Posts

, ,

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

KEUTAMAAN BERDOA SEMBARI MENGANGKAT TANGAN
 
Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ، أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
 
“Sesungguhnya Rabb kalian tabaraka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu terhadap hamba-Nya, bila (sang hamba) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan (kedua tangan hamba itu) dalam keadaan hampa.” [Hadis hasan. Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah. Baca Shahih Abi Dawud karya Al-Albany dan Tahqiq Musnad Ahmad karya Syu’aib Al-Arna`uth.]
 
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah
Sumber: Dzulqarnain.net

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#AdabAkhlak, #DoaZikir

,

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

AGAR PRAKTIK POLIGAMI TIDAK MENCORENG WAJAH SYARIAT

Oleh: Ustadz Mas’ud Abu Abdillah

(Narasumber Acara Konsultasi Rumah Tangga di Wesal TV)

Belum lama ini kita disuguhi berita heboh tentang tuntutan cerai dari istri seorang ustadz yang cukup sering tampil di layar kaca. Ia digugat cerai oleh sang istri yang sudah belasan tahun dinikahinya. Alasannya Karena ia berpoligami secara diam-diam. Usia pernikahannya dengan istri kedua sudah berjalan sekian tahun, bahkan sudah memiliki keturunan.

Serba salah, karena beliau dikenal sebagai tokoh agama, yang mana kekisruhan rumah tangga menjadi sesuatu yang kurang elok, bahkan bisa berimbas pada nilai yang didakwahkannya selama ini.

Menjalankan kehidupan berumah tangga dengan melakukan poligami yang tanpa izin istri pertama pun sebenarnya sah saja. Tapi bagaimanapun ada hal-hal yang perlu dijadikan renungan bagi pelaku, atau mereka yang hendak berpoligami, agar sunnah ini tidak mencoreng wajah syariat Islam, hanya karena kegagalan dirinya dalam menjalankannya.

1- Poligami itu memang dibolehkan. Tetapi pria yang hendak berpoligami hendaknya mengukur dirinya, kemampuan membimbing, kemampuan menafkahi dan kemampuannya untuk adil. Jika masih satu saja istri dan anak-anak agamanya atau kehidupannya berantakan, maka poligami dalam keadaan ini berpotensi menambah masalah.

2- Izin istri pertama memang bukan syarat sah poligami. Tetapi menikah lagi dengan diam-diam, atau tanpa memberitahukan di awal kepada istri pertama, tentu akan sangat menyakitkan. Apapun yang terjadi, dengan memberitahukan terlebih dahulu, akan jauh lebih selamat untuk jangka panjang. Jika istri pertama menerima alhamdulillah, jika sebaliknya reaksinya diluar dugaan, maka pertanda perlunya dikondisikan terlebih dahulu dengan menunda atau membatalkannya. Poligami diam-diam hampir pasti berdampak pada kebohongan dan ketidakadilan, yang keduanya diharamkan.

3- Syariat poligami dibuat untuk kemaslahatan, bukan untuk menghancurkan. Maka jangan hanya melihat maslahat sendiri, tetapi juga perhatikan kondisi istri dan anak-anak. Pastikan mereka tetap baik-baik saja. Poligami ibarat membangun bangunan yang baik, di samping bangunan yang kokoh dan berkualitas. Bukan malah meruntuhkan dan mengacak-acak bangunan sebelumnya.

4- Sadarilah, bahwa sebelum anak dan istri, maka sesungguhnya suamilah yang pertama merasakan konsekuensi dunia-Akhirat dari poligami. Waktu untuk beribadah mungkin tidak sebanyak jika hanya satu istri (apalagi jika rumah para istri berjauhan, waktu banyak habis di jalan). Perhatian ke anak-anak pun akan berkurang karena terbagi. Tanggungjawab menafkahi semakin bertambah. Tuntutan untuk membina dan mendidik istri semakin bertambah. Pertangungjawaban dan hisab di hadapan Allah semakin banyak, sebanyak anggota keluarga yang ada, dan sebagainya. Dengan begitu, ia akan memiliki kesadaran penuh dan pemahaman yang utuh, untuk melakukan poligami itu atau mengurungkannya, bukan berdasarkan emosi ataupun provokasi.

5- Milikilah motivasi, alasan, dan prinsip yang baik, tulus, sekaligus kokoh, yang lahir dari analisis kemampuan dan kelayakan yang komprehensif. Hindari alibi dan alasan yang dibuat-buat, karena selain menyakitkan, juga jadi lucu. Misalnya alasan menyelamatkan akhwat yang ditinggal mati suaminya. Maka solusinya bisa dengan menikahkannya dengan ikhwan yang masih single dsb.

6- Istrimu adalah anak perempuan dari kedua orang tuanya. Bayangkanlah jika engkau juga memiliki anak perempuan yang sangat kau sayangi. Maka perlakukanlah istrimu sebagaimana engkau ingin anak perempuanmu diperlakukan. Karena engkau pasti sedih dan marah jika putri kesayangnmu yang kau jaga selama dua puluh tahun lebih, kau didik dan kau sayangi sejak kecil, lalu dizalimi dan disakiti perasaanya. Maka begitu pulalah perasaan kedua orang tuanya terhadap putrinya atas sikapmu. Dan jika engkau tetap memutuskan berpoligami, maka ingatlah perasaan para orang tua istri-istrimu, agar kau tahu bagaimana pentingnya bersikap adil, menjaga perasaan, serta menghargai istri-istrimu.

7- Sadarilah, bahwa saat seorang berpoligami, maka secara tidak langsung ia menjadi “Duta” bagi syariat poligami yang dijalaninya. Karena mata msyarakat akan tertuju padanya. Jika gagal berantakan, maka bukan nama kita saja yang rusak, tapi justru syariat poligami yang tertuduh dan menjadi buruk, bahkan diolok-olok musuh Islam. Maka berjalanlah jika merasa bisa menjadi duta yang baik, dan jangan sembrono dan asal-asalan.

Demikian di antara renungan, yang dengannya, minimal seseorang memiliki pandangan yang utuh sebelum berpoligami. Sehingga jika jalan, maka ia berjalan dengan prinsip dan kesadaran serta kemampuan, sehingga tidak merusak citra Islam. Atau jika ia merasa banyak hal yang masih perlu dibenahi, maka dengan sadar pula ia menunda, atau bahkan membatalkannya.

Wallahu a’alam.

,

TEKNIS ZIKIR NABI

TEKNIS ZIKIR NABI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

TEKNIS ZIKIR NABI ﷺ

>> Bagaimana Cara Zikir Rasulullah ﷺ?

Pertanyaan:

Bagaimana teknis Rasulullah ﷺ berzikir beserta hadisnya? Apabila dengan jari tangan, bagaimana teknisnya? Dimulai dari jari apa dan bagaimana detailnya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Teknis zikir yang dilakukan oleh Nabi ﷺ adalah menghitung dengan JARI dan bukan dengan bantuan alat, seperti kerikil atau tasbih. Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ

“Saya melihat Rasulullah ﷺ menghitung zikir beliau dengan tangannya.” (HR. Ahmad 6498 dan dinilai Hasan oleh Syuaib Al-Arnauth).

Kemudian dari seorang sahabat wanita, Yusairah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

Rasulullah ﷺ berpesan kepada kami (para sahabat wanita):

يَا نِسَاءَ الْمُؤْمِنَينَ، عَلَيْكُنَّ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّقْدِيسِ، وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ، وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ

“Wahai para wanita Mukminah, kalian harus rajin bertasbih, bertahlil, menyucikan nama Allah. Janganlah kalian lalai, sehingga melupakan rahmat. Hitunglah dengan jari-jari kalian, karena semua jari itu akan ditanya dan diminta untuk bicara.” (HR. Ahmad 27089, Abu Daud 1501, Turmudzi 3583, dan sanadnya dinilai hasan oleh Syuaib Al-Arnauth dan Al-Albani).

Yusairah bintu Yasir Al-Anshariyah adalah sahabat wanita. Beliau termasuk salah satu wanita yang ikut menjadi peserta Baiat Aqabah.

Ketika menjelaskan hadis Yusairah, Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan:

ومعنى العقد المذكور في الحديث إحصاء العد، وهو اصطلاح للعرب بوضع بعض الأنامل على بعض عُقد الأُنملة الأخرى، فالآحاد والعشرات باليمين، والمئون والآلاف باليسار، والله أعلم

Makna kata ‘Al-Aqd’ (Menghitung) yang disebutkan dalam hadis [pada kata: وَاعْقِدْنَ] adalah menghitung jumlah zikir. Ini merupakan istilah orang Arab, yang bentuknya dengan meletakkan salah satu ujung jari pada berbagai ruas jari yang lain. Satuan dan puluhan dengan tangan kanan, sementara ratusan dan ribuan dengan tangan kiri. Allahu a’lam. (Nataij Al-Afkar fi Takhrij Ahadis Al-Adzkar, 1/90).

Ibnu Alan menjelaskan, bahwa cara ‘Al-Aqd’ (Menghitung dengan tangan) ada dua:

  • Al-Aqd Bil Mafashil (Menghitung dengan ruas jari)
  • Al-Aqd Bil Ashabi’ (Menghitung dengan jari)

Beliau mengatakan:

والعقد بالمفاصل أن يضع إبهامه في كل ذكر على مفصل، والعقد بالأصابع أن يعقدها ثم يفتحها

“Al-Aqd Bil Mafashil (Menghitung dengan ruas jari), bentuknya adalah meletakkan ujung jempol para setiap ruas, setiap kali membaca zikir. Sedangkan Al-Aqd Bil Ashabi’ (Menghitung dengan jari), bentuknya adalah jari digenggamkan kemudian dibuka satu persatu.

Haruskah Zikir dengan Tangan Kanan?

Terdapat hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح. وزاد محمد بن قدامة -شيخ أبي داود- في روايته لفظ: “بيمينه”

“Saya melihat Nabi ﷺ menghitung bacaan tasbih dengan tangannya.” Sementara dari jalur Muhammad bin Qudamah – gurunya Abu Daud – terdapat tambahan: “dengan tangan kanannya” (HR. Abu Daud 1502 dan dishahihkan Al-Albani)

Berdasarkan hadis ini, sebagian ulama menganjurkan untuk menghitung zikir dengan jari-jari tangan kanan saja. Hanya saja, sebagian ulama menilai, bahwa tambahan ‘dengan tangan kanannya’ adalah tambahan yang lemah. Sebagaimana keterangan Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid. Sehingga dianjurkan untuk menghitung zikir dengan kedua tangan, kanan maupun kiri.

Kesimpulan yang tepat dalam hal ini, zikir dengan tangan kanan hukumnya dianjurkan, meskipun boleh berzikir dengan kedua tangan dibolehkan. Karena Nabi ﷺ suka menggunakan anggota badan yang kanan untuk hal yang baik, sebagaimana keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi ﷺ suka mendahulukan bagian yang kanan ketika mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua urusan beliau.” (HR. Bukhari 168).

Dan menghitung zikir termasuk hal yang baik, sehingga dilakukan dengan tangan kanan, lebih baik. (Simak Fatwa Islam, no. 139662)

Allahu a’lam

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/20042-cara-zikir-rasulullah.html

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahSunnah

HUKUM PEJABAT DAN PEGAWAI BAWAHANNYA MENERIMA UANG TIPS DAN HADIAH KHIANAT

>> Tidak Selamanya Hadiah itu Halal

>> Terlarangnya Hadiah Bagi Pejabat dan Pegawai Bawahannya

Segala puji bagi Allah, Rabb se mesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Seringnya kita lihat di hari raya, tumpukan parsel dan bingkisan hari raya hadir di rumah pejabat. Lebih-lebih lagi jika ia pejabat tinggi. Seandainya pejabat tersebut bukanlah pejabat, tentu ia tidak akan mendapat hadiah atau parsel istimewa semacam itu. Hadiah ini diberikan karena ia adalah pejabat. Bagaimana status hadiah semacam ini? Pembahasan ini sebenarnya sudah dibahas oleh Nabi ﷺ dalam beberapa hadis. Simak dalam tulisan berikut ini:

Hadis Hadayal ‘Ummal

Di dalam Shohih Bukhari yang sudah kita kenal, dibawakan bab ‘Hadayal ‘Ummal’. Begitu pula dalam Shohih Muslim, An Nawawi rahimahullah membawakan bab ‘Tahrimu Hadayal ‘Ummal (Diharamkannya Hadayal ‘Ummal)’.

Hadaya berarti hadiah, bentuk plural dari kata hadiyah. Sedangkan ‘Ummal berarti pekerja, bentuk plural (jamak) dari kata ‘aamil.

Dalam kedua kitab shahih tersebut dibawakan hadis berikut, dan ini adalah lafal dari Bukhari:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri, ia mendengar ‘Urwah telah mengabarkan kepada kami, Abu Humaid As Sa’idi mengatakan:

Pernah Nabi ﷺ memekerjakan seseorang dari Bani Asad yang namanya Ibnul Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Orang itu datang sambil mengatakan: “Ini bagimu, dan ini hadiah bagiku.” Secara spontan Nabi ﷺ berdiri di atas mimbar -sedang Sufyan mengatakan dengan redaksi ‘naik minbar’-, beliau ﷺ memuja dan memuji Allah kemudian bersabda:

مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

“Ada apa dengan seorang pengurus zakat yang kami utus, lalu ia datang dengan mengatakan: “Ini untukmu dan ini hadiah untukku!” Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau rumah ibunya, dan cermatilah, apakah ia menerima hadiah ataukah tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang datang dengan mengambil hadiah seperti pekerja tadi, melainkan ia akan datang dengannya pada Hari Kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika hadiah yang ia ambil adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika hadiah yang ia ambil adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.”

ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putih kedua ketiaknya seraya mengatakan: ”Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan?” (beliau ﷺ mengulang-ulanginya tiga kali). [HR. Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 1832]

Ada hadis pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah ﷺ bersabda:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” [HR. Ahmad 5/424. Syaikh Al Albani menshahihkan hadis ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil no. 2622]

Keterangan Ulama

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan: “Para ulama tidak berselisih pendapat mengenai TERLARANGNYA hadiah bagi pejabat.” [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Ibnu Habib menjelaskan: “Para ulama tidaklah berselisih pendapat tentang terlarangnya hadiah yang diberikan kepada penguasa, hakim, pekerja (bawahan) dan penarik pajak.” Demikianlah pendapat Imam Malik dan ulama Ahlus Sunnah sebelumnya. [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Dari sini menunjukkan, bahwa hadiah yang terlarang tadi tidak khusus bagi hakim saja, tetapi bagi pejabat dan yang menjadi bawahan pun demikian.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan: “Adapun hadis Abu Humaid, maka di sana Nabi ﷺ menjelek-jelekkan Ibnul Lutbiyyah yang menerima hadiah yang dihadiahkan kepadanya. Padahal kala itu dia adalah seorang pekerja saja (ia pun sudah diberi jatah upah oleh atasannya, pen).” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 5/221]

An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadis Abu Humaid terdapat penjelasan, bahwa Hadayal ‘Ummal (Hadiah untuk pekerja) adalah HARAM dan GHULUL (khianat). Karena uang seperti ini termasuk PENGKHIANATAN DALAM PEKERJAAN DAN AMANAH. Oleh karena itu, dalam hadis di atas disebutkan mengenai hukuman, yaitu pekerja seperti ini akan memikul hadiah yang dia peroleh pada Hari Kiamat nanti, sebagaimana hal ini juga disebutkan pada masalah khianat.

Dan beliau ﷺ sendiri telah menjelaskan dalam hadis tadi mengenai sebab diharamkannya hadiah seperti ini, yaitu karena hadiah semacam ini sebenarnya masih KARENA SEBAB PEKERJAAN. Berbeda halnya dengan hadiah yang bukan sebab pekerjaan. Hadiah yang kedua ini adalah hadiah yang dianjurkan (mustahab). Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan mengenai hukum pekerja yang diberi semacam ini dengan disebut hadiah. Pekerja tersebut harus mengembalikan hadiah tadi kepada orang yang memberi. Jika tidak mungkin, maka diserahkan ke Baitul Mal (Kas Negara).” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, cetakan kedua, 1392, 12/219]

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan hal ini dalam fatwanya. Beliau mengatakan:

“Hadiah bagi pekerja termasuk ghulul (pengkhianatan), yaitu jika seseorang sebagai pegawai pemerintahan, dia diberi hadiah oleh seseorang yang BERKAITAN DENGAN PEKERJAANNYA. Hadiah semacam ini termasuk pengkhianatan (ghulul). Hadiah seperti ini TIDAK boleh diambil sedikit pun oleh pekerja tadi, walaupun dia menganggapnya baik.”

Lalu Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan lagi: “Tidak boleh bagi seorang pegawai di wilayah pemerintahan menerima hadiah berkaitan dengan pekerjaannya. Seandainya kita membolehkan hal ini, maka akan terbukalah pintu riswah (suap/sogok). Uang sogok amatlah berbahaya dan termasuk dosa besar (karena ada hukuman yang disebutkan dalam hadis tadi, pen). Oleh karena itu, wajib bagi setiap pegawai, jika dia diberi hadiah yang berkaitan dengan pekerjaannya, maka hendaklah dia MENGEMBALIKAN hadiah tersebut. Hadiah semacam ini TIDAK boleh dia terima. Baik dinamakan hadiah, sedekah, dan zakat, tetap tidak boleh diterima. Lebih-lebih lagi jika dia adalah orang yang mampu, zakat tidak boleh bagi dirinya, sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibni Utsaimin, Asy Syamilah, 18/232]

Mengapa Dikatakan Khianat?

Hadiah bagi pekerja atau pejabat yang di mana hadiah tersebut berkaitan dengan pekerjaannya (seandainya ia bukan pejabat, tentu saja tidak akan diberi parsel atau hadiah semacam itu), ini bisa dikatakan khianat, dapat kita lihat dalam penjelasan berikut ini. Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan:

“Nabi ﷺ pernah menerima hadiah (sebagaimana layaknya hadiah untuk penguasa/pejabat). Perlu diketahui, bahwa hadiah ini karena menjadi kekhususan pada beliau. Karena Nabi ﷺ adalah ma’shum, beliau bisa menghindarkan diri dari hal terlarang. Berbeda dengan orang lain (termasuk dalam hadiah tadi, tidak mungkin dengan hadiah tersebut beliau berbuat curang atau khianat, pen). Lantas ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengembalikan hadiah (sebagaimana hadiah untuk pejabat), beliau tidak mau menerimanya. Lantas ada yang mengatakan pada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Nabi ﷺ sendiri pernah menerima hadiah semacam itu!” ‘Umar pun memberikan jawaban yang sangat mantap: “Bagi Nabi ﷺ bisa jadi itu hadiah. Namun bagi kita itu adalah suap. Beliau ﷺ mendapatkan hadiah semacam itu lebih tepat karena kedudukan beliau sebagai nabi, bukan karena jabatan beliau sebagai penguasa. Sedangkan kita mendapatkan hadiah semacam itu karena jabatan kita.” [Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Asy Syamilah, 2/2183, pada index “Imamatush Sholah”, point 28]

Kami rasa sudah jelas mengapa hadiah semacam parsel bagi pejabat dan uang tips bagi karyawan yang kaitannya dengan pekerjaannya, itu dikatakan khianat. Jelas sekali, bahwa uang tips atau hadiah semacamm tadi diberikan karena KAITANNYA dengan PEKERJAAN DIA SEBAGAI PEJABAT, KARYAWAN atau PEKERJA. Seandainya bukan demikian, tentu ia tidak diberikan hadiah semacam itu. Seandainya ia hanya duduk-duduk di rumahnya, bukan sebagai pekerja atau pejabat, tentu ia tidak mendapatkan bingkisan istimewa seperti parsel dan uang tips tadi. Inilah yang namanya khianat, karena ia telah mengkhianati atasannya. Inilah jalan menuju suap yang sesungguhnya. Inilah suap terselubung. Orang yang memberi hadiah semacam tadi, tidak menutup kemungkinan ia punya maksud tertentu. Barangkali ia berikan hadiah, agar jika ingin mengurus apa-apa lewat pejabat akan semakin mudah, semakin cepat di-ACC dan sebagainya. Inilah sekali lagi suap terselubung di balik pemberian bingkisan.

Tidak Selamanya Hadiah itu Halal

Perlu diketahui, bahwa tidak semua hadiah itu halal, atau tidak dalam setiap kondisi kita saling memberikan hadiah satu sama lain. Nabi ﷺ benar bersabda:

وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan timbul rasa cinta di antara kalian.” [HR. Malik secara Mursal.]

Benar sabda di atas. Namun ada beberapa kondisi halalnya hadiah atau tidak, sebagaimana dapat dilihat dalam rincian berikut:

  1. Hadiah yang halal untuk penerima dan pemberi. Itulah hadiah yang diberikan bukan untuk hakim dan pejabat, misalnya hadiah seorang teman untuk temannya. Seorang hakim atau pejabat negara tidak boleh menerima hadiah jenis pertama ini dari orang lain. Dengan kata lain, menerima hadiah yang hukumnya halal untuk umumnya orang. Itu hukumnya berubah menjadi haram dan berstatus suap, jika untuk hakim dan pejabat. Hadiah yang jadi topik utama kita saat ini adalah hadiah jenis ini.
  2. Hadiah yang haram untuk pemberi dan penerima, misalnya hadiah untuk mendukung kebatilan. Penerima dan pemberi hadiah jenis ini berdosa, karena telah melakukan suatu yang haram. Hadiah semisal ini wajib dikembalikan kepada yang memberikannya. Hadiah jenis ini haram untuk seorang hakim maupun orang biasa.
  3. Hadiah yang diberikan oleh seorang yang merasa takut terhadap gangguan orang yang diberi, seandainya tidak diberi, baik gangguan badan ataupun harta. Perbuatan ini boleh dilakukan oleh yang memberi, namun haram diterima oleh orang yang diberi. Karena tidak mengganggu orang lain itu hukumnya wajib, dan tidak boleh menerima kompensasi finansial untuk melakukan sesuatu yang hukumnya wajib. [Faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar pada link: http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat]

Mengembalikan Hadiah Khianat

Seorang hakim dan pejabat WAJIB MEMULANGKAN hadiah kepada orang yang memberikannya. Jika hadiah tersebut telah dikomsumsi, maka wajib diganti dengan barang yang serupa.

Jika yang memberi hadiah tidak diketahui keberadaannya, atau diketahui namun memulangkan hadiah adalah suatu yang tidak mungkin karena posisinya yang terlalu jauh, maka barang tersebut hendaknya dinilai sebagai barang temuan (luqothoh) dan diletakkan di Baitul Maal.

Pemberian hadiah kepada seorang hakim itu karena posisinya sebagai hakim, sehingga hadiah tersebut merupakan hak masyarakat umum. Oleh karena itu, wajib diletakkan di Baitul Maal, yang memang dimaksudkan untuk kepentingan umum. Namun status barang ini di Baitul Maal adalah barang temuan. Artinya, jika yang punya sudah diketahui, maka barang tersebut akan diserahkan kepada pemiliknya.

Jika seorang hakim atau pejabat berkeyakinan, bahwa menolak hadiah yang diberikan oleh orang yang punya hubungan baik dengannya itu menyebabkan orang tersebut tersakiti, maka hakim boleh menerima hadiah tersebut, asalkan setelah menyerahkan uang senilai barang tersebut kepada orang yang memberi hadiah. [Faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar pada link: http://ustadzaris.com/hadiah-untuk-pejabat]

Itu tadi hadiah bagi hakim dan pejabat yang bekerja di bawah pemerintahan. Bagaimana dengan hadiah bagi bawahan dari perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan pemerintahan? Artinya ia dapat hadiah dari orang lain karena status dia sebagai pekerja di perusahaan tersebut. Hadiah tersebut harus dikembalikan kepada atasannya atau bosnya. Terserah di situ, bosnya rida ataukah tidak. Jika bosnya rida kalau hadiah itu untuk bawahannya, maka silakan ia gunakan.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga para pembaca diberi kemudahan untuk memahami hal ini. Semoga sajian ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1267-uang-tips-dan-hadiah-khianat.html

,

CARA SYARI WANITA MELAMAR PRIA

CARA SYARI WANITA MELAMAR PRIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#MuslimahSholihah

CARA SYARI WANITA MELAMAR PRIA

Pertanyaan:

Bolehkah wanita melamar pria? Bagaimana caranya?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Islam tidak membatasi, yang boleh mengajukan lamaran hanya yang lelaki. Sehingga wanita juga boleh mengajukan diri untuk melamar seorang pria, jika itu dilakukan dalam rangka kebaikan. Misalnya karena ingin mendapatkan suami yang saleh, atau suami yang bisa mengajarkan agama, maka hal ini bukanlah termasuk tindakan tercela. Artinya, bukan semata karena latar belakang dunia. Dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas bin Malik pernah bercerita:

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِى حَاجَةٌ

Ada seorang wanita menghadap Rasulullah ﷺ, menawarkan dirinya untuk Nabi ﷺ. Dia mengatakan: “Ya Rasulullah, apakah Anda ingin menikahiku?”

Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar:

مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَاسَوْأَتَاهْ وَاسَوْأَتَاهْ

“Betapa dia tidak tahu malu… Sungguh memalukan, sungguh memalukan.”

Anas membalas komentarnya:

هِىَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا

“Dia lebih baik dari pada kamu. Dia ingin dinikahi Nabi ﷺ, dan menawarkan dirinya untuk Nabi ﷺ.” (HR. Bukhari 5120)

Bagaimana Caranya?

Mengenai cara, ini kembali kepada kondisi di masing-masing masyarakat, bagaimana cara melamar wanita yang paling wajar. Bisa juga dilakukan dengan cara berikut:

Pertama: Menawarkan diri langsung ke yang bersangkutan

Seperti yang diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada hadis di atas.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat lain dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, ada seorang wanita menghadap Nabi ﷺ dan menawarkan dirinya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ لأَهَبَ لَكَ نَفْسِى

“Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar Anda nikahi.”

Setelah Nabi ﷺ memerhatikannya, beliau tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga wanita ini duduk menunggu. Kemudian datang seorang sahabat:

‘Ya Rasulullah, jika Anda tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.’ (HR. Bukhari 5030)

Dan di lanjutan hadis, sahabat ini diminta untuk mencari mahar, sampai pun hanya dalam bentuk cincin besi, dst, yang mungkin sudah sering kita dengar. Hadis ini meunjukkan, bahwa sah saja ketika ada seorang wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi lelaki yang dia harapkan bisa menjadi pendampingnya.

Dalam kitab Fathul Bari, wanita yang minta dinikahi Nabi ﷺ tidak haya satu. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan para wanita lainnya, yang menawarkan dirinya untuk Nabi ﷺ, di antaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits. (Fathul Majid, 8/525).

Kedua: Melalui perantara orang lain yang amanah

Termasuk melalui perantara keluarganya, ayahnya atau ibunya atau temannya.

Ini seperti yang dilakukan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, ketika putrinya Hafshah selesai masa iddah karena ditinggal mati suaminya, Umar menawarkan Hafshah ke Utsman, kemudian ke Abu Bakr radhiyallahu ‘anhum.

Umar mengatakan:

فَلَقِيتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ، فَقُلْتُ: إِنْ شِئْتَ زَوَّجْتُكَ حَفْصَةَ بِنْتَ عُمَرَ، فَصَمَتَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا، وَكُنْتُ أَوْجَدَ عَلَيْهِ مِنِّي عَلَى عُثْمَانَ

“Kemudian aku menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan berkata: ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman….” (HR. Bukhari 5122 & Nasai 3272)

Semacam ini juga yang pernah dilakukan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Beliau melamar Muhammad sebelum menjadi nabi melalui perantara temannya, Nafisah bintu Maniyah. Kemudian disetujui semua paman-pamannya dan juga paman Khadijah. Ketika akad dihadiri Bani Hasyim dan pembesar Bani Mudhar, dan ini terjadi dua bulan sepulang Nabi ﷺ dari Syam berdagang barangnya Khadijah. (Ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 51)

Dalam salah satu fatwannya, Lajnah Daimah ditanya mengenai hukum wanita yang menawarkan diri agar dinikahi lelaki yang saleh. Jawab Lajnah:

إذا كان الأمر كما ذكر شرع لها أن تعرض نفسها على ذلك الرجل أو نحوه، ولا حرج في ذلك فقد فعلته خديجة رضي الله عنها وفعلته الواهبة المذكورة في سورة الأحزاب، وفعله عمر رضي الله عنه بعرضه ابنته حفصة على أبي بكر ثم على عثمان رضي الله عنهما

Jika dia seorang laki-laki yang saleh sebagaimana disebutkan, maka disyariatkan bagi wanita itu untuk  menawarkan diri kepadanya, atau yang semisalnya untuk dinikahi. Ini dibolehkan, sebagaimana yang telah dilakukan Khadijah radhiyallahu’anha.

Juga dilakukan oleh seorang wanita yang menawarkan dirinya (kepada Nabi ﷺ untuk dinikahi beliau), sebagaimana yang tersebut di surat Al-Ahzab.

Juga pernah dilakukan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu yang menawarkan putrinya Hafshah kepada Abu Bakr, kemudian kepada Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhum. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/48 no. 6400).

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28481-cara-syari-wanita-melamar-pria.html

,

KIAT-KIAT AGAR MUDAH MENGERJAKAN SHALAT MALAM

KIAT-KIAT AGAR MUDAH MENGERJAKAN SHALAT MALAM

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

KIAT-KIAT AGAR MUDAH MENGERJAKAN SHALAT MALAM

Berikut beberapa kiat, yang insya Allah sangat memudahkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat malam.

Pertama, mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah, sebagaimana Dia telah memerintahkan dalam firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (hal menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]

Kedua, mengetahui keutamaan Qiyamul Lail dan kedudukan orang-orang yang mengerjakan ibadah tersebut di sisi Allah ta’ala.

Hal tersebut karena siapa saja yang mengetahui keutamaan ibadah shalat malam, dia akan bersemangat untuk bermunajat kepada Rabb-nya, dan bersimpuh dengan penuh penghambaan kepada-Nya. Hal ini tentunya dengan mengingat semua keutamaan yang telah diterangkan dalam banyak ayat dan hadis.

Ketiga, meninggalkan dosa dan maksiat, karena dosa dan maksiat akan memalingkan hamba dari kebaikan.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Apabila tidak mampu mengerjakan shalat malam dan puasa pada siang hari, engkau adalah orang yang terhalang dari (kebaikan) lagi terbelenggu. Dosa-dosamu telah membelenggumu.” [Al-Hilyah karya Abu Nu’aim 8/96]

Keempat, menghadirkan di dalam diri, bahwa Allah yang menyuruhya untuk menegakkan shalat malam itu. Bila seorang hamba menyadari bahwa Rabb-nya, yang Maha Kaya lagi tidak memerlukan sesuatu apapun dari hamba, telah memerintahnya untuk mengerjakan shalat malam itu, hal itu tentu menunjukkan anjuran yang sangat penting bagi hamba, guna mendapatkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Bukankah Allah telah menyeru Nabi ﷺ dan umat beliau dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا.

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk mengerjakan shalat) pada malam hari, kecuali sedikit (dari malam itu), (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” [Al-Muzzammil: 1-4]

Kelima, memerhatikan keadaan kaum salaf dan orang-orang saleh terdahulu, dari kalangan sahabat, tabi’in, dan setelahnya, tentang keseriusan mereka dalam hal mendulang pahala shalat malam ini.

Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian, lagi orang yang sangat mengasihi kalian. Kerjakanlah shalat oleh kalian pada kegelapan malam guna kengerian (alam) kuburan. Berpuasalah di dunia untuk terik panas hari kebangkitan. Dan bersedekahlah sebagai rasa takut terhadap hari yang penuh dengan kesulitan. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian, lagi orang yang sangat mengasihi kalian.” [Az-Zuhd karya Al-Imam Ahmad hal. 148 -dengan perantaraan Ruhbanul Lail 1/328-]

Tsabit bin Aslam Al-Bunany rahimahullah berkata: “Tidak ada hal lezat yang saya temukan dalam hatiku melebihi Qiyamul Lail.” [Lihatlah Sifat Ash-Shafwah 2/262 karya Ibnul Jauzy]

Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah berkata: “Apabila malam hari datang, saya pun bergembira. Bila siang hari datang, saya bersedih.” [Bacalah Al-Jahr wa At-Ta’dil 1/85 karya Ibnu Abi Hatim]

Hisyam bin Abi Abdillah Ad-Dastuwa`iy rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah memunyai hamba-hamba yang menolak tidur pada malam hari karena mengkhawatirkan kematian saat mereka tidur.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunya, dalam Kitab At-Tahajjud wa Qiyamil Lail no. 61, dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, sebagaimana dalam Mukhtashar Qiyamul Lail hal. 57]

Abu Sulaiman Ad-Darany rahimahullah berkata: “Ahli ketaatan merasa lebih lezat dengan malam hari mereka, daripada orang yang lalai dengan kelalaiannya. Andaikata bukan karena malam hari, niscaya saya tidak suka tetap hidup di dunia.” [Disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 9/275, Ibnul Jauzy dalam Sifat Ash-Shafwah 2/262, dan Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 10/248]

Ketika Yazid Ar-Raqasiy rahimahullah mendekati ajalnya, tampak tangisan dari beliau. Saat ditanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab: “Demi Allah, saya menangisi segala hal yang telah saya telantarkan berupa shalat lail dan puasa pada siang hari.” Beliau juga berkata: “… Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian tertipu dengan waktu muda kalian. Sungguh, bila sesuatu yang menimpaku berupa kedahsyatan perkara (kematian), dan beratnya kepedihan maut, telah menimpa kalian, pastilah (kalian) hanya (akan berpikir) untuk keselamatan dan keselamatan, untuk kehati-hatian dan kehati-hatian. Bersegeralah, wahai saudara-saudaraku –semoga Allah merahmati kalian-.” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya 65/92]

Ishaq bin Suwaid Al-Bashry rahimahullah berkata: “Mereka (para Salaf) memandang, bahwa tamasya (itu) adalah dengan berpuasa pada siang hari dan mengerjakan shalat pada malam hari.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Kitab At-Tahajjud wa Qiyamil Lail no. 35]

Adalah Malik bin Dinar rahimahullah tidak tidur pada malam hari. Ketika ditanya: “Mengapa saya melihat manusia tidur pada malam hari, sedangkan engkau tidak?” Beliau menjawab: “Ingatan tentang Neraka Jahannam tidak membiarkan aku untuk tidur.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunya, dalam Kitab At-Tahajjud wa Qiyamil Lail no. 59, dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy, sebagaimana dalam Mukhtashar Qiyamul Lail hlm. 76]

Mu’adzah bintu Abdillah rahimahullah -yang menghidupkan malamnya dengan mengerjakan ibadah- berkata: “Saya takjub kepada mata (seseorang) yang tertidur, sedang dia mengetahui akan panjangnya tidur pada kegelapan kubur.” [Siyar A’lam An-Nubala` 4/509]

Keenam, mengenal semangat setan untuk memalingkan manusia dari Qiyamul Lail. Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلاَثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلاً طَوِيلاً فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتِ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang dari kalian sebanyak tiga ikatan, ketika orang itu sedang tidur. Dia memukul setiap tempat ikatan (seraya berkata): ‘Malam yang panjang atas engkau, maka tidurlah.’ Apabila orang itu bangun kemudian menyebut nama Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila orang itu berwudhu, terlepaslah satu ikatan (yang lain). Apabila orang itu mengerjakan shalat, terlepaslah seluruh ikatannya. Orang itu pun berada pada pagi hari dengan semangat dan jiwa yang baik. Kalau tidak (mengerjakan amalan-amalan tadi), orang itu akan berada pada pagi hari dalam keadaan jiwa yang jelek dan pemalas.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, Muslim, Abu Daud, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah]

Ketujuh, memendekkan angan-angan dan banyak mengingat kematian. Ini adalah kaidah yang akan memacu semangat hamba dalam pelaksanaan ketaatan dan menghilangkan rasa malas. Dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah ﷺ memegang bahuku seraya berkata:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara yang sekadar berlalu.”

Adalah Ibnu Umar berkata setelah itu: “Apabila berada pada waktu sore, janganlah engkau menunggu waktu pagi. Dan, jika engkau berada pada waktu pagi, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah dari waktu sehatmu untuk waktu sakitmu, dan ambillah dari kehidupanmu untuk kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah, hanya saja Ibnu Majah tidak menyebutkan ucapan Ibnu ‘Umar. Selain itu, ada tambahan pada akhir riwayat hadis beliau, “… dan hitunglah dirimu dari penghuni kubur.”]

Kedelapan, mengingat nikmat kesehatan dan waktu luang. Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia melalaikannya: kesehatan dan waktu luang.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah ﷺ, Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang lelaki sembari menasihati lelaki tersebut:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara dengan segera sebelum (datang) lima perkara; waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan selainnya. Dishahihkan oleh Al-Albany]

Kesembilan, segera tidur pada awal malam. Dalam hadis Abi Barzakh radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Adalah (Rasulullah ﷺ) membenci tidur sebelum (mengerjakan shalat) Isya dan berbincang-bincang setelah (mengerjakan shalat Isya) tersebut.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah]

Kesepuluh, menjaga etika-etika tidur yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ, seperti tidur dalam keadaan berwudhu, membaca “tiga qul” (yakni surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas), Ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, zikir-zikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika tidur, serta tidur dengan bertumpu di atas rusuk kanan.

Kesebelas, menghindari berbagai sebab yang mungkin melalaikan seorang hamba terhadap shalat malamnya. Para ulama menyebutkan, bahwa di antara sebab tersebut adalah terlalu banyak makan dan minum, terlalu meletihkan diri pada siang hari dengan berbagai amalan yang tidak bermanfaat, tidak melakukan Qailulah (tidur siang), dan selainnya.

Demikian beberapa kiat agar kita mudah mengerjakan shalat malam. Semoga risalah ini bermanfaat untuk seluruh kaum Muslimin dan bisa menjadi pedoman dalam hal menghidupkan malam-malam penuh berkah pada bulan Ramadan dan seluruh bulan lain. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

Sumber: http://dzulqarnain.net/kiat-kiat-agar-mudah-mengerjakan-shalat-malam-2.html

,

PANDUAN SHALAT WITIR

PANDUAN SHALAT WITIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

PANDUAN SHALAT WITIR

Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Pada kesempatan kali ini kami akan menyajikan panduan singkat shalat Witir. Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Witir secara bahasa berarti ganjil. Hal ini sebagaimana dapat kita lihat dalam sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Witr dan menyukai yang Witr (ganjil).” (HR. Bukhari no. 6410dan Muslim no. 2677)

Sedangkan yang dimaksud Witir pada shalat Witir adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya’ dan terbitnya fajar (masuknya waktu Subuh), dan shalat ini adalah penutup shalat malam.

Mengenai shalat Witir apakah bagian dari shalat lail (shalat malam/Tahajud) atau tidak, para ulama berselisih pendapat. Ada ulama yang mengatakan, bahwa shalat Witir adalah bagian dari shalat lail, dan ada ulama yang mengatakan bukan bagian dari shalat lail.

Hukum Shalat Witir

Menurut Mayoritas Ulama, hukum shalat Witir adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang amat dianjurkan).

Namun ada pendapat yang cukup menarik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa shalat Witir itu wajib bagi orang yang punya kebiasaan melaksanakan shalat Tahajud. [Al Ikhtiyarot, ‘Alaud diin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin ‘Abbas Al Ba’li Ad Dimasyqi, hal. 57, Mawqi’ Misykatul Islamiyah]. Dalil pegangan beliau barangkali adalah sabda Nabi ﷺ:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat Witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Waktu Pelaksanaan Shalat Witir

Para ulama sepakat, bahwa waktu shalat Witir adalah antara shalat Isya hingga terbit fajar. Adapun jika dikerjakan setelah masuk waktu Subuh (terbit fajar), maka itu tidak diperbolehkan menurut pendapat yang lebih kuat. Alasannya adalah sabda Nabi ﷺ:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai Witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar)

Ibnu ‘Umar mengatakan:

مَنْ صَلَّى بِاللَّيْلِ فَلْيَجْعَلْ آخِرَ صَلاَتِهِ وِتْراً فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِذَلِكَ فَإِذَا كَانَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَتْ كُلُّ صَلاَةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَوْتِرُوا قَبْلَ الْفَجْرِ »

“Barang siapa yang melaksanakan shalat malam, maka jadikanlah akhir shalat malamnya adalah Witir, karena Rasulullah ﷺ memerintahkan hal itu. Dan jika fajar tiba, seluruh shalat malam dan shalat Witir berakhir, karenanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat Witirlah kalian sebelum fajar”. (HR. Ahmad 2/149. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Lalu manakah waktu shalat Witir yang utama dari waktu-waktu tadi?

Jawabannya, waktu yang utama atau dianjurkan untuk shalat Witir adalah sepertiga malam terakhir.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ.

“Kadang-kadang Rasulullah ﷺ melaksanakan Witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan Witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim no. 745)

Disunnahkan berdasarkan kesepakatan para ulama,  shalat Witir itu dijadikan akhir dari shalat Lail berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar yang telah lewat:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat Witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Yang disebutkan di atas adalah keadaan ketika seseorang yakin (kuat) bangun di akhir malam. Namun jika ia khawatir tidak dapat bangun malam, maka hendaklah ia mengerjakan shalat Witir sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadis Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّكُمْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ ثُمَّ لْيَرْقُدْ وَمَنْ وَثِقَ بِقِيَامٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِهِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia Witir dan baru kemudian tidur. Dan siapa yang yakin akan terbangun di akhir malam, hendaklah ia Witir di akhir malam, karena bacaan di akhir malam dihadiri (oleh para Malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755)

Dari Abu Qotadah, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لأَبِى بَكْرٍ « مَتَى تُوتِرُ » قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ. وَقَالَ لِعُمَرَ « مَتَى تُوتِرُ ». قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ. فَقَالَ لأَبِى بَكْرٍ « أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ ». وَقَالَ لِعُمَرَ « أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ ».

“Nabi ﷺ bertanya kepada Abu Bakar: ” Kapankah kamu melaksanakan Witir?” Abu Bakr menjawab: “Saya melakukan Witir di permulaan malam”. Dan beliau ﷺ bertanya kepada Umar, “Kapankah kamu melaksanakan Witir?” Umar menjawab: “Saya melakukan Witir pada akhir malam”. Kemudian beliau ﷺ berkata kepada Abu Bakar: “Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati.” Dan kepada Umar beliau ﷺ mengatakan: “Sedangkan orang ini begitu kuat.” (HR. Abu Daud no. 1434 dan Ahmad 3/309. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Jumlah Rakaat dan Cara Pelaksanaan

Witir boleh dilakukan satu, tiga, lima, tujuh atau sembilan rakaat. Berikut rinciannya.

Pertama: Witir dengan Satu Rakaat

Cara seperti ini dibolehkan oleh Mayoritas Ulama, karena Witir dibolehkan dengan satu rakaat. Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Witir adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Barang siapa yang hendak melakukan Witir lima rakaat, maka hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang hendak melakukan Witir tiga rakaat, maka hendaknya ia melakukannya. Dan barang siapa yang hendak melakukan Witir satu rakaat, maka hendaknya ia melakukannya.” (HR. Abu Daud no. 1422. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Kedua: Witir dengan Tiga Rakaat

Di sini dapat dilakukan dengan dua cara:

[a] Tiga rakaat, sekali salam,

[b] Mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu rakaat kemudian salam.

Dalil cara pertama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ.

“Rasulullah ﷺ biasa berwitir tiga rakaat sekaligus, beliau tidak duduk (Tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Al Baihaqi)

Dalil cara kedua:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى فِى الْحُجْرَةِ وَأَنَا فِى الْبَيْتِ فَيَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعُنَاهُ.

“Rasulullah ﷺ shalat di dalam kamar ketika saya berada di rumah, dan beliau ﷺ memisah antara rakaat yang genap dengan yang Witir (ganjil) dengan salam yang beliau ﷺ perdengarkan kepada kami.” (HR. Ahmad 6/83. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

Ketiga: Witir dengan Lima Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakan lima rakaat sekaligus dan Tasyahud pada rakaat kelima, lalu salam. Dalilnya adalah hadis dari ‘Aisyah, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا.

“Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Lalu beliau berwitir dari shalat malam tersebut dengan lima rakaat. Dan beliau tidaklah duduk (Tasyahud) ketika Witir kecuali pada rakaat terakhir.” (HR. Muslim no. 737)

Keempat: Witir dengan Tujuh Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk Tasyahud, kecuali pada rakaat keenam. Setelah Tasyahud pada rakaat keenam, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada rakaat ketujuh. Kemudian Tasyahud pada rakaat ketujuh dan salam. Dalilnya akan disampaikan pada Witir dengan sembilan rakaat.

Kelima: Witir dengan Sembilan Rakaat

Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk Tasyahud, kecuali pada rakaat kedelapan. Setelah Tasyahud pada rakaat kedelapan, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada rakaat kesembilan. Kemudian Tasyahud pada rakaat kesembilan dan salam.

Dalil tentang hal ini adalah hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. ‘Aisyah mengatakan:

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ

“Kami dulu sering memersiapkan siwaknya dan bersucinya. Setelah itu Allah membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu` dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat kesembilannya. Kemudian beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat dua rakaat setelah salam sambil duduk. Itulah sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabiyullah berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan tujuh rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya, sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama. Maka itu berarti sembilan wahai anakku.” (HR. Muslim no. 746)

Qunut Witir

Tanya:  Apa hukum membaca doa Qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) Witir?

Jawab: Tidak masalah mengenai hal ini. Doa Qunut (Witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi ﷺ pun biasa membaca Qunut tersebut. Beliau ﷺ pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat Qunut untuk shalat Witir. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca doa Qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi ﷺ ketika mengajarkan doa Qunut pada cucunya Al Hasan, beliau ﷺ tidak mengatakan padanya: “Bacalah doa Qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan, bahwa membaca Qunut Witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. [Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Fatawa Nur ‘alad Darb, 2/1062]

Doa Qunut Witir yang dibaca terdapat dalam riwayat berikut.

Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah ﷺ mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat Witir, yaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

ALLOHUMMAHDINII FII MAN HADAIIT,
WA ‘AAFINII FII MAN ‘AAFAIIT,
WA TAWALLANII FI MAN TAWALLAIIT,
WA BAARIK LII FIIMAA A’ THOIIT,
WA QINII SYARRO MAA QODHOIIT,
 
FA INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHO ‘ALAIIK,
WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIIT,
WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAIIT,
TABAAROKTA ROBBANAA WA TA ’AALAIT.
 
Artinya:
Ya Allah, berikanlah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan petunjuk;
Berilah aku keselamatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan keselamatan;
Lindungilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi;
Berkahilah semua yang telah Engkau berikan kepadaku;
Lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu;
 
Sesungguhnya Engkau menakdirkan dan tidak ada yang menentukan takdir bagi-Mu;
Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan pernah menjadi hina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan pernah menjadi mulia.
Maha Berkah dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami.
(HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)

 

Bagaimana Jika Luput dari Shalat Witir?

Tanya: Apakah shalat Witir itu wajib? Apakah kami nanti berdosa jika suatu hari kami mengerjakan shalat tersebut dan di hari yang lainnya kami tinggalkan?

Jawab: Hukum shalat Witir adalah Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan). Oleh karenanya sudah sepatutnya setiap Muslim menjaga shalat Witir ini. Sedangkan orang yang kadang-kadang saja mengerjakannya (suatu hari mengerjakannya dan di hari lain meninggalkannya), ia tidak berdosa. Akan tetapi, orang  seperti ini perlu dinasihati, agar ia selalu menjaga shalat Witir. Jika suatu saat ia luput mengerjakannya, maka hendaklah ia menggantinya di siang hari dengan jumlah rakaat yang genap. Karena Nabi ﷺ jika luput dari shalat Witir, beliau ﷺ selalu melakukan seperti itu. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:  “Jika beliau ketiduran atau sedang sakit sehingga tidak dapat melakukannya di malam hari, maka beliau shalat di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat” (HR. Muslim).

Nabi ﷺ biasanya melaksanakan shalat malam sebanyak sebelas rakaat. Beliau ﷺ salam setiap kali dua rakaat, lalu beliau ﷺ berwitir dengan satu rakaat. Jika luput dari shalat malam karena tidur atau sakit, maka beliau ﷺ mengganti shalat malam tersebut di siang harinya dengan mengerjakan dua belas rakaat. Inilah maksud dari ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tadi. Oleh karena itu, jika seorang Mukmin punya kebiasaan shalat di malam hari sebanyak lima rakaat, lalu ia ketiduran atau luput dari mengerjakannya, hendaklah ia ganti shalat tersebut di siang harinya dengan mengerjakan shalat enam rakaat. Ia kerjakan dengan salam setiap dua rakaat. Demikian pula jika seseorang biasa shalat malam tiga rakaat, maka ia ganti dengan mengerjakan di siang harinya empat rakaat, ia kerjakan dengan dua kali salam. Begitu pula jika ia punya kebiasaan shalat malam tujuh rakaat, maka ia ganti di siang harinya dengan delapan rakaat, ia kerjakan dengan salam setiap dua rakaat.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. [Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, ditandangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku Ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku Wakil Ketua, Abdullah bin Qu’ud dan Abdullah bin Ghodyan selaku Anggota, pertanyaan kedua no. 6755, 7/172-173]

Sudah Witir Sebelum Tidur dan Ingin Shalat Malam Di Akhir Malam

Tanya: Apakah sah shalat sunnah yang dikerjakan di seperti malam terakhir, namun sebelum tidur telah shalat Witir?

Jawab: Shalat malam itu lebih utama dikerjakan di sepertiga malam terakhir, karena sepertiga malam terakhir adalah waktu Nuzul Ilahi (Allah turun ke langit dunia). Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis yang Shahih, Nabi ﷺ bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman (yang artinya): ‘Adakah seorang yang meminta? Pasti Aku akan memberinya. Adakah seorang yang berdoa? Pasti Aku akan mengabulkannya. Dan adakah seorang yang memohon ampunan? Pasti Aku akan mengampuninya’. Hal ini berlangsung hingga tiba waktu fajar.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadis ini menunjukkan, bahwa shalat di sepertiga malam terakir adalah sebaik-baiknya amalan. Oleh karena itu, lebih utama jika shalat malam itu dikerjakan di sepertiga malam terakhir. Begitu pula untuk shalat Witir, lebih utama untuk dijadikan sebagai akhir amalan di malam hari. Inilah yang ditunjukkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya: “Jadikanlah akhir shalatmu di malam hari adalah shalat Witir ” (HR. Bukhari, dari Abdullah bin ‘Umar).

Jadi, jika seseorang telah mengerjakan Witir di awal malam, lalu ia bangun di akhir malam, maka tidak mengapa jika ia mengerjakan shalat sunnah di sepertiga malam terakhir. Ketika itu ia cukup dengan amalan shalat Witir yang dikerjakan di awal malam saja, karena Nabi ﷺ MELARANG mengerjakan dua Witir dalam satu malam. [Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah, Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan no. 41, 65/19]

Semoga panduan shalat Witir ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/1006-panduan-shalat-Witir.html

 

 

,

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  • Islam
  • Merdeka
  • Berakal dan baligh
  • Memiliki nishab

Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. Jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah:

“Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir.” [QS.. Al Baqarah: 219]

Makna Al Afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

  1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul), terhitung dari hari kepemilikan nishab, dengan dalil hadis Rasulullah ﷺ.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani]

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang Muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat, karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya

  1. Nishab Emas

Nishab emas sebanyak 20 Dinar. Dinar yang dimaksud adalah Dinar Islam.

  • 1 Dinar = 4,25 gr emas
  • Jadi, 20 Dinar = 85gr emas murni.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatu pun, yaitu dalam emas, sampai memiliki 20 Dinar. Jika telah memiliki 20 Dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ Dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi]

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:

Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

  1. Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 Dirham, setara dengan 595 gr perak, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

  1. Nishab Binatang Ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” [HR. Bukhari]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

a. Unta

Nishab unta adalah 5 ekor.

Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak unta, maka nishab unta tidak kami jabarkan secara rinci -red.

b. Sapi

Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah sapi yang dimiliki: 30-39 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 40-59 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor musinah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 60 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 70 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 80 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 90 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 3 ekor tabi’
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 100 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:

Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.

Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.

Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

c. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Kambing: 40 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 1 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 120 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 2 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 201 – 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 3 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: > 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: setiap 100 ekor kambing adalah 1 ekor kambing
  1. Nishab hasil pertanian

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyariatkan dalam Islam dengan dasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [QS.. Al-An’am: 141]

Adapun nishabnya ialah 5 Wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 Wasaq.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Satu Wasaq setara dengan 60 sha’ [menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364]. Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” [HR. Muslim 2/673]

Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg

  1. Nishab Barang Dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan tiga syarat lainnya:

  • 1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  • 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  • 3) Nilainya telah sampai nishab.

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong utang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki utang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Utang:

  • Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000
  • Jadi jumlah harta zakat adalah:
  • Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000
  • Zakat yang harus dibayarkan:
  • Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000
  1. Nishab Harta Karun

Harta karun yang ditemukan wajib dizakati secara langsung, tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ﷺ:

“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” [HR. Muttafaqun alaihi]

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun, ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata: “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” [Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468]. Inilah pendapat yang rajih (paling kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada Muharram 1423 H, lalu Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

 

***

Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Dipublikasikan ulang oleh www.Muslim.or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html

 

, ,

TIPS MUDAH SHALAT KHUSYUK UNTUK MUSLIMAH

TIPS MUDAH SHALAT KHUSYUK UNTUK MUSLIMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

TIPS MUDAH SHALAT KHUSYUK UNTUK MUSLIMAH

Khusyuk bisa bertambah dan berkurang, sesuai dengan seberapa besar faktor-faktor pemicunya dipraktikkan saat menjalankan shalat.

Jika Anda bermaksud menunaikan shalat selepas wudhu, dan Anda ingin khusyuk dalam mengerjakannya, maka Anda perlu memerhatikan hal-hal berikut ketika sebelum mengerjakan shalat:

  1. Bersiwak

Di antara amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah menyegarkan bau mulut dan membersihkan gigi dengan siwak saat wudhu, dan ketika hendak shalat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya aku tidak (khawatir) memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu.” [Muttafaq ‘alaih]. Dalam riwayat lain, “Setiap hendak shalat.”

Perbuatan ini dapat membuat Anda lebih bersemangat, plus mengajari Anda memersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, untuk berdiri di hadapan Allah. Selain itu, siwak merupakan media paling manjur guna mengusir kantuk, jika shalat dikerjakan selepas tidur, sehingga bisa membantu Anda berkonsentrasi pada apa yang Anda baca.

  1. Mengenakan Pakaian yang Bersih dan Rapi, Memakai Parfum (tidak boleh tercium laki-laki non-mahram) dan Menghindari Bau yang Kurang Sedap

Allah ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan…” [QS Al-A’raf 7 : 31].

  1. Menutup Aurat dengan Sempurna

Menutup aurat secara menyeluruh dapat memberi keleluasan memosisikan setiap organ di tempatnya saat shalat. Sebab, jika Anda tidak teliti menutup aurat, bisa jadi kerudung Anda jatuh atau hampir jatuh, sehingga Anda harus berulang kali sibuk membenarkannya.

Atau Anda terburu-buru menyelesaikan shalat, karena khawatir aurat Anda terbuka dengan menyembulnya sebagian rambut Anda. Sehingga Anda salam sebelum sempat berdoa (seusai membaca Tasyahud). Akankah ada kekhusyukan, dan mungkinkah muncul kehadiran hati, sementara Anda terlena dengan urusan lain?

  1. Menyingkirkan Segala yang Dapat Mengganggu Konsentrasi

Persiapan berikutnya, menyingkirkan segala yang dapat mengganggu konsentrasi, baik yang berada di hadapan Anda, atau Anda memakainya, atau menjadi alas sujud Anda. Caranya, Anda memilih tempat yang sunyi, tidak dipenuhi berbagai perabotan rumah tangga dan dekorasi.

  1. Memilih Tempat Bersuhu Sedang dan Menghindari Shalat di Ruangan yang Panas

Wahai saudariku, bila ingin tidur, menjamu tamu, pasti Anda mencari tempat yang suhu udaranya sedang atau nyaman bukan? Namun kenapa bila Anda hendak menunaikan shalat, terkadang Anda tidak begitu acuh mengerjakannya di tempat mana pun. Besar kemungkinan Anda menahan panasnya udara dan tidak mencari tempat sejuk untuk shalat, namun dengan mengorbankan kekhusyukan Anda.

  1. Menunaikan Shalat di Tempat yang Jauh dari Kebisingan dan Gaduh

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Sesungguhnya orang yang shalat itu berbisik-bisik (munajat) dengan Rabb-nya. Maka hendaknya ia memerhatikan apa yang ia bisikkan kepada-Nya, dan janganlah kalian saling mengeraskan  bacaan Alquran.” [Al-Albani berkata, “Diriwayatkan oleh Malik dan Bukhari dalam Khalqu Af’alil ‘Ibad, sanadnya shahih.” Shifatush Shalah, hal. 81]

Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ melarang mengeraskan bacaan Alquran, agar tidak mengganggu orang yang tengah shalat, dan demi menjaga kekhusyukannya.

Maka, bila Anda ingin shalat dengan kehadiran hati dan khusyuk, carilah tempat yang paling lengang di rumah Anda, dan jauhkan dari kegaduhan, kehadiran orang-orang dan pandangan mereka. Itu yang paling baik bagi wanita.

  1. Memersiapkan Shalat dengan Mengosongkan Hati atau Pikiran dari Semua Kesibukkan

Ketahuilah, hati itu disibukkan oleh berbagai macam urusan, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan lainnya. Maka bila Anda ingin berkonsentrasi dalam shalat, mintalah perlindungan kepada Allah. Sebuah permintaan perlindungan yang muncul dari hati, bukan dari lidah saja.

  1. Menunggu Shalat

Menunggu shalat tidak harus dilakukan laki-laki di masjid saja, bisa juga dilakukan oleh para wanita di rumah.

Adapun jika jiwa Anda berontak dan enggan duduk menunggu shalat, sementara Anda tidak memiliki tugas yang menyibukkan, maka paksalah jiwa Anda ini untuk menunggu, dan lawanlah sampai ia mau menerima, walau dengan terpaksa. Sebab, jika hari ini jiwa Anda sudi menunggu dengan keadaan terpaksa, maka esok hari ia akan melakukannya secara sukarela, bahkan antusias.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [QSAl-Ankabut 29 : 69]

  1. Memerhatikan Kebutuhan Tubuh yang Mendesak dan Menyelesaikannya Sebelum Mulai Shalat

***

 

Disarikan dari buku “Tips Mudah Shalat Khusyuk untuk Muslimah” karya Dr. Ruqayyah binti Muhammad Al-Muharib

 

[Artikel Muslimah.or.id]

Sumber: https://Muslimah.or.id/8582-tips-mudah-shalat-khusyuk-untuk-Muslimah.html

,

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

Pertama: Berusaha Disertai Tawakal

Inilah langkah awal yang selayaknya dilakukan oleh setiap yang mengharapkan keberhasilan. Usaha merupakan modal pertama meraih kesuksesan, karena sukses tidaklah serta merta turun dari langit. Perubahan hanya akan terjadi, ketika orangnya mau berusaha untuk berubah. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’du: 11]

Karena itu, dalam Islam tidak ada kamus tawakal tanpa usaha, karena setiap tawakal harus diawali usaha. Tawakal tanpa usaha, diistilahkan dengan tawaaakal (pura-pura tawakal).

Namun ingat, juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan kemampuan kita. karena semuanya berada di bawah kehendak Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun usaha kita, jangan sampai membuat kita terlalu PeDe, sehingga mengesankan tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Allah menjanjikan, orang yang bertawakal akan dicukupi oleh Allah. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” [QS. At-Thalaq: 3].

Sebaliknya, orang yang tidak bertawakal, maka dikhawatirkan akan diuji dengan kegagalan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah bercerita: “Nabi Sulaiman pernah berikrar: “Malam ini aku akan menggilir 100 istriku. Semuanya akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah.” Beliau mengucapkan demikian, dan tidak mengatakan: “InsyaaAllah”. Akhirnya tidak ada satupun yang melahirkan, kecuali salah satu dari istrinya yang melahirkan setengah manusia (baca: manusia cacat). kemudian Nabi ﷺ bersabda:

لَوِ اسْتَثْنَى، لَوُلِدَ لَهُ مِائَةُ غُلَامٍ كُلُّهُمْ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Andaikan Sulaiman mau mengucapkan InsyaaAllah, niscaya akan terlahir 100 anak, dan semuanya berjihad di jalan Allah.” [HR. Ahmad 7137 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Siapa kita dibandingkan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam? Keinginan seorang Nabi yang tidak disertai tawakal, ternyata bisa menuai kegagalan.

Kedua: Hindari Sebab Yang Tidak Memenuhi Syariat

Ada sebagian orang yang ketika hendak ujian, dia menempuh jalan pintas. Dia menggunakan sebab yang bertolak belakang dengan syariat. Ada yang datang ke orang pintar untuk minta perewangan. Ada yang makan kitab biar bisa cepat hapal. Ada yang zikir tengah malam dengan membaca ribuan wirid yang tidak disyariatkan, dan seabreg trik lainnya untuk menggapai sukses.

Perlu kita tanamkan dalam lubuk hati kita, bahwa segala sesuatu itu bisa dijadikan sebagai sebab, jika memenuhi dua kriteria:

  • Ada hubungan sebab akibat yang terbukti secara ilmiah. Misalnya belajar dan menghapal adalah sebab untuk mendapatkan pengetahuan.
  • Jika syarat pertama tidak terpenuhi, maka harus ada syarat kedua, yaitu sebab tersebut ditentukan oleh dalil. Sehingga meskipun sebab tersebut tidak terbukti secara ilmiah memiliki hubungan dengan akibat,namun selama ada dalil, maka boleh dijadikan sebagai sebab. Contoh, meruqyah dengan bacaan Alquran untuk mengobati orang sakit. Meskipun secara ilmiah tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah hubungan antara bacaan Alquran dengan pengobatan, namun mengingat ada dalil yang menegaskan hal tersebut, maka itu bisa dijadikan sebagai sebab.

Jika ada sebab yang TIDAK memenuhi dua kriteria di atas, maka menggunakan sebab tersebut hukumnya SYIRIK KECIL. Karena berarti dia telah berdusta atas nama Allah. Dia meyakini, bahwa hal itu bisa dijadikan sebab, padahal sama sekali Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab.

Dan jika sebab yang ditempuh itu berupa amal, maka syaratnya harus ada dalilnya. Jika tidak, bisa jadi terjerumus ke dalam jurang dosa bid’ah.

Ketiga: Perbanyak Istighfar

Sesungguhnya salah satu sumber utama kegagalan yang terjadi pada manusia adalah dosa dan maksiat. Allah tegaskan:

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. As-Syura: 40]

Salah satu dampak buruk dosa adalah bisa menghalangi kelancaran rezeki, sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

Sesungguhnya seseorang terhalangi untuk mendapat rezeki, disebabkan dosa yang dia perbuat. [HR. Ahmad 22386 dan dihasankan Al-Albani].

Karena itu, agar kita terhindar dari dampak buruk perbuatan maksiat yang kita lakukan, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Perbanyak istighfar dalam setiap waktu yang memungkinkan untuk berizkir. Kita berharap, dengan banyak istighfar, semoga Allah memberi ampunan dan memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka. [HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, Ad-Daruquthni, al-baihaqi dan yang lainnya].

Hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama. Hanya saja maknanya sejalan dengan perintah Allah di Surat Hud:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Perbanyaklah meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang memunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. [QS. Hud: 3]

Keempat: Banyak berdoa

Perbanyaklah berdoa kepada Allah, meminta segala hal yang kita butuhkan, baik dalam urusan Akhirat maupun dunia. Karena semakin sering mengetuk pintu, maka semakin besar peluang untuk dibukakan pintu tersebut. Semakin sering kita berdoa, semakin besar peluang untuk dikabulkan. Namun perlu diingat, jangan suka minta didoakan orang lain. Karena berdoa sendiri itu lebih berpeluang untuk dikabulkan, daripada harus melalui orang lain. Lebih-lebih di saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Akan ada perasaan berharap yang lebih besar, bila dibandingkan dengan doa yang diwakilkan orang lain. Di samping itu, berdoa sendiri lebih menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah secara langsung. Dan kita melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.

Kelima: Pegang Prinsip Kejujuran dan Hindari Bentuk Penipuan

Pernahkah kita menyadari, bahwa plagiat dan mencontek ketika ujian termasuk bentuk penipuan? Adakah di antara kita yang sadar, bahwa melakukan pelanggaran dalam ujian termasuk bentuk kedustaan? Pernahkah kita merasa, bahwa hal itu membawa konsekuensi dosa? Mungkin ada di antara kita yang beranggapan, kalau itu tidak ada hubungannya dengan agama. Ini lain urusan, antara UN dengan agama. Tak ada kaitannya dengan urusan Akhirat.

Perlu kita sadari, bahwa apapun bentuk pelanggaran yang kita lakukan ketika ujian, baik itu bentuknya mencontek, plagiat, catatan, pemalsuan data dan pelanggaran lainnya, hukumnya haram dan dosa besar. Tinjauannya:

  1. Perbuatan itu terhitung sebagai bentuk penipuan, karena orang yang melihat nilai kita beranggapan, bahwa itu murni usaha kita yang dilakukan dengan jujur dan sportif. Padahal hakikatnya itu adalah hasil kerja gabungan, kerja kita dan teman-teman sekitar kita. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang menipu kami, maka bukan termasuk golongan kami.” [HR. Muslim].

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa perbuatan menipu ini termasuk dosa besar, karena diancam dengan kalimat: “Bukan termasuk golongan kami”. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin Syarh hadis Bab: Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan].

Komite Tetap Tim Fatwa Saudi pernah ditanya tentang masalah pelanggaran ketika ujian, mereka menjawab: “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar.

Berdasarkan hadis dari Nabi ﷺ: “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan bagian kami.” Dan tidak ada perbedaan antara materi pelajaran agama maupun non agama.”

Dalam kesempatan yang sama Komite Fatwa ini juga pernah ditanya tentang hadis “Barangs iapa yang menipu kami…” kemudian mereka menjawab:

“Hadis ini statusnya Shahih. Mencakup segala bentuk penipuan, baik dalam jual beli, perjanjian, amanah, ujian sekolah atau pesantren. Baik bentuk penipuannya itu dengan melihat buku ajar, mencontek teman, memberikan jawaban kepada yang lain, atau dengan melemparkan kertas pada yang lain.”

  1. Perbuatan ini termasuk di antara sifat orang yang diancam dengan azab. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ

“…dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Jangan sekali-kali kamu mengira, bahwa mereka akan lolos dari azab…” [QS. Ali Imran: 188].

Kita yakin, orang yang suka melakukan pelanggaran ketika ujian pasti tidak lepas dari tujuan mencari nilai bagus. Disadari maupun tidak, ketika ada orang yang memuji nilai UN yang kita peroleh, pasti akan ada perasaan bangga dalam diri kita. Meskipun kita yakin betul kalau itu bukan murni kerja kita. Oleh karena itu, bagi yang punya kebiasaan demikian, segeralah bertakwa kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak digolongkan seperti ayat di atas.

  1. Perbuatan semacam tergolong sebagai orang yang mengenakan pakaian kedustaan. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لم يعط كلابس ثوب زور

“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan, maka seolah dia memakai dua pakaian kedustaan.” [HR. Ahmad & Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani].

Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud; “Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan” adalah orang yang menampakkan, bahwa dirinya telah mendapatkan keutamaan, padahal aslinya dia tidak mendapatkannya. [Lihat Faidhul Qodir 6/338].

Orang semacam ini termasuk orang yang menipu orang lain. Dia menampakkan seolah dirinya orang pintar, nilainyanya bagus, padahal aslinya….

Ujian adalah amanah untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai Muslim yang baik, selayaknya kita jaga amanah ini dengan baik. Amanah ilmiah yang selayaknya kita tunaikan dengan penuh tanggung jawab, karena itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Bukan jaminan, orang yang nilai UN-nya baik, pasti mendapatkan peluang hidup yang lebih nyaman. Ingat, kedustaan dan kecurangan akan mengundang kita untuk melakukan kedustaan berikutnya, dalam rangka menutupi kedustaan sebelumnya. Dan bisa jadi itu terjadi secara terus-menerus. Berbeda dengan kejujuran, dia akan mengantarkan pada ketenangan, dan selanjutnya mengantarkan pada jalan kebaikan dan Surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada Surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada Neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607]

Keenam: Tips dalam Menghadapi Kegagalan

a. Tanamkan Bahwa Semuanya Telah Ditakdirkan

Sebagai bukti, bahwa kita adalah orang yang beriman pada takdir, kita yakini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Kita yakini bahwa tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya, baik kita ketahui maupun tidak. Kita tutup rapat-rapat, jangan sampai kita berburuk sangka kepada Allah. Sebagai penyempurna keimanan kita pada takdir adalah kita pasrahkan semuanya kepada Allah, dan tidak terlalu disesalkan. Kegagalan bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Demikian pula, sukses bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Bahkan ini termasuk anggapan cupet manusia yang telah dibantah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ( ) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ( ) كَلَّا…

Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku memuliakan aku.”(15) Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.”(16) sekali-kali tidak…..”[QS. Al Fajr: 15-17].

b. Bersabar dengan Penuh Mengharapkan Pahala

Jika gagal ini adalah bagian dari ujian hidup, maka berusahalah untuk bersabar. Lebih-lebih jika kita mampu untuk bersikap rida, atau bahkan bersyukur. Sesuatu yang berat ini akan menjadi terasa ringan. Nabi ﷺ bersabda:

 

مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Tidak henti-hentinya ujian itu akan menimpa setiap Mukmin laki-laki maupun wanita, terkait dengan dirinya, anaknya, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” [HR. At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Riyadhus Shalihin].

Kegagalan ini akan menjadi penebus dosa, jika orang yang tertimpa kegagalan tersebut mampu bersabar.

c. Yakini Ada yang Lebih Buruk Dari Pada Kita

Inilah di antara cara yang diajarkan Islam, agar kita tetap bisa bersyukur kepada Allah, terhadap nikmat yang telah Dia berikan. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih bawah dari pada kamu, dan jangan melihat orang yang lebih banyak nikmatnya dari pada kamu. Karena akan memberi kekuatan kamu, untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” [HR. Muslim]d

d. Hindari Ber-Andai-Andai

Jangan sampai terbetik dalam diri kita teriakan perasaan “Andai aku tadi pinjam bukunya si A, pasti aku bisa mengerjakannya..” “Andai aku tadi…pasti…” “Andai aku…kan harusnya gak…” dan seterusnya. Umumnya perasaan ini muncul, ketika orang itu dalam posisi gagal. Karena perasaan ini merpakan awal dari godaan setan, agar manusia mengingkari takdir Allah. Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Apabila kamu tertimpa kegagalan, janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku bersikap demikian, tentu yang terjadi demikian..” Tetapi katakanlah: “Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki.” Karena sesungguhnya ucapan berandai-andai itu membuka (pintu) perbuatan setan.” [HR. Muslim]

Berdasarkan hadis di atas, ada ungkapan yang sunnah untuk kita ucapkan, ketika sedang mengalami kegagalan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki”

e. Berusaha Untuk Memerbaikinya dan Jangan Putus Asa

Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta jangan sekali-kali kamu bersikap lemah (karena putus asa)…” [HR. Muslim].

Selamat menempuh ujian, semoga sukses menyertai kita semua… Amiin

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17430-adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un.html