Posts

,

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#SifatSholatNabi
 
MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
 
Pertanyaan:
Jika masbuk dapat Tasyahud tiga kali, apakah kita baca dua Tasyahud Awal satu Tasyahud Akhir, atau dua kali baca seperti biasa, dan yang satu Tasyahud hanya ikuti gerakan imam tanpa baca?
 
Jawaban:
Setiap makmum masbuk, diperintahkan untuk menyusul jamaah shalat di mesjid dan mengikuti imamnya, dalam keadaan apa pun sang imam berada: berdiri kah, rukuk kah, sujud kah atau duduk kah. Kemudian ia harus meng qadha’ rakaat yang tertinggal setelah imamnya salam. Tidak ada pilihan lain baginya selain itu.
 
Berangkat dari sini, si masbuk tetap harus mengikuti imamnya membaca Tasyahud. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya sebagai berikut:
 
Ada seseorang yang menyusul imamnya ketika Tasyahud Akhir, apakah dia cukup membaca Tasyahud saja, ataukah juga membaca shalawat dan doa? Tolong sebutkan dalilnya!
 
Jawab beliau:
Jika ia mendapati imamnya pada saat Tasyahud, maka ia mengikutinya dan membaca Tasyahud dan melanjutkannya hingga selesai, sebab ia duduk dalam kondisi itu tidak lain ialah demi mengikuti imamnya, sehingga hendaknya ia mengikuti sang imam dalam duduk, sekaligus dalam membaca bacaan yang disyariatkan ketika duduk tersebut. Inilah yang masyru’ baginya.
 
Namun andai ia mencukupkan dengan bacaan Tasyahud Awal saja, maka kuharap tidak mengapa. Namun afdhalnya ialah ia mengikuti bacaan imamnya secara lengkap, dan ini berangkat dari keumuman sabda Nabi ﷺ:
 
(فما أدركتم فصلّوا)
 
Yang artinya: “Apa saja yang kalian dapati, maka shalatlah” Demikian pula dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:
 
(إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فليصنع كما يصنع الإمام)
 
Yang artinya, “Bila seseorang mendatangi shalat jamaah, sedangkan imamnya berada dalam kondisi tertentu, maka perbuatlah sebagaimana yang diperbuat Imam tersebut.” [Fatawa Islamiyah 1/300].
 
Kesimpulannya:
Antum membaca Tasyahud sesuai dengan imamnya. Kalau misalnya masbuk shalat Maghrib 1 rakaat, berarti Tasyahud yang pertama membaca Tasyahud saja, lalu yang kedua membaca Tasyahud di tambah shalawat dan doa, demikian pula bacaannya pada saat Tasyahud ketiga.
 
Namun jika mendapati imam Tasyahud Akhir, maka dia ikut membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa, lalu pada Tasyahud kedua cukup membaca Tasyahud saja, sedangkan Tasyahud ketiga membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa.
 
Wallahu a’lam
 
Referensi:
 
Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA
 
, ,

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)

BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
BAGAIMANA DUDUKNYA MAKMUM MASBUK KETIKA IMAM TASYAHUD AKHIR? (FATWA ULAMA)
>> Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
 
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat kalian, semoga Allah memberikan ganjaran kepada kalian, tentang seorang makmum yang hendak shalat Maghrib bersama imam, ia telah tertinggal satu rakaat. Apakah jika imam duduk Tawaruk pada Tasyahud akhir, makmum mengikuti duduk sang imam dalam keadaan Tawaruk, ataukah Iftirasy? Karena duduk Tasyahud akhirnya imam adalah Tasyahud awal bagi si makmum.
 
Jawaban:
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita, jika seorang makmum shalat bersama imam yang jumlah rakaatnya empat atau tiga, imam telah mendahuluinya dalam sebagian rakaat, maka makmum duduk Tasyahud akhir bersama imam dalam keadaan Tawaruk, bukan Iftirasy. Alasan mengikuti imam dalam rangka menjaga agar tidak terjadi perselisihan, berdasarkan hadis:
 
إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه
 
“Imam itu diangkat untuk ditaati. Maka janganlah kalian menyelisihinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”]
 
Dikatakan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’ [(1/248)]:
“Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam ketika imam Tawaruk. Karena bagi imam, itu merupakan akhir dari shalat, walaupun bagi si makmum, itu bukan akhir shalat. Dalam kondisi ini, si masbuk duduk Tawaruknya sebagaimana ketika ia sedang Tasyahud kedua. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya 4 rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan Syarahnya: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam pada saat Tasyahud akhir dalam shalat yang jumlah rakaatnya empat dan shalat Maghrib”.
 
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Makmum masbuk duduk Tawaruk bersama imam dalam duduk Tasyahud yang ia dapatkan bersama imam, disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si makum. Sebagaimana ia juga duduk Tawaruk pada Tasyahud kedua, yang setelah ia menyelesaikan rakaat sisanya. Maka, seandainya makmum mendapatkan dua rakaat dari Ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat rakaat), duduklah bersama imam dalam keadaan Tawaruk, dalam rangka mengikuti imam, ketika ia (makmum) Tasyahud awal. Kemudian duduk Tawaruk lagi, setelah menyelesaikan sisa dua rakaat lainnya, karena itu duduk Tasyahud yang diakhiri salam”.
 
Wallahu A’lam.
 
 
 
Penerjemah: Wiwit Hardi Priyanto
[Artikel Muslim.Or.Id]

 

,

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#NgeRIBAnget, #SayNoToRiba

TERNYATA CICILAN 0% MASIH BERMASALAH

Apa yang dimaksud cicilan 0%?

Contohnya adalah beli HP dengan harga Rp 2,4 juta dan jika dengan kartu kredit cicilan 0% diubah menjadi cicilan menjadi Rp 400 ribu dibayar enam kali. Apa memang masih termasuk riba?

Ternyata kalau ditelusuri, tetap ada denda untuk transaksi krediti cicilan 0%. Jika melewati jatuh tempo lalu telat membayar, tetap dikenai denda. Namun kalau membayar tepat waktu, cicilan 0% akan tetap jadi 0%.

Hal seperti ini BERMASALAH karena adanya akad menyetujui transaksi riba.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, bahwa tetap TIDAK DIBOlehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya:

  • Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram.
  • Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya uzur, yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384)

Dan perlu dipahami, bahwa denda ketika ada keterlembatan pembayaran termasuk riba jahiliyah dan disepakati haramnya.

Ibnu Katsir menyatakan, bahwa jangan seperti orang jahiliyah yang akan berkata kepada pihak yang berutang (debitor) ketika sudah jatuh tempo: “Lunasilah! Kalau tidak, utangmu akan dibungakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:287)

Karena sikap yang tepat untuk menyikapi orang yang telat dalam melunasi utang sebagai disebutkan dalam ayat:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Berarti kalau transaksi cicilan 0% tidak dikenakan denda ketika telat membayar, bisa selamat dari riba. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sumber: https://rumaysho.com/16124-cicilan-0-masih-bermasalah.html

,

JIKA TERTINGGAL TARAWIH NAMUN BELUM ISYA

JIKA TERTINGGAL TARAWIH NAMUN BELUM ISYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#SifatSholatNabi

JIKA TERTINGGAL TARAWIH NAMUN BELUM ISYA

Terkadang dengan kesibukan bisa jadi kita tertinggal shalat Tarawih dan belum shalat Isya. Misalnya tenaga kesehatan yang harus menjaga pasien, tenaga keamanan yang harus berjaga-jaga, dan berbagai keperluan penting darurat lainnya yang tidak bisa ditinggalkan.

Jika Tertinggal Shalat Tarawih Dan Belum Shalat Isya

Syaikh Muhammad Saleh Al-Munajjid hafidzahullah berkata:

إذا فاتتك صلاة العشاء ، وجئت والإمام يصلي التراويح ، فالأولى أن تدخل خلفه بنية العشاء ، فإذا سلم أتممت صلاتك ، ولا تصل منفردا ، ولا مع جماعة أخرى ، حتى لا تقام جماعتان في وقت واحد فيحصل بذلك تشويش وتداخل في الأصوات

“Jika engkau tertinggal shalat Isya, ketika engkau datang imam sedang shalat Tarawih, maka hendaknya engkau ikut shalat bersama imam dengan niat shalat Isya. Jika imam telah salam (selesai shalat), engkau sempurnakan shalat Isya (misalnya Anda dapat shalat dua rakaat besama imam, maka Anda tidak ikut salam bersama imam, bangkitlah dan sempurnakan dua rakaat lagi sendirian, untuk menyelesaikan shalat Isya. Jika sudah selesai shalat Isya, Anda bergabung lagi untuk shalat Tarawih bersama imam, pent).”

Janganlan engkau shalat (Isya’) sendirian, dan jangan dengan jamaah yang lain, agar tidak didirikan dua jamaah shalat dalam satu waktu. Karena bisa membuat was-was dan campur aduknya suara.

Jika Tertinggal Shalat Tarawih

Misalnya ketika datang imam sudah shalat Tarawih satu atau dua rakaat,

Syaikh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:

ذا حضرت مع الناس وهم يصلون صلاة التراويح وقد فاتني شيء منها فهل أقضي ما فاتني بعد الوتر أم ماذا أصنع؟

Jika saya menghadiri shalat Tarawih bersama jamaah, kemudian saya tertinggal (beberapa rakaat), apakah saya meng-qadha shalat yang tertinggal setelah Witir, atau apa yang harus saya lakukan?

فأجاب: ” لا تقض ما فاتك بعد الوتر، لكن إن كنت تريد أن تقضي ما فاتك، فاشفع الوتر مع الإمام، ثم صل ما فاتك ثم أوتر. وهنا مسألة أنبه عليها: لو جئت والإمام يصلي التراويح وأنت لم تصلِ العشاء فماذا تفعل؟ هل تصلي العشاء وحدك أم تدخل مع الإمام في التراويح بنية العشاء؟

الجواب: أدخل مع الإمام في التراويح بنية العشاء، وإذا سلم الإمام من التراويح فقم واقض ما بقي عليك من صلاة العشاء، وقد نص الإمام أحمد رحمه الله على هذه المسألة بعينها، واختارها شيخ الإسلام ابن تيمية ، وهي القول الراجح ؛ لأن القول الراجح : أنه يجوز أن يأتمّ المفترض بالمتنفل بدليل حديث معاذ بن جبل رضي الله عنه أنه كان يصلي مع النبي صلى الله عليه وآله وسلم صلاة العشاء ثم يرجع إلى قومه فيصلي بهم تلك الصلاة، هي له نافلة ولهم فريضة ” انتهى من “اللقاء الشهري”

Beliau menjawab:

Hendaknya jangan engkau qadha shalat yang tertinggal setelah Witir. Jika engkau ingin meng-qadha shalat yang tertinggal, maka genapkanlah shalat Witir bersama imam (maksudnya, ketika imam salam shalat Witir, Anda bangkit untuk menggenapkannya, sehingga tidak terhitung shalat Witir, karena Witir harus ganjil. Maka hal ini akan terhitung sebagai shalat Tarawih, pent). Engkau shalat untuk mencapai apa yang tertinggal, kemudian shalat Witir.

Ini adalah pemasalahan yang aku ingatkan: Jika engkau dating, dan imam sedang shalat Tarawih, sedangkan engkau belum shalat Isya’, apa yang harus dilakukan? Apakah shalat Isya’ sendiri, atau ikut shalat bersama imam dengan niat Isya’?

Jawab:

Ikutlah bersama imam shalat Tarawih, jika imam telah salam shalat Tarawih, maka engkau bangkit dan sempurnakan sisa shalat Isya. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan hal ini, dan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat ini. Ini adalah pendapat yang rajih. Yaitu boleh menjadi makmun shalat wajib, dengan imam yang shalat sunnah. Dengan dalil, bahwa Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu shalat Isya bersama Nabi ﷺ, kemudian ia balik ke kampungnya untuk menjadi imam shalat Isya. Maka ia mendapat pahala sunnah, sedangkan kaumnya shalat wajib. [Liqa’as Syahri]

Lebih baik jika meng-qadha shalat dengan cara berjamaah jika mudah. Misalnya shalat dengan istri di rumah. Wallahu a’lam.

Demikian semoga bermanfaat.

Banyak mengambil faidah dari http://Islamqa.info/ar/ref/93747

 

Penyusun: dr Raehanul Bahraen

Sumber: https://Muslimafiyah.com/jika-tertinggal-shalat-tawarih-dan-belum-shalat-Isya.html

,

APAKAH BOLEH MEMVONIS ORANG YANG SERING TERTINGGAL SHALAT BERJAMAAH DENGAN VONIS MUNAFIK, SETELAH DINASIHATI?

APAKAH BOLEH MEMVONIS ORANG YANG SERING TERTINGGAL SHALAT BERJAMAAH DENGAN VONIS MUNAFIK, SETELAH DINASIHATI?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

APAKAH BOLEH MEMVONIS ORANG YANG SERING TERTINGGAL SHALAT BERJAMAAH DENGAN VONIS MUNAFIK, SETELAH DINASIHATI?

Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah ditanya:

Pertanyaan: Barakallahu fiikum, ada penanya berkata: Apakah boleh memvonis orang yang sering tidak ikut shalat berjamaah dengan vonis munafik setelah dia dinasihati?

Jawaban:

Yang pertama, kita jangan tergesa-gesa dalam menghukumi seperti ini. Karena terkadang dia mengalami ketiduran, terkadang dia mengalami …. Kita hendaknya menasihatinya. Kita katakan: Ini adalah perbuatan orang munafik. Bertakwalah engkau kepada Allah pada dirimu. Kita terus menasihatinya. Naam. Selama dia masih menghadiri shalat berjamaah sebagian dan tertinggal sebagiannya, kita terus menasihatinya, kita terus serius dalam menasihatinya dan mendorongnya. Naam.

 

Sumber: http://miraath.net/quesdownload.php?id=458 || http://cutt.us/PC8W1

,

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

QABLIYAH SUBUH SAAT IQAMAT, SHOLATNYA BATAL?

Pertanyaan:

Saya pernah mendengar, bahwa Rasul ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat  dua rakaat Qabliyah Subuh. Bagaimana menjalankan sunnah ini, bila saya telat datang ke masjid, sehingga muazin mengumandangkan Iqamat?!

Jawaban:

Alhamdulillah was sholatu was salamu ala rosulillah wa ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah…

Pertama: Memang benar, beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunat 2 rakaat sebelum Subuh, sebagaimana diceritakan oleh Ibunda kita Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat sebelum (sholat) fajar (Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Silsilah Shahihah 7/527)

Kedua: Bila telat datang masjid dan Iqamat sedang dikumandangkan, maka kita harus langsung sholat Subuh bersama imam, dan TIDAK BOLEH menjalankan sholat Qabliyah, saat Iqamat sudah dikumandangkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bila telah dikumandangkan Iqamat, maka tidak (boleh) ada sholat, kecuali sholat yang diwajibkan” (HR. Muslim: 1160).

عن ابن بحينة قال: أقيمت صلاة الصبح، فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يصلي والمؤذن يقيم، فقال: أتصلي الصبح أربعا؟

Ibnu Buhainah mengatakan: (Suatu hari) dikumandangkan Iqamat untuk sholat Subuh, lalu Rasulullah ﷺ melihat seseorang sholat, padahal muadzin sedang mengumandangkan Iqamat, maka beliau ﷺ mengatakan: “Apakah kamu sholat Subuh empat rakaat?!” (HR. Muslim: 1163 )

وعنه أيضا قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يصلي وقد أقيمت صلاة الصبح، فكلمه بشيء لا ندري ما هو؟ فلما انصرفنا أحطناه نقول: ماذا قال لك رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: قال لي: يوشك أن يصلي أحدكم الصبح أربعا؟

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah juga, bahwa Rasulullah ﷺ melewati seseorang sedang sholat, padahal Iqamat sholat Subuh telah dikumandangkan, maka beliau ﷺ pun mengatakan kepadanya, sesuatu yang tidak ku ketahui. Lalu ketika kami selesai, kami berusaha mencari tahu, kami mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu? Dia menjawab: “Hampir saja salah seorang dari kalian sholat Subuh empat rakaat” (HR. Muslim: 1162).

Kedua: Sebaiknya kita meng-qodho’ sholat Qabliyah Subuhnya setelah itu, sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ، ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا قَيْسُ، أَصَلَاتَانِ مَعًا»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيِ الفَجْرِ، قَالَ: «فَلَا إِذَنْ» رواه الترمذي وصححه الألباني

Qois mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah (suatu ketika) keluar, lalu dikumandangkanlah Iqamat sholat, maka aku pun sholat Subuh bersamanya. Kemudian beliau ﷺ beranjak pergi dan mendapatiku akan sholat, beliau ﷺ mengatakan: “Sebentar wahai Qois, apakah dua sholat bersamaan?!” Aku pun mengatakan: Ya Rasulullah, sebenarnya aku belum sholat dua rakaat Qabliyah Fajar, maka beliau ﷺ mengatakan: “Jika demikian, maka tidak apa-apa” (HR. Tirmidzi: 387, dan dishahihkan oleh Syeikh Albani).

Ketiga: Meng-qodho sholat sunnah yang waktunya tertentu, dibolehkan bila tertinggalnya sholat sunat tersebut tidak disengaja. Karena meng-qodho adalah keringanan bagi mereka yang punya uzur. Dan orang yang meninggalkan dengan sengaja, tidak memiliki uzur. Wallahu a’lam.

Dalil dari pembedaan ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

من نام عن الوتر أو نسيه فليصل إذا ذكر وإذا استيقظ

Barang siapa ketiduran atau lupa sehingga tidak sholat Witir, maka hendaklah ia sholat Witir, ketika ia ingat atau ketika ia bangun (HR. Tirmidzi: 427 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syeikh Albani)

ٌقال ابن رجب:وفي تقييد الأمر بالقضاء لمن نام أو نسيه يدل على أن العامد بخلاف ذلك، وهذا متوجه؛ فإن العامد قد رغب عن هذه السنة وفوتها في وقتها عمداً، فلا سبيل لهُ بعد ذَلِكَ إلى استدراكها، بخلاف النائم والناسي

Ibnu Rojab mengatakan: Adanya taqyid dalam perintah qodho’ itu (yakni); “Bagi orang yang tidur atau lupa” menunjukkan, bahwa orang yang sengaja (meninggalkan), hukumnya lain. Dan ini benar, karena orang yang sengaja (meninggalkan) itu tidak menyukai sholat sunnah ini, dan telah meninggalkannya pada waktunya dengan sengaja, sehingga tidak ada jalan lagi baginya untuk mendapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidur atau lupa (Fathul Bari 9/160).

Sekian, semoga bermanfaat.

Wa shallallahu ala nabiyyillah ala aalihi wa shahbihi wa maw waalaah… Walhamdulillah.

 

Disarikan dari web resmi Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA dengan disertai pengeditan bahasa oleh Tim KonsultasiSyariah.com

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28877-Qabliyah-Subuh-saat-Iqamat-sholatnya-batal.html

 

SERING MENGAKHIRKAN SHOLAT (SENGAJA MENUNDA), MAKA AMAL SALEH LAIN JUGA AKAN DIAKHIRKAN

SERING MENGAKHIRKAN SHOLAT (SENGAJA MENUNDA), MAKA AMAL SALEH LAIN JUGA AKAN DIAKHIRKAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

SERING MENGAKHIRKAN SHOLAT (SENGAJA MENUNDA), MAKA AMAL SALEH LAIN JUGA AKAN DIAKHIRKAN

“Ketika bos/atasan memanggil, langsung secepat mungkin direspon, apapun keadaannya.

Tetapi ketika Allah -yang menguasai semua bos dan raja- memanggil melalui azan, sengaja datang terlambat atau pura-pura tidak dengar”

“Biar saja seumur hidup tidak pernah memenuhi panggilan Allah melalui azan, tetapi suatu saat, panggilan Allah akan ia penuhi melalui malaikat maut”. Ini bagai manampar ke diri saya sendiri.

Seringnya kita mengakhirkan sholat, baik sengaja atau memang pura-pura lupa, tersibukkan dengan kehidupan dunia yang melalaikan. Jika saja untuk hal-hal lain kita meluangkan waktu dan ada waktu khusus, maka seharusnya demikianlah untuk waktu sholat.

Apalagi di zaman media sosial saat ini dan keasyikan dengan gadget/HP bisa jadi “Masbuk Sibuk Facebook”.

Jika memang kita terlambat sholat tidak sesuai waktunya (apalagi bagi laki-laki sholat berjamaah di masjid), maka JANGAN TENANG-TENANG SAJA. Harus ada perasaan bersalah kepada Allah dan istighfar, kemudian berusaha memerbaiki ke depannya dan mengiringi kesalahan tadi dengan melakukan kebaikan setelahnya, seperti bersedekah (ringan), menelpon membahagiakan orang tua, sholat sunnah dan lain-lain.

Salah satu yang kita khawatirkan adalah dengan sengaja terlambat sholat, maka akan terlambat pula amal saleh dan kebaikan yang lainnya. Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

إن الإنسان كلما تأخر عن الصف الأول والثاني أو الثالث (أي في الصلاة)

ألقى الله في قلبه محبة التأخر في كل عمل صالح والعياذ بالله.

“Tatkala manusia terlambat mendatangi sholat dari menempati shaf pertama, kemudian (sholat berikutnya) terlambat lagi shaf kedua, kemudian shaf ketiga (apalagi sengaja terlambat/ketinggalan sholat berjamaah), maka Allah buat hatinya suka mengakhirkan semua amal saleh.” (Syarah Riyadhus Salehin 5/111)

Semoga kita selalu bisa sholat tepat waktu dan bagi laki-laki sholat berjamaah di masjid memenuhi panggilan Allah

Berikut beberapa motivasi agar kita (terutama saya pribadi), bisa sholat tepat waktu:

  1. Salah satu amal yang paling dicintai Allah  adalah sholat pada waktunya. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu , bahwa beliau bertanya kepada Nabi ﷺ :

“Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi ﷺ menjawab dengan sabdanya:

ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﺘﻬﺎ

“Sholat pada waktunya .”

Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau ﷺ ulangi dua kali, dan Nabi ﷺ

menjawab dengan urutan:

“Berbakti kepada orang tua, kemudia berjihad fi sabilillah .” (HR. Bukhari Muslim)

  1. Sholat adalah yang pertama kali dihisab dan gambaran umum amal. Jika sholatnya baik, maka akah baiklah seluruh amal. Jika jelek, maka akanjelek jugalah amal yang lainnya. Ingat, amal yang utama adalah kualitasnya, bukan banyaknya. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﻳﺤﺎﺳﺐ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺈﻥ ﺻﻠﺤﺖ ﺻﻠﺢ ﻟﻪ ﺳﺎﺋﺮ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻓﺴﺪﺕ ﻓﺴﺪ ﺳﺎﺋﺮ ﻋﻤﻠﻪ

“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah sholat. Apabila sholatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila sholatnya buruk, maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (HR. Ath-Thabrani, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah , III:343, no. 1358)

  1. Waktu doa yang mustajab (tidak tertolak) adalah antara azan dan iqamah. Ini bisa didapatkan bagi merela yang sholat tepat waktu. Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻻَ ﻳُﺮَﺩُّ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥِ ﻭَﺍﻹِﻗَﺎﻣَﺔِ

“Doa tidak akan ditolak di antara azan dan iqamah.” (HR Ahmad, disahihkan Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil no.244)

  1. Keutamaan shaf pertama. Karena seandainya mereka tahu besarnya pahala shaf pertama, mereka akan berebut dan mengundi siapa yang berhak. Nabi ﷺ bersabda:

ﻟَﻮْ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨِّﺪَﺍﺀِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻒِّ ﺍﻷَﻭَّﻝِ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪُﻭﺍ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺘَﻬِﻤُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻻﺳْﺘَﻬَﻤُﻮﺍ

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang ada pada azan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan mengundinya ” (HR. Bukhari  Muslim)

  1. Keutamaan sholat Subuh berjamaah. Seandainya tahu keutamaannya, mereka akan memenuhi panggilan azan walaupun pergi dengan merangkak ke masjid. Nabi ﷺ bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺃَﺛْﻘَﻞَ ﺻَﻠَﺎﺓٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﺻَﻠَﺎﺓُ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻭَﻟَﻮْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻟَﺄَﺗَﻮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺣَﺒْﻮًﺍ

“Sesungguhnya sholat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim

 

Demikian semoga bermanfaat.

Penyusun: Raehanul Bahraen

[Artikel www.muslimafiyah.com]

https://muslimafiyah.com/sering-mengakhirkan-sholat-sengaja-menunda-maka-amal-saleh-lain-juga-akan-diakhirkan.html

,

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUMAT

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUMAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

ANCAMAN UNTUK ORANG YANG SUKA TERLAMBAT MENGHADIRI KHUTBAH DAN SHOLAT JUMAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

 احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنَ الإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا

 “Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam, karena sesungguhnya ada orang yang senantiasa menjauh sampai ia diakhirkan di Surga, meski ia memasukinya.” [HR. Abu Daud dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 365]

 Beberapa Pelajaran:

1) Celaan terhadap orang-orang yang tidak bersegera untuk menghadiri khutbah dan sholat Jumat. Abu Ath-Thayyib rahimahullah berkata:

 وَفِيهِ تَوْهِين أَمْر الْمُتَأَخِّرِينَ وَتَسْفِيه رَأْيهمْ حَيْثُ وَضَعُوا أَنْفُسهمْ مِنْ أَعَالِي الْأُمُور إِلَى أَسَافِلهَا

 “Dalam hadis ini terdapat perendahan terhadap perbuatan orang-orang yang suka TERLAMBAT dan celaan terhadap kebodohan mereka karena telah menurunkan diri-diri mereka sendiri dari ketinggian amalan kepada yang rendah.” [‘Aunul Ma’bud, 3/457]

2) Melambatkan diri dalam menghadiri khutbah dan sholat Jumat adalah sebab diakhirkannya seseorang untuk masuk Surga. Bisa juga bermakna derajatnya di Surga diturunkan.

3) Perintah bersegera menghadiri khutbah sebelum khatib naik mimbar.

4) Pentingnya mendengarkan khutbah, menyimak dan memahaminya dengan baik (apabila khutbahnya berdasarkan dalil Alquran dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf). Jangan tidur dan jangan berbuat sia-sia. Inilah maksud perintah mendekati imam.

5) Keutamaan sholat Jumat di shaf pertama. Ini juga maksud perintah mendekati imam.

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

, ,

MASAK SIH, SOLUSI MASALAH NEGERI ADALAH MENGAJI TAUHID?

MASAK SIH, SOLUSI MASALAH NEGERI ADALAH MENGAJI TAUHID?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MASAK SIH, SOLUSI MASALAH NEGERI ADALAH MENGAJI TAUHID?

Banyak orang yang ragu, bahkan seakan tidak lagi percaya, bahwa solusi carut marut negeri kita ialah dengan cara kembali mengaji dan mendalami agama kita, lalu mengamalkan dan mendakwahkannya.

Sampai-sampai banyak orang yang berkata: “Lha kalau kita tidak ikut nyebur ke dunia politik, atau ikut memerebutkan kursi yang ada, maka orang-orang kafirlah yang akan menguasai negeri kita”. “Lha sekarang sudah jungkir balik saja, kursi berhasil dikuasai oleh orang kafir, dan cecunguknya”.

Betul sobat. Gara-gara kita jungkir balik rebutan kursi, akhirnya kita lupa, bahwa kursi itu sebenarnya milik Allah Ta’ala. Kita pikir kursi itu milik rakyat, sampai-sampai kita terjerambab dalam kebutaan idiologi sesat: “Suara rakyat adalah suara Tuhan“.

Karena kita lupa pemilik kursi yang sebenarnya, akhirnya kita hanya berbekalkan otot, sedangkan otot kita tak sekuat otot orang-orang kafir. Ya pantas saja kita kalah. Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang memunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imran 26).

Barang kali kita berkata: “Waah, tambah ngawur saja nih. Lha kalau kita hanya ngaji dan ngaji, lalu beribadah dan berdoa saja, apa ya mungkin Islam dapat berkuasa? Atau malah sebaliknya, Islam malah tersingkirkan?“.

Sobat! Inilah ujian iman yang sebenarnya. Barang kali ini salah satu hikmah yang dapat kita petik dari membaca surat Al Kahfi setiap Jumat. Dalam surat ini dikisahkan, bagaimana para pemuda Ashabul Kahfi, yang telah kehabisan akal dan cara untuk bisa mengislamkan umatnya, hingg akhirnya mereka bersembunyi di dalam suatu gua, dan kemudian mereka tertidur selama 309 tahun.

Dan Subhanallah. Tatkala mereka terjaga dari tidurnya, ternyata kaumnya telah berubah 100 %, mereka semua telah beriman.

Allah Ta’ala juga menceritakan kisah kaumnya Nabi Yunus alaihissalam. Tatkala Nabi Yunus telah merasa kehabisan cara dan asa untuk mengislamkan kaumnya, beliau pergi agar tidak ikut terkena azab. Namun subhanallah. Setelah kepergian beliau, ternyata kaumnya mendapat hidayah dan beriman, sedangkan beliau harus menerima takdir, ditelan ikan besar hingga beberapa saat.

Bagaimana sobat. Masih ragu, bahwa pemilik kursi yang sebenarnya adalah Allah? Mintalah kursi tersebut kepada pemiliknya yang sebenarnya. Bagaimana caranya? Ya tentu dengan menegakkan iman kita, ibadah kita, rasa cinta kita, rasa takut kita dan pengagungan kita hanya kepada-Nya.

Percayalah, bila jiwa-jiwa umat Islam Indonesia telah suci dari noda-noda syirik dan bid’ah, tiada akan pernah telat atau tertunda, kursi segera menjadi milik umat Islam. Demikianlah janji Allah Ta’ala:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu, dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutanh menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada memersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. An Nur 55).

***

Penulis: Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.,

[Artikel Muslim.or.id]

,

PERHATIAN DAN SEMANGAT MELAKUKAN SHOLAT SUBUH

PERHATIAN DAN SEMANGAT MELAKUKAN SHOLAT SUBUH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Nasihat_Ulama

PERHATIAN DAN SEMANGAT MELAKUKAN SHOLAT SUBUH

Hati-Hati, Jangan Sampai Setan Mengencingi Telinga Kita

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

حسب الرجل من الخيبة والشر أن ينام حتى يصبح وقد بال الشيطان في أذنه.

“Cukuplah sebagai kerugian dan keburukan, bagi seseorang dengan dia tidur hingga pagi hari, dalam keadaan setan telah mengencingi telinganya.”

Shahih, diriwayatkan oleh al-Marwazy dalam Qiyamul Lail no. 44

 

Sumber || https://twitter.com/Arafatbinhassan/status/735602131768643584