Posts

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

HIDAYAH ITU DICARI, BUKAN DITUNGGU

Kita layak terpukau dengan kisah-kisah orang-orang yang mendapatkan hidayah, lalu hidayah itu merubah drastis jalan hidupnya. Tapi kita juga pantas bertanya, mengapa tingkat kebaikan kita tidak setinggi mereka tersebut? Kita sudah lama memeluk agama Islam, tapi mengapa Islam kita masih biasa-biasa saja? Baik dalam hal ilmu, amal, maupun peran yang dapat kita lakukan untuk kemajuan Islam.

Kemampuan seseorang untuk melahirkan amal, bergantung seberapa  besar kadar hidayah yang bersemayam di hatinya. Baik Hidayah Irsyad atau petunjuk yang berupa pengetahuan terhadap kebenaran, juga Hidayah Taufik yang menjadikan kebutuhan manusia untuk mendapatkan hidayah.  Karenanya, manusia memerlukan hidayah untuk memeroleh setiap maslahat, baik Duniawi maupun Ukhrowi.

Inilah jawabannya, meskipun kita telah mendapatkan hidayah Islam, mengapa masih tetap diperintahkan memohon hidayah kepada Allah, paling minim, 17 kali dalam sehari semalam kita membaca di dalam sholat,

“Tunjukkilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 6)

Selain hidayah Islam, kita juga membutuhkan hidayah yang bersifat tafshili. Untuk menjalani Islam dengan benar, kita perlu hidayah ilmu. Kita perlu petunjuk, apa yang harus kita imani, bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, apa saja rincian kebaikan, sehingga kita bisa menjalankan, mana jenis kemaksiatan yang harus kita hindari. Ini semua butuh hidayah irsyad, memerlukan petunjuk ilmu.

Setelah mengetahui ilmunya, kita juga membutuhkan hidayah taufik, agar kita mampu menerapkan ilmu ke dalam amal, juga untuk istiqomah. Karena tidak sedikit orang yang telah mengetahui berbagai jenis amal saleh, namun tidak diberi kekuatan untuk menjalaninya. Meskipun ia orang yang kuat dan berotot, tanpa hidayah, ia tak mampu berbuat apa-apa. Ada pula yang sudah mengerti sederetan kemaksiatan dan segudang perkara yang haram, namun ia tak kuasa untuk melepaskan diri dari belengu syahwatnya. Kita membutuhkan hidayah untuk mengenali kebenaran, butuh pula hidayah untuk mampu berpegang di atasnya.

Mungkin tersisa dibenak kita, mengapa kita masih saja “Biasa”. Tidak tampak efek luar biasa, padahal kita juga berdoa kepada Allah, paling tidak 17 kali dalam sehari semalam. Allah tidak mungkin bakhil, tidak pula menyalahi janji-Nya atas hamba-Nya. Efek yang belum terasa, atau tidak begitu kuat pengaruhnya, boleh jadi karena kurangnya penghayatan kita terhadap doa yang kita panjatkan. Kita memohon kepadanya, namun tidak tau apa yang kita minta, atau tidak menyadari, permohonan apa yang kita panjatkan kepada-Nya. Allah tidak mengabulkan doa yang berangkat dari hati yang lalai.

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR Tirmizi, Al-Albani menyatakan, “hadis Hasan”).

Atau bisa jadi pula, karena ikhtiar kita untuk mendapatkan hidayah belum optimal. Selain doa yang menuntut hadirnya hati, juga terhindarnya kita dari faktor-faktor penghalang terkabulnya doa, mestinya kita iringi doa dengan ikhtiar. Hidayah irsyad  kita cari dengan banyak belajar, menelaah Alquran dan As-Sunnah, mengaji kitab-kitab yang ditulis para ulama, maupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Adapun hidayah taufik hendaknya kita cari dengan bergaul bersama orang-orang saleh dan bermujahadah untuk menjalankan amal-amal penyubur iman.

Salah jika berpikir, bahwa mendapat hidayah berarti Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan malaikat yang akan menurunkan seseorang sesat, lalu masuk Islam, bertaubat, menuntunnya melakukan amal kebaikan setiap saat sepanjang hidupnya, tanpa ada usaha dari orang tersebut.

Hidayah adalah petunjuk yang secara halus menunjukkan dan mengantarkan kepada sesuatu yang dicari. Dan yang paling dicari manusia semestinya adalah keselamatan di dunia dan Akhirat. Untuk mendapatkannya, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi bekal bagi setiap manusia dengan berbagai arahan, yang akan membawa menuju keselamatan. Namun Allah subhanahu wa ta’ala juga memberinya pilihan, sehingga ada yang mengikuti petunjuk lalu selamat, dan ada yang tidak mengacuhkannya, lalu celaka.

Imam Ibnul Qayyim dan Imam al Fairusz Abadi menjelaskan, Allah telah memberikan petunjuk secara halus kepada setiap manusia agar selamat hingga Hari Kiamat, bahkan sejak hari kelahirannya. Beliau menyebutkan:

Tahapan pertama adalah memberikan Al Hidayah Al Amah, yaitu hidayah yang bersifat umum yang diberikan kepada setiap manusia, bahkan setiap mahluknya. Yaitu petunjuk berupa instink, akal, kecerdasan dan pengetahuan dasar, agar makhluknya bisa mencari dan mendapatkan berbagai hal, yang memberinya maslahat. Hidayah inilah yang dimaksud dalam ayat,

“Musa berkata; ‘Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS.Thaha: 50)

Dengan bekal ini, manusia bisa menyerap, memahami dan melaksanakan berbagai arahan dan bimbingan yang diberikan kepadanya.

Tahapan kedua adalah Hidayatul Dilalah Wal Bayan atau Hidayatul Irsayad, yaitu petunjuk berupa arahan dan penjelasan yang akan mengantarkan manusia kepada keselamatan dunia dan Akhirat. Semua itu terangkum dalam risalah yang disampaikan melalui Nabi dan Rasul-Nya.  Allah berfirman:

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami.” (QS.21:73)

Risalah yang dibawa oleh Muhammad ﷺ adalah Hidayatul Bayan paripurna yang telah Allah berikan kepada manusia. Sifatnya hanya memberi penjelasan dan arahan, agar manusia bisa meraih keselamatan. Mengikuti atau tidak, Allah memberikan pilihan kepada setiap manusia berupa ikhtiar. Sehingga ada di antara mereka yang mengetahui, kemudian mengikuti dan terus melazimi hingga menjadi mukmin yang taat. Namun ada pula yang enggan bahkan menentang. Yang mengetahui, lalu mengikuti dan berusaha tetap berada di atas kebenaran, akan selamat. Sebaliknya, yang mengetahui lalu berpaling, akan binasa.

Kemudia, fase ketiga adalah Hidayatut Taufiq, yaitu petunjuk yang khusus diberikan kepada orang–orang yang dikehendaki Allah. Hidayah yang menuntun hati seseorang untuk beriman dan beramal sesuai dengan tuntunan-Nya. Cahaya yang menerangi hati dari gelapnya kesesatan dan membimbingnya menuju jalan kebaikan. Hidayah yang mutlak hanya dimiliki dan diberikan oleh Allah inilah yang melunakkan hati seseorang, hingga ia mau menjawab seruan dakwah. Dan hidayah ini pulalah yang menuntun mereka agar tetap berada di atas jalan yang lurus.

Hidayah ini adalah buah dari Hidayatul Irsyad. Seseorang tidak mungkin akan mendapat hidayah ini, jika belum mendapatkan Hidayatul Irsyad sebelumnya. Namun tidak semua orang yang sudah mendapat Hidayatul Irsyad pasti mendapatkan Hidayatut Taufiq.

Seperti sudah dipaparkan tadi, bahwa tugas dan kewenangan Nabi ﷺ, juga orang-orang yang menjadi pewaris para Nabi ﷺ hanyalah menjelaskan dan menyampaikan. Mereka tidak akan mampu membuat atau memaksa seseorang mengikuiti apa yang mereka dakwahkan, jika orang tersebut lebih memilih jalan kesesatan dan tidak diberi Hidayatut Taufiq oleh Allah. Allah berfirman:

”Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. “ (QS. Al-Qashash:56).

Yang terakhir adalah hidayah di Akhirat. Petunjuk di Akhirat yang menuntun manusia menuju Jannah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu arah menuju rumah-Nya di Jannah, daripada arah menuju rumahnya di dunia.“

Keempat fase ini saling terkait secara berurutan. Tanpa adanya hidayah pertama, seseorang tidak akan bisa mendapatkan hidayah yang kedua berupa Irsyad, arahan dan bimbingan dari Rasulullah ﷺ. Sebab orang yang akalnya tidak sempurna (gila maupun idiot) tidak bisa menyerap dan menalar berbagai ilmu dan bimbingan dari siapapun. Kalaupun bisa, daya serapnya sangat minim, sehingga mereka justru di bebaskan dari semua taklif dan tanggung jawab.

Sedang hidayah yang ketiga, tidak mungkin bisa diraih sebelum seseorang mendapatkan hidayah yang pertama dan kedua. Taufiq dari Allah hanya akan turun kepada orang yang telah mendengar risalah dan kebenaran. Demikian pula hidayah yang keempat. Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar-benar mencari dan berhak mendapatkan hidayah dari-Nya.

Hidayah Al amah kita semua sudah memilikinya. Adapun hidayah di Akhirat, bukan lain adalah buah dari yang kedua dan ketiga. Sehingga yang harus kita cari semasa hidup di dunia adalah Hidayatul Irsyad dan Hidayatut Taufiq. Ibnu Katsier menjelaskan hidayah kita pinta dalam surat Al Fatihah adalah dua hidayah tersebut.

Hidayatul Irsyad adalah ilmu syari yang sahih, di mana kita bisa mengetahui kebenaran (Ma’rifatul Haq). Sedang hidayatut Taufiq adalah kelapangan hati untuk mengamalkan dan selalu berada di atas kebenaran. Dua hal ini tidak akan kita dapatkan, jika Allah tidak menghendaki kita mendapatkannya. Sehingga yang harus kita lakukan adalah mencari dan memohon kepada Pemiliknya. Mencari berbagai hal yang bisa mendatangkan hidayah dan berusaha menghancurkan semua yang menghalangi kita dari hidayah.

Syaikh Abdurahman bin Abdullah as Sahim, dalam risalahnya menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa mendatangkan hidayah:

  • Pertama: Bertauhid dan menjauhi syirik.
  • Kedua: Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  • Ketiga: Inabah, bertaubat dan kembali kepada Allah.
  • Keempat: I’tisham, berpegang teguh kepada Kitabullah.
  • Kelima: Berdoa dan berusaha keras mencarinya.
  • Keenam: Memperbanyak zikir.

Selain sebab-sebab yang bisa mendatangkan hidayah, ada juga beberapa hal yang akan menghalangi masuknya cahaya hidayah ke dalam hati, di antaranya:

  • Pertama: Minimnya pengetahuan dan penghargaan atas nikmat hidayah

Ada sekian banyak manusia yang tergiur dengan dunia dan menjadikannya satu-satunya hal yang paling diharapkannya. Sukses di matanyanya adalah capaian harta dan kedudukan di mata manusia. Kesuksesan yang bersifat Ukhrowi dinomorduakan, dan berpkir, bahwa hal seperti itu bisa dicari lagi di lain kesempatan.

Meski sudah mendapatkan lingkungan yang baik, kesempatan belajar agama yang benar, rezeki yang halal meski sedikit, ia tidak segan meninggalkannya demi meraih dunianya. Itu karena rendahnya penghargaan atas hidayah Allah berupa teman yang saleh, dan ilmu dien yang telah diberikan kepadanya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mereka hanya mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) Akhirat mereka lalai. (QS. Ar Rum 7)

  • Kedua: Hasad dan kesombongan.
  • Ketiga: Jabatan
  • Keempat: Syahwat dan harta, dan
  • Kelima: Kebencian.

Seseorang yang membenci orang lain, si A misalnya, ketika si A mendapatkan hidayah berupa masuk Islam, taubat dari suatu maksiat, semangat belajar Islam atau yang lain, kebenciannya akan menghalanginya untuk mengikuti jejak orang yang dia benci itu. Kesombongan, gengsi dan kejengkelan tumbuh subur di atas lahan kebenciannya, dan menghalangi cahaya hidayah masuk menerangi hatinya. Allah berfirman, yang artinya:

”Sesungguhnya seorang hamba jika telah beriman kepada Alquran dan mendapat petunjuk darinya secara global, mau menerima perintah dan membenarkan berita dari Alquran, semua itu adalah awal mula dari hidayah-hidayah. Selanjutnya yang akan ia peroleh secara lebih detail. Karena hidayah itu tak memiliki titik akhir, seberapa pun seorang hamba mampu mencapainya. Allah berfirman:

”Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya. (QS.Maryam:76).”

Wallahua’lam.

 

(Abu Alfia,Tebar-Sunnah)

 

 

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#DakwahTauhid

MAKNA, HAKIKAT DAN MACAM-MACAM HIDAYAH

Hidayah secara bahasa berarti ar-Rasyaad (Bimbingan) dan Ad-Dalaalah (Dalil/Petunjuk) [Lihat kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733)]

Adapun secara syari, maka Imam Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah ta’ala menjadi empat macam:

  1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

{قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى}

“Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

Inilah hidayah (petunjuk) yang Allah ta’ala berikan kepada SEMUA MAKHLUK dalam hal yang berhubungan dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup mereka dalam urusan-urusan dunia, seperti melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhi hal-hal yang membinasakan untuk kelangsungan hidup di dunia.

  1. Hidayah (yang berupa) PENJELASAN dan KETERANGAN tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini TIDAK berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat. Tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

{وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى}

“Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran), tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

Hidayah inilah yang mampu dilakukan oleh manusia, yaitu dengan berdakwah dan menyeru manusia ke jalan Allah, serta menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan memeringatkan jalan yang salah. Akan tetapi hidayah yang sempurna (yaitu taufik) hanya ada di tangan Allah ta’ala, meskipun tentu saja hidayah ini merupakan sebab besar untuk membuka hati manusia, agar mau mengikuti petunjuk Allah ta’ala dengan taufik-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah ta’ala. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

{فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8). `

Dan firman-Nya:

{إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ}

“Jika engkau (wahai Muhammad ﷺ) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memunyai penolong” (QS an-Nahl: 37).

Juga firman-Nya:

{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ﷺ) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).

Maka dalam ayat ini Allah menafikan hidayah ini (taufik) dari Rasulullah ﷺ, dan menetapkan bagi beliau ﷺ hidayah dakwah (bimbingan/ajakan kepada kebaikan) dan penjelasan dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah ﷺ) benar-benar memberi petunjuk (penjelasan dan bimbingan) kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuuraa: 52).

  1. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka, ketika penghuninya digiring kepadanya.

 

Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

{وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ}

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga), kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah ta’ala berfirman:

{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ. مِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah. Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS ash-Shaaffaat: 22-23)” [Lihat kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/271-273) dengan ringkasan dan tambahan].

Dari sisi lain, Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi hidayah menjadi dua:

  • Hidayah yang bersifat Mujmal (garis besar/global), yaitu hidayah kepada agama Islam dan iman, yang ini dianugerahkan-Nya kepada setiap muslim.
  • Hidayah yang bersifat rinci dan detail, yaitu hidayah untuk mengetahui perincian cabang-cabang imam dan Islam, serta pertolongan-Nya untuk mengamalkan semua itu. Hidayah ini sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di siang dan malam” [Lihat kitab “Jaami’ul ‘Uluumi Wal Hikam” (hal. 225)].

 

Dinukil dari artikel berjudul: “Makna Dan Hakikat Hidayah Allah” yang ditulis oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

[Artikel Muslim.Or.Id]

 

Sumber: https://muslim.or.id/19131-makna-dan-hakikat-hidayah-allah.html

DUA MACAM HIDAYAH

DUA MACAM HIDAYAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

DUA MACAM HIDAYAH

Hidayah itu ada dua macam:

  • Hidayah berupa keterangan (Hidayatul Irsyad Wal Bayan) dan
  • Hidayah berupa pertolongan (Hidayatut Taufiq Wal Ilham).

Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan Hidayatul Bayan saja. Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal Hidayatul Bayan tanpa disertai Hidayatut Taufiq untuk beramal, bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.

Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:

“Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh), selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya, maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”

Berjalan Menuju dan Di Atas Jalan yang Lurus

Setelah mengemukakan bahwa hidayah yang dimaksud oleh ayat ‘Ihdinash Shirathal Mustaqim’ ada dua:

  • Ila Shirath (Menuju jalan yang lurus) dan
  • Fi Shirath (Di atas jalan yang lurus), Syaikh As Sa’di mengatakan:

“Hidayah ‘Ila Shirath’ yaitu berpegang teguh dengan agama Islam dan meninggalkan semua agama yang lain. Sedangkan hidayah ‘Fi Shirath’ yaitu mencakup petunjuk untuk menggapai semua rincian ajaran agama dengan cara mengilmui sekaligus mengamalkannya. Maka doa ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk berdoa dengan doa ini di dalam setiap rakaat shalatnya, dikarenakan begitu mendesaknya kebutuhan dirinya terhadap hal itu.”

 

Sumber: https://muslim.or.id/95-menggapai-ketentraman-dan-hidayah.html

,

Perkataan Para Ulama

Perkataan Para Ulama

#TazkiyatunNufus
#NasihatUlama

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah, amma ba’du,

ريـــ(الصالحين)ـــاض:

من اقوال العلماء

قال ابن القيم رحمة الله

▪والله تعالى يعاقب الكذاب، بأن يقعده ويثبطه عن مصالحه ومنافعه

▫ويثيب الصادق بأن يوفقه للقيام بمصالح دنياه وآخرته”؛

 الفوائد(ص198)

Riyaadhus-Shaalihiin:

Perkataan Para Ulama

Ibnu al-Qoyyim -رحمه الله- berkata:

▪ “Allah Azza wa Jalla akan menghukum orang yang suka berdusta, dengan menahan dan menghalanginya dari maslahat dan manfaat.

▫ Dan Allah akan membalas orang yang jujur, dengan memberinya taufik dalam melakukan amal saleh di dunia dan Akhirat.” [Al-Fawaaid (hal: 198)]

 

❆•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

 

قال الشيخ العثيمين

▫ما خرجنا لنعيش في الدنيا كما تعيش البهائم نأكل ونشرب وننام فقط”؛

▪ولكن خرجنا لكي نعد الزاد للآخره

شرح الكافيه الشافيه

(379/4)

 

Syaikh al-Utsaimin berkata:

▫ “Kita hidup di dunia tidak seperti hewan ternak, hanya untuk makan minum dan tidur saja.

▪Akan tetapi kita hidup untuk memersiapkan bekal untuk di Akhirat.” [Syarh al-kaafiyah as-Syaafiyah (379/4)]

 

❆•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

 

قال ابن القيم

▪الرجل هو الذي يخاف موت قلبه لاموت بدنه”؛

مدارج السالكين(3/248)

 

Imam ibn al-Qoyyim berkata:

“Seseorang harusnya takut akan hatinya mati, bukan takut mati badannya.” [Madaarij as-Saalikiin (248/3)]

 

❆•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

 

قال سفيان الثوري رحمة الله

مابقى لي من نعيم الدنيا الا ثلاث”

اخ ثقه في الله اكتسب في صحبته خيراً، ان رآني زائغاً قومني، او مستقيمً رغبني،

 ورزقا واسع حلال ليس لله علي في تبعة ولا لمخلوق علي فيه منه”

وصلاة في جماعه اكفى سهوها وارزق اجرها؛؟

مفتاح سحر البيان لعلي بن عائد(113)

 

❆•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

 

Sufyan Atsauri semoga Allah merahmatinya berkata: “Tidak ada nikmat dunia yang kekal, kecuali tiga:

  • Persaudaraan yang kuat karena Allah, mendapat kebaikan dari persahabatannya. Jika dia melihatku melenceng, maka dia meluruskanku, dan menjadikanku selalu beristiqomah.
  • Dan rezeki yang luas dan halal itu hanya Allah saja yang mampu memberikannya. Dan adapun makhluk, tidak mampu sedikit pun memberikannya.
  • Dan shalat berjamaah itu menutupi kekeliruannya, dan balasannya rezeki yang banyak.”

 

❆•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

 

قناة

ريـــــ(الصالحين📚)ـــــاض

للاشتراك:

 إضغط على رابط القنـ↙ـاة:

https://goo.gl/un5ZIq

Sumber: Riyadhu as-Salehin

https://goo.gl/un5ZIq

❆•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•

 

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
#UntukYangMengakuHabib

HARAMNYA MENGAKU-AKU SEBAGAI KETURUNAN AHLUL BAIT ( KETURUNAN NABI )

  • Apakah Habib Itu Keturunan Nabi?
  • Apakah Keturunan Nabi itu Terjaga dari Kesalahan?

Mengaku Keturunan Rasulullah

Bagusnya nasab, itu bukan jaminan dia selamat. Tetapi hal itu tergantung dari amalannya, apakah amalannya sesuai dengan petunjuk NABI ﷺ atau malah menyelisihi NABI ﷺ.

Di kalangan kaum Muslimin, khususnya di negeri kita ini, sering kita mendengar bahwa ada seorang tokoh yang merupakan keturunan Nabi ﷺ dan dipanggillah tokoh tersebut dengan sebutan Habib.

Bahkan gelar ini mereka buktikan dengan skema nasab yang mereka miliki, yang bertemu dengan nasab Nabi ﷺ, atau dibuktikan dengan semacam ijazah atau sertifikat.

Ironisnya, gelar nasab ini seolah-olah menjadi kartu truf, yang akhirnya menjadi dalil halalnya segala perbuatan yang mereka lakukan, baik perbuatan yang telah jelas merupakan kemaksiatan, perbuatan bid’ah dalam agama, bahkan sampai kesyirikan.

Tidak boleh mengaku-ngaku bernasab kepada NABI ﷺ jika ternyata memang tidak ada hubungan nasab. Resikonya sangat berat, yaitu akan disiapkan tempat duduknya di NERAKA.

Lalu bagaimanakah sebenarnya sikap Ahlussunnah terhadap tokoh keturunan Nabi ﷺ atau yang disebut dengan golongan Ahlul Bait ? Berikut ini pembahasannya oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah [Diterjemahkan dan disarikan dari kitab Fadhl Ahli al-Bait wa ‘Uluww Makaanatihim ‘Inda Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah oleh Abdurrahman bin Thayyib as-Salafi. Sumber: Majalah Adz-Dzakiroh Vol. 8 No. 1 Edisi 43 Ramadhan-Syawal 1429 H. Kami hanya mengambil dua poin pembahasan dari tiga yang dibahas di sumber tersebut]:

Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah Terhadap Ahlul Bait Secara Global

Akidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah pertengahan antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri, antara berlebihan dan meremehkan dalam segala perkara akidah.

Di antaranya adalah akidah mereka terhadap Ahlul Bait Nabi ﷺ. Mereka berloyalitas terhadap setiap Muslim dan Muslimah dari keturunan Abdul Muththalib, dan juga kepada para istri Rasul ﷺ semuanya.

Ahlus Sunnah mencintai mereka semua, memuji dan memosisikan mereka sesuai dengan kedudukan mereka secara adil dan objektif, bukan dengan hawa nafsu atau serampangan. Mereka mengakui keutamaan orang-orang yang telah Allah beri kemulian iman dan kemuliaan nasab.

 

Barang siapa yang termasuk dari Ahlul Bait dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ, maka mereka (Ahlussunnah) mencintainya karena keimanan, ketakwaan serta persahabatannya dengan Rasul ﷺ.

Adapun mereka (Ahlul Bait) selain dari kalangan sahabat, maka mereka mencintainya karena keimanan. ketakwaan, dan karena kekerabatannya dengan Rasul ﷺ.

Mereka berpendapat, bahwa kemuliaan nasab itu mengikut kepada kemuliaan iman. Barang siapa yang diberi oleh Allah kedua hal tersebut, maka Dia telah menggabungkan antara dua kebaikan.

Dan barang siapa yang tidak diberi taufik untuk beriman, maka tidak bermanfaat sedikit pun kemuliaan nasabnya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi ﷺ bersabda dalam akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, No. 2699 dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu:

و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya”

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata seraya menjelaskan hadis di atas dalam kitab beliau Jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 308: Maknanya, bahwa amal perbuatan itulah yang menjadikan seorang hamba sampai kepada derajat (yang tinggi) di Akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memeroleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

Barang siapa yang lambat amal ibadahnya untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi disisi Allah, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya, untuk menyampaikannya kepada derajat tersebut. Sesungguhnya Allah menyediakan pahala sesuai dengan amal perbuatan, BUKAN karena nasab, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara  mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (QS. Al-Mukminun: 101)

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan berbuat amal ibadah, sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ { 133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {134

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak memersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memerolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Kemudian beliau (Imam Ibnu Rajab rahimahullah) menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran untuk beramal saleh, dan bahwasanya hubungan dekat dengan Rasul ﷺ itu diperoleh dengan ketakwaan dan amal saleh. Lalu beliau menutup pembahasan tersebut dengan hadis ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’ahu yang tercantum dalam Shahih Bukhori, No. 5990 dan Shahih Muslim, No. 215, beliau berkata: Yang menguatkan hal ini semua adalah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk wali-wali (orang terdekat) ku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang yang saleh dari orang-orang yang beriman”.

Ini mengisyaratkan, bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ tidak bisa diraih dengan nasab, meskipun dia adalah kerabat beliau ﷺ. Akan tetapi, semuanya itu diraih dengan iman dan amal saleh [Jadi, mereka yang mengaku sebagai keturunan Rasul ﷺ tapi gemar berbuat kesyirikan, mengultuskan kuburan-kuburan wali yang tekah mati, mengadakan shalawat-shalawat bid’ah plus syirik (Burdah, Nariyah, Diba’, dll), rajin berbuat bid’ah (perayaan Maulid, haul, tahlilan), maka tidak bermanfaat pengakuan tersebut dan tidak perlu dihormati ataupun disegani, pen]. Barang siapa yang lebih sempurna keimanannya dan amal salehnya, maka dia lebih agung kedekatannya dengan beliau ﷺ, baik dia punya kekerabatan dengan beliau ﷺ atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh seorang penyair:

  • Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
  • Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
  • Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
  • Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab, yang memiliki nasab (yang tinggi).

Hal ini berlainan dengan Ahli Bid’ah. Mereka berlebihan terhadap sebagian Ahlul Bait. Bersamaan itu pula mereka berbuat kasar/jahat terhadap mayoritas para sahabat radliyallahu’anhum.

Di antaranya contoh sikap berlebihan mereka terhadap 12 imam Ahlul Bait, yakni Ali, Hasan, Husain radliyallahu’anhum, dan 9 keturunan Husain, adalah apa yang tercantum dalam kitab al-Kafi oleh al-Kulaini [Tokoh ulama Syiah yang binasa pada tahun 329 H, yang dianggap seperti imam Bukhorinya Ahlussunnah, pen]… Bab: Bahwasanya Para Imam Tersebut Mengetahui Kapan Mereka Akan Mati dan Tidaklah Mereka Mati Melainkan Dengan Pilihan Mereka Sendiri, Bab: Bahwasanya Imam-Imam ‘alaihimussalam Mengetahui Apa Yang Telah Terjadi dan Apa yang Akan Terjadi, dan Tidak Ada Sesuatu pun yang Tersembunyi Bagi Mereka.

Dan sikap berlebihan ini pun dikatakan oleh tokoh kontemporer mereka, yaitu Khumaini dalam kitabnya al-Hukumah al-Islamiyah (hlm. 52 cetakan al-Maktabah al-Islamiyah al-Kubra, Teheran): Sesungguhnya di antara prinsip madzhab kita, bahwasanya imam-imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa digapai oleh malaikat yang dekat (dengan Allah), maupun Nabi yang diutus (oleh Allah).

Haramnya Mengaku-aku Sebagai Keturunan Ahlul Bait

Semulia-mulia nasab adalah nasab Nabi Muhammad ﷺ. Dan semulia-mulia penisbatan adalah kepada beliau ﷺ dan kepada Ahli Bait, jika penisbatan itu benar. Dan telah banyak di kalangan Arab maupun non Arab melakukan penisbatan kepada nasab ini.

Maka barang siapa yang termasuk Ahlul Bait dan dia adalah orang yang beriman, maka Allah telah menggabungkan antara kemuliaan iman dan nasab.

Barang siapa mengaku-ngaku termasuk dari nasab yang mulia ini, sedangkan ia bukan darinya, maka dia telah berbuat suatu yang diharamkan, dan dia telah mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang mengaku-ngaku dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka dia seperti pemakai dua pakaian kebohongan.” (HR. Muslim dalam Shahihnya, no. 2129 dari Hadis Aisyah radliyallahu’anha)

 

Disebutkan dalam hadis-hadis shahih tentang keharaman seseorang menisbatkan dirinya kepada selain nasabnya. Di antaranya adalah hadis Abu Dzar radliyallahu’anhu, bahwasanya ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang menisbatkan kepada selain ayahnya, sedang dia mengetahui, melainkan dia telah kufur kepada Allah. Dan barang siapa yang mengaku-ngaku sebagai suatu kaum dan dia tidak ada hubungan nasab dengan mereka, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di Neraka” [Maka berhati-hatilah mereka yang memakan harta kaum Muslimin dengan cara batil dengan mengaku-ngaku sebagai keturunan rasul ﷺ dan menjual akidah serta agama mereka. Na’udzubillahi mindzalik. pen] (HR. al-Bukhori, No. 3508 dan Muslim, No. 112)

Dan dalam Shahih al-Bukhori, No. 3509 dari hadis Watsilah bin al-Asqa’zia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seungguhnya sebesar-besar kedustaan adalah penisbatan diri seseorang kepada selain ayahnya, atau mengaku bermimpi sesuatu yang tidak dia lihat, atau dia berkata atas nama Rasulullah ﷺ, apa yang tidak beliau ﷺ katakan” [Diringkaskan dari halaman 84-95].

 

Sumber:

Mengaku Keturunan Rasul

 

 

,

ALLAH MENYEDIAKAN PAHALA SESUAI DENGAN AMAL PERBUATAN, BUKAN KARENA NASAB

ALLAH MENYEDIAKAN PAHALA SESUAI DENGAN AMAL PERBUATAN, BUKAN KARENA NASAB

#DakwahTauhid

#UntukYangMengakuHabib

ALLAH MENYEDIAKAN PAHALA SESUAI DENGAN AMAL PERBUATAN, BUKAN KARENA NASAB

  • Apakah Habib Itu Keturunan Nabi?
  • Apakah Keturunan Nabi itu Terjaga dari Kesalahan?
  • Hubungan Dekat dengan Rasul ﷺ Itu Diperoleh dengan Ketakwaan dan Amal Saleh, Bukan dengan Nasab
  • Kemuliaan Nasab Mengikut Kepada Kemuliaan Iman

Kemuliaan nasab itu mengikut kepada kemuliaan iman. Barang siapa yang diberi oleh Allah kedua hal tersebut, maka dia telah menggabungkan antara dua kebaikan. Dan barang siapa yang tidak diberi taufik untuk beriman, maka tidak bermanfaat sedikit pun kemuliaan nasabnya. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Nabi ﷺ bersabda dalam akhir hadis yang panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, No. 2699 dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu:

و من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya”

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata seraya menjelaskan hadis di atas dalam kitab beliau Jami’ al ‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 308: Maknanya, bahwa amal perbuatan itulah yang menjadikan seorang hamba sampai kepada derajat (yang tinggi) di akhirat, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَمَارَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memeroleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-An’am: 132)

Barang siapa yang lambat amal ibadahnya untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi di sisi Allah, maka nasabnya tidak bisa memercepatnya, untuk menyampaikannya kepada derajat tersebut. Sesungguhnya Allah menyediakan pahala sesuai dengan amal perbuatan, BUKAN karena nasab, sebagaimana firman Allah:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab antara  mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (QS. Al-Mukminun: 101)

Dan Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan berbuat amal ibadah, sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ { 133} الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {134

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali ‘Imron: 133-134)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ {57} وَالَّذِينَ هُم بِئَايَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ {58} وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَيُشْرِكُونَ {59} وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ {60} أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ {61

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak memersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memerolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Kemudian beliau (Imam Ibnu Rajab rahimahullah) menyebutkan dalil-dalil tentang anjuran untuk beramal saleh, dan bahwasanya hubungan dekat dengan Rasul ﷺ itu diperoleh dengan ketakwaan dan amal saleh. Lalu beliau menutup pembahasan tersebut dengan hadis ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’ahu yang tercantum dalam Shahih Bukhori, No. 5990 dan Shahih Muslim, No. 215, beliau berkata: Yang menguatkan hal ini semua adalah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari ‘Amr bin al-‘Ash radliyallahu’anhu, bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya keluarga Abu Fulan bukan termasuk wali-wali (orang terdekat)-ku. Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang yang saleh dari orang-orang yang beriman”.

Ini mengisyaratkan, bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ tidak bisa diraih dengan nasab, meskipun dia adalah kerabat beliau ﷺ. Akan tetapi, semuanya itu diraih dengan iman dan amal saleh [2]. Barang siapa yang lebih sempurna keimanannya dan amal salehnya, maka dia lebih agung kedekatannya dengan beliau ﷺ, baik dia punya kekerabatan dengan beliau ﷺ atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh seorang penyair:

  • Sungguh, tidaklah manusia itu (dimuliakan) melainkan dengan agamanya
  • Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan, dan hanya bersandar kepada nasab
  • Sungguh, Islam telah mengangkat derajat Salman (al-Farisi) dari Persia
  • Dan kesyirikan menghinakan Abu Lahab, yang memiliki nasab (yang tinggi).

Sumber:

Mengaku Keturunan Rasul

 

 

 

, , ,

JANGAN ASAL NGAJI, JANGAN TERTIPU DENGAN TAMPILAN LUAR SEPERTI SALAFI, PADAHAL HIZBI

JANGAN TERTIPU DENGAN TAMPILAN LUAR SEPERTI SALAFI, PADAHAL HIZBI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama

JANGAN ASAL NGAJI, JANGAN TERTIPU DENGAN TAMPILAN LUAR SEPERTI SALAFI, PADAHAL HIZBI

Menggapai Ilmu Sesuai Manhaj Ahlussunnah

Perjalanan Dakwah Salafiyah tentunya banyak cerita, penuh suka dan duka. Seiring berkembangnya Dakwah Salafiyah yang mubarakah ini, tidak lepas dari ujian dan cobaan, halangan, rintangan serta tantangan. Tidak sedikit problematika yang menerjang bahtera Dakwah Salafiyah, baik dari luar maupun dari dalam. Inilah sunnatullah yang berlaku di atas muka bumi yang fana ini. Allah berfirman:

الٓمٓ (١) أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al-Ankabut: 1-3)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:

Allah mengabarkan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Dan hikmah-Nya tidak mendiamkan setiap orang yang mengatakan, bahwa dirinya beriman selamat dari ujian dan cobaan. Tidak dipaparkan kepadanya, apa yang mengganggu keimanan dan cabang-cabang keimanannya. Seandainya tidak ada ujian, maka tidak akan terbedakan antara yang jujur dan yang dusta, yang di atas kebenaran dan yang di atas kebatilan. Akan tetapi Sunnatullah dan kebiasaan-Nya terhadap orang-orang yang terdahulu dan terhadap umat ini, untuk Dia menguji manusia dengan kesenangan dan kesengsaraan, kesulitan dan kemudahan, rasa bersemangat dan rasa malas, kekayaan dan kemiskinan, dikuasai oleh musuh beberapa saat, berjuang melawan musuh dengan ucapan dan perbuatan, dan lain sebagianya dari berbagai macam bentuk fitnah yang bersumber kepada fitnah syubhat yang merusak akidah dan syahwat yang merusak niat.

Barang siapa yang ketika dihadang oleh syubhat, tetap kokoh keimanannya dan tidak goyah, serta dia memeranginya dengan kebenaran yang dia pegang erat. Dan ketika dia dihadang oleh syahwat yang menyerunya kepada perbuatan dosa dan maksiat, yang memalingkannya dari perintah Allah dan Rasul-Nya, lalu dia lawan dengan iman dan perangi syahwatnya, maka itu menunjukkan akan kebenaran dan kejujuran imannya.

Namun barang siapa yang ketika dihadang oleh syubhat, lalu syubhat tersebut memengaruhi hatinya dan membuat keraguan, dan ketika dihadang oleh syahwat yang menjerumuskannya ke dalam maksiat dan memalingkannya dari kewajiban, maka itu menunjukkan akan ketidak benaran dan ketidak jujuran keimanannya.

Manusia dalam hal ini bertingkat-tingkat, tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah. Ada yang tinggi dan ada yang rendah tingkatnya.

Semoga Allah mengokohkan kita dengan ucapan yang tsabit/kokoh di kehidupan dunia dan di Akhirat dan menguatkan hati kita di atas agama-Nya. Ujian dan cobaan bagi jiwa manusia itu seperti bara api yang memisahkan kotoran dari kebaikan [Taisir Al-Kariim Ar-Rahman hal. 734-735].

Di antara sekian banyak problematika yang dihadapi Dakwah Salafiyah adalah ke’jahil’an sebagian orang atau majelis taklim (MT) yang mengatasnamakan dirinya Salafi, tentang Manhaj Ahlussunnah dalam menggapai ilmu agama.

Mereka belajar agama dari semua golongan, tidak selektif dalam mencari guru agama, ustadz, pakar pendidikan agama atau yang semisalnya. Sebagian mereka mengganggap yang penting ustadznya berjenggot sudah dianggap Salafi yang layak diambil ilmunya.

  • Sebagian lagi menimba ilmu dari ustadz karena ketenarannya di media social, meskipun sang ustadz tidak paham tentang manhaj Salafi.
  • Sebagian lagi menimba ilmu, yang penting retorikanya indah, meski jahil tentang agama.
  • Sebagian lagi mengatakan kita ambil baiknya saja dari ustadz yang bukan Salafi.
  • Sebagian lagi mendatangkan ustadz Quthbiy (fans Sayyid Quthub dan Muhammad Quthub) karena dia ahli pendidikan, dan menganggap Dakwah Salafiyah tidak punya pakar pendidikan. Na’udzu billahi mindzalik.

Wahai Saudaraku, wahai thalibal ilmi, wahai Salafi, renungkanlah hal-hal berikut ini. Semoga kita selalu istiqamah di atas jalan Al-Firqah An-Najiyah (kelompok yang selamat) dengan taufik dari-Nya!

  1. Allah berfirman:

فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّڪۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu, kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS.Al-Anbiya’: 7)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:

Ketika Allah mengkhususkan untuk bertanya kepada Ahli Ilmu, maka di sini terdapat larangan untuk bertanya (menimba ilmu-pent) kepada orang yang dikenal akan kejahilannya alias tidak berilmu. Dan dilarang bagi orang yang jahil untuk dia menjabat sebagai orang alim [Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 605].

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم ببق عالما اتحذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu ini secara tiba-tiba dari hamba-hambaNya. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama hingga ketika tidak tersisa para ulama maka manusia menjadikan tokoh (agama) mereka dari orang-orang yang jahil. Ketika mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu hingga sesat dan menyesatkan.”  (HR.Bukhari)

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

“Sesungguhnya di antara tanda Hari Kiamat adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaghir (Jahil/Ahli Bid’ah).”

(HR.Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd) [Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah 2/316].

  1. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

لا تجالسوا أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

“Jangan kalian duduk menimba ilmu dari Ahli Bid’ah, karena duduk bersama mereka itu menularkan penyakit ke dalam hati.” [Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah 1/453].

  1. Muhammad bin Siirin (seorang ulama tabi’in) rahimahullahu berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama itu sendiri. Maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil ilmu agama kalian.”(HR.Muslim)

6. Imam Malik rahimahullahu berkata: Tidak boleh mengambil ilmu dari empat golongan manusia:

a. Orang bodoh yang nampak kebodohannya, meskipun dia banyak (hafal) riwayat hadis.

b. Ahli Bid’ah yang menyeru kepada kebid’ahannya.

c. Orang yang berdusta kepada manusia, meski tidak berdusta terhadap hadis Rasulullah ﷺ.

d. Orang saleh lagi ahli ibadah, akan tetapi tidak hafal apa yang dia ucapkan [Siyar A’laamin An-Nubalaa’ 4/472 oleh Imam Adz-Dzahabi].

7. Abu Qilabah rahimahullahu berkata: Jangan kalian duduk bersama (menimba ilmu dari) Ahli Bid’ah, dan berkumpul dengan mereka, karena aku kwatir mereka akan menjerumuskan kalian dalam kesesatan mereka, atau membuat kerancuan dalam ilmu kalian [Al-I’tisham 1/172 oleh Asy-Syathibi].

8. Ibrahim An-Nakha’i rahimahullahu berkata: Jangan kalian belajar dari Ahli Bid’ah, dan jangan berbicara dengan mereka, karena aku kwatir hati kalian akan berbalik ke belakang (murtad) [Al-I’tisham 1/172 oleh Asy-Syathibi].

9. Abu Zur’ah Ar-Rozi rahimahullahu pernah ditanya tentang Al-Harits Al-Muhaasibi dan kitab-kitabnya, maka beliau berkata: Jauhilah kitab-kitabnya. Ini adalah kitab-kitab Ahli Bid’ah dan sesat. Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan atsar. Kemudian beliau ditanya: Di kitab-kitab itu ada ibrah/ kebaikannya. Abu Zur’ah berkata: Barang siapa yang tidak bisa mengambil ibrah dari Alquran, maka tidak ada ibrah baginya [Tarikh Baghdad 8/215 oleh Khatiib Al-Baghdaadi].

10. Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullahu berkata: Jauhilah Ahli Bid’ah yang telah terkontaminasi dengan kotoran akidah dan telah berlumuran dengan khurafat. Dia berpegang teguh dengan hawa nafsunya yang dia namakan dengan logika dan dia berpaling dari nash. Tidaklah akal itu kecuali ada pada nash. Orang tersebut berpegang dengan (hadis) lemah dan menjauhi yang shahih. Merekalah Ahlu Syubhat dan Ahlu Al-Ahwa’. Oleh karena itulah Abdullah bin Mubarak rahimahullahu menamakan Ahli Bid’ah dengan Al-Ashaghir [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal.107 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin].

11. Beliau juga berkata: Wahai penuntut ilmu agama, apabila engkau dalam keleluasaan dan memiliki pilihan, maka jangan engkau menimba ilmu dari Ahli Bid’ah: Syiah Rafidhah, Khawarij, Murjiah, Qadariyah, Quburiyah …, karena engkau tidak akan bisa menjadi Muslim sejati, yang benar akidahnya, kuat hubungannya dengan Allah, memiliki pemikiran yang baik, melainkan dengan menjauhi Ahli Bid’ah dan kebid’ahan mereka. Kitab-kitab biografi/sejarah (ulama) dan kitab-kitab sunnah penuh dengan ketegasan ahlusunnah terhadap bid’ah dan Ahli Bid’ah, serta memerintahkan untuk menjauhi mereka. [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal. 110-111 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin]

12. Beliau juga berkata: Wahai penuntut ilmu, jadilah engkau Salafi sejati. Jauhilah Ahli Bid’ah, agar mereka tidak memfitnahmu [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal. 114 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin]

13. Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata ketika mensyarah ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid (poin 7) di atas: Yang nampak dari ucapan Syaikh Bakr –semoga Allah memberi taufik kepada beliau- bahwasanya tidak boleh menimba ilmu dari Ahli Bid’ah sedikit pun, meskipun tidak berkaitan dengan bid’ahnya.

Sebagai contoh: Kita dapati seorang Ahli Bid’ah, tapi dia ahli bahasa Arab, baik Balaghoh, Nahwu dan Sharaf. Apakah boleh kita belajar kepadanya? Atau kita jauhi dia? Yang nampak dari ucapan Syaikh Bakr, bahwa kita tidak boleh belajar kepadanya, karena ini mengandung dua kerusakan:

  • Menjadikan Ahli Bid’ah tersebut besar kepala dan dia mengira di atas kebenaran.
  • Menjadikan manusia tertarik kepada Ahli Bid’ah tersebut, sehingga manusia dan para penuntut ilmu berbondong-bondong dan belajar ilmu kepadanya.

Dan orang awam tidak bisa membedakan antara Ilmu Nahwu dan Ilmu Akidah. Oleh karena itu kita berpendapat, bahwa kaum Muslimin DILARANG belajar dari Ahli Bid’ah dan Ahli Ahwa’ secara mutlak, meskipun tidak didapati ilmu bahasa Arab, Balaghoh dan Sharaf, kecuali hanya pada mereka. Allah akan jadikan dia lebih baik lagi. Karena kalau kita selalu datang kepada mereka, maka tidak diragukan lagi hal ini akan menyebabkan mereka besar kepala, dan manusia tertipu dengan mereka [Syarhu Kitab Hilyah thalib al-ilmi hal. 110-111 oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin]

  1. Syaikh Saleh bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullahu berkata: Wajib bagi para pemuda untuk menjauhkan diri dari Ahli Bid’ah dan para pengikut pemikiran yang merusak dan menyesatkan.

Wajib bagi mereka untuk menjauhkan diri dari mereka dan dari kitab-kitab mereka. Wajib bagi para pemuda untuk mendekat kepada para ulama dan kepada para pengibar bendera Akidah Shahihah, serta menimba ilmu dari mereka, duduk bersama mereka dan bertanya kepada mereka. Adapun Ahli Bid’ah dan para pengikut pemikiran yang rusak, maka wajib bagi para pemuda untuk menjauhkan diri darinya. Karena mereka akan menyesatkannya, menenggelamkannya ke dalam akidah yang rusak, bid’ah dan khurafat. Hal ini karena seorang guru/ustadz memiliki pengaruh terhadap muridnya. Karena guru/ustadz yang sesat menyebabkan pemuda akan tersesat. Adapun guru/ustadz yang lurus (manhajnya), maka sang murid juga akan lurus (manhajnya). Guru/ustadz memiliki pengaruh yang signifikan. Maka tidak boleh kita meremehkan hal ini [Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an as-ilah Al-Manaahij Al-Jadidah hal.97 oleh Syaikh Saleh bin Fauzan].

  1. Syaikh Abu Abdillah Jamaal bin Furaihan Al-Haritsi hafidzahullahu mengomentari ucapan Syaikh Saleh Al-Fauzan di atas: Semoga Allah memberikan balasan kepada guru kami dengan sebaik-baik balasan. Beliau telah menjelaskan Manhaj Salafi kepada para pemuda dalam bermuamalah dengan Ahli Bid’ah, yaitu menjauh dari mereka. Seandainya Syaikh Saleh berkata: Kita ambil kebaikan yang ada pada mereka dan kita tinggalkan kejelekan mereka, sebagaimana ini adalah kaidah kelompok Muwazanah di zaman ini, dan sebagaimana keadaan sebagian dai yang menyatakan: “Ambil kebaikannya dan tinggalkan kejelekannya”, maka para pemuda akan tersesat, akan luntur Manhaj Salafi dan akidah mereka akan berlumuran dengan kotoran.

Segala puji bagi Allah yang mengutus pada setiap tempat dan zaman, orang-orang yang membela Manhaj Salafi, serta menjelaskannya kepada umat, meski banyak yang membenci [Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an as-ilah Al-Manaahij Al-Jadidah hal.97 oleh Syaikh Saleh bin Fauzan].

 

Sadarlah Wahai Salafi

Manhaj Salaf telusuri

Ahli Bid’ah jauhi

Jalan penuh duri

Inilah sunnah ilahi

Jangan engkau bersedih

Istiqomah terus jalani

Surga Allah menanti

 

 

Penulis: Al-Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc hafizhahullah

 

Sumber: https://aslibumiayu.net/16364-jangan-asal-ngaji-jangan-tertipu-dengan-tampilan-luar-seperti-Salafi-padahal-hizbi.html

 

, , ,

SIAPAKAH ORANG YANG BERIMAN DAN APA KEISTIMEWAANNYA?

SIAPAKAH ORANG YANG BERIMAN DAN APA KEISTIMEWAANNYA?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Dakwah_Tauhid

#Faidah_Tafsir

 

SIAPAKAH ORANG YANG BERIMAN DAN APA KEISTIMEWAANNYA?

Allah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan hidayah.” [Al-An’am: 82]

Siapakah Orang Yang Beriman?

Allah tabaraka wa ta’ala menjelaskan di dalam ayat yang mulia ini, bahwa orang yang beriman adalah yang benar-benar menauhidkan Allah ﷻ, yaitu tidak melakukan kezaliman sedikit pun, dan kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan, sebagaimana ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah ﷺ dalam riwayat berikut:

Sahabat yang Mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata:

لَمَّا نَزَلَتْ {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ}، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟ قَالَ: ” لَيْسَ كَمَا تَقُولُونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ} بِشِرْكٍ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Ketika turun ayat: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman”, kami pun berkata: Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya sendiri? Beliau ﷺ bersabda: Tidak seperti yang kalian katakan, tetapi maksud “Tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” adalah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai Anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, karena menyekutukan Allah itu adalah kezaliman yang besar.” (Luqman: 13).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Al-Bukhari]

Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ} أَيْ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَخْلَصُوا الْعِبَادَةَ لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ، لَهُ، وَلَمْ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا هُمُ الْآمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الْمُهْتَدُونَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Firman Allah ta’ala: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” maknanya: Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang satu saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Merekalah yang akan mendapatkan keamanan di Hari Kiamat dan hidayah di dunia dan Akhirat.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/294, Fathul Majid, hal. 32]

Keistimewaan Orang Yang Beriman

Ayat yang mulia ini juga menerangkan tentang keutamaan terbesar yang akan diraih oleh orang yang menauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, yaitu keamanan dan hidayah, yang mencakup di dunia dan Akhirat (lihat Al-Qoulul Mufid, 1/63).

Keamanan di dunia dan Akhirat: Yaitu keamanan dari azab Allah ta’ala, baik di dunia, di kubur, di Hari Kebangkitan dan keamanan dari azab Neraka, namun dengan syarat istiqomah di atas tauhid dan sunnah sampai akhir hayat.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

أن الله أثبت الأمن لمن لم يشرك، والذي لم يشرك يكون موحدا، فدل على أن من فضائل التوحيد استقرار الأمن.

“Bahwa Allah menetapkan keamanan bagi orang yang tidak berbuat syirik. Dan orang yang tidak berbuat syirik adalah orang yang bertauhid. Maka ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa di antara keutamaan tauhid adalah anugerah nikmat keamanan.” [Al-Qoulul Mufid, 1/63]

Hidayah mencakup dua macam hidayah:

  • Hidayah kepada ilmu dan
  • Hidayah kepada amalan,

Yaitu taufik dari Allah ta’ala untuk senantiasa menuntut ilmu dan mengamalkannya. Dan tidak diragukan lagi, ilmu dan amal adalah syarat meraih kebahagiaan dunia dan Akhirat.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

وقوله: ” وهم مهتدون “: أي: في الدنيا إلى شرع الله بالعلم والعمل، فالاهتداء بالعلم هداية إرشاد. والاهتداء بالعمل: هداية توفيق، وهم مهتدون في الآخرة إلى الجنة.

“Dan firman Allah: “Mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah” maknanya: Hidayah di dunia kepada syariat Allah dengan ilmu dan amal. Hidayah dengan ilmu adalah hidayah berupa bimbingan. Adapun hidayah dengan amal adalah hidayah taufi (kemampuan untuk beramal). Dan mereka juga akan mendapat hidayah di Akhirat menuju Surga.” [Al-Qoulul Mufid, 1/62]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Dipetik dari Buku “Tauhid, Pilar utama Membangun Negeri” hal. 3-6 (Cetakan Kedua 1437 H) karya Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/706694239480061:0

 

 

 

,

DOA MEMOHON PERLINDUNGAN DARI FITNAH

DOA MEMOHON PERLINDUNGAN DARI FITNAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Doa_Zikir

DOA MEMOHON PERLINDUNGAN DARI FITNAH

Doa ini benar. Karena itu hafalkan dan pelajari kandungannya

Bismillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu doa yang diajarkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِى إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoirot wa tarkal munkarot wa hubbal masakin. Wa idza arod-ta bi ‘ibaadika fitnatan, faq-bidh-nii ilaika ghoioa maf-tuun.

Artinya:

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taufik untuk bisa mengamalkan semua kebaikan, meninggalkan semua kemungkaran, dan bisa mencintai orang miskin. Jika Engkau menghendaki untuk menimpakan ujian (fitnah) bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku, tanpa terkena fitnah itu.

Keutamaan Doa:

Doa ini diajarkan oleh Allah kepada Nabi-Nya ﷺ, agar dibaca ketika sholat. Ini menunjukkan nilai keistimewaan doa ini, sehingga Allah perintahkan Nabi-Nya untuk membacanya di dalam sholat.

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ menceritakan mimpi beliau. Dalam mimpi itu, beliau ﷺ bertemu Allah. Salah satu yang diajarkan adalah:

يَا مُحَمَّدُ إِذَا صَلَّيْتَ فَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ…

Wahai Muhammad, jika kamu sholat, bacalah doa: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoirot wa tarkal munkarot wa hubbal masakin. Wa idza arod-ta bi ‘ibaadika fitnatan, faq-bidh-nii ilaika ghoioa maf-tuun.  (HR. Ahmad 22109, Turmudzi 3541, dan dishahihkan al-Albani).

Disamping itu, Nabi ﷺ secara khusus memerintahkan untuk memelajari dan memahami kandungan makna doa ini. Dalam riwayat Turmudzi terdapat tambahan, pernyataan Nabi ﷺ:

إِنَّهَا حَقٌّ فَادْرُسُوهَا ثُمَّ تَعَلَّمُوهَا

Kalimat ini benar, karena itu hafalkan dan pelajari kandungannya. (HR. Turmudzi 3543).

Keterangan:

Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ meminta kepada Allah semua kebaikan dunia dan Akhirat. Dalam doa itu, beliau memohon empat hal:

Pertama: Petunjuk agar bisa mengamalkan semua kebaikan

Ada banyak alasan, mengapa kita harus memohon petunjuk kepada Allah untuk mengamalkan semua kebaikan:

[1] Setiap orang butuh pahala amal, karena ini modal hidup bahagia di Akhirat.

[2] Dengan keterbatasan manusia, mereka tidak tahu apa saja kebaikan yang bisa mengantarkan kepada Surga,sehingga mereka sangat butuh petunjuk dari Allah. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:

يَا عِبَادِي وَكُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

Wahai para hamba-Ku, kalian semua sesat, kecuali mereka yang Aku beri petunjuk. Karena itu, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri petunjuk kepada kalian. (HR. Ahmad 21367 & Muslim 6737).

Semakin banyak seorang hamba memohon petunjuk dan merasa butuh kepada Allah akan petunjuk, semakin besar peluang dia untuk mendapat petunjuk dari Allah.

[3] Faktor lingkungan terkadang membuat manusia tidak semangat melakukan ketaatan. Sehingga dia butuh taufik dari Allah, agar semangat dalam mengamalkan ajaran Islam.

Karena makna petunjuk bisa berarti keterangan mana yang baik, dan keterangan mana yang salah. Dan bisa juga dipahami semangat untuk mengamalkan kebaikan.

Kedua: Taufik dan hidayah untuk bisa meninggalkan setiap kemungkaran

Beberapa alasan mengapa kita harus memohon petunjuk untuk meninggalkan kemungkaran:

[1] Kita sangat butuh perlindungan dari Neraka. Dan untuk menghindari hukuman di Neraka, hamba harus berusaha meninggalkan setiap kemungkaran. Sehingga hakikat dari permohonan ini adalah memohon agar dilindungi dari setiap sumber dosa.

[2] Kita tidak tahu mana yang munkar mana yang makruf, kecuali setelah mendapat petunjuk dari Allah.

[3] Terlebih bagi kita yang hidup di zaman serba berhias maksiat. Untuk bisa meninggalkan semua kemungkaran, butuh perjuangan sangat berat.

Ketiga: Mencintai orang miskin

Ada apa dengan mencintai orang miskin, sehingga Nabi ﷺ meminta agar hatinya dibuat bisa mencintai orang miskin?

Manusia umumnya mereka mencintai sesuatu, jika yang dia cintai itu bisa memberikan manfaat kepadanya. Setidaknya ada hasil yang bisa dia dapatkan.

Bagaimana dengan mencintai orang miskin yang mereka tidak berharta?

Justru ini yang menjadi alasan besar, mengapa kita disarankan mencintai orang miskin. Mengingat mereka tidak berharta, sehingga tidak ada latar belakang duniawi ketika mencintai mereka. Karena itu, cinta yang kita berikan hanya ada dua kemungkinan:

[1] Kita mencintai orang miskin agar kita bisa semakin bersyukur dengan nikmat yang ada. Yang ini akan membuat orang lebih bersikap qanaah terhadap rezeki yang dia miliki. Dia selalu melihat orang yang secara materi lebiih rendah dari pada dirinya.

[2] Mencintai orang miskin yang Muslim berarti mencintai karena Allah. Ketika tidak ada latar belakang dunia yang bisa dia dapatkan, cinta yang dia bangun akan mengantarkannya untuk mencintai karena Allah.

Keempat: Perlindungan dari fitnah

Fitnah (ujian) adalah bagian yang tidak mungkin bisa dipisahkan dalam hidup manusia. Setiap orang pasti mengalaminya. Fitnah berarti setiap ujian yang bisa memengaruhi keutuhan iman seseorang.

Karena itulah Nabi ﷺ memerintahkan kepada umatnya untuk rajin-rajin memohon perlindungan dari bahaya fitnah. Beliau ﷺ bersabda kepada para sahabat:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Berlindunglah kepada Allah dari setiap fitnah, yang nampak maupun yang tidak nampak. (HR. Muslim 7392)

Dan terkadang ada satu kondisi, di mana fitnah datang secara besar-besaran, sehingga tidak bisa dibendung. Terutama ketika masyarakat dalam kondisi tidak stabil, baik karena iklim politik atau munculnya aliran sesat, atau sebab lainnya, sehingga terjadi banyak perusakan, pembantaian, dst.

Di saat itu, bisa saja orang menjual agamanya, untuk menyelamatkan harta dan nyawanya.

Dalam doa ini, kita memohon kepada Allah agar terlindungi dari fitnah itu sampai mati.

Bisa dalam bentuk, kita di jauhkan dari sumber fitnah itu atau kita diwafatkan sebelum bencana dan fitnah itu terjadi.

Karena orang yang jauh dari fitnah, agamanya lebih terjaga, dibandingkan orang yang mendekat ke fitnah. Sehingga kita meminta, agar dilindungi dari pengaruh buruk fitnah sampai kita meninggal.

Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

“Ada dua hal yang dibenci manusia: Pertama, kematian. Padahal bagi Mukmin, kematian lebih baik dari pada fitnah. Kedua, mereka benci hartanya sedikit. Padahal harta yang sedikit, lebih memudahkan hisab. (HR. Ahmad 23625 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Semoga Allah melindungi kita dari setiap fitnah, yang nampak maupun yang tidak nampak.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/25877-doa-perlindungan-dari-fitnah.html