Posts

,

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
>> Hukum Berobat Alternatif dalam Islam
 
Kesehatan adalah sebagian di antara nikmat Allah yang banyak dilupakan oleh manusia. Benarlah ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
”Ada dua nikmat yang sering kali memperdaya kebanyakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kelapangan waktu” (HR. Bukhari).
 
Dan tidaklah seseorang merasakan arti penting nikmat sehat, kecuali setelah jatuh sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah ta’ala, di antara sekian banyak nikmat lainnya. Dan kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah bersyukur kepada-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya:
”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah: 152).
 
Ada beberapa kondisi ketika sebagian orang sedang diuji oleh Allah ta’ala dengan dicabutnya nikmat kesehatan ini (baca: jatuh sakit). Di antara mereka ada yang bersabar dan rida dengan ketetapan dari Allah. Mereka tetap bertawakal dengan menempuh pengobatan yang diizinkan oleh syariat, sehingga mereka pun mendulang pahala yang berlimpah dari Allah ta’ala, karena sabar dan tawakalnya kepada Allah ta’ala. Namun di antara mereka ada pula yang berputus asa dari rahmat-Nya, berburuk sangka kepada-Nya, dan menempuh jalan-jalan yang dilarang oleh syariat, demi mencari sebuah kesembuhan. Bahkan sampai menjerumuskan dirinya ke dalam kesyirikan. Yang mereka dapatkan tidak lain hanyalah penderitaan di atas penderitaan, penderitaan di dunia, setelah itu penderitaan abadi di Neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena Allah ta’ala berfirman yang artinya:
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48).
 
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
 
Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencari kesembuhan adalah jaminan dari Allah ta’ala, bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seorang hamba pasti ada obatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut” (HR. Bukhari).
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa seluruh jenis penyakit memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau untuk meringankan penyakit tersebut. Hadis ini juga mengandung dorongan untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit badan, sebagaimana kita juga mempelajari obat untuk penyakit-penyakit hati. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa seluruh penyakit memiliki obat, maka hendaknya kita berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktikkannya. (Lihat Bahjatul Quluubil Abraar hal. 174-175, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di)
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah ta’ala” (HR. Muslim).
 
Maksud hadis tersebut adalah, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya, dan waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah, maka dengan seizin-Nya, orang sakit tersebut akan sembuh. Dan Allah ta’ala akan mengajarkan pengobatan tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: ”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).
 
Berobat = Mengambil Sebab
 
Berobat sangat erat kaitannya dengan hukum mengambil sebab. Maksud mengambil sebab adalah seseorang melakukan suatu usaha/sarana (“sebab”) untuk dapat meraih apa yang dia inginkan. Misalnya seseorang mengambil sebab berupa belajar, agar dapat meraih prestasi akademik. Demikian pula seseorang “mengambil sebab” berupa berobat, agar dapat meraih kesembuhan dari penyakitnya.
 
Di antara ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama berkaitan dengan hukum-hukum dalam mengambil sebab adalah, bahwa sebab (sarana) yang ditempuh TIDAK BOLEH menggunakan sarana yang haram, apalagi sampai menjerumuskan ke dalam kesyirikan, meskipun metode pengobatan tersebut terbukti menyembuhkan, berdasarkan pengalaman atau penelitian ilmiah. Selain itu, ketika mengambil sebab tersebut, hatinya harus senantiasa bertawakal kepada Allah ta’ala, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, demi berpengaruhnya sebab tersebut. Hatinya TIDAK bersandar kepada sebab, sehingga dirinya pun merasa aman setelah mengambil sebab tersebut. Seseorang yang berobat, setelah dia berusaha maksimal mencari pengobatan yang diizinkan oleh syariat, maka dia bersandar/bertawakal kepada Allah ta’ala, BUKAN kepada dokter yang merawatnya –betapa pun hebatnya dokter tersebut. Dan bukan pula kepada obat yang diminumnya –betapa pun berkhasiatnya obat tersebut. Hal ini karena seseorang harus memiliki keyakinan, bahwa betapa pun hebatnya sebuah sebab (obat atau semacamnya), namun hal itu tetap berada di bawah TAKDIR ALLAH TA’ALA.
 
Bentuk-Bentuk Pengobatan Alternatif yang Diharamkan
 
Di antara pengobatan alternatif yang diharamkan adalah pengobatan yang mengandung unsur kesyirikan, seperti berobat dengan menggunakan metode sihir. Sihir merupakan ungkapan tentang jimat-jimat, mantra-mantra, dan sejenisnya, yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Di antaranya ada yang membuat sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami dan istri. Namun pengaruh sihir tersebut tetap tergantung pada izin Allah ta’ala. Sihir ini merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah! Apa saja itu?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ”Yaitu syirik kepada Allah, sihir, …” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Pelaku sihir memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Apabila dijumpai salah satu di antara tanda-tanda tersebut pada seorang ahli pengobatan, maka dapat diduga, bahwa ia melakukan praktik sihir, atau melakukan praktik yang amat dekat dengan sihir. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:
 
1) Mengambil bekas pakaian yang dipakai oleh pasien semisal baju, tutup kepala, kaos dalam, celana dalam, dan lain-lainnya;
 
2) Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, dan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan kadang-kadang melumurkan darah binatang tersebut pada bagian anggota badan yang sakit;
 
3) Menuliskan jimat atau jampi-jampi yang tidak dapat difahami maksudnya;
 
4) Memerintahkan pasien untuk menyepi beberapa waktu di kamar yang tidak tembus cahaya matahari;
 
5) Memerintahkan pasien untuk tidak menyentuh air selama jangka waktu tertentu, dan kebanyakan selama 40 hari;
 
6) Membaca mantra-mantra yang tidak dapat difahami maknanya;
7) Kadang ia memberitahukan nama, tempat tinggal, dan semua identitas pasien serta masalah yang dihadapi pasien, tanpa pemberitahuan pasien kepadanya.
 
Demikian pula diharamkan bagi seseorang untuk berobat kepada dukun. Pada hakikatnya, dukun tidak berbeda dengan tukang sihir dari sisi, bahwa keduanya meminta BANTUAN KEPADA JIN, dan mematuhinya demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Sedangkan perbuatan meminta bantuan kepada jin sendiri termasuk SYIRIK BESAR. Karena meminta bantuan kepada jin dalam hal-hal seperti ini tidaklah mungkin, kecuali dengan mendekatkan diri kepada jin dengan suatu ibadah atau “ritual” tertentu. Seorang dukun harus mendekatkan diri kepada jin dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti menyembelih, istighatsah, kufur kepada Allah dengan menghina mushaf Alquran, mencela Allah ta’ala, atau amalan kesyirikan dan kekufuran yang semisal, agar mereka dibantu untuk diberitahu tentang perkara yang gaib. (Lihat Fathul Majiid hal. 332, Syaikh Abdurrahman bin Hasan; At-Tamhiid hal. 317, Syaikh Shalih Alu Syaikh)
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa mendatangi seorang dukun dan memercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa’ no. 2006).
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata:
”Di dalam hadis tersebut terdapat dalil kafirnya dukun dan tukang sihir, karena keduanya mengaku mengetahui hal yang gaib. Padahal hal itu adalah kekafiran. Demikian pula orang-orang yang membenarkannya, meyakininya, dan rida terhadapnya” (Fathul Majiid, hal. 334).
 
Satu hal yang cukup memrihatinkan bagi kita adalah menyebarnya dukun dan tukang sihir yang berkedok sebagai tabib, yang mampu mengobati berbagai penyakit. Di antara mereka banyak juga yang berani memasang iklan di surat kabar dan mengklaim dirinya mampu mengetahui hal yang gaib. Wal ‘iyadhu billah! Di antara contoh praktik-praktik pengobatan yang mereka lakukan misalnya:
 
1. Pengobatan melalui jarak jauh, di mana keluarga pasien cukup membawa selembar foto pasien. Setelah itu, si tabib akan mengetahui bahwa ia menderita (misalnya) sakit jantung dan gagal ginjal. Oleh si tabib, penyakit itu kemudian ditransfer jarak jauh ke binatang tertentu, misalnya kambing. Hal ini jelas-jelas termasuk berobat kepada dukun, karena apakah hanya melihat foto seseorang kemudian diketahui bahwa jantungnya bengkak, ginjalnya tidak berfungsi, dan lain-lain?
 
2. Pengobatan metode lainnya, pasien hanya diminta menyebutkan nama, tanggal lahir, dan kalau perlu wetonnya. Bisa hanya dengan telepon saja. Setelah itu, si tabib akan mengatakan, bahwa pasien tersebut memiliki masalah dengan paru-paru atau jantungnya, atau masalah-masalah kesehatan lainnya.
 
3. Dukun lainnya hanya meminta pasiennya untuk mengirimkan sehelai rambutnya lewat pos. Setelah itu dia akan “menerawang gaib” untuk mendeteksi, merituali, dan memberikan sarana gaib kepada pasiennya.
 
4. Pengobatan dengan “ajian-ajian” yang dapat ditransfer jarak jauh atau dengan menggunakan “benda-benda gaib” tertentu seperti “batu gaib”, “gentong keramat” (cukup dimasukkan air ke dalam gentong, kemudian airnya diminum), dan lain sebagainya.
 
Praktik perdukunan dan sihir seolah-olah memang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula pelakunya. Orang yang mengaku sebagai dukun, paranormal, atau orang pintar juga melakukan sihir. Dan demikian pula sebaliknya. Demikianlah salah satu kerusakan yang sudah tersebar luas di Indonesia ini. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari kesyirikan.
 
Bentuk pengobatan syirik lainnya adalah berobat dengan menggunakan jimat. Termasuk kerusakan pada masa sekarang ini adalah penggunaan jimat untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Tidak sungkan-sungkan pula pemilik jimat tersebut akan menawarkan jimatnya tersebut di koran-koran agar menghasilkan uang. Di antaranya jimat dalam bentuk batu “mustika” atau cincin yang dapat mengeluarkan sinar tertentu, yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun bentuknya. Hal ini termasuk kesyirikan karena Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa menggantungkan jimat (tamimah), maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 492).
 
Pengobatan dengan Sesuatu yang Haram
 
Tidak boleh pula seseorang berobat dengan menggunakan sesuatu yang haram, meskipun tidak sampai derajat syirik. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633).
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya” (HR. Bukhari). Hadis-hadis ini beserta dalil yang lain, semuanya tegas melarang berobat dengan sesuatu yang haram.
 
Misalnya bentuk pengobatan dengan menggunakan air kencingnya sendiri. Air seni yang diminum, terutama air seni pertama kali yang dikeluarkan pada waktu pagi hari setelah bangun tidur. Pengobatan seperti ini tidak boleh dilakukan. Karena air seni adalah najis, dan setiap barang najis pasti haram. Maka air seni termasuk ke dalam larangan ini. Begitu pula berobat dengan memakan binatang-binatang yang haram dimakan.
 
Semoga pembahasan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan nikmat berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh kepada kita semua. Dan semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menjadi hamba-Nya yang bersih tauhidnya dan jauh dari kesyirikan.
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim
[Artikel www.muslim.or.id]
 
 
,

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

Dijelaskan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitabul Iimaan:

“Orang ini mengatakan insya Allah bukan karena ia RAGU akan kehendak dan ambisinya tersebut. Hanya saja, pada perwujudan apa yang dikehendakinya dan di’azzamkannya tersebut, (maka ia menyandarkannya pada kehendak Allah ﷻ). Dia TAKUT apabila TIDAK mengucapkan insya Allah, maka (Allah) akan mengurangi hasratnya, dan (ia pun) tidak berhasil mendapatkan apa yang dikehendakinya.”

Beliau juga berkata:

“…Mengucapkan insya Allah, BUKANLAH karena RAGU tentang apa yang diharapkan atau dikehendaki, akan tetapi sebagai HARAPAN, agar Allah mewujudkan keinginannya tersebut…” [Kitaabul Iimaan, Edisi Indonesia: Al Iimaan, Pustaka Darul Falah]

Lihatlah dalam perkataan ini saja, sudah tercakup DUA UNSUR PENTING DALAM IBADAH: rasa harap dan rasa takut.

Bukankah jika dalam hati kita ketika mengucapkan perkataan ini, dan kuat rasa harap dan takut kita kepada Allah, akan berbuah sebagai amalan saleh yang tinggi nilainya!? (sebesar rasa takut dan harap kita ketika beramal!?)

Demikianlah, SATU UCAPAN orang yang berilmu dan menghadirkan hatinya, SANGAT JAUH dengan ucapan orang yang tidak tahu ilmunya, atau ucapannya orang yang lalai hatinya, meskipun ia tahu ilmunya.

Dibalik ucapan insya Allah pun terkandung tawakkal dan perwujudan keimanan terhadap qadha dan qadar-Nya!

Tidak hanya itu… ucapan insya Allah… juga merupakan perwujudan ilmu kita tentang TAWAKKAL kepada Allah, dan juga perwujudan ilmu kita akan keimanan kita terhadap qadha dan qadarNya!

Syaikhul Islaam berkata tentang firman Allah:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا . إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan pasti mengerjakan ini besok pagi…’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insyaa Allah’ (jika Allah menghendaki)…” (al Kahfi 23-24)

إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

“Aku benar-benar akan mengerjakan yang demikian esok hari…” terkandung makna pengharapan dan pengabaran.

Pengharapannya itu KUAT dan PASTI (ada di hatinya). Adapun jika apa yang diharapkannya tersebut terjadi, maka itu karena Allah menghendakinya (terjadi)…

Dalam permintaannya ini, terkandung permintaan kepada Allah. Sedangkan tentang pengabaran, dia tidak mengabarkan, kecuali apa yang diketahui Allah. Oleh karenanya, siapa YANG MEMASTIKAN tanpa istisnaa’, maka dia seperti orang yang yakin terhadap Allah, namun kemudian Allah mendustakannya.

Maka seorang MUSLIM yang berhasrat akan sesuatu, yang ia sangat ingin dan mengharapkannya tanpa ada keraguan padanya, maka hendaklah ia (tetap) mengucapkan insya Allah, agar apa yang diharapkannya terwujud. Sebab hal tersebut sekali-kali tidak akan terjadi, kecuali dengan kehendak Allah. (Sehingga ucapan istisnaa’ ini) bukan karena keragu-raguan kehendaknya.

PENGGUNAAN YANG BENAR tentang insya Allah, adalah sebagaimana dijelaskan al-Ustadz Firanda Andirja hafizhahullaahu ta’aala dalam tulisan berikut ini:

PENGGUNAAN KATA “INSYAA ALLAH” UNTUK TIGA FUNGSI YANG BENAR DAN SATU FUNGSI YANG SALAH

Penggunaan kata “Insyaa Allah” untuk tiga fungsi yang benar, dan satu fungsi yang salah:

(1) Untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam doa ziarah kubur:

“Dan kami insyaa Allah akan menyusul kalian, wahai penghuni kuburan”.

Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah:

“Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjdil Haram insyaa Allah, dalam keadaan aman.” [QS Al-Fath: 27]

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan, akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita: “Bulan depan saya akan umroh, insyaa Allah”.

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu SALAH penggunaan fungsi: Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. Seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka ia pun berkata: “Insyaa Allah”.

Atau tatkala diminta bantuan, lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”.

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan, malah digunakan untuk menolak [Sumber: https://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/267-penggunaan-kata-qinsyaa-allahq-untuk-3-fungsi-yang-benar-dan-1-fungsi-yang-salah]

Wallahu a’lam.

HUKUM BEROBAT KETIKA SAKIT

HUKUM BEROBAT KETIKA SAKIT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 HUKUM BEROBAT KETIKA SAKIT

Sebagian orang menganggap bahwa berobat ketika sakit akan mengurangi tawakkalnya kepada Allah. Tentunya ini adalah persepsi yang KELIRU.

Allah berfirman:

 وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian. Sesungguhnya Allah terhadap kalian Maha Pengasih”. [QS: An Nisa: 29]

Sisi pendalilannya adalah, bahwa Allah melarang hamba-Nya untuk membunuh dirinya sendiri dengan cara apapun, baik dengan bunuh diri, atau dengan tidak mengobati penyakitnya, apalagi dalam kondisi yang sangat berbahaya terhadap kesehatannya. Oleh karena itu, ‘Amr bin ‘Ash menjadikan ayat di atas sebagai alasan beliau untuk tidak mandi junub, dan bertayamum ketika dalam kondisi yang sangat dingin. [Lihat Al Jami’ li Ahkamil Quran Karya Al Qurthubi]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

 عن أبي هريرة رضي الله عنهعن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما أنزل الله داء إلا أنزل له شفاء

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Allah menurunkan obatnya “. [HR Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Al Imam An Nawawi telah mengisyaratkan dalam Syarah beliau terhadap hadis di atas:

“Hadis di atas menunjukkan, bahwa berobat hukumnya Sunnah. Juga penjelasan bolehnya seseorang belajar ilmu kedokteran, dan bolehnya praktik medis secara umum” [Lihat Syarh Nawawi]

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim:

“Dalam hadis yang sahih, terdapat perintah untuk berobat, dan itu tidak menafikan tawakkal, sebagaimana tidak bertentangan dengan tawakkal seseorang yang mengobati rasa lapar atau haus, panas dan dingin dengan lawannya. Bahkan tidak akan sempurna dalam bertauhid, kecuali dengan melakukan sebab yang Allah jadikan itu sebagai sebab, baik secara Taqdir atau secara Syari. Maka itu menunjukkan, bahwa siapa yang tidak mau berusaha menjalankan sebab, maka dia telah MERUSAK makna tawakkalnya kepada Allah”. [Lihat Athib An Nabawi: 105]

Tentunya tidak berobat dengan sesuatu yang dilarang dalam Islam sebagaiman akan datang penjelasannya, In Sya Allah.

Wallahu A’lam bi Showab.

 

Penulis: Abu Abdillah Imam

Sumber: http://www.el-imam.com/2016/08/berobatlah.html

,

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#AdabAkhlak

ADAB-ADAB KETIKA UJIAN

Pertama: Berusaha Disertai Tawakal

Inilah langkah awal yang selayaknya dilakukan oleh setiap yang mengharapkan keberhasilan. Usaha merupakan modal pertama meraih kesuksesan, karena sukses tidaklah serta merta turun dari langit. Perubahan hanya akan terjadi, ketika orangnya mau berusaha untuk berubah. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’du: 11]

Karena itu, dalam Islam tidak ada kamus tawakal tanpa usaha, karena setiap tawakal harus diawali usaha. Tawakal tanpa usaha, diistilahkan dengan tawaaakal (pura-pura tawakal).

Namun ingat, juga jangan terlalu bersandar pada usaha dan kemampuan kita. karena semuanya berada di bawah kehendak Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun usaha kita, jangan sampai membuat kita terlalu PeDe, sehingga mengesankan tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Allah menjanjikan, orang yang bertawakal akan dicukupi oleh Allah. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” [QS. At-Thalaq: 3].

Sebaliknya, orang yang tidak bertawakal, maka dikhawatirkan akan diuji dengan kegagalan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah bercerita: “Nabi Sulaiman pernah berikrar: “Malam ini aku akan menggilir 100 istriku. Semuanya akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah.” Beliau mengucapkan demikian, dan tidak mengatakan: “InsyaaAllah”. Akhirnya tidak ada satupun yang melahirkan, kecuali salah satu dari istrinya yang melahirkan setengah manusia (baca: manusia cacat). kemudian Nabi ﷺ bersabda:

لَوِ اسْتَثْنَى، لَوُلِدَ لَهُ مِائَةُ غُلَامٍ كُلُّهُمْ يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Andaikan Sulaiman mau mengucapkan InsyaaAllah, niscaya akan terlahir 100 anak, dan semuanya berjihad di jalan Allah.” [HR. Ahmad 7137 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Siapa kita dibandingkan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam? Keinginan seorang Nabi yang tidak disertai tawakal, ternyata bisa menuai kegagalan.

Kedua: Hindari Sebab Yang Tidak Memenuhi Syariat

Ada sebagian orang yang ketika hendak ujian, dia menempuh jalan pintas. Dia menggunakan sebab yang bertolak belakang dengan syariat. Ada yang datang ke orang pintar untuk minta perewangan. Ada yang makan kitab biar bisa cepat hapal. Ada yang zikir tengah malam dengan membaca ribuan wirid yang tidak disyariatkan, dan seabreg trik lainnya untuk menggapai sukses.

Perlu kita tanamkan dalam lubuk hati kita, bahwa segala sesuatu itu bisa dijadikan sebagai sebab, jika memenuhi dua kriteria:

  • Ada hubungan sebab akibat yang terbukti secara ilmiah. Misalnya belajar dan menghapal adalah sebab untuk mendapatkan pengetahuan.
  • Jika syarat pertama tidak terpenuhi, maka harus ada syarat kedua, yaitu sebab tersebut ditentukan oleh dalil. Sehingga meskipun sebab tersebut tidak terbukti secara ilmiah memiliki hubungan dengan akibat,namun selama ada dalil, maka boleh dijadikan sebagai sebab. Contoh, meruqyah dengan bacaan Alquran untuk mengobati orang sakit. Meskipun secara ilmiah tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah hubungan antara bacaan Alquran dengan pengobatan, namun mengingat ada dalil yang menegaskan hal tersebut, maka itu bisa dijadikan sebagai sebab.

Jika ada sebab yang TIDAK memenuhi dua kriteria di atas, maka menggunakan sebab tersebut hukumnya SYIRIK KECIL. Karena berarti dia telah berdusta atas nama Allah. Dia meyakini, bahwa hal itu bisa dijadikan sebab, padahal sama sekali Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab.

Dan jika sebab yang ditempuh itu berupa amal, maka syaratnya harus ada dalilnya. Jika tidak, bisa jadi terjerumus ke dalam jurang dosa bid’ah.

Ketiga: Perbanyak Istighfar

Sesungguhnya salah satu sumber utama kegagalan yang terjadi pada manusia adalah dosa dan maksiat. Allah tegaskan:

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. As-Syura: 40]

Salah satu dampak buruk dosa adalah bisa menghalangi kelancaran rezeki, sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

Sesungguhnya seseorang terhalangi untuk mendapat rezeki, disebabkan dosa yang dia perbuat. [HR. Ahmad 22386 dan dihasankan Al-Albani].

Karena itu, agar kita terhindar dari dampak buruk perbuatan maksiat yang kita lakukan, perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah. Perbanyak istighfar dalam setiap waktu yang memungkinkan untuk berizkir. Kita berharap, dengan banyak istighfar, semoga Allah memberi ampunan dan memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang diharapkan.

Dalam sebuah hadis dinyatakan:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Siapa yang membiasakan istigfar, Allah akan memberikan kelonggaran di setiap kesempitan, memberikan jalan keluar di setiap kebingungan, dan Allah berikan dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka. [HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad, Ad-Daruquthni, al-baihaqi dan yang lainnya].

Hadis ini dinilai dhaif oleh sebagian ulama. Hanya saja maknanya sejalan dengan perintah Allah di Surat Hud:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

Perbanyaklah meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu, sampai kepada waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang memunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. [QS. Hud: 3]

Keempat: Banyak berdoa

Perbanyaklah berdoa kepada Allah, meminta segala hal yang kita butuhkan, baik dalam urusan Akhirat maupun dunia. Karena semakin sering mengetuk pintu, maka semakin besar peluang untuk dibukakan pintu tersebut. Semakin sering kita berdoa, semakin besar peluang untuk dikabulkan. Namun perlu diingat, jangan suka minta didoakan orang lain. Karena berdoa sendiri itu lebih berpeluang untuk dikabulkan, daripada harus melalui orang lain. Lebih-lebih di saat kita sedang membutuhkan pertolongan. Akan ada perasaan berharap yang lebih besar, bila dibandingkan dengan doa yang diwakilkan orang lain. Di samping itu, berdoa sendiri lebih menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah secara langsung. Dan kita melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.

Kelima: Pegang Prinsip Kejujuran dan Hindari Bentuk Penipuan

Pernahkah kita menyadari, bahwa plagiat dan mencontek ketika ujian termasuk bentuk penipuan? Adakah di antara kita yang sadar, bahwa melakukan pelanggaran dalam ujian termasuk bentuk kedustaan? Pernahkah kita merasa, bahwa hal itu membawa konsekuensi dosa? Mungkin ada di antara kita yang beranggapan, kalau itu tidak ada hubungannya dengan agama. Ini lain urusan, antara UN dengan agama. Tak ada kaitannya dengan urusan Akhirat.

Perlu kita sadari, bahwa apapun bentuk pelanggaran yang kita lakukan ketika ujian, baik itu bentuknya mencontek, plagiat, catatan, pemalsuan data dan pelanggaran lainnya, hukumnya haram dan dosa besar. Tinjauannya:

  1. Perbuatan itu terhitung sebagai bentuk penipuan, karena orang yang melihat nilai kita beranggapan, bahwa itu murni usaha kita yang dilakukan dengan jujur dan sportif. Padahal hakikatnya itu adalah hasil kerja gabungan, kerja kita dan teman-teman sekitar kita. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang menipu kami, maka bukan termasuk golongan kami.” [HR. Muslim].

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, bahwa perbuatan menipu ini termasuk dosa besar, karena diancam dengan kalimat: “Bukan termasuk golongan kami”. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin Syarh hadis Bab: Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan].

Komite Tetap Tim Fatwa Saudi pernah ditanya tentang masalah pelanggaran ketika ujian, mereka menjawab: “Menipu dalam ujian pembelajaran atau yang lainnya itu haram. Orang yang melakukannya termasuk pelaku salah satu dosa besar.

Berdasarkan hadis dari Nabi ﷺ: “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan bagian kami.” Dan tidak ada perbedaan antara materi pelajaran agama maupun non agama.”

Dalam kesempatan yang sama Komite Fatwa ini juga pernah ditanya tentang hadis “Barangs iapa yang menipu kami…” kemudian mereka menjawab:

“Hadis ini statusnya Shahih. Mencakup segala bentuk penipuan, baik dalam jual beli, perjanjian, amanah, ujian sekolah atau pesantren. Baik bentuk penipuannya itu dengan melihat buku ajar, mencontek teman, memberikan jawaban kepada yang lain, atau dengan melemparkan kertas pada yang lain.”

  1. Perbuatan ini termasuk di antara sifat orang yang diancam dengan azab. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ

“…dan mereka yang suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Jangan sekali-kali kamu mengira, bahwa mereka akan lolos dari azab…” [QS. Ali Imran: 188].

Kita yakin, orang yang suka melakukan pelanggaran ketika ujian pasti tidak lepas dari tujuan mencari nilai bagus. Disadari maupun tidak, ketika ada orang yang memuji nilai UN yang kita peroleh, pasti akan ada perasaan bangga dalam diri kita. Meskipun kita yakin betul kalau itu bukan murni kerja kita. Oleh karena itu, bagi yang punya kebiasaan demikian, segeralah bertakwa kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak digolongkan seperti ayat di atas.

  1. Perbuatan semacam tergolong sebagai orang yang mengenakan pakaian kedustaan. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لم يعط كلابس ثوب زور

“Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan, maka seolah dia memakai dua pakaian kedustaan.” [HR. Ahmad & Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani].

Dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud; “Orang yang merasa bangga dengan apa yang tidak dia dapatkan” adalah orang yang menampakkan, bahwa dirinya telah mendapatkan keutamaan, padahal aslinya dia tidak mendapatkannya. [Lihat Faidhul Qodir 6/338].

Orang semacam ini termasuk orang yang menipu orang lain. Dia menampakkan seolah dirinya orang pintar, nilainyanya bagus, padahal aslinya….

Ujian adalah amanah untuk dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai Muslim yang baik, selayaknya kita jaga amanah ini dengan baik. Amanah ilmiah yang selayaknya kita tunaikan dengan penuh tanggung jawab, karena itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan. Bukan jaminan, orang yang nilai UN-nya baik, pasti mendapatkan peluang hidup yang lebih nyaman. Ingat, kedustaan dan kecurangan akan mengundang kita untuk melakukan kedustaan berikutnya, dalam rangka menutupi kedustaan sebelumnya. Dan bisa jadi itu terjadi secara terus-menerus. Berbeda dengan kejujuran, dia akan mengantarkan pada ketenangan, dan selanjutnya mengantarkan pada jalan kebaikan dan Surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada Surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada Neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” [HR. Muslim no. 2607]

Keenam: Tips dalam Menghadapi Kegagalan

a. Tanamkan Bahwa Semuanya Telah Ditakdirkan

Sebagai bukti, bahwa kita adalah orang yang beriman pada takdir, kita yakini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya telah ditakdirkan oleh Allah. Kita yakini bahwa tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya, baik kita ketahui maupun tidak. Kita tutup rapat-rapat, jangan sampai kita berburuk sangka kepada Allah. Sebagai penyempurna keimanan kita pada takdir adalah kita pasrahkan semuanya kepada Allah, dan tidak terlalu disesalkan. Kegagalan bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Demikian pula, sukses bukanlah tanda, bahwa Allah membenci kita. Bahkan ini termasuk anggapan cupet manusia yang telah dibantah dalam Alquran. Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ( ) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ( ) كَلَّا…

Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku memuliakan aku.”(15) Namun apabila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.”(16) sekali-kali tidak…..”[QS. Al Fajr: 15-17].

b. Bersabar dengan Penuh Mengharapkan Pahala

Jika gagal ini adalah bagian dari ujian hidup, maka berusahalah untuk bersabar. Lebih-lebih jika kita mampu untuk bersikap rida, atau bahkan bersyukur. Sesuatu yang berat ini akan menjadi terasa ringan. Nabi ﷺ bersabda:

 

مَا يَزَالُ البَلَاءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Tidak henti-hentinya ujian itu akan menimpa setiap Mukmin laki-laki maupun wanita, terkait dengan dirinya, anaknya, dan hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” [HR. At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Riyadhus Shalihin].

Kegagalan ini akan menjadi penebus dosa, jika orang yang tertimpa kegagalan tersebut mampu bersabar.

c. Yakini Ada yang Lebih Buruk Dari Pada Kita

Inilah di antara cara yang diajarkan Islam, agar kita tetap bisa bersyukur kepada Allah, terhadap nikmat yang telah Dia berikan. Nabi ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih bawah dari pada kamu, dan jangan melihat orang yang lebih banyak nikmatnya dari pada kamu. Karena akan memberi kekuatan kamu, untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” [HR. Muslim]d

d. Hindari Ber-Andai-Andai

Jangan sampai terbetik dalam diri kita teriakan perasaan “Andai aku tadi pinjam bukunya si A, pasti aku bisa mengerjakannya..” “Andai aku tadi…pasti…” “Andai aku…kan harusnya gak…” dan seterusnya. Umumnya perasaan ini muncul, ketika orang itu dalam posisi gagal. Karena perasaan ini merpakan awal dari godaan setan, agar manusia mengingkari takdir Allah. Nabi ﷺ bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Apabila kamu tertimpa kegagalan, janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku bersikap demikian, tentu yang terjadi demikian..” Tetapi katakanlah: “Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki.” Karena sesungguhnya ucapan berandai-andai itu membuka (pintu) perbuatan setan.” [HR. Muslim]

Berdasarkan hadis di atas, ada ungkapan yang sunnah untuk kita ucapkan, ketika sedang mengalami kegagalan:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai apa yang Dia kehendaki”

e. Berusaha Untuk Memerbaikinya dan Jangan Putus Asa

Nabi ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta jangan sekali-kali kamu bersikap lemah (karena putus asa)…” [HR. Muslim].

Selamat menempuh ujian, semoga sukses menyertai kita semua… Amiin

 

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits [Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17430-adab-dalam-ujian-nasional-untaian-nasehat-peserta-un.html

,

UNTUK SAUDARAKU YANG DIZALIMI

UNTUK SAUDARAKU YANG DIZALIMI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#FaidahTafsir

UNTUK SAUDARAKU YANG DIZALIMI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memeroleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui, (meliputi) segala apa yang mereka kerjakan.” [Ali Imron: 120]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يرشدهم تعالى إلى السلامة من شر الأشرار وكَيْدِ الفُجّار، باستعمال الصبر والتقوى، والتوكل على الله الذي هو محيط بأعدائهم، فلا حول ولا قوة لهم إلا به، وهو الذي ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن. ولا يقع في الوجود شيء إلا بتقديره ومشيئته، ومن توكل عليه كفاه

“Allah ta’ala membimbing kaum Mukminin untuk selamat dari keburukan orang-orang jelek, dan makar orang-orang jahat, dengan mengamalkan sabar, takwa dan tawakkal kepada Allah, yang Maha Mampu, meliputi musuh-musuh mereka. Maka tidak ada daya dan kekuatan bagi kaum Mukminin, kecuali dengan-Nya. Dialah yang kehendak-Nya pasti terjadi. Dan yang tidak Dia kehendaki, maka tidak akan terjadi. Dan tidak ada sedikit pun yang dapat menjadi kenyataan, kecuali dengan takdir-Nya dan kehendak-Nya. Maka siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/109]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

صاحب الصدق مع الله لا تضره الفتن

“Orang yang jujur kepada Allah, maka fitnah-fitnah tidak akan membahayakannya.” [Fathul Baari, 6/483]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata:

وأن الله يجعل لأوليائه عند ابتلائهم مخارج وإنما يتأخر ذلك عن بعضهم في بعض الأوقات تهذيبا وزيادة لهم في الثواب

“Dan bahwa Allah senantiasa menjadikan bagi wali-wali-Nya, jalan-jalan keluar, ketika mereka ditimpa musibah. Hanya saja jalan keluar itu terkadang lambat bagi sebagian mereka, pada sebagian waktu, untuk pembersihan dari dosa, dan tambahan pahala untuk mereka.” [Fathul Baari, 6/483]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/

,

UNTUK SAUDARAKU BPK. PATRIALIS AKBAR HAFIZHAHULLAH (PEJABAT NEGARA YANG CINTA SUNNAH)

UNTUK SAUDARAKU BPK. PATRIALIS AKBAR HAFIZHAHULLAH (PEJABAT NEGARA YANG CINTA SUNNAH)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Cinta_Sunnah

UNTUK SAUDARAKU BPK. PATRIALIS AKBAR HAFIZHAHULLAH (PEJABAT NEGARA YANG CINTA SUNNAH)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memeroleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui, (meliputi) segala apa yang mereka kerjakan.” [Ali Imron: 120]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يرشدهم تعالى إلى السلامة من شر الأشرار وكَيْدِ الفُجّار، باستعمال الصبر والتقوى، والتوكل على الله الذي هو محيط بأعدائهم، فلا حول ولا قوة لهم إلا به، وهو الذي ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن. ولا يقع في الوجود شيء إلا بتقديره ومشيئته، ومن توكل عليه كفاه

“Allah ta’ala membimbing kaum Mukminin untuk selamat dari keburukan orang-orang jelek dan makar orang-orang jahat, dengan mengamalkan sabar, takwa dan tawakkal kepada Allah yang Maha Mampu meliputi musuh-musuh mereka. Maka tidak ada daya dan kekuatan bagi kaum Mukminin kecuali dengan-Nya. Dialah yang kehendak-Nya pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki maka tidak akan terjadi. Dan tidak ada sedikit pun yang dapat menjadi kenyataan, kecuali dengan takdir-Nya dan kehendak-Nya. Maka siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/109]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

صاحب الصدق مع الله لا تضره الفتن

“Orang yang jujur kepada Allah, maka fitnah-fitnah tidak akan membahayakannya.” [Fathul Baari, 6/483]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata:

وأن الله يجعل لأوليائه عند ابتلائهم مخارج وإنما يتأخر ذلك عن بعضهم في بعض الأوقات تهذيبا وزيادة لهم في الثواب

“Dan bahwa Allah senantiasa menjadikan bagi wali-wali-Nya, jalan-jalan keluar ketika mereka ditimpa musibah. Hanya saja jalan keluar itu terkadang lambat bagi sebagian mereka pada sebagian waktu, untuk pembersihan dari dosa dan tambahan pahala untuk mereka.” [Fathul Baari, 6/483]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/739100116239473:0

, ,

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

بسم الله الرحمن الرحيم

 

#DakwahTauhid

#StopBid’ah

BID’AH YANG MENJURUS SYIRIK DALAM “METODE RUQYAH NARUTO”

Ucapan praktisinya:

“Untuk mengalahkan para Jinchuriki ini manusia membutuhkan para peruqyah yang menjadi RIKUDO SENNIN yang dapat menjinakkan para Bijuu Siluman Jin dan mengeluarkannya dari tubuh para Jinchuriki. Peruqyah Rikudo Sennin kadang memang harus bersusah payah bertarung dengan para Jinchuriki yang dalam keadaan kerasukan dan dalam kontrol Bijuu Siluman Jin.”

Juga ucapannya:

“Di alam nyata manusia, seorang peruqyah bertugas menyegel semua Bijuu Siluman Jin jahat yang ada di tubuh Jinchuriki dengan kekuatan energi Ruqyah yang dimilikinya semua, agar dapat menghambat rencana Dajjal menguasai manusia, untuk tunduk dalam perintahnya, sembari menunggu kedatangan Nabi Isa yang akan mengalahkan Juubi Dajjal.”

Tanggapan:

  1. Ini adalah ucapan orang yang tidak memahami tauhid dengan benar. Bagaimana mau mendakwahkan tauhid…?!

Ini adalah kalimat yang seharusnya dijauhi dalam pendidikan tauhid. Karena pada hakikatnya manusia sama sekali tidak membutuhkan para peruqyah dan tidak pula kepada siapa pun. Mereka hanya butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan dalam Kitab At-Tauhid sebuah hadis:

أنه كان في زمن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- منافقٌ يؤذي المؤمنين. فقال بعضهم: قوموا بنا نستغيث برسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- من هذا المنافق. فقال النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: إنه لا يستغاث بي، وإنما يستغاث بالله

“Bahwa pada zaman Nabi ﷺ ada seorang munafik yang menyakiti kaum Mukminin. Maka sebagian mereka berkata: Ayolah kita beristighatsah kepada Rasulullah ﷺ dari orang munafik ini. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak boleh beristighatsah kepadaku. Hanyalah boleh beristighatsah kepada Allah.” [HR. Ath-Thobrani dari Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu’anhu, lihat Al-Mulakhkhos fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 121]

Istighatsah artinya meminta tolong dari kesusahan. Dan menolong kaum Muslimin dari kezaliman kaum munafikin masih dalam batas kemampuan Rasulullah ﷺ. Akan tetapi demi menanamkan tauhid kepada mereka dan memuliakan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau ﷺ melarang untuk menggunakan kalimat istighatsah dalam meminta pertolongan, kecuali hanya kepada Allah. Padahal ini terkait pertolongan yang masih dalam batas kemampuan manusia. Apalagi menghadapi setan, makhluk yang tak terlihat oleh manusia, dan tidak ada yang dapat melindungi kita darinya selain Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata:

والظاهر أن مراده صلى الله عليه وسلم إرشادهم إلى التأدب مع الله في الألفاظ، لأن استغاثتهم به صلى الله عليه وسلم من المنافق من الأمور التي يقدر عليها، إما بزجره أو تعزيره ونحو ذلك، فظهر أن المراد بذلك الإرشاد إلى حسن اللفظ والحماية منه صلى الله عليه وسلم لجناب التوحيد، وتعظيم الله تبارك وتعالى. فإذا كان هذا كلامه صلى الله عليه وسلم في الاستغاثة به فيما يقدر عليه، فكيف بالاستغاثة به أو بغيره في الأمور المهمة التي لا يقدر عليها أحد إلا الله كما هو جار على ألسنة كثير من الشعراء وغيرهم؟!

“Yang nampak jelas, bahwa maksud beliau ﷺ adalah membimbing mereka untuk beradab kepada Allah dalam memilih lafaz-lafaz yang diucapkan, karena istighatsah kepada Nabi ﷺ dari orang munafik masih dalam batas kemampuan beliau ﷺ, yaitu beliau ﷺ mampu melarangnya atau menghukumnya dan yang semisalnya. Namun beliau ﷺ tetap melarang ucapan tersebut. Maka jelaslah yang dimaksud adalah bimbingan untuk menggunakan lafaz yang baik, dan beliau ﷺ juga bermaksud melindungi tauhid dan mengagungkan Allah tabaraka wa ta’ala. Maka apabila beliau ﷺ melarang beristighatsah kepada beliau ﷺ dalam perkara yang beliau ﷺ masih mampu melakukannya, bagaimana lagi dengan istighatsah kepada beliau ﷺ atau selain beliau ﷺ dalam perkara-perkara genting, yang tidak mampu ditolong kecuali hanya oleh Allah, sebagaimana kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh para penyair dan selain mereka…?!” [Taisirul Azizil Hamid, hal. 199]

Inilah pendidikan tauhid Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ senantiasa membimbing umat untuk tawakkal kepada Allah ta’ala dan menjauhi kalimat-kalimat yang mengandung ketergantungan kepada makhluk dan mengandung syirik atau mengantarkan kepada syirik.

Keterangan:

Ini adalah tambahan keterangan, agar kita tidak salah paham, bahwa hal ini sama sekali tidak menafikan usaha peruqyah untuk menjadi sebab kesembuhan atau keluarnya jin dengan ruqyahnya. Sama sekali tidak menafikan usaha. Melainkan peringatan untuk tidak menggambarkan kepada manusia, bahwa peruqyah itulah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dan mengeluarkan jin, sehingga hati mereka bergantung kepadanya.

Sungguh jauh kalau dipahami, bahwa maksud poin pertama ini adalah menafikan usaha. Kalau demikian konsekuensinya, maka tatkala Rasulullah ﷺ melarang para sahabat beristighatsah kepada beliau ﷺ dan memerintahkan mereka beristighatsah hanya kepada Allah, berarti beliau ﷺ menafikan usaha. Padahal tidak demikian.

  1. Para peruqyah tidak memiliki kemampuan apa pun selain meruqyah; tidak kemampuan ‘menyegel’, tidak pula menyalurkan ‘energi’ (?) ruqyah. Tidak ada dalil yang menunjukkannya, sependek yang kami ketahui. Dan ruqyah hanyalah sebab kesembuhan. Adapun yang mengalahkan jin dan menyembuhkan si sakit hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memerkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepada-Nya? Dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi! Apakah ada Sesembahan yang lain bersama Allah? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” [An-Naml: 62]

Allah ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku.” [Asy-Syu’ara: 80]

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ membaca ketika meruqyah:

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ

Adzhibil ba’sa Robban Naasi, bi yadikasy syifaau, laa kaasyifa lahu illaa Anta.

Artinya:

Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb manusia. Di tangan-Mu kesembuhan. Tidak ada yang dapat menyembuhkannya kecuali Engkau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]

Adapun menggambarkan kepada orang lain, bahwa peruqyah memiliki keistimewaan khusus untuk melawan jin, maka itu sama dengan modus para dukun dan tukang sihir, agar manusia terfitnah dengan mereka. Yaitu mengultuskan mereka dan menghormati mereka secara berlebihan, hingga menyekutukan mereka dengan Allah ta’ala tanpa sadar.

Maka sadarlah, ketika kita meruqyah dan jinnya bertaubat, dan keluar dari tubuh pasien, bukan karena kita sudah punya kemampuan untuk menjinakkan jin atau mengalahkannya. Melainkan semata-mata pertolongan Allah jalla wa ‘ala, yang hanya Allah berikan, kapan Dia kehendaki.

  1. Bahkan jika seorang peruqyah selalu menang, selalu bisa mengalahkan dan mengeluarkan jin, maka hendaklah ia mencurigai dirinya, karena itu adalah indikasi kuat, bahwa ia adalah dukun yang bersekutu dengan setan, atau setan-setan itu sedang memermainkannya…! Terlebih dalam keadaan ia bodoh dengan ilmu agama, maka semakin mudahlah setan menipunya. Kemudian menyebabkan munculnya ghurur (ketertipuan) dan ketakjubannya terhadap dirinya sendiri. Apalagi jika ia berpaling dari nasihat-nasihat orang yang berilmu, hanya karena menurutnya, mereka mengaku paling “nyalaf”.

Mengapa ‘Selalu menang’ merupakan indikasi kuat terjerumusnya peruqyah dalam sihir?

Karena Allah jalla wa ‘ala menolong hamba-Nya kapan Dia menghendaki. Jika seseorang meruqyah dan selalu berhasil, seakan-akan kehendak Allah selalu mengikuti kehendaknya, dan tentunya itu tidak mungkin.

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ، قَالَ: جَعَلْتَ لِلَّهِ نِدًّا، مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

“Seseorang berkata kepada Nabi ﷺ: Sesuai kehendak Allah dan kehendakmu. Maka beliau ﷺ bersabda: Engkau telah menjadikan aku sekutu bagi Allah, (ucapkanlah) sesuai kehendak Allah yang satu saja.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrod, Ash-Shahihah: 138]

  1. Indikasi bahwa ruqyah seseorang mengandung sihir itu semakin kuat, ketika metode ruqyahnya mengandung penyelisihan syariat dan bid’ah-bid’ah, bahkan mengantarkan kepada syirik. Karena setan semakin menyukainya, dan semakin jauh dari pertolongan Allah ta’ala.

Inilah beberapa penyimpangan metode ruqyah yang termasuk kategori mengada-ada dan bid’ah yang menjurus kepada syirik:

– Penentuan amalan atau bacaan teknik membuka penyamaran jin.

– Penentuan amalan atau bacaan teknik menarik jin secara paksa.

– Penentuan amalan atau bacaan mengunci pergerakan jin.

– Penentuan amalan atau bacaan membakar jin.

– Penentuan amalan atau bacaan menyerang balik para penyihir.

– Penentuan amalan atau bacaan memanggil jin.

– Penentuan amalan atau bacaan menyembelih jin, dan tidak jarang sang “peruqyah” bergaya sok tahu seakan-akan jinnya sedang terbakar, sedang disembelih, sedang terkunci dan seterusnya, yang sangat mirip dengan gaya dukun.

– Menjual air atau herbal ruqyah.

– Teknik membantu pasien melihat wujud asli jin yang sebenarnya. Ini jelas batil, bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memerlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya, melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” [Al-A’raf: 27]

Tidak lain semua itu akibat tipuan setan terhadap orang yang sibuk meruqyah dan lupa mendalami ilmu yang shahih. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وَبِأَنَّ الشَّيْطَانَ مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَكْذِبَ وَأَنَّهُ قَدْ يَتَصَوَّرُ بِبَعْضِ الصُّوَرِ فَتُمْكِنُ رُؤْيَتُهُ وَأَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا ترونهم مَخْصُوصٌ بِمَا إِذَا كَانَ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا

“Dan bahwa setan adalah makhluk yang termasuk sifat utamanya adalah berdusta, dan bahwa ia mungkin menyamar dalam berbagai rupa, sehingga mungkin melihatnya ketika itu. Adapun maksud firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”, dikhususkan dalam bentuk aslinya.” [Fathul Baari, 4/489]

  1. Sependek yang kami ketahui, bahwa tidak ada satu dalil pun yang menjelaskan:

– Seorang peruqyah bertugas menyegel jin.

– Memiliki kekuatan ‘energi’ ruqyah.

– Bertugas menghambat rencana Dajjal menguasai manusia sembari menunggu kedatangan Nabi Isa ‘alaihissalam.

Ini semua mengada-ada dalam agama dan khayalan kosong belaka. Mungkin akibat menonton film Naruto. Tugas orang yang meruqyah hanyalah meruqyah dengan cara yang sesuai ketentuan syariat, dan hasil kesembuhannya serahkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada padanya, maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat Muslim:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (ﷺ) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Meruqyah adalah amal saleh, bukan acara hiburan, bukan bisnis atau profesi. Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma berkata:

لَدَغَتْ رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَنَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْقِى قَالَ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

“Seseorang dari kami pernah disengat oleh kalajengking, dan ketika itu kami sedang bermajelis bersama Rasulullah ﷺ. Maka berkatalah seseorang: Wahai Rasulullah, bolehkah aku meruqyah. Beliau ﷺ bersabda: Barang siapa diantara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia lakukan.” [HR. Muslim]

 

Tapi hendaklah dilakukan sesuai bimbingan para ulama. Jangan mengada-ada dan membuka pintu-pintu fitnah (bencana) kesyirikan. Menolak kemudaratan didahulukan daripada meraih kemanfaatan. Dan jangan sampai melalaikan dari menuntut ilmu, karena orang yang bodoh terhadap ilmu agama sangat mudah ditipu setan.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

 

 

 

Berikut beberapa link terkait ruqyah semoga dapat menjadi nasihat bagi kaum Muslimin:

 

 

 

 

 

 

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

 

 

,

MENGADUKAN KESUSAHAN HANYA KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

MENGADUKAN KESUSAHAN HANYA KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MENGADUKAN KESUSAHAN HANYA KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأنْزَلَهَا بالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أنْزَلَهَا باللهِ ، فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barang siapa ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka TIDAK AKAN tertutupi kesusahannya. Dan barang siapa yang mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah akan memberi rezeki kepadanya, cepat atau lambat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dan ini adalah lafaz At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu, Shahihut Targhib: 838]

Dalam lafaz yang lebih shahih:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍعَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barang siapa yang ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barang siapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452, Ash-Shahihah: 2787]

Penjelasan Makna Hadis:

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ أَيْ لَمْ تُقْضَ حَاجَتُهُ وَلَمْ تُزَلْ فَاقَتُهُ وَكُلَّمَا تُسَدُّ حَاجَتُهُ أَصَابَتْهُ أُخْرَى أَشَدُّ مِنْهَا

“Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya. Dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/111]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah berkata:

فما معنى قوله: “إما بموتعاجل، أو غنى عاجل”؟ فأقول: لم أقف على كلام شاف في ذلك لأحد من العلماء،و أجمع ما قيل فيه ما ذكره الشيخ محمود السبكي في “المنهل العذب” (9 / 283) قال: إما بموت قريب له غني، فيرثه، أو بموت الشخص نفسه، فيستغني عن المال، أو بغنى و يسار يسوقه الله إليه من أي باب شاء، فهو أعم مما قبله، ومصداقهقوله تعالى: و من يتق الله يجعل له مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب

“Maka apakah makna ucapan beliau: “Apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat”? Aku katakan: Aku belum mendapati penjelasan yang memuaskan dari seorang ulama pun tentang itu. Dan yang paling mencakup dalam menjelaskannya adalah apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Mahmud As-Subki dalam Al-Minhal Al-‘Adzbu (9/283), beliau berkata: “Apakah dengan kematian kerabatnya yang dekat lagi kaya lalu ia mewarisi hartanya, atau ia sendiri yang mati (dalam kebaikan) sehingga ia tidak lagi membutuhkan harta, atau dengan suatu kekayaan atau kemudahan yang Allah berikan kepadanya dengan cara apa saja sesuai kehendak-Nya. Dan yang terakhir ini lebih umum dari yang sebelumnya. Hal ini didukung dengan firman Allah ta’ala:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

 “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Tholaq: 2-3).” [Ash-Shahihah, 6/676]

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah berkata:

أي: إذا اعتمد على الناس وعول عليهم، وغفل عن الله عز وجل فإنها لا تسد فاقته. والفاقة: هي الفقر وشدة الحاجة، فإذا عول الإنسان على الناس فإنه لا يحصل له ما يريد؛ لأنه إذا اعتمد على الناس تُرك على الناس، وأما إذا اعتمد على الله فإن الله تعالى يهيئ له الرزق من حيث لا يحتسب كما قال: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ [الطلاق:2-3]، أي: كافيه

“Maknanya adalah, apabila ia bergantung dan bersandar kepada manusia dan lupa kepada Allah ‘azza wa jalla, maka tidak akan tertutupi kesusahannya. Dan kesusahan yang dimaksud di sini adalah kefakiran (kemiskinan) dan sangat butuh. Maka apabila seseorang bersandar kepada manusia, tidak akan tercapai apa yang ia inginkan. Karena jika ia bersandar kepada manusia, maka ia akan dibiarkan (oleh Allah) kepada manusia (sebagai hukuman atasnya). Adapun jika ia bersandar kepada Allah, maka Allah akan menyediakan baginya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka, sebagaimana firman Allah ta’ala:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath-Tholaq: 2-3) Makudnya Allah yang mencukupinya.” [Syarhu Sunan Abi Daud, 9/74, Asy-Syamilah]

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah berkata:

فمن تعلق بالله وأنزل حوائجه إليه والتجأ إليه وفوض أمره إليه وكفاه وقرب إليه كل بعيد ويسر له كل عسير ومن تعلق بغيره أو سكن إلى رأيه وعقله ودوائه وتمائمه ونحو ذلك وكله الله إلى ذلك وخذله وهذا معروف بالنصوص والتجارب قال تعالى ومن يتوكل على الله فهو حسبه

“Maka barang siapa yang bergantung kepada Allah ta’ala, memohon hajat-hajatnya kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, memasrahkan urusannya kepada-Nya, niscaya Allah ta’ala akan mencukupinya, mendekatkan baginya setiap yang jauh, memudahkan baginya semua yang sulit.

Dan barang siapa yang bergantung kepada selain-Nya atau lebih tenang (ketika bersandar) kepada pendapatnya, akalnya, obatnya, jimat-jimatnya dan yang semisalnya, maka Allah ta’ala jadikan dia bergantung kepada makhluk-makhluk tersebut, dan Allah ta’ala akan menghinakannya. Dan ini sudah dimaklumi berdasarkan dalil-dalil dan kenyataan. Allah ta’ala berfirman:

 وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.” (Ath-Tholaq: 3).” [Fathul Majid, hal. 124]

Beberapa Pelajaran:

1) Wajib untuk selalu bertakwa kepada Allah ta’ala dan bergantung (tawakkal) hanya kepada-Nya.

2) Mengadu dan memohon hendaklah hanya kepada Allah ta’ala.

3) Tercelanya meminta-minta dan tercelanya bergantung kepada manusia.

4) Allah Maha Mampu sedang makhluk itu lemah.

5) Allah akan sesantiasa menolong orang yang bertakwa dan mencukupi orang yang bersandar kepada-Nya.

6) Takwa dan tawakkal adalah solusi semua problematika hidup ini.

7) Memohon dan bergantung kepada selain Allah, dapat mengantarkan kepada syirik (insya Allah akan dibahas lebih detail dalam artikel lainnya).

8) Seorang Mukmin harus kuat dan optimis dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam hidup, yaitu dengan selalu berharap, bergantung dan bermohon hanya kepada Allah, serta bertakwa kepada-Nya. Inilah hakikat kekuatan.

9) Allah yang Maha Memberi rezeki. Meminta kepada selain-Nya termasuk syirik.

10) Kematian yang baik, yaitu dalam keadaan taat kepada Allah, adalah peristirahatan yang baik untuk seorang Mukmin dari segala kesusahan dunia. Namun kematian yang jelek bisa jadi awal bencana besar untuk seorang hamba, jika Allah tidak mengampuninya.

Wallaahu A’lam.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: http://sofyanruray.info/mengadukan-kesusahan-hanya-kepada-allah-azza-wa-jalla

CIRI AHLI SURGA: MEMILIKI HATI SEPERTI HATI BURUNG

CIRI AHLI SURGA: MEMILIKI HATI SEPERTI HATI BURUNG

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

CIRI AHLI SURGA: MEMILIKI HATI SEPERTI HATI BURUNG

Pertanyaan:

Apakah hadis ini shahih: “Akan masuk Surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung.”

Lalu seperti hati burung itu maksudnya apa?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Hadis yang disampaikan di atas itu benar. Hadis itu diriwayatkan Imam Ahamd dalam al-Musnad dan Muslim dalam shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

Akan ada sekelompok orang yang masuk Surga, hati mereka seperti hatinya burung. (HR. Ahmad 8382 & Muslim 7341).

Apa yang dimaksud manusia berhati seperti hati burung?

Dalam kitab Syarh Shahih Muslim (17/177), An-Nawawi menyebutkan, ada tiga pendapat ulama dalam memaknai orang yang hatinya seperti hati burung:

[1] Orang yang hatinya lembut seperti burung

Sebagaimana pujian yang diberikan Nabi ﷺ kepada penduduk Yaman. Beliau ﷺ mengatakan:

أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ ، أَضْعَفُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً ، الْفِقْهُ يَمَانٍ ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ

Ada penduduk Yaman yang datang di tengah kalian. Mereka manusia yang paling lembut hatinya. Pemahaman agama banyak di Yaman, dan hikmah banyak di Yaman. (HR. Bukahri 4390 & Muslim 193).

[2] Orang yang hatinya mudah takut kepada Allah seperti burung, sehingga dia menjadi manusia yang mudah kembali kepada kebenaran, bukan anti-nasihat. Merekalah yang dipuji Allah dalam Alquran, dan Allah gelari sebagai ulama. Alllah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

[3] Orang yang hatinya sangat bergantung dan tawakkal kepada Allah seperti burung. Karena itu Rasulullah ﷺ pernah menjadikan burung sebagai lambang tawakkal. Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Jika kalian tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian Allah akan memberi rezeki  kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki  . Dia berangkat dalam kondisi perut kosong, dan pulang dalam kondisi perut kenyang. (HR. Ahmad 205 dan Turmudzi 2344 dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Merekalah manusia pilihan, hatinya lembut, mudah kembali kepada kebenaran, mudah menerima ilmu, mudah takut kepada Allah.

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28493-ciri-ahli-Surga-memiliki-hati-seperti-hati-burung.html

 

 

SERAHKAN DAN BERTAWAKKALLAH HANYA KEPADA ALLAH

SERAHKAN DAN BERTAWAKKALLAH HANYA KEPADA ALLAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SERAHKAN DAN BERTAWAKKALLAH HANYA KEPADA ALLAH

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 إن ينصركم الله فلا غالب لكم،وإن يخذلكم فمن ذا الذي ينصركم من بعده،و على الله فليتوكل المؤمنون

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu. Tetapi jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja, orang-orang Mukmin bertawakkal.” (QS Ali Imran:160)

Sumber: http://indonesiabertauhid.com/