Posts

, , , , ,

PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN

PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ مِنْ اَلْمُؤْمِنِ اَلضَّعِيفِ, وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ; فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ اَلشَّيْطَانِ
 
“Mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah imannya, namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah kamu lemah. Dan apabila kamu ditimpa suatu musibah, maka janganlah kamu katakan: “Andaikan aku melakukan yang ini, tentunya yang akan terjadi ini dan itu” tetapi katakanlah:
 
قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
 
“Qoddarollaahu wa maa syaa-a fa’ala” (bisa juga dibaca: Qodarullaahi wa maa syaa-a fa’ala)
 
“Allah telah menakdirkan. Dan apa yang Dia kehendaki, maka Dia melakukannya.” Karena sesungguhnya ucapan “Andaikan” membuka amalan setan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
 
Dalam hadis yang mulia ini terdapat pilar-pilar penting yang menopang kehidupan seorang Mukmin, untuk meraih kebahagiaan di dunia dan Akhirat, yaitu:
 
1) Kekuatan iman. Inilah kekuatan yang dimaksudkan dalam hadis ini, bukan kekuatan fisik belaka.
 
2) Bersemangat dalam meraih sesuatu yang bermanfaat. Ini mencakup manfaat untuk kehidupan dunia, terlebih lagi untuk kehidupan yang kekal di Akhirat.
 
3) Meninggalkan yang tidak bermanfaat, apalagi yang membahayakan di dunia dan Akhirat.
 
4) Senantiasa meminta pertolongan kepada Allah taala dan berharap serta bergantung hanya kepada-Nya.
 
5) Tidak takjub dan tidak sombong dengan kemampuan diri.
 
6) Tidak merasa lemah, selalu optimis dan bersemangat.
 
7) Apabila yang ditakdirkan tidak sesuai harapan dan cita-cita, maka terimalah takdir tersebut dengan lapang dada, seraya tetap bergantung kepada Allah taala untuk meraih yang lebih baik di masa yang akan datang.
 
8) Apabila telah terjadi musibah tidak lagi berandai-andai ke belakang, karena itu tanda kelemahan.
 
9) Beriman dengan takdir Allah taala dan berserah diri kepada-Nya, serta beradab dalam ucapan terhadap takdir-Nya.
 
10) Tidak membuka pintu bagi setan dan tidak menuruti godaan dan tipu dayanya.
 
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#pilarpilarkehidupanseorangmukminِ #imankuat #imanlemah #tinggalkanyangtidakbermanfaat #ujub #sombong #riya #dasardasarkehidupanmukmin
, ,

UJUB MENGHANCURKAN AMAL

UJUB MENGHANCURKAN AMAL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

UJUB MENGHANCURKAN AMAL
 
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
إذا فتح الله عليك في باب قيام الليل؛ فلا تنظر للنائمين نظرة ازدراء.
 
“Jika Allah membukakan untukmu pintu shalat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan!
 
وإذا فتح الله عليك في باب الصيام؛ فلا تنظر للمفطرين نظرة ازدراء.
 
Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan!
 
وإذا فتح الله عليك في باب الجهاد؛ فلا تنظر للقاعدين نظرة ازدراء.
 
Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan!
 
فرب نائم ومفطر وقاعد؛ أقرب إلى الله منك.
 
Bisa jadi orang yang tidur, orang yang tidak berpuasa, dan orang yang tidak berjihad, dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu.
 
وإنك أن تبيت نائما وتصبح نادما خير من أن تبيت قائما وتصبح مُعجَباً، فإن المعجب لا يصعد له عمل.
 
Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan shalat, namun di pagi hari engkau merasa ujub. Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah).”
 
[Madaarijus Saalikiin, 1/177]
 
 
Sumber: @IslamDiaries
 
ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ujub, #hancurkan, #penghancur, #amalanibadah #orangyangtidur, #orangyangtidakberpuasa, #orangyangtidakberjihad, #lebihdekatdenganAllah #orang yangtidur,#orangyangtidakberpuasa, #orangyangtidakberjihad, #lebihdekatdenganAllah, #jihad, #shalat, #puasa, #tahajjud, #tahajud, #sholat,#salat, #solat #tidur #nasihatulama
,

UJUB – MAKSIAT TANPA SADAR

UJUB - MAKSIAT TANPA SADAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#TazkiyatunNufus

UJUB – MAKSIAT TANPA SADAR

Sesungguhnya orang fasiq mengetahui dosa-dosa mereka, dan membuat hatinya menderita, sehingga dia bisa menangisi kesalahannya.

Adapun orang ujub dia tidak mengetahui kondisinya dalam keadaan bermaksiat. Bagaimana mungkin dia menangisi dosa-dosa yang kotor ini, sementara dia tidak sadar dalam kondisi ujub?

Adapun tawadhu’ adalah orang yang bisa melihat dirinya dalam keadaan kecil dan merasa hina.

Allah berfirman:

﴿فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ النجم 32

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

 

*Abu Najmah Syahidah

Sumber: https://nasehat.net/506-ujub-maksiat-tanpa-sadar.html

,

ADAB BERBICARA AGAMA

ADAB BERBICARA AGAMA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AdabAkhlak, #NasihatUlama

ADAB BERBICARA AGAMA

Seorang ‘alim sepatutnya untuk berbicara dengan niat dan maksud yang baik. Apabila dia mulai merasa takjub dengan ucapannya, hendaknya dia diam. Ketika dia mulai merasa takjub dengan diamnya, hendaknya dia berbicara. Jangan sampai dia berhenti mengintrospeksi jiwanya, karena nafsu itu senantiasa mencintai pujian dan ketenaran.

 

[Asy Syaikh Khalid bin Utsman As Sabt, doktor dalam bidang ‘Ulumul Qur’an, dosen di Universitas Damam Jurusan Pendidikan Fakultas Studi Islam, Saudi Arabia | Courtesy: @twitulama]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

, , ,

DI ANTARA ADAB KETIKA MENDENGAR ORANG LAIN YANG SEDANG BERBICARA

DI ANTARA ADAB KETIKA MENDENGAR ORANG LAIN YANG SEDANG BERBICARA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

DI ANTARA ADAB KETIKA MENDENGAR ORANG LAIN YANG SEDANG BERBICARA

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah berkata:

من الآداب الطيبة؛ إذا حدثك المحدث بأمر ديني أو دنيوي، ألا تنازعه الحديث إذا كنت تعرفه، بل تصغي إليه إصغاء من لا يعرفه ولم يمر عليه، وتريه أنك استفدته منه، كما كان ألباء الرجال يفعلونه. وفيه من الفوائد تنشيط المحدث وإدخال السرور عليه، وسلامتك من العجب بنفسك، وسلامتك من سوء الأدب، فإن منازعة المحدث حديثه من سوء الأدب.

“Di antara adab-adab yang baik: jika seseorang berbicara kepadamu tentang sebuah perkara agama atau dunia, jangan merebut pembicaraan darinya, jika engkau telah mengetahuinya. Bahkan hendaklah engkau mendengarkan dengan baik, seperti orang yang belum mengetahuinya, dan belum pernah melewatinya. Dan tampakkanlah kepadanya, bahwa engkau mendapatkan faidah darinya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berakal. Di antara faidah dari adab semacam ini adalah memberi semangat kepada orang yang berbicara, dan memasukkan rasa senang ke dalam hatinya. Engkau selamat dari perasaan ujub terhadap dirimu sendiri, dan engkau selamat dari adab yang buruk. Karena sesungguhnya merebut pembicaraan orang yang berbicara termasuk adab yang buruk.”

[Ar-Riyadhun Nadhirah yang menjadi satu dalam Majmu’ Muallafatis Sa’dy, hlm. 276].

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

Sumber: https://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/665855726928522/?type=3&theater

,

MASUK SURGA SEMATA KARENA RAHMAT ALLAH, LALU UNTUK APA BERAMAL?

MASUK SURGA SEMATA KARENA RAHMAT ALLAH, LALU UNTUK APA BERAMAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MASUK SURGA SEMATA KARENA RAHMAT ALLAH, LALU UNTUK APA BERAMAL?

Saat seorang menyadari, bahwa amalannya tidak mampu menggantikan Surga Allah, dis itulah ia mengerti, amat tidak pantas untuk merasa ‘ujub dengan amalannya

Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi ﷺ:

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam Surga, dan menyelematkannya dari Neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Sementara dalam beberapa ayat diterangkan, bahwa amalan adalah sebab seorang masuk Surga. Seperti ayat berikut:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Itulah Surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal saleh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72).

وحور عِينٌ * كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ * جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Bidadari-bidadari Surga berkulit putih bersih dan bermata indah. Bidadari -bidadari itu putih bersih bagaikan mutiara-mutiara yang bejejer rapi. Semua itu sebagai balasan bagi orang-orang Mukmin atas amal saleh yang mereka kerjakan di dunia” (QS. Al-Waaqi’ah: 22-24).

Bagaimana Menggabungkan Dua Nash yang Tampak Bertentangan Ini?

Mari simak penjelasan berikut …

Maksud dari huruf “ba” pada ayat ini adalah Ba Sababiyah (sebab). Adapun penafian sebab masuk Surga karena amal pada  hadis, bermakna dalam perkara balasan yang setimpal (‘iwadhiyyah).

Maksudnya adalah, seorang tidak bisa membayar Surga Allah dengan amal perbuatannya. Karena amalannya penuh dengan cacat, sementara Surga Allah terlalu sempurna untuk menjadi balasannya. Hanya dengan rahmat Allah saja seorang bisa tinggal di Surga-Nya. (Semoga kita termasuk penghuni Surga-Nya).

Syaikh Ibnu ‘Utsamin menjelaskan:

فكيف يُجمَع بين الآية وبين هذا الحديث ؟ والجواب عن ذلك: أن يقال: يُجمع بينهما بأن المنفيَّ دخول الإنسان الجنة بالعمل في المقابلة، أما المثْبتُ: فهو أن العمل سبب وليس عوضا.

“Bagaimana menggabungkan antara ayat dan hadis ini (yakni hadis Jabir di atas, pent)? Jawabannya: kedua dalil di atas bisa dikompromikan, di mana peniadaan masuknya manusia ke dalam Surga karena amalnya dalam arti balasan, sedangkan isyarat, bahwa amal sebagai kunci masuk Surga dalam arti bahwa amal itu adalah SEBAB, bukan pengganti” (Syarah Riyadhus Sholihin, 1/575).

Ini isyarat, bahwa tidak benar bila kemudian seorang berpangku tangan merasa cukup bergantung dengan rahmat Allah, lalu meninggalkan  amal saleh karena menganggapnya tidak penting. Karena Allah menetapkan segala sesuatu dengan sebab dan akibat. Dalam hal ini, Allah ‘azzawajalla menjadikan sebab mendapatkan rahmat-Nya; yang menjadi sebab meraih Surga, dengan amal saleh.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 218).

Tidak Pantas ‘Ujub

Saat seorang menyadari,  bahwa amalannya tidak mampu menggantikan Surga Allah, di situlah ia mengerti, amat tidak pantas untuk merasa ‘ujub dengan amalannya.

Andai dari hari pertama dia dilahirkan ke dunia, sampai akhir hayatnya  beribadah kepada Allah dan tak pernah melakukan dosa sedikit pun, itu TAK AKAN MAMPU membayar Surga Allah yang penuh dengan limpahan kenikmatan. Lalu bagaimana lagi bila diri ini berlumuran dosa, ibadah masih cacat, entah sudah berhasilkah kita memerjuangkan keikhlasan, kemudian  merasa ‘ujub?! Wal’iyadzubillah..

Amal Shalih Sebab Meraih Tingkatan Tinggi di Surga

Suatu hari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami (Abu Firos) berkisah: “Aku bermalam bersama Rasulullah ﷺ. Kemudian aku mengambilkan air wudhu’ untuk beliau, serta hajat beliau (maksudnya pakaian dan lain-lain).

Kemudian beliau ﷺ bersabda kepadaku:

“Mintalah sesuatu kepadaku.”

“Aku meminta untuk bisa bersamamu di dalam Surga,” pintaku.

Nabi ﷺ bersabda lagi: “Apakah ada selain itu?”

“Hanya Itu permintaanku,” jawabku.

Beliau ﷺ lalu bersabda:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ

“Kalau begitu, tolonglah aku untuk memerkenankan permintaanmu itu dengan memerbanyak sujud” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain diterangkan, dari Abu Said al Khudri radhiyallahu’anhu. Beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا

“Sesungguhnya penghuni Surga yang menempati derajat yang paling tinggi,  akan melihat orang-orang yang berada di bawah mereka, seperti kalian melihat bintang yang terbit di ufuk langit. Dan sungguh Abu Bakr dan ‘Umar, termasuk dari mereka  dan yang paling baik” (HR. Tirmidzi).

Hadis di atas menunjukkan, bahwa SURGA MEMILIKI TINGKATAN-TINGKATAN, YANG DAPAT DIRAIH DENGAN AMAL SALEH, SETELAH MASUKNYA DIDAPAT KARENA RAHMAT ALLAH.

Imam al Qurtubi rahimahullah menerangkan:

اعلم أن هذه الغرف مختلفة في العلو ، والصفة ، بحسب اختلاف أصحابها في الأعمال ، فبعضها أعلى من بعض ، وأرفع

“Ketahuilah, bahwa kamar di Surga berbeda-beda dalam hal derajat ketinggian dan sifatnya, sesuai  perbedaan penghuninya dalam  amal perbuatan. Maka satu dari mereka lebih tinggi derajatnya dari yang lain” (at Tadzkiroh fi Ahwal al Mauta wa Umur al Akhiroh, hal. 398).

Di antara tafsiran para ulama dalam mengkompromikan ayat dan hadis yang tampak bertentangan di atas, bahwa ayat yang menerangkan amalan sebagai kunci masuk Surga, diartikan  sebagai sebab untuk meraih derajat (tingkatan – pen) di dalam Surga. Adapun hadis tentang masuk Surga karena rahmat Allah,  dipahami bahwa rahmat Allah sebagai sebab masuk Surga-Nya.

Ibnu Hajar rahimahullah menuliskan dalam Fathul Bari:

قال بن بطال في الجمع بين هذا الحديث وقوله تعالى وتلك الجنة التي أورثتموها بما كنتم تعملون ما محصله أن تحمل الآية على أن الجنة تنال المنازل فيها بالأعمال فإن درجات الجنة متفاوتة بحسب تفاوت الأعمال وأن يحمل الحديث على دخول الجنة والخلود فيها

Ibnu Batthol menjelaskan saat menggabungkan hadis ini (yakni hadis Aisyah yang semakna dengan hadis Jabir di atas, pent), dengan firman Allah ta’ala:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Itulah Surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal saleh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72)

Ayat ini dimaknai, bahwa tingkatan di dalam Surga diraih dengan amalan, karena derajat di Surga berbeda-beda,  sesuai perbedaan tingkatan amal. Adapun hadis dimaknai, sebab masuk Surga atau sebab mendapatkan keabadian di dalamnya (hanya dengan rahmat Allah)” (Fathul Bari, 11/295).

Allah Maha Adil. Tentu tak akan menyamakan antara orang yang giat beramal, istiqomah, tinggi ketakwaan keikhlasan serta imannya, dengan mereka yang biasa-biasa saja kualitas iman dan takwanya. Seperti kata pepatah, Aljaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai dengan amal perbuatan.

Wallahua’lam bis shawab.

***

 

Penulis: Ahmad Anshori

[Artikel Muslim.or.id]

 

, ,

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

RAMBU-RAMBU AGAMA DALAM OLAHRAGA
Oleh: Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Dunia olah raga adalah dunia yang penuh dengan sensasi dan menjadi hobi kebanyakan anak manusia. Islam pun tidak melarangnya, karena memang hukum asal olahraga adalah halal/dibolehkan, selama tidak disertai perkara-perkara yang terlarang. Hanya saja Islam telah meletakkan rambu-rambu dan kaidah-kaidah olahraga secara umum, agar TIDAK KELUAR dari garis syariat.

Oleh karenanya sangat penting untuk kita kaji masalah ini, agar kita bisa mengetahui olahraga/ lomba-lomba apakah yang dibolehkan dalam Islam, dan dilarang oleh Islam. Di antara kaidah-kaidah tersebut adalah [Kami sarikan pembahasan ini dari Majallah al-Hikmah edisi No.3, Tanggal 1 Muharram 1415 H, bertepatan dengan 9 juni 1994M, hlm.155-168, ditulis oleh DR.Sa’id Abdul Adhim]:

Pertama: Untuk Mencari Ridho Allah
Setiap Muslim harus selalu mencari ridho Allah dalam setiap aktivitasnya. Dalam berolahraga pun ridho Allah harus dijadikan tujuan, dan itulah tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
Termasuk kesalahpahaman sebagian orang yang mengatakan, bahwa ibadah hanya sholat, zakat, dan semisalnya, sedang olahraga tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah (agama). Padahal Islam menjadikan perkara-perkara mubah sebagai ibadah yang berpahala, seperti tersenyum kepada sesama Muslim [HR. at-Tirmidzi: 1956, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 572], seorang suami mengumpuli istrinya [HR. Muslim: 1674], seorang suami memberi makan istri [HR. al-Bukhori: 1213 dan Muslim: 3076], seorang yang menanam benih [HR. Ahmad: 184, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 9], dan semisalnya.

Olahraga yang dilakukan seorang Muslim tidak akan sia-sia, bahkan berbuah pahala, jika diniatkan untuk mencari pahala dari Allah, dan untuk kemaslahatan dirinya, agamanya, dan kaum Muslimin secara umum. Akan tetapi jika tidak diniatkan demikian, maka akan menjadi bumerang baginya, dan dia akan sulit melepaskannya.

Kedua: Untuk Membela Agama dan Kebenaran
Berkata Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri حفظه الله[Dinukil secara bebas dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 juni 1994 M), hlm. 118]: “Sesungguhnya tujuan semua jenis olahraga yang dikenal dalam Islam adalah dimaksudkan menjadi sebuah alat menegakkan dan membela kebenaran. Bukanlah tujuan olahraga itu hanya mendapat harta melimpah, ketenaran, atau hal yang serupa, seperti berbangga diri dan (akhirnya) menjadi manusia yang rusak di muka bumi, sebagaimana kondisi kebanyakan mereka saat ini.”

Barang siapa tidak memahami hal ini, maka dia akan terjatuh kepada salah satu tujuan yang tidak dibenarkan dalam berolahraga.

Ketiga: Melatih Kekuatan, Kemahiran, dan Keberanian
Kebenaran akan terwujud sempurna dengan ilmu dan kekuatan. Ilmu bermanfaat bagi para pencari kebenaran, tetapi kekuatan dapat bermanfaat bagi orang-orang yang menentang. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada umatnya, dan menyiapkan kekuatan yang bermanfaat pula bagi tegaknya agama. Dan di antara bentuk persiapan kekuatan tersebut, beliau ﷺ memerintahkan kaum Muslimin berlatih jenis-jenis olahraga yang bermanfaat untuk menguatkan badan dan melatih keberanian. Demikianlah Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memersiapkan kekuatan yang bermanfaat bagi diri-diri mereka, agama dan kaum Muslimin secara umum, dalam firman-Nya:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. al-Anfal [8]: 60)
Oleh karena maksud ini, Rasulullah ﷺ mengizinkan para lelaki Habasyah bermain tombak dalam masjid beliau, bahkan mengizinkan Aisyah radhiyallahu’anha melihat mereka [Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H (9 Juni 1994 M) hlm. 119].

Keempat: Tidak Menghabiskan Semua Waktunya Untuk Olahraga
Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Tuhanmu memunyai hak atasmu, dirimu memunyai hak atasmu, dan keluargamu memunyai hak atasmu. Maka berikan hak masing-masing kepada pemiliknya.” (HR. al-Bukhori: 1832)
Seorang Muslim boleh bersantai, berolahraga, dan menghibur dirinya dengan perkara-perkara yang halal, walaupun kurang bermanfaat. Hanya yang menjadi masalah, jika seorang Muslim menjadikan kebanyakan atau semua waktunya untuk olahraga atau perkara-perkara yang tidak bermanfaat, sehingga hidupnya menjadi sia-sia, penuh dengan permainan, dan pada akhirnya menghalangi dirinya untuk melaksanakan kewajiban syariat dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Sungguh menyesal manusia yang lalai akan Kampung Akhirat, padahal dunia dan seisinya jika dibandingkan dengan Akhirat yang kekal, tidak ada artinya. Nabi ﷺ bersabda:

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Dunia ini dibandingkan dengan Akhirat, gambarannya hanya seperti seseorang yang mencelupkan satu jarinya ke lautan. Maka hendaknya ia melihat, apa yang ia akan bawa kembali.” (HR. Muslim: 5101)
Dan termasuk perangkap bagi manusia, setan selalu menghiasi dunia dengan berbagai cara supaya mereka tenggelam dalam kenikmatan dunia yang sekejap, dan lalai dengan Kampung Akhirat. Setan membisikkan kepada mereka, bahwa olahraga adalah perkara paling penting bagi manusia. Lalu manusia menjadi sibuk memikirkan olahraga, ingin mengetahui kabar terbarunya, membicarakan bintang-bintangnya secara detil, tanpa memerhatikan agama dan akhlak mereka [Betapa banyak anak muda sekarang jika ditanya siapa yang diidolakan, maka jawabnya adalah para pemain bola yang kafir, atau semisalnya].

Kelima: Tidak Fanatik Golongan dan Membabi Buta
Fanatik kepada kebenaran adalah baik dan bermanfaat, bahkan itulah istiqomah di atas agama. Akan tetapi fanatik kepada suatu kelompok tertentu, seperti kepada suatu perkumpulan olahraga, baik sepakbola atau lainnya, berarti berpegang teguh dengannya, saling menolong, dan rela mati demi membela serta memerjuangkannya, baik dalam kebenaran atau kebatilan. Inilah yang dilarang dalam Islam. Allah berfirman:

وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. al-Ma’idah [5]: 2)
Jika yang terjadi adalah fanatik golongan, seperti yang banyak terjadi baik, dari sesama pemain atau sesama supporter, berupa saling mencela, menghina, memukul, bermusuhan, bahkan saling membunuh, karena bukan dari kelompoknya. Kematian seperti ini adalah kematian jahiliah [Lihat HR. Muslim: 3440], dan olahraga yang disertai perkara semacam ini menjadi haram.

Keenam: Tidak Bercampur dengan Lawan Jenis Tanpa Batas [Lihat pembahasan lebih lengkap masalah ini dalam Majalah Al Furqon edisi 06 Tahun VI /Muharrom 1428 H, dengan judul “Ikhtilath Penyakit Kronis Umat” oleh Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf]

Wanita adalah aurat yang harus dijaga. Tidak boleh ditampakkan kepada selain mahromnya [Lihat HR. at-Tirmidzi: 1173, dan beliau mengatakan bahwa hadis ini hasan shohih ghorib]. Pada dasarnya wanita harus tinggal di rumahnya, dan tidak keluar kecuali jika ada suatu hajat atau kebutuhan [Sebagaimana perintah Alloh kepada kaum wanita dalam QS. al-Ahzab: 33]. Oleh karenanya, dalam urusan ibadah pun wanita lebih baik beribadah di rumahnya daripada masjid-masjid kaum Muslimin, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

لَا تَـمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kamu mencegah kaum wanitamu dari masjid-masjid Allah, tetapi rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud: 576, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 1396)

Jika wanita lebih baik di rumah dalam urusan ibadah, bagaimana kiranya urusan selain ibadah? Dan bagaimana kiranya lagi urusan olahraga? Maka jawabnya tentu di rumah jauh lebih baik lagi.
Jika wanita terbiasa keluar rumah, maka terjadilah campur baur wanita dengan laki-laki tanpa batas. Dan terjadilah banyak kerusakan/ fitnah, disebabkan sebagian kaum wanita telah menyelisihi fitrahnya. Oleh karena itu, rusaknya kaum Bani Israil sebab pertama kalinya adalah fitnah wanita [HR. Ahmad: 1112, dengan sanad yang shohih]. Jika wanita keluar rumah dan bercampur dengan kaum laki-laki tanpa batas, maka terjadilah saling memandang (zina mata), saling berbicara tanpa batas (zina mulut), saling bersentuhan (zina tangan) dan akhirnya saling berzina dengan zina yang sesungguhnya [Lihat HR. Bukhori: 6243 dan Muslim: 2657].

Islam telah memberi perunjuk agar umatnya tidak jatuh kepada perkara keji ini. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruk shof laki-laki adalah yang paling belakang. Sedangkan sebaik-baik shof kaum wanita adalah yang paling belakang, dan seburuk-buruk shof kaum wanita adalah yang paling depan.” [HR. Muslim: 440]

Bahkan Rasulullah ﷺ sangat menjaga batas antara kaum laki-laki dengan wanita, walaupun saat keluar dari tempat sholat. Beliau ﷺ dan para sahabatnya tetap tidak beranjak dari tempat sholatnya, sampai kaum wanita keluar terlebih dahulu, supaya tidak bercampur antara laki-laki dan wanita, walaupun setelah melaksanakan sholat, sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَلَّى مِنْ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَإِذَا قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ الرِّجَالُ

“Bahwasanya kaum wanita pada zaman Rasulullah ﷺ, mereka segera bangkit jika setelah selesai sholat, lalu Rasulullah ﷺ dan para sahabat laki-laki tetap tidak beranjak (dari tempat sholatnya), lalu jika Rasulullah ﷺ mulai bangkit, kaum laki-laki pun juga bangkit.” (HR. al-Bukhori: 866)

Ketujuh: Menutup Aurat
Menutup aurat adalah kewajiban setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Seseorang dilarang melihat aurat sesama jenisnya, sebagaimana ia dilarang melihat aurat lawan jenisnya [Lihat QS. an-Nur: 30-31].
Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Seorang laki-laki dilarang melihat aurat laki-laki lain dan seorang wanita dilarang melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim: 512)

Sungguh kita mendapati pada zaman sekarang, banyak kaum Muslimin, baik laki-laki [Seperti menyingkap paha, padahal paha adalah aurat sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Paha adalah aurat (kaum laki-laki).” (HR. al-Bukhori: 2/112). Dan Rasulullah ﷺ melarang sahabatnya menyingkap pahanya serta melarang melihat paha laki-laki lainnya (HR. Abu Dawud: 3140, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih wa Dho’if al-Jami’ ash-Shoghir. 13397)] atau perempuan [Yang paling sering dijumpai dari wanita adalah menyingkap rambut dan kepalanya, padahal keduanya termasuk aurat sebagaimana disepakati para ulama (lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 126).

Memang kita patut bersyukur dengan semakin banyaknya jumlah wanita yang berjilbab, tetapi yang kita sesalkan adalah sebagian wanita yang enggan berjilbab atau berjilbab, tetapi hakikatnya tidak mengenakannya, seperti berjilbab tetapi dadanya tersingkap, betisnya ditampakkan, berjilbab pendek sehingga rambutnya tetap terburai, berjilbab tetapi memakai bawahan yang sangat ketat, atau yang semisalnya. Ini semua adalah kesalahan yang sebab utamanya adalah kesalahpahaman mereka tentang jilbab, yang mana mereka menganggap jilbab hanya mode, bukan untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan] bermudah-mudahan terhadap auratnya. Mereka menyingkap auratnya baik sengaja atau tidak. Di sisi lain, sebagian besar kaum Muslimin tidak menggubrisnya, apalagi mencegahnya. Dan yang paling mengherankan, ketika ada sebagian Muslimah berusaha menutup auratnya lebih sempurna, justru mendapat ejekan, cacian, dianggap kuno, dituduh aliran sesat, teroris, dan sebagainya. Dari sini kita ketahui, bahwa olahraga yang mengharuskan pesertanya menampilkan aurat, seperti binaraga dan semisalnya, hukumnya haram.

Kedelapan: Meninggalkan Aturan Olahraga yang Bertentangan dengan Islam
Dalam setiap cabang olahraga, kalau kita perhatikan, masing-masing ada aturan mainnya. Pada dasarnya aturan yang dibuat dan disepakati tidak bermasalah. Tetapi ada sebagian aturan yang bertentangan dengan aturan Allah. Kalau demikian adanya, maka seorang Muslim dilarang menaati aturan yang dibuat, jika bertentangan dengan aturan Allah.

Sebagai contoh, pertandingan-pertandingan yang membolehkan pukulan ke arah wajah atau anggota tubuh yang membahayakan, lomba renang dengan membuka sebagian aurat, binaraga dengan menampakkan auratnya, pertandingan campuran antara laki-laki dengan wanita, atau yang semisalnya, semuanya diharamkan, sebab aturannya bertentangan dengan aturan Allah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata [Dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 129-130]: “Para sahabat dan generasi setelah mereka sepakat, bahwa jika (seorang Muslim) mengetahui sunnah Rasulullah ﷺ, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, lalu mengikuti pendapat seseorang, tidak pandang siapa pun dia. Syariat Islam ini menghukumi semua kaidah-kaidah, aturan-aturan, undang-undang, atau adat-istiadat yang dibuat manusia baik, yang bersifat lokal atau internasional. Maka wajib setiap Muslim untuk merealisasikan firman Allah:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar, jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (QS. az-Zumar [39]: 13)

Kesembilan: Tetap Menunaikan Kewajiban Agamanya
Olahraga bukanlah tugas manusia, tetapi manusia ditugasi untuk beribadah (QS. adz-Dzariyat: 56). Olahraga menjadi haram jika sampai melalaikan kewajibannya. Oleh karenanya, haram mengadakan pertandingan olahraga (perlombaan) pada waktu azan dikumandangkan, lebih-lebih jika dikumandangkan azan sholat Jumat. Karena orang yang mendengar azan berkewajiban untuk mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengancam hendak membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjamaah [Lihat HR. Muslim: 1041]. Lalu apakah kiranya jika ada seorang mendengar azan, lalu dia tidak menghiraukannya, bahkan justru asyik berolahraga atau menontonnya? Sungguh ini merupakan kelalaian yang sangat nyata.

Demikian pula seandainya saat hendak bertanding, para pemain harus makan dan minum menjelang bertanding, padahal saat itu waktu puasa Romadhon, maka olahraga semacam ini hukumnya menjadi haram.

Kesepuluh: Tidak Ada Pelanggaran Syariat Seperti Rukuk dan Sujud Kepada Makhluk
Sebagian cabang olahraga seperti beladiri, jika sebelum bertanding, atau saat bertanding, diharuskan adanya penghormatan dengan cara membungkuk kepada lawannya, seperti rukuk atau bahkan sampai sujud. Maka haram bagi seorang Muslim melakukannya [Lihat keharaman hukum sujud dan rukuk kepada manusia dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibad kar. Ibnul Qoyyim رحمه الله (dinukil dari Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 132)].

Cukuplah sunnah Rasul ﷺ bagi seorang Muslim, jika bertemu saudaranya untuk saling bersalaman [Sebagaimana dalam HR. ath-Thobroni 1/8/1/99, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 2647]. Adapun saling membungkukkan badan, maka telah dilarang dalam agama Islam. Dalam sebuah hadis dijelaskan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ؟ قَالَ: نَعَمْ

Dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jika ada di antara kami berjumpa dengan saudaranya atau kawannya, bolehkah dia membungkukkan badan untuknya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak boleh.’ Orang itu bertanya ‘lagi: ‘Bolehkah memeluk dan menciumnya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak .’ [Akan tetapi, bukan berarti memeluk dan mencium saudaranya hukumnya haram, karena ada keterangan dalam hadis yang lain bahwa kebiasaan sahabat jika salah satu mereka datang dari bepergian jauh mereka saling berpelukan (HR. al-Baihaqi: 7/100, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shohihah: 160)]. Orang itu bertanya lagi: ‘Bolehkah menyalami dengan tangannya?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Ya.'” (HR. at-Tirmidzi: 2728, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 4680)

Kesebelas: Tidak Kagum dan Berloyalitas Kepada Non-Muslim
Termasuk perangkap setan, manusia dibuat takjub oleh kepiawaian para bintang olahraga saat berlaga. Tidak cukup merasa takjub, sebagian mereka hatinya condong kepadanya, tanpa melihat sisi agama dan akhlaknya. Ditambah sebab kebodohannya tentang al-wala wal baro’, maka sebagian mereka membela bintang yang difavoritkan.

Secara tidak langsung mereka melebihkan orang kafir daripada orang Muslim, sebab mereka lebih menonjolkan pemain kafir daripada tokoh-tokoh Islam — utamanya Rasulullah ﷺ. Bahkan tidak jarang para pemuda Muslim dengan bangga memakai kostum milik bintang kafir, lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain kafir tersebut. Bahkan terkadang ada yang tidak segan memakai baju bergambar bintang idolanya yang kafir. Na’udzu billah min dzalik.

Jika kondisinya seperti ini, maka hilanglah permusuhan antara kaum Muslimin dengan kaum kafir. Mereka justru duduk bersama-sama. Bahkan sebagian kaum Muslimin mengidolakan musuh-musuh Allah yang seharusnya diperangi, karena mereka memerangi agama Islam (baca QS. al-Mujadilah: 22), dan kaum Muslimin harus menampakkan permusuhan dengan mereka [Namun bukan berarti kaum muslimin tidak boleh sama sekali berbuat baik kepada orang kafir. Kaum muslimin harus selalu adil, bahkan tidak boleh mengkhianati mereka, jika mereka tidak berkhianat dan tidak memerangi agama Islam (QS. al-Mumtahanah [60]: 8). Sebagai bukti hal ini, Rasulullah ﷺ berjual beli dengan mereka. Beliau ﷺ pernah menjenguk orang kafir yang sakit, dan beliau ﷺ pernah mengirim hadiah kepada raja kafir. Ini semua dilakukan jika terdapat maslahat di dalamnya, seperti harapan supaya masuk Islam. Dan bukan berarti Rasulullah ﷺ cinta kepada orang-orang kafir. Maka harus dibedakan antara berbuat adil dan cinta kepada mereka. (Lihat Majallah al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 133)]. Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu, dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu. Dan telah nyata antara kami dan kamu, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)

Kedua Belas: Tidak Membahayakan
Jika suatu pertandingan olahraga yang digelar terdapat sesuatu yang membahayakan keselamatan pesertanya, maka olahraga tersebut menjadi haram, seperti tinju, dan gulat bebas, yang dibolehkan di dalamnya menyakiti lawan, serta membahayakan keselamatan pesertanya [Sebagaimana Majlis Fatwa al-Majma’ al-Fiqhi al-lslami li Robithoh al-Alam al-Islamiy pada Muktamarnya yang ke-10 digelar di Makkah al-Mukarromah, pada tanggal 24 Shofar 1408 H, telah memutuskan, bahwa kedua cabang olahraga ini hukumnya haram]. Allah berfirman:

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 29)

Demikian pula semua cabang olahraga yang yang hukum asalnya mubah (halal). Jika menurut dugaan yang kuat akan terjadi bahaya terhadap keselamatan pesertanya, maka diharamkan sebagaimana ayat di atas [Adapun hukum olahraga seperti balap motor, balap mobil, lomba lari, panjat tebing, gulat, karate, taekwondo, kungfu, dan lainnya, maka hukum asalnya adalah termasuk yang dianjurkan, sebagaimana Alloh perintahkan hamba-Nya untuk melatih dan menyiapkan kekuatan (QS. al-Anfal [8]: 60), dan Nabiﷺ memerintah para sahabatnya berlatih memanah (HR. al-Bukhori: 3122). Hanya saja para ulama mensyaratkan kehalalannya, jika diduga kuat tidak akan membahayakan peserta. Dan menjadi haram jika diduga kuat akan membahayakan pesertanya. (Lihat al-Hikmah edisi no. 3, tgl. 1 Muharrom 1415 H, hlm. 153-162)].

Ketiga Belas: Tidak Menimbulkan Sifat Bangga Diri, Sombong, Dengki, dan Lainnya
Bangga diri (ujub), sombong dan dengki adalah penyakit hati yang dapat terjadi dalam perkara apa saja, bisa sebab ilmu, harta, rupa, pangkat, nasab, dan syuhroh (ketenaran). Jika seseorang yang berolahraga salah niatnya, dia akan selalu mencari jalan supaya menjadi yang paling nomor satu. Ketenaran dan kebanggaanlah yang menjadi tujuannya, lalu menganggap dirinya lebih besar dan hebat, sedangkan yang lainnya lebih lemah daripadanya dan akhirnya diremehkan. Inilah penyakit hati yang telah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dan pelakunya dibenci oleh Allah. Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk Surga, siapa saja yang memiliki kesombongan, walaupun sebiji sawi dalam hatinya.” Lalu ada orang bertanya: “(Wahai Rasulullah !) Ada orang yang selalu ingin baju dan sandalnya bagus.” Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabagus dan mencintai yang bagus-bagus. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim: 131)

Penutup
Marilah kita merenungi kembali tujuan Allah menciptakan kita. Ilmu agama dan aktivitas dunia yang bermanfaat sudah cukup menyita waktu kita, sehingga kita harus berpikir seribu kali untuk menyia-nyiakannya. Generasi yang mendapatkan kejayaan adalah sebaik-baik contoh buat kita, untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka menggunakan waktunya untuk duduk di majelis ilmu, belajar agama atau mengajarkannya. Jika mendengar seruan azan, mereka segera sholat. Jika mendengar seruan jihad, mereka berebut supaya tidak ketinggalan. Mereka mencari dunia sebagai jalan menuju Kampung Akhirat. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka, dan mereka mendapatkan janji Allah berupa Surga. Bandingkan keadaan kita dengan mereka. Kembalilah kepada Allah Sang Pencipta. Ikhlaskan niat hanya untuk-Nya. Jangan jadikan perkara-perkara yang asalnya mubah menggeser niat utama kita sebagai kaum Muslimin, yang akibatnya akan perkara mubah itu menggantikan niat utama kita, yaitu mencari ridho Allah.

Semoga kita dimudahkan untuk mengikuti jejak para salaf sholih. Amin.

Publication: 1438 H/2016 M
Disalin dari Majalah Al-Furqon No. 112 Ed. 09 Th Ke-10_1432 H/2011 M
Sumber: https://ibnumajjah.wordpress.com/2016/11/14/rambu-rambu-agama-dalam-olahraga/

, , ,

HUKUM MENCIUM TANGAN AYAH ATAU SYAIKH (ORANG YANG SUDAH TUA)

HUKUM MENCIUM TANGAN AYAH ATAU SYAIKH (ORANG YANG SUDAH TUA)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fatwa_Ulama

HUKUM MENCIUM TANGAN AYAH ATAU SYAIKH (ORANG YANG SUDAH TUA)

Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

P e r t a n y a a n:

“Apa hukum mencium tangan ? Khususnya bagi seorang anak terhadap ayahnya, atau seorang murid terhadap gurunya ?”

J a w a b a n:

تقبيل اليد احتراماً لمن هو أهل للاحترام كالأب والشيخ الكبير والمعلم لا بأس به

“Mencium tangan dalam rangka menghormati orang yang berhak mendapatkan penghormatan seperti ayah, orang yang sudah sangat tua, pengajar, tidaklah mengapa.

Kecuali apabila dikhawatirkan suatu mudharat, yaitu bahwa orang yang engkau cium tangannya MERASA BANGGA DIRI dan memandang bahwa dirinya berkedudukan tinggi, maka di sini kami melarangnya, dikarenakan mafsadah ini”

 

_______________

فتاوى ابن عثيمين  في   الآداب

حكم تقبيل يد الوالد أو الشيخ

 ▪السؤال:

ما حكم تقبيل اليد خاصة: ولد لوالده، أو تلميذ لشيخه؟

 ▪الجواب:

تقبيل اليد احتراماً لمن هو أهل للاحترام كالأب والشيخ الكبير والمعلم لا بأس به، إلا إذا خيف من الضرر: وهو أن الذي قبلت يده يعجب بنفسه ويرى أنه في مقامٍ عالٍ. فهنا نمنعها لأجل هذه المفسدة.

 المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [177]

 البر والصلة والآداب والأخلاق > سنن وآداب

رابط المقطع الصوتي

 ?http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_177_15.mp3

 فتاوى الشيخ العلامه ابن عثيمين رحمه الله تعالى للاشتراك

 أنشروها فنشر العلم من أعظم القربات

 

  • ┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈

JAWABAN INDAH SYEIKH HAFIDZ ALHAKAMI KETIKA ADA SESEORANG YANG MEMUJI BELIAU RAHIMAHULLAH

JAWABAN INDAH SYEIKH HAFIDZ ALHAKAMI KETIKA ADA SESEORANG YANG MEMUJI BELIAU RAHIMAHULLAH

#Nasihat_Ulama

JAWABAN INDAH SYEIKH HAFIDZ ALHAKAMI KETIKA ADA SESEORANG YANG MEMUJI BELIAU RAHIMAHULLAH

 

Asy Syeikh Hafidz Al Hakami rahimahullah:

Adapun pujian maka aku tidak membutuhkannya…

Akupun tidak rela jika ada yang melakukannya di hadapanku, atau di belakangku…

Aku tidak ingin menyimak orang yang suka memujiku…

Karena akan menyebabkan ujub/bangga diri dan senang akan pujian orang yang mendapatkannya…

Sementara dia akan lupa dengan kesalahan yang telah ia perbuat…

Untuk apa aku dengan pujian pujian itu?? Sedangkan para Malaikat telah mencatat amalanku…

Semua amalanku Allah telah menghitungnya…

Aku tidak tau apa yang telah mereka tuliskan…

Dan sungguh aku nanti di Hari Kiamat akan melihatnya…

▪أما المديح فما لي حاجة فيه

▪ولست أرضاه في سر وفي علن*********و لست أصغى إلى من قام ينشيه

▪إذ يورث العبد اعجابا يسر به*********وما جناه من الزلات ينسيه

▪مالي وللمدح والأملاك قد كتبوا*********سعيي جميعا ورب العرش محصيه

▪ولست أدري بما هم فيه قد سطروا*********و ما أنا في مقام الحشر لاقيه

 

 

 

,

KISAH IBLIS MENGAKU TUHAN

KISAH IBLIS MENGAKU TUHAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Kisah_Muslim

KISAH IBLIS MENGAKU TUHAN

Tersebutlah seorang ulama yang bernama Ahmad bin Nazzar. Kunyah beliau Abu Maisarah, Al-Qoiruwani, salah seorang ulama bermadzhab Maliki. Beliau dikenal sebagai Faqihul Maghrib (ahli fikih daerah Maroko), sosok yang dikenal doanya mustajab, seorang ulama yang seimbang antara ilmu dan amal. Hampir setiap malam beliau mengkhatamkan Alquran dalam shalat Tahajud di masjidnya.

Beliau pernah diminta oleh Gubernur Al-Manshur bin Ismail untuk menjabat sebagai Qadhi untuk daerah Qoiruwan, namun beliau tidak bersedia menerimanya. Beliau wafat di tahun 338 H.

Ada satu kejadian menarik tentang beliau. Di sela beliau sedang Tahajud, tiba-tiba muncul cahaya sangat terang dari tembok masjid. Cahaya itu mengatakan dengan lantang:

تملا من وجهي، فأنا ربك

“Engkau telah memenuhi wajahku, akulah Tuhanmu.”

Apa yang bisa kita bayangkan ketika kita mengalami kejadian semacam ini? Ya, kita sepakat akan merasa sangat bangga. Kita akan merasa telah mencapai puncak beribadah. “Allah telah menampakkan dirinya, berarti saya sudah mencapai derajat hakikat.” Atau kita akan meminta banyak hal, mumpung ketemu langsung dengan Allah: “Ya Allah, berikan aku banyak harta, rumah mewah, mobil mewah.” “Ya Allah, aku minta karamah, agar bisa menolong hamba-Mu yang sakit.” “Ya, Allah jadikan dia pasangan hidupku.” “Ya Allah, luaskan rezekiku, mudahkan urusanku, mudahkan aku tuk meraih cita-citaku.” Dan seabreg permintaan lainnya, yang menunjukkan betapa tamaknya kita dengan dunia.

Hampir bisa dipastikan, orang yang mengalami kejadian semacam ini, esok harinya akan segera membuka praktik pengobatan alternatif, suwuk, karena merasa punya karamah.

Tapi tidak demikian yang dilakukan sang imam. Ulama yang mulia ini memahami hal yang berbeda, yang mendapat petunjuk Allah melalui ilmu agama yang beliau pahami. Apa yang beliau lakukan?

Ternyata Imam Ahmad bin Nazzar ini meludahi cahaya yang menampakkan wajah ini, dan mengatakan:

اذهب يا ملعون

“Pergilah wahai makhluk terlaknat.”

Tiba-tiba cahaya itu padam.

Beliau memahami ini tipuan setan, agar orang menjadi ujub dalam beribadah. Selanjutnya dia mengaku telah mencapai puncak Nirwana ibadah, derajat Makrifat Atau Hakikat. Selanjutnya dia meninggalkan ibadah sama sekali.

(Siyar A’lam Nubala: 15/396)

Sumber: https://kisahmuslim.com/3473-kisah-iblis-mengaku-tuhan.html