Posts

, ,

TIGA DOA YANG JANGAN ENGKAU LUPAKAN DALAM SUJUDMU

TIGA DOA YANG JANGAN ENGKAU LUPAKAN DALAM SUJUDMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

TIGA DOA YANG JANGAN ENGKAU LUPAKAN DALAM SUJUDMU

Syeikh Abdul Aziz Bin Baaz, semoga Allah merahmatinya, berkata:

Merupakan tiga doa yang janganlah engkau lupakan dalam sujudmu:

1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan Husnul Khotimah:

١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة

Allahumma inni as’aluka husnal khotimah.

Artinya:

”Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah”

2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan tobat sebelum wafat

٢. اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut.

Artinya:

”Ya Allah aku berilah aku rezeki tobat nasuha (atau sebenar-benarnya tobat) sebelum wafat.”

3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas agama-Nya.

٣. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinik.

Artinya:

”Ya Allah, wahai Sang Pembolak Balik Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU”.

Kemudian saya sampaikan, jika kau sebarkan perkataan ini, dan kau berniat baik denganya, maka semoga menjadikan mudah urusan urusanmu di dunia dan Akhirat.

Peringatan:

Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah engkau ketahui, amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke Surga Allah.

Dan berkata Syeikh Khalid: Ulangilah.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الذي لا إله الا هو الحيى القيوم و وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِه

Astaghfirullahal-ladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaih, ‘adada kholqih, wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘Arsyih, wa midaada kalimaatih.

Artinya:

Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada Sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya, sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.

  • Maka dengan izin Allah, kau akan lihat keajaiban dari diredakannya kekhawatiranmu dan dimudahkanya urusanmu,
  • Janganlah kau sembunyikan keutamaan (zikir)
  • Setiap nafas pada menit kehidupan kita, tidaklah akan kembali.
  • Maka jadikanlah dirimu merasakan manisnya beristighfar.
  • Yaa Allah Jadikanlah nasihatku ini sedekah jariyah bagiku dan kedua orang tuaku dan untuk seluruh umat Muslimin.

Silakan simak videonya dengan durasi 53 detik: Syaikh Bin Baz rahimahullah: “Tiga Doa Yang Jangan Kalian Lupakan Ketika Sujud”: https://youtu.be/zeEAKWqCtMM

 

, ,

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

BISIKAN SETAN LEWAT TIGA IKATAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” [HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776]

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur, dengan mengatakan ‘Malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi ﷺ memberikan solusinya:

(1) Bangun tidur lalu berzikir pada Allah, kemudian
(2) Berwudhu, kemudian
(3) Mengerjakan shalat

Faidah dari berzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faidah dari zikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, bahwa zikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. [Lihat mengenai Fawaid Zikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153].

Di antara zikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah zikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

Artinya:

Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan. [HR. Bukhari no. 6325]

Atau bisa pula membaca zikir berikut:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

ALHAMDULILLAAHILLADZIY ‘AAFAANIY FIY JASADIY, WA RODDA ‘ALAYYA RUUHIY, WA ADZINA LIY BIDZIKRIH

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berzikir kepada-Nya]. [HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani]

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman, di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.” [HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani].

Adapun orang yang tidak bangun Subuh, hakikatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan, sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Subuh?

Disebutkan di akhir hadis, bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Subuh. Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:

  • Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.
  • Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-Subuh.html

 

,

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

SERBA-SERBI SEBELUM RAMADAN TIBA

 

>> Doa Sebelum Masuk Ramadan

Pertanyaan:

Adakah doa khusus sebelum memasuki Ramadan?

Jawaban:

Tidak diketahui ada doa khusus yang dibaca saat masuk Ramadan. Yang ada hanyalah doa umum ketika melihat hilal (masuknya bulan Hijriyah). Dan doa itu dibaca saat melihat hilal Ramadan maupun bulan lainnya. Lafal doanya ialah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal Islaami. Robbii wa Robbukallah.”

Artinya:

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” [HR. Ahmad III/17, at-Tirmidzi 3451, dan yang lainnya]

Jika dia ingin berdoa agar bisa menjalankan puasa secara sempurna dan agar pahala dari ibadah yang dikerjakannya diterima oleh Allah, maka ini juga tidak masalah.

Demikian kesimpulan dari keterangan asy-Syaikh Shaalih al-Fauzaan hafizhahullah dalam: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/7445

 

>> Hukum Ucapan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’

Asy-Syaikh Shaalih bin Fauzaan bin Abdillah al-Fauzaan hafizhahullah pernah ditanya:

Pertanyaan:

Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya Ramadan?

جـ: التهنئة بدخول شهر رمضان لا بأس بها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبشر أصحابه بقدوم شهر رمضان، ويحثهم على الاجتهاد فيه بالأعمال الصالحة، وقد قال الله تعالى‏:‏

‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ‏ ‏[‏ يونس ‏:‏ 58‏]‏

فالتهنئة بهذا الشهر والفرح بقدومه يدلان على الرغبة في الخير، وقد كان السلف يبشر بعضهم بعضًا بقدوم شهر رمضان؛ اقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم

Jawaban:

“Mengucapkan ucapan selamat atas masuknya Ramadan hukumnya boleh, karena Nabi Muhammad ﷺ juga biasa memberi kabar gembira pada para sahabat atas masuknya Ramadan, serta mendorong mereka untuk sungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh di dalamnya. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” [QS. Yunus: 58]

Sehingga memberi ucapan selamat lantaran berjumpa Ramadan dan bergembira dengan kedatangannya menunjukkan antusiasmenya pada kebaikan. Sebagaimana Salaf (orang-orang saleh terdahulu) juga saling mengabarkan pada sebagian mereka akan tibanya Ramadan, yang itu mereka lakukan dalam rangka meneladani Nabi Muhammad ﷺ yang juga melakukannya [Lihat: HR. an-Nasaa’i 2106, Ahmad, dll –pent].”

Sumber:  http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7452

 

>> Dosa Juga Akan Berlipat Saat Ramadan?

Pertanyaan:

Apakah dosa pada bulan Ramadan juga dilipatgandakan?

Jawaban:

Dosa ketika Ramadan tidak akan berlipat ganda dalam hal hitungan. Dalam artian, jika dia melakukan satu kejahatan ketika Ramadan, maka dosa yang dia dapatkan ya tetap satu. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Allah ﷻ:

{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan, melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’aam: 160)

Namun dalam hal ukuran, satu dosa yang dilakukan ketika Ramadan akan lebih berat dalam hal timbangan dan balasannya. Benar dosanya tetap satu dosa, tapi satu dosa itu lebih berat dari satu dosa, pada hari-hari biasa, dengan kemaksiatan yang sama. Allah ﷻ berfirman:

{وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Siapa yang bermaksud di dalam Masjidil Haram melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” [QS. al-Haj: 25]

Dalam ayat ini Allah ﷻ memersiapkan siksa yang tidak sebatas siksa, namun disifati dengan siksa yang pedih, bagi orang-orang yang melakukan tindak kezaliman di tempat yang Allah muliakan. Dari ayat ini ulama mengambil petikan hokum, bahwa dosa yang dilakukan pada tempat yang Allah muliakan, atau waktu yang Allah muliakan, akan menjadi berat dalam hal siksa yang didapatnya. Oleh karena Ramadan ialah bulan paling mulia di sisi Allah, maka demikian pula kondisi maksiat yang dilakulan di bulan tersebut.”

Lihat:

  • – Fataawaa Ibn Baaz,  XV/446-448
  • – Asy-Syarh al-Mumti’, V/262

 

Sumber:  Telah Tersebut di Atas

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam situs Nasehat Etam ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/282/serba-serbi-sebelum-Ramadan#sthash.CcwuaR6k.dpuf

, ,

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatPuasaNabi
#SeriPuasaRamadan

TETAP BERUSAHA PUASA MESKI SEDANG SAKIT

Pertanyaan:

Mumpung Ramadan, rasanya sayang untuk tidak puasa, meski sedang sakit. Bolehkah perbuatan semacam ini?

Jawaban:

Apabila puasa akan semakin memberatkan diri dan kesehatannya, maka yang paling bagus dia tidak berpuasa. Tidak puasa saat sakit merupakan salah satu keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala suka jika keringanan yang Dia berikan, digunakan oleh si hamba. Dalam hadis yang shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika keringanan-keringanan yang Dia berikan dijalankan, sebagaimana halnya Dia benci jika larangan-Nya dilanggar.” [HR. Ahmad (5866) dan Ibnu Hibban (2742). Dinilai shahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir demikian pula Muhaqqiq Musnad].

Kesimpulan masalah diterangkan oleh Pakar Fikih abad ini, asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah:

إذا كان يشق عليه الصوم ولا يضره، فهذا يكره له أن يصوم، ويسن له أن يفطر . . . وإذا كان يشق عليه الصوم ويضره، كرجل مصاب بمرض الكلى أو مرض السكر، وما أشبه ذلك، فالصوم عليه حرام

“Jika dia merasa berat puasa lantaran sakit, namun tidak sampai membahayakan, maka makruh jika dia puasa dan sunnah hukumnya dia berbuka. Sedang jika dia berat untuk puasa dan bahkan bisa membahayakan dirinya andaikata puasa, seperti halnya orang yang terkena penyakit liver atau diabetes, maka hukum puasanya haram.” [Asy-Syarh al-Mumti’: VI/341]

Sehingga BUKAN perkara terpuji, bilamana dia sakit berat, namun tetap memaksa berpuasa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah juga mengatakan:

وبهذا نعرف خطأ بعض المجتهدين من المرضى الذين يشق عليهم الصوم وربما يضرهم، ولكنهم يأبون أن يفطروا فنقول: إن هؤلاء قد أخطأوا حيث لم يقبلوا كرم الله ـ عزّ وجل ـ، ولم يقبلوا رخصته، وأضروا بأنفسهم، والله ـ عزّ وجل ـ يقول: {وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ} [النساء: ٢٩

“Dengan penjelasan ini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang sakit yang semangat untuk puasa, padahal puasa itu memberatkan, dan bahkan bisa menimbulkan bahaya atas dirinya, yaitu mereka enggan untuk tidak puasa. Kami katakan: ‘Sesungguhnya orang-orang semacam itu telah keliru, saat mereka tidak menerima kebaikan dan keringanan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan itu juga berarti mereka telah menimpakan mudarat pada diri mereka sendiri! Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. an-Nisaa’: 29) (Idem, VI/342]

 

Rangkaian tulisan seputar puasa dalam Majmu’ah al-Mubarakah ini dikumpulkan oleh: Abdush Shamad Tenggarong -Semoga Allah menjaganya dan meluruskan tiap langkahnya-

Sumber: http://nasehatetam.com/read/310/tetap-berusaha-puasa-meski-sakit#sthash.X3q3juGy.dpuf

 

, , ,

APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?

APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  
#AdabAkhlak
#FatwaUlama
APAKAH DISYARIATKAN MENGUCAPKAN SALAM SETIAP KALI MELEWATI KUBURAN MUSLIMIN?
 
Pertanyaan:
Apakah disyariatkan mengucapkan salam ketika melewati kuburan Muslimin?
 
جـ: الأفضل أن يسلم حتى ولو كان ماراً؛ ولكن قصد الزيارة أفضل وأكمل
 
Jawaban asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
“Yang lebih utama ia tetap mengucapkan salam walau hanya sebatas lewat saja. Akan tetapi bila ia bermaksud pula untuk ziarah tentu hal ini lebih utama dan sempurna.”
 
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu daerah, yang di sana terdapat pemakaman kaum Muslimin, dan tiap hari saya melewati jalan yang berada di sisi kuburan itu. Bahkan dalam sehari lebih dari sekali saya melaluinya. Kewajiban apa yang harus saya jalankan dalam kondisi ini? Apakah saya mesti mengucapkan salam terus pada para penghuni kubur? Atau apa yang mesti saya lakukan? Berikanlah bimbingan kepadaku
 
جـ: ويشرع لك كلما مررت على القبور أن تسلم على أصحابها وتدعو لهم بالمغفرة والعافية، وليس ذلك واجبا، وإنما هو مستحب وفيه أجر عظيم، وإن مررت ولم تسلم فلا حرج
 
Jawaban asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah:
“Disyariatkan bagimu untuk mengucapkan salam, tiap kali kamu melewati kubur, dan juga memohonkan ampunan dan keselamatan tiap kali melewatinya.
 
Namun hal itu tidaklah wajib. Hukumnya ialah sunnah, dan pada amalan tersebut terdapat pahala yang besar. Sedang bila ia melewati kuburan tanpa mengucapkan salam, maka hal ini pun tidak dipermasalahkan.” [Melalui: al-Jaami’ li Fiqh al-‘Allamah Ibn Baaz, 420]
 
, ,

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#DoaZikir

SALAM KETIKA LEWAT PEKUBURAN

Bagi kita yang tinggal di wilayah yang melewati pemakaman kaum Muslimin, jangan lewatkan faidah-faidah penting berikut, dari pertanyaan yang diajukan kepada asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah.

Pertanyaan:
Apakah disyariatkan mengucapkan salam ketika melewati kuburan Muslimin?

جـ: الأفضل أن يسلم حتى ولو كان ماراً؛ ولكن قصد الزيارة أفضل وأكمل

Jawaban:
“Yang lebih utama ia tetap mengucapkan salam walau hanya sebatas lewat saja. Akan tetapi bila ia bermaksud pula untuk ziarah tentu hal ini lebih utama dan sempurna.”
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu daerah, yang di sana terdapat pemakaman kaum Muslimin, dan tiap hari saya melewati jalan yang berada di sisi kuburan itu. Bahkan dalam sehari lebih dari sekali saya melaluinya. Kewajiban apa yang harus saya jalankan dalam kondisi ini? Apakah saya mesti mengucapkan salam terus pada para penghuni kubur? Atau apa yang mesti saya lakukan? Berikanlah bimbingan kepadaku.

جـ: ويشرع لك كلما مررت على القبور أن تسلم على أصحابها وتدعو لهم بالمغفرة والعافية، وليس ذلك واجبا، وإنما هو مستحب وفيه أجر عظيم، وإن مررت ولم تسلم فلا حرج

Jawaban:
“Disyariatkan bagimu untuk mengucapkan salam, tiap kali kamu melewati kubur, dan juga memohonkan ampunan dan keselamatan tiap kali melewatinya.

Namun hal itu tidaklah wajib. Hukumnya ialah sunnah, dan pada amalan tersebut terdapat pahala yang besar. Sedang bila ia melewati kuburan tanpa mengucapkan salam, maka hal ini pun tidak dipermasalahkan.” [Melalui: al-Jaami’ li Fiqh al-‘Allamah Ibn Baaz, 420]

Ada beberapa lafal salam yang Shahih dari Nabi Muhammad ﷺ, di antaranya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

 

ASSALAMU ’ALAIKUM AHLAD-DIYAAR MINAL MU’MINIINA WAL MUSLIMIIN. YARHAMULLOOHUL MUSTAQDIMIINA MINNAA WAL MUSTA’KHIRIIN.
WA INNA INSYAA ALLOOHU BIKUM LA-LAAHIQUUN
WA AS ALULLOOHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH.
 
Artinya:
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam.
Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami, dan orang-orang yang datang belakangan.
Kami insya Allah akan menyusul kalian. Saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Hadis ini diajarkan kepada A’isyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau bertanya kepada Nabi ﷺ  tentang doa yang dibaca pada saat ziarah kubur. [HR. Ahmad 25855, Muslim 975, Ibnu Hibban 7110, dan yang lainnya]

Bisa juga dengan bacaan yang lebih ringkas:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi kuburan, kemudian beliau berdoa:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

ASSALAAMU ‘ALAIKUM DAARO QOUMIN MUKMINIIN WA INNAA IN SYAA ALLOH BIKUM LAA HIQUUN.

Artinya:
“Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum Mukiminin. Kami insyaaAllah akan menyusul kalian.” [HR. Muslim 249]

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.

 

Sumber:

http://www.nasehatetam.com/read/118/salam-ketika-lewat-pekuburan

https://konsultasisyariah.com/20865-doa-ziarah-kubur.html

,

KAIDAH MENGGABUNGKAN IBADAH SEJENIS

KAIDAH MENGGABUNGKAN IBADAH SEJENIS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KaidahFikih

KAIDAH MENGGABUNGKAN IBADAH SEJENIS

 

إِذَا اجْتَمَعَتْ عِبَادَتَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ تَدَاخَلَتْ أَفْعَالُـهُمَا وَاكْتَفَى عَنْهُمَا بِفِعْلٍ وَاحِدٍ إِذَا كَانَ مَقْصُوْدُهُـمَا وَاحِدًا

Apabila dua ibadah sejenis berkumpul, maka pelaksanaannya digabung. Dan cukup dengan melaksanakan salah satunya, jika keduanya memunyai maksud yang sama.

Makna Kaidah

Kaidah ini merupakan implementasi dari prinsip taisir (kemudahan) dalam agama yang mulia ini. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan:

“Ini merupakan nikmat dan kemudahan dari Allah ﷻ, di mana satu amalan bisa mewakili beberapa amalan sekaligus.” [Al-Qawa’id wal Ushulul Jami’ah wal Furuq mat Taqasimul Badi’atun Nafi’ah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tahqiq Syaikh Dr. Khalid bin Ali bin Muhammad al-Musyaiqih, Cet. II 1422 H/2001 M, Dar al-Wathan li an-Nasyr, Riyadh, hlm. 93]

Kaidah ini menjelaskan tentang dua ibadah atau lebih yang berkumpul dalam satu waktu. Timbul pertanyaan, apakah seseorang diperbolehkan hanya melaksanakan salah satunya, dengan tetap terhitung mengerjakan semuanya? Bisakah ia meraih pahala semua ibadah itu hanya dengan melaksanakan salah satunya? Para Ulama menjelaskan, bahwa hal itu bisa, apabila terpenuhi empat syarat: [Lihat syarat-syarat ini dalam Talqihul Afhamil ‘Aliyyah bi Syarh al-Qawi’idil Fiqhiyyah, Syaikh Walid bin Rasyid as-Sa’idan, Kaidah ke-18]

Pertama: Ibadah tersebut jenisnya sama. Yaitu shalat dengan shalat, thawaf dengan thawaf dan semisalnya. Jika jenisnya berbeda, seperti shalat dengan puasa, maka tidak bisa digabungkan.

Kedua: Ibadah itu berkumpul dalam satu waktu. Seperti Thawaf Ifadhah (yang ditunda pelaksanaannya sampai menjelang pulang ke kampung halaman) dan Thawaf Wada’.

Ketiga: Salah satu dari kedua ibadah tersebut tidak dilakukan dalam rangka mengqadha’ ibadah wajib yang pernah ditinggalkan. Jika salah satunya dilakukan dalam rangka qadha’, maka kedua ibadah tidak bisa digabungkan. Oleh karena itu, seseorang yang tertinggal shalat Zuhur karena tertidur sampai datang waktu Ashar, maka tidak boleh baginya mengerjakan hanya empat rakaat shalat dengan niat shalat Zuhur dan Ashar. Dia wajib melaksanakan shalat Zuhur, kemudian shalat Ashar. [Lihat Tuhfatu Ahli at-Thalab fi Takrir Ushul Qawa’id Ibni Rajab, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tahqiq Dr. Khalid bin Ali bin Muhammad al-Musyaiqih, Cet. II, Tahun 1423 H, Dar Ibni al-Jauzi, Damam, hlm. 18]

Empat: Salah satu ibadah tersebut bukan pengikut atau pengiring ibadah lainnya. [Lihat pembahasan tentang syarat-syarat ini dalam at-Ta’liq ‘ala al-Qawa’id wal Ushulil Jami’ah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Cet. I, 1430 H, Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, Unaizah, hlm. 216]. Jika salah satunya pengikut bagi yang lain, maka tidak bisa digabungkan. Oleh karena itu, shalat sunnah Qabliyah Subuh yang merupakan salah satu sunnah Rawatib misalnya, tidak bisa digabung dengan shalat Subuh, karena shalat sunnah Rawatib mengikuti shalat wajibnya. [Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islami, Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Cet. II, Tahun 1432 H/2011 M, Pustaka Al Furqon, Gresik, hlm. 208]. Demikian pula, orang yang punya utang puasa Ramadan dan mengqadha’nya di bulan Syawal dengan niat qadha’ sekaligus puasa sunnah enam hari Syawal, tidaklah mendapatkan kecuali puasa qadha’ saja. Karena puasa Sunnah Syawal tidak bisa dikerjakan, kecuali jika ia telah menyempurnakan kewajiban puasa Ramadan.

Sebagian Ulama yang lain menyebutkan dua syarat tambahan: [Talqihul Afhamil ‘Aliyyah bi Syarh al-Qawa’idil Fiqhiyyah, kaidah ke-18]

Hendaknya salah satu ibadah yang digabung itu lebih besar dari yang lainnya. Seperti Thawaf Ifadhah dengan Thawaf Wada’, yang mana Thawaf Ifadhah lebih wajib daripada Thawaf Wada’. Mandi janabah dengan mandi Jumat, di mana mandi janabah lebih wajib dari mandi Jumat.

Ketika mengerjakan ibadah itu, si pelaku meniatkan kedua ibadah itu, atau meniatkan ibadah yang lebih besar. Jika ia meniatkan ibadah yang lebih kecil, maka hanya itulah yang ia raih.

Apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi dalam dua ibadah atau lebih, maka ibadah-ibadah itu bisa digabungkan, dan cukup mengerjakan satu ibadah saja, dan mendapatkan pahala semua ibadah itu. Namun jika dipisah pelaksanaan masing-masing ibadah tersebut, artinya masing-masing dilaksanakan, maka tidak diragukan lagi bahwa itu lebih sempurna. Pembolehan ini sebagai bentuk kemudahan dan keringanan bagi mukallaf.

Dalil Yang Mendasarinya

Kaidah yang mulia ini masuk dalam keumuman sabda Nabi ﷺ:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: إِنَّـمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّـمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin al-Khathab rahimahullah, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih, atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya.” [HR. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]

Contoh Penerapan Kaidah

Di antara contoh permasalahan yang masuk dalam implementasi kaidah ini adalah sebagai berikut:

Apabila Jumat pagi seorang laki-laki dalam keadaan janabah. Maka ketika itu terkumpul padanya dua tuntutan, yaitu kewajiban mandi janabah dan mandi Jumat. Dalam hal ini, jika ia hanya mandi sekali saja dengan niat mandi janabah dan mandi Jumat, atau dengan niat mandi janabah saja, maka itu sudah cukup, dan ia mendapatkan pahala dua ibadah tersebut. [Lihat Talqihul Afhamil ‘Aliyyah bi Syarh al-Qawa’idil Fiqhiyyah, kaidah ke-18]

Jika seseorang berwudhu kemudian masuk masjid setelah azan Zuhur, maka ketika itu disyariatkan baginya melaksanakan tiga shalat sunnah, yaitu shalat sunnah wudhu, shalat Tahiyyatul Masjid, dan shalat sunnah Qabliyah Zuhur. Dalam keadaan ini, cukup baginya melaksanakan shalat dua rakaat dengan niat ketiga shalat, dan mendapatkan pahala ketiga shalat tersebut. [Dalam masalah ini Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa jika seseorang meniatkan ketiga shalat tersebut maka ia mendapatkan ketiganya. Jika ia meniatkan salah satunya saja maka jika yang diniatkan adalah shalat sunnah Qabliyah, maka ia juga mendapat ketiganya. Jika yang diniatkan adalah shalat sunnah wudhu saja maka ia hanya mendapatkan shalat sunnah wudhu dan tahiyyatul masjid. (at-Ta’liq ‘ala al-Qawd’id wal Ushulil Jami’ah, hlm. 217)].

Barang siapa melaksanakan puasa sunnah enam hari Syawal pada hari-hari yang disunnahkan berpuasa, seperti puasa hari-hari Ayyamul Bidh, [Hari-hari bidh adalah tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah. Disunnahkan berpuasa pada hari hari tersebut berdasarkan hadits Abu Dzar rahimahullah riwayat at-Tirmidzi no. 761, an-Nasa-i no. 2422 dan selainnya. Dihasankan Syaikh al-Albani dalam lrwa-ul Ghalil no. 9947 dan as-Shahihah no. 1567], maka ia mendapatkan pahala dua puasa sunnah tersebut, yaitu puasa Sunnah Syawal dan puasa hari-hari Ayyamul bidh. [Talqihul Afhamil ‘Aliyyah bi Syarh al-Qawa’idil Fiqhiyyah, kaidah ke-18.]

Jika seseorang menyimak bacaan Alquran dari dua orang, dan keduanya sama-sama membaca Ayat Sajdah, maka cukup baginya melakukan sekali sujud tilawah saja. [Kaidah-Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islami, Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, hlm. 211]

Apabila seseorang bangun dari tidur malam dan ingin berwudhu, maka ketika itu terkumpul padanya dua tuntutan ibadah, yaitu kewajiban mencuci kedua tangan tiga kali, sebelum memasukkannya ke bejana, [Sebagaimana disebutkan dalam HR. al-Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu] dan Sunnah mencuci tangan tiga kali ketika awal wudhu. Dalam hal ini, cukup baginya mencuci kedua tangan tiga kali dengan niat mencuci yang wajib, dan tercakup di dalamnya yang sunnah, karena ibadah yang kecil tercakup dalam ibadah yang besar.

Jika seseorang masuk masjid dan mendapatkan jamaah sedang melaksanakan shalat Zuhur, maka terkumpul pada haknya ketika itu dua ibadah, shalat fardhu dan shalat Tahiyyatul Masjid. Jika ia masuk mengikuti shalat Zuhur, maka telah tercakup shalat Tahiyyatul Masjid sebagai pengikut. [Talqihul Afhamil ‘Aliyyah bi Syarh al-Qawa’idil Fiqhiyyah, kaidah ke-18]

Dalam ibadah haji, jika seseorang mengakhirkan pelaksanaan Thawaf Ifadhah menjelang kembalinya ke kampung halaman, maka ketika itu wajib baginya melaksakan dua thawaf, Thawaf Ifadhah dan Thawaf Wada’. Dalam hal ini, cukup baginya melaksanakan satu kali thawaf dengan niat keduanya, atau dengan niat Thawaf Ifadhah saja, dan telah tercakup di dalamnya Thawaf Wada’ sebagai pengikut. Adapun jika niatnya hanya Thawaf Wada’ saja, maka ia tidak mendapatkan, kecuali apa yang ia niatkan itu, yaitu Thawaf Wada’. [Lihat Taqrirul Qawa’id wa Tahrirul Fawaid, al-Imam al-Hafizh Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hambali rahimahullah, Ta’liq Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman, Cet. I, Tahun 1419 H/1998 M, Dar Ibni Affan li an-Nasyri wa at-Tauzi, Khubar, Jilid 1, hlm. 149-150]

Wallahu a’lam.

 

Sumber: Majalah as-Sunnah, No. 12 Thn.XV_1433H, Rubrik Qawaid Fiqhiyyah

Tulisan disalin dari dokumen yang ada di www.ibnumajjah.wordpress.com

Kaidah: MENGGABUNGKAN IBADAH SEJENIS

TAUHID ADALAH IKATAN CINTA YANG HAKIKI DAN ABADI

TAUHID ADALAH IKATAN CINTA YANG HAKIKI DAN ABADI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

TAUHID ADALAH IKATAN CINTA YANG HAKIKI DAN ABADI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]

#Beberapa_Pelajaran:

Hanya Satu Cinta Yang Akan Bertahan

Dalam ayat yang mulia ini Allah ta’ala mengabarkan, bahwa hubungan saling mencintai yang akan tetap kekal sampai Hari Kebangkitan, hanyalah persaudaraan yang dibangun di atas dasar ketakwaan. Dan sebesar-besarnya sifat orang yang bertakwa serta dasar dan pondasi ketakwaan adalah tauhid.

  • Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

إِلَّا الْمُتَّقِينَ يعني الموحِّدين

“Kecuali orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menauhidkan Allah.” [Zaadul Masir, 4/83]

  • Asy-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahumallaah berkata:

“Di antara keistimewaan tauhid adalah, tauhid merupakan ikatan yang hakiki dan abadi ,yang akan terus berlanjut di dunia dan Akhirat. Dan tidak ada suatu ikatan di antara manusia secara mutlak yang semisal dengan ikatan tauhid, sebab ikatan antara orang-orang yang bertauhid dan beriman ini adalah iktatan yang abadi, dan akan terus berlanjut selamanya di dunia dan Akhirat.

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Dan Allah ta’ala berfirman di ayat yang lain:

وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

“Dan (ketika) segala hubungan antara mereka (kaum musyrikin) terputus sama sekali.” (Al-Baqoroh: 166)

Maknanya, terputus semua keterkaitan dan hubungan. Maka semua hubungan akan terputus, semua kecintaan akan pergi, semua ikatan akan berakhir, kecuali kecintaan, hubungan dan ikatan tauhid, dan keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla.” [Min Ma’aalimit Tauhid, hal. 15]

Bacalah Pelajaran Berikutnya:

  • SIAPAKAH ORANG YANG BERTAKWA?
  • KUATNYA PERSAUDARAAN DI ANTARA AHLUT TAUHID
  • HUBUNGAN ERAT ANTARA KEIMANAN DENGAN PERSAUDARAAN DAN SIFAT KASIH SAYANG
  • KECINTAAN DAN KASIH SAYANG TERHADAP AHLUT TAUHID TERMASUK KEIMANAN
  • MENOLONG SEORANG MUSLIM ADALAH AMAL SHALIH YANG SANGAT AGUNG
  • KESUNGGUHAN SETAN DALAM MEMECAH BELAH DAN MELEMAHKAN DAKWAH TAUHID
  • APA YANG DIMAKSUD CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH?
  • TIGA GOLONGAN MANUSIA DALAM KECINTAAN DAN KEBENCIAN
  • PUTUSKAN HUBUNGAN CINTA YANG SEMU

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/768919443257540:0

 

[Disadur dari buku TAUHID, PILAR UTAMA MEMBANGUN NEGERI, Cet. Ke 2 1437 H, karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah]

 

 

,

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL-MUHAJIRIN WAL ANSHAR DEPOK APRIL 2017

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL-MUHAJIRIN WAL ANSHAR DEPOK APRIL 2017

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#InfoDonasi

IMBAUAN TAAWUN PERBAIKAN MASJID AL-MUHAJIRIN WAL ANSHAR DEPOK APRIL 2017

Ramadan sebentar lagi tiba. Saatnya kita berbenah untuk menyambutnya,

Di antara ibadah yang sangat agung kepada Allah ta’ala adalah memakmurkan Rumah Allah, sebagaimana Firman Allah:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir” (At Taubah : 18)

Bentuk memakmurkan masjid bisa pemakmuran secara lahir, maupun batin. Sedangkan pemakmuran masjid secara lahiriah, adalah menjaga fisik dan bangunan masjid, sehingga tetap terjaga kebersihan, kerapihan sehingga menciptakan rasa khusyuk bagi yang beribadah di dalamnya.

Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan manusia untuk mendirikan bangunan masjid di perkampungan, kemudian memerintahkan untuk membersihkannya dan memberinya wangi-wangian.

(Shohih Ibnu Hibban, Syuaib Al Arnauth mengatakan sanad hadis tersebut Shahih sesuai syarat Bukhari)

Oleh karenanya, kami mengajak kepada seluruh kaum Muslimin untuk bertaawun dalam memakmurkan masjid Al Muhajirin Wal Anshor Depok, khususnya dalam hal pemeliharaan, kebersihan dan perbaikan fasilitas masjid.

Kebutuhan dana diperkirakan sekitar 75 juta Rupiah, yang akan digunakan untuk kebutuhan pengecatan ulang, renovasi kebocoran atap, perbaikan kerusakan toilet, dll

Bagi yang ingin bertaawun bisa melalui:

  • Rekening Bank Mandiri
  • Nama Rekening: DKM Al Muhajirin Wal Anshor
  • Nomer Rekening: 1570003425148

Dengan menambah digit 1 di belakangnya (contoh Rp 100.001)

Konfirmasi:

WhatsApp/SMS: 08989900101

Jazakumullahu Khoiron

,

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi
#FatwaUlama

KAPAN MULAI DAN BERAKHIRNYA WAKTU SHOLAT DHUHA? KAPAN WAKTU PALING AFDHALNYA?

  • Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

Pertanyaan:

Alhamdulillah selama ini saya rutin menjalankan sholat Dhuha sebelum berangkat kerja. Setelah mandi pagi saya langsung wudhu dan segera menunaikan sholat Dhuha (sholat Dhuha yang saya laksanakan mulai dari jam 07.00 – 07.30), karena setelah jam tersebut saya harus segera berangkat ke kantor.

Suatu waktu saya dinasihati oleh seorang teman tentang waktu-waktu yang diharamkan untuk melaksanakan sholat, dan saya pun segera mencari info di internet. Ternyata dari info yang saya dapat “Jam 06.00 – 07.45 adalah WAKTU YANG DIHARAMKAN UNTUK SHOLAT”.

Yang ingin saya tanyakan:

Bagaimana dengan jadwal sholat Dhuha pada kalender Islam (kebanyakan), yang waktunya dimulai jam 06.18 ? Apakah sholat Dhuha tetap syah?

Bagaimana jika cuaca mendung ? Apa tidak masalah kita tetap sholat Dhuha sesuai jadwal sholat pada kalender? Mohon penjelasan segera lengkapnya

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Secara bahasa, “Dhuha” diambil dari kata Ad-Dhahwu [Arab: الضَّحْوُ] artinya siang hari yang mulai memanas. (Al-Ain, kata: ضحو). Allah berfirman:

وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى

”Di Surga kamu tidak akan mengalami kehausan dan kepanasan karena sinar matahari” [QS. Thaha: 119].

Kaitannya dengan makna bahasa kata Dhuha pada ayat di atas, Allah menyebutkan kenikmatan ketika di Surga, salah satunya tidak kepanasan karena sinar matahari, yang itu diungkapkan dengan kata: [وَلَا تَضْحَى].

Sedangkan menurut ulama Ahli Fikih, Dhuha artinya:

ما بين ارتفاع الشمس إلى زوالها

”Waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal (tergelincirnya matahari). [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221].

Waktu Mulainya Shalat Dhuha

Sebelumnya kita awali dengan hadis tentang waktu larangan shalat. Terdapat hadis yang menyebutkan waktu larangan untuk shalat. Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu di mana Nabi ﷺ melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut, atau menguburkan jenazah kami:

[1] Ketika matahari terbit sampai tinggi,

[2] Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan

[3] Ketika matahari miring hendak tenggelam, sampai benar-benar tenggelam.” [HR. Muslim no. 1926]

Pada hadis di atas, ada dua waktu yang mengapit waktu Dhuha:

[1] Ketika matahari terbit sampai tinggi

[2] Ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir

Ketika matahari sudah terbit, mulai kapan shalat Dhuha sudah boleh dilaksanakan? Apakah tepat setelah terbit, ataukah ditunggu sampai agak tinggi?

Ulama berbeda pendapat mengenai waktu mulainya shalat Dhuha. Sebagaian ulama Syafi’iyah berpendapat, bahwa waktu mulainya shalat Dhuha adalah tepat setelah terbitnya matahari. Namun dianjurkan untuk menundanya sampai matahari setinggi tombak. Pendapat ini diriwayatkan An Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah.

Sebagian ulama Syafi’iyah lainnya berpendapat, bahwa shalat Dhuha dimulai ketika matahari sudah setinggi kurang lebih satu tombak. Pendapat ini ditegaskan oleh Ar Rofi’i dan Ibn Rif’ah.

Demikian yang menjadi pendapat Imam Abu Syuja’ dalam matan At-Taqrib, ketika beliau menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Hal yang sama juga menjadi pendapat Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab: “Satu tombak adalah 2 meter menurut standar ukuran sekarang.” [Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167]. Sebagian ulama’ menjelaskan, jika diukur dengan waktu, maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.

Waktu Akhir Shalat Dhuha

Batas akhir waktu shalat Dhuha adalah sebelum waktu larangan shalat, yaitu ketika bayangan tepat berada di atas benda, tidak condong ke Timur atau ke Barat. Untuk menentukan batas akhir waktu Dhuha, kita bisa perhatikan bayangan benda. Selama bayangan benda masih condong ke arah Barat, meskipun sedikit, berarti waktu Dhuha masih ada. Kemudian ketika bayangan benda lurus dengan bendanya, tidak condong ke Barat maupun ke Timur, waktu shalat Dhuha telah habis. Karena matahari persis berada di atas benda. Ada sebagian yang memberikan acuan, kurang lebih 15 menit sebelum masuk Zuhur.

Cara Mudah Menentukan Batas Waktu Shalat Dhuha

Saat ini banyak kalender yang dilengkapi jadwal shalat yang diterbitkan oleh Depag atau Tarjih Muhammadiyah, termasuk beberapa kampus Islam. Kita bisa perhatikan, waktu terbit matahari dan waktu Zuhur.

  • Batas Awal Waktu Dhuha: Waktu terbit matahari tambahkan 15 menit
  • Batas Akhir Waktu Dhuha: Waktu Zuhur kurangi 15 menit.

Waktu Dhuha Yang Paling Afdhal

Waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah ketika matahari sudah mulai panas (dekat dengan waktu berakhirnya Dhuha). Sebagaimana riwayat dari Al Qosim As Syaibani, bahwasanya Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu melihat beberapa orang melakukan shalat Dhuha, kemudian Zaid mengatakan: “Andaikan mereka tahu, bahwa shalat setelah waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

”Shalat para Awwabin adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” [HR. Muslim 748].

Awwabin artinya orang yang suka kembali pada aturan Allah.

Sebagian ulama mengatakan: “Shalat pada waktu ini dikaitkan dengan Awwabin, karena umumnya pada waktu tersebut, jiwa manusia condong untuk istirahat. Akan tetapi orang ini menggunakan waktu tersebut untuk melakukan ketaatan, dan menyibukkan diri dengan melakukan shalat. Meninggalkan keinginan hati menuju rida Penciptanya.” [Faidhul Qadir, 4/216]

Imam An-Nawawi mengatakan: Ulama madzhab kami (Syafi’iyah) mengatakan: “Waktu ketika matahari mulai panas adalah waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha, meskipun dibolehkan shalat sejak terbit matahari, sampai menjelang tergelincirnya matahari. [Syarh Shahih Muslim, 6/30].

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com]

Sumber:  https://konsultasisyariah.com/21925-waktu-sholat-Dhuha.html