Posts

LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH

LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LEBIH DARI SEKADAR UNTA-UNTA MERAH
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
 
“Demi Allah, jikalau Allah memberi hidayah kepada satu orang dengan sebab dirimu, hal itu benar-benar lebih baik bagimu daripada (kamu memiliki) unta-unta merah”[ HR. Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’ad]
 
Imam Al Bukhari rahimahullah membuat judul Bab dari hadis di atas: “Bab: Keutamaan Seseorang Memberi Petunjuk Pada Orang Lain Untuk Masuk Islam”.
 
Abu Daud membawakan hadis di atas pada “Bab: Keutamaan Menyebarkan Ilmu”.
 
Penulis ‘Aunul Ma’bud, mengatakan:
“Unta merah adalah semulia-mulianya harta menurut mereka (para sahabat).” [‘Aunul Ma’bud, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah Beirut, cetakan kedua, 1415 H, 4/206]
 
Di lain tempat, beliau rahimahullah mengatakan: “Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi ﷺ).” [‘Aunul Ma’bud, 10/69]
 
Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup apik. Beliau rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah unta merah.Unta tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu.
 
Di sini Nabi ﷺ menjadikan unta merah sebagai permisalan untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) suatu perbuatan. Dan memang tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah kala itu. Sebagaimana pernah dijelaskan, bahwa permisalan suatu perkara Akhirat dengan keuntungan dunia, ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman (agar mudah paham). Namun tentu saja balasan di Akhirat itu lebih besar dari kenikmatan dunia yang ada. Demikianlah maksud dari setiap gambaran yang biasa disebutkan dalam hadis. Dalam hadis ini terdapat pelajaran tentang keutamaan ilmu. Juga dalam hadis tersebut dijelaskan keutamaan seseorang yang mengajak pada kebaikan. Begitu pula hadis itu menjelaskan keutamaan menyebarkan sunnah (ajaran Islam) yang baik.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 15/178]
 
[Artikel www.rumaysho.com]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#untaunta, #ontaonta, #untamerah , #ontamerah, #lebihdarisekedar, #lebihdarisekadar, #sekadar, #sekedar #Allahmemberihidayah #sebabdirimu #hartaterbaik #hidayahmilikAllah #hartapalingistimewa
, ,

KAPAN WAKTU SHOLAT ISYRAQ? APAKAH BEDANYA DENGAN SHOLAT DHUHA?

KAPAN WAKTU SHOLAT ISYRAQ? APAKAH BEDANYA DENGAN SHOLAT DHUHA?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fatwa_Ulama

KAPAN WAKTU SHOLAT ISYRAQ? APAKAH BEDANYA DENGAN SHOLAT DHUHA?

Pertanyaan:

  1. Kalau waktu Syuruq jam 5.45 kapan kita sholat Isyraqnya? Khawatirnya kita sholat di waktu yang terlarang (matahari terbit).
  2. Bolehkah kita setelah sholat sholat Subuh di rumah duduk ibadah sampai waktu Syuruq, terus sholat Isyraq, walaupun tidak dapat pahala seperti umrah, tetapi bolehkah sholat Isyraq di rumah?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Syariat sholat Isyraq datang pada hadis Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

“Barang siapa sholat Subuh berjamaah (di masjid), lalu duduk berzikir hingga terbit matahari, kemudian sholat dua rakaat, adalah hal itu berpahala seperti pahala satu haji dan satu umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. at-Tirmidzi)

Kata at-Tirmidzi: “Ini adalah hadis Hasan Gharib. Aku telah bertanya kepada Muhammad bin Isma’il (yakni al-Imam al-Bukhari, pen) prihal Abu Zhilal. Ia menjawab: ‘Muqaribul hadis (riwayat hadisnya mendekati).’ Kata Muhammad: ‘Namanya adalah Hilal’.”

Kata al-Albani, “Akan tetapi, jumhur ahli hadis menvonis Abu Zhilal sebagai rawi yang Dha’if (lemah riwayatnya). Oleh karena itu, adz-Dzahabi menyatakan dalam kitabnya yang berjudul al-Mughni, ‘Mereka mendha’ifkan Abu Zhilal’.”

Namun menurut al-Albani, terdapat beberapa Syahid (Penguat) dari riwayat yang lain. Hal itu beliau sebutkan dalam kitab ash-Shahihah (no. 3403) dan menghukuminya sebagai hadis Hasan dalam kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 586) dan Hasan Lighairih (Hasan karena penguatnya) dalam kitab Shahih at-Targhib wat Tarhib (no. 464).

Di antara penguatnya adalah hadis Abu Umamah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz:

مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ فِيْ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيْهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سَبْحَةَ الضُّحَى كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ.

“Barang siapa sholat Subuh berjamaah di masjid jami’, kemudian tetap tinggal di tempatnya hingga melaksanakan sholat Dhuha (dua rakaat), adalah hal itu berpahala seperti pahala orang berhaji atau berumrah dengan haji dan umrah yang sempurna.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Abul Hasan ‘Ubaidullah al-Mubarakfuri menukil dalam kitab Mir’atul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih [Pada Kitab ash-Shalah, Bab adz-Dzikri ba’da ash-Shalah, al-Fashlu ats-Tsani (3/328)] bahwa ath-Thibi berkata: “Maknanya adalah lalu sholat setelah matahari meninggi seukuran batang tombak agar waktu terlarang telah berakhir. Sholat ini dinamakan sholat Isyraq dan merupakan awal sholat Dhuha.”

Begitu pula keterangan imam-imam ahli fikih di masa ini, seperti Ibnu ‘Utsaimin dan Ibnu Baz.

Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: “Sholat Isyraq adalah sholat Dhuha. Namun, jika kamu menunaikannya di awal waktu saat matahari terbit dan telah meninggi (dari ufuk) seukuran batang tombak (menurut pandangan kasat mata), itu dinamakan sholat Isyraq. Apabila ditunaikan di akhir waktu atau di pertengahan waktu, itu dinamakan sholat Dhuha.

Akan tetapi, sholat Isyraq tergolong sholat Dhuha, karena ulama –rahimahumullah– mengatakan, bahwa waktu sholat Dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak, sampai menjelang Zawal (matahari bergeser ke ke arah Barat).” [Lihat kitab Liqa’ Bab al-Maftuh (141/25)].

Ibnu ‘Utsaimin juga berkata: “Sholat Isyraq adalah sholat yang dilaksanakan setelah matahari meninggi seukuran batang tombak. Lamanya menurut perhitungan jam sekitar lima belas menit atau semisal itu. Itu adalah sholat Isyraq dan merupakan sholat Dhuha, karena pelaksanaan sholat Dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak hingga menjelang Zawal. Sholat Dhuha lebih utama dilaksanakan di akhir waktu daripada di awal waktu.

Kesimpulannya, dua rakaat sholat Isyraq adalah dua rakaat sholat Dhuha. Hanya saja, jika disegerakan pelaksanaannya di awal waktu, yaitu saat matahari meninggi seukuran batang tombak, itu adalah sholat Isyraq dan Dhuha. Jika diakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, itu adalah sholat Dhuha, bukan sholat Isyraq.” [Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/305)].

Ibnu ‘Utsaimin menerangkan perbedaan istilah Syuruq dan Isyraq. Syuruq artinya terbitnya matahari tanpa meninggi seukuran batang tombak. Isyraq artinya terbitnya matahari dengan meninggi seukuran batang tombak [Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/298-299)].

Kata asy-Syaikh Ibnu Baz: “Sholat Isyraq adalah sholat Dhuha di awal waktu. Yang lebih utama adalah dilaksanakan ketika waktu Dhuha telah meninggi dan terik matahari amat panas. Hal itu sebagaimana sabda Rasul ﷺ:

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Sholat orang-orang yang gemar bertobat adalah ketika anak-anak onta kepanasan dari teriknya matahari.” (HR. Muslim)

Maknanya adalah ketika panas terik matahari menyengat anak-anak onta. Inilah makna hadis tersebut. Sholat Dhuha setidaknya dua rakaat.” [Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/400-401)]

Kata asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazamul dalam kitabnya yang bertajuk Bughyatul Mutathawwi’ fi Sholatit Tathawwu’, Sholatul Isyraq, “Telah tsabit (tetap) penamaan sholat Dhuha yang dilaksanakan di awal waktu sebagai sholat Isyraq dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. ‘Abdullah bin Harits bin Naufal meriwayatkan:

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ لَا يُصَلِّي الضُّحَى. فَأَدْخَلْتُهُ عَلَى أُمِّ هَانِئٍ، فَقُلْتُ: أَخْبِريْ هَذَا بِمَا أَخْبَرْتِنِيْ

بِهِ. فَقَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمَ الْفَتْحِ فِيْ بَيْتِيْ، فَأَمَرَ بِمَاءٍ، فَصَبَّ فِيْ قَصْعَةٍ، ثُمَّ أَمَرَ بِثَوْبٍ، فَأَخَذَ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ رَشَّ نَاحِيَةَ الْبَيْتِ، فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، وَذَلِكَ مِنَ الضُّحَى، قِيَامُهُنَّ وَرُكُوعُهُنَّ وَسُجُودُهُنَّ وَجُلُوسُهُنَّ سَوَاءٌ، قَرِيبٌ بَعْضُهُنَّ مِنْ بَعْضٍ.

فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ يَقُولُ: لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ اللَّوْحَيْنِ، مَا عَرَفْتُ صَلاَةَ الضُّحَى إِلَّا الْآنَ: { يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ }، وَكُنْتُ أَقُولُ: أَيْنَ صَلاَةُ الْإِشْرَاقِ؟ ثُمَّ قَالَ بَعْدُ: هُنَّ صَلاَةُ الْإشْرَاقِ.

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak pernah sholat Dhuha. Lantas aku membawanya masuk ke Ummu Hani’, aku berkata: “Beritakan padanya apa yang kamu beritakan padaku.”

Ummu Hani’ berkata: “Rasulullah ﷺ menemui aku di rumahku pada Hari Penaklukan kota Mekah, lalu memerintahkan agar disiapkan air. Lalu beliau menuangnya ke dalam bejana, lalu memerintahkan disiapkan pakaian. Lalu mengambil tempat terpisah antara dirinya dan aku, lalu beliau mandi. Lalu memerciki salah satu sudut rumah, lalu sholat delapan rakaat. Itu adalah sholat Dhuha. Lama berdirinya, rukuknya, dan sujudnya hampir sama.”

Kemudian Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma keluar seraya berkata: “(Demi Allah) sungguh aku telah membaca di mushaf, tetapi tidaklah aku mengetahui sholat Dhuha kecuali sekarang. (Allah berfirman):

يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ١٨

“Gunung-gunung itu bertasbih di pagi hari dan petang hari.” (Shad: 18)

Adalah aku sebelumnya bertanya-tanya: ‘Mana sholat Isyraq itu?’ Ternyata itulah sholat Isyraq.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam Tafsir-nya dan al- Hakim [Kata guru besar kami al-Imam al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam Tatabbu’ Auham al-Hakim (4/142, no. 6952), “Asal hadis ini dalam Shahih Muslim dari riwayat Ummu Hani’.”].

Dari keterangan di atas tampaklah jawaban untuk pertanyaan pertama, bahwa kita bisa melaksanakan SHOLAT ISYRAQ ketika telah berlalu SEKITAR LIMA BELAS MENIT (seperempat jam) dari waktu Syuruq (terbitnya matahari).

Adapun jawaban pertanyaan kedua,  dinukil dari Fatwa al-Imam Ibnu Baz ketika ditanya dengan pertanyaan yang teksnya sebagai berikut: “Apakah tinggal di rumah setelah Sholat Fajar untuk membaca Alquran hingga matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat Syuruq, akan mendapat pahala yang sama yang diraih dengan berdiam menunggu di masjid? Kami berharap dari kemuliaan Anda, agar memberi faidah dalam masalah ini. Semoga Allah memanjangkan umur Anda di atas ketaatan kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Ibn Bazz menjawab:

“Amal ini memiliki banyak keutamaan dan pahala yang besar. Namun teks hadis yang ada menunjukkan, orang yang tinggal di rumah tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang duduk di tempat sholatnya di masjid. Tetapi jika orang itu sholat Subuh di rumah karena sakit atau karena takut, kemudian duduk di tempat sholatnya sambil berzikir dan membaca Alquran sampai matahari meninggi, kemudian sholat dua rakaat, maka orang ini mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadis. Karena orang ini memiliki uzur untuk sholat di rumahnya. Demikian pula wanita. Jika seorang wanita sholat Subuh (di rumahnya), kemudian duduk berzikir di tempat sholat di dalam rumahnya sampai matahari meninggi, maka dia juga mendapat pahala sebagaimana yang dijanjikan dalam hadis-hadis itu, bahwa Allah ‘azza wa jalla menuliskan bagi orang yang melakukannya, pahala berhaji dan umrah yang sempurna (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Ibn Bazz, 11:218)

Hadis-hadis dalam hal itu jumlahnya banyak, saling menguatkan satu sama lainnya dan tergolong dalam jenis hadis Hasan Lighairih (Hasan karena penguatnya). Hanya Allah yang memberi taufik.” [Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/403-404)].

 

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

 

http://asysyariah.com/waktu-sholat-Isyraq/