Posts

HANYA TIDAK SHALAT SUBUH

HANYA TIDAK SHALAT SUBUH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Bismillah
 
#SifatSholatNabi
 
HANYA TIDAK SHALAT SUBUH
 
Meninggalkan shalat bukanlah perkara sepele. Dosanya bukan dosa yang biasa-biasa saja. Perlu diketahui, bahwa dosa meninggalkan shalat adalah termasuk dosa besar yang paling besar, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama berikut ini:
 
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan:
“Kaum Muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat), bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar, dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah, serta mendapatkan kehinaan di dunia dan Akhirat.”
 
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir (Pembahasan Dosa-Dosa Besar), hal. 25, Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar, daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, dan membunuh seorang Mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”
 
Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, hal. 26-27, juga mengatakan:
“Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan, yaitu satu shalat saja, dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertobat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang Mujrim (yang berbuat dosa).”
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

Rasulullah ﷺ bersabda:

من تركَ اللباسَ تواضُعًا للهِ وهو يقدِرُ عليه ، دعاه اللهُ يومَ القيامةِ على رؤوسِ الخلائقِ حتى يُخَيِّرَهُ منَ أيِّ حُلَلِ الإيمانِ شاءَ يَلْبَسُهَا

“Barang siapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada Hari Kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu dia dipersilakan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai” [HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’” 6145].

Fawaid Hadis

  • Hadis ini TIDAK menunjukkan tercelanya memakai pakaian mewah, namun hadis ini memberi motivasi untuk zuhud dan tawadhu‘ (rendah hati).
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan karena tak mampu, namun karena tawadhu‘.
  • Jika meninggalkan pakaian mewah yang mampu dia beli, namun bukan dalam rangka tawadhu‘, maka tidak ada keutamaannya.
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan berarti memakai pakaian compang-camping, namun maksudnya adalah “sederhana” (sedang-sedang saja) dalam berpakaian.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari:

http://islamqa.info/ar/228099

http://islamqa.info/ar/97019

***

Penyusun: Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc.

[Artikel Muslimah.or.id]

Sumber: http://muslimah.or.id/7637-meninggalkan-pakaian-mewah-karena-tawadhu.html

,

BAGAIMANA DOA BEPERGIAN DAN DOA ORANG YANG DITINGGAL?

BAGAIMANA DOA BEPERGIAN DAN DOA ORANG YANG DITINGGAL?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

BAGAIMANA DOA BEPERGIAN DAN DOA ORANG YANG DITINGGAL?

Pertanyaan:

Tolong dituliskan doa orang yang mau bepergian untuk orang yang ditinggal, dan doa orang yang ditinggal untuk orang yang bepergian.

Jawaban:

Doa orang yang bepergian kepada orang yang ditinggal, sebagaimana dalam hadisnya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

ASTAWDI’UKALLAHALLADZI LAA TADHII’U WADAA-I’UHU

Artinya:

“Aku titipkan kamu kepada Allah, yang tidak akan pernah tersia-sia apa yang dititipkan kepada-Nya.” [HR. Ibnu Majah 2/943 no:2825, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany dalam Shahihul Jami’ no:958]

Doa orang yang ditinggal untuk orang yang musafir:

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

ZAWWADAKALLAHUT TAQWA, WA GHAFARO DZANBAKA, WA YASSARO LAKAL KHOIRO HAITSUMA KUNTA

Artinya:

“Semoga Allah membekalimu ketakwaan, dan mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu, di mana pun kamu berada.” [HR . At-Tirmidzy 5 / 500 no: 3444, dan dihasankan Syeikh Al-Albany dalam Shahihul Jami’ no:3579]

 

Penulis: Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber:

tanyajawabagamaislam.blogspot.com

,

DOA NABI UNTUK MUSAFIR

DOA NABI UNTUK MUSAFIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DoaZikir

DOA NABI UNTUK MUSAFIR

أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِمَ عَمَلِكَ

ASTAWDI’ULLAHA DIINAKA, WA AMAANATAKA, WA KHOWAATIIMA ‘AMALIK

Artinya

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan penutup amalmu.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya dari beberapa orang shahabat. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil.]

 

Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi hafizhahullah

Sumber: @dzulqarnainms

,

MENINGGALKAN SHALAT ‘IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

MENINGGALKAN SHALAT IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

MENINGGALKAN SHALAT ‘IED DAN HUKUM WANITA MELAKSANAKAN SHALAT ‘IED

Pertanyaan:

Bolehkah seorang Muslim meninggalkan shalat ‘Ied, padahal tidak ada uzur [halangan]? Dan bolehkah melarang seorang wanita menunaikan shalat Ied bersama orang banyak?

Jawaban:

Shalat ‘Ied hukumnya Fardhu Kifayah, menurut sebagian besar para ulama. Seorang Muslim per-individu boleh meninggalkan shalat ‘Ied, tapi lebih baik baginya datang dan berkumpul bersama kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat ‘Ied yang hukumnya Sunnah Mu’akad [sunnah yang ditekankan].  Sehingga tidak pantas bagi seorang Muslim untuk meninggalkannya tanpa alasan yang syari.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa shalat ‘Ied itu hukumnya Fardhu ‘Ain, sama seperti shalat Jumat. Maka, bagi setiap Muslim laki-laki yang mukallaf [sudah dewasa dan tidak gila], dan dia bermukin [tidak bepergian], dia tidak boleh meninggalkan shalat ‘Ied. Pendapat ini lebih jelas bila dihubungkan dengan dalil-dalil yang ada, dan lebih dekat kepada kebenaran.

Dan disunnahkan pula bagi para wanita untuk menghadiri shalat ‘Ied dengan berhijab [menutup aurat] dan tidak memakai wangi-wangian. Hal ini berdasarkan sebuah hadis shahih dari Ummu Athiyyah Radhiyallahu ‘anha yang mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ فِيْ عِيْدَيْنِ العَوَاطِقَ وَالْحُيَّضَ لِيَشْهَدْناَ الخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَتَعْتَزِلَ الْحُيَّضُ الْمُصَلِّى

“Rasulullah ﷺ menyuruh kami keluar menghadiri shalat ‘Ied bersama budak-budak perempuan dan perempuan-perempuan yang sedang haid, untuk menyaksikan kebaikan-kebaikan dan mendengarkan khutbah. Dan bagi wanita yang sedang haid disuruh menjauhi tempat shalat.” [HR. Bukhari: 313, Muslim: 1475]

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa ada di antara shahabat perempuan berkata kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُوْلَ اللهِ لاَ تَجِدُ إِحْدَنَا جِلْبَابًا تَخْرُجُ فِيْهِ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memunyai jilbab.” Beliau ﷺ  berkata: “Hendaklah saudaranya memberikan [meminjamkan] jilbab kepadanya.” [HR. Ahmad: 19863].

Jadi tidak diragukan lagi, bahwa hadis ini menunjukkan tentang ditekankannya para wanita untuk keluar menuju shalat ‘Ied, agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Penolong menuju kebenaran.

[Fatawa Syaikh Bin Baaz Jilid 2, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Pustaka at-Tibyan]

 

Sumber: https://konsultasIsyariah.com/29577-hukum-meninggalkan-shalat-ied.html

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL?

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BOLEHKAH MEMASUKI AREAL PEMAKAMAN DENGAN MEMAKAI SANDAL?

Bolehkah masuk ke areal makam atau pemakaman atau kuburan dengan menggunakan alas kaki atau sandal (sendal) atau sepatu? Bahasan ini pernah disinggung oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu’ yang merupakan kitab Syarh dari Al Muhaddzab karya Asy Syairozi. Masalah ini berkaitan erat dengan orang yang ingin ziarah kubur atau memasuki kubur atau areal pemakaman.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

المشهور في مذهبنا أنه لا يكره المشى في المقابر بالنعلين والخفين ونحوهما ممن صرح بذلك من اصحابنا الخطابى والعبد رى وآخرون ونقله العبدرى عن مذهبنا ومذهب اكثر العلماء قال احمد بن حنبل رحمه الله يكره وقال صاحب الحاوى يخلع نعليه لحديث بشير بن معبد الصحابي المعروف بابن الخصاصية قال ” بينهما انا أماشى رسول الله صلي الله عليه وسلم نظر فإذا رجل يمشي في القبور عليه نعلان فقال يا صاحب السبتتين ويحك الق سبتتيك فنظر الرجل فلما عرف رسول الله صلي الله عليه وسلم خلعهما ” رواه أبو داود والنسائي باسناد حسن * واحتج أصحابنا بحديث أنس رضى الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال ” العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه حتى إنه ليسمع قرع نعالهم اتاه ملكان فاقعداه إلي آخر الحديث ” رواه البخاري ومسلم (وأجابوا) عن الحديث الاول بجوابين (أحدهما) وبه أجاب الخطابي انه يشبه انه كرههما المعنى فيهما لان النعال السبتية – بكسر السين – هي المدبوغة بالقرظ وهى لباس أهل الترفه والتنعم فنهي عنهما لما فيهما من الخيلاء فاحب صلي الله عليه وسلم أن يكون دخوله المقابر علي زي التواضع ولباس أهل الخشوع (والثانى) لعله كان فيهما نجاسة قالوا وحملنا علي تأويله الجمع بين الحديثين

“Yang masyhur dalam madhzab kami (Madzhab Syafi’i), yaitu tidaklah makruh memakai sandal atau khuf (sepatu) ketika memasuki area pemakaman. Yang menegaskan seperti ini adalah Imam Al Khottobi dari ulama Syafi’iyah, juga disampaikan oleh Al ‘Abdari dan ulama Syafi’i lainnya. Hal ini dinukil oleh Al ‘Abdari dari pendapat Syafi’iyah dan mayoritas atau kebanyakan ulama. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, bahwa memakai sandal ketika itu dimakruhkan. Penulis kitab Al Hawi mengatakan, bahwa sandal mesti dilepas ketika masuk areal makam mengingat hadis dari Basyir bin Ma’bad – sahabat yang telah ma’ruf dengan nama Ibnul Khososiyah, ia berkata: “Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau ﷺ melihat orang yang berjalan di areal pemakaman dalam keadaan memakai sandal, maka beliau ﷺ menegurnya: “Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaskan sandalmu!” Orang tersebut lantas melongok dan ketika ia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah ﷺ, ia mencopot sandalnya.” Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An Nasai dengan sanad yang Hasan. [HR. Abu Daud no. 3230 dan An Nasai no. 2050. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih]

Sedangkan dalil bolehnya dari Madzhab Syafi’i adalah hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ:

“Jika seseorang dimasukkan dalam liang kubur, lalu ia ditinggalkan dan keluarga yang menziarahinya pergi, maka ia akan mendengar hentakan sandalnya, lalu dua malaikat akan mendatanginya, dan akan duduk di sampingnya.” Kemudian disebutkan hingga akhir hadis, diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim. [HR. Bukhari no. 1338 dan Muslim no. 2870]

Ulama Syafi’iyah untuk menyikapi hadis yang melarang yaitu hadis yang pertama memberikan dua jawaban:

1- Al Khotobi mengatakan, bahwa itu cuma tidak disukai oleh Nabi ﷺ karena sandal tersebut disamak dan sandal seperti itu digunakan oleh orang yang biasa bergaya dengan nikmat yang diberi. Nabi ﷺ melarangnya karena dalamnya ada sifat sombong. Sedangkan Nabi ﷺ sangat suka jika seseorang memasuki areal kubur dengan sikap tawadhu’ dan khusyu’.

2- Boleh jadi di sandal tersebut terdapat najis. Dipahami demikian, karena kompromi antara dua hadis yang ada. (Al Majmu’, 5: 205).

Sehingga kesimpulan berdasarkan kompromi dua dalil dan inilah yang jadi pegangan Madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama, memasuki areal pemakaman dengan sandal (sendal) TIDAKLAH TERLARANG. Namun melepas sandal atau alas kaki ketika memasuki areal pemakaman lebih selamat dari perselisihan ulama.

Wallahu a’lam.

Semoga mencerahkan dan jadi ilmu yang bermanfaat bagi para peziarah kubur.

Referensi:

Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab lisy Syairozi, Yahya bin Syarf An Nawawi, tahqiq: Muhammad Najib Al Muthi’i, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan kedua, tahun 1427 H.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/3553-memasuki-areal-pemakaman-dengan-sandal.html

 

, ,

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

PUASA-BISA-JADI-TIDAK-BERNILAI-GARA-GARA-TIDAK-BERJILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#SifatPuasaNabi

PUASA BISA JADI TIDAK BERNILAI GARA-GARA TIDAK BERJILBAB

>> Wahai Muslimah, Janganlah Engkau Sia-Siakan Puasamu dengan Tidak Berjilbab

Nabi ﷺ bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia TIDAK mendapatkan dari puasanya tersebut, melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” [HR. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya Jayyid].

Hal ini menunjukkan, bahwa puasa, termasuk puasa Ramadan, bukanlah dengan menahan lapar dan dahaga saja. Namun puasa juga hendaknya dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan. Yang termasuk maksiat adalah buka-bukaan aurat, dan meninggalkan shalat. Ini adalah maksiat.

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan wejangan:

“Seandainya engkau berpuasa, maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa. Yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram, serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Itulah sejelek-jelek puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga saja ketika berpuasa. Sedangkan maksiat masih terus jalan, masih buka-buka aurat dan enggan berjilbab. Kesadaran untuk berhenti dari maksiat tak kunjung datang. Ucapan sebagian salaf berikut patut jadi renungan:

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah adalah hanya meninggalkan minum dan makan saja.” [Lihat Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 277]

 

Sumber: https://rumaysho.com/1164-menutup-aurat-hanya-musiman.html

,

MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH

MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
MAKSIMALKAN SOSIAL MEDIA UNTUK BERDAKWAH
 
Salah satu hal agar kita tidak dibodohi oleh gadget, hanya untuk suatu hal yang sia-sia, bahkan bermaksiat, adalah MAKSIMALKAN gadget kita untuk berdakwah, untuk share sebuah ilmu yang syari. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Media-media social adalah kesempatan atau peluang bagi kalian yang hendaknya kalian manfaatkan sebaik-baiknya, dan jangan kalian tinggalkan untuk orang-orang jahat dan para dai penyeru kesesatan.” [Ahamiyyatul ‘Aqidatish Shahihah, 23-7-1437H]
Sumber: Forum Berbagi Faidah
,

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH SEBELUM SUBUH (QOBLIYAH)

Shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua rakaat sebelum pelaksanaan shalat Subuh, adalah di antara shalat Rawatib. Yang dimaksud shalat Rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi ﷺ terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.

Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadis. Juga dijelaskan anjuran menjaganya. Begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi ﷺ dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Rakaat Ringan

Dalil yang menunjukkan, bahwa shalat sunnah Qobliyah Subuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan rakaat yang ringan, adalah hadis dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الأَذَانِ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

“Rasulullah ﷺ dahulu diam antara azannya muadzin hingga shalat Subuh. Sebelum shalat Subuh dimulai, beliau dahului dengan dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafal lain juga menunjukkan, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan rakaat yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Ketika terbit fajar Subuh, Rasulullah ﷺ tidaklah shalat, kecuali dengan dua rakaat yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

“Rasulullah ﷺ setelah mendengar azan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat ringan” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lainnya disebutkan, bahwa ‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَيُخَفِّفُ حَتَّى إِنِّى أَقُولُ هَلْ قَرَأَ فِيهِمَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Rasulullah ﷺ dahulu shalat sunnah Fajar (Qobliyah Subuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan, apakah beliau di dua rakaat tersebut membaca Al Fatihah?” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan, bahwa hadis di atas hanya kalimat hiperbolis, yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi ﷺ, dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 4].

Dan sekali lagi, namanya ringan, juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sebagian ulama Salaf mengatakan, tidak mengapa jika shalat sunnah Fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memeringan shalat sunnah Fajar. Namun sebagian orang mengatakan, bahwa itu berarti Nabi ﷺ tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadis Shahih telah disebutkan, bahwa ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, Rasulullah ﷺ membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas, setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadis Shahih menyebutkan, bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Alquran, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Subuh

Dan shalat sunnah Fajar inilah yang paling Nabi ﷺ jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَكُنْ عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ

“Nabi ﷺ tidaklah menjaga shalat sunnah, yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”  (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafal lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَسْرَعَ مِنْهُ إِلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat, dibanding dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh dijelaskan dalam hadis berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaca ketika shalat sunnah Qobliyah Subuh, surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” [HR. Muslim no. 726].

Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah Qobliyah Subuh adalah hadis dari ‘Aisyah, di mana Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (shalat sunnah Qobliyah Subuh), lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim no. 725]. Jika keutamaan shalat sunnah Fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Subuh itu sendiri.

Dalam lafal lain: ‘Aisyah berkata, bahwa Nabi ﷺ berbicara mengenai dua rakaat ketika telah terbih fajar Subuh:

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya” [HR. Muslim no. 725].

Hadis terakhir di atas juga menunjukkan, bahwa shalat sunnah Fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar Subuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah Fajar, dengan mereka maksudkan untuk dua rakaat ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah Fajar dan shalat sunnah Qobliyah Subuh. Ini jelas KELIRU. Imam Nawawi mengatakan:

أَنَّ سُنَّة الصُّبْح لَا يَدْخُل وَقْتهَا إِلَّا بِطُلُوعِ الْفَجْر ، وَاسْتِحْبَاب تَقْدِيمهَا فِي أَوَّل طُلُوع الْفَجْر وَتَخْفِيفهَا ، وَهُوَ مَذْهَب مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور

“Shalat sunnah Subuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Subuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya, dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i  dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” [Syarh Shahih Muslim, 6: 3].

Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

 

Sumber: https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-Subuh.html

 

BILA ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI

BILA ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatDiri

BILA ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KITA LAGI

  • Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia.
  • Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak.
  • Allah akan sibukkan kita dengan urusan menjalankan perniagaan dan harta.
  • Allah akan sibukkan kita dengan urusan mengejar karir, pangkat dan jabatan.

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan.

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah ﷻ, dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi, tentu mereka akan memilih untuk memerbanyak amal ibadah.

Sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati-matian untuk merebut dunia, yang sudah jelas-jelas tidak bisa dibawa mati.

Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah, beramal dan beribadah hanya kepada Allah.

Kita mungkin cemburu, apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, jabatan, rumah besar, mobil mewah.

  • Kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu agama orang lain lebih dari kita?
  • Kita tidak pernah cemburu, melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita.
  • Kita tidak pernah cemburu, apabila melihat orang lain bangun di sepertiga malam, sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah.
  • Kita tidak pernah cemburu, apabila melihat orang lain setiap hari sholat Subuh berjamaah di masjid dekat rumah kita.
Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain ganti kendaraan dengan yang lebih mewah.
Kita cemburu apabila melihat orang lain bisa liburan setiap tahun.
Kita hanya cemburu apabila melihat orang lain bergelimang harta, tahta dan wanita.
Cemburu karena dia bisa jadi gubernur, bupati ataupun walikota.
  • Tetapi jarang kita cemburu, apabila melihat orang lain yang bisa khatam Alquran sebulan dua kali.
  • Kita jarang cemburu, apabila melihat mualaf yang paham isi Alquran.
  • Kita jarang cemburu, apabila melihat orang lain berbuat untuk menegakkan akidah Islam.
  • Kita jarang cemburu, kepada orang yang berjihad di jalan Allah.
  • Kita jarang cemburu, kepada orang yang mewakafkan dirinya dan semua hartanya di jalan Allah.

Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin. Tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita, maka panggilan Illahi semakin bertambah dekat.

Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Karena hidup di dunia menentukan kehidupan yang kekal nanti di Akhirat.

Sesungguhnya

  • MATI itu PASTI ….
  • ALAM KUBUR itu BENAR ….
  • HISAB itu BENAR ….
  • MAHSYAR ALLAH itu BENAR ….
  • SURGA dan NERAKA itu BENAR ….

Penyesalan itu selalu terlambat ….

Menunda taubat menunggu usia tua ….

Itupun kalau masih sempat ….

Sebab syarat MATI tidak harus tua, tidak harus sakit ….

Penyelesaian masalah hidup adalah melalui iman dan amal.

Iman sebesar zarrah pun, Allah muliakan dengan Surga 100x dunia”

Lalu mengapa kita tak mau menambah bekal hidup kita dengan iman, ibadah dan amalan baik…..???

Mudah-mudahan hidup kita selamat di dunia dan Akhirat, dan selalu bermanfaat untuk ummat dan kita termasuk orang-orang yang Allah ridai, untuk masuk ke Surga-Nya…..

 

آمـــــين يا ربّ العالمــين

 

————————————————

Dari Postingan WhatsApp Ustadz Maududi Abdullah, Lc