Posts

,

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
 
Ada keutamaan tersendiri bagi orang yang tidak ketinggalan Takbiratul Ihram bersama imam selama 40 hari lamanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari Takbiratul Ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari siksa Neraka dan terbebas dari kemunafikan.” [HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini Hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652]
 
Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i), bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih. Lantas ia menemui Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ menyatakan:
“Ini barangkali karena engkau sering luput dari Takbiratul Ihram bersama imam.”
Abu Umamah pun berkata:
“Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari Takbiratul Ihram bersama imam?”
Nabi ﷺ bersabda:
“Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” [Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43]
 
Hadis di atas punya penguat diriwayatkan dari Ibnu Syahin dalam At-Targhib (1: 157), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takbiratul pertama yang didapati bersama imam lebih baik dari memiliki seribu unta.” [Disebutkan pula oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Kabir, no. 10720]
 
Bisa tidak ya dilakukan? Pasti bisa, jika berusaha sembari meminta tolong pada Allah. Ingatlah, tidak ada yang memudahkan kita dalam ibadah, kecuali dengan pertolongan Allah.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#SifatSholatNabi #SifatShalatNabi, #janganketinggalan, #jangantertinggal, #takbiratulihram #,takbiratulihrom, #bersamaimam, #bertakbiratulihram, #bertakbiratulihrom, #takbiratulpertama, #seribuunta, #seribuonta, #keutamaan, #utama, #fadhilah, #fadilah #1000unta, #1000onta #terbebasdarisiksaNeraka, #terbebasdarikemunafikan, #terbebasdarimunafik, #siksaNeraka, #munafik, #munafiqun, #kemunafikan, #bebas, #terbebas  #tidak ketinggalan, #arbain, #40 harilamanya, #selama40hari, #berturutturut #SifatSholatNabi,#SifatShalatNabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat #terlambat, #masbuk, #masbuq, #ketinggalan, #tertinggal
,

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#SifatSholatNabi
 
MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
 
Pertanyaan:
Jika masbuk dapat Tasyahud tiga kali, apakah kita baca dua Tasyahud Awal satu Tasyahud Akhir, atau dua kali baca seperti biasa, dan yang satu Tasyahud hanya ikuti gerakan imam tanpa baca?
 
Jawaban:
Setiap makmum masbuk, diperintahkan untuk menyusul jamaah shalat di mesjid dan mengikuti imamnya, dalam keadaan apa pun sang imam berada: berdiri kah, rukuk kah, sujud kah atau duduk kah. Kemudian ia harus meng qadha’ rakaat yang tertinggal setelah imamnya salam. Tidak ada pilihan lain baginya selain itu.
 
Berangkat dari sini, si masbuk tetap harus mengikuti imamnya membaca Tasyahud. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya sebagai berikut:
 
Ada seseorang yang menyusul imamnya ketika Tasyahud Akhir, apakah dia cukup membaca Tasyahud saja, ataukah juga membaca shalawat dan doa? Tolong sebutkan dalilnya!
 
Jawab beliau:
Jika ia mendapati imamnya pada saat Tasyahud, maka ia mengikutinya dan membaca Tasyahud dan melanjutkannya hingga selesai, sebab ia duduk dalam kondisi itu tidak lain ialah demi mengikuti imamnya, sehingga hendaknya ia mengikuti sang imam dalam duduk, sekaligus dalam membaca bacaan yang disyariatkan ketika duduk tersebut. Inilah yang masyru’ baginya.
 
Namun andai ia mencukupkan dengan bacaan Tasyahud Awal saja, maka kuharap tidak mengapa. Namun afdhalnya ialah ia mengikuti bacaan imamnya secara lengkap, dan ini berangkat dari keumuman sabda Nabi ﷺ:
 
(فما أدركتم فصلّوا)
 
Yang artinya: “Apa saja yang kalian dapati, maka shalatlah” Demikian pula dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:
 
(إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فليصنع كما يصنع الإمام)
 
Yang artinya, “Bila seseorang mendatangi shalat jamaah, sedangkan imamnya berada dalam kondisi tertentu, maka perbuatlah sebagaimana yang diperbuat Imam tersebut.” [Fatawa Islamiyah 1/300].
 
Kesimpulannya:
Antum membaca Tasyahud sesuai dengan imamnya. Kalau misalnya masbuk shalat Maghrib 1 rakaat, berarti Tasyahud yang pertama membaca Tasyahud saja, lalu yang kedua membaca Tasyahud di tambah shalawat dan doa, demikian pula bacaannya pada saat Tasyahud ketiga.
 
Namun jika mendapati imam Tasyahud Akhir, maka dia ikut membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa, lalu pada Tasyahud kedua cukup membaca Tasyahud saja, sedangkan Tasyahud ketiga membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa.
 
Wallahu a’lam
 
Referensi:
 
Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA
 
, ,

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
>> Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
 
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kalian, semoga Allah memberikan ganjaran kepada kalian, tentang seorang makmum yang hendak shalat Maghrib bersama imam, ia telah tertinggal satu rakaat. Apakah jika imam duduk Tawaruk pada Tasyahud akhir, makmum mengikuti duduk sang imam dalam keadaan Tawaruk, ataukah Iftirasy? Karena duduk Tasyahud akhirnya imam adalah Tasyahud awal bagi si makmum.
 
Jawaban:
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita, jika seorang makmum shalat bersama imam yang jumlah rakaatnya empat atau tiga, imam telah mendahuluinya dalam sebagian rakaat, maka makmum duduk Tasyahud akhir bersama imam dalam keadaan Tawaruk, bukan Iftirasy. Alasan mengikuti imam dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perselisihan, berdasarkan hadis:
 
إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه
 
“Imam itu diangkat untuk ditaati. Maka janganlah kalian menyelisihinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”]
 
Dikatakan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’ [(1/248)]:
“Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam ketika imam Tawaruk. Karena bagi imam, itu merupakan akhir dari shalat, walaupun bagi si makmum, itu bukan akhir shalat. Dalam kondisi ini, si masbuk duduk Tawaruknya sebagaimana ketika ia sedang Tasyahud kedua. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya 4 rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan Syarahnya: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam pada saat Tasyahud akhir dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat dan shalat Maghrib”.
 
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam dalam duduk Tasyahud yang ia dapatkan bersama imam, disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si makum. Sebagaimana ia juga duduk Tawaruk pada Tasyahud kedua, yang setelah ia menyelesaikan rakaat sisanya. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi, setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Wallahu A’lam.
 
 
 
Penerjemah: Wiwit Hardi Priyanto
[Artikel Muslim.Or.Id]

 

,

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NgeRIBAnget, #SayNoToRiba

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

Apa yang dimaksud cicilan 0%?

Contohnya adalah beli HP dengan harga Rp 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi Rp 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba?

Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%.

Hal seperti ini BERMASALAH karena adanya akad menyetujui transaksi riba.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, bahwa tetap TIDAK DIBOlehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya:

  • Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram.
  • Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya uzur, yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384)

Dan perlu dipahami, bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya.

Ibnu Katsir menyatakan, bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo: “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287)

Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber: https://rumaysho.com/16124-cicilan-0-masih-bermasalah.html

,

JIKA TERTINGGAL TARAWIH NAMUN BELUM ISYA

JIKA TERTINGGAL TARAWIH NAMUN BELUM ISYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatSholatNabi

JIKA TERTINGGAL TARAWIH NAMUN BELUM ISYA

Terkadang dengan kesibukan bisa jadi kita tertinggal shalat Tarawih dan belum shalat Isya. Misalnya tenaga kesehatan yang harus menjaga pasien, tenaga keamanan yang harus berjaga-jaga, dan berbagai keperluan penting darurat lainnya yang tidak bisa ditinggalkan.

Jika Tertinggal Shalat Tarawih Dan Belum Shalat Isya

Syaikh Muhammad Saleh Al-Munajjid hafidzahullah berkata:

إذا فاتتك صلاة العشاء ، وجئت والإمام يصلي التراويح ، فالأولى أن تدخل خلفه بنية العشاء ، فإذا سلم أتممت صلاتك ، ولا تصل منفردا ، ولا مع جماعة أخرى ، حتى لا تقام جماعتان في وقت واحد فيحصل بذلك تشويش وتداخل في الأصوات

“Jika engkau tertinggal shalat Isya, ketika engkau datang imam sedang shalat Tarawih, maka hendaknya engkau ikut shalat bersama imam dengan niat shalat Isya. Jika imam telah salam (selesai shalat), engkau sempurnakan shalat Isya (misalnya Anda dapat shalat dua rakaat besama imam, maka Anda tidak ikut salam bersama imam, bangkitlah dan sempurnakan dua rakaat lagi sendirian, untuk menyelesaikan shalat Isya. Jika sudah selesai shalat Isya, Anda bergabung lagi untuk shalat Tarawih bersama imam, pent).”

Janganlan engkau shalat (Isya’) sendirian, dan jangan dengan jamaah yang lain, agar tidak didirikan dua jamaah shalat dalam satu waktu. Karena bisa membuat was-was dan campur aduknya suara.

Jika Tertinggal Shalat Tarawih

Misalnya ketika datang imam sudah shalat Tarawih satu atau dua rakaat,

Syaikh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:

ذا حضرت مع الناس وهم يصلون صلاة التراويح وقد فاتني شيء منها فهل أقضي ما فاتني بعد الوتر أم ماذا أصنع؟

Jika saya menghadiri shalat Tarawih bersama jamaah, kemudian saya tertinggal (beberapa rakaat), apakah saya meng-qadha shalat yang tertinggal setelah Witir, atau apa yang harus saya lakukan?

فأجاب: ” لا تقض ما فاتك بعد الوتر، لكن إن كنت تريد أن تقضي ما فاتك، فاشفع الوتر مع الإمام، ثم صل ما فاتك ثم أوتر. وهنا مسألة أنبه عليها: لو جئت والإمام يصلي التراويح وأنت لم تصلِ العشاء فماذا تفعل؟ هل تصلي العشاء وحدك أم تدخل مع الإمام في التراويح بنية العشاء؟

الجواب: أدخل مع الإمام في التراويح بنية العشاء، وإذا سلم الإمام من التراويح فقم واقض ما بقي عليك من صلاة العشاء، وقد نص الإمام أحمد رحمه الله على هذه المسألة بعينها، واختارها شيخ الإسلام ابن تيمية ، وهي القول الراجح ؛ لأن القول الراجح : أنه يجوز أن يأتمّ المفترض بالمتنفل بدليل حديث معاذ بن جبل رضي الله عنه أنه كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وآله وسلم صلاة العشاء ثم يرجع إلى قومه فيصلي بهم تلك الصلاة، هي له نافلة ولهم فريضة ” انتهى من “اللقاء الشهري”

Beliau menjawab:

Hendaknya jangan engkau qadha shalat yang tertinggal setelah Witir. Jika engkau ingin meng-qadha shalat yang tertinggal, maka genapkanlah shalat Witir bersama imam (maksudnya, ketika imam salam shalat Witir, Anda bangkit untuk menggenapkannya, sehingga tidak terhitung shalat Witir, karena Witir harus ganjil. Maka hal ini akan terhitung sebagai shalat Tarawih, pent). Engkau shalat untuk mencapai apa yang tertinggal, kemudian shalat Witir.

Ini adalah pemasalahan yang aku ingatkan: Jika engkau dating, dan imam sedang shalat Tarawih, sedangkan engkau belum shalat Isya’, apa yang harus dilakukan? Apakah shalat Isya’ sendiri, atau ikut shalat bersama imam dengan niat Isya’?

Jawab:

Ikutlah bersama imam shalat Tarawih, jika imam telah salam shalat Tarawih, maka engkau bangkit dan sempurnakan sisa shalat Isya. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan hal ini, dan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat ini. Ini adalah pendapat yang rajih. Yaitu boleh menjadi makmun shalat wajib, dengan imam yang shalat sunnah. Dengan dalil, bahwa Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu shalat Isya bersama Nabi ﷺ, kemudian ia balik ke kampungnya untuk menjadi imam shalat Isya. Maka ia mendapat pahala sunnah, sedangkan kaumnya shalat wajib. [Liqa’as Syahri]

Lebih baik jika meng-qadha shalat dengan cara berjamaah jika mudah. Misalnya shalat dengan istri di rumah. Wallahu a’lam.

Demikian semoga bermanfaat.

Banyak mengambil faidah dari http://Islamqa.info/ar/ref/93747

 

Penyusun: dr Raehanul Bahraen

Sumber: https://Muslimafiyah.com/jika-tertinggal-shalat-tawarih-dan-belum-shalat-Isya.html

, , ,

JANGANLAH ENGKAU MENGANGGAP ALLAH LAMBAT MENGABULKAN DOAMU

JANGANLAH ENGKAU MENGANGGAP ALLAH LAMBAT MENGABULKAN DOAMU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus
#NasihatUlama

JANGANLAH ENGKAU MENGANGGAP ALLAH LAMBAT MENGABULKAN DOAMU

Bismillaah… Allahumma sholli wa sallim ‘ala Nabiyyinaa Muhammadin

من آثار السلف الصالح .

Mutiara Salafus Shalih

‏قال يحيى بن معاذ:

لا تستبطئ الإجابة وقد سددت طريقها بالذنوب .

[سير اعلام النبلاء (13/15)]

 

Berkata Yahya bin Mu’adz:

“Janganlah engkau menganggap (Allah) lambat mengabulkan doamu, karena sungguh engkau telah menutupi jalan terkabulnya doa, dengan dosa-dosamu.” [Siyar A’lam An-Nubala: 15/13].

Alhamdulillaahirobbil ‘aalaamin

 

,

MENUNTUT ILMU AGAMA, JALAN SUKSES MENUJU TAUBAT (SEPENGGAL NASIHAT SEBELUM TERLAMBAT)

MENUNTUT ILMU AGAMA, JALAN SUKSES MENUJU TAUBAT (SEPENGGAL NASIHAT SEBELUM TERLAMBAT)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

MENUNTUT ILMU AGAMA, JALAN SUKSES MENUJU TAUBAT (SEPENGGAL NASIHAT SEBELUM TERLAMBAT)

  • Saudaraku, bertaubatlah sebelum terlambat, karena ajal tidak pernah menunggumu bertaubat.
  • Saudaraku, berbekallah tuk menghadapi suatu hari, saat penyesalan tiada lagi berarti.
  • Saudaraku ingatlah, sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan tidak mungkin seseorang mencapai derajat takwa, sebelum ia beramal dengan ikhlas karena Allah ta’ala dan meladani Rasulullah ﷺ.

>> Maka jauhilah segala bentuk syirik dan semua perusak amalan seperti riya’ dan sum’ah; yaitu memerlihatkan dan memerdengarkan amalan agar dipuji orang.

>> Jauhilah hal-hal baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, agar selamat dari kesesatan.

>>Hindarkanlah dirimu dari kemaksiatan, besar maupun kecil, agar selamat dari azab yang pedih.

Dan ketahuilah, tidak mungkin seseorang dapat menggapai semua itu tanpa menuntut ilmu agama yang berdasarkan Alquran dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Salaf.

Semakin dalam ilmu agama yang dipelajari seseorang, maka ia semakin mudah masuk Surga dan semakin dekat kepada kebaikan dunia dan Akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqoloni Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadis ini adalah, siapa yang tidak melakukan Tafaqquh Fid diin (Berusaha memahami agama), yaitu tidak memelajari kaidah-kaidah dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka sungguh ia telah diharamkan untuk meraih kebaikan.” [Fathul Baari, 1/165]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/776649309151220:0

,

PERINGATAN KERAS DARI TERTIPU DENGAN DUNIA

PERINGATAN KERAS DARI TERTIPU DENGAN DUNIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

PERINGATAN KERAS DARI TERTIPU DENGAN DUNIA

  • Nasihat Yang Menyentuh Hati

Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan, semoga Allah menjaganya, berkata:

“Berapa kali kita menyaksikan manusia bergegas mencari dunia dengan penuh tergesa-gesa, karena takut akan terluput dari mereka.

Dan kita menyaksikan mereka bersantai-santai serta terlambat ketika menghadiri masjid-masjid untuk menunaikan sholat lima waktu, yang hal itu merupakan tiang agama.

Berapa kali kita menyaksikan mereka duduk-duduk di pinggir jalan serta di toko-toko berjam-jam lamanya. Bahkan sungguh terkadang mereka rela menghadapi panas terik dan dinginnya cuaca, hanya demi mencari dunia.

Dan kita tidak pernah menyaksikan mereka bersabar duduk beberapa menit di masjid, untuk menunaikan sholat wajib atau untuk membaca Alquran.

Berapa kali kita menyaksikan sebagian pemuda Islam, yang mereka saling berlomba-lomba menuju lapangan bola, rela mengeluarkan biaya demi mendapatkan tiket masuk. Kemudian mereka berkumpul di dalamnya sampai ribuan jumlahnya. Dan terkadang mereka menghabiskan siang hari serta begadang pada malam hari, sambil rela berdiri,dengan mata terbelalak, tubuh yang letih dan suara-suara teriakan seraya fokus menyaksikan para pemain, kira-kira tim manakah yang akan menang?

Mereka rela memikul semua keletihan tersebut di jalan setan. Apabila mereka diseru untuk menghadiri sholat lima waktu di masjid-masjid dengan lafal:

  • “Hayya ‘alashsholah (Mari kita sholat) ” dan
  • “Hayya ‘alal falah (Mari kita menuju kemenangan) “

Mereka pura-pura buta, tuli, berpaling dan mengingkari seruan tersebut. Seakan-akan sang muadzin menyeru untuk masuk ke dalam penjara, atau seakan-akan sang muadzin mengharapkan kehinaan.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ruku’lah, niscaya mereka tidak mau ruku’.

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan (Almursalat:48-49).

Pada hari betis disingkapkan, dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak mampu.

(Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera (Al qolam:42-43).

Wahai kaum Muslimin

Inilah keadaan kebanyakan dari kita pada hari ini, yaitu menyambut kenikmatan dunia dan berpaling dari kenikmatan Akhirat.

Kita tidak mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului kita:

  • Tidak memerhatikan orang-orang dibsekitar kita
  • Tidak tersentuh dengan sebuah nasihat
  • Tidak mengambil manfaat dari sebuah peringatan

Maka, inna lillah wa inna ilaihi roji’un

Dan kita memohon kepada Allah, agar Dia menganugerahi kita sebuah taubat, serta menyadarkan hati-hati kita dari kelalaian.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengabulkan.

 

 مـوعـظـة_مـؤثـرة

قال فضيلة الشيخ صالح الفوزان حفظه الله تعالى:

« كم نرى الناس يتراكضون لطلب الدنيا مسرعين يخافون أن تفوتهم

ونراهم يقعدون ويتأخرون عن حضور المساجد لأداء الصلوات الخمس التي هي عمود الدين،

 كم نراهم يجلسون في الشوارع والدكاكين الساعات الطويلة وقد يقاسون شدة الحر والقر لطلب الدنيا

بينما لا نراهم يصبرون على الجلوس دقائق معدودة في المسجد لأداء الصلاة أو تلاوة القرآن،

 كم نرى من شباب المسلمين يتسابقون إلى ملاعب الكرة ويدفعون الدراهم للحصول على تذاكر الدخول ثم يحتشدون فيها ألوافاً مؤلفة وربما يقضون النهار ويسهرون الليل واقفين على أقدامهم شاخصة أبصارهم ناصبة أبدانهم مبحوحة أصواتهم يشاهدون اللاعبين لمن تكون الغلبة منهم؟

يتحملون كل هذه المتاعب في سبيل الشيطان، وإذا دعوا إلى حضور الصلوات في المساجد بحي على الصلاة حي على الفلاح عموا وصموا وولوا وأعرضوا كأن المؤذن يدعوهم إلى سجن أو كأنه يطلب منهم مذمة،

{ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لا يَرْكَعُونَ وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ }

{ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ * خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

 

Referensi:

Khutbah tentang  “Peringatan Keras Dari Tertipu Dengan Dunia”

[Kitab Alkhuthob Alminbariyyah Jilid  1 hal. 313-314].

,

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa Rasul ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat  dua rakaat Qabliyah Subuh. Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga muazin mengumandangkan Iqamat?!

Jawaban:

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunat 2 rakaat sebelum Subuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat sebelum (sholat) fajar (Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan Iqamat sedang dikumandangkan, maka kita harus langsung sholat Subuh bersama imam, dan TIDAK BOLEH menjalankan sholat Qabliyah, saat Iqamat sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada sholat, kecuali sholat yang diwajibkan” (HR. Muslim: 1160).

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk sholat Subuh, lalu Rasulullah ﷺ melihat seseorang sholat, padahal muadzin sedang mengumandangkan Iqamat, maka beliau ﷺ mengatakan: “Apakah kamu sholat Subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seseorang sedang sholat, padahal Iqamat sholat Subuh telah dikumandangkan, maka beliau ﷺ pun mengatakan kepadanya, sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu? Dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian sholat Subuh empat rakaat” (HR. Muslim: 1162).

Kedua: Sebaiknya kita meng-qodho’ sholat Qabliyah Subuhnya setelah itu, sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah Iqamat sholat, maka aku pun sholat Subuh bersamanya. Kemudian beliau ﷺ beranjak pergi dan mendapatiku akan sholat, beliau ﷺ mengatakan: “Sebentar wahai Qois, apakah dua sholat bersamaan?!” Aku pun mengatakan: Ya Rasulullah, sebenarnya aku belum sholat dua rakaat Qabliyah Fajar, maka beliau ﷺ mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).

Ketiga: Meng-qodho sholat sunnah yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya sholat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodho adalah keringanan bagi mereka yang punya uzur. Dan orang yang meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki uzur. Wallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barang siapa ketiduran atau lupa sehingga tidak sholat Witir, maka hendaklah ia sholat Witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: Adanya taqyid dalam perintah qodho’ itu (yakni); “Bagi orang yang tidur atau lupa” menunjukkan, bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain. Dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan) itu tidak menyukai sholat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidur atau lupa (Fathul Bari 9/160).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… Walhamdulillah.

 

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28877-Qabliyah-Subuh-saat-Iqamat-sholatnya-batal.html

 

,

ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

#MutiaraSunnah

ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata:

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ، فَقَالَ لَهُ “يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا” ثُمَّ قَالَ : “إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا”

“Sulaik Al-Ghothofani datang ke masjid pada Jumat ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah. Ia pun langsung duduk. Maka beliau ﷺ bersabda kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah, lalu sholatlah dua rakaat dan ringankanlah sholatmu. Kemudian beliau ﷺ bersabda: Jika seorang dari kalian datang ke masjid pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia melakukan sholat (Tahiyyatul Masjid) dua rakaat, dan hendaklah ia meringankan sholatnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz milik Muslim]

#Beberapa_Pelajaran:

1) Dianjurkan untuk menghadiri sholat Jumat dengan bersegera sebelum khatib naik mimbar dan hendaklah melakukan sholat Tahiyyatul Masjid ketika pertama tiba di masjid.

2) Apabila seseorang datang terlambat setelah khatib naik mimbar, tetap disunnahkan baginya untuk sholat Tahiyyatul Masjid, walau khatib sedang khutbah dan dimakruhkan baginya untuk duduk sebelum sholat dua rakaat.

3) Dalam keadaan ini, disunnahkan sholat yang ringan, tidak memerpanjang bacaan, agar dapat segera mendengarkan khutbah.

4) Bolehnya khatib berbicara kepada jamaah apabila ada suatu keperluan, dan jamaah yang diajak berbicara boleh menjawab, karena dalam riwayat yang lain, Sulaik ditanya terlebih dahulu oleh Rasulullah ﷺ:

أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ

“Apakah engkau sudah sholat wahai Fulan? Beliau menjawab: Belum. Nabi ﷺ bersabda: Bangkitlah lalu sholat.”

5) Anjuran untuk selalu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, serta membimbing kepada kemaslahatan dalam setiap keadaan, tempat dan waktu.

6) Sholat Tahiyyatul Masjid dikerjakan dua rakaat.

7) Sholat sunnah di siang hari juga dua rakaat, dua rakaat.

8) Sholat Tahiyyatul Masjid masih bisa dikerjakan, walau seseorang sudah sempat duduk, apabila ia belum mengetahui sebelumnya.

9) Sholat Tahiyyatul Masjid TIDAK BOLEH ditinggalkan, meski di waktu-waktu terlarang untuk sholat, karena pendapat yang kuat insya Allah adalah, SHOLAT-SHOLAT SUNNAH YANG MEMILIKI SEBAB boleh dikerjakan, meski di waktu-waktu terlarang.

10) Sholat sunnah Tahiyyatul Masjid termasuk Sunnah Mu’akkadah. Namun apabila sudah dikumandangkan iqomah, maka hendaklah segera memutuskan sholat sunnah apa pun, dan ikut sholat berjamaah.

[Disarikan dari Syarhu Muslim lin Nawawirahimahullah, 6/164-165]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

🕌 ANJURAN SHOLAT TAHIYYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAHبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Sahabat yang…

Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam – www.taawundakwah.com 发布于 2016年12月22日