Posts

,

ANJURAN MEMADAMKAN API SEBELUM TIDUR

ANJURAN MEMADAMKAN API SEBELUM TIDUR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

ANJURAN MEMADAMKAN API SEBELUM TIDUR
>> Salah Kaprah tentang Hadis Mematikan Lampu Ketika Tidur
 
Memang ada anjuran memadamkan api sebelum tidur. Namun anjuran tersebut bukanlah anjuran untuk memadamkan lampu listrik yang seperti ada saat ini. Ternyata ada yang salah kaprah dalam memahami hadis-hadis berikut:
 
Tinjauan Hadis
 
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
 
لاَ تَتْرُكُوا النَّارَ فِى بُيُوتِكُمْ حِينَ تَنَامُونَ
 
“Janganlah biarkan api di rumah kalian (menyala) ketika kalian sedang tidur.” [HR. Bukhari no. 6293 dan Muslim no. 2015]
 
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
احْتَرَقَ بَيْتٌ بِالْمَدِينَةِ عَلَى أَهْلِهِ مِنَ اللَّيْلِ ، فَحُدِّثَ بِشَأْنِهِمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ هَذِهِ النَّارَ إِنَّمَا هِىَ عَدُوٌّ لَكُمْ ، فَإِذَا نِمْتُمْ فَأَطْفِئُوهَا عَنْكُمْ »
 
“Ada sebuah rumah di Madinah terbakar pada waktu malam hari mengenai penghuninya. Kejadian tersebut lantas diceritakan pada Nabi ﷺ. “Api ini adalah musuh kalian. Apabila kalian tidur, padamkanlah api.” [HR. Bukhari no. 6293 dan Muslim no. 2016]
 
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
« غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً وَلاَ يَفْتَحُ بَابًا وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ »
 
“Tutuplah wadah-wadah, ikatlah kantung air, kuncilah pintu, padamkanlah pelita karena setan tidak bisa membuka ikatan kantung air, tidak bisa membuka pintu, tidak bisa membuka wadah yang tertutup. Jika salah seorang di antara kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk menutup wadahnya kecuali dengan sebilah kayu lalu menyebut nama Allah ketika itu, lakukanlah, karena tikus bisa membakar rumah yang dapat membahayakan penghuninya.” [HR. Muslim no. 2012]
 
Penjelasan Ulama
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Api itu adalah musuh dari manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Jika lentera dari api dibiarkan menyala saat tidur, lalu saat itu datanglah tikus, maka tikus itu bisa menajiskan minyak lentera, bahkan bisa menyalakan api yang bisa membakar, sebagaimana kejadian di waktu lampau.
 
Yang ada di masa silam, lentera itu berasal dari api dengan menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya. Ketika tikus datang, tikus itu bisa menjatuhkan minyak tersebut ke lantai dan akhirnya mengobarkan api. Terjadilah kebakaran yang besar. Itulah mengapa Nabi ﷺ memerintahkan untuk memadamkan api saat tidur supaya tidak terjadi kebakaran seperti itu.
 
Untuk zaman ini, dengan semakin berkembangnya zaman, penerangan yang ada menggunakan listrik (bukan lagi api). Ketika seseorang tidur dan lampu listrik tersebut dalam keadaan menyala, tidaklah masalah. Karena yang jadi sebab larangan adalah membiarkan api tersebut menyala. Ini tidak didapati dari lampu dari listrik saat ini.” [Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 390]
 
Apa Tidak Ada Larangan Menyalakan Lampu Saat Tidur?
 
Jawabannya, untuk lampu listrik seperti yang ada saat ini tidaklah ada larangan karena kembali ke hukum asal, lampu tersebut boleh terus nyala. Kendati demikian, bisa jadi ada dampak kesehatan jika lampu dibiarkan menyala saat tidur. Namun itu masalah lain yang bukan cakupan bahasan hadis yang diuraikan di atas. Hadis-hadis yang ada jelas menunjukkan yang dilarang adalah membiarkan api terus menyala saat tidur, BUKAN membiarkan lampu terus menyala.
 
Manfaat Memadamkan Lampu
 
Ada dalam berbagai macam riset yang menunjukkan manfaat memadamkan lampu saat tidur:
 
1. Tubuh akan menghasilkan hormon melatonin yang berfungsi sebagai penghasil kekebalan tubuh terhadap penyakit.
2. Lebih cepat terlelap tidur.
3. Mengurangi lemak dan menghindarkan dari resiko obesitas (kegemukan).
4. Meningkatkan kinerja otak.
5. Mengurangi resiko global warming.
 
Namun sekali lagi, salah kaprah jika mengartikan api dalam hadis yang kita bahas dengan lampu listrik saat ini karena keduanya jelas berbeda. Pahamilah hadis sesuai konteksnya. Semoga Allah memberi kita pemahaman yang lurus dalam memahami Alquran dan hadis.
 
 
Referensi:
Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan tahun 1427 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel Rumaysho.Com]
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

 

#hukum #hukummematikanlampu #saattidur, #tidur, #tidurtanpalampumenurutislam, #apakahtidurmematikanlampu, #baikdalamislam, #hadistentangmematikanlampusaattidur, #tidurtanpalampu, #matikanlistrik, #matikanapi, #sebelumtidur, #matikanlistrik, #matikanlampu, #sebelumtidur, #padamkanapi, #padamkanlistrik, #kebakaran, #adab, #salahkaprah, #memahamihadis, #hadits, #hadist, #manfaatmemadamkanlampu, #manfaatpadamkanlampu #padamkanlampu

, ,

UJUB MENGHANCURKAN AMAL

UJUB MENGHANCURKAN AMAL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

UJUB MENGHANCURKAN AMAL
 
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
إذا فتح الله عليك في باب قيام الليل؛ فلا تنظر للنائمين نظرة ازدراء.
 
“Jika Allah membukakan untukmu pintu shalat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan!
 
وإذا فتح الله عليك في باب الصيام؛ فلا تنظر للمفطرين نظرة ازدراء.
 
Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan!
 
وإذا فتح الله عليك في باب الجهاد؛ فلا تنظر للقاعدين نظرة ازدراء.
 
Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan!
 
فرب نائم ومفطر وقاعد؛ أقرب إلى الله منك.
 
Bisa jadi orang yang tidur, orang yang tidak berpuasa, dan orang yang tidak berjihad, dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu.
 
وإنك أن تبيت نائما وتصبح نادما خير من أن تبيت قائما وتصبح مُعجَباً، فإن المعجب لا يصعد له عمل.
 
Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan shalat, namun di pagi hari engkau merasa ujub. Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah).”
 
[Madaarijus Saalikiin, 1/177]
 
 
Sumber: @IslamDiaries
 
ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#ujub, #hancurkan, #penghancur, #amalanibadah #orangyangtidur, #orangyangtidakberpuasa, #orangyangtidakberjihad, #lebihdekatdenganAllah #orang yangtidur,#orangyangtidakberpuasa, #orangyangtidakberjihad, #lebihdekatdenganAllah, #jihad, #shalat, #puasa, #tahajjud, #tahajud, #sholat,#salat, #solat #tidur #nasihatulama
, ,

DI ANTARA ORANG YANG DIDOAKAN OLEH PARA MALAIKAT

DI ANTARA ORANG YANG DIDOAKAN OLEH PARA MALAIKAT
Bismillah
 
#DoaZikir
 
DI ANTARA ORANG YANG DIDOAKAN OLEH PARA MALAIKAT
>> Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur

Di antara orang-orang yang berbahagia dengan doa para malaikat, adalah orang yang tidur dalam keadaan suci. Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersemayam dalam pakaiannya. Dan tidaklah ia bangun, melainkan malaikat berdoa:
Ya Allah, Ampunilah hamba-Mu si Fulan, karena ia tidur dalam keadaan suci.
 
[Al-Ihsaan Fii Taqriibi Shahih Ibnu Hibban, kitab atb-Thaharah, bab Fardhil Wudhu III/328-329 no 1051]
 
Diambil dari buku:
Yang Didoakan & Yang Dilaknat Malaikat
Oleh: Dr. Fadhi Ilahi zhahir
Diterjemahkan oleh: Ustadz Beni Sarbeni Lc Hafidzahullah
,

ANJURAN ISTINTSAR SETELAH BANGUN TIDUR

ANJURAN ISTINTSAR SETELAH BANGUN TIDUR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#AdabAkhlak
ANJURAN ISTINTSAR SETELAH BANGUN TIDUR
 
Memasukkan air ke dalam hidung dengan cara disedot dalam bahasa Arab disebut istinsyaq, dan mengeluarkannya disebut istintsar.
 
Setelah bangun tidur, kita dianjurkan melakukan hal semacam ini tiga kali, untuk membersihkan rongga hidung kita. Karena ketika manusia tidur, setan menginap di lubang hidung kita. Dari mana kita tahu? Tentu saja informasi dari Nabi ﷺ.
 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ
 
“Apabila kalian bangun tidur, maka bersihkan bagian dalam hidung tiga kali, karena setan bermalam di rongga (batang) hidungnya.” [HR. Bukhari 3295 dan Muslim 238]
 
 
,

HUKUM TIDUR TENGKURAP

HUKUM TIDUR TENGKURAP

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah, #FatwaUlama

HUKUM TIDUR TENGKURAP

Dari Ibnu Tikhfah Al Ghifari, dari Abu Dzarr, ia berkata: “Nabi ﷺ lewat di hadapanku, dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkanku dengan kaki beliau. Beliau ﷺ pun bersabda: “Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk Neraka.” [HR. Ibnu Majah no. 3724. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Tidak pantas seseorang tidur tengkurap, lebih-lebih lagi dilakukan di tempat yang terbuka. Karena jika orang banyak melihat tidur semacam itu, mereka tidak suka. Namun jika seseorang dalam keadaan sakit perut, dengan tidur seperti itu membuat teredam sakitnya, maka seperti itu tidaklah mengapa, karena dilakukan dalam keadaan butuh.” [Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 343]

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz ditanya, “Ada yang mengatakan, bahwa tidur tengkurap itu diharamkan. Apakah benar? Jika benar, apa yang mesti kulakukan, karena aku tidak bisa tidur pulas melainkan dengan cara tidur sambil tengkurap. Tidur seperti itu lebih menyenangkan bagiku.”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Ada hadis dari Nabi ﷺ yang menjelaskan, bahwa beliau melihat sebagian sahabatnya tidur tengkurap, lantas beliau menggerak-gerakkan dengan kakinya, lantas beliau ﷺ bersabda: “Ini adalah seperti berbaring yang Allah murkai.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa “Tidur seperti itu adalah berbaringnya penduduk Neraka.”

Berbaring seperti itu jelas terlarang, sehingga sepantasnya ditinggalkan, kecuali dalam keadaan darurat, seperti karena sakit perut. Adapun jika bukan darurat, maka baiknya ditinggalkan. Minimal tidur seperti itu dihukumi terlarang (makruh), karena sabda Nabi ﷺ yang menyebutkan, bahwa tidur tersebut dimurkai oleh Allah.
Namun kalau kita lihat secara tekstual hadis, tidur dalam keadaan tengkurap diharamkan. Oleh karenanya, Mukmin laki-laki maupun perempuan hendaklah meninggalkan bentuk tidur semacam itu, kecuali dalam keadaan darurat yang sulit dihindari.” [Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.Com]
, ,

USAPLAH BEKAS TIDUR DI WAJAH KETIKA KITA BANGUN TIDUR

USAPLAH BEKAS TIDUR DI WAJAH KETIKA KITA BANGUN TIDUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#MutiaraSunnah, #AdabAkhlak

USAPLAH BEKAS TIDUR DI WAJAH KETIKA KITA BANGUN TIDUR

Wujud mencintai Nabi ﷺ adalah berusaha melestarikan ajaran beliau ﷺ di setiap keadaan. Untuk itu para ulama menekankan, sebisa mungkin setiap Muslim menyesuaikan diri dengan Sunah beliau ﷺ dalam setiap aktivitasnya. 24 jam sesuai Sunah, mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Seperti inilah yang pernah dipesankan Sufyan at-Tsauri – ulama Tabi’ Tabiin (Wafat 161 H):

ان استطعت الا تحك رأسك الا بأثر فافعل

Jika kamu mampu tidak menggaruk kepala kecuali ada dalilnya, lakukanlah. [Al-Jami’ li Akhlak ar-Rawi, 1/142].

Di antara beberapa sunah Nabi ﷺ ketika bangun tidur adalah mengusap bekas tidur di wajah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan, bahwa beliau pernah menginap di rumah bibinya, Maimunah radhiyallahu ‘anha, salah satu istri Nabi ﷺ. Kata Ibnu Abbas:

حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ

Kemudian ketika sudah masuk pertengahan malam, Rasulullah ﷺ bangun, kemudian beliau duduk, lalu mengusap bekas kantuk yang ada di wajahnya dengan tangannya. [HR. Ahmad 2201, Bukhari 183, Nasai 1631, dan yang lainnya].

 

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/24137-adab-setelah-bangun-tidur.html

, ,

KEUTAMAAN BACAAN SEBAGIAN AYAT ALQURANUL-KARIM SEBELUM TIDUR

KEUTAMAAN BACAAN SEBAGIAN AYAT ALQURANUL-KARIM SEBELUM TIDUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AdabAkhlak

KEUTAMAAN BACAAN SEBAGIAN AYAT ALQURANUL-KARIM SEBELUM TIDUR

Pertanyaan:

Saya mendengar hadis dari Nabi ﷺ yang artinya: “Barang siapa yang membaca sepuluh ayat pada malam hari sebelum tidur, maka dia tidak akan ditulis termasuk orang-orang yang lalai.” Apakah hadis ini Shahih? Jika Shahih, apakah sah jika saya membaca Ayat Kursi surat Ikhlas dan dua surat Muawidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) dari hapalan, sehingga hal ini menjadi wirid harianku. Dan saya telah membacanya lebih dari sepuluh ayat. Atau sepuluh ayat itu harus dibaca dari Mushaf?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama,

Teks hadis yang dimaksud penanya yang mulia adalah sebagai berikut:

“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي لَيلَةٍ لَم يُكتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ

(رواه الحاكم في المستدرك، 1/742 وقال : هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه ، وصححه الألباني في صحيح الترغيب، 2/81)

“Barang siapa membaca sepuluh ayat pada malam hari, maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai.”

(HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, 1/742, dia mengatakan: “Hadis ini Shahih dengan syarat Muslim, akan tetapi tidak dikeluarkan olehnya.” Dishahihkan oleh Al-Alabny dalam Shahih At-Targhib, 2/81)

Terdapat juga perkataan dari sekelompok para shahabat radhiallahu ‘anhum, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata: “Barang siapa membaca sepuluh ayat waktu malam hari, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai.” Terdapat semisal itu juga dari Tamim Ad-Dari radhiallahu ‘anhu. Keduanya diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam musnadnya, 2/554-555.

Kedua,

Apakah maksud dari hadis ini adalah membaca ayat-ayat ini dalam shalat malam, atau keutamaannya didapatkan hanya sekadar membaca ayat-ayat ini waktu malam, baik dibaca dalam shalat atau selain shalat?

Ada kemungkinan dipahami keduanya. Yang pertama dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud, 1398 dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ (صححه الألباني في صحيح أبي داود، رقم 1264)

“Barang siapa yang menunaikan (membaca) sepuluh ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang lalai. Dan barang siapa yang menunaikan seratus ayat, maka dia termasuk Qhanitin (ahli ibadah). Barang siapa menunaikan seribu ayat, maka dia termasuk golongan orang Muqanthirin.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud, no. 1264)

Dalam kitab Aunul Ma’bud dikatakan: “Maksudnya di sini adalah Qiyamul Lail. Oleh karena itu diriwayatkan oleh Ibnu Hibban hadis tadi dalam bab Qiyamul Lail dalam Shahihya, 4/120 dan dibuat judul ‘Dzikru Nafi Goflah Amman Qama Al-Lailah Bi’asyri Ayat (Dzikir Yang Dapat Meniadakan Kelalaian Bagi Orang Yang Menunaikan Qiyamul Lail Dengan Sepuluh Ayat).

Dikuatkan juga dengan hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan teks: “Barang siapa yang shalat waktu malam dengan seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barang siapa yang shalat waktu malam dengan dua ratus ayat, maka dia termasuk golongan orang-orang Qanithin Mukhlisin.” (HR. Hakim, 1/452 dishahihkan dengan syarat Muslim. Akan tetapi Al-Albany cenderung melemahkannya sebagaimana dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2/243 dan Dhaif At-Targhib, 1/190.

Dalam riwayat Ibnu Huzaimah, 2/180:

من حافظ على هؤلاء الصلوات المكتوبات لم يكتب من الغافلين ، ومن قرأ في ليلة مائة آية لم يكتب من الغافلين أو لم يكتب من القانتين..  (قال الألباني في الصحيحة، رقم 643 ، إسناده صحيح على شرط الشيخين)

“Barang siapa menjaga shalat wajib, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barang siapa membaca di waktu malam hari seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai atau termasuk orang-orang Qanithin.” (Al-Albany mengatakan dalam Shahihnya, no. 643 sanadnya Shahih dengan syarat Syeikhain)

Penggabungan bacaan dengan menyebutkan shalat wajib, mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah bacaan dalam shalat, yakni Shalat Lail. Oleh karena itu Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah dalam bab “Bab Dzikru Fadhilatus Qira’ah Miah Ayat Fi Shalatil Lail Idz Qori Miah Ayah Fi Lailah La Yuktab Minal Ghofilin (Bab Menyebutkan Keutamaan Bacaan Seratus Ayat Dalam Shalat Lail Ketika Membaca Seratus Ayat Waktu Malam Maka Dia Tidak Termasuk Orang-Orang Yang Lalai). Diriwayatkan juga Muhammad bin Nasr Al-Marwazi dalam kitabnya Qiyamul Lail (164 dengan ringkasan). Dalam bab yang terkait dengan bacaan dalam shalat malam.

Ada kemungkinan juga bahwa keutamaan didapatkan oleh orang yang membaca sebanyak ayat ini pada waktu malam secara umum, baik dalam shalat atau di luar shalat, sebelum tidur atau setelah bangun jika dia bangun malam.

Keumuman makna seperti ini yang dipahami Mayoritas Ulama dalam menghukumi hadis ini pada karangan mereka. Darimi rahimahullah telah membuat bab, 2/54 dengan mengatakan: ‘Bab Fadlu Man Qara Asyra ayat (Bab Keutamaan Bagi Orang yang Membaca Sepuluh Ayat).’

Sementara Hakim membuat bab dalam Kitab Mustadraknya, 1738 dengan mengatakan ‘Akhbar Fi Fadhoil Alquran Jumlatan (Riwayat-Riwayat Terkait dengan Keutamaan Alquran Secara Umum). Sebagaimana Al-Munziri membuat bab dalam kitabnya At-Targib Wat Tarhib, 2/76 dengan mengatakan: ‘At-Targib Fi Qiroatil Qur’an Fi shalah Wa Ghoiriha Wa Fadli Ta’allumihi Wa Ta’limihi (Anjuran Membaca Alquran Dalam Shalat dan Lainnya dan Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkannya).

Lalu dicantumkan sekali lagi di bawah bab, 2/116 ‘At-Targib Fi Adzkar Tuqolu Billaili Ghoir Mukhtassoh Bissobah Wal Masa’ (Anjuran Zikir yang Dibaca Waktu Malam dan Siang yang Tidak Khusus Waktu Pagi Dan Petang Hari).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, 1/255: “Ketahuilah, bahwa bacaan Alquran merupakan zikir yang utama. Maka hendaknya dibiasakan, jangan sampai terlewatkan dalam sehari semalam (tanpa membacanya). Hal tersebut dapat teraih dengan sekadar membaca ayat meskipun sedikit. Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadis, di antaranya hadis Abu Hurairah tadi.”

Maka diharapkan, bagi orang yang membaca sepuluh ayat pada malam hari tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Baik dia baca dalam shalat malamnya atau di luar shalat. Keutamaan Allah Azza Wa Jalla sangat luas.

Dalam Shahih Muslim, 789 dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi ﷺ bersabda:

.. وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ ، وَإِذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ

“Kalau pemilik Alquran berdiri dan dia membaca waktu malam dan siang hari, maka dia akan ingat. Kalau tidak melakukannya, maka dia akan lupa.”

Yang nampak dalam hadis ini, maksud dari kata ‘Qiyam’ bersifat  umum dari sekadar menunaikannya dalam shalat. Al-Manawi rahimahullah mengatakan: ”Maksudnya selalu membacanya waktu malam dan siang, maka dia tidak akan lalai darinya. Di dalamnya terdapat anjuran untuk membiasakan tilawah Alquran, tanpa mengkhususkan waktu atau tempat tertentu.”

Ketiga:

Terdapat anjuran dalam sunah untuk membaca sebagian ayat ketika seorang hendak tidur. Di antara surat dan ayat yang khusus dianjurkan membacanya adalah berikut ini:

  1. Ayat Kursi

Terdapat dalam Shahih Bukhari secara Muallaq, no. 2311, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

وكَّلني رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان ، فأتاني آتٍ فجعل يحثو من الطعام.. وذكر الحديث وقال في آخره : ( إذا أويتَ إلى فراشِكَ فاقرأ آيةَ الكرسي ، فإنه لن يزالَ معكَ من اللّه تعالى حافظ ، ولا يقربَك شيطانٌ حتى تُصْبِحَ. فقال النبيّ صلى اللّه عليه وسلم : ” صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيطانٌ )

“Rasulullah ﷺ menugaskan diriku untuk menjaga zakat Ramadan. Kemudian ada yang datang dan mengambil makanan. Selanjutnya disebutkan lanjutan hadis …. Di bagian akhir disebutkan: “Jika engkau hendak tidur, maka bacalah Ayat Kursi. Karena jika dia senantiasa bersama engkau, maka Allah akan menjagamu, dan setan tidak akan mendekatimu.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Dia benar kepadamu, tapi dia adalah pendusta. Dia adalah setan.”

  1. Dua ayat akhir surat Al-Baqarah

Dai Abu Mas’ud Al-Anshari radhillah anhu dari Nabi ﷺ bersabda:

مَن قَرَأَ بِالآيَتَينِ مِن آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيلَةٍ كَفَتَاهُ

(رواه البخاري، رقم 5009 ومسلم، رقم 2714،  قال ابن القيم في “الوابل الصيب، رقم 132، كفتاه من شر ما يؤذيه)

“Siapa membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan melindunginya.” (HR. Bukhari, no. 50009 dan Muslim, no.  2714. Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab Al-Wabil As-Shayyib, no. 132 mengatakan: “Maksudnya adalah dilindungi dari keburukan yang akan membahayakannya)

Dari Ali radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku menilai, bahwa seseorang tidak dikatakan pandai, apabila dia tertidur sebelum membaca tiga ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah.”

An-Nawawi mencantumkannya dalam kitab Al-Adzkar, 220 dari riwayat Abu Bakar bin Abu Daud kemudian beliau mengomentari, “Shahih dengan syarat Bukhari dan Muslim.”

3-4. Surat Al-Isra dan Az-Zumar, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لا يَنَامُ حَتَّى يَقرَأَ بَنِي إِسرَائِيلَ وَالزُّمَر

“Biasanya Nabi ﷺ belum tidur sebelum membaca surat Bani Israil dan Az-Zumar.” (HR. Tirmizi, 3402, dia mengatakan: Hadisnya Hasan. Dihasankan juga oleh Ibnu Hajar di kitab Nataijul Afkar, 3/65 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

  1. Surat Al-Kafirun

Dari Naufal Al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ berkata kepadaku:

 اقْرأ : قُلْ يا أيُّها الكافِرُونَ ثُمَّ نَمْ على خاتِمَتِها فإنَّها بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

“Bacalah Qul Yaayyuhal Kafirun (Surat Al-Kafirun) kemudian tidurlah pada akhir (ayatnya), karena ia dapat melepaskan dari kesyirikan.” (HR. Abu Daud, 5055. Tirmizi, 3400 dihasankan oleh Ibnu Hajar di kitab Nataijul Afkar, 3/61 dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud.

6, 7, 8. Surat Al-Ikhlas dan Dua surat Muawidzatain (Surat Al-Falaq dan An-Nass).

عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيلَةٍ جَمَعَ كَفَّيهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُل هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) و ( قُل أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ ) و ( قُل أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ، ثُمَّ يَمسَحُ بِهِمَا مَا استَطَاعَ مِن جَسَدِهِ ، يَبدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأسِهِ وَوَجهِهِ وَمَا أَقبَلَ مِن جَسَدِهِ ، يَفعَلُُ ذَلكَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ   (رواه البخاري، رقم 5017)

“Dari Aisyah radhiallahu’anha: ‘Sesunguhnya Nabi ﷺ biasanya ketika akan tidur setiap malam, menyatukan kedua telapak tangannya, kemudian meniup keduanya dan membaca (Qul huwallahu’ahad) dan (Qul a’udzubi rabbil falaq) dan (Qul a’udzubirobbin nass) kemudian mengusap tubuh dengan keduanya sedapat mungkin, dimulai dari kepala dan wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Hal itu dilakukan tiga kali.” (HR. Bukhari, no. 5017)

Dari Ibrohim An-Nakho’i, dia mengatakan: “Mereka menganjurkan untuk membaca tiga surat pada setiap malam tiga kali yaitu (Qul huwallahu ahad) dan dua Muawwidzatain.” An-Nawawi mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, sanadnya Shahih dengan syarat Muslim.

Keempat,

An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, 221: “Yang utama seseorang melakukan semua (zikir) yang telah disebutkan dalam bab ini. Kalau tidak memungkinkan, maka cukup melakukan yang dia mampu.”

Tidak disyaratkan membacanya dari Mushaf. Seorang Muslim cukup membaca dari apa yang dihapalkannya. Maka Allah akan mencatat (kebaikan) dari apa yang dijanjikan.

Wallahua’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/72591

, , ,

DOA BANGUN TIDUR SESUAI SUNNAH NABI (ARAB & LATIN)

#DoaZikir
 
DOA BANGUN TIDUR SESUAI SUNNAH NABI (ARAB & LATIN)
, , ,

DOA SEBELUM TIDUR ISLAM SESUAI SUNNAH RASULULLAH (13 AMALAN DOA & ZIKIR)

#DoaZikir

DOA SEBELUM TIDUR ISLAM SESUAI SUNNAH RASULULLAH (13 AMALAN DOA & ZIKIR)

Tautan: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/videos/1904101709831986/

 

, , ,

PANDUAN LENGKAP AMALAN, DOA DAN ZIKIR SEBELUM TIDUR DAN BANGUN TIDUR, SERTA JIKA MIMPI BURUK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

PANDUAN LENGKAP AMALAN, DOA DAN ZIKIR SEBELUM TIDUR DAN BANGUN TIDUR, SERTA JIKA MIMPI BURUK

Tautan: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/videos/1904108586497965/