Posts

, , ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong. “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini Maudhu’]. Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” [Madarijus Salikin, 1: 176]

Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Ta’yir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain), dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi ta’ala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]

Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihati berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan, dan merasa diri lebih baik dari orang lain.

Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.

Semoga Allah memberikan hidayah demi hidayah.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/11241-mengejek-orang-yang-berbuat-dosa.html

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

APA MAKSUD ANJURAN TIDAK MAKAN SEBELUM SHALAT IDUL ADHA?

APA MAKSUD ANJURAN TIDAK MAKAN SEBELUM SHALAT IDUL ADHA?
سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#AdabAkhlak
 
APA MAKSUD ANJURAN TIDAK MAKAN SEBELUM SHALAT IDUL ADHA?
 
Ada satu anjuran sebelum penunaian shalat Idul Adha, yaitu tidak makan sebelumnya, karena di hari tersebut kita kaum Muslimin yang mampu disunnahkan untuk berkurban. Anjuran tersebut diterapkan, agar kita nantinya bisa menyantap hasil kurban.
 
Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
 
وإن أكل يوم الأضحى قبل غدوه إلى المصلى فلا بأس، وإن لم يأكل حتى يأكل من أضحيته فحسن، ولا يحل صيامهما أصلا
 
“Jika seseorang makan pada hari Idul Adha sebelum berangkat shalat ‘Ied di tanah lapang (musholla), maka tidak mengapa. Jika ia tidak makan sampai ia makan dari hasil sembelihan kurbannya, maka itu lebih baik. TIDAK BOLEH berpuasa pada hari ‘ied (Idul Fitri dan Idul Adha) sama sekali.” (Al Muhalla, 5: 89)
 
Namun sekali lagi, puasa pada hari ‘Ied -termasuk Idul Adha- adalah HARAM berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama kaum Muslimin. Sedangkan yang dimaksud dalam penjelasan di atas adalah tidak makan untuk SEMENTARA WAKTU, dan BUKAN niatan untuk berpuasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
 
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
 
قال أحمد: والأضحى لا يأكل فيه حتى يرجع إذا كان له ذبح، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أكل من ذبيحته، وإذا لم يكن له ذبح لم يبال أن يأكل. اهـ.
 
“Imam Ahmad berkata: “Saat Idul Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan kurban, karena Nabi ﷺ makan dari hasil sembelihan kurbannya. Jika seseorang tidak memiliki kurban (tidak berkurban), maka TIDAK MASALAH jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied.” (Al Mughni, 2: 228)
 
Dan kita lihat dari penjelasan Imam Ahmad yang dinukil dari Ibnu Qudamah di atas, bahwa sunnah tidak makan sebelum shalat Idul Adha hanya berlaku untuk orang yang memiliki hewan kurban, sehingga ia bisa makan dari hasil sembelihannya nanti. Sedangkan jika tidak memiliki hewan kurban, maka tidak berlaku. Wallahu a’lam.
 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Untuk lengkapnya: https://rumaysho.com/2891-anjuran-tidak-makan-sebelum-shalat-idul-adha.html

, ,

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#StopBidah, #DoaZikir
 
BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA
 
Pertanyaan:
Apakah artikel berikut ini shahih dan apakah boleh diamalkan doanya?
 
Obat Stroke
 
Pada satu ketika, di mana Nabi Allah Sulaiman ‘alaihi salaam duduk di singgasananya, datang satu angin yang cukup besar. Maka bertanya Nabi Allah, Sulaiman ‘alaihi salaam: “Siapakah engkau.?”
 
Maka dijawablah oleh angin tersebut, bahwa akulah Angin Rihul Ahmar…. Dan aku bila memasuki rongga anak Adam, maka lumpuh, keluar darah dari rongga. Dan apabila aku memasuki otak anak Adam, maka menjadi gilalah anak Adam.
 
Maka diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam supaya membakar angin tersebut. Berkatalah Rihul Ahmar kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam, bahwa “Aku kekal sampai Hari Kiamat tiba, tiada sesiapa yang dapat membinasakan aku melainkan Allah.
 
Lalu Rihul Ahmar pun menghilang.
 
Diriwayatkan cucu Nabi Muhammad ﷺ terkena Rihul Ahmar, sehingga keluar darah dari rongga hidungnya. Maka datang malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ dan bertanya Nabi ﷺ kepada Jibril. Maka menghilang sebentar, lalu malaikat Jibril kembali mengajari akan doa Rihul Ahmar kepada Nabi ﷺ, kemudian dibaca doa tersebut kepada cucunya dan dengan sekejap cucu Rasulullah ﷺ sembuh serta merta. Lalu bersabda Nabi ﷺ. bahwa barang siapa membaca doa stroke/ doa Rihul Ahmar walau sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari penyakit ANGIN AHMAR atau STROKE.
 
Doa menjauhkan terhindar dari angin ahmar dan penyakit kronik:
 
اللهم إني أعوذبك من الريح الأحمر والدم الأسود والداء الأكبر
 
Allahumma inni a’uzubika minarrihil ahmar, waddamil aswad, waddail akbar.
 
Artinya;
Ya Allah Tuhanku, lindungi aku dari angin merah ,dan lindungi aku dari darah hitam (stroke) dan dan dari penyakit berat.
 
Syukron atas jawabannya ustadz, Jazakallahu khairan katsiran
 
(Fulanah, Sahabat BiAS T06 G-47)
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.
 
Keberadaan fenomena tersebut di atas adalah merupakan pembicaraan terhadap hal gaib. Dan kita TIDAK BOLEH memercayai kegaiban, melainkan harus berdasarkan wahyu, berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi ﷺ. Dan TIDAK ADA di dalam keduanya, keterangan tentang keberadaan fenomena Rihul Ahmar ini. Disebutkan dalam salah satu fatwa para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daaimah:
 
بعد النظر في الأوراق المذكورة تبين أن فيها مخالفات شرعية كثيرة، لا يجوز إقرارها ولا توزيعها بين الناس؛ لأنها تشتمل على بدع وشركيات وألفاظ غريبة، فمن ذلك:
 
قوله: (ثم تقول بصوت دون صوتك بتلاوة القرآن، ثم تقول بصوت خفيض) وتحديد الصوت بهذه الكيفية لا دليل عليه.
 
yفي قوله في الاستعاذة من شر المخلوقات ومن الريح الأحمر، وتحديد هذا النوع من الريح لا دليل عليه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ من شر الريح مطلقًا.
 
“Setelah diadakan penelitian terhadap selebaran ini, maka menjadi jelas adanya PENYIMPANGAN yang sangat banyak. Maka TIDAK BOLEH disetujui dan tidak boleh di-share di kalangan khalayak ramai, karena selebaran ini mengandung banyak kesyirikan, kebid’ahan dan lafal-lafal yang aneh. Di antaranya disebutkan di sana:
 
“Kemudian Engkau berkata dengan suara yang bukan suara-Mu dengan membaca Alquran. Kemudian engkau bersuara dengan suara rendah.”
 
Membatasi suara dengan pembatasan seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali.
 
Di dalamnya juga ada permintaan perlindungan dari keburukan makhluk dan dari keburukan Rihul Ahmar (Angin Merah). Penyebutan angin dengan kriteria seperti ini TIDAK ADA dalilnya sama sekali, karena Nabi ﷺ berlindung dari keburukan angin secara mutlak.” [Fatawa Lajnah Daimah: 24/280].
 
Wallahu a’lam
 
 
Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله
 
Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
 

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah, #DakwahSunnah

TIDAK DILARANG DUDUK MEMELUK LUTUT KETIKA KHUTBAH JUMAT

Pertanyaan:

Saya membaca satu hadis di dalam Kitab Riyadhus Shalihin tentang larangan duduk dengan menaikkan paha dan memeluk lutut, ketika khatib sedang menyampaikan Khutbah dari Mimbar ketika Shalat Jumat. Saya harap Anda dapat membantu saya memberi pencerahan tentang hal ini.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamQA, di bawah pengawasan Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alhamdulillah.

Pertama:

Hadis tentang duduk memeluk lutut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (24/393) dan At-Tirmizi (514) dari Muadz bin Anas radhiyallahuanhu, yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحبْوَة يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah ﷺ melarang duduk Ihtiba’ (memeluk atau mendekap lutut) di hari Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.” Imam At-Tirmizi mengatakan “Hadis ini Hadis Hasan.”

Duduk di dalam hadis tersebut adalah duduk dengan bersandar pada punggung, dengan paha dan betis diangkat hingga menempel atau mendekati perut, lalu memeluknya dengan kedua tangan. [Lihat al-Mu‘jam al-Waseet (1/154, 2/729)].

Para ulama berbeda pendapat tentang hadis di atas. Beberapa dari mereka menglasifikasikan hadis tersebut sebagai Hasan, seperti Syekh Al-Albani Rahimahullah di dalam Sahih At-Tirmizi, dan juga pensyarah Musnad Al-Imam Ahmad.

Beberapa ulama lainnya mengklasifikasikan hadis tersebut sebagai Dhaif, seperti Imam Nawawi di dalam Al-Majmu (4/592), Ibnul Arabi di dalam Aaridat al-Ahwadhi (1/469) dan Ibnu Muflih di dalam Al-Furuu’ (2/127).

Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu, setelah menyatakan bahwa Imam At-Tirmizi mengklasifikasikan hadis ini sebagai Hasan, berkata:

“Di dalam sanadnya terdapat dua perawi yang Dhaif (lemah), sehingga kami tidak bisa menerima klasifikasi (hadis tersebut) sebagai Hasan.”

Akhir kutipan.

Kedua:

Perawi Dhaif yang disebutkan oleh Imam Nawawi adalah Sahl bin Muadz dan Abdurrahim bin Maymun.

Tentang  Sahl bin Muadz, Ibnu Ma’in berkata:

“Beliau Dhaif.”

Ibnu Hibban berkata:

“Hadisnya sangat aneh.”

Abdurrahim bin Maimun juga disebut sebagai perawi yang Dhaif oleh Ibnu Ma’in. Abu Hatim berkata:

“Hadisnya boleh ditulis, tetapi tidak boleh dikutip sebagai hujjah.” [Lihat: Tahdheeb at-Tahdheeb (4/258, 6/308)].

Diriwayatkan pula bahwa beberapa sahabat juga duduk memeluk lutut pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, seperti Ibnu Umar dan Anas radhiyallahuanhum. Oleh karena itu, sebagian besar ulama (termasuk empat imam) berpendapat, bahwa duduk seperti ini TIDAK MAKRUH.

Ibnu Qudamah, di dalam Al-Mughni (2/88), berkata:

“Tidak ada yang salah dengan duduk sambil mengangkat dengkul ketika Imam sedang menyampaikan kutbah. Hal ini diiriwayatkan dari Ibnu Umar dan banyak sahabat Rasulullah ﷺ lainnya. Inilah pendapat Said bin Al-Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Malik, Asy-Syafii, dan Ashabur Ra’yi.”

Abu Dawud berkata:

“Saya tidak mendengar ada seseorang yang menganggapnya Makruh kecuali Ubaadah bin Nasiy, karena Sahl bin Muadz meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan mengangkat kaki pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah.”

Ibnu Qudamah Rahimahullah melanjutkan: “Akan tetapi, kami memiliki riwayat dari Ya’la bin Awas yang berkata:

“Saya berada di Baitul Maqdis (Jerusalem) dengan Muawiyah. Beliau berkumpul bersama kami, kemudian saya mengetahui dan melihat, bahwa sebagian besar dari mereka yang berada di dalam masjid adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, dan saya melihat mereka duduk memeluk lutut ketika Imam sedang menyampaikan khutbah. Hal ini dilakukan oleh Ibnu Umar dan Anas, dan kami tidak melihat adanya seseorang yang tidak setuju dengan mereka; sehingga dari sini ada konsensus (Ijma).

“Sanad dari hadis tersebut masih terus diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mundzir. Akan tetapi, akan lebih bagi kita untuk tidak melakukannya. Meskipun riwayat tersebut Dhaif, duduk dengan cara tersebut (Ihtiba’) lebih berpotensi membuat seseorang ketiduran, atau terjatuh (karena tidur), sehingga membatalkan wudhunya. Oleh karena itu, lebih baik tidak melakukannya.”

Akhir kutipan.

Imam An-Nawawi, di dalam Al-Majmu (4/457), berkata:

“Duduk dengan memeluk kaki pada waktu Jumat bagi seseorang yang mendatangi khutbah, ketika Imam sedang menyampaikan khutbah:

“Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Imam Asy-Syafii, bahwa beliau tidak menganggapnya sebagai Makruh. Ibnu Mundzir meriwayatkannya dari Ibnu Umar, Ibnu Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Ata’ bin Rabbah, Ibnu Sirin, Abu Zubair, Salim bin Abdullah, Suraih Al-Qadi, Ikrimah bin Khalid, Nafi, Malik, At-Tsauri, Al-Auzai, Ashabur Ra’yi, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.”

Beliau (Imam An-Nawawi) melanjutkan:

“Beberapa ulama hadis menganggapnya sebagai Makruh, karena sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ tentang hal tersebut, padahal sanadnya masih diperdebatkan.”

Akhir kutipan.

Beberapa ulama menyebutkan alasan kenapa duduk Ihtiba’ (memeluk lutut) ketika Imam menyampaikan Khutbah adalah Makruh.

Al-Baihaqi Rahimahullah berkata:

“Apa yang diriwayatkan di dalam hadis Muadz bin Anas, bahwa Rasulullah ﷺ melarang duduk dengan memeluk lutut atau kaki pada waktu Jumat, jika terbukti sahih, itu karena duduk dengan cara tersebut dapat membuat seseorang mudah tertidur, sehingga wudhunya kemungkinan besar menjadi batal. Jika tidak khawatir akan hal tersebut, maka tidak ada yang salah dengan duduk sambil memeluk lutut.“

Akhir kutipan.

Ma‘rifat as-Sunan wa’l-Athaar (1814)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Rasulullah ﷺ melarang Ihtiba (duduk memeluk lutut) pada waktu Jumat ketika Imam sedang menyampaikan khutbah, karena dua alasan:

Satu, karena posisi seperti ini akan menyebabkan mengantuk lalu orang tersebut tertidur dan tidak mendengarkan khutbah.”

Kedua, karena jika dia bergerak, maka auratnya akan tersingkap. Ini karena kebanyakan orang di zaman dulu hanya memakai Izar (semacam sarung) dan Rida’ (semacam jubah atasan). Dan jika seseorang bergerak atau tersungkur, maka auratnya akan terbuka.”

“Akan tetapi jika tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut, maka hukumnya boleh. Jika sebuah larangan didasarkan pada logika (alasan), maka ketika alasan tersebut hilang, maka larangannya pun batal.”

Akhir kutipan.

Sharh Riyadh as-Saaliheen (4/730-731).

Kesimpulan:

Lebih disukai untuk tidak duduk memeluk lutut ketika imam sedang menyampaikan khutbah pada waktu Jumat. Tetapi jika seseorang duduk memeluk lutut dan tidak ada kekhawatiran bahwa auratnya akan terbuka atau tertidur, maka dalam hal ini hukumnya boleh.

Wallahu’alam bish shawwab.

[Fatwa No: 129182 – Tanggal: 2014-12-04]

 

Sumber: http://islamqa.info/en/129182

 

Penerjemah: Irfan Nugroho

Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

,

HUKUM MERUSAK BARANG TEMAN SECARA TIDAK DISENGAJA

HUKUM MERUSAK BARANG TEMAN SECARA TIDAK DISENGAJA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HUKUM MERUSAK BARANG TEMAN SECARA TIDAK DISENGAJA

Pertanyaan:

Jika ada orang meminjam motor, lalu terjadi kecelakaan yang tidak disengaja, ada kerusakan tidak berat di motor itu. Ketika dikembalikan, pemilik diam saja, tidak minta diperbaiki atau ganti rugi. Apakah yang meminjam harus ganti rugi?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pernah bercerita:

Suatu ketika, Nabi ﷺ sedang berada di rumah salah satu istrinya (Aisyah). Tiba-tiba ada istri beliau yang lain (Zainab bintu Jahsy) menyuruh pembantunya untuk mengirim sepiring makanan untuk Nabi ﷺ. Melihat itu Aisyah marah dan langsung memukul piring yang masih di tangan si pembantu, hingga pecah dan berserakan. Lalu Nabi ﷺ mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan, sambil mengatakan:

غَارَتْ أُمُّكُمْ

“Ibumu sedang cemburu.”

Kemudian Nabi ﷺ mengganti dengan piring yang ada di rumah Aisyah, sementara piring yang pecah ditinggal. (HR. Ahmad 12027 dan Bukhari 5225)

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha memecahkan piring milik Zainab, Nabi ﷺ menggantinya dengan piring di rumah Aisyah, meskipun ketika itu Zainab, pemilik piring, tidak di tempat. Karena pada asalnya, merusakkan barang orang lain, harus diganti.

Bagaimana jika pemiliknya diam?

Pemilik diam, bukan berarti dia rida. Karena hukum asalnya, siapa yang merusakkan barang orang, dia harus mengganti. Kecuali jika pemilik menyatakan tidak perlu diganti.

Dalam hal ini, terdapat kaidah yang menyatakan:

لا ينسب إلى ساكت قول

“Satu pernyataan tidak dinisbahkan kepada orang yang diam”

Ketika pemilik barang diam, bukan berarti dia mengizinkan barangnya dirusak. Karena dia sama sekali tidak menyampaikan seperti itu.

Dr. Muhammad Sidqi al-Burnu menyebutkan contoh penerapan kaidah di atas:

ولو أتلف شخص مال آخر وصاحب المال يشاهد وهو ساكت، لا يكون سكوته إذناً بالإتلاف، بل له أن يضمنه

Ketika ada orang yang merusak harta orang lain, sementara pemiliknya menyaksikan dan diam saja, maka diamnya tidak menunjukkan, bahwa dia mengizinkan agar barangnya dirusak. Namun dia harus ganti rugi. ([Al-Wajiz fii Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 205]

Karena itu, ketika pemilik barang diam, orang yang merusak barang tetap harus menggantinya, meskipun itu terjadi tanpa disengaja. Kecuali jika pemilik barang menyatakan, tidak perlu diganti.

Demikian, Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://konsultasisyariah.com/29776-merusak-barang-teman-tidak-wajib-diganti.html

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

MENINGGALKAN PAKAIAN MEWAH KARENA TAWADHU???

Rasulullah ﷺ bersabda:

من تركَ اللباسَ تواضُعًا للهِ وهو يقدِرُ عليه ، دعاه اللهُ يومَ القيامةِ على رؤوسِ الخلائقِ حتى يُخَيِّرَهُ منَ أيِّ حُلَلِ الإيمانِ شاءَ يَلْبَسُهَا

“Barang siapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada Hari Kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu dia dipersilakan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai” [HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’” 6145].

Fawaid Hadis

  • Hadis ini TIDAK menunjukkan tercelanya memakai pakaian mewah, namun hadis ini memberi motivasi untuk zuhud dan tawadhu‘ (rendah hati).
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan karena tak mampu, namun karena tawadhu‘.
  • Jika meninggalkan pakaian mewah yang mampu dia beli, namun bukan dalam rangka tawadhu‘, maka tidak ada keutamaannya.
  • Meninggalkan pakaian mewah bukan berarti memakai pakaian compang-camping, namun maksudnya adalah “sederhana” (sedang-sedang saja) dalam berpakaian.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari:

http://islamqa.info/ar/228099

http://islamqa.info/ar/97019

***

Penyusun: Ustadzah Arfah Ummu Faynan, Lc.

[Artikel Muslimah.or.id]

Sumber: http://muslimah.or.id/7637-meninggalkan-pakaian-mewah-karena-tawadhu.html

JANGAN SUKA MENGADU DOMBA

JANGAN SUKA MENGADU DOMBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

JANGAN SUKA MENGADU DOMBA

-(ٍ عَنْ حُذَيْفَة َأَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلًا يَنُمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ )-

Dari Hudzaifah, bahwa telah sampai kepadanya, bahwa seorang laki-laki mengadu domba suatu pembicaraan, maka Hudzaifah berkata: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk Surga orang yang suka mengadu domba’.” [HR. Muslim. NO 151]

 

Penulis: Abu Abdillah Imam (Ghafarallahu Lahu Wa Liwaalidaihi)

,

KETIKA DATANG TAWARAN SEDEKAH

KETIKA DATANG TAWARAN SEDEKAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

KETIKA DATANG TAWARAN SEDEKAH

Seorang Muslim yang senantiasa husnuzhan dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah, dan dia tidak takut hartanya menjadi sedikit atau dia menjadi fakir, bahkan dia yakin bahwa Allah kan mengganti dengan yang lebih baik, Allah kan mengembangkan dan memberkahi hartanya. Dia tak kan takut kemiskinan.

[Dr Muhammad Majdu’ asy Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga. Courtesy @TwitUlama]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

,

KETIKA KHAWATIR DENGAN MASA DEPAN

KETIKA KHAWATIR DENGAN MASA DEPAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

KETIKA KHAWATIR DENGAN MASA DEPAN

Jiwa yang baik dan tenang tidak akan khawatir dengan gelapnya masa depan, tidak merasa lambat dengan kebaikan masa kini, tidak pula berputus asa dengan apa yang mungkin terjadi. Dia yakin bahwa apa yang sudah ditakdirkan terjadi padanya tidak mungkin meleset.

[Dr. Abdullah As Sulmi, pengajar fiqh di Perguruan Tinggi Kehakiman, Riyadh, pakar dalam fiqh jual beli kontemporer, salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Courtesy @twitulama]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

AMBISI ANAK ADAM

AMBISI ANAK ADAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

AMBISI ANAK ADAM

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Adaikata anak Adam memiliki dua lembah harta, dia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah memberi taubat kepada siapa yang bertaubat.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

 

Penulis: Dzulqarnain Muhammad Sunusi
Sumber: dzulqarnain.net