120].
 
Seorang hamba yang enggan untuk taat kepada sabda Rasul-Nya ﷺ juga terancam untuk ditimpa fitnah (keburukan) dan azab yang pedih. Allah ta’ala berfirman:
 
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [QS. An Nuur: 63]. Wahai hamba Allah! Takutlah engkau akan fitnah dan azab Allah, tundukkanlah jiwamu untuk patuh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
 
 
Diringkas dari:
Penulis:Ustadz Yulian Purnama
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

APAKAH SUJUD SAHWI HANYA DISYARIATKAN KETIKA SHALAT FARDHU SAJA?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai. [Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja. [Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Sujud Sahwi ketika shalat sunnah sama halnya dengan shalat wajib, yaitu sama-sama disyariatkan. Karena dalam hadis yang membicarakan Sujud Sahwi menyebutkan umumnya shalat, tidak membatasi pada shalat wajib saja.

Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan: “Sebagaimana dikatakan dalam hadis ‘Abdurrahman bin ‘Auf:

إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya.” Hadis ini menunjukkan, bahwa Sujud Sahwi itu disyariatkan pula dalam shalat sunnah, sebagaimana disyariatkan dalam shalat wajib (karena lafal dalam hadis ini umum). Inilah yang dipilih oleh Jumhur (Mayoritas) Ulama yang dulu dan sekarang. Karena untuk menambal kekurangan dalam shalat, dan untuk menghinakan setan, juga terdapat dalam shalat sunnah, sebagaimana terdapat dalam shalat wajib.” [Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 3/144, Idarotuth Thoba’ah Al Muniirah]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:

BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA

BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatWudhuNabi
 
BERWUDHU DAN TIDAK BERKUMUR ATAU ISTINSYAQ (MENGHISAP AIR KE HIDUNG), TIDAK SAH WUDHUNYA
 
Pertanyaan:
Salah seorang temanku pernah bertanya kepadaku, yaitu apakah sah wudhunya tanpa berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) karena ayat Alquran tidak merinci masalah ini. Akan tetapi dijelaskan secara umum yaitu membasuh wajah. Apakah wudhu saya sah kalau saya lupa atau sengaja hanya membasuh wajah tanpa berkumur dan istinsyaq. Apakah dibolehkan kalau hari ini saya mandi dengan niat wudhu tanpa berkumur atau istinsyaq. Apakah hal itu sah seperti halnya dalam berwudhu?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam wudhu dan mandi. Yang kuat di antara pendapat tersebut adalah bahwa keduanya WAJIB. Maka TIDAK SAH berwudhu dan mandi kecuali dengan melakukan keduanya, karena kedunya masuk wajah yang diperintahkan dalam ayat yang mulia.
 
Al-Hijawi dalam kitab ‘Az-Zad’ dalam bab Furudhul Wudhu Wa Sifatuhu, hal. 29 mengatakan: “Fardhu (Rukun) wudhu ada 6 (enam), yaitu:
1. Membasuh wajah (temasuk berkumur dan memasukkan sebagian air ke dalam hidung lalu dikeluarkan).
2. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.
3. Mengusap (menyapu) seluruh kepala (termasuk mengusap kedua daun telinga).
4. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki.
5. Tertib (berurutan).
6. Muwalah (tidak diselingi dengan perkara-perkara yang lain, yaitu tidak mengakhirkan membasuh anggota tubuh sampai kering anggota tubuh sebelumnya)
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam penjelasannya mengatakan: “Perkataan ‘termasuk mulut dan hidung’ maksudnya dari wajah. Karena keberadaannya di sana, maka dianggap masuk dalam pengertian wajah. Dengan demikian, maka berkumur dan istinsyaq termasuk kewajiban wudhu. Akan tetapi keduanya tidak sendirian. Keduanya seperti sabda Nabi ﷺ:
 
أمرت أن أسجد على سبعة أعظم ، على الجبهة ، وأشار بيده على أنفه
 
“Saya diperintahkan bersujud di atas tujuh anggota tubuh; Di atas kening dan beliau memberikan isyarat ke hidungnya.”
 
Meskipun persamaannya tidak pada semua sisi.” (As-Syarhul Mumti, 1/119)
 
Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah Lil ifta’ mengatakan: “Dinyatakan ketetapan, bahwa berkumur dan istinsyaq dalam wudhu termasuk perbuatan Nabi ﷺ dan sabdanya ﷺ. Keduanya masuk dalam membasuh muka. Maka wudhu TIDAK SAH bagi orang yang meninggalkan keduanya atau salah satunya.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/78)
 
Syekh Sholeh Al-Fauzan rahimahullah berkata: “Siapa yang membasuh wajahnya dan meninggalkan berkumur dan istinsyaq atau salah satunya, maka wudhunya tidak sah, karena mulut dan hidung termasuk wajah, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Maka basuhlah wajah-wajah kalian.” Maka Allah memerintahkan untuk membasuh semua wajahnya. Siapa yang meninggallkan sesuatu, maka dia tidak termasuk orang yang melaksanakan perintah Allah ta’ala. Dan Nabi ﷺ berkumur dan beristinsyaq.” (Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 1/41).
 
Adapun keberadaan ayat yang tidak menyebutkan berkumur dan istinsyaq, hal itu bukan berarti tidak wajib. Karena Sunnah merupakan penjelasan Alquran. Sementara Sunnah menjelaskan berkumur dan istinsyaq. Dan dari Nabi ﷺ tidak pernah melalaikan keduanya atau salah satunya dalam berwudhu. Maka hal ini merupakan penjelasan perintah yang ada dalam Alquran, dengan membasuh wajah ketika bersuci.
 
Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Al-Mughni, 1/83 mengatakan: “Semua orang yang menyebutkan cara wudhu Nabi ﷺ secara rinci menyebutkan, bahwa beliau ﷺ berkumur dan beristisnyaq terus menerus akan keduanya menunjukkan akan kewajibannya. Karena perilaku beliau ﷺ layak dijadikan sebagai penjelasan dan perincian dalam berwudhu yang diperintahkan dalam Kitabullah.”
 
Siapa yang Meninggalkan Berkumur Atau Beristinsyaq dalam Bersuci, Maka Tidak Sah Bersucinya, Baik Secara Sengaja atau Lupa
 
Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf, 1/153 mengatakan: “Perkataan (Keduanya wajib dalam bersuci) maksudnya adalah berkumur dan beristinsyaq. Ini adalah pendapat secara umum dalam madzhab, dan termasuk (pendapat) teman-teman. Apakah gugur kalau lupa atau tidak? Ada dua riwayat… Az-Zarkasyi mengatakan: “Beliau mengatakan wajib. Maka meninggalkan keduanya atau salah satunya meskipun lupa, tidak sah wudhunya. Hal itu adalah pendapat Jumhur. Dalam kitab ‘Ar-Ri’ayah Al-Kubra’ mengatakan: “Tidak gugur meskipun lupa menurut (pendapat) yang terkenal. Dan didahulukan dalam kitab (Ri’ayatus) Sugro.”
 
Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Lil Ifta’ mengatakan: “Kalau seseorang lupa membasuh salah satu anggota tubuh atau bagian tubuh meskipun itu kecil. Jika di tengah wudhu atau langsung setelahnya dan bekas air masih ada di anggota tubuhnya sementara airnya belum kering, maka dia harus membasuh bagian yang terlupakan dan setelahnya saja. Tapi, kalau dia sadar bahwa dia lupa membasuh salah satu anggota wudhu atau sebagian dari anggota wudhu setelah airnya kering dari anggota tubuh, atau di tengah shalat atau setelah menunaikan shalat, maka dia harus memulai wudhu yang baru, sebagaimana yang Allah perintahkan dan mengulangi shalat secara penuh. Karena ketiadaan muwalah (berurutan) dalam kondisi ini dan lamanya (waktu) terpisah. Sementara Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan membasuh semua anggota tubuh wudhu. Barang siapa meninggalkan bagian anggota wudhu, meskipun sebagian di antara anggota wudhu, maka dia bagaikan meninggalkan membasuh semuanya. Yang menunjukkan akan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu, dia berkata:
 
رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا توضأ فترك موضع الظفر على قدمه ، فأمره أن يعيد الوضوء والصلاة . قال : فرجع فصلى (أخرجه مسلم، رقم 243 وابن ماجه، رقم 666)
 
“Rasulullah ﷺ melihat seseorang berwudhu dengan meninggalkan (tidak membasuh) sebesar kuku di kakinya. Maka beliau ﷺ menyuruhnya untuk mengulangi wudhu dan shalat. Lalu dia dia mengulangi (wudhunya) dan shalat lagi.” (HR. Muslim, 243 Ibnu Majah, 666)
 
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/92]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Tertib dalam wudhu termasuk wajib. Oleh karena itu, kalau dia berwudhu, kemudian setelah keluar dari tempat wudhu melihat sikunya tidak terkena air. Maka dia harus kembali dan membasuhnya kemudian mengusap kepala dan membasuh kedua kakinya. Sementara kalau dia mendapatkan kedua kakinya tidak terkena air, maka cukup membasuh kedua kakinya saja. Karena kedua kaki termasuk bagian terakhir anggota tubuh wudhu.
 
Kalau dia lupa berkumur dan beristinsyaq, maka dia harus melakukan keduanya, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap kepada dan membasuh kedua kakinya. Jadi dia mengulangi bagian wudhu yang kurang sempurna dan anggota wudhu setelahnya. Kecuali kalau jeda waktunya lama, maka dia harus mengulangi wudhu secara sempurna.” (As-Syarhul Al-Mukhtasor ‘Ala Bulughil Maram, 2/73)
 
Silakan merujuk di link berikut ini: islam-universe.com/audio/94.html. Untuk tambahan manfaat, silakan melihat jawaban soal no. 149908: https://islamqa.info/id/149908
 
Wallahua’lam .
 
Catatan Tambahan:
 
Madhmadhah adalah memasukkan air ke dalam mulut, kemudian berkumur-kumur dengannya, lalu disemburkan keluar. (Fathul Bari, 1/335)
 
Istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya sampai jauh ke dalam hidung. (al-Mughni, 1/74, Nailul Authar, 1/203)
Sedangkan istintsar adalah mengeluarkan air dari hidung setelah istinsyaq. (Syarah Shahih Muslim, 3/105)
 
Disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam ber-istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) kecuali bila sedang puasa. (al-Mughni, 1/74, al-Majmu’ 1/396, Subulus Salam, 1/73, Nailul Authar, 1/212)
,

BACALAH TAKBIR, SETIAP SELESAI SHALAT FARDHU, 9-13 DZULHIJJAH

BACALAH TAKBIR, SETIAP SELESAI SHALAT FARDHU, 9-13 DZULHIJJAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#DoaZikir

BACALAH TAKBIR, SETIAP SELESAI SHALAT FARDHU, 9-13 DZULHIJJAH

Antara 9 -13 Dzulhijjah, kita disyariatkan untuk membaca takbir setiap selesai sholat lima waktu. Dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Takbir ini dinamakan Takbir Muqoyyad, yaitu takbir yang TERKAIT dengan waktu shalat.

Hal ini disyariatkan berdasarkan Ijma’ dan perbuatan sahabat radhiyallahu’anhum [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/312 no. 10777]

Takbir ini disyariatkan bagi selain jamaah haji. Adapun bagi jamaah haji, disunnahkan untuk memperbanyak ucapan Talbiyah sampai melempar Jamrah ‘Aqobah pada 10 Dzulhijjah. Barulah dibolehkan bertakbir, dan boleh mulai bertakbir sejak lemparan pertama pada Jamrah ‘Aqobah tersebut sampai akhir hari Tasyriq.

 

Sumber: TaawunDakwah.Com

, ,

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS

MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
MENGGABUNGKAN PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SENIN-KAMIS
 
Pertanyaan:
Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin-Kamis?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Dilihat dari latar belakang disyariatkannya ibadah, para ulama membagi ibadah menjadi dua:
 
Pertama, ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut, sehingga ibadah ini harus ada secara khusus. Semua ibadah wajib, shalat wajib, puasa wajib, dst, masuk jenis pertama ini.
 
Termasuk juga ibadah yang disyariatkan secara khusus, seperti shalat Witir, shalat Dhuha, dst.
 
Termasuk jenis ibadah ini adalah ibadah yang menjadi Tabi’ (Pengiring) ibadah yang lain, seperti shalat Rawatib. Dan sebagian ulama memasukkan puasa Enam Hari Syawal termasuk dalam kategori ini.
 
Kedua, kebalikan dari yang pertama, ibadah yang Laisa Maqsudah Li Dzatiha. Artinya, keberadaan ibadah itu BUKAN merupakan tujuan utama disyariatkannya ibadah tersebut. Tujuan utamanya adalah yang penting amalan itu ada di kesempatan tersebut, apapun bentuknya.
 
Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui apakah ibadah ini termasuk Maqsudah Li Dzatiha ataukah Laisa Maqsudah Li Dzatiha, adalah dengan memahami latar belakang dari dalil masing-masing ibadah. [Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Ibnu Utsaimin, volume 19, no. 51]
 
Kita akan lihat contoh yang diberikan ulama, untuk lebih mudah memahaminya.
 
Contoh Pertama: Shalat Tahiyatul Masjid
 
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ، فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
 
Apabila kalian masuk masjid, jangan duduk sampai shalat dua rakaat. [HR. Bukhari 1163]
 
Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ menyarankan agar kita shalat dua rakaat setiap kali masuk masjid sebelum duduk. Artinya, yang penting jangan langsung duduk, tapi shalat dulu. Tidak harus shalat khusus Tahyatul Masjid. Bisa juga shalat Qabliyah atau shalat sunah lainnya. Meskipun boleh saja jika kita shalat khusus Tahiyatul Masjid.
 
Dari sini, shalat keberadaan ibadah shalat Tahiyatul Masjid itu bukan merupakan tujuan utama. Tapi yang penting ada amal, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid, apapun bentuk shalat itu.
 
Contoh Kedua: Puasa Senin-Kamis
 
Ketika Nabi ﷺ ditanya mengapa beliau rajin puasa Senin Kamis, beliau ﷺ mengatakan:
 
ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
 
Di dua hari ini (Senin Kamis), amalan dilaporkan kepada Allah, Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya dilaporkan, saya dalam kondisi puasa. [HR. Ahmad 21753, Nasai 2358, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam hadis ini, siapapun yang melakukan puasa di hari Senin atau Kamis, apapun bentuk puasanya, dia mendapatkan keutamaan sebagaimana hadis di atas. Amalnya dilaporkan kepada Allah, dalam kondisi dia berpuasa, baik ketika itu dia sedang puasa wajib, atau puasa sunah lainnya. Meskipun boleh saja ketika dia melakukan puasa khusus pada waktu Senin atau Kamis.
 
Menggabungkan Niat Dua Ibadah
 
Para ulama menyebutnya ”at-Tasyrik fin Niyah” atau ”Tadakhul an-Niyah” (Menggabungkan niat).
 
Terdapat kaidah yang diberikan para ulama dalam masalah menggabungkan niat:
 
إذا اتحد جنس العبادتين وأحدهما مراد لذاته والآخر ليس مرادا لذاته؛ فإن العبادتين تتداخلان
 
Jika ada dua ibadah yang sejenis, yang satu Maqsudah Li Dzatiha dan satunya Laisa Maqsudah Li Dzatiha, maka dua ibadah ini MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. [’Asyru Masail fi Shaum Sitt min Syawal, Dr. Abdul Aziz ar-Rais, hlm. 17]
 
Dari kaidah di atas, beberapa amal bisa digabungkan niatnya jika terpenuhi dua syarat:
  • Pertama: Amal itu jenisnya sama, misalnya shalat dengan shalat, atau puasa dengan puasa.
  • Kedua: Ibadah yang Maqsudah Li Dzatiha TIDAK boleh lebih dari satu. Karena tidak boleh menggabungkan dua ibadah yang sama-sama Maqsudah Li Dzatiha.
Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Senin Kamis
 
Dari keterangan di atas, puasa Syawal termasuk ibadah Maqsudah Li Dzatiha, sementara Senin Kamis Laisa Maqsudah Li Dzatiha, sehingga niat keduanya MEMUNGKINKAN UNTUK DIGABUNGKAN. Dan insyaaAllah mendapatkan pahala puasa Syawal dan puasa Senin Kamis.
 
Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
 
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” [Muttafaq ’alaih]
 
Karena dia menggabungkan kedua niat ibadah itu, mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.
 
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 
Artikel www.KonsultasiSyariahcom
 
, ,

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BirrulWalidain

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

Pertanyaan:

Ketika saya kecil mereka mengatakan kepadaku: “Kalau kamu memulai shalat, kemudian mendengar salah seorang dari orang tua memanggilmu, maka putuskan shalat secara langsung, dan pergi untuk memenuhi panggilan. Kemudian kembali mengulangi shalat. Apakah perkataan ini ada sisi benarnya?

Jawaban:

Alhamdulillah

Kalau seorang Muslim menunaikan shalat wajib, maka dia TIDAK BOLEH memutuskan shalat untuk memenuhi panggilan bapak atau ibunya. Akan tetapi memberi isyarat peringatan kepada orang yang memanggilnya, bahwa dia sedang sibuk shalat, baik dengan bertasbih, atau mengeraskan suara dengan bacaan, atau semisal itu.

Dianjurkan juga memercepat shalatnya. Ketika selesai, maka penuhi panggilannya. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, (707) dari Abu Qatadah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

“Sungguh saya menunaikan shalat, saya ingin memanjangkannya. Kemudian saya mendengar tangisan bayi. Maka saya persingkat shalatku, khawatir memberatkan ibunya.”

Hal ini menunjukkan dianjurkannya memersingkat dan memercepat dalam shalat, karena ada sesuatu yang tiba-tiba ada mengganggu konsentrasi orang shalat.

Kalau shalat sunah, kalau dia mengetahui bahwa ayah atau ibunya tidak mengapa baginya untuk menyempurnakan shalatnya, maka sempurnakan. Kemudian menjawabnya setelah selesai. Kalau dia mengetahui bahwa keduanya tidak menyukai baginya untuk menyempurnakan (shalat)nya dan memerlambatnya, maka harus diputus,dan menjawab untuk keduanya. Hal itu tidak mengapa, kemudian MENGULANGI shalat dari awal.

Diriwayatkan Bukhori, (3436) dan Muslim, (2550) redaksi darinya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda:

كَانَ جُرَيْجٌ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَةٍ فَجَاءَتْ أُمُّهُ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ كَلِّمْنِي . فَصَادَفَتْهُ يُصَلِّي فَقَالَ : اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ ، فَرَجَعَتْ ثُمَّ عَادَتْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ فَكَلِّمْنِي . قَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ . فَقَالَتْ : اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا جُرَيْجٌ وَهُوَ ابْنِي وَإِنِّي كَلَّمْتُهُ فَأَبَى أَنْ يُكَلِّمَنِي ، اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ . قَالَ : وَلَوْ دَعَتْ عَلَيْهِ أَنْ يُفْتَنَ لَفُتِنَ … (الحديث)

“Dahulu Juraij berdibadah di tempat ibadahnya. Kemudian ibunya datang dan memanggilnya seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu, tolong bicara denganku. Bertepatan saat itu, dia dalam kondisi shalat. Maka dia berkata dalam hati: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Maka dia memilih shalatnya. Kemudian (ibunya) kembali, dan balik lagi pada yang kedua seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu tolong bicara denganku.” Dia mengatakan: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Dan dia memilih shalatnya. Kemudian ibunya mengatakan: “Ya Allah, sesunggunya adalah anaku, sungguh saya memanggilnya dan dia enggan berbicara denganku. Ya Allah, jangan engkau wafatkan sebelum diperlihatkan wanita pelacur.” Beliau (Nabi) berkata: “Kalau dia berdoa agar terkena fitnah, maka dia akan terfitnah. Alhadits.

An-Nawawwi rahimahullah membuat bab ‘Bab Taqdim Birrul Walidaini ‘Ala Tatowwu’ Bis Shalat Wa Goiruha (Bab Mendahulukan Bakti Kedua Orang Tua Dibandingkan dengan Shalat Sunah dan Lainnya).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘Yang benar baginya adalah menjawabnya, karena ia dalam shalat sunah. Melanjutkan shalat sunah itu tidak diwajibkan, sementara menjawab ibu dan berbakti kepadanya itu wajib. Dan durhaka kepadanya itu haram. Atau memungkinkan baginya memersingkat shalat dan menjawabnya, kemudian kembali menunaikan shalatnya.” [Silakan lihat ‘Fathul Bari’ karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah. (Al-Mausu’ah Fiqhiyan, 20/342)].

Terdapat dalam ‘Dur Mukhtar, dari kitab Hanafiyah (2/54), “Kalau salah satu dari kedua orang tua memanggilanya dalam shalat wajib, maka tidak menjawabnya, kecuali kalau meminta pertolongan.” maksudnya meminta pertolongan dan bantuan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Kedua orang tua, kalau memanggil Anda, maka seharusnya menjawabnya. Akan tetapi dengan syarat, bukan shalat wajib. Kalau dalam shalat wajib, TIDAK BOLEH menjawabnya. Akan tetapi kalau sunah, boleh menjawabnya. Kecuali kalau keduanya dapat memerkirakan urusannya, bahwa keduanya mengetahui Anda dalam shalat dan memberi uzur kepada Anda, maka di sini Anda memberi isyarat kepadanya, bahwa Anda dalam shalat, baik dengan berdehem, atau mengucapkan Subhanallah, atau meninggikan suara Anda dari ayat yang dibacanya, atau doa yang dibacanya, agar orang yang memanggil merasakan, bahwa Anda dalam kondisi shalat. Sementara kalau selain itu yang tidak memberikan uzur dan menginginkan ucapannya itu yang didahulukan, maka putuskan shalat dan berbicaralah dengannya. Adapun kalau shalat wajib, maka tidak boleh seorang pun memutuskannya, kecuali dalam kondisi terpaksa. Seperti Anda melihat seseorang khawatir binasa terjatuh di dalam sumur atau di sungai atau api. Disini Anda memutus shalat Anda karena terpaksa. Sementara selain itu, tidak dibolehkan memutus shalat wajib.” [Syarh Riyadus Sholihin, hal. 302 dengan diringkas] Wallahu a’lam

Silakan merujuk jawaban soal no. 65682.

 

Sumber:  https://islamqa.info/id/151653

BUAT YANG MALAS-MALASAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU

BUAT YANG MALAS-MALASAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BUAT YANG MALAS-MALASAN MENGHADIRI MAJELIS ILMU

Asy Syaikh Al ‘Allamah DR. Muhammad Aman bin ‘Ali Al Jami rahimahullahu ta’alaa:

Taklim di masa ini adalah merupakan suatu kewajiban bagi setiap individu, disebabkan banyaknya kekacauan, keserampangan, pemalsuan dan penyesatan. [ Syarhu al Wasithiyyah 276 ]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

, ,

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

NIAT DI MALAM HARI DALAM PUASA WAJIB

Di antara RUKUN PUASA adalah berniat. Niat itu harus ada, namun cukuplah di hati, karena itulah yang dipersyaratkan. Adapun niat puasa wajib Ramadan harus ada di malam hari sebelum masuk waktu fajar (Subuh).

Hadis no. 656 dari kitab Bulughul Maram, Ibnu Hajar membawakan hadis:

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } رَوَاهُ الْخَمْسَةُ ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ { لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ }

Dari Hafshoh Ummul Mukminin, bahwa Nabi ﷺ berkata: “Barang siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” Hadis ini dikeluarkan oleh yang lima, yaitu Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah. An Nasai dan Tirmidzi berpendapat, bahwa hadis ini Mauquf, hanya sampai pada sahabat (perkataan sahabat). Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbah menshahihkan hadisnya jika Marfu’, yaitu sampai pada Nabi ﷺ. Dalam riwayat Ad Daruquthni disebutkan: “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari.”

Beberapa faidah dari hadis di atas:

1- Hadis ini menunjukkan, bahwa puasa mesti dengan niat sebagaimana ibadah lainnya. Sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْعِبَادَةَ الْمَقْصُودَةَ لِنَفْسِهَا كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ لَا تَصِحُّ إلَّا بِنِيَّةِ

“Para ulama sepakat (Ijma’), bahwa ibadah yang dimaksudkan langsung pada zat ibadah itu sendiri seperti shalat, puasa, dan haji, maka HARUSLAH DENGAN NIAT.” (Majmu’ Al Fatawa, 18: 257).

2- Letak niat itu di dalam hati. Jadi, barang siapa yang terbetik dalam hatinya untuk berpuasa keesokan harinya, maka ia sudah dikatakan berniat.

3- Yang tidak melakukan niat di malam hari ketika melaksanakan puasa wajib, puasanya tidak sah. Adapun puasa sunnah akan dibahas pada hadis berikutnya.

4- Niat puasa wajib seperti Ramadan mesti dilakukan di malam hari, yaitu cukup mendapati niat pada sebagian malam, kata Ash Shon’ani dalam Subulus Salam dan Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, bahwa seandainya akhir malam pun masih bisa digunakan untuk berniat, asalkan sebelum fajar (Subuh). Adapun waktu malam dimulai dari waktu Maghrib.

Sebagai tanda seseorang sudah dikatakan berniat adalah ia bangun makan sahur, karena sudah terbetik hatinya untuk puasa. Begitu pula jika seseorang sudah memersiapkan makan sahur, meski akhirnya tidak bangun makan sahur, maka sudah dikatakan pula berniat.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

  • Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, 7: 83-92.
  • Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, 1432 H, 5: 18-21.
  • Subulus Salam Al Muwshilah ila Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1432 H, 4: 92-93.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/3425-niat-di-malam-hari-bagi-puasa-wajib.html

 

Catatan Tambahan:

NIAT PUASA RAMADAN, SETIAP HARI ATAU SEKALI DALAM SEBULAN?

Pertanyaan:

Apakah pada waktu Ramadan kita perlu berniat setiap hari, ataukah cukup berniat sekali untuk satu bulan penuh?

Jawaban:

Cukup dalam seluruh bulan Ramadan kita berniat SEKALI DI AWAL BULAN, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus di tengah bulan, baik karena bepergian, sakit dan sebagainya, maka dia harus berniat lagi, karena dia telah memutus bulan Ramadan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya.

 

Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul Islam), Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin, Darul Falah, 2007

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/5747-niat-puasa.html

,

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#SifatPuasaNabi

KESALAHAN MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA UTANG PUASA RAMADAN

Perlu diketahui, bahwa tidak boleh mendahulukan puasa Syawal sebelum meng-qadha’ puasa atau membayar utang puasa. Seharusnya yang dilakukan adalah puasa qadha’ dahulu, lalu puasa Syawal. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal dari qadha’, sama saja dengan mendahulukan yang sunnah dari yang wajib. Ini TIDAKLAH TEPAT. Lebih-lebih lagi yang melakukannya TIDAK mendapatkan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Untuk mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh, PUASA RAMADAN HARUSLAH DIRAMPUNGKAN SECARA SEMPURNA terlebih dahulu, baru diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Selain itu, qadha’ puasa berkaitan dengan dzimmah (kewajiban), sedangkan puasa Syawal tidaklah demikian. Dan seseorang tidak mengetahui kapankah ia masih hidup dan akan mati. Oleh karena itu, wajib mendahulukan yang wajib dari yang sunnah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: [Muslim.or.id]

 

, , ,

DOA BUKA PUASA RAMADAN, SENIN KAMIS, DAUD, DLL YANG SHAHIH SESUAI SUNNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#DoaZikir
 
DOA BUKA PUASA RAMADAN, SENIN KAMIS, DAUD, DLL YANG SHAHIH SESUAI SUNNAH