Posts

,

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

BAGAIMANAKAH HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM?

Berdasarkan fatwa [Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 14/277-286, Fatwa no. 18047 – lihat di sini: https://pengusahamuslim.com/1104-bagaimanakah-hukum-asuransi-dalam-islam-23.html],  jelaslah bagi kita alasan DIHARAMKANNYA asuransi dengan berbagai macamnya:

  1. ASURANSI BUKANLAH TERMASUK BENTUK PERNIAGAAN YANG DIHALALKAN DALAM ISLAM, sebab perusahaan asuransi tidaklah pernah melakukan praktik perniagaan sedikit pun dengan nasabahnya.
  2. Asuransi diharamkan karena mengandung unsur riba, yaitu bila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata jumlah uang klaim yang ia terima melebihi jumlah total setoran yang telah ia bayarkan.
  3. Asuransi mengandung tindak kezhaliman, yaitu perusahaan asuransi memakan harta nasabah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syariat. Hal ini dapat terjadi pada dua kejadian:

Kejadian Pertama:

Apabila nasabah selama hidupnya tidak pernah mengajukan klaim, sehingga seluruh uang setorannya tidak akan pernah kembali, alias hangus.

Banyak perusahaan asuransi mengklaim bahwa produk-produk mereka telah selaras dengan prinsip syariah. Secara global, mereka menawarkan dua jenis pilihan:

  1. Asuransi Umum Syariah

Pada pilihan ini, mereka mengklaim bahwa mereka menerapkan metode bagi hasil/ Mudharabah. Yaitu bila telah habis masa kontrak, dan tidak ada klaim, maka perusahaan asuransi akan mengembalikan sebagian dana/ premi yang telah disetorkan oleh nasabah, dengan ketentuan 60:40 atau 70:30. Adapun berkaitan dana yang tidak dapat ditarik kembali, mereka mengklaimnya sebagai dana Tabarru’ atau Hibah.

2. Asuransi Jiwa Syariah

Pada pilihan ini, bila nasabah hingga jatuh tempo tidak pernah mengajukan klaim, maka premi yang telah disetorkan, akan hangus. Perilaku ini diklaim oleh perusahaan asuransi sebagai hibah dari nasabah kepada perusahaan (Majalah MODAL edisi 36, 2006, hal. 16).

Subhanallah. Bila kita pikirkan dengan seksama, dari kedua jenis produk asuransi syariat di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa yang terjadi hanyalah manipulasi istilah. Adapun prinsip-prinsip perekonomian syariat, di antaranya yang berkaitan dengan Mudharabah dan hibah, sama sekali tidak terwujud. Yang demikian itu dikarenakan:

– Pada transaksi Mudharabah, yang di bagi adalah hasil/ keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syariah di atas, yang dibagi adalah modal atau jumlah premi yang telah disetorkan.

– Pada akad Mudharabah, pelaku usaha (perusahaan asuransi) mengembangkan usaha riil dengan dana nasabah guna mendapatkan keuntungan. Sedangkan pada asuransi umum syariat, perusahaan asuransi, sama sekali tidak mengembangkan usaha guna mengelola dana nasabah.

– Pada kedua jenis asuransi syariat di atas, perusahaan asuransi telah memaksa nasabah untuk menghibahkan seluruh atau sebagian preminya. Disebut pemaksaan, karena perusahaan asuransi sama sekali tidak akan pernah siap bila ada nasabah yang ingin menarik seluruh dananya, tanpa menyisakan sedikitpun. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه (رواه أحمد والدارقطني والبيهقي، وصححه الحافظ والألباني

“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya.” (HR. Ahmad, ad-Daraquthny, al-Baihaqy dam dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Albany).

– Pengunaan istilah Mudharabah dan Tabarru’ untuk mengambil dana/ premi nasabah ini tidak dapat mengubah hakikat yang sebenarnya, yaitu dana nasabah hangus. Dengan demikian, perusahaan asuransi telah mengambil dana nasabah dengan cara-cara yang tidak dihalalkan. Ini sama halnya dengan minum khamr yang sebelumnya telah diberi nama lain, misalnya minuman penyegar, atau suplemen.

عن عُبَادَةَ بن الصَّامِتِ رضي الله عنه قال: قال رسول اللَّهِ صلّى الله عليه وصلّم (لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ من أمتي الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ). رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

Dari sahabat Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sunggung-sungguh akan ada sebagian orang dari umatku yang akan menghalalkan khamr, hanya karena sebutan/ nama (baru) yang mereka berikan kepada khamr.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sungguh perbuatan semacam inilah yang jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah ﷺ  melalui sabdanya:

(لا ترتكبوا ما ارتكبت اليهود فتستحلوا محارم الله بأدنى الحيل (رواه ابن بطة، وحسنه ابن تيمية وتبعه ابن القيم وابن كثير

“Janganlah kalian melakukan apa yang pernah dilakukan oleh bangsa Yahudi, sehingga kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah hanya dengan sedikit rekayasa.” (HR. Ibnu Baththah, dan dihasankan oleh Ibnu Taimiyyah dan diikuti oleh dua muridnya yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir).

Kejadian Kedua:

Apabila nasabah menerima uang klaim, dan ternyata uang klaim yang ia terima lebih sedikit dari jumlah total setoran yang telah ia bayarkan. Kedua kejadian ini diharamkan, karena termasuk dalam keumuman firman Allah ta’ala:

يَأَيُّها الَّذين آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan cara-cara yang bathil, kecuali dengan cara perniagan dengan asas suka sama suka di antara kamu.”

 

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A.

https://pengusahamuslim.com/1895-bagaimanakah-hukum-asuransi-dalam-islam-33.html

,

HUKUM-HUKUM SEPUTAR JALAN

HUKUM-HUKUM SEPUTAR JALAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah, #AdabAkhlak

HUKUM-HUKUM SEPUTAR JALAN

  1. Tidak boleh memersempit jalan kaum Muslim. Bahkan harus melapangkan jalan dan menyingkirkan hal yang mengganggu darinya. Bahkan yang demikian termasuk bagian keimanan.
  2. Tidak boleh mengadakan pada area miliknya, sesuatu yang menyempitkan jalan.
  3. Tidak diperbolehkan mengadakan pada miliknya, sesuatu yang memersempit jalan. Misalnya membangun atap di atas jalan, yang membuat para pengendara susah lewat, atau membuat tempat duduk di jalan.
  4. Tidak boleh menjadikan sebuah tempat pemberhentian untuk hewan atau kendaraannya di jalan yang dipakai orang lewat. Karena yang demikian dapat membuat jalan menjadi sempit dan menyebabkan kecelakaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak boleh bagi seseorang mengeluarkan sesuatu dari bagian bangunan ke jalan kaum Muslim …dst.”

  1. Jalan adalah hak bersama. Oleh karena itu harus menjaganya dari semua yang mengganggu orang yang lewat, seperti membuang sampah di jalan. Karena menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan termasuk cabang keimanan.
  1. Di jalan umum juga dilarang menanam, membuat bangunan, membuat galian, menaruh kayu, menyembelih binatang, membuang sampah dan menaruh sesuatu yang berhaya bagi orang yang lewat.
  1. Bagi pihak berwenang juga harus mengatur kota dan mencegah hal-hal yang mengganggu jalan, menghukum orang yang menyalahi aturan, agar berhenti dari perbuatannya itu.

Banyak orang meremehkan masalah ini, padahal penting. Sehingga kita lihat banyak orang yang membatasi jalan umum untuk kepentingan pribadi, dipakai buat menaruh kendaraan, menaruh batu-batu, besi dan semen untuk bangunannya dan dibuatkan galian, dsb.

Sedangkan yang lain ada yang membuang kotoran berupa sampah, barang najis maupun sisa-sia di pasar-pasar, tidak peduli akan bahayanya bagi kaum Muslim. Hla ini adalah haram. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzaab: 58)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang Muslim adalah orang yang dapat menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu Muslim yang lain.” (HR. Bukhari)

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ ».

“Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan Laailaahaillallah, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan hadis-hadis lainnya yang mendorong menghormati hak kaum Muslim dan tidak mengganggu mereka. Termasuk mengganggu mereka adalah memersempit jalan kaum Muslim dan meletakkan rintangan-rintangan di sana.

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.

Penulis: Marwan bin Musa

[Artikel www.Yufidia.com]

Maraji’: Al Mulakhkhash Al Fiqhi (Syaikh Shalih Al Fauzan), Fiqh Muyassar, dll.

 

, , ,

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

HUKUM GAMBAR ATAU FOTO UNTUK SESUATU YANG PENTING, KTP, PASPOR, SIM

Oleh: Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Iftasw

Pertanyaan:
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya: Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia sangat memerlukan gambar atau foto untuk diletakkan pada Kartu Tanda Pengenal (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), kartu jaminan sosial, ijazah, paspor dan untuk keperluan lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah kita boleh untuk keperluan tersebut. Jika tidak boleh, bagaimana dengan mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang (memiliki jabatan tertentu), apakah mereka harus keluar atau terus berkecimpung di dalamnya?

Jawaban:
Mengambil gambar atau berfoto hukumnya haram, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis-hadis shahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ melaknat siapa saja yang membuat gambar, dan penjelasan beliau ﷺ, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berat mendapatkan siksa. Hal itu disebabkan, bahwa gambar atau lukisan merupakan sarana kepada kemusyrikan, dan kerena perbuatan tersebut sama dengan menyerupakan makhluk Allah.

Tetapi jika hal itu terpaksa dilakukan untuk keperluan pembuatan Kartu Tanda Pengenal, Paspor, Ijazah, atau untuk keperluan yang sangat penting lainnya, maka ada pengecualian (rukhsah) dalam hal yang demikian, sesuai dengan kadar kepentingannya, jika ia tidak menemukan cara lain untuk menghindarinya. Sedangkan bagi mereka yang berkecimpung dalam suatu bidang dan tidak menemukan cara selain dengan cara yang demikian, atau pekerjaannya dilakukan demi kemaslahatan umum, yang hanya dapat dilakukan dengan cara itu, maka bagi mereka ada pengecualian (rukhshah), karena adanya kepentingan tersebut, sebagaimana firman Allah:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang kalian dipaksa kepadanya” [Al-An’am : 119]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

FOTO ATAU GAMBAR WANITA

Pertanyaan:
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta ditanya : Apakah foto wanita yang terdapat di Paspor atau Tanda Pengenal lainnya merupakan aurat bagi wanita? Apakah dibenarkan bagi seorang wanita yang menolak berfoto untuk mewakilkan hajinya kepada orang lain, disebabkan ia tidak mendapatkan Paspor? Sampai di manakah batas-batas pakaian yang harus dikenakan oleh seorang wanita yang terdapat dalam Alquran dan Hadis?

Jawaban:
Tidak diperkenankan bagi seorang wanita untuk berfoto dengan menampakkan wajahnya, baik untuk keperluan paspor maupun untuk keperluan lainnya, karena wajah merupakan aurat bagi seorang wanita. Dan menampakkan wajahnya di dalam Paspor atau kartu identitas lainnya dapat menimbulkan fitnah bagi dirinya. Tetapi jika ia tidak dapat menunaikan ibadah haji disebabkan hal itu, maka ia mendapatkan pengecualian (rukhshah) dalam hal pengambilan gambar wajah, guna menunaikan ibadah haji, dan ia tidak boleh mewakilkan ibadah hajinya kepada orang lain.

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran dan As-Sunnah. Maka wajib bagi mereka untuk menutup seluruh anggauta tubuh dari yang bukan mahramnya, sebagaimana Allah berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ

“..Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami merea…” [An-Nur : 31]

Dan firman Allah:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“… Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka …” [Al-Ahzab : 53]

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (1/494)]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]

Sumber: https://almanhaj.or.id/143-gambar-atau-foto-untuk-sesuatu-yang-penting-kartu-tanda-pengenal-pasport.html

, ,

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajAkidah
#FatwaUlama

BOLEHKAH DISEBARKAN KE PUBLIK, PENJELASAN PEMIKIRAN DAI MENYIMPANG?

Menjelaskan PEMIKIRAN DAI yang menyimpang, bolehkah penjelasan tersebut disebarkan di PUBLIK??

Fatwa Asy-Syaikh DR Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan:

Ahsanallahu ilaikum, apakah termasuk Manhaj Salaf, apabila salah seorang da’i keliru dan menyelisihi Manhaj Salaf, untuk dijelaskan kesalahannya melalui media media informasi dan risalah-risalah?

Jawaban:

■ “Apabila ia menyebarkan perkataannya atas khalayak manusia,

[✔] Maka haruslah bantahan yang ditujukan atasnya juga DISEBARKAN  dalam rangka menjelaskan kebenaran.

■ Namun jikalau perkataannya yang keliru tidak tersebar,

[✔] Maka cukup dinasihati saja dan hal ini cukup. Na’am”.

 

العلامة صالح الفوزان

[ يقول ]

أحسن الله إليكم هل من منهج السلف أنه إذا أخطأ أحد الدُعاة وخالف نهج السلف أن يُنشر خطأؤه عبر وسائل الإعلام والرسائل؟

[ الجواب ]

■ إذا كان نشر قوله على الناس

[✔] فلابد من نشر الرد عليه لبيان الحق

■ أما إذا كان ما انتشر قوله

[✔] فإنه يُناصح ويكفي هذا .نعم.

 

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/18473-boleh-menjelaskan-penyimpangan-dai-jika-dia-menyebarkan-pemikirannya-di-umum.html

 

, ,

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#MuslimahSholihah

HUKUM PUASA WANITA YANG TIDAK BERJILBAB

Pertanyaan:

Benarkah puasanya wanita yang tidak berhijab tidak diterima?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Kita meyakini amal saleh di bulan Ramadan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar, bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan Ramadan, dosanya juga dilipat gandakan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan:

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah:

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Orang yang melakukan maksiat di bulan Ramadan, dia melakukan dua kesalahan:

  • Pertama, melanggar larangan Allah
  • Kedua, menodai kehormatan Ramadan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Karena itulah, Rasulullah ﷺ memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” [HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya].

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir:

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan TIDAK DITERIMANYA PUASANYA. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain, tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku nggak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. [Fathul Bari, 4/117]

Buka Aurat, Menebar Dosa

Ketika wanita memamerkan auratnya, yang terjadi, dia sedang menjadi sumber dosa. Dosa bagi setiap lelaki yang melihat dirinya. Itulah para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata. Para wanita yang mengobral harga diri dan auratnya di depan umum, tanpa rasa malu.

Karena itu, cara memahaminya bukan sekali memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian. Tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.

Karena itu, wajar jika Nabi ﷺ memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan harumnya Surga, padahal bau harum Surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Puasanya Tidak Diterima

Jika puasa seseorang menjadi tidak bernilai gara-gara dosa yang dia kerjakan, apa yang bisa Anda bayangkan, ketika ada orang yang menjadi sumber dosa?? Layakkah dia berharap puasanya diterima? Bahkan karena sebab dia, banyak lelaki yang pahala puasanya berkurang.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25088-puasa-wanita-yang-tidak-berjilbab-tidak-diterima.html

, , ,

APA MAKNA MAIYYAH (KEBERSAMAAN) DALAM SURAT AT TAUBAH AYAT 40?

APA MAKNA MAIYYAH (KEBERSAMAAN) DALAM SURAT AT TAUBAH AYAT 40?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#TazkiyatunNufus
#FatwaUlama

APA MAKNA MAIYYAH (KEBERSAMAAN) DALAM SURAT AT TAUBAH AYAT 40?

  • Janganlah Engkau Bersedih Sesungguhnya Allah Bersama Kita

Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Pertanyaan:

Allah Ta’ala berfirman:

لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Artinya:

Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita [QS At Taubah 9:40].

Apakah maksud dari Maiyyah (kebersamaan) ini dan berapakah pembagian Maiyyah itu?

Jawaban:

Peristiwa ini terjadi di gua Tsur, ketika Rasulullah ﷺ dan sahabat beliau Abu Bakr tengah bersembunyi. Pada waktu Rasulullah ﷺ berkata kepada sahabatnya tersebut, tatkala mereka berdua berada di dalam gua:

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا } [التوبة٤٠).

“Ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: ‘Jangan engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS At Taubah: 40)

Dan perkataan itu beliau ﷺ ucapkan ketika orang-orang musyrik datang untuk mencari mereka berdua, dan kala itu orang-orang musyrik tersebut berdiri di atas gua. Maka berkatalah Abu Bakr karena mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, seandainya salah satu dari mereka melihat ke kakinya, niscaya ia akan melihat kita.” Rasulullah ﷺ menenangkan: “Wahai Abu Bakr, apa menurutmu jika ada dua orang, sementara Allah yang ketiganya?”

Ketika itu, Allah memalingkan pandangan kaum musyrikin, sehingga mereka tidak melihat Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr, padahal mereka berdiri sangat dekat dengannya di atas gua. Ini termasuk kekuasaan Allah ﷻ.

Dan kebersamaan (Maiyyah) Allah dengan makhluknya terbagi menjadi dua jenis:

Pertama, Maiyyah ‘Ammah atau kebersamaan secara umum, yang bermakna pemeliharaan dan pengawasan. Kebersamaan ini berlaku bagi orang kafir dan Muslim, serta seluruh mahluk. Dalam arti, Allah Maha Meliputi mereka. Dia subhanahu wa ta’ala melihat mereka, mendengar mereka, dan mengetahui perihal mereka.

Kedua, Maiyyah Khashah atau kebersaman yang khusus, dan kebersamaan ini adalah kebersamaan Allah dengan kaum Mukminin, berupa pertolongan, penguatan, penjagaan, dan perlindungan-Nya bagi mereka.

Pada ayat:

“(لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا)،”

Kebersamaan di sini adalah kebersamaan khusus, yakni: “Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua.” Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman kepada Musa dan Harun:

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ”[طه 46)]

“Allah berfirman:

‘Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian, Aku mendengar dan melihat.” (QS Thahaa:46)

Maka kebersamaan di sini adalah kebersamaan khusus bagi kaum Mukminin dari kalangan para nabi dan rasul, beserta para pengikut mereka.

 

——

 

Diterjemahkan oleh: Ummu Qonita Ika Kartika
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: www.alfawzan.af.org.sa
[Artikel www.Muslimah.or.id]

 

Sumber: https://Muslimah.or.id/7113-makna-Maiyyah-dalam-surat-at-taubah.html

TOLAK UKUR DISEBUT NEGARA MUSLIM ATAU KAFIR

TOLAK UKUR DISEBUT NEGARA MUSLIM ATAU KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf

TOLAK UKUR DISEBUT NEGARA MUSLIM ATAU KAFIR

Pertanyaan:

Ana masih kurang jelas mengenai istilah negara kafir dan negara Muslim. Apakah benar jika suatu negara itu dikatakan kafir, jika penduduknya mayoritas kafir, dan di situ tidak tegak syiar Islam?

Begitu juga sebaliknya, apakah benar jika suatu negara dikatakan negara Muslim, jika mayoritas Muslim dan tegak syiar Islam?

Bagaimana jika suatu negara dikatakan negara Muslim, tapi sistem pemerintahannya menggunakan sistem kafir? Yakni dari mulai keuangan, pajak, dan lain-lain.

Jawaban:

Alhamdulillah

Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.

Salah satu kesalahan mendasar yang dipahami sebagian ikhwah tentang perbedaan negara kafir dan Muslim, adalah ketika tolok ukurnya HANYA penerapan undang-undang buatan siapa, apakah buatan Allah atau buatan manusia.

Perlu dipahami, bahwa tolok ukur negara dikatakan Muslim itu macam-macam, tidak hanya satu tolok ukur, dan para ulama pun berbeda-beda pendapat.

Jadi TIDAKLAH BENAR, jika berhukum dengan undang-undang buatan manusia, dijadikan sebagai tolok ukur untuk memvonis suatu negara Muslim atau kafir.

Berbagai tolok ukur negara Muslim dan kafir di antaranya:

  1. Kekuasaan di pihak kaum Muslimin atau kaum kafir. Jika di pihak kaum Muslimin, maka negara Muslim, dan jika di pihak kafir, maka negara kafir.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla:13/140)

2. Penampakkan hukum-hukum dan syiar Islam secara umum, seperti: Sholat Jumat, Iedul Fitri, Iedul Adha, puasa Ramadan, haji tanpa adanya larangan dan kesulitan. Dan bukanlah semua hukum Islam harus ditegakkan.

3. Dikumandangkan Azan dan Didirikan Sholat

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Dahulu Rasulullah ﷺ menyerang (musuh) ketika azan dikumandangkan. Jika beliau ﷺ mendengar azan, maka beliau ﷺ tidak jadi menyerang. Tapi jika tidak terdengar azan, maka beliau ﷺ akan melancarkan serangan.” (HR. Bukhori: 610, Muslim: 1365)

4. Mayoritas Penduduknya

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Suatu negara itu dilihat dari kekuasaan, mayoritas (penduduknya), dan penguasa atau pemimpinnya.” (lihat Al Muhalla: 13/140)

Adapun kaitannya dengan sistem kafir (buatan manusia), para ulama menerangkan, bahwa seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Allah, berarti dia telah melakukan sebuah kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Tapi bisa jadi kekafiran kecil ini berubah menjadi besar, jika dia menganggap dan berkeyakinan halal atau bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah, atau dia berkata: “Saya tidak merasa wajib, atau harus berhukum dengan hukum Allah”. Semisal mengatakan berhukum dengan selain hukum Allah lebih baik daripada berhukum dengan hukum Allah, atau hukum-hukum dan undang-undang lainnya sama saja dengan hukum Allah, dan perkataan semisalnya. Jika demikian, berarti ia telah melakukan kekafiran yang besar (keluar dari Islam).

WAllahu A’lam

Wabillahit Taufiq

 

Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Sumber: https://bimbinganislam.com/tolak-ukur-negara-Muslim-atau-kafir/

JANGAN MAU JADI PEMBANTU SETAN…!

JANGAN MAU JADI PEMBANTU SETAN...!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

JANGAN MAU JADI PEMBANTU SETAN…!

Setan sangat bersungguh-sungguh untuk memecah belah kaum Muslimin secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus, demi menghancurkan persaudaraan dan memutuskan tali kasih sayang di antara kaum Mukminin. Relakah dirimu menjadi pembantu setan…?!

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah (kaum Muslimin) yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi dia belum putus asa untuk memecah belah di antara mereka.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

والتحريش الإغراء والمعنى أنه يجتهد في إفساد ما بينهم من التواصل ليقع التباغض

“At-Tahrisy (memecah belah) adalah memanas-manasi. Maknanya adalah, setan berusaha sekuatnya untuk merusak hubungan antara kaum Muslimin, sehingga mereka saling membenci.” [Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 1/752]

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan:

وَمَعْنَاهُ : أَيِس أَنْ يَعْبُدهُ أَهْل جَزِيرَة الْعَرَب ، وَلَكِنَّهُ سَعَى فِي التَّحْرِيش بَيْنهمْ بِالْخُصُومَاتِ وَالشَّحْنَاء وَالْحُرُوب وَالْفِتَن وَنَحْوهَا

“Dan maknanya, setan telah putus asa untuk disembah penduduk (Muslim) Jazirah Arab, akan tetapi dia tetap berusaha memecah belah kaum Muslimin dengan permusuhan, kebencian, peperangan, fitnah, dan semisalnya.” [Syarah Muslim, 17/156]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/754165288066289:0

,

WAHAI SALAFIYYIN, BERDOALAH UNTUK KEBAIKAN ISLAM DAN NEGERI INI

WAHAI SALAFIYYIN, BERDOALAH UNTUK KEBAIKAN ISLAM DAN NEGERI INI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

WAHAI SALAFIYYIN, BERDOALAH UNTUK KEBAIKAN ISLAM DAN NEGERI INI

Mengingatkan Ahlus Sunnah Salafiyyin, untuk banyak-banyak berdoa, demi keselamatan agama dan negeri ini dari fitnah dan petaka. Terutama pada hari-hari yang berat ini.

Semoga Allah menjaga dan memberikan kebaikan untuk pemerintah Indonesia. Semoga Allah memberikan untuk negeri dan rakyat Indonesia para pemimpin yang beriman dan bertakwa, ikhlas, jujur, amanah, serta cinta kepada Islam dan Muslimin.

Gunakanlah kesempatan Qiyamullail antum pada hari-hari ini, khususnya untuk banyak-banyak berdoa dan bermunajat kepada Allah, di samping pada waktu-waktu mustajabah lainnya.

Semoga kita termasuk dalam hadis berikut:

Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاتِهِمْ وَإِخْلاصِهِمْ»
(رواه النسائي، وصححه الألباني).

“Hanyalah Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang lemah di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” [HR. an-Nasa’i, dishahihkan oleh al-Albani]

Di antara Contoh Redaksi Doa:

اللهم أصلح ولاة أمورنا، اللهم أصلح ولاة أمورنا، اللهم وفقهم لما فيه صلاحهم وصلاح الإسلام والمسلمين

“Ya Allah, perbaikilah kondisi pemerintah kami. Ya Allah, perbaikilah kondisi pemerintah kami. Ya Allah, beri taufik mereka, kepada apa yang padanya terdapat kebaikan Islam dan Muslimin.”

اللهم أعنهم على القيام بمهامهم كما أمرتهم يا رب العالمين،

“Ya Allah, tolonglah mereka untuk melaksanakan tugas-tugas mereka, sebagaimana yang Engkau perintahkan wahai Rabbul Alamin.”

اللهم أبعد عنهم بطانة السوء والمفسدين،
وقرب إليهم أهل الخير والناصحين يا رب العالمين

“Ya Allah, jauhkanlah dari mereka, teman-teman yang jelek dan para perusak. Dekatkanlah mereka kepada orang-orang baik dan pemberi nasihat, wahai Rabbul Alamin.”

اللهم أصلح ولاة أمور المسلمين في كل مكان

“Ya Allah perbaikilah kondisi pemerintah kaum Muslimin di semua tempat.”

اللهم احفظ علينا أمننا واستقرارنا في ديارنا، اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا

“Ya Allah, jagalah keamanan dan ketenangan kami di negeri kami. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan berkuasa kepada kami, orang-orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak menyayangi kami, gara-gara dosa-dosa kami.”

اللهم اجعل لنا ولهذا البلاد أئمة أتقياء، مخلصين وصادقين، الذين يحبون الإسلام والمسلمين ويدافعون عنهم

“Ya Allah, jadikanlah untuk kami, dan untuk negeri ini, para pemimpin yang bertakwa, yang ikhlas dan jujur, yang mencintai Islam dan kaum Muslimin, serta membela kaum Muslimin.”

اللهم قنا شر الفتن ما ظهر منها وما بطن

“Ya Allah lindungilah kami dari kejelekan berbagai fitnah, yang tampak maupun yang tidak tampak.”

#mendoakankebaikanpemerintah

 

, , ,

BOLEHKAH ISTRI MEMINTA UPAH DARI SUAMI?

BOLEHKAH ISTRI MEMINTA UPAH DARI SUAMI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

#FatwaUlama

BOLEHKAH ISTRI MEMINTA UPAH DARI SUAMI?

Pertanyaan:

Apakah seorang istri boleh mengambil upah dari suaminya, karena suami telah makan makanan yang telah disiapkan oleh sang istri untuk mereka berdua?

Jawaban:

Seorang istri harus menunaikan hal-hal yang telah menjadi kebiasaan wanita di negerinya, dengan beraktivitas di rumahnya tanpa upah. Sebab hal yang sudah berlaku umum di suatu negeri, maka kedudukannya seperti syariat.

Adapun di negeri kita (Arab Saudi, red), telah berlaku kebiasaan seorang istri melakukan pekerjaan memasak dan semisalnya, sehingga hal itu adalah kewajiban baginya. (Yang Mulia, Syekh Shalih Al-Fauzan, Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh)

Sumber: Setiap Problem Suami-Istri Ada Solusinya, Solusi atas 500 Problem Istri dan 300 Problem Suami oleh Sekelompok Ulama: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin dll, Mitra Pustaka, 2008.

(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/3879-hukum-istri-meminta-upah-suami.html