Posts

BAHAYA ORANG MUNAFIK

BAHAYA ORANG MUNAFIK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

BAHAYA ORANG MUNAFIK

Allah lebih banyak mengkhususkan penyebutan orang-orang munafik ketimbang orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi tidak pernah menyembunyikan permusuhan, dan selalu menampakkannya. Adapun orang munafik, mereka menyembunyikan permusuhan dan menampakkan perkawanan.

|Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi, Da’i di Saudi yang juga pernah menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. Courtesy @Twit Ulama|

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

 

, ,

BAGAIMANAKAH CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK?

BAGAIMANAKAH CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#FatwaUlama
#KeluargaMuslim
#PendidikanKeluarga

BAGAIMANAKAH CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK?

Fatwa Syaikh Muhammad Saleh Al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Penanya program acara ini mengatakan:

‘Bagaimana cara seorang ayah mengajarkan tauhid kepada anak-anaknya?

Jawaban:

Alhamdulillah rabbil’aalamain. Aku mendoakan shalawat dan kesalamatan kepada Nabi kita, dan juga keluarga beliau, para sahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti mereka hingga Kiamat. Amma ba’du.

Mengajarkan perkara agama kepada anak-anak caranya sama seperti mengajarkan kepada orang selain mereka.

Materi yang paling bagus untuk pengajaran adalah kitab Tsalatul Ushul karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jika anak-anak mampu menghapalnya dengan hati (tanpa membaca kitab), kemudian sang ayah menjelaskan kepada mereka sesuai dengan daya tangkap anak dan nalar mereka, maka hal ini akan menjadi kebaikan yang banyak.

Karena kitab Tsalatul Ushul ini dikemas dengan metode tanya jawab, menggunakan istilah yang jelas dan mudah, tidak ada yang sulit.

Kemudian selanjutnya, memerlihatkan mereka tanda-tanda kebesaran Allah, untuk mengaplikasikan isi yang disebutkan di dalam kitab kecil ini.

Misalnya tentang matahari, bulan, bintang, malam,  siang. Tanyakan kepada mereka:

  • Siapa yang mengatur (mengendalikan) matahari? Allah.
  • Siapa yang mengatur bulan? Allah.
  • Siapa yang mengendalikan malam? Allah.
  • Siapa yang mengatur siang? Allah.

Semua alam semesta ini yang mengatur adalah Allah Azza wa Jalla. Ajarkan pada mereka, sampai pohon fitrah (pada manusia) mendapat asupan air. Karena setiap manusia itu sendiri berada di atas fitrahnya, yaitu menauhidkan Allah Azza wa Jalla.

Sebagaimana hadis Nabi ﷺ:

كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (menauhidkan Allah), kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Demikian juga mengajarkan wudhu kepada mereka. Bagaimana cara berwudhu dengan mencontohkan. Hendaknya sang ayah mengatakan: ‘Begini cara berwudhu, lalu mempraktikkannya di depan mereka. Demikian juga cara mengajarkan shalat.

Dengan memohon pertolongan Allah ta’ala, serta meminta kepada Allah, agar memberi hidayah kepada mereka. Dan menghindari setiap perkataan yang menyelisihi perbuatan, dan menjauhi perbuatan haram di depan mereka. Jangan membiasakan mereka berdusta, ingkar janji dan akhlak tercela lainnya, meskipun sang ayah diuji dengan perbuatan buruk tersebut. Semisal jika seorang ayah diuji menjadi pecandu rokok, maka jangan sekali-kali menghisapnya di depan anak-anak, karena mereka akan terbiasa dengan rokok dan mengentengkan hukum rokok.

Perlu diketahui, setiap kepala rumah tangga akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarganya, berdasarkan firman AllahTa’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارا

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka.” (QS. At Tahrim: 6)

Penjagaan kita terhadap mereka dari api Neraka tidaklah tercapai, kecuali jika kita membiasakan mereka dengan melakukan amal saleh, dan menjauhi perbuatan buruk.

Rasulullah ﷺ menegaskan akan hal ini dalam sabda beliau:

الرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimitai pertanggungjawaban atas mereka.”

Perlu ayah ketahui, bahwa perbaikan mereka adalah sumber kemashalatan di dunia dan Akhirat. Karena manusa yang paling dekat dengan para ayah dan para ibu, adalah anak-anak mereka yang saleh, baik laki-laki ataupun perempuan.

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.”

Kami memohon kepada Allah ta’ala, agar menolong kita semua, agar mampu memikul amanah dan tanggungjawab. (Silsilah Fatawa Nur Ala Darb No. 350)

 

Sumber: Tathbiiq Fatawa Ibn Utsaimin Lianduruwid

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com

السؤال:

هذا سائل البرنامج يقول: كيف يعلم الأب أبناءه التوحيد؟

الجواب:

الشيخ: الحمد لله رب العالمين. وأصلي وأسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. يعلمهم التوحيد كما يعلمهم غيره من أمور الدين، ومن أحسن ما يكون في هذا الباب كتاب ثلاثة الأصول لشيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب، إذا حفظوه عن ظهر قلب وشرح لهم   على الوجه المناسب لأفهامهم وعقولهم صار في هذا خير كثير؛ لأنها مبنية على السؤال والجواب وبعبارة واضحة سهلة ليس فيها تعقيد، ثم يريهم من آيات الله ليطبق ما ذكر في هذا الكتاب الصغير: الشمس يقول: من الذي جاء بها؟ القمر، النجوم، الليل، النهار، ويقول لهم: الشمس من الذي جاء بها؟ الله. القمر؟ الله. الليل؟ الله. النهار؟ الله. كلها جاء بها الله عز وجل، حتى يسقي بذلك شجرة الفطرة؛ لأن الإنسان بنفسه مفطور على توحيد الله عز وجل، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: «كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه». وكذلك يعلمهم الوضوء، كيف يتوضئون بالفعل، يقول: الوضوء هكذا ويتوضأ أمامهم، وكذلك الصلاة، مع الاستعانة بالله تعالى، وسؤاله عز وجل الهداية لهم، وأن يتجنب أمامهم كل قول مخالف للأخلاق أو كل فعل محرم، فلا يعودهم الكذب ولا الخيانة ولا سفاسف الأخلاق، حتى وإن كان مبتلىً، بها كما لو كان مبتلىً بشرب الدخان فلا يشربه أمامهم؛ لأنهم يتعودون ذلك ويهون عليهم. وليعلم أن كل صاحب بيت مسؤول عن أهل بيته؛ لقوله تبارك وتعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً﴾(التحريم: من الآية6). ولا يكون وقايتنا إياهم النار إلا إذا عودناهم على الأعمال الصالحة وترك الأعمال السيئة، ورسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أكد ذلك في قوله: «الرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته». وليعلم الأب أن صلاحهم مصلحة له في الدنيا والآخرة، فإن أقرب الناس إلى آبائهم وأمهاتهم هم الأولاد الصالحون من ذكور وإناث. «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له». نسأل الله تعالى أن يعيننا جميعاً على ما حملنا من الأمانة والمسئولية.

 

Sumber: http://wanitasalihah.com/bagaimanakah-cara-mengajarkan-tauhid-kepada-anak/

 

 

, ,

BOLEHKAH MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN UNTUK ORANG KAFIR?

BOLEHKAH MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN UNTUK ORANG KAFIR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FatwaUlama

#ManhajSalaf

BOLEHKAH MENGADAKAN PESTA PERPISAHAN UNTUK ORANG KAFIR?

Pertanyaan:

Menjelang habis masa kerja seorang kafir, biasanya diadakan pesta perpisahan. Bagaimana hukum perbuatan ini?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

Mengadakan pesta perpisahan bagi orang-orang kafir, tidak diragukan lagi bahwa tindakan seperti ini dimaksudkan untuk menghormati dan menunjukkan penyesalan atas terjadinya perpisahan dengan yang bersangkutan. Seorang Muslim haram melakukan hal seperti ini, karena Nabi ﷺ telah bersabda:

لاَ تَبْدَئُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ وَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِي الطَّرِيْقِ فَاضْطَرُّوْهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian mendahului memberi salam kepada Yahudi dan Nasrani. Jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan, maka DESAKLAH MEREKA KE TEPI JALAN.”

Seseorang yang benar-benar Mukmin TIDAK MUNGKIN menghormati seseorang yang menjadi musuh Allah, padahal semua orang kafir adalah musuh Allah, sebagaimana penetapan Allah:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِيْنَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sungguh Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 98).

 

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, Cetakan 1, Tahun 2003.
(Dengan penataan bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

https://konsultasisyariah.com/3257-pesta-perpisahan-orang-kafir.html

 

 

, ,

HADIAH UNTUK PESANTREN DARI ORANG KAFIR

HADIAH UNTUK PESANTREN DARI ORANG KAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FatwaUlama

HADIAH UNTUK PESANTREN DARI ORANG KAFIR

  • Mengenai Dana Peduli Pesantren

Pertanyaan:

Bagaimana hukum dana dari orang kafir untuk pesantren-pesantren di Indonesia. Bahkan ada yayasannya. Semua orang paham, ini dalam rangka kampanye simpatik …

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Akan simak beberapa riwayat berikut untuk menyimpulkan, bagaimana hukum menerima hadiah dari orang kafir:

[1] Hadis dari Abdurrahman bin Kaab bin Malik, beliau bercerita:

جَاءَ مُلاعِبُ الْأَسِنَّةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَدِيَّةٍ ، فَعَرَضَ عَلَيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلامَ ، فَأَبَى أَنْ يُسْلِمَ ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنِّي لا أَقْبَلُ هَدِيَّةَ مُشْرِكٍ

“Ada seorang yang bergelar ‘Pemain berbagai senjata’ (yaitu ‘Amir bin Malik bin Ja’far) menghadap Rasulullah ﷺ dengan membawa hadiah. Nabi ﷺ lantas menawarkan Islam kepadanya. Orang tersebut menolak untuk masuk Islam. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Sungguh aku tidak menerima hadiah yang orang musyrik.” (HR. al-Baghawi, 3/151).

[2] Hadis dari Irak bin Malik, bahwa Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

أَن مُحَمَّدٌ -صلى الله عليه وسلم- أَحَبَّ رَجُلٍ فِى النَّاسِ إِلَىَّ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا تَنَبَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ شَهِدَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ الْمَوْسِمَ وَهُوَ كَافِرٌ فَوَجَدَ حُلَّةً لِذِى يَزَنَ تُبَاعُ فَاشْتَرَاهَا بِخَمْسِينَ دِينَاراً لِيُهْدِيَهَا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Sungguh Muhammad adalah manusia yang paling aku cintai di masa jahiliyyah”. Setelah Muhammad mengaku sebagai nabi yang pergi ke Madinah, Hakim bin Hizam berjumpa dengan musim haji dalam kondisi masih kafir. Saat itu Hakim mendapatkan satu stel pakaian yang dijual. Hakim lantas membelinya dengan harga 50 Dinar untuk dihadiahkan kepada Rasulullah ﷺ.

فَقَدِمَ بِهَا عَلَيْهِ الْمَدِينَةَ فَأَرَادَهُ عَلَى قَبْضِهَا هَدِيَّةً فَأَبَى. قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا لاَ نَقْبَلُ شَيْئاً مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَكِنْ إِنْ شِئْتَ أَخَذْنَاهَا بِالثَّمَنِ ». فَأَعْطَيْتُهُ حِينَ أَبِى عَلَىَّ الْهَدِيَّةَ.

Akhirnya Hakim tiba di Madinah dengan membawa satu stel pakaian tersebut. Hakim menyerahkan kepada Nabi ﷺ sebagai hadiah namun beliau ﷺ menolaknya. Nabi ﷺ m mengatakan: “Sungguh kami tidak menerima sedikit pun dari orang kafir. Akan tetapi jika engkau mau, pakaian tersebut akan kubeli”. Karena beliau menolak untuk menerimanya sebagai hadiah, aku pun lantas memberikannya sebagai objek jual beli. (HR Ahmad 15323 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

[3] Hadis dari Iyadh bin Himar, dia menceritakan pengalaman beliau sebelum masuk Islam,

“Aku bermaksud memberi Nabi ﷺ seekor onta betina sebagai hadiah. Lantas Nabi ﷺ bertanya:

” أَسْلَمْتَ؟”. فَقُلْتُ لاَ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- “إِنِّى نُهِيتُ عَنْ زَبْدِ الْمُشْرِكِينَ “

“Apakah kamu sudah masuk Islam?”.

“Belum”, jawabku.

Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku dilarang menerima hadiah dari orang musyrik” (HR. Abu Daud 3059, Tirmidzi 1672 dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga hadis di atas secara tegas menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ menolak hadiah dari non Muslim.

Kemudian, terdapat hadis lain yang menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ menerima hadiah dari orang kafir.

Hadis dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

غَزَوْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – تَبُوكَ ، وَأَهْدَى مَلِكُ أَيْلَةَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بَغْلَةً بَيْضَاءَ ، وَكَسَاهُ بُرْدًا ، وَكَتَبَ لَهُ بِبَحْرِهِمْ

“Kami mengikuti perang Tabuk bersama Nabi ﷺ. Raja negeri Ailah memberi hadiah kepada beliau berupa baghal berwarna putih dan kain. Sang raja juga menulis surat untuk Nabi ﷺ. (HR. Bukhari 1481).

Ada sejumlah pendapat dalam memahami dua jenis hadis ini:

Ibnu Abdil Barr menjelaskan, bahwa maksud Nabi ﷺ menerima hadiah dari non Muslim adalah dalam rangka mengambil simpati hatinya, agar tidak lari dari Islam (al-Munakhkhalah an-Nuniyyah, Murod Syukri, hlm. 202-203).

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah ada pertanyaan mengenai hukum menerima hadiah hewan hidup dari orang non Muslim untuk disembelih saat Idul Adha. Jawaban fatwa menyatakan:

فلا مانع من قبول الهدية من الكفار بأنواعهم سواء كانت الهدية شاة أضحية أو غيرها مما أباح الله الانتفاع به بشرط ألا يكون ذلك على حساب دين المسلم، وقد كان النبي- صلى الله عليه وسلم- وصحابته الكرام يقبلون الهدية من الكفار وربما أهدوا للكفار أيضا

“Tidak masalah menerima hadiah dari orang kafir dalam bentuk apapun, baik berupa kambing qurban atau yang lainnya, yang Allah bolehkan untuk dimanfaatkan. Dengan syarat, JANGAN SAMPAI ADA LATAR BELAKANG BALAS BUDI AGAMA. Dulu Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia, mereka menerima hadiah dari orang kafir, dan terkadang mereka juga memberikan hadiah kepada orang kafir.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 116210)

Karena itu, TERLARANG menerima hadiah dari non Muslim jika tujuannya:

[1] Sekedar menjalin keakraban tanpa ada unsur dakwah.

[2] Ada latar belakang balas budi terkait masalah agama. Ketika mereka memberikan hadiah kepada kaum Muslimin pada waktu hari raya Islam, mereka berharap agar pada saat hari raya mereka, kaum Muslimin juga turut mendukung kegiatan keagamaan mereka. Yang diistilahkan fatwa Syabakah dengan Hisab ad-Din (balas budi agama).

[3] Untuk memengaruhi Muslim agar meninggalkan sebagian aturan syariat, dan mengikuti tradisi mereka.

Dana Peduli Pesantren

Gerakan yang dilakukan sebagian orang kafir untuk mendanai pesantren, sangat sarat dengan kepentingan. Mereka sedang mengemis simpati kaum Muslimin, agar mendapat dukungan. Agar Muslim Indonesia bisa dengan mudah mereka kendalikan.

Donasi pesantren ini sangat mirip dengan SOGOK. Ada pesan politik di balik itu.

Muslim harus menunjukkan jati dirinya, wibawanya. Bukan menjadi penjilat orang kafir yang hendak sedang haus kekuasaan.  Jangan korbankan anak bangsa dikuasai orang kafir, karena ulah pemimpinnya yang haus duit.

Inilah yang menjadi alasan terbesar, mengapa Nabi ﷺ menolak hadiah dari orang-orang musyrik itu…

Sogok Pemilu dan Pesanan Politik

Mengenai hadiah karena latar belakang mencari suara, Komite resmi untuk Fatwa dan Penelitian Islam KSA (Lajnah Daimah) telah menfatwakan HARAMNYA menerima pemberian dan hadiah dari calon yang akan ikut pemilihan legislative, karena latar belakang mencari suara.

Pertanyaan:

Apakah hukum Islam tentang seorang calon anggota legislatif dalam pemilihan yang memberikan harta kepada rakyat, agar mereka memilihnya dalam pemilihan umum?

Jawaban Lajnah Daimah:

إعطاء الناخب مالا من المرشح من أجل أن يصوت باسمه نوع من الرشوة، وهي محرمة. وأما النظر في العقوبة فمرجعه المحاكم الشرعية

Memberikan sejumlah uang kepada calon pemilih dari kandidat peserta pemilu agar mereka memilih dirinya, termasuk bentuk risywah (suap) dan hukumnya haram. Adapun sanksi pidana, ini kembali kepada keputusan pengadilan. (Fatawa Lajnah Daimah, 23/542).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28766-hukum-hadiah-untuk-pesantren-dari-orang-kafir.html

, ,

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU’

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU'

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU’

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada Hari Kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu dia dipersilakan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai.” [Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami'” 6145]

Fawaid Hadis:

  • Hadis ini TIDAK menunjukkan tercelanya memakai pakaian mewah, namun sebagai motivasi untuk zuhud dan tawadhu’ (rendah hati).
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan karena tak mampu, namun karena tawadhu’.
  • Jika meninggalkan pakaian mewah yang mampu dia beli, namun bukan dalam rangka tawadhu’, maka tidak ada keutamaannya.
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan berarti memakai pakaian compang-camping, namun maksudnya adalah “Sederhana” (sedang-sedang saja) dalam berpakaian.

Wallahu a’lam.

Instagram, Twitter & Telegram Channel: @JakartaMengaji

 

Penulis: Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc – KajianIslamChannel

Sumber: ttps://www.facebook.com/JakartaMengajiOfficial/photos/a.633889743458454.1073741828.633867766793985/656958797818215/?type=3&theater

, ,

MENGAKU SALAFI, NAMUN REALITANYA TIDAK BERMANHAJ SALAF

MENGAKU SALAFI, NAMUN REALITANYA TIDAK BERMANHAJ SALAF

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

MENGAKU SALAFI, NAMUN REALITANYA TIDAK BERMANHAJ SALAF

Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul

Di antara penyimpangan mereka yang berkata: “Saya Salafi“, namun akhlaknya, pergaulannya, bantahannya, menunjukkan bodohnya ia terhadap Salafiyah.

Dan ia tetap berkata: “Saya Salafi“, namun bila berutang, ia tidak mengembalikan utangnya (ngemplang). Bila ia melewati orang yang miskin, awam dan masih bodoh, bukannya mengajak mereka pada kebaikan dan memotivasi mereka, ia justru menampakkan wajah yang membuat mereka jauh, bahkan tidak menjawab salam mereka. Meninggalkan orang miskin tersebut dalam kesulitan hidup yang tidak diketahui siapa pun melainkan Allah, dan memberikan gambaran yang buruk tentang dakwah Salafiyah.

Pemahaman Salafiyah juga berubah. Pernah Syaikh Ibn Utsaimin ditanya tentang orang yang berkata ‘Saya Salafi‘ dan mendakwahkan prinsip Salafiyah. Beliau menjawab: “Apabila itu hizbiyah, maka tidak boleh, tidak benar!“.

Mereka memegang istilah Salafiyah hanya sekedar namanya saja, namun sejatinya mereka menjadi hizbi yang menyelisihi Salafiyah. Mereka pun mengingkari hizbiyah, namun tidak mengingkari kesalafiyahan mereka.

Aku melihat sendiri, sebagian orang tidak mengenal apa itu Salafiyah, kecuali bantahan. Itulah obsesi mereka siang dan malam! Ilmu di sisi mereka cuma bantah membantah. Yang mereka kenal dari Salafiyah hanyalah bila bermajelis, lalu membicarakan Fulan dan Fulan, tidak peduli temanya cocok atau tidak cocok. Dan mereka mengira bahwasanya itulah Salafiyah. Ini bukan Manhaj Salaf.

Tidak ada seorang pun yang berusaha mengubah kebenaran bagimu. Ini memang bukan Manhaj Salaf! Manhaj Salaf itu bukan cuma bantah membantah saja. Manhaj Salaf itu bukan hanya membicarakan Fulan dan Alan!

Namun bagimu yang telah paten adalah, seorang Salafi bila bermajelis, maka ia harus berbicara tentang Fulan, mencela Fulan, kemudian dikaitkan dengan Fulan yang berbicara membantah Fulan, dsb. Yang telah paten bagimu hanyalah yang namanya penuntut ilmu, maka ia wajib membantah.

Ini bukan Manhaj Salaf!

Manhaj Salaf ialah mengikuti Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, yaitu membantah pada tempatnya, berbicara masalah jarh wa ta’dil pada tempatnya, masalah ibadah, suluk (akhlak), manhaj pada tempatnya, segala sesuatunya pada tempatnya dan ada kadarnya.

 

Adapun engkau mengubah definisi Salafiyah dan berharap manusia tidak akan akan mengingkarimu. Engkaulah Syauhatus Salafi (Salafi yang menyimpang) !

Salafiyah adalah manhaj perbaikan dan dakwah. Diharapkan bila seorang bersalah dalam waktu yang lama, berbuat kerusakan, namun tetap kita harapkan ia kembali pada kebenaran. Inilah Salafi, walau dia tidak berkata ‘Saya Salafi‘.

Salafiyah adalah rahmah.

Aku mengenal sebagian masyayikh kami selama 16 tahun lamanya menasihati penyimpangan, dan tidak seorang pun mengetahuinya. 16 tahun lamanya. Ada juga yang 10 tahun menasihati secara perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa. Aku kenal penuntut ilmu yang berbuat demikian.

Dan aku mengira bahwa bantahan dan pembicaraan tentang Fulan, Fulan, dan menjatuhkan Fulan ialah tanpa adanya keseimbangan dan pengajaran ilmu yang semestinya, dengan metode yang benar.

Lihatlah apa itu Salafi. Apabila engkau bermajelis dari pagi hingga petang dan berkata: “Saya Salafi”, tapi majelismu dari pagi hingga malam menyelisihi sekian ayat dan hadis, maka itulah Khawarij. Karena Khawarij mereka menyelisihi ayat dan hadis.

Itulah Khawarij yang menamai dirinya Salafi!

Karena di antara ciri Khawarij dari Jamaah Islam, ialah mereka selalu menjelek-jelekkan Salafiyah. Mereka bermajelis hanya untuk membicarakan Fulan dan Fulan, yaitu para da’i yang memiliki kesalahan, salah, dan salah tanpa menimbang perkaranya!

Lantas adakah manusia yang selamat dari kesalahan? Semua Bani Adam pasti memiliki kesalahan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (QS. Al Maidah : 8),

Adapun engkau bermuamalah terhadap orang yang memiliki kesalahan seolah ia kafir, seolah ia keluar dari millah dan agama, adilkah?

Segala sesuatu harus sesuai kadarnya. Masyayikh kibar kita dahulu berbicara tentang kesalahan Fulan, namun setelah berlalu sebulan dua bulan mereka berkata: “Tidak mengapa kalian mendengarkan (ilmu) darinya”.

Bagaimana bisa padahal ia memiliki kesalahan? “Aiwah, (beliau menjawab), karena dia seorang yang ‘alim, fahim, diharapkan dengan bermajelis dengannya juga menjadi ta’lif, melembutkan hatinya, agar dia memerbaiki kesalahannya”.

 

Maka mereka pun berbicara tentang kesalahannya sekedarnya saja untuk dibantah, guna menjelaskan yang benar, sembari berharap, insya Allah dia akan menerima kebenaran itu.

Lihatlah wahai jamaah, inilah beberapa penyimpangan sebagian manusia, dan hendaknya kita memerhatikan hal ini.

***

Dari transkrip ceramah berjudul “Manhaj Salaf fi ta’amul ma’a al inhiraafaat al ‘aqidah wal manhajiyah” oleh Fadhilatus Syaikh Muhammad ibn Umar Bazmul.

Sumber: http://ajurry.com/vb/showthread.php?t=43084

 

Penerjemah: Yhouga Pratama Ariesta

[Artikel Muslim.or.id]

 

, , , ,

SAUDARAKU, MAAFKAN ORANG YANG MENASIHATIMU DAN LURUSKAN LOGIKAMU

SAUDARAKU, MAAFKAN ORANG YANG MENASIHATIMU DAN LURUSKAN LOGIKAMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Fatwa_Ulama

SAUDARAKU, MAAFKAN ORANG YANG MENASIHATIMU DAN LURUSKAN LOGIKAMU

Saudaraku seiman, semoga Allah merahmatimu…

Kadang kita dinasihati oleh saudara-saudara kita kaum Muslimin, tapi yang terasa adalah pahit di dalam dada. Menurutku, lebih baik kita bersabar dan memaafkan orang yang ‘menyakiti’ kita dengan nasihatnya itu:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali Imron: 134]

Karena emosi kemarahan bisa jadi menghalangi kita untuk menerima kebenaran yang disampaikannya, jika ternyata yang dia sampaikan pada hakikatnya adalah Alquran dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf, atau fatwa-fatwa ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Maka cara menasihatinya yang menurut kita salah atau keras; abaikan saja, sabar dan maafkan dia. Kemudian petik pelajaran dari nasihatnya walau pahit. Ibarat obat yang pahit, semoga menyembuhkan.

Dan lebih penting lagi untuk mengedepankan prasangka baik kepadanya. Bahwa dia adalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita. Dia peduli dengan kita. Dia tidak rela kita terjerumus dalam dosa. Dia khawatir kaum Muslimin mengikuti kesalahan kita, sehingga dosa kita semakin besar. Dia melihat ada syubhat dalam ucapan atau perbuatan kita yang perlu dijelaskan. Mungkin itulah landasannya menasihati kita. Bukan karena kebencian kepada kita.

Sekali lagi, mafkan cara menasihatinya yang menurut kita salah. Fokus saja pada isi nasihatnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi petunjuk kepada dia dan kita.

Kemudian, buang jauh-jauh logika salah kaprah yang pada umumnya dimiliki oleh para pelaku bid’ah, yaitu ketika mereka dilarang melakukan bid’ah dalam beribadah, maka mereka menyangka yang dilarang adalah ibadahnya. Padahal yang dilarang adalah bid’ahnya.

Aku berikan sebuah contoh, mohon jangan tersinggung. Ketika seorang pemuda Islam dengan niat yang suci untuk membela Islam, namun dengan cara yang baru, cara yang TIDAK dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, bahkan SANGAT BERTENTANGAN dengan sunnah beliau ﷺ, dan juga mendatangkan kemudaratan yang lebih besar bagi Islam dan kaum Muslimin, seperti tumpahnya darah yang haram, rusaknya berbagai fasilitas umum, membuka peluang kepada para penyusup dan provokator, mengantarkan kepada kudeta, hilangnya keamanan, dan lain-lain.

Namun ketika dia dilarang melakukan jihad dengan cara seperti itu, dia pun menuduh orang yang melarangnya berarti telah melarangnya berjihad, atau menggembosi aksinya. Padahal yang dilarang adalah CARANYA berjihad. Bukan melarangnya berjihad. Sekali lagi, yang dilarang adalah CARA jihadnya yang salah.

Dan lebih buruk lagi, ketika dia menuduh saudaranya yang menasihatinya itu lebih membela orang kafir yang dia perangi. Atau tidak mau ikut membela Islam, atau bahkan telah pantas disebut munafik, dan menuduh saudaranya itu ikut merasa senang ketika dia terluka dalam ‘jihad’ tersebut.

Padahal, andai dia merasa benar sekali pun, dan saudaranya yang menasihatinya salah, maka TIDAK ADA HAK baginya untuk menuduh saudaranya seperti itu.

Saudaraku seiman, semoga Allah merahmatimu. Tinggalkan logika salah kaprah seperti ini. Dan renungkan nasihat ulama berikut ini:

Al-Imam Al-Baihaqi Asy-Syafi’i rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai kepada Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah:

أنه رأى رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه فقال : يا أبا محمد ! أيعذبني الله على الصلاة ؟ ! قال : لا ولكن يعذبك على خلاف السنة

“Bahwasannya beliau melihat seseorang melakukan sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rakaat. Ia memerbanyak rukuk dan sujud. Beliau pun melarangnya. Maka orang itu berkata: wahai Abu Muhammad, apakah Allah ta’ala akan mengazabku karena melakukan sholat? Beliau menjawab: Tidak. Tetapi Allah Ta’ala akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah.”

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengomentari:

وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب رحمه الله تعالى وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع باسم انها ذكر وصلاة ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة ! ! وهم في الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة في الذكر والصلاة ونحو ذلك

“Ini di antara bentuk cerdasnya jawaban-jawaban Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, dan jawaban ini merupakan senjata yang kuat untuk menghadapi para pelaku bid’ah yang menganggap baik (hasanah) terhadap banyak sekali perbuatan bid’ah, dengan dalih (bukan dalil, -pen) amalan itu merupakan dzikir dan sholat. Lalu mereka mengingkari Ahlus Sunnah yang melarang bid’ah mereka, dan mereka menuduh Ahlus Sunnah melarang dzikir dan sholat. Padahal hakikatnya yang diingkari adalah PENYELISIHAN mereka terhadap sunnah, dalam dzikir dan doa tersebut, dan amalan-amalan yang semisalnya.” [Irwaul Ghalil, 2/236]

Semoga Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan pemahaman agama yang baik kepada kita, dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita semuanya. Allaahumma aamiin.

Saudaramu yang merindukan perjuangan bersamamu dalam jihad syari: Abu Abdillah Sofyan Chalid bin Idham Ruray- ghafarollaahu lahu wa ‘afaa ‘anhu-

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/694547880694697:0

Artikel Terkait:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/693154414167377:0

 

MURIDMU YANG MENGOREKSI KESALAHANMU ADALAH NIKMAT ALLAH KEPADAMU

MURIDMU YANG MENGOREKSI KESALAHANMU ADALAH NIKMAT ALLAH KEPADAMU

#Nasihat_Ulama

MURIDMU YANG MENGOREKSI KESALAHANMU ADALAH NIKMAT ALLAH KEPADAMU

Asy-Syaikh Abdur Rahman As-Si’di rahimahullah berkata:

ومِن نعمة الله على المعلِّم : أن يجدَ مِن تلاميذه مَن يُنَبِّهُه على خطئه ويرشده إلى الجوابويزول استمراره على جهله ،فهذا يحتاج إلى شُكرٍ لله تعالى ، ثم شُكرِ مَن أجرى الله الهدى على يديه ، متعلماً كان أو غيره

? “Termasuk nikmat Allah untuk seorang pengajar, ia mendapatkan di antara murid-muridnya, seorang yang mengingatkan kesalahannya dan menunjukkan kebenaran kepadanya, sehingga ia tidak terus-menerus dalam kesalahannya.

? Maka ia harus bersyukur kepada Allah ta’ala, kemudian berterimakasih kepada orang yang Allah jadikan sebab hidayah untuknya, apakah muridnya atau selainnya.”

[Nubadz min Aadabil Mu’allimin wal Muta’allimin, hal. 27]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

✏ Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

Sumber: http://www.taawundakwah.com/petuah-ulama/muridmu-yang-mengoreksi-kesalahanmu-adalah-nikmat-allah-kepadamu/

,

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT

DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

➰? DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN TERCELA DAN BURUKNYA SYIRIK DALAM NIAT ?➰

 

? Allah Ta’ala berfirman:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di Akhirat (kelak) tidak akan memeroleh (balasan) kecuali Neraka, dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS Huud: 15-16).

? Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah Ta’ala dalam ayat lain [Lihat keterangan Syaikh Bin Baz pada catatan kaki kitab “Fathul Majiid” (hal. 452)]:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا}

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu, apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya Neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” (QS al-Israa’: 18).

▶️Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: Orang yang menginginkan balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah Ta’ala akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya, JIKA ALLAH TA’ALA MENGHENDAKi, dan terkadang dia TIDAK mendapatkan balasan duniawi yang diinginkannya, karena Allah Ta’ala TIDAK menghendakinya [Lihat kitab “Fathul Majiid” (hal. 452)].

Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di dunia dan Akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak terpenuhi, semua tergantung dari kehendak Allah Ta’ala. Inilah balasan bagi mereka di dunia, dan di Akhirat kelak mereka TIDAK mendapatkan balasan kebaikan sedikit pun. Bahkan mereka akan mendapatkan azab Neraka Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.

➡️Benarlah Rasulullah ﷺ yang bersabda: “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya. Padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang (menjadikan) Akhirat niatnya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang Shahih, dinyatakan Shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan Syaikh al-Albani].

➡️Dalam hadis Shahih lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda tentang buruknya perbuatan ini: “Binasalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) emas. Celakalah (orang yang menjadi) budak (harta berupa) perak. Binasalah budak (harta berupa) pakaian indah. Kalau dia mendapatkan harta tersebut, maka dia akan ridha (senang). Tapi kalau dia tidak mendapatkannya, maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur wajahnya (merugi serta gagal usahanya). Dan jika dia tertusuk duri (bencana akibat perbuatannya), maka dia tidak akan lepas darinya” [HSR al-Bukhari (no. 2730), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu].

Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan perbuatan ini. Karena orang yang melakukannya, berarti dia menjadikan dirinya sebagai budak harta. Karena harta menjadi puncak kecintaan dan keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia mendapatkannya, maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak, maka dia akan murka.

➡️Kemudian Rasulullah ﷺ menggabarkan keadaannya yang buruk, bahwa orang tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya, maka dia TIDAK bisa terlepas dariny,a dan dia TIDAK akan beruntung selamanya [Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam “Igaatsatul lahfaan” (2/149)]. Maka, dengan perbuatan buruk ini, dia TIDAK mendapatkan keinginannya dan dia pun TIDAK bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan orang yang menjadi budak harta [Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmuu’ul fataawa” (10/180)]. Na’uudzu billahi min dzaalik.

 

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthony, MA. hafizhahullah

[Artikel Muslim.Or.id]

Sumber: https://Muslim.or.id/13945-jangan-nodai-ibadah-anda-dengan-niat-duniawi.html