Posts

MAHASISWA YANG TAK KENAL AGAMA

MAHASISWA YANG TAK KENAL AGAMA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAHASISWA YANG TAK KENAL AGAMA
 
Sayang sekali jika ada mahasiswa yang sampai duduk di bangku kuliah tidak bisa baca Alquran, tidak kenal shalat, bahkan tidak kenal akidah yang benar. Kenyataannya tidak sedikit yang seperti itu. Cuma modal kecerdasan dan kekayaan mudah masuk kuliah, namun pengetahuan agama sangat kurang.
 
Sangat Disayangkan Jika Tidak Paham Agama
 
Coba bayangkan jika orang yang cerdas tapi shalat saja tidak dimengerti, Alquran saja tidak bisa dibaca. Apa keuntungannya kecerdasan yang ia miliki?
 
Kita sering saksikan, bahwa banyak yang tidak paham agama yang membuat kerusakan. Beda jika yang paham agama. Mereka punya akhlak mulia dan akidah yang lurus. Seorang engineer yang tidak paham syirik, ketika ingin mendirikan jembatan, ia senang-senang saja memenuhi tumbal kepala kebo. Padahal bentuk tumbal pada penjaga jembatan (jin) itu termasuk syirik. Insinyur tadi tidak mengetahui kalau hal tersebut termasuk kesyirikan, karena sampai kuliah pun tidak paham agama.
 
Begitu pula dengan seorang pegawai negeri. Ketika di bangku kuliah tidak memahami agama. Bisa saja ketika kerja mudah menerima suap atau uang tips dan menganggap sah-sah saja. Padahal sebenarnya hal itu bermasalah dalam hukum Islam. Harta yang dikumpulkan pun tidak berkah karena dari harta haram. Lihatlah tentu beda antara yang paham agama dan yang tidak paham agama. Allah taala berfirman:
 
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
 
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” [QS. Az Zumar: 9]
 
Tentang ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di berkata:
 
لا يستوي هؤلاء ولا هؤلاء، كما لا يستوي الليل والنهار، والضياء والظلام، والماء والنار.
 
“Tentu tidak sama antara mereka dan mereka (yang berilmu dan tidak berilmu). Sebagaimana tidak sama antara malam dan siang, tidak sama antara terang dan kegelapan, begitu pula tidak sama antara air dan api.”
 
Keunggulan Mahasiswa yang Paham Agama
 
Orang yang paham agama akan selalu mendapatkan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Mu’awiyah, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
 
“Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” [HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037]
Artinya, yang tidak paham agama, sulit kebaikan menghampirinya.
 
Begitu pula orang yang paham agama akan semakin mengenal Allah. Jika semakin mengenal Rabbnya, maka ia akan semakin takut pada Allah. Jika semakin takut pada-Nya, maka tentu ia pun takut mendurhakai Rabbnya dengan bermaksiat. Allah taala berfirman:
 
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Fathir: 28]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah paham agama. Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 6: 308].
 
Para ulama berkata:
 
من كان بالله اعرف كان لله اخوف
 
“Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.”
 
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
 
وَإِذَا كَانَ أَهْلُ الْخَشْيَةِ هُمْ الْعُلَمَاءُ الْمَمْدُوحُونَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَمْ يَكُونُوا مُسْتَحِقِّينَ لِلذَّمِّ وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إلَّا مَعَ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ
 
“Jika orang yang takut pada Allah adalah para ulama, lalu mereka inilah yang terpuji dalam Alquran, dan mereka pun tidak dicela. Maka merekalah yang biasa menjalankan kewajiban.” [Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 21]
 
Tidak Ada Kata Terlambat
 
Sekarang jika seorang mahasiswa tidak paham agama dan ingin belajar, tidak ada kata terlambat. Tidak sedikit dari ulama yang mengenal Islam juga ketika sudah di usia senja. Sedangkan sebagai mahasiswa, Anda masih dalam masa semangat dan masa masih bisa berpikir cerdas.
 
Coba lihat kisah Ibnu Hazm. Ia ternyata baru mengenal Islam ketika usia 26 tahun. Usia seperti itu pun, ia ternyata masih belum mengenal cara shalat yang benar. Sehingga ketika dikritik karena di usia segitu belum mengenal shalat dengan baik, ia pun lantas bertekad belajar keras. Ia pun mencari guru-guru yang bisa ia ambil ilmunya. Akhirnya dalam waktu tiga tahun ia bisa mumpuni dalam ilmu agama, sampai bisa diajak diskusi. Kisah ini disebutkan dalam kitab ‘Uluwwul Himmah karya Syaikh Muhammad Al Muqoddam.
 
Jika sebagai mahasiswa ingin belajar keras memahami agama, meski dari “NOL”, maka pasti Allah mudahkan. Karena tidak mungkin Allah menyia-nyiakan di antara hamba-Nya yang ingin menjadi baik. Coba mulai dari mempelajari akidah, mempelajari Alquran, fikih ibadah harian, dan berbagai ibadah sederhana.
Semoga Allah mudahkan.
 
Kenal Ilmu Dunia Saja, Lantas Lupa Akhirat
 
Jangan jadi orang yang hanya kenal ilmu dunia saja, namun lupa akan ilmu Akhirat. Allah taala berfirman:
 
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
 
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) Akhirat adalah lalai.” [QS. Ar Ruum: 7]
 
Gunakanlah nikmat dunia yang Allah karuniakan untuk menggapai Akhirat kita. Allah taala berfirman:
 
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
 
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” [QS. Al Qashshash: 77].
 
Ibnu Katsir berkata:
“Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan untukmu dari harta dan nikmat yang besar untuk taat pada Rabbmu dan membuat dirimu semakin dekat pada Allah dengan berbagai macam ketaatan. Dengan ini semua, engkau dapat menggapai pahala di kehidupan Akhirat.” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 6: 37].
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
 
[www.rumaysho.com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#mahasiswayangtakkenalagama #mahasiswayangtidakkenalagama #menuntutilmu #penuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #keutamaan #fadhilah #tidakadakataterlambatuntukbelajaragama #pahamagama #pemahamanagama
, ,

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH
>> Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya dia adalah agama
 
Orang yang berniat mencari ilmu yang haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari Ahli Bidah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari, sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.
 
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan:
Pertama: Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan akidah mereka bersih dari berbagai macam Bidah dan Khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu. Tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.
 
Kedua: Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu. [Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69]
 
Akan tetapi pantas disayangkan, pada zaman ini kita melihat fenomena pengambilan ilmu dari para Ahli Bidah marak di mana-mana. Padahal perbuatan tersebut sangat ditentang oleh para Ulama Salaf. Maka benarlah Rasulullah ﷺ yang telah memberitakan, bahwa hal itu merupakan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya Kiamat. Beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
 
“Sesungguhnya di antara tanda Hari Kiamat adalah ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu Ahli Bidah)” [Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81].
 
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya: “Siapakah orang-orang kecil itu?”
Beliau menjawab: “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun Shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan Shaghir (Ahli Bidah). [Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246]
 
Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan Ahli Bidah”. [Riwayat al Lalikai, 1/85]
 
Syaikh Bakar Abu Zaid, seorang ulama Saudi anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia berkata: “Waspadalah terhadap Abu Jahal (Bapak Kebodohan), yaitu Ahli Bidah yang tertimpa penyimpangan akidah, diselimuti oleh awan khurafat. Dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata ‘akal’. Dia menyimpang dari nash (wahyu). Padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan Ahlusy Syubuhat (Orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan Ahlul Ahwa’ (Orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan Ahli Bidah dengan ash Shaghir (anak-anak kecil). [Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid]
 
Dan di antara tanda Hari Kiamat yaitu “Mengambil ilmu dari orang-orang kecil (yaitu Ahli Bidah)” pada zaman ini benar-benar sudah terjadi dan terus berjalan. Sungguh telah terbukti sabda Nabi ﷺ di atas. Bahkan sudah dan sedang terjadi sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mengambil ilmu agama Islam dari orang-orang kafir, yakni para dosen yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam di berbagai perguruan tinggi di negara Barat. Wallahul musta’an.
 
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
 
اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ
 
“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya dia adalah agama.” [Kifāyah, hlm. 121]
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH” yang ditulis oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari dengan pengubahan dan penambahan sekadarnya oleh Tim Redaksi Nasihat Sahabat
 
#AbuJahal #BapakKebodohan #lihatlahdarimanakamumengambililmu #perhatikandarisiapakamumengambililmu #karenailmuiniadalahagama #janganmengambililmuagamadariahlibidah #ahlibidah #laranganmengambililmudariahlibidah #tandaHariKiamat #ilmudiambildariahlibidah #adabmenuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu #menuntutilmuagamasyari

KEWAJIBAN MENJELASKAN KEBENARAN DAN KEBATILAN BESERTA DALILNYA

Wajib Jelaskan Al Haq Benar Kebenaran Batil dg Dalilnya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

KEWAJIBAN MENJELASKAN KEBENARAN DAN KEBATILAN BESERTA DALILNYA

 

Syaikh Shālih Al Fauzān hafizhahullah berkata:

“Wajib bagi para ulama’ dan penuntut ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan kebatilan kepada manusia. Hendaknya menjelaskan kebenaran beserta dalilnya, dan menjelaskan kebatilan dengan berbagai coraknya beserta dalilnya, supaya manusia bisa mengambil kebenaran dan meninggalkan kebatilan berdasarkan ilmu. Jika tidak demikian, yaitu tidak menjelaskan kebenaran dan kebatilan, maka manusia akan bingung. Mereka menyangka kebenaran sebagai kebatilan, dan kebatilan sebagai kebenaran.” [I’anatul Mustafid, (1/491)]

 

Sumber: @muslimssay

 

 

#kewajibanmenjelaskankebenarandankebatilanbesertadalilnya #wajibjelaskankebenarandankebatilanbesertadalilnya #alhaq #batil #kebenaran #kebatilan #bathil #mengambilkebenaranmeninggalkankebatilandenganilmu #ilmu #penuntutilmu #menuntutilmu #tholabulilmi #thalabulilmi #menjelaskandengandalil

SEMANGAT MENULIS FAIDAH ILMU

SEMANGAT MENULIS FAIDAH ILMU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMANGAT MENULIS FAIDAH ILMU
 
Berkata Asy-Sya’bi rahimahullah:
 
ﺇﺫا ﺳﻤﻌﺖ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﺎﻛﺘﺒﻪ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ اﻟﺤﺎﺋﻂ
 
Jika engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah, sekalipun di dinding.
 
Shahih
Takhir Atsar: Dikeluarkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu:no.147, Ahmad dalam Al-Ilal:1/216 riwayat Abdullah, Ad-Dûlãbi dalam Al-Kuna wal-Asma:3/933, dari jalan Al-Hasan ibn Uqba dari Asy-Sya’bi.
 
Catatan:
Maksudnya adalah bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu serta menulisnya. Bukan maksud seorang itu menulis di dinding. Hal yang sangat memrihatinkan adalah banyaknya dari penuntut ilmu yang ketika menghadiri majelis-majelis ilmu tidak membawa buku catatan dan pena. Dan yang lebih menyedihkan ketika sebagian mereka sibuk dengan selfi di majelis ilmu, sehingga hilanglah berkah ilmu dari mereka. Wallahul-Musta’an.
 
 
 
 
Penulis: Muhammad Abu Muhammad Pattawe
5 Jumadal-Ula 1439
Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.
Sumber: [markazdakwah.or.id]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#semangatmenulisfaidahilmu,#tulisilmu #ikatilmudengantulisan #tulisanilmu #menuntutilmu #tholabulilmi #thalabulilmi #menuntutilmu, #penuntutilmu

,

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

DI ANTARA ADAB MAJELIS ILMU
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
 
Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan Kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka. Para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barang siapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya. [HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Adz Dzikir Wad Du’a, Bab Fadhlul Ijtima’ ‘Ala Tilawatil Qur’an Wa ‘Ala Dzikr, nomor 6793, juz 17/23. (Lihat Syarah An Nawawi) dan selainnya]
 
Arti Penting Majelis Ilmu
 
Majelis ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari para ulama Rabbani. Bahkan mengadakan majelis ilmu merupakan perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang alim. Karena hal itu merupakan martabat tertinggi para ulama Rabbani, sebagaimana firman Allah ﷻ:
 
مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
 
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. [QS. Ali Imran: 79].
 
Hal ini pun dilakukan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu, dengan sabdanya:
 
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
 
Jika kalian melewati taman Surga maka berhentilah. Mereka bertanya: ”Apakah taman Surga itu?” Beliau ﷺ menjawab: ”Halaqah zikir (majelis Ilmu). [HR. At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/4].
 
Di antara faidah majelis ilmu ialah:
• Mengamalkan perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ dan mencontoh jalan hidup para Salaf Shalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah ﷻ
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.
 
Adab Majelis Ilmu
 
Perkara yang harus diperhatikan dan dilakukan agar dapat mengambil faidah dari majelis ilmu di antaranya ialah:
 
• Ikhlas
 
Hendaklah kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu hanya karena Allah semata, tanpa disertai riya dan keinginan dipuji orang lain. Seorang penuntut ilmu hendaklah bermujahadah dalam meluruskan niatnya, karena ia akan mendapatkan kesulitan dan kelelahan dalam meluruskan niatnya tersebut. Oleh karena itu Imam Sufyan Ats Tsauri berkata: “Saya tidak merasa susah dalam meluruskan sesuatu melebihi niat.” [Lihat Tadzkiratus Sami’ Wal Mutakallim, hal.68]
 
• Bersemangat Menghadiri Majelis Ilmu
 
Kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam menghadiri majelis ilmu tanpa mengenal lelah dan kebosanan sangatlah diperlukan. Janganlah merasa cukup dengan menghitung banyaknya. Akan tetapi hitunglah berapa besar dan banyaknya kebodohan kita. Karena kebodohan sangat banyak, sedangkan ilmu yang kita miliki hanya sedikit sekali.
 
Lihatlah kesemangatan para ulama terdahulu dalam menghadiri majelis ilmu. Abul Abbas Tsa’lab, seorang ulama Nahwu berkomentar tentang Ibrahim Al Harbi: “Saya tidak pernah kehilangan Ibrahim Al Harbi dalam majelis pelajaran Nahwu atau bahasa selama lima puluh tahun”.
 
Lantas apa yang diperoleh Ibrahim Al Harbi? Akhirnya beliau menjadi ulama besar dunia. Ingatlah, ilmu tidak didapatkan seperti harta waris. Melainkan ilmu didapatkan dengan kesungguhan dan kesabaran.
 
Alangkah indahnya ungkapan Imam Ahmad bin Hambal:
‘Ilmu adalah karunia yang diberikan Allah kepada orang yang disukai-Nya. Tidak ada seorang pun yang mendapatkannya karena keturunan. Seandainya didapat dengan keturunan, tentulah orang yang paling berhak ialah Ahli Bait Nabi ﷺ.”
 
Demikian juga Imam Malik ketika melihat anaknya yang bernama Yahya keluar dari rumahnya bermain: “Alhamdulillah, Dzat yang tidak menjadikan ilmu ini seperti harta waris.”
 
Abul Hasan Al Karkhi berkata:
“Saya hadir di majelis Abu Khazim pada hari Jumat walaupun tidak ada pelajaran, agar tidak terputus kebiasanku menghadirinya.”
 
Lihatlah semangat mereka dalam mencari ilmu dan menghadiri majelis ilmu, sampai akhirnya mereka mendapatkan hasil yang menakjubkan.
 
• Bersegera Datang ke Majelis Ilmu dan Tidak Terlambat, Bahkan Harus Mendahuluinya dari Selainnya
 
Seseorang bila terbiasa bersegera dalam menghadiri majelis ilmu, maka akan mendapatkan faidah yang sangat banyak. Sehingga Asysya’bi ketika ditanya: “Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini semua,?” ia menjawab:“Tidak bergantung kepada orang lain, bepergian ke negeri-negeri, dan sabar seperti sabarnya keledai, serta bersegera seperti bersegeranya elang.” [Lihat Rihlah Fi Thalabil Hadis, hal.196]
 
• Mencari dan Berusaha Mendapatkan Pelajaran yang Ada di Majelis Ilmu yang Tidak Dapat Dihadirinya
 
Terkadang seseorang tidak dapat menghadiri satu majelis ilmu karena alasan tertentu, seperti sakit dan yang lainnya, sehingga tidak dapat memahami pelajaran yang ada dalam majelis tersebut. Dalam keadaan seperti ini hendaklah ia mencari dan berusaha mendapatkan pelajaran yang terlewatkan itu. Karena sifat pelajaran itu seperti rangkaian. Jika hilang darinya satu bagian, maka dapat mengganggu yang lainnya.
• Mencatat Fidah-Faidah yang Didapatkan dari Kitab
 
Mencatat faidah pelajaran dalam kitab tersebut atau dalam buku tulis khusus. Faidah-faidah ini akan bermanfaat jika dibaca ulang dan dicatat dalam mempersiapkan materi mengajar, ceramah dan menjawab permasalahan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu menasihati kita, jika membeli sebuah buku agar tidak memasukkannya ke perpustakaan, kecuali setelah melihat kitab secara umum. Caranya dengan mengenal penulis, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab dengan melihat daftar isi, dan membuka-buku sesuai dengan kecukupan waktu sebagian pokok bahasan kitab.
• Tenang dan Tidak Sibuk Sendiri dalam Majelis Ilmu
 
Ini termasuk adab yang penting dalam majelis ilmu. Imam Adz Dzahabi menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap di majelis Abdurrahman bin Mahdi. Pena tak bersuara. Tidak ada yang bangkit. Seakan-akan di kepala mereka ada burung. Atau seakan-akan mereka berada dalam shalat” [Tadzkiratul Hufadz 1/331]. Dan dalam riwayat yang lain: “Jika beliau melihat seseorang dari mereka tersenyum atau berbicara, maka dia mengenakan sandalnya dan keluar.” [Siyar A’lam Nubala 4/1470]
• Tidak Boleh Berputus Asa
 
Terkadang sebagian kita telah hadir di suatu majelis ilmu dalam waktu yang lama. Akan tetapi tidak dapat memahaminya kecuali sedikit sekali. Lalu timbul dalam diri kita perasaan putus asa dan tidak mau lagi duduk di sana. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi. Karena telah dimaklumi, bahwa akal dan kecerdasan setiap orang berbeda. Kecerdasan tersebut akan bertambah dan berkembang karena dibiasakan. Semakin sering seseorang membiasakan dirinya, maka semakin kuat dan baik kemampuannya. Lihatlah kesabaran dan keteguhan para ulama dalam menuntut ilmu dan mencari jawaban satu permasalahan! Lihatlah apa yang dikatakan Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqiti: “Ada satu masalah yang belum saya pahami. Lalu saya kembali ke rumah dan saya meneliti dan terus meneliti. Sedangkan pembantuku meletakkan lampu atau lilin di atas kepala saya. Saya terus meneliti dan minum the hijau sampai lewat 3/4 hari, sampai terbit fajar hari itu”. Kemudian beliau berkata: “Lalu terpecahlah problem tersebut.”
 
Lihatlah bagaimana beliau menghabiskan harinya dengan meneliti satu permasalahan yang belum jelas baginya.
 
• Jangan Memotong Pembicaraan Guru atau Penceramah
Termasuk adab yang harus diperhatikan dalam majelis ilmu yaitu tidak memotong pembicaraan guru atau penceramah. Karena hal itu termasuk adab yang jelek. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita dengan sabdanya:
 
ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
 
Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama. [Riwayat Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’].
 
Imam Bukhari menulis di Shahihnya: Bab “Orang Yang Ditanya Satu Ilmu dalam Keadaan Sibuk Berbicara, Hendaknya Menyempurnakan Pembicaraannya. Kemudian menyampaikan hadis:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
 
Dari Abu Hurairah, beliau berkata:“Ketika Rasulullah ﷺ berada di majelis menasihati kaum, datanglah seorang Arabi dan bertanya:”Kapan Hari Kiamat?” (Tetapi) beliau ﷺ terus saja berbicara sampai selesai. Lalu (beliau ﷺ) bertanya: “Mana tampakkan kepadaku yang bertanya tentang Hari Kiamat?” Dia menjawab:”Saya, wahai Rasulullah ﷺ.” Lalu beliau ﷺ berkata: “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Hari Kiamat”. Dia bertanya lagi: “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Beliau ﷺ menjawab: “Jika satu perkara diberikan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat.” [HR. Bukhari].
Rasulullah ﷺ dalam hadis ini berpaling dan tidak memperhatikan penanya untuk mendidiknya.
 
• Beradab dalam Bertanya
 
Bertanya adalah kunci ilmu. Juga diperintahkan Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Demikian pula Rasulullah ﷺ mengajarkan, bahwa obat kebodohan yaitu dengan bertanya, sebagaimana sabdanya:
 
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
 
Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya. [Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Sa’adah, hal. 174].
 
Imam Ibnul Qayim berkata:
”Ilmu memiliki enam martabat. Yang pertama, baik dalam bertanya …… Ada di antara manusia yang tidak mendapatkan ilmu, karena tidak baik dalam bertanya. Adakalanya karena tidak bertanya langsung. Atau bertanya tentang sesuatu, padahal ada yang lebih penting. Seperti bertanya sesuatu yang tidak merugi jika tidak tahu dan meninggalkan sesuatu yang mesti dia ketahui.” [Miftah Daris Sa’adah 1/169]
 
Demikian juga Al Khathib Al Baghdadi memberikan pernyataan:”Sepatutnyalah rasa malu tidak menghalangi seseorang dari bertanya tentang kejadian yang dialaminya.” [Al Faqiih Wal Mutafaaqih 1/143]
 
Adab Bertanya
 
Oleh karena itu perlu dijelaskan beberapa adab yang harus diperhatikan dalam bertanya, di antaranya:
 
a. Bertanya perkara yang tidak diketahuinya dengan tidak bermaksud menguji
Hal ini dijadikan syarat pertanyaan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:
 
فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
 
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. [QS. An Nahl: 43].
 
Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan syarat pertanyaan adalah tidak tahu. Sehingga seseorang yang tidak tahu bertanya sampai diberi tahu. Tetapi seseorang yang telah mengetahui suatu perkara diperbolehkan bertanya tentang perkara tersebut, untuk memberikan pengajaran kepada orang yang ada di majelis tersebut. Sebagaimana yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah ﷺ dalam hadis Jibril yang masyur.
 
b. Tidak boleh menanyakan sesuatu yang tidak dibutuhkan, yang jawabannya dapat menyusahkan penanya, atau menyebabkan kesulitan bagi kaum Muslimin. Sebagaimana Allah ﷻ melarang dalam firman-Nya:
 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْئَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللهُ عَنْهَا وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ
 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. Dan jika kamu menanyakan di waktu Alquran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [QS. Al Maidah: 101].
 
Dan sabda Rasulullah ﷺ:
 
إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
 
Seorang Muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan karena pertanyaannya. [Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad].
 
Oleh karena itulah para sahabat dan tabi’in tidak suka bertanya tentang sesuatu kejadian sebelum terjadi. Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Wahai Abdullah, apa yang Allah berikan kepadamu dalam kitabnya dari ilmu maka syukurilah. Dan yang Allah tidak berikan kepadamu, maka serahkanlah kepada orang alim dan jangan mengada-ada. Karena Allah taala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:
 
قُلْ مَآأَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُ بَعْدَ حِينٍ
 
Katakanlah (hai Muhammad): ”Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku. Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Alquran ini, tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Alquran setelah beberapa waktu lagi. [Shad: 86-88]. [Jami’ Bayanil Filmi Wa Fadhlihi 2/136]
 
 
c. Diperbolehkan bertanya kepada seorang alim tentang dalil dan alasan pendapatnya
Hal ini disampaikan Al Khathib Al Baghdadi dalam Al Faqih Wal Mutafaqih 2/148: “Jika seorang alim menjawab satu permasalahan, maka boleh ditanya apakah jawabannya berdasarkan dalil ataukah pendapatnya semata”.
 
d. Diperbolehkan bertanya tentang ucapan seorang alim yang belum jelas. Berdasarkan dalil hadis Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
 
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَدَعَهُ
 
Saya shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau memanjangkan shalatnya sampai saya berniat satu kejelekan? Kami bertanya kepada Ibnu Mas’ud: “Apa yang engkau niatkan?” Beliau menjawab: “Saya ingin duduk dan meninggalkannya”. [HR. Bukhari dan Muslim].
 
e. Jangan bertanya tentang sesuatu yang telah engkau ketahui jawabannnya, untuk menunjukkan kehebatanmu dan melecehkan orang lain
 
• Mengambil Akhlak dan Budi Pekerti Gurunya
Tujuan hadir di majelis ilmu bukan hanya terbatas pada faidah keilmuan semata. Ada hal lain yang juga harus mendapat perhatian serius, yaitu melihat dan mencontoh akhlak guru. Demikianlah para ulama terdahulu. Mereka menghadiri majelis ilmu, juga untuk mendapatkan akhlak dan budi pekerti seorang alim, untuk dapat mendorong mereka berbuat baik dan berakhlak mulia.
 
Diceritakan oleh sebagian ulama, bahwa majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang. Dikatakan hanya lima ratus orang yang menulis, dan sisanya mengambil faidah dari tingkah laku, budi pekerti dan adab beliau. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Abu Bakar Al Muthaawi’i berkata: “Saya menghadiri majelis Abu Abdillah, beliau sedang mengimla’ musnad kepada anak-anaknya, duabelas tahun. Dan saya tidak menulis, akan tetapi saya hanya melihat kepada adab dan akhlaknya”. [Siyar A’lam Nubala 11/316]
 
Demikianlah perihal kehadiran kita dalam majelis ilmu. Hendaklah bukan semata-mata mengambil faidah ilmu saja, akan tetapi juga mengambil semua faidah yang ada.
 
Mudah-mudahan bermanfaat.
 
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
 
 
Dinukil dari tulisa berjudul: “Adab Majelis Ilmu” yang ditulis oleh: Abu Asma Kholid Syamhudi

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#adabbermajelis #adabmajelisilmu #etika #tatacara #cara #menuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu, #adabakhlak #adabmenuntutilmu

, ,

CIRI TENTARA IBLIS DI DUNIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CIRI TENTARA IBLIS DI DUNIA
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
نواب إبليس في الأرض : هم الذين يُثبطون الناس عن طلب العلم ، والتفقه في الدين.
 
“Para wakil Iblis di muka bumi adalah mereka yang menghalangi manusia dari menuntut ilmu dan mendalami ilmu agama.” [Miftah Daris sa’adah 1/160]
 
#ciriciri #tandatanda #ciritentaraiblis #wakiliblisdimukabumi #iblis #tentaraiblisIbnulQayyim #nasihatulama #nasehatulama #petuahulama #menghalangimanusi #menuntutilmusyari #tholabulilmi #thalabulilmimenuntutilmu #mendalamiilmuagama #ilmuagamasyari
, ,

MENOLONG YANG SUSAH HINGGA FAIDAH MENUNTUT ILMU

MENOLONG YANG SUSAH HINGGA FAIDAH MENUNTUT ILMU
MENOLONG YANG SUSAH HINGGA FAIDAH MENUNTUT ILMU
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
  • “Siapa yang meringankan kesusahan dunia saudaranya, Allah akan mengangkat kesulitannya pada Hari Kiamat.
  • Siapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang susah, Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan Akhirat.
  • Siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat.
  • Allah senantiasa akan menolong hamba, selama ia menolong saudaranya.
  • Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memberikan ia kemudahan menuju Surga.
  • Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, lalu ia membaca Kitab Allah, lalu ia mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepadanya ketenangan, akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi malaikat, Allah akan senantiasa menyebutnya di sisi makhluk-Nya yang mulia.
  • Siapa yang lambat amalnya, maka kedudukan nasabnya yang mulia tidak bisa mengejar lambatnya amalnya tadi.” [HR. Muslim]
Faidah Hadis
 
• Hadis di atas menunjukkan keutamaan bagi orang yang membantu hajat kaum Muslimin dengan ilmu, harta, pertolongan, memberikan maslahat hingga nasihat.
• Menunjukkan keutamaan berjalan untuk menuntut ilmu dengan syarat mengharap wajah Allah. Karenanya hendaklah ada waktu kita yang disibukkan dengan belajar ilmu syari.
• Berkumpul di rumah Allah untuk belajar agama juga punya keutamaan mendapatkan ketenangan, naungan rahmat, dikelilingi malaikat, hingga disanjung oleh Allah di sisi makhluk-Nya yang mulia.
• Jangan bergantung pada bagusnya nasab, sedangkan amalan begitu kurang.
 
 
Referensi:
Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir. Cetakan pertama, Tahun 1415 H. Muhammad Khair Ramdhan Yusuf. Penerbit Dar Ibnu Hazm. hlm. 72.
 
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mutiarasunnah, #hadits, #hadist # adhilah, #keutamaan #menuntutilmu #tholabulilmi, #thalabulilmi #menutupiaibsaudaranya #meringankankesusahansaudaranya #memberikankemudahanbagisaudaranya, #menolonghamba #mudahkanjalanmenujuSurga

WAHAI ORANG-ORANG YANG ENGGAN MENUNTUT ILMU

WAHAI ORANG-ORANG YANG ENGGAN MENUNTUT ILMU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
WAHAI ORANG-ORANG YANG ENGGAN MENUNTUT ILMU
 
Asy-Syaikh Muhammad Ghalib Al-‘Amri hafizhahullah
 
Al-‘Allamah Ibnu Sa’di rahimahullahberkata:
Wahai orang-orang yang enggan menuntut ilmu …
Apa alasan kalian kepada Allah meninggalkan ilmu, padahal kalian masih merasakan nikmat kesehatan?
Apa yang menghalangi kalian dari ilmu, padahal kalian berlezat-lezat dengan rezeki dari Rabb kalian?
Apakah kalian rida menjadi seperti hewan ternak yang digembalakan?
Apakah kalian lebih memilih hawa nafsu daripada petunjuk, dalam keadaan hati-hati kalian lalai dan bimbang?
Apalah kalian rela menjalani jalan-jalan kebodohan yaitu jalan-jalan yang tidak berharga. Lalu kalian meninggalkan jalan-jalan petunjuk, yaitu jalan-jalan yang jelas lagi bermanfaat?
Apakah kalian rida:
Jika nanti ditanyakan kepada kalian “Siapa Rabb-mu, apa agamamu dan siapa nabimu, kemudian kalian tidak dapat menjawabnya?
Juga ketika kalian ditanya: “Bagaimana cara kamu salat dan beribadah?”, lalu kamu salah dalam menjawabnya?
Bagaimana kamu melakukan jual beli dan bermuamalah, sedangkan kamu tidak mengetahui halal haramnya?
Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya keadaan ini tidaklah dapat diterima, kecuali oleh orang-orang yang menyerupai hewan ternak!!
Maka, jadilah kalian -rahimakumullah- para penuntut ilmu!!
Jika kalian tidak mampu melakukannya, maka hadirilah majelis-majelis ilmu sebagai mustami’ yang mengambil faidah. Bertanyalah kepada ulama dengan tujuan mendapatkan bimbingan dan penjelasan.
Jika kalian tidak juga mau melakukannya, bahkan kalian mengabaikan ilmu secara total, pastilah kalian akan binasa dan menjadi golongan yang rugi.
Apakah kamu tidak mengetahui:
Bahwa sibuk dengan ilmu termasuk ibadah yang paling mulia, bentuk ketaatan serta pendekatkan diri kepada Allah yang paling utama, dan mendatangkan rida Pemilik langit dan bumi?
Majelis ilmu yang kamu duduk padanya lebih baik bagimu daripada dunia dan seisinya?
Faidah yang kamu peroleh dan bermanfaat bagimu, tidak ada sesuatu pun dari dunia yang dapat mengimbangi dan menyamainya?
 
———————–
Aku katakan:
Alangkah benar apa yang disampaikan Syaikh Abdurrahman As-Si’di, alangkah indah dan menakjubkan tegurannya.
Maka, ilmu itu, demi Allah, adalah harta karun yang orang-orang cerdas berlomba-lomba mendapatkannya, juga orang-orang berakal bersegera untuk menempuh jalannya.
Ilmu itu menjaga pemiliknya dari syahwat dan syubhat, serta membantunya untuk berpegang teguh dan mantap di atas agamanya.
Alangkah kurang perhatian manusia tentang ilmu! Dan alangkah cepatnya kebinasaan mereka pada perkara selain ilmu!
Hingga kita berada di satu zaman yang tidaklah kamu temukan seorang penuntut ilmu yang tekun, jujur lagi bersemangat, komitmen dan memiliki tekad yang tinggi, kecuali hanya pada kisah-kisah orang terdahulu dan hanya ada pada kitab-kitab yang tertulis.
 
Ya Allah, ampunilah kami…
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#menuntutilmu, #penuntutilmu, #tholabulilmi, #thalabulilmi #keutamaan #fadhilah

TIGA CARA AGAR TIDAK KENDOR SEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU

TIGA CARA AGAR TIDAK KENDOR SEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
TIGA CARA AGAR TIDAK KENDOR SEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU
 
Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor.
 
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:
“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” [HR. Muslim no. 2664]
 
Imam Nawawi mengatakan tentang hadis di atas:
“Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah. Selalu berharaplah pada Allah, dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan, dan jangan lemah dari mencari pertolongan.” [Syarh Shahih Muslim, 16: 194]
 
Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar, yang beliau simpulkan dari hadis di atas:
  1. Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.
  2. Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut.
  3. Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.
 
 
Sumber: Rumaysho.Com
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#menuntutilmu, #penuntutilmu, #tholabulilmi, #thalabulilmi, #tuntutilmu, #tigacara, #3cara, #tidakpatahsemangat, #tidakkendorsemangat, #belajarilmuagama, #ilmuagama #tips #saran #nasihatulama #nasehatulama

HATI-HATI DENGAN NIAT MEMPELAJARI ILMU

HATI-HATI DENGAN NIAT MEMPELAJARI ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HATI-HATI DENGAN NIAT MEMPELAJARI ILMU
>> Tiga Niatan yang Benar dalam Menuntut Ilmu
 
Di antara ibadah yang paling penting yang mudah mendekatkan seorang hamba pada Allah adalah Tholabul ‘Ilmi atau Belajar Ilmu Agama. Sedangkan perkara yang amat penting yang perlu diperhatikan dan selalu dikoreksi adalah niat dalam belajar. Tidak ada kebaikan yang diperoleh jika seseorang ketika belajar malah ingin mencari rida selain Allah. Oleh karena itu para ulama sangat memperhatikan niatnya dalam belajar, apakah sudah benar ataukah tidak. Karena jika tidak ikhlas, maka dapat mencacati ibadah yang mulia ini.
 
Syaikh ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir mengatakan, bahwa ada tiga perkara yang mesti dipenuhi agar seseorang disebut memiliki niatan yang benar dalam menuntut ilmu:
 
Pertama: Menuntut ilmu diniatkan untuk beribadah kepada Allah dengan benar.
 
Kedua: Berniat dalam menuntut ilmu untuk mengajarkan orang lain. Sehingga para ulama seringkali mengatakan, bahwa hendaklah para pria menguasai perkara haid, agar bisa nantinya mengajarkan istri, anak dan saudara perempuannya.
Imam Ahmad ditanya mengenai apa niat yang benar dalam belajar agama. Beliau menjawab: “Niat yang benar dalam belajar adalah apabila belajar tersebut diniatkan untuk dapat beribadah pada Allah dengan benar dan untuk mengajari yang lainnya.”
Dari sini menunjukkan, bahwa niat belajar yang keliru adalah jika ingin menjatuhkan atau mengalahkan orang lain, atau ingin mencari kedudukan mulia di dunia.
 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Barang siapa menuntut ilmu hanya karena ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di Neraka.” [HR. Hakim dalam Mustadroknya]
 
Ketiga: Istiqamah atau terus menerus dalam amal dan menuntut ilmu butuh waktu yang lama (bukan hanya sebentar).
 
Dalam belajar itu butuh kesungguhan. Muhammad bin Syihab Az Zuhri berkata:
“Yang namanya ilmu, jika engkau memberikan usahamu seluruhnya, ia akan memberikan padamu sebagian.”
 
Dalam Hadis Riwayat Muslim, Abu Katsir berkata:
“Ilmu tidak diperoleh dengan badan yang bersantai-santai.” [HR. Muslim no. 612]
 
Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat dan niatan yang ikhlas dalam belajar serta beramal.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.com]

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat