Posts

,

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
 
Berikanlah nasihat dan pesan kebaikan kepada orang lain, walaupun Anda masih banyak kekurangan. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده

“Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi . Karena sepeninggal Nabi  tidak ada lagi yang maksum.” [Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami]

Justru dengan langkah ‘memberi nasihat’ itu, kita akan berusaha menjadi lebih baik, dan menambah rasa ‘malu’ kita untuk bermaksiat.
 
Dan pahala untuk orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain TIDAK disyaratkan harus menjadi sempurna atau harus melakukannya lebih dulu. Wallahu a’lam.
 
“SIAPAPUN yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya”, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
 
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sumber: http://bbg-alilmu.com/archives/10635

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati #bersihdaridosa, #maksum, #makshum #syaratmenasehati, #syaratmenasihati, #syarat

SYARAT MENASIHATI ORANG LAIN HARUS BERSIH DARI DOSA?

SYARAT MENASIHATI ORANG LAIN HARUS BERSIH DARI DOSA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#NasihatUlama
 
SYARAT MENASIHATI ORANG LAIN HARUS BERSIH DARI DOSA?
 
Benarkah demikian syarat menasihati orang lain atau syarat amar makruf nahi mungkar adalah harus bersih dari dosa alias maksum?
 
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:
 
فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده
 
“Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan, dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi ﷺ. Karena sepeninggal Nabi ﷺ tidak ada lagi yang maksum.”
 
Dalam bait syair disebutkan:
 
لئن لم يعظ العاصين من هو مذنب … فمن يعظ العاصين بعد محمد
 
“Jika orang yang berbuat dosa tidak boleh memberi nasihat pada yang berbuat maksiat, maka siapa lagi yang boleh memberikan nasihat setelah (Nabi) Muhammad (wafat)?”
 
Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dengan sanad yang dha’if, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ:
 
مروا بالمعروف و إن لم تعملوا به كله و انهوا عن المنكر و إن لم تتناهوا عنه كله
 
“Perintahkanlah pada yang makruf (kebaikan), walau engkau tidak mengamalkan semuanya. Laranglah dari kemungkaran, walau engkau tidak bisa jauhi semua larangan yang ada.”
 
Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-Bashri:
 
إن فلانا لا يعظ و يقول : أخاف أن أقول مالا أفعل فقال الحسن : و أينا يفعل ما يقول ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف و لم ينه عن منكر
 
“Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat dan ia mengatakan: “Aku takut berkata, sedangkan aku tidak mengamalkannya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Apa ada yang mengamalkan setiap yang ia ucapkan?” Sesungguhnya setan itu suka manusia jadi seperti itu. Akhirnya mereka enggan mengajak yang lain dalam perkara yang makruf (kebaikan), dan melarang dari kemungkaran.
 
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkhutbah pada suatu hari. Ia menasihati:
 
إني لأقول هذه المقالة و ما أعلم عند أحد من الذنوب أكثر مما أعلم عندي فاستغفر الله و أتوب إليه
 
“Sungguh aku berkata dan aku lebih tahu, bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki dosa lebih banyak dari yang aku tahu ada pada diriku. Karenanya aku memohon ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya.”
 
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah menuliskan surat berisi nasihat pada beberapa wakilnya yang ada di berbagai kota:
 
“Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya yang haram dihalalkan, sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya, jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata: Kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.” [Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43]
 
Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan, bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain, walau diri kita belum baik atau belum sempurna. Yang penting kita mau terus memerbaiki diri.
 
Tetap saja yang lebih baik adalah ilmu itu diamalkan, baru didakwahi. Allah ta’ala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [QS. Ash- Shaff: 2-3]
 
Pokoknya jangan sampai melupakan diri sendiri. Ingatlah kembali ayat:
 
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
 
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah: 44]
 
Wallahu waliyyut taufiq.
Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu, mengamalkannya dan dimudahkan pula dalam mendakwahi orang-orang terdekat kita dan masyarakat secara umum.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?

KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEPADA SIAPAKAH KITA BEROBAT?
>> Hukum Berobat Alternatif dalam Islam
 
Kesehatan adalah sebagian di antara nikmat Allah yang banyak dilupakan oleh manusia. Benarlah ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
”Ada dua nikmat yang sering kali memperdaya kebanyakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kelapangan waktu” (HR. Bukhari).
 
Dan tidaklah seseorang merasakan arti penting nikmat sehat, kecuali setelah jatuh sakit. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah ta’ala, di antara sekian banyak nikmat lainnya. Dan kewajiban kita sebagai seorang hamba adalah bersyukur kepada-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya:
”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS Al Baqarah: 152).
 
Ada beberapa kondisi ketika sebagian orang sedang diuji oleh Allah ta’ala dengan dicabutnya nikmat kesehatan ini (baca: jatuh sakit). Di antara mereka ada yang bersabar dan rida dengan ketetapan dari Allah. Mereka tetap bertawakal dengan menempuh pengobatan yang diizinkan oleh syariat, sehingga mereka pun mendulang pahala yang berlimpah dari Allah ta’ala, karena sabar dan tawakalnya kepada Allah ta’ala. Namun di antara mereka ada pula yang berputus asa dari rahmat-Nya, berburuk sangka kepada-Nya, dan menempuh jalan-jalan yang dilarang oleh syariat, demi mencari sebuah kesembuhan. Bahkan sampai menjerumuskan dirinya ke dalam kesyirikan. Yang mereka dapatkan tidak lain hanyalah penderitaan di atas penderitaan, penderitaan di dunia, setelah itu penderitaan abadi di Neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena Allah ta’ala berfirman yang artinya:
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48).
 
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya
 
Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencari kesembuhan adalah jaminan dari Allah ta’ala, bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seorang hamba pasti ada obatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut” (HR. Bukhari).
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa seluruh jenis penyakit memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau untuk meringankan penyakit tersebut. Hadis ini juga mengandung dorongan untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit badan, sebagaimana kita juga mempelajari obat untuk penyakit-penyakit hati. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita, bahwa seluruh penyakit memiliki obat, maka hendaknya kita berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktikkannya. (Lihat Bahjatul Quluubil Abraar hal. 174-175, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di)
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah ta’ala” (HR. Muslim).
 
Maksud hadis tersebut adalah, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya, dan waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah, maka dengan seizin-Nya, orang sakit tersebut akan sembuh. Dan Allah ta’ala akan mengajarkan pengobatan tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: ”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, ada juga yang tidak tahu” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).
 
Berobat = Mengambil Sebab
 
Berobat sangat erat kaitannya dengan hukum mengambil sebab. Maksud mengambil sebab adalah seseorang melakukan suatu usaha/sarana (“sebab”) untuk dapat meraih apa yang dia inginkan. Misalnya seseorang mengambil sebab berupa belajar, agar dapat meraih prestasi akademik. Demikian pula seseorang “mengambil sebab” berupa berobat, agar dapat meraih kesembuhan dari penyakitnya.
 
Di antara ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama berkaitan dengan hukum-hukum dalam mengambil sebab adalah, bahwa sebab (sarana) yang ditempuh TIDAK BOLEH menggunakan sarana yang haram, apalagi sampai menjerumuskan ke dalam kesyirikan, meskipun metode pengobatan tersebut terbukti menyembuhkan, berdasarkan pengalaman atau penelitian ilmiah. Selain itu, ketika mengambil sebab tersebut, hatinya harus senantiasa bertawakal kepada Allah ta’ala, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, demi berpengaruhnya sebab tersebut. Hatinya TIDAK bersandar kepada sebab, sehingga dirinya pun merasa aman setelah mengambil sebab tersebut. Seseorang yang berobat, setelah dia berusaha maksimal mencari pengobatan yang diizinkan oleh syariat, maka dia bersandar/bertawakal kepada Allah ta’ala, BUKAN kepada dokter yang merawatnya –betapa pun hebatnya dokter tersebut. Dan bukan pula kepada obat yang diminumnya –betapa pun berkhasiatnya obat tersebut. Hal ini karena seseorang harus memiliki keyakinan, bahwa betapa pun hebatnya sebuah sebab (obat atau semacamnya), namun hal itu tetap berada di bawah TAKDIR ALLAH TA’ALA.
 
Bentuk-Bentuk Pengobatan Alternatif yang Diharamkan
 
Di antara pengobatan alternatif yang diharamkan adalah pengobatan yang mengandung unsur kesyirikan, seperti berobat dengan menggunakan metode sihir. Sihir merupakan ungkapan tentang jimat-jimat, mantra-mantra, dan sejenisnya, yang dapat berpengaruh pada hati dan badan. Di antaranya ada yang membuat sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami dan istri. Namun pengaruh sihir tersebut tetap tergantung pada izin Allah ta’ala. Sihir ini merupakan bentuk kekufuran dan kesesatan. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!” Para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah! Apa saja itu?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ”Yaitu syirik kepada Allah, sihir, …” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Pelaku sihir memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali. Apabila dijumpai salah satu di antara tanda-tanda tersebut pada seorang ahli pengobatan, maka dapat diduga, bahwa ia melakukan praktik sihir, atau melakukan praktik yang amat dekat dengan sihir. Di antara tanda-tanda tersebut adalah:
 
1) Mengambil bekas pakaian yang dipakai oleh pasien semisal baju, tutup kepala, kaos dalam, celana dalam, dan lain-lainnya;
 
2) Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, dan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan kadang-kadang melumurkan darah binatang tersebut pada bagian anggota badan yang sakit;
 
3) Menuliskan jimat atau jampi-jampi yang tidak dapat difahami maksudnya;
 
4) Memerintahkan pasien untuk menyepi beberapa waktu di kamar yang tidak tembus cahaya matahari;
 
5) Memerintahkan pasien untuk tidak menyentuh air selama jangka waktu tertentu, dan kebanyakan selama 40 hari;
 
6) Membaca mantra-mantra yang tidak dapat difahami maknanya;
7) Kadang ia memberitahukan nama, tempat tinggal, dan semua identitas pasien serta masalah yang dihadapi pasien, tanpa pemberitahuan pasien kepadanya.
 
Demikian pula diharamkan bagi seseorang untuk berobat kepada dukun. Pada hakikatnya, dukun tidak berbeda dengan tukang sihir dari sisi, bahwa keduanya meminta BANTUAN KEPADA JIN, dan mematuhinya demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Sedangkan perbuatan meminta bantuan kepada jin sendiri termasuk SYIRIK BESAR. Karena meminta bantuan kepada jin dalam hal-hal seperti ini tidaklah mungkin, kecuali dengan mendekatkan diri kepada jin dengan suatu ibadah atau “ritual” tertentu. Seorang dukun harus mendekatkan diri kepada jin dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti menyembelih, istighatsah, kufur kepada Allah dengan menghina mushaf Alquran, mencela Allah ta’ala, atau amalan kesyirikan dan kekufuran yang semisal, agar mereka dibantu untuk diberitahu tentang perkara yang gaib. (Lihat Fathul Majiid hal. 332, Syaikh Abdurrahman bin Hasan; At-Tamhiid hal. 317, Syaikh Shalih Alu Syaikh)
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa mendatangi seorang dukun dan memercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Al-Irwa’ no. 2006).
Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata:
”Di dalam hadis tersebut terdapat dalil kafirnya dukun dan tukang sihir, karena keduanya mengaku mengetahui hal yang gaib. Padahal hal itu adalah kekafiran. Demikian pula orang-orang yang membenarkannya, meyakininya, dan rida terhadapnya” (Fathul Majiid, hal. 334).
 
Satu hal yang cukup memrihatinkan bagi kita adalah menyebarnya dukun dan tukang sihir yang berkedok sebagai tabib, yang mampu mengobati berbagai penyakit. Di antara mereka banyak juga yang berani memasang iklan di surat kabar dan mengklaim dirinya mampu mengetahui hal yang gaib. Wal ‘iyadhu billah! Di antara contoh praktik-praktik pengobatan yang mereka lakukan misalnya:
 
1. Pengobatan melalui jarak jauh, di mana keluarga pasien cukup membawa selembar foto pasien. Setelah itu, si tabib akan mengetahui bahwa ia menderita (misalnya) sakit jantung dan gagal ginjal. Oleh si tabib, penyakit itu kemudian ditransfer jarak jauh ke binatang tertentu, misalnya kambing. Hal ini jelas-jelas termasuk berobat kepada dukun, karena apakah hanya melihat foto seseorang kemudian diketahui bahwa jantungnya bengkak, ginjalnya tidak berfungsi, dan lain-lain?
 
2. Pengobatan metode lainnya, pasien hanya diminta menyebutkan nama, tanggal lahir, dan kalau perlu wetonnya. Bisa hanya dengan telepon saja. Setelah itu, si tabib akan mengatakan, bahwa pasien tersebut memiliki masalah dengan paru-paru atau jantungnya, atau masalah-masalah kesehatan lainnya.
 
3. Dukun lainnya hanya meminta pasiennya untuk mengirimkan sehelai rambutnya lewat pos. Setelah itu dia akan “menerawang gaib” untuk mendeteksi, merituali, dan memberikan sarana gaib kepada pasiennya.
 
4. Pengobatan dengan “ajian-ajian” yang dapat ditransfer jarak jauh atau dengan menggunakan “benda-benda gaib” tertentu seperti “batu gaib”, “gentong keramat” (cukup dimasukkan air ke dalam gentong, kemudian airnya diminum), dan lain sebagainya.
 
Praktik perdukunan dan sihir seolah-olah memang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula pelakunya. Orang yang mengaku sebagai dukun, paranormal, atau orang pintar juga melakukan sihir. Dan demikian pula sebaliknya. Demikianlah salah satu kerusakan yang sudah tersebar luas di Indonesia ini. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari kesyirikan.
 
Bentuk pengobatan syirik lainnya adalah berobat dengan menggunakan jimat. Termasuk kerusakan pada masa sekarang ini adalah penggunaan jimat untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu. Tidak sungkan-sungkan pula pemilik jimat tersebut akan menawarkan jimatnya tersebut di koran-koran agar menghasilkan uang. Di antaranya jimat dalam bentuk batu “mustika” atau cincin yang dapat mengeluarkan sinar tertentu, yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun bentuknya. Hal ini termasuk kesyirikan karena Rasulullah ﷺ bersabda:
”Barang siapa menggantungkan jimat (tamimah), maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 492).
 
Pengobatan dengan Sesuatu yang Haram
 
Tidak boleh pula seseorang berobat dengan menggunakan sesuatu yang haram, meskipun tidak sampai derajat syirik. Rasulullah ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram” (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633).
 
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
”Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang diharamkan-Nya” (HR. Bukhari). Hadis-hadis ini beserta dalil yang lain, semuanya tegas melarang berobat dengan sesuatu yang haram.
 
Misalnya bentuk pengobatan dengan menggunakan air kencingnya sendiri. Air seni yang diminum, terutama air seni pertama kali yang dikeluarkan pada waktu pagi hari setelah bangun tidur. Pengobatan seperti ini tidak boleh dilakukan. Karena air seni adalah najis, dan setiap barang najis pasti haram. Maka air seni termasuk ke dalam larangan ini. Begitu pula berobat dengan memakan binatang-binatang yang haram dimakan.
 
Semoga pembahasan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah ta’ala senantiasa mengaruniakan nikmat berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh kepada kita semua. Dan semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menjadi hamba-Nya yang bersih tauhidnya dan jauh dari kesyirikan.
 
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim
[Artikel www.muslim.or.id]
 
 
,

PERTIMBANGAN POKOK SEORANG WANITA MEMILIH SUAMI

PERTIMBANGAN POKOK SEORANG WANITA MEMILIH SUAMI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#MuslimahSholihah, #FatwaUlama
 
PERTIMBANGAN POKOK SEORANG WANITA MEMILIH SUAMI
 
Pertanyaan:
Apa pertimbangan pokok seorang wanita memilih suami. Apakah menolak (calon) suami yang saleh karena kepentingan dunia akan mendapatkan hukuman dari Allah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Sifat terpenting bagi seorang wanita untuk memilih pinangan adalah akhlak dan agama. Sementara harta dan keturunan adalah sekunder. Yang terpenting, orang yang meminang memiliki agama dan akhlak mulia. Karena jika orang tersebut memiliki agama dan akhlak yang baik, maka seorang wanita tidak akan disia-siakannya sedikit pun juga. Kalau dia tetap sebagai istrinya, maka dia akan diperlakukan dengan baik. Kalau pun harus bercerai, dilakukan pula dengan cara baik-baik. Kemudian orang yang punya agama dan akhlak akan mendatangkan barokah baginya dan keturunannya, di samping dia dapat belajar akhlak dan agama darinya.
 
Selain dari itu, hendaknya Anda menghindarinya. Apalagi jika orangnya meremehkan pelaksanaan shalat, atau dikenal sebagai peminum khamar, na’uzubillah. Adapun orang yang tidak pernah shalat sama sekali, mereka adalah kafir, dia tidak halal bagi wanita Muslimah, dan juga tidak untuk para wanita muslimah lainnya. Yang penting seorang wanita menfokuskan kepada akhlak dan agama. Sementara nasab (silsiah keturunan), kalau mendapatkan, maka hal itu lebih bagus. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِذَا أَتَاكُمْ مَن تَرْضَونَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ
 
“Kalau datang kepada Anda orang yang Anda ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.”
 
Kalau mendapatkan yang sekufu (sepadan), maka itu lebih baik.
 
[Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, dari kitab Fatawa Al-Mar’ah]
 
 
 
, ,

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

NASIHAT ULAMA UNTUK PALESTINA, MENJAGA AGAMA DAN AKIDAH LEBIH UTAMA DARI MENJAGA JIWA DAN TANAH

>> Benarkah Syaikh Al-Bani Fatwakan Rakyat Palestina Harus Keluar (Hijrah) dari Negaranya?

Fatwa ini sangat bikin heboh. Perhatikan ucapan sebagian mereka: “Sebagian pakar menganggap Fatwa al-Albani ini membuktikan, bahwa logika yang dipakai al-Albani adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena Fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang yang berambisi menguasai Palestina. Mereka menilai Fatwa al-Albani ini menyalahi Sunnah, dan sampai pada tingkatan pikun. Bahkan Dr. Ali al-Fuqayyir, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Yordania menilai, bahwa Fatwa ini keluar dari Setan“. [Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU.. hlm. 244].

Faidah: Para penulis buku “Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU…” dalam hujatan mereka terhadap al-Albani banyak berpedoman kepada buku “Fatawa Syaikh al-Albani wa Muqoronatuha bi Fatawa Ulama” karya Ukasyah Abdul Mannan. Padahal buku ini telah diingkari sendiri oleh Syaikh al-Albani secara keras, sebagaimana diceritakan oleh murid-murid beliau seperti Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dan Syaikh Salim al-Hilali. (Lihat Fatawa Ulama Akabir Abdul Malik al-Jazairi hlm. 106 dan Shofahat Baidho’ Min Hayati Imamil Al-Albani Syaikh Abu Asma’ hlm. 88).

Dengan demikian, jatuhlah nilai hujatan mereka terhadap al-Albani dari akarnya. Alhamdulillah.

Untuk menjawab masalah ini, maka kami akan menjelaskan duduk permasalahan Fatwa Syaikh al-Albani tentang masalah Palestina ini dalam beberapa poin berikut [Lihat As-Salafiyyun wa Qodhiyyatu Falestina hal. 14-37. Lihat pula Silsilah Ahadits ash-Shohihah no. 2857, Madha Yanqimuna Minas Syaikh, Muhammad Ibrahim Syaqroh hlm. 21-24, al-Fashlul Mubin fi Masalatil Hijrah wa Mufaroqotil Musyirikin, Husain al-Awaisyah, Majalah Al-Asholah edisi 7/Th. II, Rabiu Tsani 1414 H]:

  1. Hijrah dan jihad terus berlanjut hingga Hari Kiamat tiba.
  2. Fatwa tersebut tidak diperuntukkan kepada negeri atau bangsa tertentu.
  3. Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi yang mulia, beliau hijrah dari kota yang mulia, yaitu Mekkah.
  4. Hijrah hukumnya wajib ketika seorang Muslim tidak mendapatkan ketetapan dalam tempat tinggalnya yang penuh dengan ujian agama, dia tidak mampu untuk menampakkan hukum-hukum syari yang dibebankan Allah kepadanya, bahkan dia khawatir terhadap cobaan yang menimpa dirinya sehingga menjadikannya murtad dari agama.

>> Inilah inti Fatwa Syaikh al-Albani yang seringkali disembunyikan!!

Imam Nawawi berkata dalam Roudhatut Tholibin 10/282:

“Apabila seorang Muslim merasa lemah di Negara kafir, dia tidak mampu untuk menampakkan agama Allah, maka haram baginya untuk tinggal di tempat tersebut, dan wajib baginya untuk hijrah ke negeri Islam…”.

  1. Apabila seorang Muslim menjumpai tempat terdekat dari tempat tinggalnya untuk menjaga dirinya, agamanya dan keluarganya, maka hendaknya dia hijrah ke tempat tersebut, tanpa harus ke luar negerinya. Karena hal itu lebih mudah baginya untuk kembali ke kampung halaman bila fitnah telah selesai.
  2. Hijrah sebagaimana disyariatkan dari Negara ke Negara lainnya, demikian juga dari kota ke kota lainnya atau desa ke desa lainnya yang masih dalam negeri.

Poin ini juga banyak dilalaikan oleh para pendengki tersebut, sehingga mereka berkoar di atas mimbar dan menulis di koran-koran, bahwa Syaikh al-Albani memerintahkan penduduk Palestina untuk keluar darinya!!! Demikian, tanpa perincian dan penjelasan!!!

  1. Tujuan hijrah adalah untuk memersiapkan kekuatan untuk melawan musuh-musuh Islam, dan mengembalikan hukum Islam seperti sebelumnya.
  2. Semua ini apabila ada kemampuan. Apabila seorang Muslim tidak mendapati tanah untuk menjaga diri dan agamanya, kecuali tanah tempat tinggalnya tersebut, atau ada halangan-halangan yang menyebabkan dia tidak bisa hijrah, atau dia menimbang bahwa tempat yang akan dia hijrah ke sana sama saja, atau dia yakin bahwa keberadaannya di tempatnya lebih aman untuk agama, diri dan keluarganya, atau tidak ada tempat hijrah kecuali ke negeri kafir juga, atau keberadaannya untuk tetap di tempat tinggalnya lebih membawa maslahat yang lebih besar, baik maslahat untuk umat atau untuk mendakwahi musuh, dan dia tidak khawatir terhadap agama dan dirinya, maka dalam keadaan seperti ini hendaknya dia tetap tinggal di tempat tinggalnya. Semoga dia mendapatkan pahala hijrah. Imam Nawawi berkata dalam Roudhah 10/282: “Apabila dia tidak mampu untuk hijrah, maka dia diberi uzur sampai dia mampu“.

Demikian juga dalam kasus Palestina secara khusus, Syaikh al-Albani mengatakan: “Apakah di Palestina ada sebuah desa atau kota yang bisa dijadikan tempat untuk tinggal dan menjaga agama dan aman dari fitnah mereka?! Kalau memang ada, maka hendaknya mereka hijrah ke sana, dan tidak keluar dari Palestina. Karena hijrah dalam negeri adalah mampu dan memenuhi tujuan”.

Demikianlah perincian Syaikh al-Albani. Lantas apakah setelah itu kemudian dikatakan, bahwa beliau berfatwa untuk mengosongkan tanah Palestina atau untuk menguntungkan Yahudi?!! Diamlah wahai para pencela dan pendeki, sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kejahilan dan kezaliman kalian!!

  1. Hendaknya seorang Muslim meyakini, bahwa menjaga agama dan akidah lebih utama daripada menjaga jiwa dan tanah.
  2. Anggaplah Syaikh al-Albani keliru dalam Fatwa ini. Apakah kemudian harus dicaci maki dan divonis dengan sembrangan kata?!! Bukankah beliau telah berijtihad dengan ilmu, hujjah dan kaidah?!! Bukankah seorang ulama apabila berijtihad, dia dapat dua pahala dan satu pahala bila dia salah?! Lantas, seperti inikah balasan yang beliau terima?!!
  3. Syaikh Zuhair Syawisy mengatakan dalam tulisannya yang dimuat dalam Majalah Al Furqon, edisi 115, hlm. 19, bahwa Syaikh al-Albani telah bersiap-siap untuk melawan Yahudi. Hampir saja beliau sampai ke Palestina, tetapi ada larangan pemerintah untuk para mujahidin”.

Syaikh al-Albani sampai ke Palestina pada 1948 dan beliau shalat di Masjidil Aqsho dan kembali sebagai pembimbing pasukan Saudi yang tersesat di jalan. Lihat kisah selengkapnya dalam bukunya berjudul “Rihlatii Ila Nejed”. (perjalananku ke Nejed).

 

Sumber: http://abiubaidah.com/al-albani-dihujat.html/

,

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

SYARAT WAJIB DAN CARA MENGELUARKAN ZAKAT MAAL

Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  • Islam
  • Merdeka
  • Berakal dan baligh
  • Memiliki nishab

Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. Jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah:

“Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir.” [QS.. Al Baqarah: 219]

Makna Al Afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh karena itu, Islam menetapkan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

  1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul), terhitung dari hari kepemilikan nishab, dengan dalil hadis Rasulullah ﷺ.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani]

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang Muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat, karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya

  1. Nishab Emas

Nishab emas sebanyak 20 Dinar. Dinar yang dimaksud adalah Dinar Islam.

  • 1 Dinar = 4,25 gr emas
  • Jadi, 20 Dinar = 85gr emas murni.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatu pun, yaitu dalam emas, sampai memiliki 20 Dinar. Jika telah memiliki 20 Dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ Dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi]

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:

Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

  1. Nishab Perak

Nishab perak adalah 200 Dirham, setara dengan 595 gr perak, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

  1. Nishab Binatang Ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” [HR. Bukhari]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

a. Unta

Nishab unta adalah 5 ekor.

Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak unta, maka nishab unta tidak kami jabarkan secara rinci -red.

b. Sapi

Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah sapi yang dimiliki: 30-39 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 40-59 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor musinah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 60 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 70 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 80 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor musinnah
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 90 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 3 ekor tabi’
 
Jumlah sapi yang dimiliki: 100 ekor
Jumlah sapi yang dikeluarkan: 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:

Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.

Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.

Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

c. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Jumlah Kambing: 40 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 1 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 120 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 2 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: 201 – 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: 3 ekor kambing
 
Jumlah Kambing: > 300 ekor
Jumlah yang dikeluarkan: setiap 100 ekor kambing adalah 1 ekor kambing
  1. Nishab hasil pertanian

Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyariatkan dalam Islam dengan dasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [QS.. Al-An’am: 141]

Adapun nishabnya ialah 5 Wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 Wasaq.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Satu Wasaq setara dengan 60 sha’ [menurut kesepakatan ulama, silakan lihat penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364]. Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian menurut takaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau menggunakan alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan jika pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” [HR. Muslim 2/673]

Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) adalah 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg

  1. Nishab Barang Dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan tiga syarat lainnya:

  • 1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  • 2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  • 3) Nilainya telah sampai nishab.

Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong utang.

Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki utang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Utang:

  • Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000
  • Jadi jumlah harta zakat adalah:
  • Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000
  • Zakat yang harus dibayarkan:
  • Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000
  1. Nishab Harta Karun

Harta karun yang ditemukan wajib dizakati secara langsung, tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah ﷺ:

“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” [HR. Muttafaqun alaihi]

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun, ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata: “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, adalah disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut.” [Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468]. Inilah pendapat yang rajih (paling kuat -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada Muharram 1423 H, lalu Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, lalu dikeluarkannya zakatnya. Demikian tulisan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.

 

***

Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Dipublikasikan ulang oleh www.Muslim.or.id

Sumber: https://Muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html

 

,

PANDUAN SINGKAT ZAKAT MAAL DAN ZAKAT FITRAH

PANDUAN SINGKAT ZAKAT MAAL DAN ZAKAT FITRAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PANDUAN SINGKAT ZAKAT MAAL DAN ZAKAT FITRAH

Zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima, merupakan kewajiban yang sudah ditetapkan bagi yang sudah terpenuhi syarat-syaratnya. Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” [QS. Al-Baqarah: 43]

Juga dalam ayat:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. At-Taubah: 103]

Orang yang enggan menunaikan zakat dalam keadaan meyakini wajibnya, ia adalah orang fasik dan akan mendapatkan siksa yang pedih di Akhirat. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” [QS. At Taubah: 34-35]

Perintah menunaikan zakat dalam hadits disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ pernah mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman. Rasulullah ﷺ bersabda:

ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Ajaklah mereka untuk bersaksi, bahwa tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka menaati itu, beritahukanlah pada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaati itu, beritahukanlah pada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang wajib dari harta mereka, diambil dari orang kaya di antara mereka, dan disalurkan pada orang miskin di tengah-tengah mereka.” [HR. Bukhari, no. 1395 dan Muslim, no. 19]

Syarat Bayar Zakat

Yang wajib mengeluarkan zakat adalah yang Islam dan merdeka. Tidak dipersyaratkan harus baligh dan berakal. Karena orang gila dan anak kecil, jika memang memiliki harta yang sudah memenuhi syarat, juga tetap dikeluarkan zakatnya.

Berkaitan dengan harta yang dikeluarkan, SYARAT yang harus dipenuhi adalah:

  • Harta tersebut dimiliki secara sempurna,
  • Harta tersebut adalah harta yang berkembang,
  • Harta tersebut telah mencapai nishab (batas minimal pengeluaran harta selama setahun jumlah harta benda minimum yg dikenakan zakat)
  • Harta tersebut telah mencapai haul (harta tersebut bertahan selama setahun),
  • Harta tersebut merupakan kelebihan dari kebutuhan pokok.

Beberapa harta yang para ulama sepakat wajib dikenai zakat adalah:

  • Atsman (emas, perak dan mata uang).
  • Hewan ternak (unta, sapi, dan kambing).
  • Pertanian dan buah-buahan (gandum, kurma, dan anggur).

Daftar Ketentuan Zakat Maal

>> Emas
Nishab: 20 Dinar (85 gram emas murni 24 karat)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Perak
Nishab: 200 Dirham (595 gram perak murni)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Mata uang (zakat penghasilan dan zakat simpanan)
Nishab: Jika sudah mencapai nishab perak atau emas (nishab perak yang paling rendah, sekitar Rp 6 juta)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Hewan ternak (unta, sapi, kambing)
Nishab: Unta 5 ekor, Sapi 30 ekor, Kambing 40 ekor
Besar Zakat: ada ketentuannya
 
>> Hasil pertanian
Nishab: 5 wasaq (720 kg)
Besar Zakat: 10% dengan pengairan gratis, 5% dengan pengairan membutuhkan biaya
 
>> Barang dagangan
Nishab: Jika sudah mencapai nishab perak atau emas (nishab perak yang paling rendah, sekitar Rp 6 juta)
Besar Zakat: 2,5%
 
>> Harta karun (Rikaz)
Nishab: Tidak dipersyaratkan nishab dan haul dalam zakat rikaz. Sudah ada kewajiban zakat ketika harta tersebut ditemukan.
Besar Zakat: 20%

Keterangan:

  • Semua harta zakat di atas memerhatikan haul (bertahan satu tahun Hijriyah), kecuali zakat hasil pertanian dikeluarkan setiap kali panen.
  • Zakat perhiasan emas dan perak terkena zakat, dan mesti dikeluarkan setiap tahunnya, kalau terus berada di atas nishab.
  • Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat, bahwa zakat hasil pertanian itu ada pada tanaman yang merupakan kebutuhan pokok dan dapat disimpan.
  • Pada zakat barang dagangan, barang tersebut bukan termasuk harta yang asalnya wajib dizakati, seperti hewan ternak, emas, dan perak.
  • Perhitungan zakat barang dagangan = nilai barang dagangan + uang dagang yang ada + piutang yang diharapkan – utang yang jatuh tempo.
  • Harta rikaz berarti harta zaman jahiliyah berasal dari non-Muslim yang terpendam, yang diambil dengan tidak disengaja, tanpa bersusah diri untuk menggali, baik yang terpendam berupa emas, perak atau harta lainnya.

Ketentuan untuk Zakat Fitrah

Zakat Fithri atau zakat Fitrah adalah sedekah yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim pada hari berbuka (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadan.

”Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat Fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum, bagi setiap Muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan, sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘Ied.” [HR. Bukhari, no. 1503 dan Muslim, no. 984]

Zakat Fitrah wajib ditunaikan oleh:

(1) Setiap Muslim,

(2) Yang mampu mengeluarkan zakat Fitrah. Batasan mampu di sini adalah memunyai kelebihan makanan bagi dirinya, dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ‘Ied.

Kepala keluarga wajib membayar zakat Fitrah orang yang ia tanggung nafkahnya. Menurut Imam Malik, ulama Syafi’iyah dan Mayoritas Ulama, suami bertanggung jawab terhadap zakat Fithri si istri, karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.

Seseorang mulai terkena kewajiban membayar zakat Fitrah, jika ia bertemu terbenamnya matahari di malam hari raya Idul Fitri.

Bentuk zakat Fitrah adalah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya. Para ulama sepakat, bahwa kadar wajib zakat Fithri adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat Fitrah, kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis), sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’.

Satu sho’ dari semua jenis ini adalah seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang . Ukuran satu sho’, jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg. Ulama lainnya mengatakan, bahwa satu sho’ kira-kira 2,157 kg. Artinya jika zakat Fithri dikeluarkan 2,5 kg seperti kebiasan di negeri kita, sudah dianggap sah.

Zakat Fitrah dengan UANG TIDAKLAH SAH. Abu Daud, murid Imam Ahmad menceritakan: “Imam Ahmad pernah ditanya dan aku pun menyimaknya. Beliau ditanya oleh seseorang, “Bolehkah aku menyerahkan beberapa uang Dirham untuk zakat Fitrah?” Jawaban Imam Ahmad: “Aku khawatir seperti itu tidak sah. Mengeluarkan zakat Fitrah dengan uang berarti menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ.” [Al-Mughni, 4: 295]

Waktu pembayaran zakat Fitrah ada dua macam:

  • (1) Waktu afdhol, yaitu mulai dari terbit fajar pada hari ‘idul Fitri, hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ‘Ied;
  • (2) Waktu yang dibolehkan, yaitu satu atau dua hari sebelum ‘Ied, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Ibnu ‘Umar.

Delapan Golongan Penerima Zakat

Golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) ada delapan golongan, sebagaimana telah ditegaskan dalam ayat berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk

  • [1] Orang-orang fakir,
  • [2] Orang -orang miskin,
  • [3] Amil zakat,
  • [4] Para mu’allaf yang dibujuk hatinya,
  • [5] Untuk (memerdekakan) budak,
  • [6] Orang -orang yang terlilit utang,
  • [7] Untuk jalan Allah dan
  • [8] Untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [QS. At Taubah: 60]

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “Innama” yang memberi makna hashr (pembatasan). Ini menunjukkan, bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, TIDAK untuk yang lainnya.

Semoga sajian singkat ini bermanfaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

[Artikel Rumaysho.Com]

Sumber: https://rumaysho.com/15929-panduan-singkat-zakat-maal-dan-zakat-Fitrah.html

 

Catatan Tambahan:

Makna NISHAB di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syari (agama), untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya. jika telah sampai ukuran tersebut, orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat (Lihat:  https://muslim.or.id/367-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html)

Makna HAUL adalah kepemilikan harta yang sudah melewati masa satu tahun kalender Hijriyah.

 

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

TIGA SYARAT AGAR AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH

Pertanyaan:

Apa saja syarat-syarat diterimanya amalan?

Jawaban:

Syaikh Muhammad Jamil Zainu rahimahullahu ta’ala menjawab:

Syarat-syarat diterimanya di sisi Allah ada tiga:

  • Pertama, beriman dan bertauhid kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, untuk merekalah surga-surga Firdaus.” [QS. Al Kahfi: 107]

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamah-lah.” [HR. Muslim]

  •  Kedua, ikhlas. Yaitu, beramal untuk Allah tanpa riya’ [1] dan sum’ah[2]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

“Maka, ibadahilah Allah dengan ikhlas untuk-Nya dalam [menjalankan] agama.” [QS. Az Zumar: 2]

  • Ketiga, sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah ﷺ. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa-apa yang datang kepada kalian dari Rasulullah, maka ambillah. Dan apa-apa yang beliau larang darinya untuk kalian, maka jauhilah.” [QS. Al Hasyr: 7]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَادٌّ

“Siapa saja yang mengerjakan amalan yang tidak kami contohkan, maka amalannya tertolak.” [HR. Muslim]

 

RUJUKAN: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. Hudz ‘Aqidatak min Al Kitab wa As Sunnah Ash Shahihah. TTp: TP. TTh, halaman 9.

Catatan Kaki

  • [1] Beramal agar dilihat orang [penerj.]
  • [2] Beramal agar orang-orang membicarakannya [penerj.]

 

Sumber: http://dakwahislam.net/tiga-syarat-agar-amal-ibadah-diterima-allah/

, ,

MENGUSAP KEDUA KHUF

MENGUSAP KEDUA KHUF

بسم الله الرحمن الرحيم

#SifatWudhuNabi
#DakwahSunnah
MENGUSAP KEDUA KHUF

Matan Kitab: Mengusap Kedua Khuf

(فصل) والمسح على الخفين جائز بثلاث شرائط أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما ويمسح المقيم يوما وليلة والمسافر ثلاثة أيام بلياليهن وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين فإن مسح في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام أتم مسح مقيم.ويبطل المسح بثلاثة أشياء بخلعهما وانقضاء المدة وما يوجب الغسل.

Mengusap khuf (kaus kaki khusus) itu boleh dengan 3 (tiga) syarat:

  • Memakai khuf setelah suci dari hadats kecil dan hadats besar.
  • Khuf (kaus kaki) menutupi mata kaki.
  • Dapat dipakai untuk berjalan.

Orang mukim dapat memakai khuf selama satu hari satu malam (24 jam). Sedangkan musafir selama 3 (tiga) hari 3 malam.

Waktunya dihitung mulai dari saat hadats (kecil) setelah memakai khuf. Apabila memakai khuf di rumah kemudian bepergian, atau mengusap khuf di perjalanan kemudian mukim, maka dianggap mengusap khuf untuk mukim.

Mengusap khuf batal oleh 3 (tiga) hal:

  • Melepasnya,
  • Habisnya masa,
  • Hadats besar.

[Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’]

Apa yang Dimaksud dengan Al-Khuf?

Al-khuf adalah bentuknya seperti kaus kaki namun dia terbuat dari kulit yang tebal dan berfungsi sebagai penutup dan pelindung kaki. Dan terkadang sampai pertengahan betis ataupun di bawah itu.

Dan yang semakna dengan khuf tadi adalah Al-Jawrab (kaus kaki) yang terbuat dari kain katun atau kaus atau semisalnya. Dan juga termasuk makna dari khuf adalah sepatu.

Hukum Mengusap Khuf Atau yang Semakna Dengannya

قال المصنف:

((والمسح على الخفين جائز))

((Dan mengusap kedua khuf (atau yang semakna) adalah boleh))

Mengusap kedua khuf ini adalah sebagai ganti dari mencuci kaki tatkala seseorang berwudhu’. Dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’iyyah, para ulama madzhab, dan juga keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahkan dikatakan ini adalah ijma’.

Yang menyelisihi pendapat ini adalah kelompok yang sesat yang menyimpang dari agama, yaitu kelompok Syi’ah dan kelompok Khawarij, yang menyatakan bahwa mengusap khuf atau yang sejenisnya adalah mutlak dilarang.

Pendapat mereka ini bertentangan dengan petunjuk Nabi ﷺ, di antaranya dalam hadis Jabir radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau menceritakan:

أنَّه رأى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ يَمسحُ على الخُفَّينِ

“Bahwasanya beliau melihat Nabi ﷺ mengusap kedua khufnya.” [HR. Muslim]

Begitu pula hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

لَوْ كان الدِّينُ بالرأي لكان أسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهِ…

“Seandainya agama ini adalah dengan akal saja, maka bagian bawah dari khuf (sepatu) itu lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya…”

Kenapa? Karena bagian bawahlah bagian yang kotor, kenapa yang diusap bagian atasnya? Akan tetapi agama ini adalah dengan dalil dari Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, kata ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu:

… وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“…Dan sungguh saya melihat Rasulullah ﷺ, beliau mengusap bagian atas dari kedua khufnya.” [HR. Abu Dawud dan Daruquthni dan sanadnya dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Syarat Diperbolehkannya Seseorang Untuk Mengusap Kedua Khufnya

قال المصنف:

((بثلاث شروط))

((Dengan memenuhi tiga syarat))

Di sini Penulis menyebutkan tiga syarat dan di sana ada syarat-syarat yang lainnya, di antaranya bahwasanya:

✓Khuf/kaus kaki/sepatu yang digunakan itu terbuat dari bahan yang suci.

Kita akan sebutkan syarat yang disebutkan oleh Mushannif.

  • Syarat (1)

((أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة))

((Memakai dua khuf, setelah sempurna dari thaharah/berwudhu’))

Seseorang, setelah selesai berwudhu’ kemudian memakai khufnya, maka dia diperbolehkan untuk mengusap khufnya, apabila nanti batal kemudian berwudhu’, karena dia memakai khufnya dalam keadaan suci. Dan ini sebagaimana yang disebutkan hadis Mughīrah bin Syu’bah, beliau mengatakan:

سكبت لرسول الله صلى الله عليه وسلم الوضوء فلما انتهيت إلى الخفين أهويت لأنزعهما فقال دعهما فإني أدخلتهما طاهرتان فمسح عليهما

“Saya menuangkan air dari bejana kepada Rasulullah ﷺ untuk berwudhu’.

Manakala sampai pada bagian kedua khufnya, saya pun membungkuk hendak melepaskan keduanya.

Maka beliau ﷺ pun bersabda: “Tinggalkanlah keduanya (maksudnya jangan dilepas), karena saya memasukkan kedua kaki tersebut dalam keadaan suci.” [HR. Al-Khamsah]

  • Syarat (2)

((وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين))

((Dan harus menutup bagian kaki yang wajib dicuci))

⇒ Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan kesepakatan aimmah madzhab, bahwasanya khuf (atau yang semakna) yang dipakai, maka dia harus menutupi sampai mata kaki, karena bagian yang wajib dicuci adalah sampai mata kaki.

Dan pendapat yang kedua mengatakan bahwasanya:

◆ Tidak harus sampai menutupi mata kaki, seperti sepatu yang dipakai tidak sampai menutupi mata kaki, minimal adalah sebagian besar menutupi kakinya.

⇒ Ini adalah pendapat Ibnu Hazm yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah.

  • Syarat (3)

((وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما))

((Kedua khuf ini bisa dipakai berjalan di atasnya))

Yaitu dibuat dari bahan yang bisa dipakai untuk berjalan di atasnya seperti kulit, kain yang kuat atau yang semisalnya.

Apabila dibuat dari bahan yang akan tercabik-cabik (robek) tatkala diusap, maka tidak diperkenankan untuk mengusap khuf tadi.

Waktu yang Diperbolehkan Untuk Mengusap Khuf (Atau yang Semakna dengan Khuf)

قال المصنف:

((و يمسح المقيم يوما و ليلة و المسافر ثلاثة أيام بلياليهن))

((Orang yang mukim/tinggal/menetap, dia diberi rukshah untuk mengusap selama satu hari satu malam. Sedangkan untuk musafir/orang yang bepergian dia diberi rukshah selama tiga hari tiga malam))

Ini pendapat Syafi’iyyah dan Jumhur Mayoritas Ulama, kecuali Malikiyyah. Dalil Jumhur, bahwasanya di sana ada hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

جَعَلَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Rasulullah ﷺ menetapkan waktu untuk mengusap bagi orang-orang yang safar (orang yang bepergian/musafir) selama tiga hari tiga malam. Dan untuk orang-orang yang tinggal (menetap), diberi rukshah satu hari satu malam.” [HR. Muslim]

Kapan Mulai Dihitung Waktu Untuk Mengusap Khuf Tersebut?

قال المصنف:

((وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين))

((Waktu untuk mengusap mulai terhitung, yaitu pada saat hadats yang pertama kali setelah menggunakan kedua khuf tadi))

Jadi misalnya, seseorang berwudhu’ dan memakai khuf/kaus kaki/sepatu pada jam 1 siang setelah Zuhur, kemudian dia berhadats pada jam 4 sore maka waktu rukshah terhitung dari jam 4 sore tadi.

Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Hanafiyyah dan riwayat yang masuk dari Hanabilah.

◆ Dan di sana ada pendapat kedua yang merupakan pendapat yang rajih dan kuat, adalah terhitung sejak awal bersuci setelah hadats yang pertama.

Misal contoh di atas (contoh sebelumnya).

  • Dia batal pada jam 4 sore.

⇒ Ini adalah hadats yang pertama setelah memakai khufnya

  • Kemudian bersuci jam 6 sore.

⇒ Ini adalah dia berwudhu’ yang pertama kali. Maka yang terhitung adalah yang jam 6 sore.

Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Imam Nawawi Asy-Syafi’i, Syaikh Bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin. Dalilnya adalah suatu riwayat dari Abi ‘Utsman An-Nahdiy, beliau mengatakan:

حَضَرْتُ سَعْدًا , وَابْنَ عُمَرَ , يَخْتَصِمَانِ إِلَى عُمَرَ فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ ، فَقَالَ عُمَرُ: يَمْسَحُ فَقَالَ عُمَرُ: ” يَمْسَحُ عَلَيْهِمَا إِلَى مِثْلِ سَاعَتِهِ مِنْ يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ”

“Saya menghadiri tatkala Sa’dan dan Ibnu ‘Umar berselisih pada masalah mengusap kedua khuf (dan dan bertahqin kepada ‘Umar).

Maka ‘Umar pun mengatakan: “Hendaknya dia mengusap keduanya dihitung sehari semalam seperti waktu dia mengusapnya.” [HR. ‘Abdurazzaq dalam Mushannaf dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Kemudian Penulis mengatakan:

((فإن مسح في الحضر ثم سافر، أو مسح في السفر ثم أقام، أتم مسح مقيم))

((Didalam Madzhab Syafi’i, di dalam dua keadaan:

  • (1) Jika dia mengusap pada saat mukim/tinggal kemudian safar/bepergian, atau
  • (2) Mengusap pada saat safar, kemudian dia mukim/tinggal))

Maka (kata beliau), yang berlaku adalah rukshah mengusap bagi orang yang mukim, atau hanya satu hari satu malam saja. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah di dalam dua keadaan. Namun untuk keadaan yang pertama, yang rajih dan dipilih oleh Syaikh ‘Utsaimin adalah:

◆ Tetap berlaku rukshah mengusap untuk musafir, karena predikat yang melekat pada dia adalah predikat seorang musafir. Maka berlaku pada dia adalah semua yang berlaku pada orang-orang yang safar.

Pembatal-Pembatal dari Rukshah untuk Mengusap Dua Khuf

((و يبطل المسح بثلاثة أشياء))

((Dan hukum mengusap kedua khuf ini batal dengan tiga macam hal))

  • Pembatal (1)

((بخلعهما))

((Dengan melepas dua khuf/kaus kaki/sepatunya))

Maka secara otomatis rukshah untuk mengusap dua khuf tadi adalah batal.

  • Pembatal (2)

((وانقضاء المدة))

((Waktunya sudah habis))

⇒ Untuk yang mukim satu hari satu malam.

⇒ Untuk yang musafir tiga hari tiga malam.

  • Pembatal (3)

((وما يوجب الغسل))

((Dan hal-hal yang mewajibkan untuk mandi))

Jika terdapat halangan ini, maka dia batal rukshah untuk mengusap kedua khufnya. Berdasarkan sebuah hadis:

كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا إذَا كُنّا مُسَافِرِيْنَ أَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافنَا وَلَا نَنْزِعَهَا ثَلاثةَ أَيّامٍ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ إِلِّا مِنْ جَنَابَةِ (رواه النساعي و ترمذي بسند صحيح)

“Bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kami, apabila kami dalam keadaan safar (bepergian) untuk mengusap khuf-khuf kami dan tidak melepasnya selama tiga hari walaupun buang air besar, buang air kecil, maupun dari tidur, kecuali apabila junub*.” [HR. Nasa’i, Tirmidzi dengan sanad yang shahīh]

*Apabila junub maka seseorang melepaskannya dan kemudian dia bersuci.

Demikian yang bisa kita sampaikan.

 

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

وآخر دعونا عن الحمد لله رب العلمين

______________________________

Catatan Tambahan Diambil dari Website islamqa.info:

Adapun cara mengusapnya adalah letakkan tangan yang sudah dibasahi air di atas jari jemari kaki, kemudian diusap ke arah (pangkal) betis (mulai dari ujung jari kaki ke arah pangkal betis – pent). Kaki kanan diusap oleh tangan kanan, dan kaki kiri diusap oleh tangan kiri. Jari tangan direnggangkan, dan mengusap dilakukan hanya sekali. [Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, oleh Al-Fauzan, 1/43].

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Maksudnya adalah, bahwa yang diusap adalah bagian atas khuf. Maka tangannya dijalankan dari jari kaki hingga pangkal betis saja. Dan mengusap dilakukan dengan kedua tangan sekaligus. Maksudnya, tangan kanan mengusap kaki kanan, dan tangan kiri mengusap kaki kiri PADA SAAT YANG BERSAMAAN, sebagaimana halnya mengusap kedua telinga. Karena itulah yang tampak dari perkataan Mughirah bin Syu’bah radhiallahu anhu, ‘(Beliau ﷺ ) mengusap keduanya’. Dia tidak mengatakan, bahwa beliau (Nabi ﷺ ) mulai mengusap dengan tangan kanan sebelum kiri. Banyak orang yang mengusap dengan kedua tangannya kaki kanan, dan kedua tangannya kaki kiri. Ini tidak ada landasannya sepengetahuan kami. Akan tetapi dengan cara mana saja jika yang diusap bagian atas khuf, maka usapannya sah. Akan tetapi apa yang telah kami jelaskan (caranya), itulah yang lebih utama. [Lihat Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/250]

Tidak boleh mengusap bagian samping khuf atau belakangnya. Tidak satu pun riwayat yang menjelaskan cara mengusap demikian.

Wallahu a’lam.

Sumber:

http://abuwt.blogspot.co.id/2015/12/mengusap-kedua-khuf.html

https://islamqa.info/id/12796

 

 

Cara Mengusap Khuff
Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek: 7103000507
| A.N: YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer: +628-222-333-4004
Website:
Home
Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp

TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv

 

 

Website:

�� Facebook Page:

Fb.com/TausiyahBimbinganIslam

�� Telegram Channel:

http://goo.gl/4n0rNp

�� TV Channel:

http://BimbinganIslam.tv

 

, ,

BOLEHNYA MENGGUNAKAN PERSYARATAN DALAM HAJI/UMRAH

BOLEHNYA MENGGUNAKAN PERSYARATAN DALAM HAJI/UMRAH

بسم الله الرحمن الرحيم

#HajiUmrah

BOLEHNYA MENGGUNAKAN PERSYARATAN DALAM HAJI/UMRAH

Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan haji/umrah karena sakit atau adanya penghalang lain, maka DIBOLEHKAN mengucapkan persyaratan dengan mengatakan:

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

ALLAHUMMA MAHILLI HAITSU HABASTANI

Artinya:

Ya Allah, aku akan tahallul (berhenti) jika Engkau menahanku (bila tambah sakit dan tak sanggup meneruskannya -pent).

Dengan mengucapkan persyaratan ini, baik dalam umrah maupun ketika haji, jika seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya, maka dia diperbolehkan bertahallalul dan tidak wajib membayar dam (menyembelih seekor kambing).

[Lafal di Shohih Muslim, dalam kitab Haji bab “Bolehnya Menggunakan Persyaratan dalam Haji”]

 

Sumber: https://rumaysho.com/2654-tata-cara-pelaksanaan-umrah333.html