Posts

,

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK TERCELA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

DOA RASULULLAH AGAR TERHINDAR DARI AKHLAK, AMAL, HAWA NAFSU DAN PENYAKIT TERCELA

 

وَعَنْ قُطْبَةَ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -يَقُولُ: { اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاءِ } أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَاللَّفْظِ لَهُ.

Dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah ﷺ berdoa:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 dan dishahihkan oleh Al Hakim dan lafalnya dari Kitab Al Mustadraq karangan Imam Al Hakim)

Dan hadis ini adalah hadis yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Hakim dan juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy rahimahullah.

Nabi ﷺ adalah seorang yang berakhlak yang agung sebagaimana pujian Pencipta alam semesta ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad ﷺ) berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

Oleh karenanya, di antara kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ adalah berdoa kepada Allah, agar dijauhkan dari akhlak-akhlak yang buruk.

Nabi ﷺ berkata:

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي

“Ya Allah, jauhkanlah aku.”

“Jauhkanlah aku” artinya bukan hanya “Hindarkanlah aku.”

Tapi lebih dari itu, “JAUHKAN, JANGAN DEKATKAN aku sama sekali dengan akhlak-akhlak yang mungkar, amalan yang mungkar, hawa nafsu yang mungkar dan penyakit yang mungkar.”

Yang dimaksud dengan kemungkaran yaitu sifat-sifat yang tercela, yang tidak disukai oleh tabiat. Tabiat benci dengan sikap seperti ini. Dan juga syariat menjelaskan akan buruknya sifat-sifat tersebut.

Sebagian ulama menjelaskan:

(1) Mungkaratil Akhlak (مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاق)

Mungkaratil Akhlak maksudnya yang berkaitan dengan masalah batin, karena dalam hadis ini digabungkan antara akhlak dan amal.

Tatkala digabungkan antara akhlak dan amal (masing-masing disebutkan), maka akhlak yang buruk adalah yang berkaitan dengan batin. Adapun amal adalah yang berkaitan dengan jawarih (anggota tubuh).

Oleh karenanya, yang dimaksud dengan Mungkaratil Akhlak seperti:

√ Sombong
√ Hasad
√ Dengki
√ Pelit
√ Penakut
√ Suka berburuk sangka dan yang semisalnya

Maka seorang berusaha membersihkan hatinya dari hal-hal seperti ini.

Setelah dia bersihkan hatinya, kemudian dia berusaha menghiasi hatinya dengan perkara yang berlawanan dengan hal tersebut.

Hendaknya dia menghiasi hatinya dengan tawadu’, rendah diri, mudah memaafkan, kesabaran, kasih sayang, rahmat, sabar dalam menghadapi ujian dan yang lain-lainnya.

Dan kita tahu, akhlak yang buruk ini berkaitan dengan penyakit-penyakit hati. Ini timbul dari hati yang sedang sakit, sebagaimana akhlak yang mulia yang timbul dari hati yang sehat.

(2) Mungkaratil A’mal ( (مُنْكَرَاتِ وَالْأَعْمَالِ)

Mungkaratil A’mal. Tadi telah kita sebutkan, ada seorang ulama yang menafsirkan dengan akhlak yang buruk yang berkaitan dengan anggota tubuh, seperti:

√ Memukul orang lain,
√ Yang berkaitan dengan lisan, lisan yang kotor, suka mencaci, suka mencela.

Ada juga yang menafsirkan Mungkaratil A’mal adalah yang berkaitan dengan dosa-dosa besar, seperti: membunuh, berzinah, merampok.

(3) Al Ahwa'( الْأَهْوَاءِ)

Al ahwa’ adalah jama’ dari hawa (hawa nafsu).

Rasulullah ﷺ berlindung dari kemungkaran hawa nafsu.

Hawa nafsu itu kalau dibiarkan akan menjerumuskan orang kepada perkara-perkara yang membinasakan, menjadikan seseorang berani untuk melakukan dosa-dosa.

Kenapa?

Karena demi untuk memuaskan hawa nafsunya.

Terlebih-lebih jika seseorang telah menjadi budak hawa nafsu, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku bagaimana tentang seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (QS Al Jatsiyah: 23)

Apapun yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, dia akan melakukannya. Ini sangat berbahaya.

Seseorang harus melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsunya, bukan mengikuti hawa nafsunya.

(4) Al Adwa'( الْأَدْوَاءِ)

Rasulullah ﷺ berlindung dari penyakit-penyakit (Al Adwa’) yang mungkar, yaitu penyakit yang berkaitan dengan tubuh.

Dan sebagian ulama menafsirkan, bahwa ini maksudnya adalah penyakit-penyakit yang Asy Syani-Ah (Berbahaya).

Seperti al judzam (lepra), sarathan (kanker), kemudian penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya.

Rasulullah ﷺ tidak berlindung dengan penyakit secara mutlak, karena ada sebagian penyakit yang memang bermanfaat.

Contohnya dalam hadis Al Bukhari, Rasulullah ﷺ, dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

 مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim ditimpa dengan keletihan, penyakit, kekhawatiran (sesuatu yang menimpa di kemudian hari), kesedihan (terhadap perkara yang sudah lewat), demikian juga gangguan dari orang lain, kegelisahan hati, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Hadis Riwayat Bukhari no 5210 versi Fathul Bari’ no 5641-5642)

Dari sini ternyata penyakit adalah salah satu pengugur dosa. Oleh karenanya kalau ada orang yang sakit kita katakan:

“Thahurun, in sya Allah (Semoga penyakit tersebut menyucikan dosa-dosamu, In sya Allah).”

Demikian juga dalam hadis, Rasulullah ﷺ pernah berkata, melarang seorang wanita yang mencela demam. Dari hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menemui Ummu Sa’ib.

دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

Bahwasanya Rasulullah ﷺ menjenguk Ummu As Saib (atau Ummu Al Musayyib), kemudian beliau berkata:

“Apa gerangan yang terjadi denganmu wahai Ummu Al Sa’ib (Ummu Al Musayyib)? Kenapa kamu bergetar?”

Dia menjawab:

“Saya sakit demam yang tidak ada keberkahan bagi demam.”

Maka Rasulullah ﷺ berkata:

“Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Muslim no 4672 versi Syarh Muslim no 4575)

Dalam riwayat yang lain yaitu dari Abu Haurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَسُبَّهَا (الحمى)  فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Sesungguhnya demam itu bisa menghilangkan dosa-dosa, sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah no 3460 versi Maktabatu Al Ma’arif no 3469)

Ini dalil, bahwasanya sebagian penyakit bisa menghilangkan dosa-dosa.

Jika seorang terkena penyakit, maka dia bersabar dan dia berlindung dari penyakit-penyakit yang berbahaya, seperti yang disebutkan dengan Mungkaratil Adwa’ (Penyakit yang berbahaya).

Kalaupun ternyata dia tertimpa penyakit tersebut, maka dia tetap saja bersabar, karena penyakit-penyakit tersebut bisa menghilangkan dosa-dosa.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawwab.

 

Penulis: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
Kitabul Jami’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadis 16 | Doa Rasulullah Agar Terhindar Dari Akhlak Tercela
Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H16
 
Sumber: BimbinganIslam.com
,

DOA AGAR TERHINDAR DARI MUDHARAT

DOA AGAR TERHINDAR DARI MUDHARAT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA AGAR TERHINDAR DARI MUDHARAT

Barang siapa mengucapkan di awal harinya atau di awal malamnya:

بِسْمِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَا

Bismillahi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fis sama’.

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama tersebut, tidak ada apapun di langit dan di bumi, mampu menimpakan mudharat (mendatangkan bahaya).

>> Sebanyak tiga kali, niscaya tidak akan ada apapun yang mampu menimpakan kemudharatan pada dirinya, di hari dan malam itu” [HR. Abu Daud: 5066, Ibnu Majah 3869, Shahih oleh Al Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah: 2/332, hadis 3120]

 

,

DOA AGAR TIDAK TERJERUMUS DALAM ZINA

DOA AGAR TIDAK TERJERUMUS DALAM ZINA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DoaZikir

DOA AGAR TIDAK TERJERUMUS DALAM ZINA

Semua mengetahui, bahwa zina itu berbahaya dan termasuk dosa besar. Namun orang yang merasa aman dari zina pun, sebenarnya bisa terjerumus ke dalam zina. Hanya dengan doa lalu pertolongan Allah yang datang, itulah yang dapat menyelamatkan kita dari zina.

Ada satu doa yang berisi meminta perlindungan pada Allah dari anggota badan yang cenderung dengan anggota badan ini akan terjadi perzinaan atau perselingkuhan. Berikut hadisnya:

Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi ﷺ lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi ﷺ mengajarkan doa, dengan beliau memegang tanganku, lalu beliau ajarkan, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi.

Artinya:

Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku. [HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]

Yang dimaksud dengan lafal terakhir, berlindung pada kejelekan mani, maksudnya berlindung pada kenakalan kemaluan. Demikian diutarakan dalam Syarh Al-Gharib.

Yang disebutkan dalam doa di atas adalah dengan mani. Yang maksudnya merujuk pada kenakalan kemaluan. Doa itu berarti meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam zina, atau terjerumus pula dalam perantara-perantara menuju zina, seperti mulai dari memandang, menyentuh, mencium, berjalan, dan niatan untuk berzina dan semisal itu.

Dan perlu diketahui dari pendengaran, penglihatan, lisan, hati serta kemaluan itu sendiri adalah asal mulanya suatu kemaksiatan itu terjadi.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk selamat dari berbagai dosa besar dan zina.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12795-doa-agar-tidak-terjerumus-dalam-zina.html

 

,

APAKAH MACAM-MACAM SYAFAAT PADA HARI KIAMAT?

APAKAH MACAM-MACAM SYAFAAT PADA HARI KIAMAT?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

APAKAH MACAM-MACAM SYAFAAT PADA HARI KIAMAT?

Setelah dibangkitkan dari kubur, kemudian Allah menggiring dan mengumpulkan manusia di Padang Mahsyar untuk menunggu keputusan Allah. Seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun, sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ رواه ابن أبي الدنيا والطبراني

“Allah mengumpulkan semua manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah. [HR Ibnu Abi ad Dunya dan ath Thabrani, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no.3591].

Syafaat itu ada dua macam:

[1]. Macam Pertama: Syafaat Tsabitah Shahihah (Syafaat yang tetap dan benar)

[2]. Macam Kedua: Syafa’ah Bathilah (Syafaat yang batil)

Syafaat jenis pertama ini, Syafaat Tsabitah Shahihah (Syafaat yang tetap dan benar), terbagi lagi menjadi dua:

[a]. Pertama: Syafa’ah Khasshah (Syafaat yang bersifat khusus), yaitu syafaat yang khusus untuk Nabi ﷺ, terdiri dari:

  1. Syafaat Uzhma (= Syafaatul Kubro – Sangat Besar)
  2. Syafaat beliau ﷺ terhadap penduduk Surga untuk masuk Surga setelah selesai hisab
  3. Syafaat untuk meringankan siksaan pamannya, yaitu Abu Thalib

[b]. Kedua: Syafaat ‘Ammah (Syafaat yang bersifat umum), yaitu syafaat umum, untuk diri Nabi ﷺ, dan lainnya juga dari para nabi dan orang saleh [Majmu’ Fatawa 1/313]. Jadi arti umum di sini, bahwa Allah ta’ala mengizinkan siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya yang saleh untuk memberikan syafaat kepada orang lain, yang juga diizinkan oleh Allah, untuk memeroleh syafaat. Syafaat semacam ini bisa didapatkan dari Nabi Muhammad ﷺ dan selain beliau ﷺ dari para Nabi yang lain, shidiqqin, syuhada’ dan shalihin.

Syafaat umum, untuk Nabi ﷺ dan juga lainnya dari kalangan para nabi dan orang saleh, adalah sebagai berikut:

  1. Syafaat untuk mengangkat derajat sebagian Ahli Surga, yaitu untuk mendapatkan tingkatan Surga yang lebih tinggi dari sebelumnya.
  2. Syafaat untuk masuknya sebagian kaum Mukminin ke Surga tanpa hisab dan tanpa azab.
  3. Syafaat untuk pelaku dosa besar. Yang dimaksud pelaku dosa besar adalah orang yang berbuat dosa besar atau maksiat, namun masih termasuk Ahlu Tauhid. Di antara mereka ada yang sudah masuk ke dalam Neraka, namun dengan adanya syafaat mereka pun dikeluarkan. Ada juga juga di antara mereka yang sudah masuk ke dalam Neraka, namun dengan adanya syafaat, menjadi diringankan azabnya di dalam Neraka.
  4. Syafaat kepada kaum yang diperintahkan (ditetapkan) untuk masuk ke dalam Neraka, agar tidak jadi (dibatalkan) masuk ke dalamnya.
  5. Syafaat kepada kaum Mukminin yang seimbang antara kebaikan dan kejelekan mereka, agar dipanggil masuk Surga.

Penjelasannya rinci berikut dalil-dalilnya adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:

[1]. Syafaat Macam Pertama: Syafaat Tsabitah Shahihah (Syafaat yang tetap dan benar)

Syafaat Tsabitah Shahihah (yang tetap dan benar), yaitu syafaat yang ditetapkan oleh Allah ta’ala dalam Kitab-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ. Syafaat ini hanya bagi Ahlut Tauhid wal Ikhlas, karena Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan mendapatkan syafaat baginda?”. Beliau ﷺ menjawab:

“Orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah secara ikhlas (murni) dari kalbunya”.

Syafaat ini bisa diperoleh dengan adanya tiga syarat:

  • Pertama: Keridaan Allah terhadap yang memberi syafaat (Syafi’)
  • Kedua: Keridaan Allah terhadap yang diberi syafaat (Masyfu’ Lahu)
  • Ketiga: Izin Allah Ta’ala bagi Syafi’ untuk memberi syafaat.

Syarat-syarat ini secara mujmal (secara garis besar/ global –pent) terdapat dalam firman Allah Ta’ala:

“Artinya: Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya)”. [An-Najm: 26]

Kemudian diperinci oleh firman-Nya:

“Artinya: Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” [Al-Baqarah: 255]

“Artinya: Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataan-Nya”. [Thaha: 109]

“Artinya: Mereka tidak bisa memberi syafaat, kecuali kepada orang yang diridai oleh Allah”. [Al-Anbiya: 28]

KETIGA SYARAT INI HARUS ADA untuk bisa memeroleh suatu syafaat.

Selanjutnya para ulama rahimahullah membagi Syafaat Tsabitah Shahihah (yang tetap dan benar) ini menjadi dua:

[a]. Pertama: Syafa’ah Khasshah (Syafaat yang bersifat khusus)

[b]. Kedua: Syafaat ‘Ammah (Syafaat yang bersifat umum)

Periniciannya adalah sebagai berikut:

[a]. Pertama: Syafa’ah Khasshah (Syafaat yang bersifat khusus)

Yaitu syafaat Nabi ﷺ yang khusus untuk dirinya pribadi. Syafaat ini khusus dimiliki oleh Nabi Muhammad ﷺ dan merupakan syafaat yang paling agung. Syafaat yang paling agung ini adalah syafaat pada Hari Kiamat, ketika manusia tertimpa kesedihan dan kesukaran yang tidak mampu mereka pikul, kemudian mereka meminta orang yang bisa memohonkan syafaat, kepada Allah Azza wa Jalla, untuk menyelamatkan mereka dari keadaan yang demikian itu.

Mereka datang kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian Ibrahim, Musa dan Isa -‘alaihimus salam-, namun mereka semua tidak bisa memberi syafaat, sehingga akhirnya meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Lalu beliau  ﷺ pun bangkit untuk memohonkan syafaat di sisi Allah Azza wa Jalla, untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari keadaan seperti ini. Allah mengabulkan doa beliau ﷺ dan menerima syafaatnya. Ini merupakan termasuk Al-Maqam Al-Mahmud (tempat yang terpuji) yang telah dijanjikan oleh Allah dan firman-Nya.

“Artinya: Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah kamu, sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. [Al-Isra: 79]

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, syafaat yang khusus untuk Nabi ﷺ adalah sebagai berikut:

  1. Syafaat Uzhma (= Syafaatul Kubro – Sangat Besar)
  2. Syafaat beliau ﷺ terhadap penduduk Surga untuk masuk Surga setelah selesai hisab
  3. Syafaat untuk meringankan siksaan pamannya yaitu Abu Thali

Yang berikut adalah perincian Syafaat yang khusus untuk Nabi ﷺ:

  1. Syafaat Uzhma (= Syafaatul Kubro – Sangat Besar)

Setelah selama empat puluh tahun manusia berdiri menunggu keputuskan urusan mereka, lantas Nabi Muhammad ﷺ memberikan syafaat di sisi Rabbnya dan memohon kepada-Nya, untuk memutuskan urusan mereka. Syafaat ini hanya dimiliki oleh pemimpin kita Muhammad ﷺ, dan merupakan kedudukan terpuji yang dijanjikan untuk beliau ﷺ.

Inilah syafaat beliau ﷺ kepada manusia, dari dahsyatnya hari itu, agar DISEGERAKAN HISAB dan PENGADILAN Allah. Di mana manusia telah meminta kepada Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa, namun mereka semua udzur. Lalu mereka meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ, kemudian beliau ﷺ memohon syafaat kepada Allah dan dikabulkan [Lihat Shahihul Bukhari 5/225].

Syafaat ini adalah syafaat yang paling utama dan mencakup umum untuk semua makhluk, APA PUN AGAMANYA. Syafaat jenis ini disepakati ulama tentang kebenarannya. Di antara dalilnya adalah firman Allah:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةًۭ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًۭا مَّحْمُودًۭا ﴿٧٩

Dan pada sebagian malam hari, bersembahyang tahajudlah kamu, sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra‘ [17]: 79)

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari Rahimahullah mengatakan: “Mayoritas ahli ilmu menjelaskan, bahwa maksud maqam (kedudukan) terpuji dalam ayat ini adalah kedudukan beliau ﷺ pada Hari Kiamat, untuk memberikan syafaat, saat manusia merasakan dahsyatnya hari itu.” [Jami’ul Bayan 15/143–144].

  1. Syafaat beliau ﷺ terhadap penduduk Surga untuk masuk Surga setelah selesai hisab

Orang yang pertama kali minta dibukakan pintu Surga adalah Nabi kita Muhammad ﷺ dan umat yang pertama kali masuk Surga adalah umat beliau ﷺ. Hal ini berdasarkan hadis Anas bin Malik Rahimahullah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Saya datangi pintu Surga pada Hari Kiamat, lalu aku minta dibukakan, lantas Khazin (Malaikat penjaga) berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab: ‘Muhammad.’ Lantas dia mengatakan: ‘Untukmu aku diperintahkan agar tidak membukakan pintu kepada seorang pun sebelummu.’” (HR Muslim 1/188)

  1. Syafaat untuk meringankan siksaan pamannya yaitu Abu Thalib

Hal ini berdasarkan hadis Abbas bin Abdul Muththalib, bahwasanya dia pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَفَعْتَ أَبَا طَالِبٍ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَغْضَبُ لَكَ قَالَ نَعَمْ هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ لَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ مِنْ النَّارِ

“Ya Rasulullah, apakah engkau memberikan manfaat kepada pamanmu dengan sesuatu, sebab dia telah melindungimu dan marah untuk menjagamu?” Beliau menjawab: “Ya, di muka Neraka, seandainya bukan karena saya (syafaat saya), niscaya dia berada di paling dasar Neraka.” (HR Bukhari 4/247, Muslim 1/195)

Dan juga berdasarkan hadis Abu Sa’id al-Khudri Radhialllahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺpernah disebut di sisinya Abu Thalib, paman beliau, maka beliau ﷺ bersabda:

لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ يَغْلِي مِنْهُ دِمَاغُه

“Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada Hari Kiamat. Dia dijadikan di muka Neraka, hingga sampai kedua mata kakinya, memanas otaknya.” (HR Bukhari 7/203)

Yang berikut adalah perincian Syafaat yang bersifat umum:

  1. Syafaat untuk mengangkat derajat sebagian Ahli Surga, yaitu untuk mendapatkan tingkatan Surga yang lebih tinggi dari sebelumnya

Di antara dalilnya adalah hadis Ummu Salamah Radhialllahu ‘Anha, bahwasanya Nabi ﷺ mendoakan untuk Abu Salamah Radhialllahu ‘Anhu tatkala dia meninggal dunia:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ. وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan tinggikanlah derajatnya bersama orang-orang yang diberi petunjuk, dan berilah penggantinya bagi anak-anaknya. Ampunilah kami dan dia, wahai Rabb semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan sinarilah untuknya dalam kuburnya.” (HR Muslim 2/634)

  1. Syafaat untuk masuknya sebagian kaum Mukminin ke Surga tanpa hisab dan tanpa azab

Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadis Abu Umamah al-Bahili Radhialllahu ‘Anhu, beliau mengatakan: “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

وَعَدَنِي رَبِّي أَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا لاَ حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلاَ عَذَابَ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلاَثُ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِه

“Rabbku menjanjikanku untuk memasukkan ke Surga, tujuh puluh ribu umatku tanpa hisab dan tanpa azab. Bersama setiap seribu, tambahan tujuh puluh ribu dan tiga cakupan-Nya.” (HR Tirmidzi 4/626 dan dishahihkan oleh al-Albani)

  1. Syafaat untuk pelaku dosa besar

Syafaat jenis ini adalah syafaat yang disepakati oleh ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah dari kalangan sahabat, tabi’in, seluruh imam empat, dan selainnya, namun diingkari oleh mayoritas Ahli Bid’ah dari Khawarij dan Mu’tazilah.

Jenis syafaat tersebut karena jenis itulah yang menjadi ajang pergulatan ilmiah antara Ahli Sunnah versus Ahli Bid’ah. Oleh karenanya pula, terkadang para ulama memutlakkan kata “Syafaat” pada jenis ini, dengan tujuan untuk membantah paham Khawarij dan Mu’tazilah [Lihat Syarh Akidah ath-Thahawiyyah 1/286 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi dan Syarh Lum’atil I’tiqad hlm. 129 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin].

Hadis-hadis tentang syafaat jenis ini adalah derajatnya Mutawatir [Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama ahli hadis, seperti Imam Ibnu Abi Ashim, Ibnu Abdil Barr, al-Qadhi Iyadh, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dll. (Lihat nukilan ucapan mereka dalam buku saya Membela Hadis Nabi hlm. 330–332, cet. Media Tarbiyah]. Di antara dalilnya adalah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ: شَفَاعَتِيْ لأَهْلِ اْلكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِيْ

Dari Anas bin Malik Radhialllahu ‘Anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda: “Syafaatku untuk pelaku dosa besar dari umatku.”[ Shahih. Lihat takhrijnya secara lengkap dan panjang dalam buku: Membela Hadis Nabi hlm. 326–329].

Nabi ﷺ juga bersabda:

خُيِّرْت بَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ ؛ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْت الشَّفَاعَةَ لِأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْثَرُ ؛ أَتَرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ ؟ لَا . وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ المتلوثين الْخَطَّائِينَ

“Separuh dari umatku akan dipilih untuk masuk Surga atau akan diberi syafaat. Maka aku pun memilih agar umatku diberi syafaat, kareana itu tentu lebih umum dan lebih banyak. Apakah syafaat itu hanya untuk orang bertakwa? Tidak. Syafaat itu untuk mereka yang terjerumus dalam dosa (besar).” [HR. Tirmidzi no. 2441, Ibnu Majah no. 4317 dan Ahmad 2: 75. Hadis ini Shahih kata Syaikh Al Albani selain perkataan “قوله لأنها”].

Dalam riwayat Tirmidiz, dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’iy, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَانِى آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّى فَخَيَّرَنِى بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِى الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِىَ لِمَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Ada yang mendatangiku dari sisi Rabbku. Aku disuruh memilih antara memasukkan separuh dari umatku ke dalam Surga atau memilih syafaat. Aku pun memilih syafaat, dan ini akan diperoleh oleh orang yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun” (HR. Tirmidzi no. 2441. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih).

Yang dimaksud pelaku dosa besar adalah orang yang berbuat dosa besar atau maksiat, namun masih termasuk Ahlu Tauhid. Nabi ﷺ  memberikan syafaat kepada pelaku dosa besar, agar mereka keluar dari Neraka, setelah mereka mampir dulu di dalamnya. (Asy Syafa’ah ‘an Ahlis Sunnah war Rod ‘alal Mukholifina fiiha, Dr. Nashir bin ‘Abdurrahman Al Judai’, hal. 51).

  1. Syafaat kepada kaum yang diperintahkan untuk dimasukkan ke Neraka agar tidak masuk ke Neraka.
  1. Syafaat kepada kaum Mukminin yang seimbang antara kebaikan dan kejelekan mereka, agar dipanggil masuk Surga [Dua jenis ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam an-Nihayah fil Fitan wal Malahim 2/204–206. Namun, hadis-hadis yang beliau bawakan tidak Shahih dari Nabi ﷺ. Dua syafaat ini ditetapkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim 3/35, Ibnu Taimiyyah dalam Fatawa 3/147, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/428, dan as-Saffarini dalam Lawami’ul Anwar 2/211. Namun, Ibnul Qayyim tawaqquf (diam dan tidak menetapkan) dalam Tahdzibus Sunan 7/134 dan ini dikuatkan oleh Dr. Nashir al-Judai’ dalam asy-Syafa’ah ’inda Ahli Sunnah hlm. 59].

 

Sumber:

 

https://rumaysho.com/2436-10-pelebur-dosa-4.html

 

 

,

DALIL-DALIL BERKENAAN DENGAN SYAFAAT

DALIL-DALIL BERKENAAN DENGAN SYAFAAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

DALIL-DALIL BERKENAAN DENGAN SYAFAAT

Syafaat ditetapkan dalam Alquran, Hadis, dan Ijma’. Perinciannya adalah sebagai berikut:

Dalil Alquran

يَوْمَئِذٍۢ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًۭا  ١٠٩

Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya. (QS Thaha [20]: 109)

وَكَم مِّن مَّلَكٍۢ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ لَا تُغْنِى شَفَـٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَىٰٓ  ٢٦

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai(Nya). (QS an-Najm [53]: 26)

Dalil Hadis

Hadis-hadis tentang syafaat banyak sekali yang mencapai derajat Mutawatir [Lihat as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/399, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 1/314, Lawami’ul Anwar al- Bahiyyah oleh as-Saffarini 2/208], di antaranya adalah:

أَسْعَدُ اْلنَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

“Orang yang paling berbahagia memeroleh syafaatku pada Hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR Bukhari: 99, 6570)

Dalil Ijma’

Berdasarkan dalil-dalil di atas, para ulama bersepakat mengimani syafaat, bahkan menjadikan hal ini sebagai salah satu pokok akidah mereka [Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr dalam al-Istidzkar 8/136]. Al-Allamah Hafizh al-Hakami mengatakan: “Syafaat adalah haq (benar adanya), diimani oleh seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana diimani oleh para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.”[ Ma’arijul Qabul 2/256]. Ijma’ ini dinukil oleh banyak ulama [Lihat Risalah ila Ahli Tsaghar hlm. 90 oleh Abul Hasan al-Asy’ari, Syarh Muslim oleh an-Nawawi 3/35, ad-Dinul Khalish 2/22 oleh Shiddiq Hasan Khan]. Oleh karenanya, hampir tidak ada satu kitab pun yang membahas tentang akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang ditulis oleh ulama-ulama salaf kita, kecuali ada pembahasan tentangnya. Maka alangkah menariknya ucapan sahabat Anas bin Malik Radhialllahu ‘Anhu: “Barang siapa mendustakan syafaat, maka dia tidak mendapatkan bagian dari syafaat.” [Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah hlm. 337, al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad 6/1110 dan dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/426].

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kupas Tuntas Masalah Syafaat” yang ditulis oleh al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

Sumber: http://abiubaidah.com/kupas-tuntas-masalah-syafaat.html/

 

,

DEFINISI DAN TUJUAN SYAFAAT

DEFINISI DAN TUJUAN SYAFAAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

DEFINISI  DAN TUJUAN SYAFAAT

Syafaat secara bahasa adalah genap, lawan kata ganjil [Mu’jam Maqayis Lughah 3/201 karya Ibnu Faris]. Disebut demikian, karena dia yang awalnya ganjil, tetapi setelah bergabung dengan pemilik hajat, maka menjadi genap [Al-Jami’ li Ahkamil Qur‘an 5/295 oleh al-Qurthubi]. Ar-Raghib al-Asfahani Rahimahullah berkata: “Bergabung dengan lainnya sebagai penolong baginya. Dan paling sering digunakan untuk bergabungnya yang lebih mulia kedudukannya kepada yang lebih rendah, di antaranya adalah syafaat pada Hari Kiamat.” [ Al-Mufradat fi Gharibil Qur‘an hlm. 263].

Adapun definisinya secara istilah adalah memintakan untuk orang lain agar mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudarat [Lihat Lawami’ul Anwar 2/204 oleh as-Saffarini, at-Ta’rifat hlm. 127 oleh al-Jurjani, an-Nihayah fi Gharibil Hadis 5/485 oleh Ibnul Atsir, Syarh Lum’atil I’tiqad hlm. 128 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin].

Contoh untuk mendapatkan manfaat adalah syafaat Nabi ﷺ kepada penduduk Surga agar lekas memasukinya. Sementara itu, contoh untuk menolak mudarat adalah syafaat Nabi ﷺ bagi orang yang berhak masuk Neraka agar tidak memasukinya.

Tujuan dari syafaat adalah:

(1) Untuk memuliakan pemberi syafaat,

(2) Untuk memberikan manfaat kepada yang diberi syafaat [Al-Qaulul Mufid ’ala Kitab Tauhid 1/330 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin].

 

Dinukil dari tulisan berjudul: “Kupas Tuntas Masalah Syafaat” yang ditulis oleh al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah

Sumber: http://abiubaidah.com/kupas-tuntas-masalah-syafaat.html/

,

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

Seorang hamba selayaknya membentengi diri dari gangguan setan dengan pertahanan yang telah dijelaskan dalam Alquran dan hadis-hadis shahih berupa doa dan dzikir. Karena Alquran dan Al-Hadis adalah penawar, rahmat, petunjuk serta perlindungan dari kejahatan di dunia dan Akhirat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara bentuk pertahanan tersebut adalah:

Pertahanan Pertama: Isti’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah Yang Maha Besar (yaitu dengan membaca: A’uzubillah)

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk memohon perlindungan kepada-Nya dalam setiap kondisi, khususnya saat hendak membaca Alquran, saat marah, saat was-was dan saat bermimpi buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

“Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (QS. An Nahl: 98–99)

Pertahanan Kedua: Membaca Bismillah. Bismillah menghalangi setan ikut serta saat makan, minum, bersenggama, masuk rumah dan seluruh kondisinya

عن جابر قال: سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا دخل الرجل بيته، فذكر اللَّه –تعالى- عند دخوله، وعند طعامه، قال الشيطان لأصحابه: لا مبيت لكم ولا عشاء، وإذا دخل فلم يذكر اللَّه –تعالى- عند دخوله، قال الشيطان: أدركتم المبيت، وإذا لم يذكر اللَّه –تعالى- عند طعامه، قال: أدركتم المبيت والعشاء) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya lalu mengucapkan “Bismillah” ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata kepada teman-temannya: “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makan malam”. Namun apabila ia masuk rumahnya dan tidak mengucapkan “Bismillah”, maka setan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap”. Lalu apabila ia tidak mengucapkan “Bismillah” ketika makan, setan berkata: Kalian telah mendapatkan tempat menginap dan makan.” [HR. Muslim]

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لو أن أحدكم إذا أتى أهله؛ قال: بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا؛ فقضي بينهما ولد؛ لم يضره الشيطان أبدا) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian mendatangi istrinya (bersetubuh) lalu ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

(Bismillaah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki (anak) yang akan Engkau berikan kepada kami). Maka jika ditakdirkan dari hubungan tersebut lahirnya seorang anak baginya, niscaya setan tidak akan bisa menimpakan kemudharatan anak itu selamanya.” [Muttafaq ’alaih]

Pertahanan Ketiga: Membaca Mu’awwidzatain saat hendak tidur, setelah sholat, saat sakit dan lain-lain. Mu’awwidzatain adalah surat Al-Falaq dan An-Naas

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai Subuh.” (QS. Al-Falaq: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah: “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (Q.S. An-Naas: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

عن عقبة بن عامر قال: بينا أنا أسير مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الجحفة والأبواء إذ غشيتنا ريحوظلمة شديدة، فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يتعوذ بـ﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ﴾و﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ﴾ ويقول: ((يا عقبة تعوذ بهما، فما تعوذ بهما متعوذ بمثلهما)) قال: وسمعته يؤمنا بهما في الصلاة. أخرجه أحمد وأبو داود

Dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Saat aku berjalan bersama Rasulullah ﷺ antara Juhfah dan Abwa’, malam itu angin bertiup kencang dan gelap gulita. Maka Rasulullah ﷺ memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca surat Al-Falaq:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh.” (QS. Al-Falaq: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

Dan surat An-Naas:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (QS. An Naas: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

Lalu beliau ﷺ bersabda: Wahai Uqbah mohonlah perlindungan kepada Allah dengan membaca dua surat tersebut, karena tidak ada cara berlindung yang menyamai keduanya.”

Uqbah berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ membacanya saat mengimami sholat.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]

Pertahan Keempat: Membaca Ayat Al-Kursy

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Berdasarkan hadis:

عن أبي هريرة قال: وكلني رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان، فأتاني آت فجعل يحثو من الطعام فأخذته فقلت: لأرفعنك إلى رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال: إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي:﴿ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ…..﴾؛ فإنك لن يزال عليك من اللَّه حافظ، ولا يقربك شيطان حتى تصبح … قال النبي صلى الله عليه وسلم: (أما إنه قد صدقك، وهو كذوب، ذاك شيطان). رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah ﷺ memercayakanku menjaga harta zakat Ramadan. Lalu ada seseorang yang datang mencuri makanan, maka aku menangkapnya dan berkata: “Demi Allah, engkau akan kuadukan kepada Rasulullah”, ia berkata: “Bila engkau hendak berada di atas tempat tidurmu, bacalah Ayat Al-Kursiy:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ

(Allah yang tidak ada Sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya)…dan seterusnya hingga akhir ayat. Sesungguhnya jika engkau membacanya, maka engkau akan selalu berada di dalam penjagaan Allah, dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi”. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dia berkata jujur kepadamu dalam hal ini, sedang dia adalah seorang pendusta. Itulah setan.” [HR. Al-Bukhari]

Pertahanan Kelima: Membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, yaitu:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

“Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.” [Al-Baqoroh: 285-286]

Berdasarkan hadis:

عن أبي مسعود البدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من قرأ بالآيتين من آخر سورة البقرة في ليلة كفتاه) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah di suatu malam, maka itu mencukupinya.” [Muttafaq ’alaih]

Pertahanan Keenam: Membaca surat Al-Baqarah

عن أبي هريرة أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة) أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al-Baqarah.” [HR. Muslim]

Pertahanan Ketujuh: Banyak berzikir, membaca Alquran, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bertahlil

عن أبي هريرةأن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (من قال لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، في يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب، وكتبت له مائة حسنة، ومحيت عنه مائة سيئة، وكانت له حرزاً من الشيطان يومه ذلك حتى يمسي، ولم يأت أحد بأفضل مما جاء به؛ إلا رجل عمل أكثر من ذلك) متق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

(Tiada Sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua kerajaan adalah milik-Nya, dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu) dalam satu hari seratus kali, niscaya diberikan baginya pahala sebanding dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dan ditulis untuknya seratus kebajikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan ia terlindungi dari setan di hari itu hingga sore, dan tidak seorang pun yang lebih utama daripada dirinya kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [Muttafaq alaih]

Pertahanan Kedelapan: Membaca doa saat keluar rumah

عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا خرج الرجل من بيته فقال: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. يقال له: هديت وكفيت ووقيت، فتنحى له الشيطان، فيقول له شيطان آخر: كيف لك برجل قد هدي وكفي ووقي). رواه أبو داود والترمذي

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

(Bismillah aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah) akan dikatakan kepadanya: “Engkau telah ditunjuki, telah dicukupi, dan telah dijaga. Setan pun menjauh darinya, dan setan yang lain berkata kepada setan yang berusaha menggodanya: Bagaimana mungkin engkau bisa menggoda seseorang yang telah ditunjuki, telah dicukupi, dan telah dijaga.” [HR Abu Daud, Tarmizi]

Pertahanan Kesembilan: Berdoa saat berada di suatu tempat

عن خولة بنت حكيم قالت سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا نزل أحدكم منزلاً فليقل: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فإنه لا يضره شيء حتى يرتحل منه) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Khaulah binti Hakim radhiyallahu’anha berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang kamu berada di suatu tempat maka ucapkanlah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan mahluk-Nya), niscaya dia tidak akan terkena gangguan apa pun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.” [HR. Muslim]

Pertahanan Kesepuluh: Menahan menguap dan meletakkan tangan di mulut ketika menguap

عن أبي سعيد الخدري قال: قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (إذا تثاءب أحدكم؛ فليمسك بيده على فيه؛ فإن الشيطان يدخل) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang kalian menguap, maka tahanlah dengan meletakkan tangan pada mulut, karena sesungguhnya setan berusaha masuk.” [HR. Muslim]

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (التثاؤب من الشيطان، فإذا تثاءب أحدكم فليكظم ما استطاع) متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Menguap itu penyebabnya adalah setan. Maka apabila salah seorang kamu menguap hendaklah menahan semampunya.” [Muttafaq alaih]

Pertahanan Kesebelas: Azan

عن أبي هريرة أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (إذا نودي بالصلاة، أدبر الشيطان، وله ضراط حتى لا يسمع التأذين، فإذا قضي النداء، أقبل حتى إذا ثوب للصلاة أدب، حتى إذا قضي التثويب، أقبل حتى يخطر بين المرء ونفسه، يقول: اذكر كذا! واذكر كذا! لما لم يذكر من قبل، حتى يظل الرجل ما يدري كم صلى؟!) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila azan sholat dikumandangkan, setan lari dengan mengeluarkan kentut, agar ia tidak mendengar suara azan. Dan apabila azan selesai dikumandangkan, setan datang kembali, hingga apabila iqomat dikumandangkan setan kembali lari. Hingga apabila iqomat selesai, setan datang lagi, kemudian mengganggu pikiran orang yang sedang sholat. Setan berkata: “Ingat ini, ingat itu”. Sesuatu yang tidak ia ingat sebelum sholat, hingga akhirnya dia tidak tahu lagi berapa rakaatkah dia sholat.” [Muttafaq ’alaih]

Pertahanan Keduabelas: Membaca doa memasuki masjid

عن عقبة قال: حدثنا عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان إذا دخل المسجد قال: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) قال: أقط؟ قلت: نعم، قال: فإذا قال ذلك قال الشيطان: حفظ مني سائر اليوم. أخرجه أبو داود

Dari Uqbah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abdullah bin Amru radhiyallahu `anhuma menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ, bahwa beliau saat memasuki masjid membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk”. Uqbah berkata: “Apakah cukup itu saja? Abdullah berkata: “Ya”. Abdullah berkata: “Barang siapa yang membacanya, maka setan akan berkata: “Orang ini terlindungi dari gangguanku sepanjang hari ini.” [HR. Abu Daud]

Pertahanan Ketigabelas: Membaca doa keluar masjid

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا دخل أحدكم المسجد فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم وليقل: اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وإذا خرج فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم وليقل: اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). أخرجه ابن ماجه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah shalawat kepada Nabi ﷺ dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah , bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”

Dan bila keluar maka ucapkanlah shalawat kepada Nabi ﷺ dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Ya Allah, lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk”.” [HR. Ibnu Majah]

Perlindungan Keempatbelas: Berwudhu dan sholat, terutama saat marah atau syahwat sedang membara. Karena wudhu sangat ampuh meredam amarah dan gejolak syahwat

Perlindungan Kelimabelas: Menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menghindari: Banyak bicara, memandang hal yang haram, makan yang banyak dan banyak bergaul.

Pertahanan Keenambelas: Membersihkan rumah dari gambar bernyawa, foto makhluk bernyawa, patung, anjing dan lonceng.

عن أبي هريرة قال : قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لا تدخل الملائكة بيتا فيه تماثيل أو تصاوير) أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung atau gambar bernyawa.” [HR. Muslim]

عن أبي هريرة قال: قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لا تصحب الملائكة رفقة؛ فيها كلب أو جرس) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Para malaikat tidak menyertai suatu rombongan yang disertai anjing atau lonceng.” [HR. Muslim]

 

Pertahanan Ketujuhbelas: Menghindari tempat berdiamnya jin dan setan, yaitu pada reruntuhan rumah dan tempat-tempat najis, seperti: Jamban, tempat pembuangan sampah, dan tempat yang tidak dihuni, seperti: Gurun, tepian pantai yang jauh dari pemukiman, kandang unta dan lain-lain.

[Dinukil dari kitab Mulakhkhos Al-Fiqh Al-Islami karya Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri hafizhahullah]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

 

🛡 TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETANبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ✅ Seorang hamba selayaknya…

Sofyan Chalid bin Idham Ruray – www.SofyanRuray.info 发布于 2017年1月10日

 

 

 

,

DOA AGAR TERHINDAR DARI KERASUKAN SETAN SAAT SAKRATUL MAUT

DOA AGAR TERHINDAR DARI KERASUKAN SETAN SAAT SAKRATUL MAUT

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dzikir_dan_Doa

DOA AGAR TERHINDAR DARI KERASUKAN SETAN SAAT SAKRATUL MAUT

Dari Abul Yasar  radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Sesungguhnya Nabi ﷺ selalu berdoa (dengan membaca):

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَدَمِ وَأَعُوْذُ بِكَ

مِنَ التَّرَدِّيْ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ وَ أَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي

الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ

فِيْ سَبِيْلِكَ مُدْبِراً وَأَعُوْذُبِكَ أَنْ أَمُوْتَ لَدِيْغاً

Allohumma innii a’uudzubika minal hadami, wa a’uudzubika minattaroddii, wa a’uudzubika minal ghoroqi, wal haroqi wal haromi, wa auudzubika an yatakhobbathoniisysyaithoonu ’indal mauti, wa a’uudzubika an amuuta fii sabiilika mudbiron. Wa a’uudzubika an amuuta ladiighon.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kehancuran. Aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan – karena jatuh dari tempat yang tinggi-. Aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam, terbakar, dan ketuaan. Aku berlindung kepada-Mu dari kerasukan setan saat sakaratul maut. Aku berlindung kepada-Mu (dari) ‘aku mati dalam keadaan lari dari jalan-Mu’. Serta aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan (binatang berbisa).”

[Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa`iy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil]

 

Sumber: Channel Telegram AsSunnah: https://goo.gl/8TGjRf