Posts

HATI-HATI DENGAN NIAT MEMPELAJARI ILMU

HATI-HATI DENGAN NIAT MEMPELAJARI ILMU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HATI-HATI DENGAN NIAT MEMPELAJARI ILMU
>> Tiga Niatan yang Benar dalam Menuntut Ilmu
 
Di antara ibadah yang paling penting yang mudah mendekatkan seorang hamba pada Allah adalah Tholabul ‘Ilmi atau Belajar Ilmu Agama. Sedangkan perkara yang amat penting yang perlu diperhatikan dan selalu dikoreksi adalah niat dalam belajar. Tidak ada kebaikan yang diperoleh jika seseorang ketika belajar malah ingin mencari rida selain Allah. Oleh karena itu para ulama sangat memperhatikan niatnya dalam belajar, apakah sudah benar ataukah tidak. Karena jika tidak ikhlas, maka dapat mencacati ibadah yang mulia ini.
 
Syaikh ‘Abdus Salam Asy Syuwai’ir mengatakan, bahwa ada tiga perkara yang mesti dipenuhi agar seseorang disebut memiliki niatan yang benar dalam menuntut ilmu:
 
Pertama: Menuntut ilmu diniatkan untuk beribadah kepada Allah dengan benar.
 
Kedua: Berniat dalam menuntut ilmu untuk mengajarkan orang lain. Sehingga para ulama seringkali mengatakan, bahwa hendaklah para pria menguasai perkara haid, agar bisa nantinya mengajarkan istri, anak dan saudara perempuannya.
Imam Ahmad ditanya mengenai apa niat yang benar dalam belajar agama. Beliau menjawab: “Niat yang benar dalam belajar adalah apabila belajar tersebut diniatkan untuk dapat beribadah pada Allah dengan benar dan untuk mengajari yang lainnya.”
Dari sini menunjukkan, bahwa niat belajar yang keliru adalah jika ingin menjatuhkan atau mengalahkan orang lain, atau ingin mencari kedudukan mulia di dunia.
 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Barang siapa menuntut ilmu hanya karena ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di Neraka.” [HR. Hakim dalam Mustadroknya]
 
Ketiga: Istiqamah atau terus menerus dalam amal dan menuntut ilmu butuh waktu yang lama (bukan hanya sebentar).
 
Dalam belajar itu butuh kesungguhan. Muhammad bin Syihab Az Zuhri berkata:
“Yang namanya ilmu, jika engkau memberikan usahamu seluruhnya, ia akan memberikan padamu sebagian.”
 
Dalam Hadis Riwayat Muslim, Abu Katsir berkata:
“Ilmu tidak diperoleh dengan badan yang bersantai-santai.” [HR. Muslim no. 612]
 
Ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat dan niatan yang ikhlas dalam belajar serta beramal.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.com]

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

بسم الله الرحمن الرحيم

#MutiaraAyat

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

يرفع الله المؤمن العالم على المؤمن غير العالم ورفعة الدرجات تدل على الفضل إذ المراد به كثرة الثواب وبها ترتفع الدرجات ورفعتها تشمل المعنوية في الدنيا بعلو المنزلة وحسن الصيت والحسية في الآخرة بعلو المنزلة في الجنة

1) Allah mengangkat derajat seorang Mukmin yang berilmu, melebihi Mukmin yang tidak berilmu.

2) Terangkatnya derajat menunjukkan keutamaan, yaitu banyaknya pahala, yang dengan itu terangkatlah derajat.

3) Ketinggian derajat mencakup ‘Maknawiyah’ di dunia, seperti kedudukan yang tinggi, dan disebut dengan kebaikan, dan juga mencakup ‘Hissiyah’ di Akhirat, yaitu kedudukan yang tinggi di Surga. [Fathul Baari, 1/141]

Ayo ke majelis ilmu dan raih keutamaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/799017530247731:0

,

MENEPIS SYUBHAT MODE DALAM BERHIJAB

MENEPIS SYUBHAT MODE DALAM BERHIJAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah

MENEPIS SYUBHAT MODE DALAM BERHIJAB

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang mengatur segalanya, hingga sampai saat ini kita bisa membaca tulisan ini menggunakan penglihatan kita yang sempurna, di bumi Allah ini. Tempat mana lagi yang bisa kita tinggali selain di bumi Allah ini. Maka tidaklah pantas sedikit pun bagi kita sebagai seorang hamba Allah, tidak mematuhi perintah Allah, terlebih melanggar larangan Allah.

Tidaklah lupa shalawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, karena dengannya segala jalan kebaikan telah dibukakan, dan segala jalan keburukan telah ditutup. Tinggal kitalah yang memilih jalan mana yang kita tempuh.

Saudariku, tidakkah kau perhatikan pada akhir zaman ini sudah banyak yang menggunakan hijab? Dari kalangan anak kecil sampai orang tua semua tahu tentang hijab. Namun apakah motif kita dalam menggunakan hijab tersebut? Ingin syari tapi tetap modern? Ingin syari tapi tetap cantik? Atau bahkan, dengan menggunakan hijab jadi tambah cantik?

Namun itu semua hanyalah syubhat saja saudariku. Tulisan ini akan menepis segala syubhat mengenai mode dalam berhijab. Berikut pemaparannya:

Sebagian Muslimah yang tidak berhijab mengulang-ulang syubhat, yang intinya, tidak ada yang disebut hijab secara hakiki, ia sekedar mode. Maka, jika itu hanya mode, kenapa harus dipaksakan untuk mengenakannya?

Mereka lalu menyebutkan beberapa kenyataan serta penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian ukhti berhijab yang pernah mereka saksikan. Sebelum membantah syubhat ini, kami perlu ketengahkan enam macam alas an, yang karenanya seorang ukhti mengenakan hijab.

Pertama, ia berhijab untuk menutupi sebagian cacat tubuh yang dideritanya.

Kedua, ia berhijab untuk bisa mendapat jodoh. Sebab sebagian besar pemuda yang taat menjalankan syariat agama atau tidak, selalu mengutamakan wanita yang berhijab.

Ketiga, ia berhijab untuk mengelabui orang lain, bahwa dirinya orang baik-baik. Padahal ia sebenarnya suka melanggar syariat Allah. Dengan berhijab, maka keluarganya akan percaya terhadap kesalehannya, orang tidak ragu-ragu tentangnya. Akhirnya, dia bisa bebas keluar rumah kapan dan ke mana dia suka. Dan tidak akan ada seorang pun yang menghalanginya.

Keempat, ia memakai hijab untuk mengikuti mode. Hal ini lazim disebut dengan “Hijab ala Perancis”. Mode itu biasanya menampakkan sebagian jalinan rambutnya, memerlihatkan bagian atas dadanya, memakai rok hingga pertengahan betis, memerlihatkan lekuk tubuhnya. Terkadang memakai kain tipis sekali, sehingga tampak jelas warna kulitnya. Kadang-kadang juga memakai celana panjang. Untuk melengkapi mode tersebut, ia memoles wajahnya dengan berbagai macam make up, juga menyemprotkan parfum, sehingga menebar bau harum pada setiap orang yang dilewatinya. Dia menolak syariat Allah, yakni perintah mengenakan hijab. Selanjutnya lebih mengutamakan mode-mode buatan manusia. Seperti Christian Dior, Valentino, Saint Lauren dan merek nama orang-orang kafir yang dimurkai Allah lainnya.

Kelima, ia berhijab karena paksaan dari kedua orang tuanya yang mendidiknya secara keras di bidang agama. Atau karena keluarganya semua berhijab, sehingga ia terpaksa menggunakannya. Padahal dalam hatinya ia tidak suka. Jika tidak mengenakannya, ia takut akan mendapatkan teguran dan hardikan dari keluarganya.

Keenam, ia mengenakan hijab karena mengikuti aturan-aturan syariat. Ia percaya bahwa hijab adalah wajib, sehingga ia takut melepaskannya. Ia berhijab hanya karena mengaharap rida Allah, tidak karena makhluk.

Wanita berhijab jenis keenam, akan selalu memerhatikan ketentuan-ketentuan berhijab, di antaranya:

  1. Hijab itu longgar, sehingga tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh (tubuh bukan hanya kepala).
  2. Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya.
  3. Tidak memakai wangi-wangian.
  4. Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita kafir sehingga Muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal.
  5. Tidak memilih warna kain yang kontras (menyala) sehingga menjadi pusat perhatian orang.
  6. Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh tubuh dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain.
  7. Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki sehingga bab hal ini dilarang oleh syara’.
  8. Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan diri yang dilarang oleh agama.

[Kitab Hijab al-Mar’ah al-Muslimah fi al-Kitab wa as-Sunnah, karya al-Albani dan kitab Ila Kulli Fatatin Tu’minu Billah, karya al-Buthi]

Selain berhijab yang disebutkan terakhir, maka alasan-alasan mengenakan hijab adalah KELIRU dan BUKAN KARENA MENGHARAP RIDA ALLAH. Ini bukan berarti tidak ada orang yang menginginkan rida Allah dalam berhijab. Berhijablah sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syariat, sehingga Anda termasuk dalam golongan wanita yang berhijab karena mencari rida Allah, dan takut akan murka-Nya.

Saudariku, pakaian bermode itu boleh kau pakai asal di depan mahrammu, karena dirimu terlalu berharga untuk dinikmati oleh sembarangan mata. Tidakkah kita berpikir, bahwa sesuatu yang amat berharga itu pantas dipertontonkan di muka umum? Tentulah tidak.

 

————————-

Artikel Muslimah.or.id

Tulis ulang dari kitab “Ila Ukhti Ghairil Muhajjabah Mal Mani’ Minal Hijab?” “Saudariku, Apa yang Menghalangimu Berhijab?” karya Abdul Hamid al-Bilali, penerjemah Ainul Haris bin Umar Aridin, Lc.

 

Sumber: https://Muslimah.or.id/7631-jilbabku-syari-ataukah-modis.html

,

HUKUM MENELAN SPERMA SUAMI (SYARIAT DAN MEDIS)

HUKUM MENELAN SPERMA SUAMI (SYARIAT DAN MEDIS)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

#MuslimahSholihah

HUKUM MENELAN SPERMA SUAMI (SYARIAT DAN MEDIS)

Sebelumnya, mengenai hukum oral seks, ulama ada beberapa pendapat mu’tabar (teranggap/diakui):

  1. Haram total
  2. Boleh asalkan tidak terkena madzi (madzi hukumnya najis. Maka dibersihkan dahulu, karena keluar ketika awal bercumbu atau ketika terangsang)

Hukum Menelan Sperma

Adapun mengenai hukum menelan sperma, maka HARAM.

Berikut penjalasan ulama:

Imam AN-Nawawi rahimahullah berkata:

هل يحل أكل المني الطاهر؟ فيه وجهان: الصحيح المشهور أنه لا يحل لأنه مستخبث، قال تعالى وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِث [الأعراف:157].

“Apakah boleh memakan/menelan mani yang suci? Ada dua pendapat. Yang shahih dan terpilih adalah tidak halal karena, hal itu dianggap buruk. Sebagaimana firman Allah:

“Diharamkan bagi kalian, hal-hal yang buruk” [lihat Al-Majmu’ syarh Muhaddzab imam An-Nawawi]

Dalam Fatwa Asy-syabakah Al-Islamiyah:

وأما ابتلاع المرأة لمني زوجها فهو أمر منافٍ للفطرة السليمة والأذواق الرفيعة، وقد ذهبت طائفة من أهل العلم إلى أن المني نجس، وعلى رأيهم فلا يجوز ابتلاعه

“Adapun wanita menelan  mani suaminya, maka ini adalah perkara yang bertentangan dengan fitrah yang selamat, dan bertentangan dengan adab yang sepantasnya. Sejumlah ulama berpendapat, bahwa mani najis (pendapat terkuat adalah tidak najis, pent). Maka menurut pendapat mereka tidak boleh menelannya.” [Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=16827]

Syaikh Abdurrahman Al-Barrak berkata:

ابتلاع المرأة لمني زوجها حرام وذلك لعدة أمور :

الأول : أن فيه تعرضاً لدخول النجاسة إلى فم المرأة ، ولا يُأمن مع خروج المني أن يخرج شيء من النجاسة ، خصوصاً في أول المني كالمذي والودي النجسين ، أو خروج بعض البول في آخر تدفق المني

الثاني : ولو قيل عند بعض العلماء بأن ” المني طاهر ” إلا أنهم لا يجوزون ابتلاعه استخباثاً واستقذاراً .

الثالث : أن فيه تشبهاً بالكفرة وأهل المجون وأهل الزنا الذين لا همَّ لهم إلا التلذذ بالشهوات ، وموافقة للحيوانات .

Hukum istri Menelan sperma suami HARAM dengan beberapa alasan:

Pertama: Bisa memungkinkan wanita menelan najis. Tidak bisa dijamin, bahwa ketika mani keluar, tidak keluar juga najis yang lain (seperti madzi dan sisa kencing, pent). Khususnya ketika awal-awal, yaitu madzi dan sisa air kencing pada ujung tetesan.

Kedua: Walaupun sebagian ulama mengatakan mani suci, akan tetapi tidak boleh menelannya, karena merupakan hal yang dianggap kotor dan buruk.

Ketiga: hal ini “Tasyabbuh”, menyerupai orang kafir, orang dungu/pelawak, pelaku zina yang tidak ada keinginan mereka, kecuali hanya masalah kelezatan syahwat saja. Ini juga menyerupai hewan. [Ringkasan fatwa beliau, Sumber: http://feqhweb.com/vb/archive/index.php/t-5480.html]

Pendangan Medis Menelan Sperma

Mengenai menelan sperma, maka ada pendapat yang menyatakan, bahwa hal ini menyehatkan bagi wanita. Karena sperma mengandung zat-zat penting dan nutrisi bagi kesehatan tubuh. Akan tetapi belum ada penelitian/jurnal ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan (setahu kami) yang menyatakan demikian.

Ada yang mengklaim telah melakukan penelitian, bahwa menelan sperma bisa menyehatkan wanita yang menalannya. Akan tetapi Ada ahli yang menyatakan, bahwa hal tersebut belum bisa dipastikan karena:

  • Bisa jadi sehat karena timbul perasaan gembira karena bisa memuaskan pasangan.
  • Belum bisa dipastikan, apakah zat-zat nutrisi dalam air mani hanya bermanfaat untuk nutrisi sperma saat pembuahan, atau nutrisi tubuh secara umum.

Akan tetap lebih baik tidak melakukannya (menelan sperma), hanya untuk mencari gizi atau kandungan zat nutrisinya (jika benar ada nutrisinya dan berguna untuk tubuh). Karena masih banyak sumber makanan lain, yang jelas-jelas bergizi dan bermanfaat bagi tubuh.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

[Artikel www.Muslimafiyah.com]

https://muslimafiyah.com/menelan-sperma-suami-syariat-dan-medis.html

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#TazkiyatunNufus

BERUSAHA UNTUK IKHAS DALAM BERAMAL

Definisi Ikhlas

Pengertian Ikhlas Menurut Bahasa

Akar kata Ikhlas dalam bahasa Arab adalah “خلص” , “يخلص”, “خلوصا”

yang jika dalam bahasa Indonesia bermakna : kesucian, kebeningan dan tanpa ada campuran sedikit pun.

Menurut istilah Syar’i (Islam), yang dimaksud dengan makna ikhlas itu ialah mengerjakan ibadah atau kebajikan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaan-Nya.

Di dalam Alquran, Allah mengibaratkan ikhlas itu laksana susu yang bersih-mumi, yang enak rasanya apabila diminum, bahkan yang dapat menyehatkan dan menyegarkan badan manusia. Allah berfirman:

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

Dan sesungguhnya tentang kehidupan binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih, antara tahi dan darah, yang mudah dan sedap ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. [QS An-Nahl 16:66]

Pada ayat ini, Allah memberikan contoh tentang ikhlas itu laksana susu murni binatang ternak. Sebelum menjadi susu murni, yaitu tatkala masih berada dalam perut binatang, susu itu terdiri dari dua zat yang kotor dan tidak memberikan faidah, yaitu tahi dan darah. Setelah melalui proses, maka terjadilah susu yang bersih-murni, tidak bercampur dengan kotoran dan zat-zat lainnya. Allah mengibaratkan bahwa sesuatu amal yang ikhlas tak ubahnya laksana susu murni itu.

Di Antara Dalil-Dalil Ikhlas dalam Alquran

Allah ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecualisupaya beribadah kepada Allah, dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus… [QS Al-Bayyinah : 5]

Allah ta’ala berfirman:

 ….فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ٢ أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ …….. ٣

Artinya: ….maka beribadahlah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)….. [QS Az-Zumar : 2-3]

Allah ta’ala juga berfirman:

قُلۡ إِنِّيٓ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ ١١

Artinya: Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaantan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama. [QS Az-Zumar : 11]

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut. [Kami ambil perkataan-perkataan ulama tersebut dari kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H]

Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan: “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk . Atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan: “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Jika kita sedang melakukan suatu amalan, maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah rida Allah, bukan komentar dan pujian manusia.

Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan: “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zahir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zahir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

  • Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
  • Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
  • Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas:

  • Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
  • Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
  • Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
  • Mengharap balasan dari amalannya di Akhirat.

 

Sumber: https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html dengan sedikit penambahan oleh tim redaksi Nasihat Sahabat.

 

,

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatSholatNabi

BAGAIMANA JIKA LUPUT DARI MENGERJAKAN RAWATIB ZUHUR?

Kalau luput dari shalat empat rakaat sebelum Zuhur, maka boleh mengerjakannya ketika selesai melaksanakan shalat Zuhur. Dalilnya adalah:

Aisyah mengatakan, bahwa jika Nabi ﷺ luput dari mengerjakan empat rakaat sebelum (Qabliyah) Zuhur, beliau ﷺ mengerjakannya sesudah melaksanakan shalat Zuhur (yaitu setelah badiyah Zuhur, -pen.). [HR. Tirmidzi, no. 426; Ibnu Majah, no. 1158]

Bagaimana jika luput dari dua rakaat Bada (Badiyah) Zuhur?

Boleh meng-qadha shalat ini setelah shalat Ashar sebelum matahari menguning. Namun hendaknya hal ini tidak dijadikan kebiasaan. Dalam Shahih Bukhari Muslim diceritakan, bahwa Nabi ﷺ pernah disibukkan dengan masuk Islamnya beberapa orang dari kaum Abdul Qoys. Lalu beliau ﷺ luput dari shalat dua rakaat bada Zuhur, dan meng-qadhanya setelah shalat Ashar.

 

Sumber: https://rumaysho.com/13091-shalat-rawatib-di-waktu-Zuhur.html

,

HAKIKAT JILBAB

HAKIKAT JILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#KisahNyata

HAKIKAT JILBAB

>> Sebuah Kisah yang Sangat Perlu Dibaca Para Wanita

Kisah nyata ini berasal dari kawan saya bekerja. Semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum hawa. Juga bagi yang punya istri, anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya ibu, yang punya keponakan perempuan, dan lain lain.

Begini cerita sahabatku:

Ini cerita tentang adikku Nur Annisa, gadis yang baru beranjak dewasa, namun rada bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya agak mengkhawatirkan ibuku. Banyak teman cowoknya yang datang ke rumah, dan hal itu tidak mengenakkan ibuku yang berprofesi sebagai seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu, ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya. Hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil di antara mereka.

Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang agak keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab, namun kelakuannya tidak ada bedanya sama kita-kita. Malah teman teman Ani yang di sekolah pakai jilbab dibawa om-om, sering jalan-jalan. Masih mending Ani, walaupun begini-gini, Ani tidak pernah ma, seperti itu.” Bila sudah seperti itu, ibuku hanya bisa mengelus dada. Kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya:

“Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum-Mu ya Allah“.

Pada satu hari, di dekat rumahku ada tetangga yang baru pindah. Satu keluarga dengan enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri (entah nama aslinya siapa). Aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah, timbul desas-desus mengenai istri Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh adikku, dan dia bertanya kepadaku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli?

“Hus,” aku jawab sambil lalu. “Kalau kamu mau tahu, datang saja langsung ke rumahnya”.

Eehhh, adikku benar-benar datang ke rumah tetangga baru.

Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastis pada dirinya. Wajahnya yang biasanya cerah tidak pernah muram atau lesu, tiba-tiba berubah mejadi pucat pasi. Entah apa yang terjadi.

Namun tidak kusangka, selang dua hari kemudian dia meminta ibuku untuk membuatkannya jilbab yang panjang, rok panjang, lengan panjang.

Aku sendiri menjadi bingung. Aku tambah bingung bercampur syukur kepada Allah, karena kulihat perubahan yang ajaib. Yah kubilang ajaib, karena dia berubah total.

Tidak banyak lagi anak cowok atau teman-teman wanitanya yang datang ke rumah, untuk sekedar bicara yang tidak karuan.

Kulihat dia banyak merenung, banyak membaca-baca majalah Islam, yang biasanya dia suka beli. Majalah anak muda seperti majalah Gadis atau Femina berganti menjadi majalah-majalah Islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku.

Tak ketinggalan tahajudnya, baca Alqurannya, sholat sunnahnya. Dan yang lebih menakjubkan lagi, bila temanku datang, dia menundukkan pandangannya.

Segala puji bagi Engkau ya Allah, jerit hatiku.

Tidak berapa lama kemudian aku mendapat panggilan kerja di Kalimantan, untuk bekerja di satu perusahaan asing (PMA).

Dua bulan aku bekerja di sana, aku mendapat kabar, bahwa adikku sakit keras, hingga ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun).

Di pesawat tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah, agar adikku diberikan kesembuhan. Namun aku hanya berusaha. Ketika aku tiba di rumah, di depan pintu sudah banyak orang. Tak dapat kutahan, aku lari masuk ke dalam rumah. Kulihat ibuku menangis. Aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku. Sambil tersendat-sendat, ibuku berkata:

“Dhi, adikmu bisa ucapkan Dua Kalimat Syahadat di akhir hidupnya.“ Tak dapat kutahan air mata ini.

Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng-iseng aku masuk ke kamar adikku dan kulihat buku catatan harian di atas mejanya.

Buku catatan harian yang selalu dia tulis, tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur, kala kulihat sewaktu adikku rahimahullah masih hidup. Kemudian kubuka selembar demi selembar, hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri, dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku. Perubahan yang terjadi ketika adikku sehabis pulang dari rumah Abu Khoiri.

Di situ kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini:

Tanya jawab (kulihat di lembaran itu banyak bekas tetesan air mata):

Annisa: Aku bergumam (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari): “Ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.”

Annisa: “Ibu kan sudah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Subhanallah. Sesungguhnya keindahan itu milik Allah. Dan bila Allah  berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya?”

Annisa: “Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak, karena aku pikir tidak masalah kalau aku tidak pakai jilbab, asalka aku tidak macam-macam. Dan kulihat banyak wanita memakai jilbab, namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku tidak pernah mau untuk pakai jilbab. Menurut ibu bagaimana?”

Istri Tetanggaku: Duhai Annisa, sesungguhnya Allah menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan mahram kita, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala di Akhirat nanti. Jilbab adalah hijab untuk wanita.”

Annisa: “Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.”

Istri Tetanggaku: “Jilbab hanyalah kain. Namun hakikat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.”

Annisa: “Apa itu hakikat jilbab?”

Istri Tetanggaku: “Hakikat jilbab adalah hijab lahir batin.

  • Hijab matamu dari memandang lelaki yang bukan mahrammu.
  • Hijab lidahmu dari berghibah (gosip) dan kesia-siaan. Usahakan selalu berzikir kepada Allah.
  • Hijab telingamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat, baik untuk dirimu maupun masyarakat.
  • Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk.
  • Hijab tangan-tanganmu dari berbuat yang tidak senonoh.
  • Hijab kakimu dari melangkah menuju maksiat.
  • Hijab pikiranmu dari berpikir yang mengundang setan untuk memerdayai nafsmu.
  • Hijab hatimu dari sesuatu selain Allah.

Bila kamu sudah bisa maka jilbab, yang kamu pakai akan menyinari hatimu, itulah hakikat jilbab.”

Annisa: “Ibu, sekarang jadi jelas buatku, arti jilbab. Mudah mudahan aku bisa pakai jilbab. Namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya?”

Istri Tetanggaku: “Duhai Anisa. Bila kamu memakai jilbab, itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah Yang Maha Pemberi Rahmat, Yang Maha Penyayang. Bila kamu mensyukuri rahmat itu, kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab, hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah.

  • Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari, di mana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya.
  • Ketika ditiup Sangkakala yang kedua kali, pada saat ruh-ruh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.
  • Ketika matahari didekatkan di atas kepala kita, namun keadaan gelap gulita.
  • Ketika seluruh Nabi ketakutan.
  • Ketika ibu tidak memerdulikan anaknya, anak tidak memerdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh. Satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini.
  • Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang, dan masing-masing hanya memerdulikan nasib dirinya. Dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa, hingga menenggelamkan dirinya. Dan rupa bentuk manusia bermacam-macam, tergantung dari amalannya. Ada yang melihat ketika hidupnya, namun buta ketika dibangkitkan. Ada yang berbentuk seperti hewan. Ada yang berbentuk seperti setan. Semuanya menangis. Menangis, karena hari itu Allah murka. Belum pernah Allah murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah  di Padang Mahsyar yang panas membara, hingga Timbangan Mizan digelar. Itulah hari Yaumul Hisab.

Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab, bila kita disidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!”

Sampai di sini aku baca buku catatan hariannya. Kulihat banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan kecil di bawahnya: Buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain mahramnya. Wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah ta’ala. Wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, gosip dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia. Tak tahan air mata ini pun jatuh membasahi buku catatan harian itu.

Itulah yang dapat saya baca dari buku catatan hariannya. Semoga Allah menerima adikku di sisi-Nya. Aamiin.

Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudaraku, adik-adikku dan anak-anakku yang semoga dimuliakan Allah, khususnya kaum hawa.

Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita, bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap di hati yang membacanya, dan semoga Allah ta’ala senantiasa memberi petunjuk, memberi rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

Semoga Allah  senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat di dunia sampai di Akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafaat di hari Yaumul Hisab dan mendapat Surga yang tinggi. Aamiin.

Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

 

Sumber: FB Maktabah Ilmu (dengan sedikit perbaikan kata)

http://enkripsi.wordpress.com/2010/11/24/hakikat-jilbab/

https://aslibumiayu.net/2949-hakikat-jilbab-sebuah-kisah-yang-wajib-kamu-baca.html

, ,

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MenuntutIlmuSyari

MENUNTUT ILMU BAGIAN DARI JIHAD

Jihad ternyata bukan hanya dengan berperang mengangkat senjata. Menuntut ilmu agama bisa pula disebut jihad. Bahkan sebagian ulama berkata: bahwa jihad dengan ilmu ini lebih utama daripada dengan senjata. Karena setiap jihad mesti pula didahului dengan ilmu.

Perkataan Ulama: Menuntut Ilmu Bagian dari Jihad

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah, karena agama ini bisa terjaga dengan dua hal, yaitu dengan ilmu dan berperang (berjihad) dengan senjata.

Sampai-sampai sebagian ulama berkata: “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”

Karena menjaga syariat adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang), menawan tahanan, melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar segalanya”. [Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108]

Di halaman yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, bahwa ilmu yang dipuji di sini adalah ilmu agama yang memelajari Alqurandan As Sunnah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya: “Apakah afdhol saat ini untuk berjihad di jalan Allah, ataukah menuntut ilmu (agama), sehingga dapat bermanfaat pada orang banyak, dan dapat menghilangkan kebodohan mereka? Apa hukum jihad bagi orang yang tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya, namun ia masih tetap pergi berjihad?”

Jawab beliau:

“Perlu diketahui, bahwa menunut ilmu adalah bagian dari jihad. Menuntut ilmu dan memelajari Islam dihukumi wajib. Jika ada perintah untuk berjihad di jalan Allah dan jihad tersebut merupakan semulia-mulianya amalan, namun tetap menuntut ilmu harus ada. Bahkan menuntut ilmu lebih didahulukan daripada jihad. Karena menuntut ilmu itu wajib. Sedangkan jihad bisa jadi dianjurkan, bisa pula fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian sudah melaksanakannya, maka yang lain gugur kewajibannya. Akan tetapi menuntut ilmu adalah suatu keharusan. Jika Allah mudahkan bagi dia untuk berjihad, maka tidaklah masalah. Boleh ia ikut serta, asal dengan izin kedua orang tuanya. Adapun jihad yang wajib saat kaum Muslimin diserang oleh musuh, maka wajib setiap Muslim di negeri tersebut untuk berjihad. Mereka hendaknya menghalangi serangan musuh tersebut. Termasuk pula kaum wanita hendaklah menghalanginya sesuai kemampuan mereka. Adapun jihad untuk menyerang musuh di negeri mereka, jihad seperti ini dihukumi fardhu kifayah bagi setiap pria.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 24: 74)

Dalil Pendukung

Adapun dalil yang mendukung bahwa menuntut ilmu termasuk jihad adalah firman Allah ta’ala:

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51) فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52)

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri, seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar” [QS. Al Furqon: 51-52].

Ibnul Qayyim berkata dalam Zaadul Ma’ad:

“Surat ini adalah Makkiyyah (turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah, -pen). Di dalam ayat ini berisi perintah berjihad melawan orang kafir dengan hujjah dan bayan (dengan memberi penjelasan atau ilmu, karena saat itu kaum Muslimin belum punya kekuatan berjihad dengan senjata, -pen). … Bahkan berjihad melawan orang munafik itu lebih berat dibanding berjihad melawan orang kafir. Jihad dengan ilmu inilah jihadnya orang-orang yang khusus dari umat ini, yang menjadi pewaris para Rasul.”

Dalam hadis juga menyebutkan, bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Siapa yang mendatangi masjidku (Masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik, yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang menilik-nilik barang lainnya.” [HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, Shahih kata Syaikh Al Albani]

Semoga kita terus semangat berjihad dengan ilmu. Moga Allah beri petunjuk.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/3383-menuntut-ilmu-bagian-dari-jihad.html

,

MUSIBAH BESAR YANG TAK DISADARI

MUSIBAH BESAR YANG TAK DISADARI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#NasihatUlama
#MenuntutIlmuSyari

MUSIBAH BESAR YANG TAK DISADARI

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata:

ولَا رَيب أن حِرمان العِلم النّـافع مِـن أَعظم المَصَـائب

“Tidak diragukan lagi, bahwasanya terhalanginya seseorang dari mendapatkan ilmu yang bermanfaat itu, termasuk musibah yang sangat besar.” [Majmu’ fatawa 6/312]

Sumber:
Instagram: Instagram.com/ShahihFiqih

,

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  

#DakwahTauhid

#MuslimahSholihah

RITUAL MENGUBUR ARI-ARI BAYI

Pertanyaan:

Bagaimana tuntunan Nabi ﷺ tentang tata cara penguburan plasenta bayi yang baru lahir (ari-ari: bahasa Jawa)? Karena di daerah saya, plasenta dikubur, kemudian di atasnya dinyalakan lampu. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa beliau mengatakan:

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia: Rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.” [Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan:

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi), bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya, sebagaimana kebiasaan Ahli Hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi beliau hanya mengatakan: “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagaimana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silakan dirujuk. [Faidhul Qadir, 5:198]

Karena itu para ulama menilai, hadis ini sebagai hadis DHAIF, sehingga TIDAK bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan:

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” [Syu’abul Iman, no. 6488].

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini DHAIF. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan SEMUANYA DHAIF.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan: “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat tidak mengapa.” [Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19]

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan, agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Di samping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan: “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan, sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali BUKANLAH menganjurkan kita untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali TIDAK menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat DILARANG syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, dikubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab, agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan SYIRIK KECIL.

Selanjutnya, berikut ini adalah hal penting yang perlu kita perhatikan, terkait masalah semacam ini:

Pertama: Ada sebuah kaidah dalam ilmu akidah yang disebutkan oleh para ulama. Kaidah itu menyatakan: “Menjadikan sesuatu sebagai sebab, dan (pada hakikatnya) itu bukan sebab, adalah sebuah syirik kecil.”

Kedua: “Sebab” itu ada dua macam:

Sebab syari, yaitu ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab, berdasarkan dalil dari Alquran dan sunah, baik terbukti secara penelitian ilmiah maupun tidak. Contoh: Ruqyah (pengobatan dengan membaca Alquran), bisa digunakan untuk mengobati orang yang sakit atau kesurupan jin, sebagaimana disebutkan dalam beberapa dalil. Dengan demikian, meyakini ruqyah sebagai sebab agar seseorang mendapat kesembuhan adalah keyakinan yang diperbolehkan, meskipun hal tersebut belum terbukti secara ilmiah.

Sebab kauni (Sunnatullah), adalah ketetapan, bahwa sesuatu merupakan sebab yang diterima berdasarkan hasil penelitian ilmiah, yang memiliki hubungan sebab-akibat. Dan bukan semata klaim ilmiaah, dalam arti mengilmiahkan yang bukan ilmiah. Misalnya: Paracetamol menjadi sebab untuk menurunkan demam.

Ketiga: Bahwa semua sebab itu telah ditentukan oleh Allah, baik secara syari maupun kauni, dan tidak ada sebab lain, selain dua hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal tidak ada dalilnya ATAU tidak terbukti secara penelitian ilmiah. Bahkan, ini termasuk SYIRIK KECIL.

Jika kita menimbang keterangan di atas, kita sangat yakin, TIDAK ADA hubungan sama sekali, antara lampu yang dinyalakan di atas ‘makam’ ari-ari, dengan jalan terang yang akan diperoleh si anak ketika hidupnya. Demikian pula kita sangat yakin, tidak ada hubungan antara mengubur pensil dengan kondisi, bahwa bayi ini akan menjadi anak yang pintar menulis, dst. Semua itu hanyalah karangan, tahayul, dan khurafat yang TIDAK berdasar dan TIDAK selayaknya dilakukan oleh seorang Mukmin yang berakal.

Allahu a’lam’

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Sumber: https://konsultasisyariah.com/11727-ritual-mengubur-ari-ari-bayi.html