Posts

THIYARAH: PERCAYA ANGKA 13 ADALAH ANGKA SIAL

THIYARAH: PERCAYA ANGKA 13 ADALAH ANGKA SIAL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#TauhidAkidah

THIYARAH: PERCAYA ANGKA 13 ADALAH ANGKA SIAL

Sebagian masyarakat kita sangat percaya dengan mitos kesialan yang disebabkan hal-hal tertentu. Misalnya anggapan sial supir setelah menabrak kucing hingga mati. Burung gagak yang dipercaya membawa kematian, hingga mitos angka tertentu yang dipercaya membawa sial seperti angka 13.
 
Kita dapat menjumpai betapa hebatnya dampak dari mitos anggapan sial ini dengan melihat gedung-gedung pencakar langit yang dirancang, dihitung dengan software canggih, dan dibangun oleh engineer terkemuka lulusan universitas ternama, namun kenyataanya mereka tidak berani menamai lantai 13 karena anggapan sial, dan mengganti nama lantainya dengan lantai 12A. Allahul musta’an.
 
Islam sebagai agama yang paripurna, datang dan menghapus seluruh anggapan masyarakat jahiliah terkait adanya kesialan. Islam mengajarkan pemeluknya untuk bertawakal kepada Allah ta’ala saja. Mengerahkan seluruh daya upaya (sebab), sembari tetap menyandarkan diri pada Allah ta’ala. Tulisan berikut akan mengupas lebih jauh tentang anggapan sial (thiyarah) menurut pandangan Islam. Semoga Allah mudahkan.
 
Firman Allah ta’ala (yang artinya), “Ketahuilah sesungguhnya thaa’ir (kesialan) mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi mereka tidak mengetahui” (QS. Al A’raaf : 131).
 
Di zaman ini pun banyak mitos anggapan sial yang sengaja diciptakan untuk menjauhkan manusia dari Rabbnya, membuat mereka tidak lagi bertawakal menyandarkan dirinya pada Allah semata.
 
Rasulullah ﷺ pun dengan tegas melarang anggapan sial dan memasukkannya dalam salah satu jenis kesyirikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“At thiyarah (anggapan sial) itu perbuatan syirik, at thiyarah itu perbuatan syirik” (HR Abu Daud, shahih).
 
Diringkas dari:
 
Penulis: Yhouga Pratama, ST
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

12 KESYIRIKAN YANG DIANGGAP TRADISI

12 KESYIRIKAN YANG DIANGGAP TRADISI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

12 KESYIRIKAN YANG DIANGGAP TRADISI

Di tengah-tengah masyarakat kita, masih banyak sekali praktik kesyirikan yang merusak, bahkan membatalkan tauhid. Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih, bahwa amalan tersebut adalah tradisi dan adat-istiadat peninggalan leluhur. Padahal sejatinya, perbuatan tersebut adalah bentuk kesyirikan yang MEMBAHAYAKAN agama mereka.

Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah:

  1. Tathayyur

Tathayyur adalah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (Al-Qaulul Mufid)

Di sebagian daerah, penduduk membangun rumah menghadap arah tertentu. Mereka juga memulai membangun dan menempatinya di hari tertentu, dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan.

Ada pula yang tidak mau berdagang di hari tertentu dan melarang pernikahan di bulan tertentu. Semua ini adalah bentuk Tathayyur Syirik yang harus dijauhi oleh seorang Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Abu Dawud no. 3910, lihat al-Qaulul Mufid)

  1. Tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah.

Sering kita melihat benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko, atau dipakaikan pada anak dengan niat menolak bala. Semua ini termasuk jenis tamimah yang syirik. Orang yang melakukannya terjatuh dalam kesyirikan. (Lihat al-Qaulul Mufid)

  1. Tiwalah

Ia adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat suami/ seorang lelaki mencintai istrinya/ seorang wanita atau sebaliknya.

Adapun dublah (cincin yang dipakai oleh seseorang setelah menikah) dengan keyakinan, bahwa selama cincin emas tersebut dipakai, maka pernikahannya akan tetap langgeng, ini adalah keyakinan yang syirik, karena tidak ada yang bisa membolak-balikkan hati manusia selain Allah ﷻ.

Memakai cincin seperti ini minimal tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, haram hukumnya. Bisa juga terjatuh dalam kesyirikan, jika dia berkeyakinan bahwa cincin itu bisa menjadi sebab langgengnya pernikahan. (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid)

  1. Jampi-jampi/Mantra

Yang dimaksud adalah ruqyah (bacaan-bacaan) yang syirik, yang mengandung permintaan bantuan kepada jin. Rasulullah ﷺ telah melarang tiga hal di atas dalam hadis beliau ﷺ:

“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Adapun ruqyah yang dibenarkan oleh syariat adalah yang memenuhi tiga syarat berikut:

  • – Bacaan dari Alquran, As-Sunnah, dan doa-doa yang baik.
  • – Menggunakan bahasa Arab dan dimengerti maknanya.
  • – Diyakini hanya semata-mata sebagai sebab, tidak bisa berpengaruh selain dengan kehendak Allah ﷻ. (Lihat Fathul Majid).
  1. Perdukunan

Ini adalah musibah yang melanda banyak kaum Muslimin. Banyak orang menjadi pelanggan dukun dalam keadaan senang ataupun susah. Padahal ancaman bagi dukun dan yang mendatanginya sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu kemudian membenarkannya, dia telah mengufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan, bahwa mendatangi dukun ada beberapa rincian hukum:

a. Datang dan bertanya kepadanya, maka tidak diterima shalatnya empat puluh hari.

b. Datang, bertanya kepadanya, dan membenarkan ucapannya, maka ia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.

c. Datang untuk membongkar kesesatannya, diperbolehkan. (Lihat al-Qaulul Mufid).

Adapun tentang kafirnya dukun, asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami menyebutkan Sembilan Alasan Kafirnya Dukun. Di antara yang beliau sebutkan adalah bahwa seorang dukun telah menjadi wali setan. Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya….” (Al-An’am: 121).

Padahal setan tidak akan menjadikam seorang menjadi wali, selain seorang yang kafir. (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 423-424).

  1. Sembelihan untuk Selain Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ telah memberitakan, bahwa termasuk orang yang dilaknat adalah seorang yang melakukan sembelihan untuk selain Allah ﷻ.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

  • Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.
  • Allah melaknat orang yang melaknat (mencerca) dua orang tuanya.
  • Allah melaknat orang yang melindungi pelaku pelanggaran syari. Dan
  • Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas tanah.” (HR. Muslim)

Di antara sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah ﷻ adalah berbagai bentuk sembelihan untuk jin:

a. Larung (Sedekah Laut)

Di antara sembelihan syirik adalah sembelihan tahunan yang dipersembahkan untuk selain Allah ﷻ, baik untuk laut (sedekah laut), sungai, gunung, maupun yang lainnya.

b. Sembelihan untuk Pengantin

Di sebagian tempat ada sebuah tradisi penyembelihan ketika ada pernikahan. Kedua mempelai diperintahkan untuk menginjakkan kedua kaki mereka di darah sembelihan tersebut sebelum memasuki rumahnya.

c. Sembelihan untuk Rumah Baru

Di sebagian daerah, ketika telah selesai membangun rumah, mereka menyembelih seekor hewan. Sebagian mereka bahkan menanam kepala hewan tersebut di rumah barunya. Ini juga termasuk sembelihan yang syirik.

d. Memenuhi Keinginan Jin Yang Masuk Pada Tubuh Seseorang

Ketika ada orang kerasukan jin kemudian diruqyah, jin terkadang minta disembelihkan hewan untuk dirinya. Jika terjadi hal demikian, permintaan jin itu tidak boleh ditunaikan, karena hal tersebut adalah sembelihan untuk jin. (Lihat al-Qaulul Mufid, asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi).

  1. Kesyirikan di Kuburan

Di antara perbuatan syirik yang dianggap biasa adalah perbuatan-perbuatan di pekuburan sebagai berikut:

  • Berdoa kepada penghuni kubur
  • Nadzar untuk penghuni kubur
  • Isti’anah, meminta tolong kepada penghuni kubur
  • Isti’adzah, meminta perlindungan kepada penghuni kubur
  • Istighatsah, meminta dihilangkan bencana kepada penghuni kubur

Ketahuilah, semua hal di atas adalah kemungkaran yang harus diingkari.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) (Lihat Ma’ariful Qabul, Ighatsatul Lahafan, Tahdzirul Muslimin).

  1. Mencari Berkah Dari Benda-Benda Tertentu

Sebagian orang mencari berkah kepada pohon, kuburan, atau benda-benda yang mereka miliki, seperti keris dan cincin.

Faidah:

Tidak boleh bertabarruk (mencari berkah) dari diri sereorang, dengan tubuh atau bagian tubuh seseorang tertentu, selain Rasulullah ﷺ

Seorang Muslim tidak boleh mencari berkah dengan diri seseorang yang dianggap shalih, baik ludah, rambut maupun bagian tubuh lainnya. Hal ini berdasarkan beberapa alasan.

a. Hal tersebut kekhususan bagi Rasulullah ﷺ.

b. Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah ﷺ wafat yang meminta berkah dengan bagian tubuh Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Seandainya hal tersebut dibolehkan, niscaya akan dilakukan oleh orang-orang di zaman mereka.

c. Akan menyebabkan fitnah dan ujub (bangga diri) dari orang yang dimintai berkah. (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 144-145)

  1. Sihir

Sihir adalah satu amalan kufur yang harus dijauhi oleh seorang Muslim. Seseorang yang belajar dan mengajarkan sihir telah terjatuh dalam kekufuran. Allah ﷻ berfirman:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. (Dan mereka mengatakan, bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir). Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manuria.” (Al-Baqarah: 102) (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 407-411).

  1. Sedekah Bumi

Sedekah bumi yaitu memberikan sesuguh/sesaji ketika hendak panen padi dan lainnya. Menurut mereka, sesaji itu dipersembahkan untuk Dewi Sri. Ini pun termasuk bentuk kesyirikan.

  1. Sesajen

Yakni memberikan sesuguh untuk karuhun ketika hendak melaksanakan acara tertentu.

  1. Memberikan Penghormatan dengan Membungkuk

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Membungkuk ketika memberikan penghormatan adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dari Nabi ﷺ, bahwa mereka bertanya tentang seseorang yang berjumpa dengan temannya lalu membungkuk kepadanya. Beliau ﷺ bersabda: “Tidak boleh.”

Juga karena ruku dan sujud tidak boleh dilakukan selain untuk Allah ﷻ, walaupun hal ini menjadi bentuk penghormatan pada syariat sebelum kita, sebagaimana dalam kisah Yusuf ‘alaihis salam:

“Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Yusuf pun berkata: “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf: 100).

Adapun dalam syariat kita, bersujud tidak diperbolehkan selain untuk Allah ﷻ. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/259).

Apa yang disampaikan di atas hanyalah sebagian amalan syirik yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Semuanya harus kita jauhi. Kita juga harus memeringatkan umat Islam untuk menjauhi amalan-amalan syirik.

Segala adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat harus tunduk kepada syariat Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65).

Janganlah kita seperti orang-orang jahiliyah yang tidak mau beriman kepada Rasul ﷺ dengan alasan mengikuti nenek moyang.

Allah ﷻ berfirman tentang keadaan kaum musyrikin:

Apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab,: “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah: 170).

Seorang Muslim harus mendahulukan syariat Allah ﷻ di atas segala hal. Dia harus mengutamakan syariat daripada hawa nafsu, adat-istiadat, dan pendapat akalnya. Allah ﷻ telah mencela orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya. Allah ﷻ berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23).

Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa menjadi nasihat dan menjadi salah satu sebab musnahnya praktik-praktik kesyirikan yang telah menyebar di negeri kita ini.

[Faidah ini diambil dari tulisan Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak yang berjudul “Penyimpangan Akidah di Sekitar Kita” dalam majalah Asy Syariah no. 67/VI/1432 H/2010, hal. 48-53].

 

Sumber: https://bahterailmu.wordpress.com/2011/05/16/12-kesyirikan-yang-dianggap-tradisi/

MAKNA THIYAROH (PAMALI/MERASA SIAL)

MAKNA THIYAROH (PAMALI/MERASA SIAL)

Apa Makna Thiyaroh (Pamali/Merasa Sial)?

Secara bahasa, kata Thiyaroh (anggapan merasa sial/pamali) adalah isim mashdar dari kata tathayyara yang mana asal katanya adalah tha`irun yang berarti burung. Hal ini karena dulu, ketika orang-orang Arab jahiliyah hendak mengadakan suatu perjalanan, maka mereka terlebih dahulu melempar seekor burung ke udara. Jika burungnya terbang ke kanan maka mereka melanjutkan rencana keberangkatan mereka, karena itu adalah pertanda baik. Dan jika burungnya terbang ke kiri, maka mereka membatalkan perjalanan tersebut karena itu adalah pertanda jelek. Orang-orang jahiliah dulu meyakini bahwa Thiyaroh (anggapan sial atau keberuntungan) melalui sesuatu (hewan, benda, arah angin, atau selainnya) dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan/menolak marabahaya.

Ketika seseorang kejatuhan cicak, atau mendengar suara burung gagak, seringkali dia menganggap bahwa itu pertanda akan ada bencana, atau akan ada yang meninggal. Atau ada orang yang mengurungkan niatnya (membatalkan rencananya) karena merasa melihat atau mengalami suatu pertanda buruk.

 Adapun secara istilah, Thiyaroh adalah menjadikan/menyandarkan kesialan atau keberuntungan kepada sesuatu yang dilihat atau yang didengar atau yang diketahui.

Contoh sesuatu yang dilihat: Orang yang akan berangkat pergi tanpa sengaja menjatuhkan piring, gelas atau hal lainnya di dalam rumahnya, lantas ia tidak jadi berangkat.

Contoh sesuatu yang didengar: Bila ia mendengar suara burung hantu atau burung gagak yang hinggap di atas rumahnya, maka ia mengurungkan maksudnya untuk berangkat atau kegiatan lainnya.

Contoh sesuatu yang diketahui: Misalnya menganggap suatu keberuntungan dengan memiliki pohon yang sarat dengan bunga, di pekarangan rumahnya.

Perbuatan Thiyaroh  ini bisa menafikan (meniadakan) tauhid atau mengurangi kesempurnaan tauhid yang wajib. Hal ini bisa ditinjau dari dua sisi:

  1. Bahwa Thiyaroh  ini memutuskan ketawakkalannya kepada Allah dan bersandar kepada selain-Nya, yang mana hal itu tidak bisa memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat.
  2. Bahwa Thiyaroh ini menjadikan ketergantungan hati kepada suatu perkara yang tidak ada hakekatnya sama sekali, bahkan ini adalah persangkaan belaka dan takhayul.

 

Dan tidak diragukan bahwa kedua hal di atas mencacati nilai-nilai tauhid, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Mengapa Thiyaroh dikategorikan sebagai kesyirikan?  Karena Allah-lah satu-satu-Nya Yang Mengatur, Mencipta, Berkuasa. Semua yang terjadi tidak ada yang keluar dari kehendak-Nya dan ciptaan-Nya. Maka jika ada keyakinan bahwa ada yang mengatur, mencipta dan berkuasa selain Allah, disinilah letak kesyirikannya. Yaitu dengan MENYAMAKAN SELAIN ALLAH DENGAN ALLAH TA’ALA DI DALAM PERKARA YANG KHUSUS MILIK ALLAH TA’ALA, dalam hal ini pengaturan, penciptaan dan kekuasaan.

Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa kafarah (penghapus/penebus)-nya ?”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Hendaknya engkau mengucapkan):

اللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

ALLAHUMMA LAA KHAIRO ILLA KHAIRUKA WA LAA THOIRO ILLA THOIRUKA WA LAA ILAAHA GHOIRUKA.

Artinya:

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang datang dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau” [Diriwayatkan oleh Ahmad (2/220), Ibnus-Sunniy (no. 287), Ibnu Wahb dalam Jaami’-nya (no. 656, 657, 659, 660); dari Ibnu ‘Amr. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 1065).]

Dan yang bisa menghilangkan semua itu adalah tawakkal kepada Allah, menggantungkan harapan kepada Allah dan berhusnudzan kepada-Nya jalla wa ‘ala.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  melarang Thiyaroh dan syu’m (kesialan) secara umum dan memuji orang-orang yang menjauhinya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Tujuh puluh ribu orang dari ummatku akan masuk Jannah tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kay, tidak meminta diruqyah, tidak bertathayyur (Thiyaroh )dan hanya bertawakkal kepada Allah semata.” [HR. Al-Bukhari no. 6472 dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما. Diriwayatkan juga dengan lafadzh yang panjang oleh al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220 dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما]