Posts

,

BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA POSISI TANGAN DAN JARIMU TATKALA TASYAHUD?
 
Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk Tasyahud ini, di antaranya:
 
وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا
 
“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau – yaitu jari tengah dan ibu jari – pen). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadis ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. [HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud]
 
 
 
Sumber: [Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#sifatsholatNabi #sifatshalatNabi #tatacara #carasalatNabi #posisitangandanjariketikatasyahud #bagaimanatangandanjariwaktuTasyahud #dudukTasyahud #shalat #sholat #salat #solat #salat #tasyahud #tasyahhud

, ,

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?
 
Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita ketahui bersama, bahwa ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
 
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” [HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat. Tujuannya adalah agar memerbanyak doa ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan:
 
كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
 
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” [HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak doa dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Memerpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu HAMPIR SAMA LAMANYA. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadis Baro’ bin ‘Azib, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).” Inilah yang afdhal.
 
Akan tetapi ada TEMPAT DOA SELAIN SUJud yaitu SETELAH TASYAHUD (SEBELUM SALAM). Nabi ﷺ ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda: “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
 
Maka berdoalah ketika itu, sedikit atau pun lama, setelah tasyahud akhir sebelum salam. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B]
 
Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadis, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”
 
Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum, bahwa ketika itu adalah rakaat terakhir, atau ketika itu adalah amalan terakhir dalam shalat.
 
Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jamaah tahu, bahwa setelah itu adalah duduk terakhir, yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”
[Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau]
 
Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa TIDAK ADA ANJURAN untuk memerlama sujud terakhir ketika shalat, agar bisa memerbanyak doa ketika itu.
 
Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya.”
 
Silakan membaca doa ketika sujud terakhir, namun hendaknya LAMANYA HAMPIR SAMA dengan sujud sebelumnya, atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
 
“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” [HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )
 
~ Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
(Artikel www.rumaysho.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM

BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#DoaZikir
 
BACALAH DOA INI KETIKA TASYAHUD SEBELUM SALAM
 
Di antara doa yang hendaknya kita baca setelah membaca Tasyahud adalah doa yang di jelaskan dalam riwayat berikut:
 
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ دخلَ المسجدَ، إذا رجلٌ قد قَضى صلاتَهُ وَهوَ يتشَهَّدُ، فقالَ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ، فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: قَد غَفرَ اللَّهُ لَهُ، ثلاثًا
“Bahwasanya Rasulullaah ﷺ masuk masjid, dan ada seorang lak-laki yang sedang shalat. Dalam keadaan bertasyahud, ia berdoa (dalam Tasyahudnya):
 
اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ بأنَّكَ الواحدُ الأحدُ الصَّمدُ، الَّذي لم يَلِدْ ولم يولَدْ ولم يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أن تغفِرَ لي ذُنوبي، إنَّكَ أنتَ الغَفورُ الرَّحيمُ
 
Allaahumma inni as-aluka yaa Allaah, bi annakal waahidul ahadush shamad, alladziy lam yalid wa lam yuulad wa lam yakul-lahu kufuwan ahad, an taghfiraliy dzunuubiy innaka antal ghofuuur rohiim.
 
Artinya:
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, Yang Maha Esa, lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk, Yang tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, agar engkau mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
 
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya, sungguh Allah telah mengampuninya“. [HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].
 
, , ,

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
 
Bukanlah termasuk petunjuk Rasulullah ﷺ, seseorang berdoa setelah salam dari shalat, kecuali jika itu adalah untuk menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat. Di antara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah SETELAH salam, dengan mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali yaitu: Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah (maknanya adalah ‘Aku memohon ampun pada Allah’). Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ jika berpaling (selesai) menunaikan shalatnya, beliau ﷺ mengucapkan ‘Astagfirullah’ sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan ‘Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom’. [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih, termasuk periwayat kitab Shahih. Syaikh Al Albani dalam Al Kalamu Ath Thoyib mengatakan bahwa hadis ini Shahih].
 
Adapun jika tujuan doa tersebut selain daripada menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat, maka lebih utama doa tersebut dilakukan SEBELUM SALAM. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berikut ini, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkannya Tasyahud padanya, lalu beliau ﷺ bersabda:
 
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ
 
“Kemudian terserah dia memilih doa yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” [HR. Abu Daud no. 825]
 
Dalam lafal lain:
ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
 
“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah Tasyahud), doa yang dia kehendaki (dia sukai).” [HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340]
 
Jadi apabila kita ingin berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya SEBELUM salam. Hal ini karena dua alasan:
 
Alasan pertama: Inilah yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ. Beliau ﷺ membicarakan tentang Tasyahud, “Jika kalian selesai (dari Tasyahud), maka pilihlah doa yang kalian suka berdoa dengannya.”
 
Alasan kedua: Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhal (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya, ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama, yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.
 
Adapun ucapan zikir setelah menunaikan shalat (setelah salam), yaitu ucapan Astagfirullah sebanyak tiga kali, ini memang doa, namun ini adalah DOA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan zikir ini adalah pengulangan dari shalat.
 
Adakah dalil yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai shalat Subuh berpaling ke makmum, lalu mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa). Apakah hadis tersebut Shahih?
Syaikh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab: Hadis ini tidak diketahui periwayatannya. Jika pun ada, maka hadis ini adalah hadis yang lemah. [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82]
 
Sumber:
,

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?

MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#SifatSholatNabi
 
MAKMUM MASBUK, TAHIYATNYA BAGAIMANA?
 
Pertanyaan:
Jika masbuk dapat Tasyahud tiga kali, apakah kita baca dua Tasyahud Awal satu Tasyahud Akhir, atau dua kali baca seperti biasa, dan yang satu Tasyahud hanya ikuti gerakan imam tanpa baca?
 
Jawaban:
Setiap makmum masbuk, diperintahkan untuk menyusul jamaah shalat di mesjid dan mengikuti imamnya, dalam keadaan apa pun sang imam berada: berdiri kah, rukuk kah, sujud kah atau duduk kah. Kemudian ia harus meng qadha’ rakaat yang tertinggal setelah imamnya salam. Tidak ada pilihan lain baginya selain itu.
 
Berangkat dari sini, si masbuk tetap harus mengikuti imamnya membaca Tasyahud. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya sebagai berikut:
 
Ada seseorang yang menyusul imamnya ketika Tasyahud Akhir, apakah dia cukup membaca Tasyahud saja, ataukah juga membaca shalawat dan doa? Tolong sebutkan dalilnya!
 
Jawab beliau:
Jika ia mendapati imamnya pada saat Tasyahud, maka ia mengikutinya dan membaca Tasyahud dan melanjutkannya hingga selesai, sebab ia duduk dalam kondisi itu tidak lain ialah demi mengikuti imamnya, sehingga hendaknya ia mengikuti sang imam dalam duduk, sekaligus dalam membaca bacaan yang disyariatkan ketika duduk tersebut. Inilah yang masyru’ baginya.
 
Namun andai ia mencukupkan dengan bacaan Tasyahud Awal saja, maka kuharap tidak mengapa. Namun afdhalnya ialah ia mengikuti bacaan imamnya secara lengkap, dan ini berangkat dari keumuman sabda Nabi ﷺ:
 
(فما أدركتم فصلّوا)
 
Yang artinya: “Apa saja yang kalian dapati, maka shalatlah” Demikian pula dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:
 
(إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فليصنع كما يصنع الإمام)
 
Yang artinya, “Bila seseorang mendatangi shalat jamaah, sedangkan imamnya berada dalam kondisi tertentu, maka perbuatlah sebagaimana yang diperbuat Imam tersebut.” [Fatawa Islamiyah 1/300].
 
Kesimpulannya:
Antum membaca Tasyahud sesuai dengan imamnya. Kalau misalnya masbuk shalat Maghrib 1 rakaat, berarti Tasyahud yang pertama membaca Tasyahud saja, lalu yang kedua membaca Tasyahud di tambah shalawat dan doa, demikian pula bacaannya pada saat Tasyahud ketiga.
 
Namun jika mendapati imam Tasyahud Akhir, maka dia ikut membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa, lalu pada Tasyahud kedua cukup membaca Tasyahud saja, sedangkan Tasyahud ketiga membaca Tasyahud tambah shalawat dan doa.
 
Wallahu a’lam
 
Referensi:
 
Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA
 
,

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA CARA DUDUK KETIKA TASYAHHUD?

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Namun demikian, yang berikut ini adalah yang lebih rojih, insyaAllah:

Pendapat Madzhab Hanbali
Untuk sholat yang hanya ada satu Tasyahhud (seperti sholat Subuh dan sholat Jumat), maka duduknya adalah duduk iftirasy.
Ibnu Qudaamah berkata: “Dan tidaklah dilakukan duduk Tawarruk, kecuali pada sholat yang memiliki dua Tasyahhud, yaitu pada Tasyahhud yang kedua” [Al-Mughni 2/227]
Dalil Madzhab Hanbali adalah:
Hadis Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, beliau berkata:

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Adalah beliau (Rasulullah ﷺ ) mengucapkan Tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Muslim no 498]
Hadis Abdullah bin Az-Zubair:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ افْتَرَشَ اْليُسْرَى، وَنَصَبَ اْليُمْنَى

“Adalah Rasulullah ﷺ jika duduk pada dua rakaat, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy, pent).” [HR. Ibnu Hibban no 1943]

Hadis Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى

“Aku melihat Rasulullah ﷺ ketika duduk dalam shalat, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Ibnu Khuzaimah no 691]

Dalam lafal yang lain:

فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Maka tatkala beliau duduk untuk Tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya, dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” [HR. Tirmidzi no 292]

Dalam lafal yang lain:

وإذا جَلَسَ افْتَرَشَ

“Dan jika Nabi duduk (dalam sholat-pent) beliau beriftirasy.” [HR At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir 22/33 no 78]

Sisi Pendalilan Madzhab Hanbali

Sisi pendalilan mereka adalah keumuman lafal-lafal hadis ini, dan semua lafal-lafal di atas termasuk lafal-lafal umum, seperti, “Ketika duduk”, “Jika duduk”, “Tatkala beliau duduk”

Dari pemaparan sederhana di atas maka penulis (al-ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja) lebih condong pada pendapat Madzhab Hanabilah, bahwasanya sholat yang memiliki satu Tasyahhud saja, maka DUDUKNYA ADALAH IFTIRASY, karena keumuman hadis Wail bin Hujr. Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Bin Baaz [lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah 7/17-18 soal no 2232], Syaikh Albani [Ashl sifat sholaat An-Nabiy 3/829 dan Irwaaul Golil 2/23] dan Syaikh Al-Utsaimin [lihat Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail Syaikh Al-‘Utsaimiin 14/159 no 784].

Bagaimanapun ini adalah permasalahan khilafiyah ijtihadiah yang kita harus toleransi terhadap orang yang menyelisihi kita. Sehingga tidak tepat menjadikan masalah ini sebagai masalah manhajiyah, yang jadi barometer seseorang Ahlus Sunnah ataukah bukan.
Hanya Allah yang beri taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Untuk lengkapnya: https://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-Tasyahhud-terakhir-sholat-Subuh

,

HUKUM MEMBACA SHALAWAT PADA TASYAHUD AWAL

HUKUM MEMBACA SHALAWAT PADA TASYAHUD AWAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

HUKUM MEMBACA SHALAWAT PADA TASYAHUD AWAL

Pertanyaan:

Apa hukum membaca shalawat pada saat Tasyahud Awal?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca shalawat ketika Tasyahud Awal.

Pendapat pertama, wajib membaca shalawat ketika tasyhud awal.

Ini adalah pendapat kedua Imam As-Syafii sebagaimana yang beliau tegaskan dalam kitab Al-Umm. Imam As-Syafii bahkan menegaskan, orang yang tidak membaca shalawat ketika Tasyahud Awal karena lupa, maka dia harus Sujud Sahwi. (al-Umm, 1/110).

Pendapat ini juga dipilih Ibnu Hubairah Al-Hambali, sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Al-Ifshah, Imam Ibnu Baz dalam Fatwa beliau, dan Imam Al-Albani dalam sifat shalat Nabi ﷺ.

Pendapat kedua, ketika Tasyahud Awal hanya membaca bacaan Tasyahud sampai dua kalimat syahadat dan boleh tidak ditambahi shalawat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya An-Nakhai, As-Sya’bi, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ishaq bin Rahuyah. Pendapat ini yang LEBIH KUAT dalam madzhab Syafiiyah, dan pendapat yang dipilih Ibnu Utsaimin.

InsyaaAllah, pendapat kedua inilah yang lebih kuat, karena beberapa pertimbangan:

  1. Makna zahir dari hadis di atas, dimana Rasulullah ﷺ hanya mengajarkan bacaan Tasyahud, dan bukan shalawat.
  2. Kebiasaan Rasulullah ﷺ duduk ringan ketika Tasyahud Awal, sebagaimana keterangan Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad (1/232).
  3. Terdapat hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, bahwa Rasulullah ﷺ membaca Tasyahud dalam duduk Tasyahud Awal dan beliau tidak berdoa [simak As-Syarhul Mumthi’, 3/162].

 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/23215-hukum-membaca-shalawat-pada-tasyahud-awal.html

 

, , ,

DOA DI AKHIR TASYAHHUD

DOA DI AKHIR TASYAHHUD
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
#SifatSholatNabi
#FatwaSholat
 
DOA DI AKHIR TASYAHHUD
Pertanyaan:
Apakah doa setelah sholawat Nabi ﷺ pada Tasyahhud Awal, wajib atau sunnah?
 
Jawaban:
TIDAK disyariatkan doa pada Tasyahhud Awal.
Doa ini hanya disyariatkan pada Tasyahhud kedua / akhir, setelah sholawat Nabi ﷺ, seperti yang dijelaskan dalam banyak hadis.
 
_________________________
 
السؤال الأول من الفتوى رقم (٤٩٢٧)
س١: هل الدعاء خلف الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في التشهد الأول واجب أم سنة؟
ج١: لا يشرع له الدعاء في التشهد الأول، وإنما يشرع في التشهد الثاني بعد الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم كما جاء في الأحاديث.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
_________________________
 
Sumber: Fatwa Lajnah Daimah No.4927.
 
Ditulis oleh: Ustadz Abu Khuzaimah Al Fadanji Hafizhahullah
,

KUMPULAN DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

KUMPULAN DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

KUMPULAN DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

Doa Setelah Tasyahhud Akhir Sebelum Salam #1

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qobr, wa min ‘adzaabi jahannam, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnatil masiihid-dajjaal.

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa Neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.

[HR. Al-Bukhari 2/102 dan Muslim 1/412. Lafazh hadis ini dalam riwayat Muslim].

Doa Setelah Tasyahhud Akhir Sebelum Salam #2

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Allaahumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiron, wa laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta, faghfir lii maghfirotan min ‘indika, warhamnii, innaka antal ghofuurur-rohiim.

Artinya:

Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[HR. Al-Bukhari 8/168 dan Muslim 4/2078].

Doa Setelah Tasyahhud Akhir Sebelum Salam #3

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِيْ مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ يَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

Allaahumma bi’ilmikal ghoiba wa qudrotika ‘alal kholqi ahyinii maa ‘alimtal hayaata khoiron lii, wa tawaffanii idzaa ‘alimtal wafaata khoiron lii, allaahumma innii as-aluka khosy-yataka fil ghoibi wasy-syahaadati, wa as-aluka kalimatal haqqi fir-ridhoo wal ghodhobi, wa as-alukal qoshda fil ghinaa wal faqri, wa as-aluka na’iimaan laa yanfadu, wa as-aluka qurrota ‘ainin laa yanqothi’, wa as-alukar-ridhoo ba’dal qodhoo-i, wa as-aluka bardal ‘aisy ba’dal mauti, wa as-aluka ladz-dzatan-nazhori ilaa wajhika wasy-syauqo ilaa liqoo-ika fii ghoiri dhorroo-a mudhirratin wa laa fitnatin mudhillatin, allaahumma zayyannaa biziinatil iimaani waj’alnaa hudaatan muhtadiin.

Artinya:

Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui, bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak habis, dan aku minta kepada-Mu, agar diberi penyejuk mata yang tak putus. Aku mohon kepada-Mu agar aku dapat rela setelah qadha-Mu (turun pada kehidupanku). Aku mohon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan, dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memeroleh bimbingan dari-Mu.

[HR. An-Nasai 3/54-55 dan Ahmad 4/364. Dinyatakan oleh Al-Albani shahih dalam Shahih An-Nasai 1/281].

Sumber: Hisnul Muslim

Doa Setelah Tasyahhud Akhir Sebelum Salam #4

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.

Artinya:

Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.

[HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasai 3/53. Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Abi Dawud, 1/284].

Doa Setelah Tasyahhud Akhir Sebelum Salam #5

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللَّهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Allaahumma innii as-aluka yaa allaah, bi-annakal waahidul ahadush-shomadul-ladzii lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahu kufuwan ahad, an taghfiro lii dzunuubii, innaka antal ghofuurur-rohiim.

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, ya Allah, dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal tidak membutuhkan sesuatu, tapi segala sesuatu butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan (tidak punya ibu dan bapak), tidak ada seorang pun yang menyamai-Mu, aku mohon kepada-Mu agar mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

[HR. An-Nasai, lafazh hadis menurut riwayatnya 3/52 dan Ahmad 4/338. Dinyatakan Al-Albani shahih dalam Shahih An-Nasai 1/280].

Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkannya.

 

Oleh: Al-Ustadz Agus Hendra Abu Zaidan hafizhahullah

 

,

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA LUPA TASYAHUD AWAL?

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA LUPA TASYAHUD AWAL?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA LUPA TASYAHUD AWAL?

Pertanyaan:

Ketika sholat empat rakaat, seharusnya kita Tasyahud Awal, tapi kita lupa, dan langsung berdiri. Kemudian setelah berdiri sempurna kita ingat, bahwa seharusnya duduk Tasyahud Awal. Apa yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Bismillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Orang yang lupa tidak Tasyahud Awal, memiliki dua keadaan:

Pertama, teringat ketika proses berdiri menuju rakaat ketiga, atau sebelum berdiri sempurna. Dalam kondisi semacam ini, dia HARUS KEMBALI untuk melaksanakan duduk Tasyahud Awal, dan TIDAK ada kewajiban Sujud Sahwi.

Kedua, baru teringat setelah BERDIRI SEMPURNA di rakaat ketiga. Pada keadaan ini, TIDAK perlu kembali duduk tasyhud, kemudian melakukan Sujud Sahwi sebelum salam. Dalilnya:

Hadis dari Abdullah bin Buhainah radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنَ اثْنَتَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ لَمْ يَجْلِسْ بَيْنَهُمَا، فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ بَعْدَ ذَلِك

Rasulullah ﷺ pernah langsung bangkit setelah rakaat kedua sholat Zuhur dan tidak duduk tasyahud. Setelah selesai Tasyahud Akhir, beliau sujud dua kali, kemudian salam setelah Sujud Sahwi. (Hr. Bukhari 1225 dan Muslim 570)

 

Dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَامَ الْإِمَامُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ، فَإِنْ ذَكَرَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَوِيَ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ، فَإِنِ اسْتَوَى قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ، وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ

“Apabila imam bangkit setelah rakaat kedua, dan dia teringat sebelum  sempurna berdiri, maka hendaknya dia DUDUK KEMBALI. Dan jika sudah berdiri sempurna, maka JANGAN duduk dan lakukanlah Sujud Sahwi (sebelum salam).” (HR. Abu Daud 1036 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)

Duduk pada Tasyahud Awal adalah termasuk di antara Wajib Sholat. Meninggalkan wajib sholat dengan sengaja dapat membatalkan sholat . Adapun jika tidak sengaja atau karena jahil, maka menggantinya dengan Sujud Sahwi.

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Sumber: https://konsultasisyariah.com/7685-tasyahud-awal.html