Posts

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
 
Ingatlah, pendakwah hanya menyampaikan, sedangkan pemberi hidayah adalah Allah.
 
Mari kita ambil pelajaran dari bahasan surat Yasin berikut, yang rata-rata sudah dihafalkan oleh kaum muslimin di negeri kita.
 
Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17
 
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
 
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”
Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” [QS. Yasin: 13-17]
 
Penjelasan Ayat
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan permisalan suatu negeri yang diutus dua orang utusan (rasul). Mereka berdakwah untuk mengajak manusia supaya bisa beribadah pada Allah semata, dan mengikhlaskan ibadah pada-Nya. Mereka pun berdakwah untuk melarang dari kesyirikan dan maksiat.
 
Ada dua orang yang telah diutus, lalu diutus lagi rasul yang ketiga, jadilah ada tiga utusan. Tetap saja dakwah ditolak. Malah kaum yang didakwahi berkata: “Kami juga manusia semisal kalian.” Maksud mereka, apa yang membuat para rasul lebih unggul daripada mereka, padahal sama-sama rasul juga manusia. Namun para Rasul mengatakan pada umatnya:
 
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
 
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” [QS. Ibrahim: 11]
 
Kaum tersebut intinya masih mengingkari wahyu yang diturunkan, dan mereka pun mendustakan para rasul yang diutus. Namun rasul ketiga mengatakan: “Rabb kami Maha Tahu, kalau kami adalah utusan untuk kalian.” Maksudnya, kalau para rasul itu berdusta, tentu mereka akan mendapatkan siksa.
 
Tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan. Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tidak bisa bertindak apa-apa.” [Tafsir As-Sa’di, hlm. 734-735]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم.
 
“Utusan itu berkata: Sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan Akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333]
 
Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat di atas:
 
1. Baiknya memberikan perumpamaan ketika memberikan penjelasan. Dalam ayat yang dibahas dijelaskan, bahwa kalau Nabi Muhammad ﷺ ditolak dakwahnya. Mmaka itu juga terjadi untuk rasul atau utusan yang lain.
 
2. Orang kafir sama miripnya dilihat dari zaman dan tempat, sama-sama sulit menerima kebenaran.
 
3. Orang kafir telah diberikan peringatan dan penjelasan. Jika menolak, mereka akan mendapatkan siksa. [Aysar At-Tafasir, 4:370]
Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.



 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kewajibankitahanyamengingatkan, #tugasmuhanyamenyampaikan, #kewajibanhanyamenyampaikan, #pendakwah, #bukanlahpekerjaan, #petunjukhanyaMilikAllah #hidayahhanyamilikAllah, #faidahsuratYasin, #pendakwahhanyamenyampaikan #hidayahmilikAllah #taufik #taufiq #milikAllahsaja #faedahsuratYasin #faidah #faedah #tukangdakwah #jurudakwah #ustadz #hidayahbukanmilikkita #Islam #sunnah #Islam #Alquran #SuratYasin #QSYasi
,

PERHATIKANLAH DARI SIAPA ENGKAU MENGAMBIL ILMU

PERHATIKANLAH DARI SIAPA ENGKAU MENGAMBIL ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

PERHATIKANLAH DARI SIAPA ENGKAU MENGAMBIL ILMU
 
Malik bin Anas rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah daging dan darahmu. Dan tentangnya (ilmu tersebut), engkau akan ditanyai pada Hari Kiamat. Maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya.”
[Lihat: al-Kifayah 21)]
 
Sumber: IslamDiaries

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#NasihatUlama, #ManhajSalaf,#HatiHatiMengambilIlmu

DAURAH ASATIDZAH NASIONAL 16-22 JULI 2017

DAURAH ASATIDZAH NASIONAL 16-22 JULI 2017

#InfoKajian

DAURAH ASATIDZAH NASIONAL 16-22 JULI 2017

Hadirilah
Dengan Mengharap Rida Allah subhanahu wa ta’ala

Daurah Asatidzah Nasional 16-22 Juli 2017

Bersama
– Fadhilatu Asy-Syaikh Al-Allamah Al Muhaddits Prof. Dr. Washiyullah Abbas -hafidzahullah-
(Ahli Hadits Makkah, Guru Besar Universitas Ummul Qura, Pengajar Masjidil Haram, Arab Saudi)

– Fadhilatu Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Abdul Aziz Al-Bura’iy -hafidzahullah-
(Ahli Hadis Yaman & Pimpinan Darul Hadits kota Ibb, Yaman)

– Fadhilatu Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Hady Al-Umairy, MA.
(Pengajar Ma’had dan Anggota Dewan Pelayanan Fatwa Masjidil Haram, Arab Saudi)

– Fadhilatu Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Habib Muhammad Abdullah Bamusa -hafidzahullah-
(Ahli Hadis Yaman & Pimpinan Darul Hadis dan Markaz As-Salam Al-‘Ilmiy Li Ulumi Asy-Syar’i Hudaidah, Yaman)

– Fadhilatu Asy-Syaikh Al-Allamah Rasyad Al-Hubaisyiy -hafidzahullah-
(Imam dan Khatib Masjid Ar-Rahman Kota Shan’a, Yaman)

Waktu
Insya Allah
Ahad – Sabtu
22-28 Syawwal 1438 H 16-22 Juli 2017 M

Tempat
Masjid Pesantren As-Sunnah Makassar
Jl. Baji Rupa No. 8 Makassar

Fasilitas,
• Gratis pendaftaran
• Gratis kitab / modul panduan materi bagi pendaftar.
• Gratis penginapan bagi peserta luar Makassar dan sekitarnya.
• Gratis transportasi dari bandara / terminal / pelabuhan Makassar ke Pesantren As-Sunnah dan sebaliknya

Peserta Terbatas,
• Fasilitas bagi peserta yang telah terdaftar/registrasi
• Mendaftar Via WA/SMS Paling Lambat Tanggal 12 Juli 2017 M

Kontak Pantia,
Pendaftaran : Tri Utomo 0852 5528 7644
Info Acara : Ustadz Muhajir J. 0853 4201 1989
Transportasi : Bahrun 0812 4200 7723

Insya Allah live streaming di,
www.dzulqarnain.net
www.almakassari.com
radio.an-nashihah.com
melalui saluran 2 atau
di aplikasi resmi radio an-nashihah (Appstore & IOS)

#TAUAMKS2017
#DAURAHASATIDZAHNASIONAL2017

APAKAH ANDA MERINDUKAN AMAL JARIYAH BERUPA ILMU BERMANFAAT YANG TERSEBAR?

APAKAH ANDA MERINDUKAN AMAL JARIYAH BERUPA ILMU BERMANFAAT YANG TERSEBAR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi

APAKAH ANDA MERINDUKAN AMAL JARIYAH BERUPA ILMU BERMANFAAT YANG TERSEBAR?

>> Inilah kesempatannya: Pembinaan 200 Dai Ramadan
>> Dibutuhkan dana 15 juta Rupiah
>> Donasi tiga hari, mulai 5-7 Mei 2017

Kali ini jilid kedua dan ketiga pembinaan dai dengan tema terkini (Persiapan Ramadan) di Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz M Abduh Tuasikal yang terletak di pedalaman Gunungkidul (Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang).

Baru saja data yang masuk pada panitia, peserta sudah terdaftar hampir 200 (belum yang dadakan nantinya).

Bahasan yang dikaji adalah KITAB BULUGHUL MARAM karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Jilid # 01 dibahas Kitabul Janaiz.
Jilid # 02 dibahas tema Zakat.
Jilid # 03 dibahas tema Puasa.
Jilid # 02 dilaksanakan 10-11 Mei 2017.
Jilid # 03 dilaksanakan 24-25 Mei 2017.

Mayorit peserta menginap akan menginap di masjid Pesantren Darush Sholihin.

Kebutuhan selama pembinaan takmir:
1- Kitab Bulughul Maram bagi peserta
2- Makan enam kali untuk empat hari
3- Snack dan kopi
4- Biaya transport
5- MCK
6- Hadiah 100 ribu Rupiah (untuk dua jilid kajian) bagi tiap peserta

Kebutuhan tiap peserta 150 ribu rupiah. Total kebutuhan: Rp.30.000.000,- (TIGA PULUH JUTA RUPIAH)

Biaya di atas untuk dua jilid kajian, sehingga jilid #02 pada pekan depan dibutuhkan dana sekitar LIMA BELAS JUTA RUPIAH.

Karena mereka adalah dai-dai yang langsung terjun ke desa-desa pedalaman di Gunungkidul, semoga donasi Anda menjadi amal jariyah berupa ILMU BERMANFAAT YANG TERSEBAR.

Silakan mentransfer via rekening:

• BCA 895009 2905 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal
• BSM 7068478612 atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul
• BRI 697501000452509 atas nama Yayasan Darush Sholihin

Konfirmasi ke 082313950500 dengan format:

Dukung Kajian DS# Nama donatur# alamat# no. HP# bank tujuan transfer# besar transfer.

Info: 0811267791 – Mas Jarot (WA/ SMS)

Silakan memanfaatkan amal jariyah ini sebelum Ramadan.

Pimpinan: Muhammad Abduh Tuasikal
Malam 9 Syaban 1438 H @ Panggang Gunungkidul

Info Ramadan Darush Sholihin

,

KETIKA SANTRI MEMBELA KAFIR

KETIKA SANTRI MEMBELA KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#ManhajSalaf

KETIKA SANTRI MEMBELA KAFIR

Pertanyaan:

Saya bingung dengan kondisi Muslim di negara kita saat ini. Ada kelompok ngaku santri, tapi kok masih bela orang kafir penista Alquran ya. Mohon wejangannya ustadz

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada satu kalimat yang barangkali bisa menjadi pelipur kepenatan hati kita, ketika melihat hiruk-pikuk negara kita: “Di setiap perjuangan, selalu ada penghianat.” Kalaupun ada sebagian orang berpenampilan Muslim, lalu menyatakan dengan terang-terangan membela musuh Islam, itu hal yang lumrah. Bagian dari sunatullah. Dalam setiap perjuangan selalu ada pengkhianat.

Ketika Nabi ﷺ berdakwah, ada banyak musuh mengintai. Terutama dari kalangan Yahudi dan orang kafir sekitar Madinah. Anehnya, di saat yang sama, ada beberapa orang yang tinggal di Madinah, mereka juga ikut shalat jamaah bersama Nabi ﷺ di Masjid Nabawi, yang justru terang-terangan memberi ruang bagi para musuh Islam itu. Mereka itu adalah orang-orang munafik Madinah. Allah ceritakan tentang mereka dalam Alquran:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman dan penolong, dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kemenangan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemenangan kepunyaan Allah. [QS. an-Nisa’: 138 – 139]

Jadi, kalaupun ada yang mengaku santri, namun menjadi garda depan pembela gubernur kafir, itu BAGIAN DARI KELANJUTAN SEJARAH yang sudah ada sejak masa silam. Mereka melestarikan tradisi pegkhianatan yang dilakukan orang munafik di masa silam, terhadap perjuangan Nabi ﷺ. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah gubernur kafir.

Sebagaimana orang munafik di masa silam, mereka sangat merugikan kaum Muslimin. Wajar jika Allah memberikan ancaman berat bagi mereka.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29395-ketika-santri-membela-kafir.html

,

MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH

MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH
 
Salah satu hal agar kita tidak dibodohi oleh gadget, hanya untuk suatu hal yang sia-sia, bahkan bermaksiat, adalah MAKSIMALKAN gadget kita untuk berdakwah, untuk share sebuah ilmu yang syari. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Media-media social adalah kesempatan atau peluang bagi kalian yang hendaknya kalian manfaatkan sebaik-baiknya, dan jangan kalian tinggalkan untuk orang-orang jahat dan para dai penyeru kesesatan.” [Ahamiyyatul ‘Aqidatish Shahihah, 23-7-1437H]
Sumber: Forum Berbagi Faidah
,

TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA YANG HAKIKI

TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA YANG HAKIKI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah

TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA YANG HAKIKI

Di antara tugas penting seorang dai Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para dai sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki. Karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu, ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi Salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Namun kita sekarang umumnya, yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

Tahdzir Adalah Kasih Sayang Yang Sejati

Men-tahdzir seorang dai sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:

  1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia, dan azab Allah ‘azza wa jalla di Akhirat.
  1. Agar dosanya tidak semakin banyak, dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata:

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu? Justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri. Aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat. Orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Mengapa Al-Hasan Bin Shalih Bin Hay Di-Tahdzir?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghapal Alquran, penghapal hadis dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya. Beliau juga ahli fikih dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya:

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar. Salah seorang tokoh. Dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah Khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut. Sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memrovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan, dan mengganggu kenyamanan orang banyak, dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya, karena kezaliman dan ketidakadilan mereka. Akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat, tidak boleh sholat Jumat di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca selengkapnya: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771429409673210:0

,

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

PENJELASAN TENTANG TAHDZIR ADALAH TANDA CINTA DAN JAWABAN TERHADAP SYUBHAT DEMO YANG DIBOLEHKAN PEMERINTAH

Tahdzir Adalah Tanda Cinta Yang Hakiki

Di antara tugas penting seorang da’i Ahlus Sunnah adalah men-tahdzir kesesatan dan para da’i sesat, demi menyelamatkan umat dari kesesatan tersebut.

Inilah tanda cinta yang hakiki. Karena kita sayang kepada saudara kita, maka jangan biarkan dia terjerumus dalam kesesatan. Oleh karena itu, ulama dahulu sangat menghargai dan mencintai orang yang menasihati mereka.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻳﺤﺒﻮﻥ ﻣﻦ ﻳﻨﺒﻬﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﻮﺑﻬﻢ ﻭﻧﺤﻦ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺃﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻓﻨﺎ ﻋﻴﻮﺑﻨﺎ

“Sungguh generasi Salaf dahulu mencintai orang yang mengingatkan kesalahan mereka. Namun kita sekarang umumnya, yang paling kita benci adalah yang memberitahukan kesalahan kita.” [Minhaajul Qooshidin, hal. 196]

Tahdzir Adalah Kasih Sayang Yang Sejati

Men-tahdzir seorang da’i sesat juga merupakan kasih sayang kepadanya dari dua sisi:

  1. Agar dia kembali kepada kebenaran dan selamat dari kesesatan di dunia dan azab Allah ‘azza wa jalla di Akhirat.
  2. Agar dosanya tidak semakin banyak dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti kesesatannya.

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata:

حَكَيتُ لِيُوْسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئاً مِنْ أَمرِ الفِتَن، فَقَالَ: ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي: الحَسَنَ بنَ حَيٍّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ: أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةً? فَقَالَ: لِمَ يَا أَحْمَقُ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاَءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِم، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم

“Aku menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbath sesuatu tentang Waki’ terkait perkara ‘fitnah’. Maka beliau berkata: Dia menyerupai gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hayy. Aku pun berkata kepada Yusuf: Apakah kamu tidak takut ini menjadi ghibah? Maka beliau berkata: Kenapa wahai dungu, justru aku lebih baik bagi mereka daripada bapak dan ibu mereka sendiri. Aku melarang manusia agar tidak mengamalkan bid’ah yang mereka ada-adakan, agar dosa-dosa mereka tidak berlipat-lipat. Orang yang memuji mereka justru yang membahayakan mereka.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/54]

Mengapa Al-Hasan Bin Shalih Bin Hay Di-Tahdzir?

Para ulama dahulu men-tahdzir Al-Hasan bin Shalih bin Hay, padahal beliau adalah penghapal Alquran, penghapal hadis dengan sanad-sanadnya, bukan sekedar nomor-nomornya. Beliau juga ahli fikih dan ahli ibadah. Mungkin tidak ada manusia zaman sekarang yang memyamainya dalam hal tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya:

الإِمَامُ الكَبِيْرُ، أَحَدُ الأَعْلاَمِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الهَمْدَانِيُّ، الثَّوْرِيُّ، الكُوْفِيُّ، الفَقِيْهُ، العَابِدُ

“Dia adalah imam besar. Salah seorang tokoh. Dialah Abu Abdillah Al-Hamadani Ats-Tsauri Al-Kufi, seorang yang fakih, ahli ibadah.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/52]

Beliau ditahdzir hanya karena satu bid’ah, namun tergolong bid’ah yang berat, yaitu bid’ah Khawarij, yang di masa ini mirip dengan aksi demo atau mendukung aksi tersebut. Sebuah aksi yang secara teori dan fakta dapat memrovokasi masa untuk memberontak, menumpahkan darah, merusak stabilitas keamanan, dan mengganggu kenyamanan orang banyak, dengan adanya kemacetan jalan atau kericuhan dan lain-lain.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

كَانَ يَرَى الحَسَنُ الخُرُوْجَ عَلَى أُمَرَاءِ زَمَانِهِ لِظُلْمِهِم وَجَوْرِهِم، وَلَكِنْ مَا قَاتَلَ أَبَداً، وَكَانَ لاَ يَرَى الجُمُعَةَ خَلْفَ الفَاسِقِ

“Al-Hasan berpendapat bolehnya memberontak terhadap Pemerintah di masanya, karena kezaliman dan ketidakadilan mereka. Akan tetapi dia tidak pernah berperang selamanya. Dan dia juga berpendapat, tidak boleh sholat Jumat di belakang imam yang fasik.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/58]

Oleh karena itu, dahulu ada sekte Khawarij yang kerjanya hanya berbicara tentang kejelekan pemerintah, tidak ikut mengangkat senjata untuk memberontak.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

والقعدية قوم من الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون الخروج بل يزينونه

“Al-Qo’adiyah adalah satu kaum dari golongan Khawarij, yang dahulu berpendapat dengan ucapan mereka, dan mereka tidak memandang untuk memberontak, akan tetapi mereka memrovokasi untuk melakukannya (dengan kata-kata).” [Fathul Bari, 1/432]

Jawaban Syubhat: Jika Pemerintah Membolehkan Demo, Maka Menjadi Boleh

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya, lalu sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm radhiyallahu’anhu, dishahihkan Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]

Petuah Rasulullah ﷺ di dalam hadis yang mulia ini benar-benar diamalkan oleh sebaik-baik generasi, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum. Tatkala seseorang berkata kepada sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma:

أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ فَقَالَ أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ

“Tidakkah engkau masuk menemui ‘Utsman untuk berbicara dengannya (menasihatinya)? Maka ia berkata: “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak berbicara kepadanya, kecuali aku harus memerdengarkan kepada kalian?! Sesungguhnya aku telah berbicara kepadanya, ketika hanya antara aku dan dia saja, tanpa aku membuka satu perkara yang aku tidak suka untuk membukanya pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 3267) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2989), dan lafal ini milik Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

قوله قد كلمته ما دون أن افتح بابا أي كلمته فيما أشرتم إليه لكن على سبيل المصلحة والأدب في السر بغير ان يكون في كلامي ما يثير فتنة أو نحوها

“Ucapan beliau (Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu): “Sungguh aku telah berbicara dengannya tanpa aku membuka sebuah pintu” maknanya adalah, aku telah berbicara kepadanya dalam perkara yang kalian maksudkan tersebut, akan tetapi dengan jalan maslahat dan adab secara rahasia, TANPA ada dalam ucapanku sesuatu yang dapat mengobarkan fitnah (kekacauan) atau semisalnya.” [Fathul Bari, 13/51]

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

فالنصح يكون بالأسلوب الحسن والكتابة المفيدة والمشافهة المفيدة , وليس من النصح التشهير بعيوب الناس , ولا بانتقاد الدولة على المنابر ونحوها , لكن النصح أن تسعى بكل ما يزيل الشر ويثبت الخير بالطرق الحكيمة وبالوسائل التي يرضاها الله عز وجل

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan yang semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan, dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridai Allah ‘azza wa jalla.” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/306]

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berkata:

ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة , وذكر ذلك على المنابر; لأن ذلك يفضي إلى الفوضى وعدم السمع والطاعة في المعروف , ويفضي إلى الخوض الذي يضر ولا ينفع , ولكن الطريقة المتبعة عند السلف : النصيحة فيما بينهم وبين السلطان , والكتابة إليه , أو الاتصال بالعلماء الذين يتصلون به حتى يوجه إلى الخير

“Bukan termasuk Manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar. Sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210]

Maka menasihati pemerintah secara terang-terangan melalui demo atau yang lainnya MENYELISIHI petunjuk Rasulullah ﷺ, sedang ketaatan kepada pemerintah hanyalah dalam perkara yang ma’ruf, bukan yang menyelisihi syariat.

  1. Berdemo juga termasuk tasyabbuh, menyerupai orang-orang kafir. Apakah jika pemerintah membolehkannya lalu menjadi halal?!

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:

صحيح ان الوسائل إذا لم تكن مخالفة للشريعة فهي الأصل فيها الإباحة، هذا لا إشكال فيه، لكن الوسائل إذا كانت عبارة عن تقليد لمناهج غير إسلامية فمن هنا تصبح هذه الوسائل غير شرعية، فالخروج للتظاهرات او المظاهرات وإعلان عدم الرضا او الرضا وإعلان التاييد أو الرفض لبعض القرارات أو بعض القوانين، هذا نظام يلتقي مع الحكم الذي يقول الحكم للشعب، من الشعب وإلى الشعب، أما حينما يكون المجتمع إسلاميا فلا يحتاج الأمر إلى مظاهرات وإنما يحتاج إلى إقامة الحجة على الحاكم الذي يخالف شريعة الله.

“Benar, bahwa sarana-sarana, jika tidak menyelisihi syariat, maka hukum asalnya mubah, ini bukan masalah. Tetapi sarana-sarana, jika merupakan taklid terhadap manhaj yang bukan Islam, maka menjadi tidak sesuai syariat, maka keluar untuk aksi terbuka atau demonstrasi, dan menampakkan penentangan atau persetujuan, atau menunjukkan dukungan atau penolakan atas sebagian aturan atau undang-undang; metode ini sama dengan aturan (demokrasi) yang mengatakan, bahwa hukum milik rakyat; dari rakyat dan untuk rakyat. Adapun masyarakat Islam, tidaklah membutuhkan demonstrasi, melainkan iqomatul hujjah (penyampaian ilmu) kepada Penguasa yang menyelisihi syariat Allah ta’ala.” [Mauqi’ Al-Albani]

Al-Imam Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah juga berkata:

هذه التظاهرات الأوربية ثم التقليدية من المسلمين، ليست وسيلة شرعية لإصلاح الحكم وبالتالي إصلاح المجتمع، ومن هنا يخطئ كل الجماعات وكل الأحزاب الاسلامية الذين لا يسلكون مسلك النبي صلى الله عليه وسلم في تغيير المجتمع، لا يكون تغيير المجتمع في النظام الاسلامي بالهتافات وبالصيحات وبالتظاهرات، وإنما يكون ذلك على الصمت وعلى بث العلم بين المسلمين وتربيتهم على هذا الاسلام حتى تؤتي هذه التربية أكلها ولو بعد زمن بعيد.

“Demonstrasi ini yang asalnya dari orang-orang kafir Eropa, kemudian diikuti oleh kaum Muslimin, bukanlah sarana yang sesuai syariat untuk memerbaiki hukum (pemerintah), ataupun memerbaiki masyarakat. Maka dari sini jelas, kesalahan semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan Islam yang tidak menempuh jalan Nabi ﷺ dalam mengubah masyarakat, karena tidaklah mungkin mengubah masyarakat dalam aturan Islam dengan cara menyuarakan yel-yel, berteriak-teriak dan berdemonstrasi. Hanyalah melakukan perubahan itu dengan cara tidak menyuarakan kebatilan dan menyebarkan ilmu di tengah-tengah kaum Muslimin, dan mendidik mereka di atas agama Islam yang benar ini, sampai usaha pendidikan ini membuahkan hasil, walau menempuh waktu yang lama.” [Mauqi’ Al-Albani]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

المظاهرات ليست من دين الإسلام لما يترتب عليها من الشرور من ضياع كلمة المسلمين من تفريق بين المسلمين لما يصاحبها من التخريب وسفك الدماء لما يصاحبها من الشرور، وليست المظاهرات بحل صحيح للمشكلات، ولكن الحل يكون بإتباع الكتاب والسنة

“Demonstrasi bukan berasal dari agama Islam, karena kejelekan-kejelekan yang timbul darinya seperti terpecahnya kesatuan kaum Muslimin, disertai dengan pengrusakan dan pertumpahan darah serta berbagai kejelekan lainnya. Demonstrasi bukan solusi yang benar, akan tetapi solusi itu adalah dengan mengikuti Alquran dan As-Sunnah.” [Mauqi’ Al-Fauzan]

  1. Fakta dan realita di negeri-negeri yang membolehkan demo telah memunculkan berbagai macam kemudaratan. Sebagian orang menuduh ulama Ahlus Sunnah di Saudi atau di negeri lain sebagai orang-orang yang tidak tahu realita di lapangan, padahal merekalah yang menutup mata terhadap fakta dan realita berbagai macam kemudaratan akibat demo.

Beberapa Dampak Buruk Demonstrasi

  1. Memrovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa. Terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan semakin memrovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum Muslimin [lihat Fathul Bari, 13/51-52]
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya [lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619]
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah Muslim [lihat Umdatul Qaari, 22/33]
  4. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal yang baik [lihat Haqqur Ro’i, hal. 27]
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya [lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99]
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa [lihat Fathul Bari, 13/52]
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang Muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum Khawarij [lihat Syarah Muslim, 18/118]
  8. Menghinakan sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai penguasa Muslim [lihat As-Sailul Jarror, 4/556]
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya [lihat Madarikun Nazhor, hal.211]
  10. Mengganggu ketertiban umum
  11. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan
  12. Merusak stabilitas ekonomi
  13. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun
  14. Menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ dan sahabat
  15. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir. Wallahu A’lam.

Untuk Saudaraku Yang Di-Bully Karena Men-Tahdzir Pelaku dan Pendukung Demo

Inilah fenomena saat ini. Karena sudah terlanjur cinta, maka tidak rela kalau tokohnya di-tahdzir. Walau salah harus tetap dibela, tak peduli lagi walau harus mem-bully orang yang dianggap sebagai lawannya. Maka bagi seorang da’i Ahlus Sunnah, janganlah takut kepada manusia yang akan menjatuhkan kehormatannya. Tetap suarakan kebenaran. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang sifat orang-orang yang Dia cintai di antaranya adalah:

وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ

“Dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [Al-Maidah: 54]

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ

“Perhatikanlah. Janganlah rasa segan kepada manusia yang menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 168]

Al-Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata:

لو أن العلماء تركوا الذب عن الحق خوفاً من كلام الخلق لكانوا قد : أضاعوا كثيراً ، وخافوا حقيراً

“Andaikan ulama tidak membela kebenaran karena takut kepada celaan makhluk, maka sesungguhnya mereka telah menyia-nyiakan sesuatu yang mulia, dan takut kepada sesuatu yang remeh.” [Al-‘Awaashim wal Qowaashim, 1/223]

Al-Imam Abu Ismail Al-Harowi rahimahullah berkata:

عرضت على السيف خمس مرات ، لا يقال لي: ارجع عن مذهبك؛ ولكن يقال لي:اسكت عمن خالفك فأقول: “لا أسكت

“Aku pernah terancam dibunuh dengan pedang sebanyak lima kali. Bukan untuk dikatakan kepadaku: Tinggalkan pendapatmu. Akan tetapi dikatakan kepadaku: Diamlah, jangan membantah orang yang menyelisihimu. Maka aku tegaskan: Aku tidak akan diam.” [Al-Aadaab Asy-Syar’iyyah libnil Muflih, 1/207]

Peringatan

Tahdzir yang dimaksud di sini adalah men-tahdzir da’i sesat dan kesesatannya, berdasarkan ilmu dan hikmah, dengan memerhatikan kaidah-kaidahnya, di antaranya kaidah maslahat dan mudarat. Bukan tahdzir yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang tanpa ilmu, bukan pula tahdzir antara sesama Ahlus Sunnah secara serampangan.

 

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/771429409673210:0

 

, ,

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah
#FatwaUlama

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

Menjelaskan PEMIKIRAN DAI yang menyimpang, bolehkah penjelasan tersebut disebarkan di PUBLIK??

Fatwa Asy-Syaikh DR Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan:

Ahsanallahu ilaikum, apakah termasuk Manhaj Salaf, apabila salah seorang da’i keliru dan menyelisihi Manhaj Salaf, untuk dijelaskan kesalahannya melalui media media informasi dan risalah-risalah?

Jawaban:

■ “Apabila ia menyebarkan perkataannya atas khalayak manusia,

[✔] Maka haruslah bantahan yang ditujukan atasnya juga DISEBARKAN  dalam rangka menjelaskan kebenaran.

■ Namun jikalau perkataannya yang keliru tidak tersebar,

[✔] Maka cukup dinasihati saja dan hal ini cukup. Na’am”.

 

العلامة صالح الفوزان

[ يقول ]

أحسن الله إليكم هل من منهج السلف أنه إذا أخطأ أحد الدُعاة وخالف نهج السلف أن يُنشر خطأؤه عبر وسائل الإعلام والرسائل؟

[ الجواب ]

■ إذا كان نشر قوله على الناس

[✔] فلابد من نشر الرد عليه لبيان الحق

■ أما إذا كان ما انتشر قوله

[✔] فإنه يُناصح ويكفي هذا .نعم.

 

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/18473-boleh-menjelaskan-penyimpangan-dai-jika-dia-menyebarkan-pemikirannya-di-umum.html